TOMI YOGO WASISSO E

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN KECAMATAN SEWON KABUPATEN BANTUL TAHUN 2006 DAN 2014 BERDASARKAN CITRA QUICKBIRD

PEMANFAATAN LAHAN BERBASIS MITIGASI BENCANA LONGSOR DI KOTA MANADO

MITIGASI DAERAH RENTAN GERAKAN TANAH DI KABUPATEN ENREKANG

ANALISIS KESESUAIAN LAHAN UNTUK PENGEMBANGAN PEMUKIMAN (STUDI KASUS DAERAH WADO DAN SEKITARNYA)

BAB IV METODE PENELITIAN

KAJIAN PEMANFAATAN LAHAN PADA DAERAH RAWAN LONGSOR DI KECAMATAN TIKALA KOTA MANADO

BAB I PENDAHULUAN. sehingga masyarakat yang terkena harus menanggapinya dengan tindakan. aktivitas bila meningkat menjadi bencana.

3/30/2012 PENDAHULUAN PENDAHULUAN METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ANALISIS POTENSI KEKERINGAN GEOMORFOLOGI MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN PURWOREJO

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1. Jumlah Penduduk Kabupaten Bantul

EVALUASI RENCANA TATA RUANG WILAYAH BERDASARKAN INDEKS POTENSI LAHAN MELALUI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN SRAGEN

ANALISIS POTENSI LAHAN PERTANIAN SAWAH BERDASARKAN INDEKS POTENSI LAHAN (IPL) DI KABUPATEN WONOSOBO PUBLIKASI KARYA ILMIAH

BAB III METODE PENELITIAN

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: ( Print) C78

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bencana alam sebagai salah satu fenomena alam dapat terjadi setiap saat,

ANALISIS KESESUAIAN UNTUK LAHAN PERMUKIMAN KOTA MALANG

BAB III METODE PENELITIAN. adanya dan mengungkapkan fakta-fakta yang ada, walaupun kadang-kadang

ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN KECAMATAN SEWON KABUPATEN BANTUL TAHUN 2006 DAN 2014 BERDASARKAN CITRA QUICKBIRD

PENANGANAN KAWASAN BENCANA LONGSOR DAS WAI RUHU. Steanly R.R. Pattiselanno, M.Ruslin Anwar, A.Wahid Hasyim

BAB I PENDAHULUAN. Banjarnegara merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang

PEMETAAN DAERAH RAWAN LONGSOR LAHAN DI KECAMATAN DAU, KABUPATEN MALANG DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN GEOMORFOLOGI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempengan dunia yaitu Eurasia,

Faktor penyebab banjir oleh Sutopo (1999) dalam Ramdan (2004) dibedakan menjadi persoalan banjir yang ditimbulkan oleh kondisi dan peristiwa alam

BAB I PENDAHULUAN. tanahdengan permeabilitas rendah, muka air tanah dangkal berkisar antara 1

III. METODOLOGI. 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian

BAB I PENDAHULUAN I-1

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian adalah sebuah cara yang digunakan untuk mencapai

BAB I PENDAHULUAN. Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu wilayah rawan bencana.

METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran Ruang Lingkup Penelitian

KERAWANAN BENCANA TANAH LONGSOR KABUPATEN PONOROGO

Gambar 9. Peta Batas Administrasi

Keywords: Landslide Potency, the Damage and Loss Assessment, Land Conservation Guideline, Geography Learning

ANALISIS KESESUAIAN MEDAN UNTUK BANGUNAN MENGGUNAKAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KECAMATAN PAJANGAN KABUPATEN BANTUL

besar dan daerahnya rutin terkena banjir setiap masuk hujan. Padahal kecamatan ini memiliki luas yang sempit.hal tersebut menjadikan kecamatan ini men

PEDOMAN TEKNIS PEMETAAN ZONA KERENTANAN GERAKAN TANAH

DAFTAR ISI. Halaman ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... vii

ANALISIS PERUBAHAN LAHAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KECAMATAN TEGALREJO DAN KECAMATAN WIROBRAJAN KOTA YOGYAKARTA TAHUN

PEMETAAN NILAI LAHAN DI KECAMATAN AUR BIRUGO TIGO BALEH KOTA BUKITTINGGI

ANALISIS SPASIAL KEMAMPUAN INFILTRASI SEBAGAI BAGIAN DARI INDIKASI BENCANA KEKERINGAN HIDROLOGIS DI DAS WEDI, KABUPATEN KLATEN-BOYOLALI

Perhitungan Ruang Terbuka Hijau Perkotaan Jenis Publik (Studi Kasus : Kota Surakarta)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV GAMBARAN UMUM DESA SUMURUP. Sebelah barat berbatasan dengan desa sengon. 60. Gambar 4.1 Batasan Wilayah Kecamatan

PEMETAAN TINGKAT KERAWANAN TANAH LONGSOR JALUR SOLO- SELO-BOROBUDUR DI KECAMATAN CEPOGO DAN KECAMATAN SELO KABUPATEN BOYOLALI

PENGARUH PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP DEBIT PUNCAK PADA SUBDAS BEDOG DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA. R. Muhammad Isa

Pemetaan Daerah Risiko Banjir Lahar Berbasis SIG Untuk Menunjang Kegiatan Mitigasi Bencana (Studi Kasus: Gunung Semeru, Kab.

ANALISIS DAERAH RAWAN BENCANA TANAH LONGSOR BERDASARKAN ZONA WATER CONTENT DI DESA OLAK ALEN KECAMATAN SELOREJO, BLITAR

Penelitian Untuk Skripsi S-1 Program Studi Geografi. Diajukan Oleh : Mousafi Juniasandi Rukmana E

PERENCANAAN MITIGASI BENCANA LONGSOR DI KOTA AMBON Hertine M. Kesaulya¹, Hanny Poli², & Esli D. Takumansang³

PEMETAAN DAERAH RAWAN LONGSOR DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS STUDI KASUS KABUPATEN BONDOWOSO

ARAHAN PEMANFAATAN LOKASI PERUMAHAN BERDASARKAN FAKTOR KEBENCANAAN (Wilayah Studi Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

TINGKAT KERAWANAN LONGSORLAHAN DENGAN METODE WEIGHT OF EVIDENCE DI SUB DAS SECANG KABUPATEN KULONPROGO. Aji Bangkit Subekti

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dikarenakan adanya kondisi geologi Indonesia yang berupa bagian dari rangkaian

PEMETAAN DAERAH RAWAN LONGSOR KABUPATEN KARO PROVINSI SUMATERA UTARA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

ANALISIS TINGKAT RAWAN KEKERINGAN LAHAN SAWAH DENGAN PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN SRAGEN TAHUN 2014

TUGAS UTS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PEMETAAN DAERAH RAWAN BANJIR DI SAMARINDA

DAFTAR ISI. Halaman ABSTRAK... ABSTRACT... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... BAB I PENDAHULUAN... 1

BAB I PENDAHULUAN. tindakan dalam mengurangi dampak yang ditimbulkan akibat suatu bencana.

APLIKASI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI UNTUK KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KOTA BEKASI. Dyah Wuri Khairina

BAB I PENDAHULUAN. alam tidak dapat ditentang begitu pula dengan bencana (Nandi, 2007)

ANALISIS DAERAH RAWAN LONGSOR BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus : Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat)

ANALISIS TINGKAT KERAWANAN KEBAKARAN PERMUKIMAN DENGAN PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KECAMATAN PAKUALAMAN, KOTA YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang Potensi bencana alam yang tinggi pada dasarnya tidak lebih dari sekedar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Hasil penelitian yang pernah dilakukan

ANALISIS KESELARASAN PEMANFAATAN RUANG KECAMATAN SEWON BANTUL TAHUN 2006, 2010, 2014 TERHADAP RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN (RDTRK )

ANALISIS DAERAH POTENSI LONGSORLAHAN DENGAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KECAMATAN SLOGOHIMO KABUPATEN WONOGIRI

RISIKOBENCANA LONGSORLAHAN DISUB DAS LOGAWA KABUPATEN BANYUMAS

Kajian Penggunaan Lahan Pada Kawasan Cagar Alam Geologi Karangsambung Dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografis

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. jenuh air atau bidang luncur. (Paimin, dkk. 2009) Sutikno, dkk. (2002) dalam Rudiyanto (2010) mengatakan bahwa

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanah longsor merupakan bencana yang sering terjadi di Indonesia. Selama periode telah terjadi 850

PRIORITAS PENANGANAN BANJIR KECAMATAN TELANAIPURA KOTA JAMBI TAHUN 2012

Gambar 1.1 Wilayah cilongok terkena longsor (Antaranews.com, 26 november 2016)

ANALISIS ZONA KRITIS PERESAPAN AIR DENGAN PEMANFAATAN PNGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DI SUB DAS WEDI, KABUPATEN KLATEN

Geo Image (Spatial-Ecological-Regional)

PENGELOLAAN DAS TERPADU

III. METODOLOGI PENELITIAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: ( Print)

ANALISIS KESESUAIAN MEDAN UNTUK BANGUNAN MENGGUNAKAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KECAMATAN PAJANGAN KABUPATEN BANTUL

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PERSETUJUAN... KATA PENGANTAR... PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL...

DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN...

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Banjir 2.2 Tipologi Kawasan Rawan Banjir

BAB II KONDISI UMUM LOKASI

SISTEM INFORMASI GEOGRAFI. Data spasial direpresentasikan di dalam basis data sebagai vektor atau raster.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. HALAMAN PENGESAHAN... i. HALAMAN PERNYATAAN... iii. INTISARI... iii. ABSTRACT... iv. KATA PENGANTAR...

ESTIMASI POTENSI LIMPASAN PERMUKAAN MENGGUNAKAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI DAERAH ALIRAN SUNGAI SERANG

Transkripsi:

ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP PERUBAHAN TINGKAT POTENSI GERAKAN TANAH MENGGUNAKANSISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KECAMATAN MOJOSONGO KABUPATEN BOYOLALI Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Menyelesaikan Program Studi Strata 1 Pada Jurusan Geografi Fakultas Geografi Oleh: TOMI YOGO WASISSO E100150186 PROGRAM STUDI GEOGRAFI FAKULTAS GEOGRAFI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2017

i

ii

iii

iv

ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP PERUBAHAN TINGKAT POTENSI GERAKAN TANAH MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KECAMATAN MOJOSONGO KABUPATEN BOYOLALI ABSTRACT Changes in land use that occurred in the district Mojosongo, Boyolali regency has the potential to affect the potential for ground movement. The purpose of this study is (1) to identify changes in land use, (2) ) identifying changes in the level of potential ground movement, and (3) an analysis of the effect of land use change on changes in the level of potential ground motion. The method used in the study was a survey, with analysis to achieve the objectives are: (1) conduct a qualitative descriptive analysis of the land use map in 2006 and land use maps in 2016, (2) conduct quantitative descriptive analysis tiered weighted to map the level of potential ground movement in 2006 and map the level of potential ground movement in 2016, and (3) conduct descriptive analysis of qualitative effect of land use change on changes in the level of potential ground motion. Results of the study are: (1) a map of land use change, with the greatest changes in land use are: the gardens to the settlement of 541,43ha or 12.34%, (2) map changes in the level of potential ground movement, with changes in the level of potential ground motion greatest are: from low to high for 512,91ha or 11.69%, and (3) Changes in land use change potential ground motion are: changes in land use to settlement and moor to the settlement. Keywords: land use, land use change, geographic information systems, potential of ground motion. INTISARI Perubahan penggunaan lahan yang terjadi di kecamatan Mojosongo, kabupaten Boyolali memiliki potensi untuk mempengaruhi potensi gerakan tanah. Tujuan penelitian ini adalah (1)mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan, (2) mengidentifikasi perubahan tingkat potensi gerakan tanah, dan (3) melakukan analisis terhadap pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap perubahan tingkat potensi gerakan tanah.metode yang digunakan dalam penelitian adalah survei, dengan analisis untuk mencapai tujuan adalah: (1) melakukan analisis deskriptif kualitatif terhadap peta penggunaan lahan tahun 2006 dan peta penggunaan lahan tahun 2016, (2) melakukan analisis deskriptif kuantitatif berjenjang tertimbang terhadap peta tingkat potensi gerakan tanah tahun 2006 dan peta tingkat potensi gerakan tanah tahun 2016, dan (3) melakukan analisis deskriptif kualitatif pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap perubahan tingkat potensi gerakan tanah.hasil penelitian adalah: (1) peta perubahan penggunaan lahan, dengan perubahan penggunaan lahan paling besar adalah: kebun ke permukiman sebesar 541,43ha atau 12,34%, (2) peta perubahan tingkat potensi gerakan tanah, dengan perubahan tingkat potensi gerakan tanah terbesar adalah: dari rendah ke sedang sebesar 512,91ha atau 11,69%, dan (3) Perubahan penggunaan lahan yang mengubah potensi gerakan tanah adalah: perubahan penggunaan lahan kebun ke permukiman dan tegalan ke permukiman. Kata Kunci : Penggunaan lahan, Perubahan penggunaan lahan, Sistem informasi geografis, Potensi gerakan tanah. 1

1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Gerakan tanah terjadi karena proses alami dalam perubahan struktur muka bumi, yakni adanya gangguan kestabilan pada tanah atau batuan penyusun lereng. Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali terletak di bagian lereng volkan hingga kaki volkan dari gunungapi dengan beragam kondisi wilayahnya, mulai dari daerah yang datar di daerah selatan dengan dominasi penggunaan lahan permukiman, tegalan dan persawahan, serta daerah yang berbukit di bagian utara dengan kontur yang cukup rapat di beberapa wilayah yang memperlihatkan kemiringan lereng dengan kelas agak curam hingga curam berbukit. Selama 10 tahun Kecamatan Mojosongo telah mengalami penambahan jumlah penduduk dengan pertumbuhan rata-rata penduduk setiap tahun sebesar 0,2824% (BPS, 2015). Bertambahnya jumlah penduduk akan mempengaruhi penggunaan lahan. Perubahan penggunaan lahan ini akan mempengaruhi tingkat potensi gerakan tanah yang ada di wilayah Kecamatan Mojosongo.Data dan informasi yang aktual mengenai perubahan penggunaan lahan sangat diperlukan untuk melihat perubahan tingkat potensi gerakan tanah sebagai upaya penanggulangan bencana dan perencanaan pemnfaatan ruang. Berdasarkan uraian latar belakang, maka penelitian pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap perubahan tingkat potensi gerakan tanah yang ada di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali perlu dilakukan. 1.2. Perumusan Masalah Dari uraian latar belakang di atas, maka penelitian ini merumuskan masalah sebagai berikut. 1. Bagaimana perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali? 2. Bagaimana perubahan tingkat potensi gerakan tanah di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali? 3. Bagaimana pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap perubahan tingkat potensi gerakan tanah di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali? 1.3. Tujuan Penelitian Dari perumusan masalah di atas, maka penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut. 1. Mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. 2. Mengidentifikasi perubahan tingkat potensi gerakan tanah di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. 2

3. Melakukan analisis pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap perubahan tingkat potensi gerakan tanah di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. 1.4. Telaah Pustaka Menurut Van zuidam (1983 dalam Raharjo 2013) gerakan tanah atau longsor merupakan terminology umum semua proses dimana masa dari material bumi bergerak oleh gravitasi baik lambat atau cepat dari suatu tempat ke tempat lain. Menurut Permen PU No. 22/PRT/M/2007 dalam penetapan kawasan berpotensi gerakan tanah memiliki beberapa variabel lingkungan fisik yang mempengaruhi tingkat kerentanan gerakan tanah sebagai berikut: Geologi, curah hujan, penggunaan lahan, dan topografi.menurut Prahasta (2002), Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah suatu sistem berbasis komputer yangdigunakan untuk memasukkan, mengumpulkan, mengintegrasikan, memeriksa, menyimpan, mengelola,memanipulasi, menganalisis, menampilkan dan menghasilkan keluaran (output) data dan informasi bereferensigeografis. 2. Metode Penelitian Penelitian pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap perubahan tingkat potensi gerakan tanah di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali dilakukan dengan metode deskriptif kuantitatif dan kualitatif, yaitu dengan mengkompilasi data tabular yang disandingkan dengan analisis SIG. Analisis spasial yang dilakukan untuk mencapai tujuan menggunakan 3 tahapan analisis yaitu: (1) analisis perubahan penggunaan lahan dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif terhadap 2 hasil peta penggunaan lahan yaitu: peta penggunaan lahan tahun 2006 dan peta penggunaan lahan tahun 2016, (2) analisis perubahan tingkat potensi gerakan tanah dilakukan dengan pendekatan deskriptif kuantitatif berjenjang tertimbang terhadap 2 hasil peta tingkat potensi gerakan tanah yaitu: peta tingkat potensi gerakan tanah tahun 2006 dengan data penggunaan lahan tahun 2006 dan peta tingkat potensi gerakan tanah tahun 2016 dengan data penggunaan lahan tahun 2016, dan (3) analisis pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap potensi gerakan tanah dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif terhadap 2 hasil peta yaitu peta perubahan penggunaan lahan dan peta perubahan tingkat potensi gerakan tanah di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. Proses pembobotan merupakan salah satu proses untuk melihat besar pengaruh terhadap perubahan tingkat potensi gerakan tanah di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. Pembobotan dilakukan pada seluruh data yang telah didapatkan pada proses sebelumnya seperti berikut. 1. Peta penggunaan lahan tahun 2006 Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. 2. Peta penggunaan lahan tahun 2016 Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. 3. Peta klasifikasi infrastruktur Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. 3

4. Peta rerata dan curah hujan Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. 5. Peta jenis batuan dan tanah Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. 6. Peta sebaran sesar patahan/gawir Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. 7. Peta Kemiringan lereng Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. Penentuan bobot menggunakan klasifikasi menurut Permen PU No.22/PRT/M/2007 pada tabel Tabel 1 berikut. Tabel 1 Penentuan nilai skor dan bobot dalam pengklasifikasian daerah berpotensi gerakan tanah (modifikasi Permen PU No.22/PRT/M/2007). No Parameter/Bobot Besaran Kategori Nilai Skor I Faktor Aktivitas Manusia (30%) a Penggunaan Lahan Bobot 20 % Hutan Alam Sangat Rendah 1 Hutan / Perkebunan Rendah 2 Semak/Belukar/Rumput Sedang 3 Sawah/Permukiman/Pertambangan Tinggi 4 b Infrastruktur Bobot 10 % Tidak Terdapat Jalan yang Memotong Lereng II Faktor Fisik Alam (70%) a Rerata Curah Hujan Tahunan (mm) Bobot 20% b Kemiringan Lereng (%) Bobot 25 % c d Keberadaan Sesar patah/gawir bobot 10% Geologi (tanah/batuan) Bobot 15 % Sumber : Permen PU No.22/PRT/M/2007. Sangat Rendah 1 Lereng Terpotong Jalan Tinggi 4 < 1000 Sangat Rendah 1 1000-1.499 Rendah 2 1500-2500 Sedang 3 >2500 Tinggi 4 < 15 % Sangat Rendah 1 15-24 % Rendah 2 25-44 % Sedang 3 > 45 % Tinggi 4 Tidak Ada Sangat Rendah 1 Ada Tinggi 4 Dataran Alluvial Sangat Rendah 1 Perbukitan Berkapur Rendah 2 Perbukitan Batuan Sedimen Sedang 3 Perbukitan Batuan Vulkanik Tinggi 4 Peta hasil proses tumpangsusun (overlay) dari 6 peta variabel tingkat potensi gerakan tanah dilakukan penjumlahan nilai menggunakan rumus berikut. 4

Nilai Total I = 20NPL1 + 10NI + 20NRCH + 25NKL + 10NSG + 15NG Keterangan : Nilai Total I : Nilai harkat total potensi gerakan tanah pada tahun 2006 Nilai Total II : Nilai harkat total potensi gerakan tanah pada tahun 2016 NPL1 : Nilai harkat penggunaan lahan tahun 2006. NPL2 : Nilai harkat penggunaan lahan tahun 2016 NI NRCH NKL NSG NG : Nilai harkat infrastruktur. : Nilai harkat rerata curah hujan tahunan. : Nilai harkat kemiringan lereng. : Nilai harkat keberadaan sesar patahan/ gawir. : Nilai harkat geologi (batuan/tanah). Hasil pembobotan dan penilaian dalam analisis tumpangsusun (overlay) dilakukan pengkelasan sesuai dengan tingkat potensi gerakan tanah dengan rumus sebagai berikut. Keterangan : Kelas Potensi NTmax NTmin Nilai Total II = 20NPL2 + 10NI + 20NRCH + 25NKL + 10NSG + 15NG KKKKKKKKKK PPPPPPPPPPPPPP = NNNNNNNNNN NNNNNNNNNN 5 : Tingkat kesesuaian potensi gerakan tanah. : Nilai total maximal : Nilai total minimum Total nilai berkisar antara 100 sampai 400, sedangkan untuk menetapkan daerah rentan gerakan tanah dilihat berdasarkan jumlah skor total dengan pembagian sebagai berikut. 1. Daerah potensi gerakan tanah sangat rendah dengan nilai total berkisar 100 160. 2. Daerah potensi gerakan tanah rendah dengan nilai total berkisar 161 220. 3. Daerah potensi gerakan tanah sedang dengan nilai total berkisar 221 280. 4. Daerah potensi gerakan tanah tinggi dengan nilai total berkisar 281 340. 5. Daerah potensi gerakan tanah sangat tinggi dengan nilai total berkisar 341 400. 3. Hasil dan Pembahasan Hasil yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah Peta perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Mojosongo Kabupaten Boyolali Tahun 2006 2016, Peta Perubahan tingkat potensi gerakan tanah di Kecamatan Mojosongo Kabupaten Boyolali Tahun 2006 2016, dan Analisis 5

pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap perubahan tingkat potensi gerakan tanah di Kecamatan Mojosongo Kabupaten Boyolali Tahun 2006 2016. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa penggunaan lahan di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali selama tahun 2006 hingga tahun 2010 banyak mengalami perubahan. Perubahan penggunaan lahan yang terjadi di daerah penelitian sebagian besar merupakan hasil kegiatan manusia dengan melakukan pembangunan area permukiman. Perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Mojosongo dapat dilihat pada Tabel 2 berikut. Tabel 2 Perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali periode tahun 2006 tahun 2016. Perubahan Luas (Ha) Presentase (%) Penggunaan Penggunaan lahan No Lahan Tahun Tahun Tahun Tahun Presentase Luas (Ha) 2006 2016 2006 2016 (%) 1 Perairan 106,18 86,44 2,42 1,97-19,74-0,45 2 Belukar/semak 27,64 25,45 0,63 0,58-2,19-0,05 3 Kebun 1087,25 545,82 24,78 12,44-541,43-12,34 4 Permukiman 1533,03 2694,43 34,94 61,41 +1161,4 +26,47 5 Rumput 69,32 51,49 1,58 1,17-17,83-0,41 6 Sawah irigasi 873,57 577,41 19,91 13,16-296,16-6,75 7 Tegalan 690,61 406,73 15,74 9,27-283,88-6,47 Sumber: Pengolahan data, 2016 Hasil penelitian yang dilakukan memperlihatkan bahwa hampir seluruh perubahan penggunaan yang terjadi di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali mengalami perubahan ke arah penggunaan lahan permukiman. Penelitian ini mengasumsikan seluruh kenampakan yang memiliki atap menjadi daerah penggunaan permukiman, sehingga mencakup hampir seluruh bangunan seperti: kantor, ruko, pasar, dan rumah. Jenis perubahan penggunaan lahan yang terjadi dapat dilihat pada Tabel 2 berikut. Tabel 2 JenisPerubahan penggunaan lahan di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali periode tahun 2006 tahun 2016. No Perubahan Penggunaan Lahan Luas (Ha) Presentase (%) 6

1 Belukar/Semak ke Permukiman 2,19 0,05 2 Kebun ke Permukiman 540,99 12,33 3 Rumput ke Permukiman 17.99 0.41 4 Sawah ke Permukiman 296,16 6,75 5 Perairan ke Permukiman 19,74 0,45 6 Tegalan ke Permukiman 283,88 6,47 7 Tetap 3226,65 73,53 Sumber: Pengolahan data, 2016 Tabel 2 memperlihatkan bahwa 26,46% atau lebih dari seperempat penggunaan lahan di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali mengalami perubahan menjadi permukiman. Perubahan penggunaan lahan menjadi permukiman merupakan salah satu tanda bahwa secara perlahan masyarakat di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali mulai mengubah pola aktifitas ekonomi mereka dari agraris menjadi industri. Contoh perubahan penggunaan lahan yang ada dari survei lapangan seperti pada gambar 1 berikut. Gambar 1 Pembangunan perumahan jaten regency pada penggunaan lahan kebun di Desa Kragilan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa potensi gerakan tanah di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali selama tahun 2006 hingga tahun 2016 mengalami perubahan. Perubahan tingkat potensi gerakan tanah yang terjadi di daerah penelitian diakibatkan oleh perubahan penggunaan lahan yang terjadi selama periode tahun 2006 hingga tahun 2016 yang cukup masif. Perubahan tingkat potensi gerakan tanah di Kecamatan Mojosongo dapat dilihat pada Tabel 3 berikut. 7

Tabel 3 Perubahan tingkat potensi gerakan tanah di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali Periode Tahun 2006 hingga Tahun 2016. Perubahan tingkat Potensi Luas (ha) Presentase (%) potensi gerakan No gerakan tanah tanah Tahun Tahun Tahun Tahun Luas Presentase 2006 2016 2006 2016 (ha) (%) 1 Sangat Rendah 0 0. 0 0 0 0 2 Rendah 1529,08 1016,17 34,85 23,16-512,91-11,69 3 Sedang 2736,11 3212,16 62,36 73,22 +476,49 +10,86 4 Tinggi 122,41 158,83 2,79 3,62 +36,42 +0,83 5 Sangat Tinggi 0 0. 0 0 0 0 Sumber: Pengolahan data, 2016 Perubahan tingkat potensi gerakan tanah yang terjadi di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali memperlihatkan bahwa terjadi banyak peningkatan potensi dan tidak ada penurunan tingkat potensi gerakan tanah. Perubahan tingkat potensi gerakan tanah yang terjadi di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali secara lebih rinci dapat ketahui dengan melihat pada Tabel 4 berikut. Tabel 4 Jenis perubahan tingkat potensi gerakan tanah periode tahun 2006 hingga tahun 2016 di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. No Perubahan tingkat potensi Gerakan Tanah Luas (ha) Presentase (%) 1 Rendah ke Sedang 512,91 11,69 2 Sedang ke Tinggi 36,42 0,83 3 Tetap 3838,28 87,48 Sumber: Pengolahan data, 2016. Tabel 4 memperlihatkan bahwa terdapat 2 jenis perubahan tingkat potensi gerakan tanah yang terjadi di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali yaitu: perubahan tingkat potensi gerakan tanah dari rendah ke sedang, dan perubahan tingkat potensi gerakan tanah dari sedang ke tinggi.pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap perubahan tingkat potensi gerakan tanah di kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali dapat dilihat pada Gambar 2 berikut. 8

Gambar 2 Peta pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap perubahan tingkat potensi gerakan tanah di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. 9

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa terdapat perubahan tingkat potensi gerakan tanah di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali selama periode tahun 2006 hingga tahun 2016, yang di tunjukkan dengan berubahnya luasan dan sebaran pada peta perubahan tingkat potensi gerakan tanah. Perubahan penggunaan lahan yang terjadi memiliki hubungan terhadap perubahan tingkat potensi gerakan tanah, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 5 berikut. Tabel 5 Jenis pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap perubahan tingkat potensi gerakan tanah di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. No. 1 Perubahan Penggunaan Lahan Belukar/Semak ke Permukiman Perbuahan Potensi gerakan tanah jenis luas(ha) presentase(%) Tetap 2,19 0,05 Rendah ke Sedang 250,97 5,72 2 Kebun ke Permukiman Sedang ke Tinggi 31,59 0,72 Tetap 258,87 5,9 3 Rumput ke Permukiman Tetap 17,99 0,41 4 Sawah ke Permukiman Tetap 296,16 6,75 5 Sungai ke Permukiman Tetap 19,74 0,45 Rendah ke Sedang 262,16 5,98 6 Tegalan ke Permukiman Sedang ke Tinggi 5,27 0,12 Tetap 16,45 0,375 7 Tetap Tetap 3226,65 73,53 Sumber: Pengolahan data, 2016. 4. Penutup 4.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan analisis pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap perubahan tingkat potensi gerakan tanah di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali yang telah dilakukan, maka ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. perubahan penggunaan lahan terluas yang terjadi di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali selama periode 2006 sampai tahun 2016 adalah: perubahan penggunaan lahan kebun ke penggunaan lahan permukiman dengan luas 540,99 ha atau 12,34% dari luas seluruh wilayah penelitian. 10

2. terdapat perubahan tingkat potensi gerakan tanah di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali selama periode tahun 2006 sampai tahun 2016 yaitu: perubahan tingkat potensi gerakan tanah rendah dari luas 1529,08 ha menjadi 1016,17 ha atau berkurang 11,69%, perubahan tingkat potensi gerakan tanah sedang dari luas 2736,11 ha menjadi 3212,16ha atau bertambah 10,86%, dan perubahan tingkat potensi gerakan tanah tinggi dari luas 122,41 ha menjadi 158,83 ha atau bertambah 0,83 %, dan 3. terdapat pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap perubahan tingkat potensi gerakan tanah sebagai berikut: (1) perubahan penggunaan lahan kebun ke pemukiman mengubah tingkat potensi gerakan tanah dari rendah ke sedang dengan luas 250,97 ha atau 5,72% dan tingkat potensi gerakan tanah dari sedang ke tinggi dengan luas 31,15 ha atau 0,71%, dan (2) perubahan penggunaan lahan tegalan ke pemukiman megubah tingkat potensi gerakan tanah dari rendah ke sedang dengan luas 262,16 ha atau 5,98% dan tingkat potensi gerakan tanah dari sedang ke tinggi dengan luas 5,27 ha atau 0,12%. 4.2 Saran Berdasarkan penelitian analisis pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap perubahan tingkat potensi gerakan tanah di Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali menggunakan sistem informasi geografis penulis menyarankan beberapa hal sebagai berikut: 1. Diperlukan sosialisasi terhadap masyarakat agar tidak melakukan pembangunan perumahan penduduk atau masyarakat pada daerah dengan potensi gerakan tanah sedang hingga tinggi, sehingga tidak meningkatkan potensi gerakan tanah yang sudah ada dan dapat mengakibatkan memicunya bencana gerakan tanah seperti tanah longsor, dan 2. diperlukan penelitian yang lebih intensif lagi seperti pemetaan potensi gerakan tanah skala desa, sehingga dapat dilakukan pencegahan yang lebih dini terhadap bencana gerakan tanah dan mampu menjunjang perencanaan pembangunan daerah yang lebih baik, aman dan sejahtera. DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. 2010. Buku Putih Sanitasi Kabupaten Boyolali. BPS Kabupaten Boyolali. Provinsi Jawa Tengah. Badan Pusat Statistik. 2015. Kecamatan Mojosongo Dalam Angka Mojosongo subdistrict in Figure. BPS Kabupaten Boyolali. Provinsi Jawa Tengah. 11

Eddy, Prahasta. 2002. Sistem Informasi Geografis Konsep-konsep Dasar.Informatika Bandung. Bandung Kementerian Pekerjaan Umum. 2007.Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.22/PRT/M/2007 Tentang Pedoman Penataan Ruang Kawasan Rawan Bencana Longsor. Departemen Pekerjaan Umum. Direktorat Jenderal Penataan Ruang. Jakarta Raharjo, Dwi Puguh dan Arief Mustofa Nur. 2013. Pemetaan gerakan tanah kawasan cagar alam geologi karangsambung dengan menggunakan data penginderaan jauh dan SIG. Forum Geografi. Vol.27, No.2, Desember 2013: 99-204 12