IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN KERAPU MACAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab V Hasil dan Pembahasan. Gambar V.10 Konsentrasi Nitrat Pada Setiap Kedalaman

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tingkat Kelangsungan Hidup

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ikan Kerapu Macan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo, yang melaksanakan tugas operasional

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Padat Tebar (ekor/liter)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi lele menurut SNI (2000), adalah sebagai berikut : Kelas : Pisces. Ordo : Ostariophysi. Famili : Clariidae

V HASIL DAN PEMBAHASAN. pengamatan tersebut diberikan nilai skor berdasarkan kelompok hari moulting. Nilai

Gambar 2. Grafik Pertumbuhan benih ikan Tagih

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Laju Pertumbuhan Spesifik Benih Ikan Mas (SGR)

Bab V Hasil dan Pembahasan

PENDAHULUAN. yang sering diamati antara lain suhu, kecerahan, ph, DO, CO 2, alkalinitas, kesadahan,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Tingkat Kelangsungan Hidup Benih Ikan Patin Siam

4 HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 3 Data perubahan parameter kualitas air

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kelangsungan Hidup Ikan Nila Nirwana Selama Masa Pemeliharaan Perlakuan Kelangsungan Hidup (%)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Dari hasil pengukuran terhadap beberapa parameter kualitas pada

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Grafik pertumbuhan benih C. macropomum yang dihasilkan selama 40 hari

HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil

PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN PAKAN TERHADAP PRODUKSI PEMBESARAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) DI KERAMBA JARING APUNG WADUK CIRATA

PENGARUH KUALITAS AIR TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis sp.) DI KOLAM BETON DAN TERPAL

BAB 4. METODE PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. Waduk adalah wadah air yang terbentuk sebagai akibat dibangunnya bendungan

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DA PEMBAHASA

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Pemberian Dosis Pakan Otohime yang Berbeda terhadap Pertumbuhan Benih Ikan Kerapu Bebek di BPBILP Lamu Kabupaten Boalemo

II. BAHAN DAN METODE

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Teluk Ratai Kabupaten Pesawaran,

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 4. Grafik Peningkatan Bobot Rata-rata Benih Ikan Lele Sangkuriang

SUBSTITUSI TEPUNG IKAN DENGAN TEPUNG CACING TANAH DALAM PAKAN UNTUK PERTUMBUHAN DAN EFISIENSI PAKAN IKAN BAUNG (Mystus nemurus CV ABSTRAK

II. TINJAUAN PUSTAKA. Anyperodon, Cephalopholis, Cromileptes, Epinephelus, Plectropomus, dan

PARAMETER KUALITAS AIR

METODE PENELITIAN. M 1 V 1 = M 2 V 2 Keterangan : M 1 V 1 M 2 V 2

METODE PENELITIAN. Gambar 7 Lokasi penelitian di perairan dangkal Semak Daun.

Teknik pembenihan ikan air laut Keberhasilan suatu pembenihan sangat ditentukan pada ketersedian induk yang cukup baik, jumlah, kualitas dan

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Gurami ( Osphronemus gouramy ) adalah salah satu ikan air tawar bernilai

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Persiapan Benur Udang Vannamei dan Pengemasan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

II. METODOLOGI. a) b) Gambar 1 a) Ikan nilem hijau ; b) ikan nilem were.

Tingkat Penggunaan Limbah Laju Pertumbuhan %

Gambar 1. Ikan lele dumbo (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

BY: Ai Setiadi FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSSITAS SATYA NEGARA INDONESIA

II. BAHAN DAN METODE

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

GROUPER FAPERIK ISSN

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. menjalankan aktivitas budidaya. Air yang digunakan untuk keperluan budidaya

PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN. BAWAL BINTANG (Trachinotus blochii)

1) Staf Pengajar pada Prog. Studi. Budidaya Perairan, Fakultas

MANAJEMEN KUALITAS AIR

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan September-Oktober 2011 bertempat di. Balai Budidaya Ikan Hias, Natar, Lampung Selatan.

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2012 hingga Februari 2013

METODE PENELITIAN. Lokasi dan objek penelitian ini berada di Teluk Cikunyinyi, Kecamatan

TINJAUAN PUSTAKA. Perkembangan Larva Rajungan. Jenis Stadia dan Lama Waktu Perkembangan Larva

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kehidupan Plankton. Ima Yudha Perwira, SPi, Mp

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Gambar 5. Grafik Pertambahan Bobot Rata-rata Benih Lele Dumbo pada Setiap Periode Pengamatan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

PENOKOLAN UDANG WINDU, Penaeus monodon Fab. DALAM HAPA PADA TAMBAK INTENSIF DENGAN PADAT TEBAR BERBEDA

Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 3, No. 4, Desember 2012: ISSN :

Pengaruh Pemberian Viterna Plus dengan Dosis Berbeda pada Pakan terhadap Pertumbuhan Benih Ikan Lele Sangkuriang di Balai Benih Ikan Kota Gorontalo

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ikan patin siam (Pangasius hypopthalmus) merupakan salah satu ikan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

IDENTIFIKASI KUALITAS PERAIRAN DI SUNGAI KAHAYAN DARI KEBERADAAN SISTEM KERAMBA STUDI KASUS SUNGAI KAHAYAN KECAMATAN PAHANDUT KALIMANTAN TENGAH

III. BAHAN DAN METODE

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA. dan kimia. Secara biologi, carrying capacity dalam lingkungan dikaitkan dengan

Pembesaran udang galah Macrobrachium rosenbergii kini mengadopsi

BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 45 hari dengan menggunakan 4 perlakuan yakni perlakuan A (Perlakuan dengan

II. METODE PENELITIAN. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan Agustus

ANALISA PENCEMARAN LIMBAH ORGANIK TERHADAP PENENTUAN TATA RUANG BUDIDAYA IKAN KERAMBA JARING APUNG DI PERAIRAN TELUK AMBON

TINJAUAN PUSTAKA. Estuari oleh sejumlah peneliti disebut-kan sebagai area paling produktif,

Budidaya Nila Merah. Written by admin Tuesday, 08 March :22

LINGKUNGAN BISNIS PELUANG BISNIS BUDIDAYA IKAN MAS : IMADUDIN ATHIF N.I.M :

PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN BETOK (Anabas testudineus) YANG DIPELIHARA PADA SALINITAS BERBEDA

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Maret 2014 di

Transkripsi:

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengamatan terhadap ikan didapatkan suatu parameter pertumbuhan dan kelangsungan hidup berupa laju pertumbuhan spesifik, pertumbuhan panjang mutlak dan derajat kelangsungan hidup serta efisiensi pakan dan kasus penyakit sebagai parameter pendukung. Selain itu terdapat pula parameter fisika kimia perairan berupa ph, salinitas, kecepatan srus, suhu, secerahan, oksigen terlarut, amoniak, nitrat, dan ortophosphat. Data pengamatan ikan dan kualitas air dapat dilihat pada Lampiran 2. 4.1.1 Pertumbuhan Bobot Bobot ikan dari masing-masing kelompok perlakuan mengalami peningkatan (Gambar 8). Peningkatan bobot ikan yang signifikan terjadi pada KJTB dengan peningkatan bobot sebesar 18,70 gram, pada saat penebaran ikan memiliki berat 75,96 gram dan pada akhir pemeliharaan bobot ikan bertambah menjadi 94,65 gram. Ikan pada KJTK memiliki pertumbuhan bobot yang tidak terlalu signifikan seperti halnya KJAK dengan nilai secara berturut-turut 5,33 dan 6,72 gram (Lampiran 3). Gambar 8. Bobot ikan kerapu macan (Ephinephelus fuscoguttatus) yang dipelihara selama 4 minggu. KJTK dan KJTB adalah ikan dalam

23 Laju pertumbuhan spesifik pada keempat kelompok perlakuan berbeda satu sama lain. KJTB memiliki laju pertumbuhan spesifik yang tertinggi yaitu sebesar 0,86%, sedangkan kelompok perlakuan ikan KJTK memiliki nilai laju pertumbuhan spesifik yang paling kecil yaitu 0,44%. Laju pertumbuhan spesifik ikan ukuran besar dalam KJA lebih kecil dibanding KJT, namun sebaliknya pada ikan ukuran kecil, KJA lebih tinggi dibandingkan KJT (Gambar 9). Secara umum ikan berukuran besar memiliki laju pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan ikan ukuran kecil. Gambar 9 Laju pertumbuhan spesifik ikan kerapu macan (Ephinephelus fuscoguttatus) yang dipelihara selama 4 minggu. KJTK dan KJTB adalah ikan dalam keramba jaring tancap yang masing-masing berukuran kecil dan besar. KJAK dan KJAB adalah ikan dalam keramba jaring apung yang masing-masing berukuran kecil dan besar. Pengujian dengan statistik pada selang kepercayaan 95% antar perlakuan KJA, KJT dan antar kelompok kecil (12-14 cm), besar (15-17 cm) laju pertumbuhan spesifik ikan ukerapu macan tidak berbeda nyata (Lampiran 4). 4.1.2 Pertumbuhan Panjang Pertumbuhan panjang paling pesat terjadi pada KJTB, pada awal pemeliharaan rata-rata panjang ikan di KJAB lebih tinggi dibanding dengan KJTB yaitu berturut-turut 15,8 cm dan 15,7 cm, namun pada akhir pemeliharaan ikan uji KJTB memiliki rata-rata panjang yang lebih tinggi dibandingkan KJAB yaitu

24 secara berturut-turut 16,7 cm dan 16,3 cm (Lampiran 3). Perbedaan terlihat pula pada pertumbuhan panjang ikan uji pada KJTK dan KJAK. Pada pertumbuhan panjang ikan KJTK memiliki kecenderungan pola pertumbuhan yang sama dengan KJAK, namun pada pertumbuhan panjang ikan KJAK lebih besar dibandingkan KJTK seperti yang terlihat pada Gambar 10. Panjang (cm) 17,0 16,5 16,0 15,5 15,0 14,5 14,0 13,5 13,0 12,5 12,0 0 2 4 minggu ke- KJTK KJTB KJAK KJAB Gambar 10 Pertumbuhan panjang ikan kerapu macan (Ephinephelus fuscoguttatus) yang dipelihara selama 4 minggu. KJTK dan KJTB adalah ikan dalam keramba jaring tancap yang masing-masing berukuran kecil dan besar. KJAK dan KJAB adalah ikan dalam keramba jaring apung yang masing-masing berukuran kecil dan besar. Selama penelitian, pertumbuhan panjang mutlak yang tertinggi ditunjukkan oleh kelompok perlakuan KJTB dengan pertumbuhan panjang sebesar 0,90 cm, namun nilai tersebut tidak berbeda jauh dengan ikan uji pada kelompok perlakuan KJAK yaitu 0,86 cm. Hal tersebut juga terjadi pada kelompok perlakuan KJAB yang nilainya tidak berbeda jauh dengan KJTK yang pertumbuhan panjangnya berturut-turut 0,45 cm dan 0,44 cm. Pertumbuhan panjang mutlak dari keempat kelompok perlakuan tersebut dapat dilihat pada Gambar 11.

25 Gambar 11 Pertumbuhan panjang mutlak ikan kerapu macan (Ephinephelus fuscoguttatus) yang dipelihara selama 4 minggu. KJTK dan KJTB adalah ikan dalam keramba jaring tancap yang masing-masing berukuran kecil dan besar. KJAK dan KJAB adalah ikan dalam keramba jaring apung yang masing-masing berukuran kecil dan besar. Pengujian statistik pada selang kepercayaan 95% antar perlakuan KJA, KJT dan antar kelompok kecil (12-14 cm), besar (15-17 cm), pertumbuhan panjang mutlak ikan uji tidak berbeda nyata (Lampiran 5). 4.1.3 Kelangsungan Hidup Populasi ikan uji selama penelitian pada umumnya memiliki jumlah yang tetap, hanya pada KJTB saja yang mengalami penurunan. Penurunan jumlah populasi pada KJTB terjadi pada minggu ke dua dan minggu ke tiga. Pada minggu ke dua jumlah ikan pada KJTB berkurang sebanyak 2 ekor sedangkan pada minggu ke tiga berkurang lagi sebanyak 1 ekor. Berkurangnya populasi pada KJTB diakibatkan karena kematian ikan pada saat pemeliharaan. Perubahan jumlah ikan selama penelitian dapat dilihat pada Gambar 12.

26 Jumlah ikan (ekor) Gambar 12 18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 0 1 2 3 4 Minggu ke- KJTK KJTB KJAK KJAB Jumlah ikan kerapu macan (Ephinephelus fuscoguttatus) yang dipelihara selama 4 minggu. KJTK dan KJTB adalah ikan dalam Pada umumnya tingkat kelangsungan hidup dari semua perlakuan cenderung sama yaitu 100% hanya KJTB saja yang memiliki tingkat kelangsungan hidup sebesar 82,35% seperti yang terlihat pada Gambar 13. Gambar 13 Tingkat kelangsungan hidup ikan kerapu macan (Ephinephelus fuscoguttatus) yang dipelihara selama 4 minggu. KJTK dan KJTB adalah ikan dalam keramba jaring tancap yang masing-masing berukuran kecil dan besar. KJAK dan KJAB adalah ikan dalam keramba jaring apung yang masing-masing berukuran kecil dan besar.

27 Berdasarkan uji statistik dengan selang kepercayaan 95% antara perlakuan KJT dan KJA tidak berbeda nyata dengan rata-rata SR 100,00% untuk KJA dan 91,17% untuk keramba jaring tancap, serta kedua kelompok ikan besar maupun ikan kecil juga tidak berbeda nyata (Lampiran 6). 4.1.4 Efisiensi Pemberian Pakan Berdasarkan perhitungan efisiensi pemberian pakan dari keempat kelompok perlakuan terlihat bahwa ikan uji pada kelompok KJAB memiliki efisiensi pakan yang paling baik yaitu sebesar 33%. Pada ikan uji dengan perlakuan keramba jaring tancap (KJTK,KJTB), efisiensi pakannya cenderung lebih kecil dibanding pada ikan di KJA (KJAK,KJAB) yaitu 21% untuk KJTK dan 28% untuk KJTB dibandingkan KJAK sebesar 24% dan KJAB sebesar 33% yang dapat dilihat pada Gambar 14. Gambar 14 Efisiensi pakan Ikan kerapu macan (Ephinephelus fuscoguttatus) yang dipelihara selama 4 minggu. KJTK dan KJTB adalah ikan dalam keramba jaring tancap yang masing-masing berukuran kecil dan besar. KJAK dan KJAB adalah ikan dalam keramba jaring apung Pengujian statistik mengenai efisiensi pemberian pakan dengan selang kepercayaan 95% menujukan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata antara kedua perlakuan yaitu KJT dan KJA serta kedua kelompok ikan besar maupun ikan kecil (Lampiran 7).

28 4.1.5 Penyakit Kasus penyakit pada ikan uji banyak ditemukan pada perlakuan keramba jaring tancap baik kelompok KJTK maupun KJTB yaitu sebanyak 2 kasus pada masing-masing kelompok. Pada KJTK ikan yang terkena penyakit memiliki ciriciri mata katarak, terdapat benjolan seperti kutil, lecet pada mulut dan terdapat cacing pada siripnya, sedangkan pada KJTB ikan sakit terlihat benjolan seperti kutil dan terdapat cacing pada siripnya. Kasus penyakit pada perlakuan KJA hanya ditemukan pada kelompok KJAK saja sebanyak 1 kasus dengan ciri-ciri penyakit terdapat benjolan seperti kutil pada tubuh ikan dan untuk kelompok KJAB tidak ditemukan. Beberapa gambaran dari kasus yang ditemukan terdapat pada Lampiran 8. Jumlah kasus penyakit yang ditemukan selama penelitian terlihat pada Gambar 15. Gambar 15 Kasus penyakit pada ikan kerapu macan (Ephinephelus fuscoguttatus) yang dipelihara selama 4 minggu. KJTK dan KJTB adalah ikan dalam keramba jaring tancap yang masing-masing berukuran kecil dan besar. KJAK dan KJAB adalah ikan dalam keramba jaring apung yang masing-masing berukuran kecil dan besar. Berdasarkan uji statistik dengan SK 95% kasus penyakit yang terjadi pada perlakuan KJT, KJA dan kelompok ukuran kecil, besar tidak berbeda nyata (Lampiran 9).

29 4.1.6 Fisika-Kimia Air a. Oksigen Terlarut Kadar oksigen perairan pada saat pengamatan selama 4 minggu, antara kedua perlakuan memiliki kisaran yang hampir sama yaitu 5,968 9,671 ppm untuk keramba jaring tancap dan 5,893 9,661 ppm untuk KJA. Kadar oksigen perairan meningkat pada minggu ke-2 dan menurun kembali pada minggu ke-3 dan ke-4. Kadar oksigen yang berada pada kedua sistem budidaya masih berada di atas standar baku kelayakan budidaya yaitu antara 4-15 ppm. Fluktuasi dari oksigen terlarut selama pengamatan dapat dilihat pada Gambar 16. Gambar 16 Fluktuasi kadar oksigen dalam keramba jaring apung dan keramba jaring tancap selama 4 minggu. KJTK dan KJTB adalah ikan dalam b. Kecerahan Kecerahan perairan di sekitar lokasi penelitian pada umumnya berada pada kisaran baku mutu perairan untuk budidaya kerapu yaitu di atas 3 m. kecerahan di kedua wadah perlakuan memiliki nilai yang sama yaitu berkisar antara 4-10 m. Fluktuasi dari kecerahan selama pengamatan dapat dilihat pada Gambar 17.

30 Gambar 17 Fluktuasi kecerahan dalam keramba jaring apung dan keramba jaring tancap selama 4 minggu. KJTK dan KJTB adalah ikan dalam c. Suhu Suhu perairan selama penelitian berkisar antara 29,0 0 C hingga 29,6 0 C untuk keramba keramba jaring tancap dan 29,5 0 C hingga 29,8 0 C untuk keramba jaring apung. kedua kisaran tersebut berada di luar kisaran baku mutu perairan untuk budidaya kerapu secara intensif (Gambar 18). Gambar 18 Fluktuasi suhu dalam keramba jaring apung dan keramba jaring tancap selama 4 minggu. KJTK dan KJTB adalah ikan dalam

31 d. Kecepatan Arus Kecepatan arus pada kedua wadah perlakuan sama yaitu berkisar antara 0,03 m/s sampai dengan 0,08 m/s. Kisaran kecepatan arus selama penelitian masih berada di bawah nilai baku mutu perairan untuk budidaya kerapu. Fluktuasi dari kecepatan arus selama pengamatan dapat dilihat pada Gambar 19. Gambar 19 Fluktuasi kecepatan arus dalam keramba jaring apung dan keramba jaring tancap selama 4 minggu. KJTK dan KJTB adalah ikan dalam e. Salinitas Salintas perairan pada kedua wadah perlakuan cenderung normal berada pada kisaran baku mutu perairan untuk budidaya kerapu. Pada umumnya salinitas di keramba jaring tancap lebih tinggi berkisar antara 33-35 ppt dibandingkan KJA yang kisarannya antara 30-33 ppt. Fluktuasi dari salinitas selama pengamatan dapat dilihat pada Gambar 20.

32 Gambar 20 Fluktuasi salinitas dalam keramba jaring apung dan keramba jaring tancap selama 4 minggu. KJTK dan KJTB adalah ikan dalam f. Derajat Keasaman (ph) Kisaran ph pada kedua tempat berada pada kisaran baku mutu perairan untuk budidaya kerapu yaitu 6,5 9. Nilai derajat keasaman pada KJA cenderung lebih tinggi berkisar 8 9 dibandingkan ph pada keramba jaring tancap yang berkisar 7 8. Fluktuasi dari derajat keasaman selama pengamatan dapat dilihat pada Gambar 21. Gambar 21 Fluktuasi ph dalam keramba jaring apung dan keramba jaring tancap selama 4 minggu. KJTK dan KJTB adalah ikan dalam keramba jaring tancap KJAK dan KJAB adalah ikan dalam keramba jaring apung yang masingmasing berukuran kecil dan besar. g. Nitrat

33 Kadar nitrat pada kedua tempat memiliki kisaran yang sangat rendah, bahkan pada saat awal pemeliharaan hampir tidak terdeteksi dan selalu di dalam kisaran nilai baku mutu. Fluktuasi dari nitrat selama pengamatan dapat dilihat pada Gambar 22. Gambar 22 Fluktuasi nitrat dalam keramba jaring apung dan keramba jaring tancap selama 4 minggu. KJTK dan KJTB adalah ikan dalam h. Amoniak Nilai kisaran amoniak selama penelitian masih berada pada kisaran baku mutu perairan untuk budidaya kerapu yaitu di bawah 1,00 ppm. Pada wadah keramba jaring tancap kisaran amoniak cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan di KJA yaitu 0,10 0,22 ppm berbanding 0,06 0,10 ppm. Fluktuasi dari amoniak selama pengamatan dapat dilihat pada Gambar 23.

34 Gambar 23 Fluktuasi amoniak dalam keramba jaring apung dan keramba jaring tancap selama 4 minggu. KJTK dan KJTB adalah ikan dalam i. Ortophosphat Nilai ortophosphat di KJA cenderung lebih tinggi yaitu 0,10 0,12 ppm dibandingkan dengan keramba jaring tancap yang berkisar antara 0,05-0,08 ppm. Kedua kisaran tersebut masih dalam kondisi yang baik untuk budidaya ikan kerapu yaitu 0,01 0,10 ppm. Fluktuasi dari ortophosphat selama pengamatan dapat dilihat pada Gambar 24. Gambar 24 Fluktuasi ortophosphat dalam keramba jaring apung dan keramba jaring tancap selama 4 minggu. PCK dan PCB adalah ikan dalam

35 4.2 Pembahasan Selama penelitian, data fisika-kimia perairan yang diukur di dalam wadah pemeliharaan baik KJA maupun KJT, pada sore hari setiap minggunya secara umum memiliki nilai baku mutu yang masih sesuai dengan standar baku perairan untuk budidaya. Hanya pada suhu dan kecepatan arus saja yang nilainya tidak sesuai. Selama penelitian suhu berkisar antara 29-29,8 0 C sedangkan standar baku perairan untuk budidaya kerapu ialah 26,5-28 0 C, namun kisaran suhu tersebut cenderung konstan dan menurut Sudjiharno dan Winanto (1998) perubahan suhu yang cukup ekstrim akan berpengaruh terhadap proses metabolisme atau nafsu makan ikan. Karena selama penelitian tidak terjadi perubahan suhu yang ekstrim, sehingga faktor suhu masih dianggap layak untuk dilaksanakannya budidaya kerapu. Kecepatan arus pada saat penelitian berkisar anatara 0,02 0,08 m/s yang seharusnya standar baku perairan untuk budidaya kerapu memiliki kisaran kecepatan arus 0,2 0,3 m/s. Hal tersebut diduga berdampak pada penurunan mutu perairan diantaranya kadar oksigen perairan. Pada saat penelitian pengukuran fisika-kimia perairan hanya dilakukan pada sore hari dimana kadar oksigen terlarut masih tinggi. Pada malam hari kadar oksigen di perairan akan berkurang disebabkan konsumsi oksigen di perairan selain digunakan oleh ikan kerapu macan juga digunakan oleh fitoplankton dalam perairan untuk respirasi, sehingga kompetisi dalam memperoleh oksigen semakin tinggi. Dengan kecepatan arus yang relatif kecil, perputaran air pada wadah menjadi lambat menyebabkan kadar oksigen pada wadah semakin krisis. Oleh karena itu kematian ikan selama penelitian yang terjadi pada malam hari diduga karena kadar oksigen dalam wadah yang menurun secara drastis. Pada KJT kadar amoniak (0,14 ppm) lebih tinggi dibandingkan KJA (0,08 ppm), sedangkan kelarutan oksigen KJT (7,33 ppm) lebih rendah dibandingkan KJA (7,34 ppm), menurut Effendi (2000) toksisitas amoniak akan meningkat seiring dengan menurunnya kadar oksigen dalam suatu perairan. Oleh karena itu toksisitas amoniak pada KJT lebih tinggi dibandingkan di KJA sehingga secara umum ikan pada KJT lebih rentan dibandingkan ikan pada KJA.

36 Keberadaan perairan tersebut memberikan dampak pada nafsu makan ikan, efisiensi pakan dan tingkat kelangsungan hidup ikan kerapu macan. Pada kelompok ikan ukuran kecil KJA dan kelompok ikan ukuran kecil KJT memiliki nilai rata-rata konsumsi pakan harian yang sama yaitu 2,2% dari biomasa ikan, namun nilai efisiensi pakan dari ikan tersebut berbeda yaitu KJA (23%) lebih tinggi dibandingkan KJT (21%). Dengan demikian energi dari pakan yang dikonsumsi oleh ikan ukuran kecil pada KJT lebih sedikit diserap oleh tubuh dibandingkan ikan ukuran kecil pada KJA. Hal tersebut menyebabkan laju pertumbuhan spesifik ikan kecil pada KJT (0,44%) lebih rendah dibandingkan ikan kecil pada KJA (0,47%). Begitu pula yang terjadi pada ikan yang berukuran besar, nilai rata-rata konsumsi pakan harian ikan ukuran besar pada KJT (2,2% dari biomasa) lebih tinggi dibandingkan ikan ukuran besar pada KJA (2,0% dari biomasa). Hal tersebut menyebabkan laju pertumbuhan pada ikan ukuran besar pada KJT (0,86%) lebih tinggi dibandingkan ikan ukuran besar pada KJA (0,62%). Nafsu makan dan laju pertumbuhan yang tinggi menunjukan bahwa ikan menyukai perairan tersebut. Sesuai dengan pola hidup ikan kerapu macan menurut Anonimus (2007 b ), Pada saat stadia telur dan larva, ikan kerapu macan bersifat pelagis, namun begitu menginjak usia muda sampai dewasa bersifat demersal. Pada penelitian ini terlihat ikan kerapu ukuran kecil lebih menyukai wadah KJA dibandingkan KJT dengan laju pertumbuhan yang lebih tinggi pada KJA. Wadah KJA memiliki karakteristik pelagis dimana kantong jaring berada pada kolom perairan. Demikian pula pada ikan kerapu macan ukuran besar lebih menyukai wadah KJT yang memiliki karakteristik demersal dimana kantong jaring berada di dasar perairan. Hal tersebut juga sesuai dengan sistem pengadaptasian pada kegiatan sea farming dimana ikan kerapu macan ukuran kecil (11-13 cm) dipelihara dalam KJA, kemudian setelah besar (13-15 cm) dipelihara dalam KJT. Tingkat kelangsungan hidup dari masing-masing kelompok perlakuan umumnya memiliki nilai yang sama yaitu 100%, hanya kelompok ikan ukuran besar pada KJT saja yang memiliki tingkat kelangsungan hidup sebesar 82,35%. Pada sistem KJA, kantong jaring pemeliharaan ikan berada jauh dari dasar perairan yaitu 6,5 s.d 8 m, sedangkan keramba jaring tancap permukaan kantong

37 jaring berkenaan langsung dengan dasar perairan sehingga ikan dapat kontak langsung dengan substrat perairan yang menjadi tempat mengendapnya senyawasenyawa organik dan anorganik serta limbah yang bersifat toksik. Selain itu pada dasar perairan pun banyak terdapat vektor penyakit yang dapat menjangkit tubuh ikan kerapu macan yang dipelihara. Hal tersebut dapat terlihat pada kasus penyakit yang terjadi selama penelitian, pada ikan kerapu macan yang dipelihara dalam KJT didapatkan 2 kasus penyakit disetiap wadah, sedangkan pada ikan uji yang dipelihara pada KJA hanya terdapat 1 kasus penyakit yaitu pada kelompok ikan ukuran kecil. Dilihat dari sampel ikan yang mengalami kematian pada ikan ukuran besar dalam KJT, ikan mati dengan kondisi kurus yang diduga karena terjangkit oleh penyakit dalam pencernaan seperti cacing. Menurut Sindermann (1990), pada ikan dewasa cacing menyerang pada saluran pencernaan, sedangkan pada larva ikan cacing menyerang pada daging dan isi perut. Cacing dapat masuk ke dalam tubuh inang dikarenakan adanya kesalahan dalam mekanik, hilangnya substansi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam metabolisme, adanya fasilitas bagi mikroorganisme patogen untuk masuk ke dalam tubuh inangnya serta lingkungan yang buruk menyebabkan ikan mudah terjangkit. Pada ikan yang terserang cacing pada pencernaannya akan terlihat kurus dan terlihat lemas. Kematian hanya terjadi pada ikan yang berukuran besar di KJT diduga karena pada saat terjadi up wealing atau gelombang tinggi, substrat dasar yang banyak mengandung senyawa-senyawa toksik terangkat dan terlarut dalam perairan, kemudian ikan besar lebih banyak menyerap air untuk metabolisme tubuh sedangkan perairan pada saat itu sedang mengalami penurunan mutu, akhirnya ikan besar akan banyak menyerap toksik dari perairan dan menyebabkan kematian terutama pada ikan yang sebelumnya telah terserang oleh penyakit.