Generasi Santun. Buku 1A. Timothy Athanasios

dokumen-dokumen yang mirip
Generasi Santun. Buku 1B. Timothy Athanasios

PANCASILA SEBAGAI SISTEM NILAI

PANCASILA SEBAGAI SUMBER NILAI

PANCASILA Sebagai Sumber Nilai

BAB IV PANCASILA SEBAGAI ETIKA (MORAL)POLITIK

PERTEMUAN KE 6 POKOK BAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan usaha yang dilakukan dengan sengaja dan sistematis

Tiga macam nilai menurut Noto Negoro, antara lain: 1) Nilai Kebenaran, yang bersumber pada akal manusia.

PANCASILA SEBAGAI ETIKA POLITIK

PANCASILA Sebagai Etika Politik

Pancasila Sebagai Dasar Negara (dalam hubungannya dengan Pembukaan UUD 1945)

Oleh: Regina Tamburian Gita Nur Istiqomah

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Sisdiknas tahun 2003 pasal I mengamanahkan bahwa tujuan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana

MANUSIA, NILAI DAN MORAL

BAB I PENDAHULUAN. anggota suatu kelompok masyarakat maupun bangsa sekalipun. Peradaban suatu

PERKEMBANGAN ETIKA PROFESI

A. Pengertian Pancasila

II. TINJAUAN PUSTAKA

KODE ETIK DOSEN STIKOM DINAMIKA BANGSA

PANCASILA SEBAGAI FALSAFAH HIDUP BANGSA INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah

PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT

Kompetensi Inti Kompetensi Dasar

ASTA CITRA ANAK INDONESIA

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

2.4 Uraian Materi Pengertian dan Hakikat dari Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia Sebagai pendangan hidup bangsa Indonesia,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dan Pembukaan UUD 1945 dilatarbelakangi oleh realita permasalahan kebangsaan

BAB I PENDAHULUAN. begitu, seorang guru pendidikan agama Islam harus mampu mendidik. keselamatan dunia maupun di akhirat kelak.

KODE ETIK DOSEN MUKADIMAH BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. suatu masyarakat karena dapat menjadi suatu rambu-rambu dalam kehidupan serta

Landasan Sosial Normatif dan Filosofis Akhlak Manusia

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan bangsa, oleh karena itu setiap individu yang terlibat dalam

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan, wawasan, keterampilan tertentu pada individu-individu.

NOVIA KENCANA, S.IP, MPA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. mencerminkan sosok manusia berkarakter. Beliau membawa misi risalahnya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

MUKADIMAH. Untuk mewujudkan keluhuran profesi dosen maka diperlukan suatu pedoman yang berupa Kode Etik Dosen seperti dirumuskan berikut ini.

BAB I PENDAHULUAN. Bab Pendahuluan Ini Memuat : A. Latar Belakang, B. Fokus Penelitian,C. Rumusan

BAB I. A. Latar Belakang Penelitian. sistem yang lain guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan

I. Hakikat Pancasila. 1. Pancasila sebagai dasar Negara

I. PENDAHULUAN. ihwal yang selayaknya dikerjakan dan yang selayaknya dihindari.

BAB I PENDAHULUAN. secara sadar dengan tujuan untuk menyampaikan ide, pesan, maksud,

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Masyarakat Agraris 2.2 Pekerjaan Tenaga Kerja Tani Padi

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. pemikiran si peneliti karena menentukan penetapan variabel. Berdasarkan Kamus Besar

BAB VI PANCASILA DALAM KONTEKS KETATANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA

FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG

SAMSURI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pembangunan nasional. Menurut Samani dan Harianto (2011:1) paling tidak ada

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Usia anak-anak merupakan usia yang sangat penting dalam perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang berperan penting bagi pembangunan suatu bangsa, untuk itu diperlukan suatu

KODE ETIK DOSEN, TENAGA KEPENDIDIKAN & MAHASISWA UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Telaah Budi Pekerti dalam Pembelajaran di Sekolah (Implementasi Konsep dan Prinsip Tatakrama dalam Kehidupan Berbasis Akademis) Oleh: Yaya S.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

PANCASILA. Sebagai Sistem Etika. Disampaikan pada perkuliahan Pancasila kelas PKK. H. U. Adil Samadani, SS., SHI.,, MH. Modul ke: Fakultas Teknik

BAB IV ANALISIS PERAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI LINGKUNGAN KELUARGA DALAM MEMBENTUK AKHLAQUL KARIMAH PADA REMAJA DI DUSUN KAUMAN PETARUKAN PEMALANG

PENDIDIKAN PANCASILA. Pancasila Sebagai Sistem Etika (2) Modul ke: 09Fakultas EKONOMI. Program Studi Manajemen S1

PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT

NOVIA KENCANA STMIK MDP

IMPLEMENTASI NILAI-NILAI MORAL DAN AGAMA PADA ANAK USIA DINI MELALUI MEDIA DONGENG ANAK DI PG SURI TAULADAN BANJARAN, TAMAN, PEMALANG SKRIPSI

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum

BAB III PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA

BAB I PENDAHULUAN. potensi dirinya melalui proses pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan diakui

BAB I PENDAHULUAN. memberikan hiburan atau kesenangan juga sebagai penanaman nilai edukatif.

BAB I PENDAHULUAN. adalah generasi penerus yang menentukan nasib bangsa di masa depan.

BAB IV ANALISIS UPAYA GURU PAI DALAM MEMBINA MORAL SISWA SMP NEGERI 1 KANDEMAN BATANG

BAB I PENDAHULUAN. terlarang serta tingginya budaya kekerasan merupakan contoh permasalahaan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. generasi penerus. Karakter itu penting, karena banyak masyarakat memiliki

BAB I PENDAHULUAN. atau pedoman dalam proses belajar mengajar guna meningkatkan mutu

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA PENGEMBANGAN ETIKA DAN MORAL BANGSA. Dr. H. Marzuki Alie KETUA DPR-RI

PENDIDIKAN PANCASILA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan kunci utama dalam terlaksananya

BAB I PENDAHULUAN. pribadi dalam menciptakan budaya sekolah yang penuh makna. Undangundang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. jalur pendidikan formal, nonformal dan informal, karena dapat dijadikan satu

BAB I PENDAHULUAN. mengalami gejolak dalam dirinya untuk dapat menentukan tindakanya.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. kehidupan dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan, bukan hanya terjadi ketika seseorang

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan teknis (skill) sampai pada pembentukan kepribadian yang kokoh

RANGKUMAN / KESIMPULAN PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA DAN IDEOLOGI NASIONAL

SMA/MA IPS kelas 11 - BAHASA INDONESIA IPS BAB 1. MEMAHAMI CERPEN DAN NOVELLatihan Soal 1.3

BAB I PENDAHULUAN. lain-lain. Guru adalah sosok yang digugu dan ditiru. Digugu artinya

PANCASILA SEBAGAI SISTEM NILAI DISUSUN OLEH: GUSPI AKHBAR PUTRA RIZKI SAHPUTRA M. FAJAR MAULANA RYAN ANDRYAN PUTRA RANGGA FERNANDO

BAB I. Pendahuluan. Masa anak-anak adalah masa yang sangat penting bagi perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. Bab ini akan membahas tentang : (1) Latar Belakang, (2) Rumusan

BAB I PENDAHULUAN. tonggak majunya suatu negara. Diera globalisasi ini pendidikan semakin


KELUARGA ADALAH MINIATUR PERILAKU BUDAYA. Mata Kuliah : Ilmu Budaya Dasar Dosen : Muhammad Burhan Amin

AL-QUR AN SEBAGAI PERANTARA PENGUATAN KARAKTER (RELIGIUS, TOLERANSI DAN DISIPLIN) MAHASISWA FKIP PGSD UMS ANGKATAN 2012

PANCASILA IDEOLOGI TERBUKA

BAB I PENDAHULUAN. sampai mencapai kedewasaan masing-masing adalah pendidikan. Pengalaman

BAB I PENDAHULUAN. merubah dirinya menjadi individu yang lebih baik. Pendidikan berperan

PENGERTIAN ETIKA PROFESI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO Nomor : 61/KEP/UDN-01/VI/2007. tentang KODE ETIK DOSEN UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO

BAB I PENDAHULUAN. pemerintah bahkan sekolah dewasa ini di bangun oleh pemerintah agar anak-anak

BAB I PENDAHULUAN. dijangkau dengan sangat mudah. Adanya media-media elektronik sebagai alat

Transkripsi:

Generasi Santun Buku 1A Timothy Athanasios

Teori Nilai PENDAHULUAN Seorang pendidik terpanggil untuk turut mengambil bagian dalam menumbuhkembangkan manusia Indonesia yang utuh, berakhlak suci, dan berbudi pekerti luhur, yang merangkum nilai-nilai budaya bangsa Indonesia yang terhormat. Cita-cita luhur tersebut sudah digariskan sejak semula tentang kaidah berbangsa dan bernegara yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila sebagai Dasar Negara. Namun pada prakteknya kita justru melihat suatu kemunduran akhlak dan kemerosotan moral yang menyedihkan. Ambillah sebagai contoh, semua orang setuju bahwa kejujuran adalah salah satu nilai hakiki dalam kehidupan manusia, namun kita seringkali menemukan kasus-kasus ketidakjujuran dalam kehidupan sehari-hari. Begitu juga dengan nilai kasih dan tanggung jawab; kita semua menyadari pentingnya nilai-nilai tersebut, namun justru yang kita dapatkan adalah pola perilaku masyarakat yang semakin tidak mengasihi dan semakin tidak bertanggung jawab. 2

Itu artinya, setiap orang sebenarnya menyadari apa yang baik dan yang benar, namun tidak tahu bagaimana cara untuk mempraktekkan nilai-nilai yang baik dan benar tersebut ke dalam perilaku-perilaku spesifik untuk menyikapi situasi dan kondisi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itulah buku ini ditulis, yaitu untuk menolong para pendidik membudayakan perilaku yang baik dan benar dalam kehidupannya, sehingga dapat menjadi teladan bagi para peserta didik agar dapat berperilaku baik dan benar; sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. PENGERTIAN NILAI Hidup manusia selalu berkaitan dengan nilai. Manusia senantiasa dinilai dan menilai. Istilah nilai dipakai untuk menunjuk kata benda abstrak yang artinya keberhargaan (worth) atau kebaikan. Nilai pada hakekatnya adalah sifat atau kualitas yang melekat pada suatu objek. Kajian mengenai nilai dalam filsafat moral sangat bermuatan normatif dan metafisika. Nilai adalah harga atau mutu yang menunjukkan kualitas seseorang dalam kegunaannya bagi dirinya dan bagi sesamanya. Nilai-nilai kehidupan adalah hal-hal yang dipegang teguh oleh manusia, di mana di dalam hal-hal 3

tersebut, manusia menemukan arti dan kepuasan secara intrinsik terhadap kebutuhannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap manusia memiliki perbedaan dan persamaan nilai-nilai kehidupan. Namun ada nilai-nilai universal dan luhur yang tergali dari budaya bangsa, yang dirumuskan sebagai nilai-nilai bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seperti yang tercatat dalam perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara dalam alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945, dimana Pancasila dinyatakan sebagai nilai dasar dan nilai instrumental yang tidak berubah dan tidak boleh diubah lagi. Betapapun pentingnya nilai dasar yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 itu, sifatnya belum operasional. Artinya kita belum dapat merealisasikannya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai dasar yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945 itu memerlukan pengejawantahan lebih lanjut sebagai arahan bagi kehidupan nyata. Pengejawantahan itu kita temukan dalam tata perilaku individu yang kreatif dan dinamis, guna mewujudkan semangat yang terkandung dalam nilai-nilai dasar itu. 4

Bambang Daroeso dalam bukunya: Filsafat Pancasila, mencatat beberapa hal yang perlu kita pahami tentang nilai, yaitu: 1. Nilai merupakan suatu realitas abstrak yang tidak dapat di-inderakan, namun nyata dalam kehidupan manusia; yang dapat diamati adalah obyek yang memiliki nilai tersebut, contoh: orang yang berperilaku jujur (kejujuran adalah nilai, tetapi kita tidak bisa meng-indera kejujuran tersebut). 2. Nilai memiliki sifat normatif; mengandung harapan, cita-cita, dan tujuan sehingga nilai nemiliki sifat ideal. Nilai diwujudkan dalam bentuk norma sebagai landasan manusia dalam bertindak. Contoh: keadilan (semua orang ingin diperlakukan dengan adil). 3. Nilai berfungsi sebagai daya dorong (motivator) bagi manusia yang adalah pendukung nilai. Manusia bertindak sesuai dengan nilai yang diyakininya. Misalnya, nilai ketakwaan mendorong manusia untuk berperilaku baik dan benar serta rajin beribadah. MACAM-MACAM NILAI Dalam kajian ilmu filsafat, nilai dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: 1. Nilai logika: nilai benar atau salah. 2. Nilai estetika: nilai indah atau tidak indah. 3. Nilai etika/moral: nilai baik atau buruk. 5

Jika seseorang menjawab suatu pertanyaan dengan benar, ia benar secara logika. Apabila ia keliru dalam menjawab, kita katakan bahwa ia salah. Kita tidak mengatakan bahwa hal itu buruk karena jawabannya salah. Buruk adalah nilai moral sehingga bukan pada tempatnya kita mengatakannya demikian. Jika kita melihat suatu pemandangan, menonton sebuah pentas pertunjukan, atau merasakan makanan. Nilai estetika bersifat subjektif pada diri orang yang bersangkutan. Seseorang dapat merasa tergugah ketika melihat sebuah lukisan yang menurutnya sangat indah, tetapi orang lain mungkin tidak menyukai lukisan tersebut. Adalah tidak sopan untuk memaksakan makanan yang kita sukai pada orang lain yang tidak menyukainya. Perlu dicatat bahwa moral adalah bagian dari nilai, yaitu nilai yang menangani tata perilaku serta tindakan baik atau buruk dari manusia. Moral selalu berhubungan dengan nilai, tetapi tidak semua nilai adalah nilai moral. Nilai moral inilah yang lebih terkait dengan tingkah laku kehidupan kita sehari-hari. Kaelan dalam buku Pendidikan Kewarganegaraan menyebutkan tentang tiga macam nilai, yaitu: 6

1. Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan jasmani manusia. 2. Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat beraktivitas. 3. Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan kerohanian manusia secara intrinsik yang meliputi: a. Nilai kebenaran yang bersumber pada akal; rasio dan budi manusia. b. Nilai keindahan yang bersumber pada perasaan; emosi manusia. c. Nilai kebaikan/moral yang bersumber pada unsur kehendak; karsa manusia. d. Nilai religius yang merupakan nilai kerohanian tertinggi dan mutlak serta bersumber pada kepercayaan atau keyakinan manusia. Nilai-nilai tersebut di atas masih bersifat abstrak, oleh karena itu perlu suatu realisasi konkret yang dapat dilakukan secara spesifik melalui pola perilaku dan perbuatan setiap pribadi, sekaligus juga dapat diamati dan dinikmati dampaknya oleh orang-orang yang berada di sekitarnya. 7

Teori Perilaku Pada suatu malam yang sepi, hujan turun dengan teramat derasnya, Anda sedang menyetir sebuah mobil sport dengan jumlah penumpang maksimum dua orang. Ketika Anda melewati sebuah halte bus, di sana Anda melihat tiga orang terjebak di dalam halte bus di bawah guyuran hujan deras. Yang pertama adalah sahabat Anda, yang kedua adalah seseorang yang sangat Anda sukai, dan yang ketiga adalah seorang nenek yang sakit keras dan perlu segera dibawa ke rumah sakit. Pertanyaannya adalah: Apa solusi terbaik yang akan Anda ambil jika Anda berada dalam situasi tersebut? Perilaku adalah tindakan atau aktivitas manusia yang memiliki bentangan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. 8

Perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Perilaku terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut meresponi stimulus tersebut. Dalam berperilaku, seseorang akan sangat dipengaruhi oleh hal-hal pragmatis seperti: 1. Apa yang pelaku pikir akan ia dapatkan ketika melakukan atau tidak melakukan perilaku tertentu? 2. Apa hasil yang dirasakan oleh perilaku ketika melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku tertentu? 3. Apa pendapat orang lain jika pelaku melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku tertentu? 4. Apakah perilaku yang dilakukan itu mudah atau sulit untuk dilakukan atau tidak dilakukan? 5. Apakah tersedia alat atau cara untuk membantu pelaku untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku tertentu? Contoh nyata dari lima poin di atas adalah tentang kegiatan merokok. Jika seseorang tidak merasa mendapatkan hal yang baik ketika ia merokok, bahkan sebaliknya merasakan sentimen negatif di lingkungan orang-orang yang tidak merokok, serta adanya cara dan hukum yang membebaninya jika ia melanjutkan 9

perilakunya tersebut, maka besar kemungkinan ia akan mencoba berhenti dari aktifitas merokoknya. Sebaliknya jika seseorang menemukan dukungan publik yang menghargai perilakunya untuk merokok dan ia sendiri menikmati hasilnya, maka besar kemungkinan bahwa ia akan terus merokok. Berikut ini adalah rangkuman faktor-faktor yang mempengaruhi pola perilaku manusia, yaitu: 1. Genetika; faktor bawaan dari gen seseorang. 2. Sikap; ukuran tingkat kesukaan seseorang terhadap perilaku tertentu. 3. Norma sosial; pengaruh tekanan dan penghargaan dari lingkungan sosial. 4. Kontrol perilaku pribadi; kepercayaan seseorang mengenai sulit atau mudahnya melakukan suatu perilaku. 5. Waktu; faktor yang mempengaruhi kesukaan akan perilaku tertentu pada masa tertentu. 6. Pembelajaran; bagaimana seseorang dapat memilih perilaku tertentu secara baik dan benar sebagai hasil dari belajar untuk kebaikan pribadi dan sekaligus kebaikan bersama. 10

PELAJARAN 1 BERDOA SETELAH BANGUN PAGI TUJUAN PEMBELAJARAN Membiasakan nilai perilaku KETUHANAN di rumah. PENDAHULUAN Sebutkanlah waktu-waktu yang biasa diambil oleh peserta didik untuk berdoa! PENJELASAN Setiap pagi Tuhan memberikan anugerah ketika kita terbangun dari tidur kita. Hal itu adalah hal besar yang perlu kita syukuri sebelum kita memulai aktivitas kita di pagi hari. Kita perlu berdoa di pagi hari setelah bangun dari tidur kita, untuk: 1. Mengucap syukur atas pemeliharaannya sepanjang malam. 2. Memohon berkat dan pimpinannya sepanjang hari. 11

3. Mengambil waktu sejenak untuk merenungkan kebaikan Tuhan. Ketika kita tidak membiasakan diri untuk berdoa di pagi hari, maka kita telah membiasakan diri untuk menjadi pribadi yang: 1. Tidak bersyukur 2. Tidak menghargai berkat Tuhan 3. Sombong dan mengandalkan kekuatan kita sendiri BERDOA SETELAH BANGUN TIDUR DI PAGI HARI MEMBUAT KITA MENYADARI BAHWA KITA DAN DUNIA INI ADALAH MILIK TUHAN Ketika kita berdoa di pagi hari setelah bangun tidur, maka kita akan mendapatkan beberapa hal untuk digunakan sepanjang hari: 1. Hati yang bersyukur 2. Ketenangan jiwa 3. Percaya akan perlindungan dari yang Maha Kuasa Karena perilaku ini adalah perilaku yang teramat penting untuk ditanamkan sejak dini untuk membangun ketuhanan, maka berikut ini adalah tips sederhana untuk membiasakan perilaku ini, yaitu: 1. Ingatlah selalu bahwa berdoa adalah kehormatan bagi manusia untuk berbicara kepada Tuhan. 12

2. Jangan turun dari ranjang sebelum berdoa. 3. Bangunlah lebih pagi dari orang lain untuk berdoa, seandainya Anda malu untuk berdoa ketika disaksikan oleh orang lain. PENUTUP Pendidik membuat doa singkat dan sederhana untuk dilafalkan oleh peserta didik kelas 1 SD setelah bangun tidur di pagi hari. DOA SETELAH BANGUN PAGI KESIMPULAN Kita dapat menyimpulkan beberapa kebenaran dalam materi Generasi Santun tentang tata perilaku BERDOA SETELAH BANGUN PAGI, sebagai berikut: 1. Berdoa di pagi hari setelah bangun tidur membuat kita mensyukuri kehidupan yang Tuhan berikan. 2. Berdoa di pagi hari setelah bangun tidur memberikan kita ketenangan jiwa untuk beraktivitas sepanjang hari. 13

3. Berdoa di pagi hari setelah bangun tidur membuat kita menyadari bahwa kita dan semua isi dunia adalah milik Tuhan semata. 14