Prosiding Farmasi ISSN:

dokumen-dokumen yang mirip
Prosiding Farmasi ISSN:

DAFTAR ISI. repository.unisba.ac.id

STUDI FITOKIMIA DAN POTENSI ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAN FRAKSI KAYU MANIS (CINNAMOMUM SP.) DENGAN METODE PERKOLASI YOANITA EUSTAKIA NAWU

ABSTRAK ABSTRACT KATA PENGANTAR

Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Dan Fraksi Kulit Buah Jengkol (Archidendron jiringa (Jeck) Nielsen Dengan Metode Peredaman Radikal Bebas DPPH

PERBEDAAN JENIS PELARUT TERHADAP KEMAMPUAN EKSTRAK DAUN BELUNTAS

BAB IV PROSEDUR PENELITIAN

BAB IV PROSEDUR KERJA

Karakterisasi Simplisia dan Ekstrak Etanol Daun Sirsak (Annona Muricata Linn)

IDENTIFIKASI FITOKIMIA DAN EVALUASI TOKSISITAS EKSTRAK KULIT BUAH LANGSAT (Lansium domesticum var. langsat)

KARAKTERISASI SIMPLISIA DAN EKSTRAK ETANOL DAUN BERTONI (Stevia rebaudiana) DARI TIGA TEMPAT TUMBUH

Identifikasi Senyawa Kimia Ekstrak Etanol Mentimun (Cucumis sativus L.) dan Ekstrak Etanol Nanas (Ananas comosus (L) Merr.)

STUDI FITOKIMIA DAN POTENSI ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAN FRAKSI KAYU MANIS (CINNAMOMUM SP.) DENGAN METODE SOXHLETASI

Prosiding Farmasi ISSN:

PERBEDAAN JENIS PELARUT TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAUN BELUNTAS (Pluchea indica Less) DENGAN METODE DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl)

Prosiding Farmasi ISSN:

Penetapan Kadar Sari

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN. Hasil pemeriksaan ciri makroskopik rambut jagung adalah seperti yang terdapat pada Gambar 4.1.

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Prosiding Farmasi ISSN:

Prosiding Farmasi ISSN:

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Lokasi Pengambilan Sampel, Waktu dan Tempat Penelitian. Lokasi pengambilan sampel bertempat di sepanjang jalan Lembang-

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN

BAB 3 PERCOBAAN 3.1 Bahan 3.2 Alat 3.3 Penyiapan Serbuk Simplisia Pengumpulan Bahan Determinasi Tanaman

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN, TOKSISITAS DAN KANDUNGAN FENOLIK TOTAL DARI EKSTRAK DAUN PULAI (Alstonia scholaris (L.) R. Br.) SKRIPSI SARJANA KIMIA

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 14. Hasil Uji Alkaloid dengan Pereaksi Meyer; a) Akar, b) Batang, c) Kulit batang, d) Daun

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi pengambilan sampel bertempat di daerah Cihideung Lembang Kab

Karakterisasi Simplisia dan Ekstrak Etanol Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus lemairei (Hook.) Britton & Rose)

BAB IV PROSEDUR KERJA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Serbuk halus daun tumbuhan jeringau sebanyak 400 g diekstraksi dengan

HASIL DA PEMBAHASA. Kadar Air

I. PENDAHULUAN II. METODE PENELITIAN

PARAMETER STANDARISASI DARI TANAMAN SEGAR, SIMPLISIA DAN EKSTRAK ETANOL DAUN MANGGA (MANGIFERA INDICA L ) DARI TIGA DAERAH BERBEDA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Prosiding Farmasi ISSN:

HOTMARIA RAHAYU SITUMORANG PEMBUATAN DAN EVALUASI SIMPLISIA BAWANG TIWAI (ELEUTHERINE AMERICANA (AUBL.) MERR)

HASIL DAN PEMBAHASAN Penetapan Kadar Air Hasil Ekstraksi Daun dan Buah Takokak

Prosiding Farmasi ISSN:

Pengaruh Metode Pengeringan terhadap Mutu Ekstrak Biji Kara Benguk (Mucuna pruriens (L.) DC.) yang Dihasilkan

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan yang optimal dan untuk mengatasi berbagai penyakit secara alami.

Lampiran 1. Identifikasi tumbuhan.

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii DAFTAR LAMPIRAN... vi DAFTAR GAMBAR... vii DAFTAR TABEL... viii PENDAHULUAN... 1

BAB III METODE PENELITIAN

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK KULIT BATANG KERSEN

Lampiran 1.Identifikasi tumbuhan

PARAMETER STANDARISASI TANAMAN SEGAR, SIMPLISIA DAN ESKTRAK ETANOL DAUN INSULIN (Smallanthus soncifolius) DARI TIGA DAERAH BERBEDA

BAB IV PROSEDUR PENELITIAN

BAB 3 PERCOBAAN 3.1 Bahan 3.2 Alat 3.3 Penyiapan Simplisia 3.4 Karakterisasi Simplisia

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Juni 2012.

A : Tanaman ceplukan (Physalis minima L.)

Prosiding Farmasi ISSN:

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. L.) yang diperoleh dari Pasar Sederhana, Kelurahan. Cipaganti, Kecamatan Coblong dan Pasar Ciroyom, Kelurahan Ciroyom,

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

UJI KADAR SISA ETANOL DAN ABU TOTAL EKSTRAK ETANOL 80 % DAUN BUNGA MATAHARI (Helianthus annuus) DAN TANAMAN ANTING-ANTING (Acalypha indica Linn)

FITOFARMAKA Re R t e n t o n W a W hy h un u i n n i g n ru r m u

Suaibatul Aslamiah & Haryadi, Identifikasi Kandungan Kimia Daun Pohon Beringin (Ficus benyamina L.)

Metoda-Metoda Ekstraksi

EFEK KOMBINASI EKSTRAK ETANOL DAUN SIRIH (Piper betle L) DENGAN AMOKSISILIN TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus

Lampiran 1. Hasil identifikasi sponge

DAFTAR ISI II METODOLOGI PENELITIAN III Alat dan bahan Alat Bahan Bakteri uji... 36

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampel atau bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun

Prosiding Farmasi ISSN:

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA FLAVONOID DARI FASE n-butanol DAUN JERUK PURUT (Citrus hystrix.dc)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang penelitian

PERBEDAAN JENIS PELARUT TERHADAP KEMAMPUAN MEREDUKSI ION BESI (Fe 3+ ) EKSTRAK DAUN BELUNTAS (Pluchea indica Less.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. November Pengambilan sampel Phaeoceros laevis (L.) Prosk.

Seminar Nasional dalam Rangka Dies Natalis ke-53 Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Palembang 14 September2016

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Instrumen Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA Universitas Pendidikan

III. METODE PENELITIAN

Wina Rahayu Selvia, Dina Mulyanti, Sri Peni Fitrianingsih

BAHAN DAN METODE Bahan dan Alat

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampel dari penelitian ini adalah daun murbei (Morus australis Poir) yang

Standardisasi Obat Bahan Alam. Indah Solihah

ANALISIS KLT-BIOAUTOGRAFI ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL 96% DAUN MENGKUDU (Morinda citrifolia L.) TERHADAP BAKTERI Salmonella typhi

3. METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

PARAMETER STANDARISASI DARI TANAMAN SEGAR, SIMPLISIA DAN EKSTRAK ETANOL DAUN BINAHONG (Anredera Cardifolia) DARI TIGA DAERAH BERBEDA

Lampiran 1. Hasil identifikasi teripang Holothuria atra Jaeger

1. Pendahuluan UJI EFEK ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH SALAK [SALACCA ZALACCA (GAERTNER) VOSS] DENGAN METODE PEREDAMAN DPPH

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun Artocarpus

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Evaluasi kestabilan formula krim antifungi ekstrak etanol rimpang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Pemeriksaan kandungan kimia kulit batang asam kandis ( Garcinia cowa. steroid, saponin, dan fenolik.(lampiran 1, Hal.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah kentang merah dan

Lampiran 1. Hasil identifikasi rumput laut Gracilaria verrucosa (Hudson) Papenfus

Lampiran 1. Universitas Sumatera Utara

ANALISIS KADAR FLAVONOID TOTAL PADA RIMPANG, BATANG, DAN DAUN BANGLE (Zingiber purpureum Roscoe)

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. identitas tanaman tersebut, apakah tanaman tersebut benar-benar tanaman yang

ABSTRAK. Kata kunci : Flavonoid, fase n-butanol, Averrhoa bilimbi Linn, oxalidaceae, penapisan fitokimia, spektrofotometri ultraviolet-cahaya tampak.

SKRIPSI. Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI GOLONGAN SENYAWA FLAVONOID DALAM FASE n-butanol DARI EKSTRAK METANOL DAUN MINDI (Melia azedarach L)

Transkripsi:

Prosiding Farmasi ISSN: 2460-6472 Karakterisasi Simplisia dan Ekstrak Etil Asetat Daun Paitan (Tithonia diversifolia (Hemsley) A. Gray) Characterization of Crude and Paitan Leaf Extract Ethyl Acetate (Tithonia diversifolia (Hemsley) A. Gray) 1 Desirian Dwiputri, 2 Sri Peni Fitrianingsih, 3 Indra Topik Maulana 1,2,3 Prodi Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Islam Bandung, Jl. Tamansari No.1 Bandung 40116 email: 1 desiriandp@gmail.com, 2 spfitrianingsih@gmail.com, 3 Indra.topik@gmail.com Abstract. Paitan leave (Tithonia diversifolia (Hemsley) A. Gray) is a plant that has been used for centuries in traditional medicine because its chemical compounds that beneficial for health. This study aimed to determine the characteristic of plant material and ethyl acetate extracts of paitan leave. Plant material characteristic involved phytochemical screening and then plant material and extract parameters were done. Plant material parameters involved organoleptic, determination of water content, drying shrinkage, total ash, acid insoluble ash, content of water soluble extract and content of ethanol soluble extract. While extract determination included organoleptic and density. Results of phytochemical screening on plant material were positively contained polyphenol, flavonoid, saponins, quinone, tannin and triterpenoid / steroid. While the results of phytochemical screening on extract were positive containing polyphenol, flavonoids, tannin, quinone and triterpenoid / steroids. The results of plant material quality standard parameter showed that the plant material powder had green color and distinctive smell, determination of water content (5.200%), drying shrinkage (8.958%), total ash (11.918%), acid i nsoluble ash content (0.708%), content of water soluble extract (20.810%) and the content of ethanol soluble extract (12.241%). The results of extracts quality parameter showed that crude extract of ethyl acetate had green color, distinctive smell with density (0.900%). Keywords: Paitan leave, Tithonia diversifolia (He msley) A. Gray, plant material, extract, phytochemical screening, quality standards. Abstrak. Daun paitan (Tithonia diversifolia (Hemsley) A. Gray) merupakan tumbuhan yang telah berabadabad digunakan sebagai obat tradisional karena memiliki kandungan senyawa kimia yang bermanfaat bagi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik simplisia dan ekstrak etil asetat daun paitan. Karakteristik simplisia meliputi penapisan fitokimia dan penetapan standar mutu simplisia dan ekstrak. Penetapan mutu simplisia meliputi organoleptis, penetapan kadar air, susut pengeringan, kadar abu total, kadar abu tidak larut asam, kadar sari larut air dan kadar sari larut etanol. Sedangkan penetapan mutu ekstrak meliputi organoeptis dan bobot jenis. Hasil penapisan fitokimia simplisia mengandung senyawa polifenolat, flavonoid, saponin, kuinon, tanin dan triterpenoid/steroid. Sedangkan hasil fitokimia ekstrak mengandung senyawa polifenolat, flavonoid, tanin, kuinon dan triterpenoid/steroid. Hasil penetapan standar mutu simplisia menunjukkan bahwa serbuk simplisia memiliki warna hijau dan berbau khas, penetapan kadar air (5,200%), susut pengeringan (8,958%), kadar abu total (11,918%), kadar abu tidak larut asam (0,708%), kadar sari larut air (20,810%) dan kadar sari larut etanol (12,241%). Hasil penetapan standar mutu ekstrak menunjukkan bahwa ekstrak kental etil asetat memiliki warna hijau, berbau khas dengan bobot jenis (0,900%). Kata Kunci: Daun Paitan, Tithonia diversifolia (Hemsley) A. Gray, Simplisia, Ekstrak, Penapisan Fitokimia, Standar Mutu. 241

242 Desirian Dwiputri, et al. A. Pendahuluan Daun paitan ( Tithonia diversifolia (Hemsley) A. Gray) merupakan tumbuhan tahunan asli dari Amerika Tengah. Tumbuhan ini sering disebut bunga matahari Meksiko, dari keluarga Asteraceae yang telah berabad-abad digunakan sebagai obat tradisional ( Elufioye et al, 2009). Pengobatan obat tradisional dengan tumbuhan obat diharapkan dapat bermanfaat bagi kesehatan. Tumbuhan paitan (Tithonia diversifolia (Hemsley) A. Gray) umum digunakan sebagai obat luka atau luka lebam, dan sebagai obat sakit perut, kembung. Banyak juga digunakan sebagai obat lepra, penyakit lever, obat diabetes dan dapat digunakan sebagai penggugur kandungan, antimalaria, antiinflamasi, antioksidan, dan antimikroba (Hutapea, 1994; Elufioye et al, 2004; Linn et al, 1993; Thongsom et al, 2013; Odeyemi et al, 2014). Kandungan kimia yang terdapat pada daun paitan diantaranya alkaloid, saponin, fenol, flavonoid, triterpen, seskuiterpen, monoterpen dan diterpen (Odeyemi et al, 2014). Untuk melindungi konsumen dan menjamin kualitas simplisia dan ekstrak maka perlu dilakukan standardisasi mutu simplisia dan ekstrak. Stadardisasi merupakan serangkaian parameter yang harus memenuhi persyaratan tertentu meliputi aman, berkhasiat dan bermutu (Departemen Kesehatan RI, 2000). Maka penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik simplisia dan ekstrak etil asetat daun paitan (Tithonia diversifolia (Hemsley) A. Gray). B. Landasan Teori Tumbuhan paitan merupakan tanaman perdu dengan tinggi mencapai ±5m. Batang tegak, bulat, berkayu dan berwarna hijau. Daun tunggal, berseling dengan ujung dan pangkal daun runcing, pertulangan menyirip, panjang 26-32 cm, warna hijau. Tepi daun bertoreh dan bergerigi (Hutapea, 1994). Gambar 1. Tumbuhan paitan (Tithonia diversifolia (Hemsley) A. Gray) Penapisan fitokimia atau skrining fitokimia merupakan tahapan awal dalam identifikasi kandungan kimia yang terdapat dalam simplisia maupun ekstrak yang terkandung dalam tanaman. Senyawa metabolit sekunder yang diidentifikasi yaitu senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, polifenolat, triterpenoid/steroid, kuinon, dan saponin (Farnsworth, 1966: 243). Penetapan standar mutu dilakukan untuk menjamin keamanan, khasiat dan kualitas dari simplisia dan ekstrak. Penetapan standar mutu terdiri dari berbagai parameter spesifik dan parameter non spesifik (Departemen Kesehatan RI, 2000). Ekstraksi adalah suatu kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut pada pelarutnya sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair (Departemen Kesehatan RI, 2000: 1). Terdapat dua metode ekstraksi dengan Volume 2, No.2, Tahun 2016

Karakterisasi Simplisia dan Ekstrak Etil Asetat Daun Paitan 243 menggunakan pelarut, yaitu ekstraksi dengan cara dingin dan cara panas. Metode ekstraksi yang termasuk cara dingin adalah maserasi dan perkolasi, sedangkan yang termasuk metode ekstraksi cara panas diantaranya refluks, soxhlet, digesti, infusa dan dekok (Departemen Kesehatan RI, 2000: 10-11). Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik. Umumnya dilakukan pengulangan proses pada residu pertama sampai 3-5 kali sehingga proses ekstraksi sempurna (Departemen Kesehatan RI, 2000: 10-11). C. Hasil Penelitian dan Pembahasan Bahan tumbuhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun paitan (Tithonia diversifolia (Hemsley) A. Gray) yang diperoleh dari Selabintana, Kota Sukabumi berupa simplisia segar sebanyak 10,5 kg. Proses pembuatan simplisia daun paitan dimulai dari pengumpulan bahan, sortasi untuk memisahkan kotoran atau bahan asing lain dari simplisia sehingga hanya bagian daun yang terambil, pencucian menggunakan air mengalir untuk mengurangi kemungkinan kontaminasi yang mempengaruhi hasil akhir, perajangan/pengecilan ukuran untuk memperbesar luas permukaan sehingga kontak dengan pelarut saat ekstraksi lebih optimal dan memudahkan dalam proses pengeringan, kemudian dilakukan pengeringan menggunakan lemari pengering hingga dihasilkan simplisia kering. Simplisia kering yang diperoleh sebanyak 0,525 kg. Penapisan fitokimia atau skrining fitokimia merupakan tahapan awal dalam identifikasi kandungan kimia yang terdapat dalam simplisia maupun ekstrak. Hasil penapisan fitokimia dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil penapisan fitokimia Berdasarkan hasil yang tercantum dalam tabel diatas, menunjukkan bahwa simplisia daun paitan mengandung senyawa polifenolat, flavonoid, tanin, kuinon, saponin, monoterpen sesquiterpen dan triterpen steroid. Sedangkan pada ekstrak daun paitan, senyawa fitokimia yang terkandung diantaranya senyawa polifenolat, flavonoid, tanin, kuinon, dan triterpen steroid. Penetapan standar mutu dilakukan untuk menjamin keamanan, khasiat dan kualitas dari simplisia dan ekstrak. Parameter non spesifik yang dilakukan pada Farmasi, Gelombang 2, Tahun Akademik 2015-2016

244 Desirian Dwiputri, et al. simplisia diantaranya, parameter susut pengeringan, kadar air, kadar abu total dan kadar abu tidak larut asam. Sedangkan parameter non spesifik yang dilakukan pada ekstrak adalah bobot jenis. Parameter spesifik yang dilakukan pada simplisia, meliputi organoleptis, kadar sari larut air dan kadar sari larut etanol. Hasil penetapan standar mutu dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil penetapan standar mutu Parameter non spesifik merupakan parameter yang terkait dengan faktor lingkungan dalam pembuatan simplisia meliputi uji terkait dengan pencemaran. sedangkan parameter spesifik merupakan parameter yang terkait langsung dengan senyawa yang ada didalam tanaman. Parameter non spesifik diantaranya susut pengeringan, prinsipnya adalah pengukuran sisa zat setelah pengeringan pada temperatur 105ºC selama 30 menit atau sampai berat konstan, yang dinyatakan dalam nilai persen. Dengan tujuan memberi batas maksimum tentang besarnya senyawa yang hilang pada proses pengeringan(departemen Kesehatan RI, 2000: 13). Susut pengeringan yang diperoleh dari sampel adalah 8,958%. Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang dinyatakan dalam persen. Parameter kadar air bertujuan untuk memberikan batasan minimal tentang besarnya kandungan air didalam bahan. Berdasarkan hasil penetapan, diketahui bahwa kadar air sampel adalah sebesar 5,200%. Hasil tersebut sesuai dengan pustaka dimana kadar air tidak boleh lebih dari 10% (Departemen Kesehatan RI, 1977: 140). Kadar air adalah salah satu karakteristik yang mempengaruhi penampakan tekstur serta menentukan kesegaran dan daya awet bahan simplisia, karena air merupakan media utama untuk pertumbuhan bakteri sehingga dapat mempercepat pembusukan, mempercepat reaksi hidrolisis, dan menyebabkan mutu simplisia menurun. Hasil parameter susut pengeringan lebih besar dibandingkan dengan hasil penetapan kadar air. Hal tersebut dikarenakan pada saat proses susut pengeringan, senyawa yang hilang tidak hanya air tetapi senyawa-senyawa lain yang mudah menguap juga ikut hilang. Parameter kadar abu bertujuan untuk memberikan gambaran kandungan senyawa anorganik baik internal maupun eksternal yang berasal dari proses awal Volume 2, No.2, Tahun 2016

Karakterisasi Simplisia dan Ekstrak Etil Asetat Daun Paitan 245 sampai terbentuknya ekstrak sehingga dapat menetapkan tingkat pengotor suatu bahan oleh logam dan silikat. Hasil kadar abu total yang diperoleh adalah 11,918%. Sedangkan kadar abu tidak larut asam dilakukan untuk menentukkan abu yang berasal dari pasir atau tanah. Hasil yang diperoleh adalah 0,708%. Parameter organoleptik dilakukan untuk pengenalan awal yang sederhana seobyektif mungkin menggunakan pancaindera (Departemen Kesehatan RI, 2000: 31). Hasil organoleptis pada simplisia meliputi bentuk serbuk kasar, warna hijau dan bau khas. Parameter kadar sari bertujuan untuk memberikan gambaran awal jumlah kandungan senyawa yang terlarut atau tersari dalam pelarut tertentu (Departemen Kesehatan RI, 2000: 31). Parameter kadar sari yang dilakukan meliputi kadar sari larut air dan kadar sari larut etanol. Pada parameter kadar sari larut air, ditambahkan kloroform untuk mencegah pertumbuhan mikroba, dimana air merupakan media utama pertumbuhan mikroba. Berdasarkan hasil yang diperoleh nilai dari kadar sari larut air lebih besar dari kadar sari larut etanol, karena senyawa-senyawa dalam daun paitan lebih banyak bersifat polar (sebesar 20,810%), sehingga dapat tertarik oleh pelarut air. Senyawa yang diduga tertarik dalam kadar sari larut air adalah alkaloid, polifenol, tanin dan saponin. Sedangkan hasil kadar sari larut etanol lebih rendah (sebesar 12,241%). Senyawa yang diduga tertarik dalam pelarut etanol yaitu senyawa flavonoid, monoterpen dan sesquiterpen. Hal tersebut sesuai dengan hasil rendemen yang didapatkan dari ekstrak etil asetat yaitu 4,183%. Untuk mendapatkan ekstrak daun paitan, maka dilakukan proses ektraksi secara bertingkat menggunakan metode panas yaitu refluks dengan pelarut nonpolar (n-heksan), lalu dengan pelarut semipolar (etil asetat), kemudian dengan pelarut polar (metanol). Keuntungan dari metode refluks yaitu proses ekstraksi mudah, lebih cepat dan jumlah senyawa yang tersari lebih banyak. Tujuan dari ekstraksi secara bertingkat menggunakan berbagai pelarut dengan perbedaan sifat kepolaran yaitu agar senyawa yang didapatkan lebih spesifik sesuai dengan sifat dari pelarut yang digunakan. Hasil ekstraksi kemudian dipekatkan menggunakan rotary vacuum evaporator pada suhu ± 40 0 C untuk menguapkan pelarut etil asetat yang terkandung dalam filtrat, lalu dilanjutkan dengan waterbath pada suhu ± 60 0 C sampai didapatkan ekstrak kental. Prinsip dari rotary vacuum evaporator yaitu dengan adanya sistem vakum maka pelarut akan menguap pada suhu dibawah titik didihnya. Pada penggunaan serbuk simplisia sebanyak 525 gram, menghasilkan ekstrak daun paitan sebanyak 21,962 gram dengan rendemen ekstrak sebesar 4,183%. Setelah didapatkan ekstrak pekat, dilakukan penetapan parameter non spesifik yang dilakukan pada ekstrak adalah bobot jenis. Parameter bobot jenis bertujuan untuk memberikan gambaran terhadap bobot kandungan senyawa yang tersari. Hasil bobot jenis ekstrak etil asetat daun paitan yang diperoleh yang diperoleh adalah 0,900. Sedangkan ppenetapan parameter spesifik pada ekstrak meliputi organoleptis ekstrak yaitu, memiliki bentuk cairan kental, warna hijau tua, dan bau khas. D. Kesimpulan Hasil penapisan fitokimia simplisia mengandung senyawa polifenolat, flavonoid, saponin, kuinon, tanin dan triterpenoid/steroid. Sedangkan hasil fitokimia ekstrak mengandung senyawa polifenolat, flavonoid, tanin, kuinon dan triterpenoid/steroid. Hasil penetapan standar mutu simplisia menunjukkan bahwa serbuk simplisia memiliki warna hijau dan berbau khas, penetapan kadar air (5,200%), susut pengeringan (8,958%), kadar abu total (11,918%), kadar abu tidak larut asam Farmasi, Gelombang 2, Tahun Akademik 2015-2016

246 Desirian Dwiputri, et al. (0,708%), kadar sari larut air (20,810%) dan kadar sari larut etanol (12,241%). Hasil penetapan standar mutu ekstrak menunjukkan bahwa ekstrak kental etil asetat memiliki warna hijau, berbau khas dengan bobot jenis (0,900%). Daftar Pustaka Departemen Kesehatan RI. 1977. Materia Medika Indonesia Jilid 1. Jakarta : Diktorat Jendral Pengawasan obat dan makanan. Departemen Kesehatan RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Elufioye, TO, O.I. Alatise, F.A Fakoya, J.M. Agbedahunsi. 2009. Toxicity studies of Tithonia diversifolia A. Gray (Asteraceae) in rats. Journal of Ethnopharmacology 122, 410-415. Elufioye, T.O. and Agbedahunsi, J.M. (2004). Antimalarial activities of Tithonia diversifolia (Asteraceae) and Crossopteryx febrifga (Rubiaceae) on mice in vivo. Journal of Ethnopharmacol, 93: 161-171. Farnsworth, N. R. 1966. Biological and Phytochemical Screening of Plant. Journal of Pharmaceutical Sciences. Hutapea, J.R. 1994. Inventaris Tanaman Obat Indonesia, Jilid III. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Lin, C.C., Lin, M.L., and Lin, J.M. (1993). The anti-inflammatory and liver protective effect of Tithonia diversifolia (Hemsl.) Gray and Dicliptera chinensis Juss. extracts in rats. Phytotherapy Research 7: 305-309 Odeyemi, A. T et al. 2014. Antibacterial activities of crude extracts of tithonia diversifolia against common environmental pathogenic bacteria.vol. 20(4) : 1421-1426. Thongsom, Montakarn., W. Chunglok., R. Kuanchuae., J. Tangpong. 2013. Antioxidant and Hypoglycemic Effect of Tithonia diversifolia Aqueous Leaves Extract in alloxan-induced Diabetic Mice. Advances in Environmental Biology, 7 (9): 2116-2125. Volume 2, No.2, Tahun 2016