- 1 - BUPATI BLITAR PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 61 TAHUN 2016

dokumen-dokumen yang mirip
BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 41 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN KABUPATEN BLITAR

BUPATI BLITAR PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 58 TAHUN 2016

BUPATI BLITAR PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 53 TAHUN 2016

BUPATI BLITAR PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 59 TAHUN 2016

- 1 - BUPATI BLITAR PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 55 TAHUN 2016

BUPATI BLITAR PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 60 TAHUN 2016

- 1 - BUPATI BLITAR PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 51 TAHUN 2016

BUPATI BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN BUPATI BANTUL

BUPATI BLORA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI BLORA NOMOR 62 TAHUN 2016 TENTANG

WALIKOTA TANGERANG SELATAN

BUPATI BANJAR PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN BUPATI BANJAR NOMOR 68 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 40 TAHUN 2011

PERATURAN BUPATI SRAGEN NOMOR 97 TAHUN 2016 TENTANG TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN KABUPATEN SRAGEN

KABUPATEN TULUNGAGUNG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI TULUNGAGUNG NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI BLITAR PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 57 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR

PERATURAN BUPATI TOLITOLI NOMOR 18 TAHUN

BUPATI MOJOKERTO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MOJOKERTO,

PERATURAN BUPATI MUSI RAWAS NOMOR 50 TAHUN2016 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN KABUPATEN MUSI RAWAS

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 50 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI LUMAJANG PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI LUMAJANG PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI LUMAJANG PROVINSI JAWA TIMUR

PEMERINTAH KABUPATEN PONOROGO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PONOROGO NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG

BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 43 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI INSPEKTORAT KABUPATEN BLITAR BUPATI BLITAR,

WALIKOTA DEPOK PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN WALIKOTA DEPOK NOMOR 86 TAHUN 2016

BERITA DAERAH KABUPATEN BANTUL. Bagian Organisasi Sekretariat Daerah Kabupaten Bantul. Pembentukan, Unit Pelaksana Teknis, Metrologi, Dinas

BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 49 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 86 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI BULUKUMBA PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN BUPATI BULUKUMBA NOMOR 89 TAHUN 2016 TENTANG

GUBERNUR JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR,

BUPATI MUSI RAWAS PERATURAN BUPATI MUSI RAWAS NOMOR 56 TAHUN 2008 T E N T A N G

BUPATI LUMAJANG PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI JEPARA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI JEPARA NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG

PERATURAN BUPATI TOLITOLI NOMOR 20 TAHUN

BUPATI PENAJAM PASER UTARA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN BUPATI PENAJAM PASER UTARA NOMOR 40 TAHUN 2014 TENTANG

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 73 TAHUN 2011 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN PROVINSI BALI

BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 42 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PETERNAKAN KABUPATEN BLITAR BUPATI BLITAR,

GAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH,

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 48 TAHUN 2008 TENTANG

BUPATI MANDAILING NATAL

BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 47 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 92 TAHUN 2016 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJAR NOMOR 05 TAHUN 2000 TENTANG PEMBENTUKAN, ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS PENGELOLAAN PASAR

BUPATI BLORA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI BLORA NOMOR 61 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI BLITAR PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 41 TAHUN 2016 TENTANG TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA UNSUR ORGANISASI DINAS KESEHATAN

BUPATI LUMAJANG PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 21 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI KEBUMEN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI KEBUMEN NOMOR 67 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI SINJAI PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN BUPATI SINJAI NOMOR 71 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI LUMAJANG PROVINSI JAWA TIMUR

WALIKOTA PEKANBARU PROVINSI RIAU

BUPATI BANJAR PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN BUPATI BANJAR NOMOR 66 TAHUN 2016 TENTANG

PERATURAN BUPATI MUSI RAWAS NOMOR 48 TAHUN 2016 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN MUSI RAWAS

BUPATI LUMAJANG PROPINSI JAWA TIMUR

BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI BANGKA PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR

BERITA DAERAH KABUPATEN BANTUL

BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 35 TAHUN 2010 TENTANG

WALIKOTA PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI BANJAR PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN BUPATI BANJAR NOMOR 72 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR

GUBERNUR JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR,

WALIKOTA DEPOK PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN WALIKOTA DEPOK NOMOR 83 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI BOYOLALI PROVINSI JAWA TENGAH

BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI NGAWI PERATURAN BUPATI NGAWI NOMOR 41 TAHUN 2008 TENTANG TUGAS, FUNGSI DAN KEWENANGAN DINAS KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLATEN,

BERITA DAERAH KABUPATEN BANTUL

BUPATI DEMAK PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI DEMAK NOMOR 46 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI LUMAJANG PROVINSI JAWA TIMUR

PERATURAN BUPATI SRAGEN NOMOR 104 TAHUN 2016 TENTANG TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERTANIAN KABUPATEN SRAGEN

BUPATI BULUKUMBA PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN BUPATI BULUKUMBA NOMOR 103 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI LUMAJANG PROVINSI JAWA TIMUR

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA YOGYAKARTA,

BUPATI BANJAR PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN BUPATI BANJAR NOMOR 53 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI PACITAN PERATURAN BUPATI PACITAN NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 63 TAHUN 2016

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TASIKMALAYA NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG INSPEKTORAT KABUPATEN TASIKMALAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN ACEH UTARA NOMOR : 14 TAHUN : 2005 SERI : D NOMOR : 14 QANUN KABUPATEN ACEH UTARA NOMOR 14 TAHUN 2005 TENTANG

WALIKOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT

WALIKOTA PASURUAN SALINAN PERATURAN WALIKOTA NOMOR 60 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS KOPERASI, PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN

BUPATI SUMBAWA BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BARITO UTARA,

BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 43 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI BLORA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI BLORA NOMOR 49 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI SANGGAU PROVINSI KALIMANTAN BARAT

Transkripsi:

- 1 - SALINAN BUPATI BLITAR PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 61 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN KABUPATEN BLITAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLITAR, Menimbang : a. bahwa sebagai pelaksanaan ketentuan Pasal 9 Peraturan Daerah Kabupaten Blitar Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Blitar (Lembaran daerah Kabupaten Blitar Tahun 2016 Nomor 10/D), perlu mengatur kedudukan, susunan organisasi, uraian tugas dan fungsi serta tata kerja Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Blitar; b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu diatur dan ditetapkan dengan Peraturan Bupati. Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Kabupaten dalam Lingkungan Provinsi Jawa Timur (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 1950 Nomor 41) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1965 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotapraja Surabaya dan Daerah Tingkat II Surabaya dengan mengubah Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Kabupaten dalam Lingkungan Provinsi Jawa Timur

- 2 - (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2730); 2. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal; 3. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1982 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3214); 4. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851); 5. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 6. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); 7. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400); 8. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 9. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2006 tentang Sistem Resi Gudang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4630); 10. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);

- 3-11. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5494); 12. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679); 13. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3547) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 51, Tambahan Lembaran Republik Indonesia Nomor 5121); 14. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578); 15. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593); 16. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2006 tentang Sistem Resi Gudang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 79, Tambahan Lembaran Negara

- 4 - Republik Indonesia Nomor 4735) ; 17. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 114, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5887) 18. Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern; 19. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor:15/M- DAG/PER/3/2006 tentang Pengawasan dan Pengendalian Impor, Pengedaran dan Penjualan, dan Perizinan Minuman Beralkohol; 20. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor : 36/M- DAG/PER/9/2007 tentang Penerbitan Surat Izin Usaha Perdagangan; 21. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor : 37/M- DAG/PER/9/2007 tentang Penyelenggaraan Pendaftaran Perusahaan; 22. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah; 23. Peraturan Daerah Kabupaten Blitar Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Blitar (Lembaran Daerah Kabupaten Blitar Tahun 2016 Nomor 10/D). MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN BUPATI TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN KABUPATEN BLITAR. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1

- 5 - Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan: 1. Daerah adalah Kabupaten Blitar. 2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Blitar. 3. Bupati adalah Bupati Blitar. 4. Sekretaris Daerah adalah Sekretaris Daerah Kabupaten Blitar. 5. Dinas Perindustrian dan Perdagangan adalah Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Blitar. 6. Kepala Dinas adalah Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Blitar. 7. Unit Pelaksana Teknis Dinas yang selanjutnya disingkat UPTD adalah unsur pelaksana tugas teknis pada Dinas. 8. Jabatan Fungsional adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak seseorang Pegawai Aparatur Sipil Negara dalam rangka menjalankan tugas pokok dan fungsi keahlian dan/atau ketrampilan untuk mencapai tujuan organisasi. BAB II KEDUDUKAN DAN SUSUNAN ORGANISASI Pasal 2 (1) Dinas Perindustrian dan Perdagangan merupakan unsur pelaksana urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah di bidang perdagangan dan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah di bidang perindustrian serta tugas pembantuan. (2) Dinas Perindustrian dan Perdagangan adalah unsur pelaksana otonomi daerah dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah. Pasal 3 (1) Susunan Organisasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan terdiri atas: a. Kepala Dinas b. Sekretariat, membawahi:

- 6-1. Sub Bagian Penyusunan Program; 2. Sub Bagian Keuangan; 3. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian. c. Bidang Perindustrian, membawahi; 1. Seksi Industri Hasil Pertanian; 2. Seksi Industri Hasil Perkebunan dan Kehutanan; 3. Seksi Industri Logam Mesin Elektronika Tekstil dan Aneka (ILMETA). d. Bidang Perdagangan, membawahi; 1. Seksi Bina Usaha dan Distribusi; 2. Seksi Metrologi dan Perlindungan Konsumen; 3. Seksi Pengembangan Perdagangan dan Promosi. e. Bidang Pengelolaan Pasar, membawahi; 1. Seksi Pengembangan dan Pemeliharaan Sarana Prasarana; 2. Seksi Pendapatan; 3. Seksi Pengendalian Sumber Daya Pasar. f. Bidang Perusahaan Daerah dan Pedagang Informal, membawahi: 1. Seksi Perencanaan dan Pengembangan Usaha Badan Usaha Milik Daerah (BUMD); 2. Seksi Pembinaan dan Pengawasan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD); 3. Seksi Pembinaan dan Penataan Pedagang Informal. g. Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD). h. Kelompok Jabatan Fungsional. (2) Sekretariat dipimpin oleh Sekretaris yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas. (3) Masing-masing bidang dipimpin oleh Kepala Bidang yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas. (4) Masing-masing sub Bagian dipimpin oleh Kepala Sub Bagian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Sekretaris.

- 7 - (5) Masing-masing seksi dipimpin oleh Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang. Pasal 4 Bagan Struktur Organisasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini. BAB III URAIAN TUGAS DAN FUNGSI Bagian Kesatu Kepala Dinas Pasal 5 (1) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan mempunyai tugas memimpin dan melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah di bidang perdagangan dan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah di bidang perindustrian serta tugas pembantuan. (2) Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai fungsi : a. memvalidasi bahan kebijakan teknis di bidang Perindustrian dan Perdagangan; b. mengkooordinasi penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang Perindustrian, Perdagangan, Pasar dan pengendalian Badan Usaha Milik Daerah; c. mengkoordinasi pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang Perindustrian, Perdagangan, Pasar dan pengendalian Badan Usaha Milik Daerah; d. menetapkan dan mengkoordinasikan pelaksanaan penelitian di bidang Perindustrian, Perdagangan, Pasar dan pengendalian Badan Usaha Milik Daerah; e. mengkoordinasi pembinaan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD); f. mengkoordinasi pelaksanaan urusan tata usaha dinas; dan g. mengkoordinasikan pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.

- 8 - Bagian Kedua Sekretariat Pasal 6 (1) Sekretaris mempunyai tugas membantu Kepala Dinas dalam menyusun kebijakan, mengkoordinasikan bidang-bidang, membina, melaksanakan dan mengendalikan administrasi umum, keuangan, sarana prasarana, ketenagaan, kerumahtanggaan dan kelembagaan. (2) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1), Sekretaris mempunyai fungsi: a. menverifikasi penyusunan rencana kegiatan dan program kerja Dinas; b. mengkoordinasi pemantauan dan mengevaluasi hasil program kerja Dinas; c. mengkoordinasikan penyusunan laporan hasil pemantauan program kerja Dinas; d. mengkoordinasikan pelaksanaan Bidang-bidang pada dinas; e. memimpin pengelolaan ketatausahaan, rumah tangga, kehumasan, dan keprotokolan; f. mengkoordinasikan pelaksanaan fungsi tata usaha keuangan pada Dinas; g. memimpin pengelolaan administrasi kepegawaian dan kesejahteraan pegawai; h. mengkoordinasikan pengelolaan administrasi keuangan dan gaji pegawai; i. mengkoordinasikan pengelolaan dan pengadministrasian perlengkapan kantor, pemanfaatan dan perawatan inventaris kantor; j. mengkoordinasikan pelaksanaan pelayanan teknis administrasi Kepala Dinas dan semua unit organisasi di lingkungan Dinas; dan k. mengkoordinasikan pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya. Paragraf 1 Sub Bagian Penyusunan Program Pasal 7 (1) Kepala Sub Bagian Penyusunan Program mempunyai tugas membantu Sekretaris dalam menyelenggarakan administrasi

- 9 - penyusunan program dan perencanaan, perencanaan anggaran pembiayaan, monitoring dan evaluasi pelaporan serta penyusunan laporan. Kepala Sub Bagian Penyusunan Program mempunyai fungsi : a. menghimpun dan mengolah data dalam rangka menyusun rencana program dinas, monitoring dan evaluasi pelaporan serta penyusunan laporan; b. menyusun rencana bahan dan menganalisa data guna penyusunan rencana kegiatan dan program kerja dinas; c. menyusun pelaksanaan pemantauan dan evaluasi hasil program kerja dinas; d. menganalisa hasil pelaksanaan program dinas; e. menyusun dan menentukan laporan hasil program kerja dinas; dan f. mengelola tugas-tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris sesuai dengan bidang tugasnya. Paragraf 2 Sub Bagian Keuangan Pasal 8 (1) Kepala Sub Bagian Keuangan mempunyai tugas membantu Sekretaris dalam menyelenggarakan administrasi keuangan, pengelolaan dan menghimpun penyusunan laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan pengelolaan keuangan. Kepala Sub Bagian Keuangan mempunyai fungsi : a. menyusun rencana anggaran pembiayaan, pengelolan dan mengkoordinir penyusunan laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan pengelolaan keuangan dinas; b. menghimpun dan menyiapkan bahan dalam rangka penyusunan rencana anggaran pendapatan dan belanja dinas; c. menghimpun dan mengkaji ulang bahan dalam rangka menyusun pedoman dan petunjuk teknis administrasi keuangan dinas; d. mengelola pelaksanaan fungsi tata usaha keuangan pada Dinas;

- 10 - e. menyusun rencana dan menentukan penelitian dan pengujian surat Permintaan Pembayaran dan penerbitan Surat Perintah Membayar Uang atas Keputusan Otorisasi; f. merencanakan pengelolaan dan pembayaran gaji pegawai; g. menyusun dan membuat konsep laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan pengelolaan keuangan dinas; h. menyelengarakan urusan administrasi kepegawaian lingkungan dinas; dan i. mengelola tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris, sesuai dengan bidang tugasnya. Paragraf 3 Sub Bagian Umum dan Kepegawaian Pasal 9 (1) Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian mempunyai tugas membantu sekretaris dalam penyelenggaraan administrasi ketatausahaan, kearsipan, kepegawaian, pembinaan hukum, organisasi dan tata laksana. Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian mempunyai fungsi : a. melakukan urusan surat menyurat, perlengkapan dan rumah tangga, memelihara barang-barang inventaris, serta laporan berkala; b. menyelenggarakan urusan administrasi kepegawaian lingkungan dinas; c. menyelenggarakan urusan rumah tangga, rapat-rapat, tamu-tamu dinas dan pelaksanaan kehumasan; d. menyelenggarakan urusan ketatausahaan, surat menyurat, dan kearsipan; e. menyusun rencana kebutuhan barang, termasuk inventarisasi barang, pengadaan, perawatan, dan pemeliharaan barang perlengkapan dinas; f. merencanakan penertiban, pengamanan, dan pemeliharaan kebersihan kantor dan sekitarnya; g. menyusun laporan tahunan tentang barang inventaris kantor; dan h. mengelola tugas-tugas lain yang diberikan Sekretaris, sesuai dengan bidang tugasnya.

- 11 - Bagian Ketiga Bidang Perindustrian Pasal 10 (1) Kepala Bidang Perindustrian mempunyai tugas membantu Kepala Dinas dalam menyelenggarakan sebagian urusan Pemerintahan di bidang Perindustrian, merencanakan dan menyusun program kegiatan, mengkoordinasikan pelaksanaan program, penyiapan bimbingan teknis terhadap pelaksanaan kebijakan pembinaan dan pengembangan sarana dan prasarana, usaha, produksi, peningkatan kerjasama, monitoring dan evaluasi serta pelaporan pelaksanakan kebijakan di bidang industri. Kepala Bidang Perindustrian mempunyai fungsi : a. memverifikasi bahan kebijakan teknis di bidang perindustrian; b. mengkoordinasi penyusunan dan pelaksanaan rencana strategis dan rencana kerja tahunan di bidang perindustrian; c. mengkoordinasikan pelaksanaan pembinaan, pengembangan dan pengawasan kelembagaan di bidang industri; d. mengkoordinasikan pemberian pertimbangan teknis terkait perizinan di bidang perindustrian; e. mengkoordinasikan peningkatan, pengembangan, dan pemberdayaan investasi dan industri; f. mengkoordinasikan pelaksanaan monitoring dan evaluasi terhadap perkembangan perindustrian; g. mengkoordinasikan peningkatan kerja antar sektor industri dengan sektor ekonomi lainnya; dan h. mengkoordinasi pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas. Paragraf 1 Seksi Industri Hasil Pertanian Pasal 11 (1) Kepala Seksi Industri Hasil Pertanian mempunyai tugas menyusun rencana, mempersiapkan perumusan dan pelaksanaan kebijakan

- 12 - operasional, bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang Industri Hasil Pertanian. Kepala Seksi Industri Hasil Pertanian mempunyai fungsi : a. menyusun program kerja dan melaksanakan rencana strategis dan rencana kerja tahunan di bidang Industri Hasil Pertanian; b. membuat konsep dan menentukan pembinaan, pengembangan, fasilitas terkait pemanfaatan sarana dan prasarana, perijinan, pengawasan dan pengendalian kelembagaan, peluang investasi, monitoring evaluasi dan pelaporan pelaksanaan kegiatan di bidang industri hasil pertanian; c. menghimpun peraturan perundang-undangan guna menyusun pedoman dan petunjuk teknis pembinaan pengembangan dan pengendalian di bidang perindustrian hasil pertanian; d. melaksanakan pengumpulan, pengolahan data, dan penyebaran informasi industri hasil pertanian; e. menyusun program kegiatan dalam rangka pemberdayaan pembinaan dan pengembangan industri hasil pertanian; f. menyusun rencana dengan unit atau instansi terkait tentang pembinaan dan pengembangan industri hasil pertanian; g. memberikan bimbingan dan penyuluhan bagi pelaku usaha industri hasil pertanian tentang ketentuan di bidang perindustrian; h. melaksanakan program pemberdayaan, pembinaan, dan pengembangan industri berbasis potensi lokal; i. menyiapkan usulan usulan pembangunan terkait pemberian fasilitasi dan bantuan sarana dan prasarana industri hasil pertanian; j. meningkatkan kemitraan antara industri kecil, menengah dan besar; k. melaksanakan kegiatan promosi dan informasi tentang peluang investasi di bidang industri hasil pertanian melaksanakan monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan kegiatan di bidang industri hasil pertanian; dan l. melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Perindustrian. Paragraf 2 Seksi Industri Hasil Perkebunan dan Kehutanan

- 13 - Pasal 12 (1) Kepala Seksi Industri Hasil Perkebunan dan Kehutanan, mempunyai tugas menyusun rencana, mempersiapkan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional, bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang Industri Hasil Perkebunan dan Kehutanan. Kepala Seksi Industri Hasil Perkebunan dan Kehutanan mempunyai fungsi : a. menyusun program kerja dan melaksanakan rencana strategis dan rencana kerja tahunan di bidang Industri Hasil Perkebunan dan Kehutanan; b. melaksanakan pembinaan, pengembangan, fasilitas terkait pemanfaatan sarana dan prasarana, perijinan, pengawasan dan pengendalian kelembagaan, peluang investasi, monitoring evaluasi dan pelaporan pelaksanaan kegiatan di bidang industri Hasil Perkebunan dan Kehutanan; c. menghimpun peraturan perundang-undangan guna menyusun pedoman dan petunjuk teknis pembinaan pengembangan dan pengendalian di bidang industri Hasil Perkebunan dan Kehutanan; d. melaksanakan pengumpulan, pengolahan data, dan penyebaran informasi industri Hasil Perkebunan dan Kehutanan; e. menyusun program kegiatan dalam rangka pemberdayaan pembinaan dan pengembangan industri Hasil Perkebunan dan Kehutanan; f. melaksanakan koordinasi dengan unit atau instansi terkait tentang pembinaan dan pengembangan industri Hasil Perkebunan dan Kehutanan; g. memberikan bimbingan dan penyuluhan bagi pelaku usaha industri Hasil Perkebunan dan Kehutanan tentang ketentuan di bidang perindustrian; h. melaksanakan program pemberdayaan, pembinaan dan pengembangan industri berbasis potensi lokal; i. menyiapkan usulan usulan pembangunan terkait pemberian fasilitasi dan bantuan sarana dan prasarana industri Hasil Perkebunan dan Kehutanan;

- 14 - j. meningkatkan kemitraan antara industri kecil, menengah dan besar; k. melaksanakan kegiatan promosi dan informasi tentang peluang investasi di bidang industri Hasil Perkebunan dan Kehutanan; l. melaksanakan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan kegiatan di bidang industri Hasil Perkebunan dan Kehutanan; dan m. melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Perindustrian. Paragraf 3 Seksi Industri Logam Mesin Elektronika Tekstil dan Aneka (ILMETA) Pasal 13 (1) Kepala Seksi Industri Logam Mesin Elektronika Tekstil dan Aneka (ILMETA) mempunyai tugas menyusun rencana, mempersiapkan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional, bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan dibidang Industri Logam Mesin Elektronika Tekstil dan Aneka (ILMETA). Kepala Seksi Industri Logam Mesin Elektronika Tekstil dan Aneka (ILMETA) mempunyai fungsi : a. menyusun program kerja dan melaksanakan rencana strategis dan rencana kerja tahunan di bidang ILMETA; b. melaksanakan pembinaan, pengembangan, fasilitas terkait pemanfaatan sarana dan prasarana, perijinan, pengawasan dan pengendalian kelembagaan, peluang investasi, monitoring evaluasi dan pelaporan pelaksanaan kegiatan di bidang ILMETA; c. menghimpun peraturan perundang-undangan guna menyusun pedoman dan petunjuk teknis pembinaan pengembangan dan pengendalian di bidang ILMETA; d. melaksanakan pengumpulan, pengolahan data, dan penyebaran informasi ILMETA;

- 15 - e. menyusun program kegiatan dalam rangka pemberdayaan pembinaan dan pengembangan ILMETA; f. melaksanakan koordinasi dengan unit atau instansi terkait tentang pembinaan dan pengembangan ILMETA; g. memberikan bimbingan dan penyuluhan bagi pelaku usaha ILMETA tentang ketentuan di bidang perindustrian; h. melaksanakan program pemberdayaan, pembinaan dan pengembangan industri berbasis potensi lokal; i. menyiapkan usulan usulan pembangunan terkait pemberian fasilitasi dan bantuan sarana dan prasarana ILMETA; j. meningkatkan kemitraan antara industri kecil, menengah, dan besar; k. melaksanakan kegiatan promosi dan informasi tentang peluang investasi di bidang ILMETA melaksanakan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan kegiatan di bidang ILMETA; dan l. melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Perindustrian. Bagian Keempat Bidang Perdagangan Pasal 14 (1) Kepala Bidang Perdagangan mempunyai tugas membantu Kepala Dinas dalam menyelenggarakan sebagian urusan pemerintahan di bidang Perdagangan yang meliputi bina usaha dan distribusi, metrologi dan perlindungan konsumen, pengembangan perdagangan dan promosi. Kepala Bidang Perdagangan mempunyai fungsi : a. memverifikasi bahan perumusan kebijakan di bidang perdagangan; b. mengkoordinasi penyusunan dan pelaksanaan rencana strategis dan rencana kerja tahunan di bidang perdagangan; c. memimpin pelaksanaan koordinasi dan kerja sama dengan lembaga dan atau asosiasi dunia perdagangan;

- 16 - d. mengkoordinasi pelaksanaan pembinaan, pengembangan kelembagaan di bidang perdagangan; e. mengkoordinasi pemberian pertimbangan teknis terkait perijinan di bidang perdagangan; f. memimpin pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan fasilitasi kegiatan distribusi bahan kebutuhan pokok dan barang penting lainnya; g. mengkoordinasi penyelenggaraan kegiatan promosi di bidang perdagangan; h. mengkoordinasi pelaksanaan kegiatan kemeteorologian dan pengawasan penerapan standar di bidang perdagangan serta perlindungan konsumen; i. mengkoordinasi pengumpulan, analisis denah desiminasi data serta monitoring dan evaluasi kegiatan pasar dalam rangka penyediaan informasi pasar dan stabilitas harga; dan j. mengkoordinasi melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan bidang tugasnya. Paragraf 1 Seksi Bina Usaha dan Distribusi Pasal 15 (1) Kepala Seksi Bina Usaha dan Distribusi mempunyai tugas menyusun rencana, mempersiapkan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional, bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan dibidang Bina Usaha dan Distribusi. Kepala Seksi Bina Usaha dan Distribusi mempunyai fungsi : a. merumuskan dan melaksanakan kebijakan teknis di bidang bina usaha dan distribusi perdagangan; b. mengumpulkan bahan dan data dalam rangka penyusunan pedoman dan petunjuk teknis di bidang bina usaha dan distribusi perdagangan; c. melaksanakan pembinaan dan pengembangan kelembagaan di bidang perdagangan;

- 17 - d. melaksanakan pembinaan dan pengembangan kelembagaan di bidang perdagangan sektor informal; e. melaksanakan monitoring dan pengawasan distribusi bahan pokok dan barang penting lainnya; f. memberikan pertimbangan teknis perijinan di bidang perdagangan; g. meningkatkan kemitraan antara pedagang kecil, menengah dan besar. h. melaksanakan monitoring dan pendataan pelaku usaha perdagangan; dan i. melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Perdagangan sesuai dengan bidang tugasnya. Paragraf 2 Seksi Metrologi dan Perlindungan Konsumen Pasal 16 (1) Kepala Seksi Metrologi dan Perlindungan Konsumen mempunyai tugas menyusun rencana, mempersiapkan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional, bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan dibidang Metrologi dan Perlindungan Konsumen. Kepala Seksi Metrologi dan Perlindungan Konsumen mempunyai fungsi : a. mengumpulkan data dan analisa data guna penyusunan rencana kegiatan dan program kegiatan di bidang metrologi dan perlindungan konsumen; b. merumuskan dan melaksanakan kebijakan teknis di bidang metrologi dan perlindungan konsumen; c. melaksanakan pembinaan, pengembangan, dan pengawasan di bidang Kemetrologian dan perlindungan konsumen; d. melaksanakan Kemetrologian dan pengawasan penerapan standar perdagangan dan perlindungan konsumen;

- 18 - e. menyusun rencana dengan lembaga konsumen dan instansi terkait lainya dalam rangka perlindungan konsumen; f. membuat konsep dan mengembangkan monitoring, evaluasi dan pengendalian harga bahan pokok dan bahan penting lainnya; dan g. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Perdagangan sesuai dengan bidang tugasnya. Paragraf 3 Seksi Pengembangan Pedagangan dan Promosi Pasal 17 (1) Kepala Seksi Pengembangan Pedagangan dan Promosi mempunyai tugas menyusun rencana, mempersiapkan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional, bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang Pengembangan Pedagangan dan Promosi. Kepala Seksi Pengembangan Perdagangan dan Promosi mempunyai fungsi : a. mengumpulkan bahan dan analisa data guna penyusunan rencana kegiatan dan program kegiatan di bidang perdagangan dan promosi; b. menyelenggarakan kegiatan di bidang perdagangan dan promosi; c. melaksanakan fasilitasi pemberian bimbingan teknis di bidang perdagangan; d. melaksanakan koordinasi dan kerja sama dengan asosiasi bidang perdagangan; e. melaksanakan pengkajian, identifikasi potensi yang ada di daerah guna penyusunan profil investasi di daerah; f. menghimpun bahan dan pengelolaan data untuk penyusunan profil komoditi potensial; g. melaksanakan pendataan, monitoring, dan evaluasi komoditi potensial ekspor; dan h. melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Perdagangan sesuai dengan bidang tugasnya.

- 19 - Bagian Kelima Bidang Pengelolaan Pasar Pasar 18 (1) Kepala Bidang Pengelolaan Pasar mempunyai tugas membantu Kepala Dinas dalam menyelenggarakan sebagian urusan pemerintahan di bidang pengelolaan, penataan, pengawasan dan pengendalian pasar dan pedagang lainnya dalam daerah Kabupaten. Kepala Bidang Pengelolaan Pasar mempunyai fungsi : a. memverifikasi bahan perumusan dan kebijaksanaan teknis serta pemberdayaan pengembangan pengelolaan pasar dan pedagang lainnya; b. mengkoordinasi pelayanan penetapan perijinan, serta penyusunan dan pembuatan Daftar Induk Wajib Retribusi Pasar; c. mengkoordinasi pelaksanaan pemberdayaan, pengembangan, penataan, pengawasan dan pengendalian bidang pasar dan pedagang lainnya; d. mengkoordinasi pencatatan pembayaran dan pelaporan dari Wajib Retribusi Pasar; e. memverifikasi bahan perencanaan dan pelaporan pengembangan pasar; f. mengkoordinasi pengadaan, pengelolaan, dan pemeliharaan sarana dan prasarana pasar; g. mengkoordinasi pelaksanaan penagihan retribusi pasar; h. mengkoordinasi pelaksanaan hubungan kerjasama dalam pembinaan pengembangan pasar dan pedagang lainnya; i. memverifikasi rencana kegiatan pembinaan terhadap pemungutan, pemeliharaan ketertiban dan kebersihan pasar; dan j. mengkoordinasi pelaksanaan tugas tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan bidang tugasnya.

- 20 - Paragraf 1 Seksi Pengembangan dan Pemeliharaan Sarana Prasarana Pasal 19 (1) Kepala Seksi Pengembangan dan Pemeliharaan Sarana Prasarana mempunyai tugas menyusun rencana, mempersiapkan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional, bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang Pengembangan dan Pemeliharaan Sarana Prasarana. Kepala Seksi Pengembangan dan Pemeliharaan Sarana Prasarana mempunyai fungsi: a. menyusun dan menentukan bahan kebijakan pembangunan sarana prasarana pasar; b. membuat konsep dan menentukan rencana kegiatan pengadaan sarana, perbaikan, perawatan dan pemeliharaan sarana prasarana pasar; c. merancang pengembangan, peningkatan, dan pemeliharaan pembangunan pasar; d. membuat konsep dan menentukan pembinaan kebersihan, ketertiban dan pengamanan pasar dan pedagang jasa pasar lainnya; e. merancang dan mengembangkan budaya tertib kepada para pengguna jasa pasar; f. melaksanakan pengembangan dan pengawasan sarana dan prasarana pasar; dan g. melaksanakan tugas tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Pengelolaan Pasar sesuai dengan bidang tugasnya. Paragraf 2 Seksi Pendapatan Pasal 20 (1) Kepala Seksi Pendapatan mempunyai tugas menyusun rencana, mempersiapkan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional,

- 21 - bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang pendapatan. Kepala Seksi Pendapatan mempunyai fungsi : a. menyusun dan menentukan bahan bahan penyusunan kebijakan untuk meningkatkan Pendapatan Anggaran Daerah (PAD); b. membuat konsep dan menentukan perijinan penetapan Wajib Retribusi pasar; c. menghimpun, mencatat data obyek dan subyek retribusi pasar; d. membukukan, menagih dan melaporkan administrasi pasar; e. menyusun laporan penerimaan dan pengeluaran retribusi karcis, kios, los, pelataran dan fasilitas lainnya; f. membuat konsep dan menentukan monitoring dan evaluasi terhadap retribusi pasar; dan g. melaksanakan tugas tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Pengelolaan Pasar sesuai dengan bidang tugasnya. Paragraf 3 Seksi Pengendalian Sumber Daya Pasar Pasal 21 (1) Seksi Pengendalian Sumber Daya Pasar mempunyai tugas menyusun rencana, mempersiapkan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional, bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang Pengendalian Sumber Daya Pasar. Kepala Seksi Pengendalian Sumber Daya Pasar mempunyai fungsi : a. menyusun dan menentukan bahan data guna penyusunan kebijakan sarana prasarana pasar; b. merencanakan dan menentukan pembinaan manajemen pengelolaan pasar dan pedagang; c. mengelola penataan, pengaturan dan penertiban prasarana pasar;

- 22 - d. melaksanakan sosialisasi budaya tertib kepada pengguna jasa pasar; e. menyusun dan menentukan potensi baru di lingkungan pasar untuk meningkatkan pendapatan; f. mengelola pengendalian dan pengawasan distribusi karcis di pasar; g. mengatur dan menertibkan para pedagang pada zonase yang telah ditetapkan di pasar; h. merencanakan dan menentukan pembinaan kebersihan, ketertiban dan pengamanan pasar dan pedagang pasar; dan i. melaksanakan tugas tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Pengelolaan Pasar sesuai dengan bidang tugasnya. Bagian Keenam Bidang Perusahaan Daerah dan Pedagang Informal Pasal 22 (1) Kepala Bidang Perusahaan Daerah dan Pedagang Informal mempunyai tugas membantu Kepala Dinas dalam menyelenggarakan sebagian urusan pemerintahan di bidang perencanaan dan pengembangan Usaha Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), pembinaan dan pengawasan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan pembinaan dan penataan Pedagang Informal. Kepala Bidang Perusahaan Daerah dan Pedagang Informal mempunyai fungsi : a. memverifikasi bahan Kebijakan pengembangan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD); b. mengkoordinasikan dengan instansi terkait dalam rangka perkembangan dan pengawasan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD); c. memverifikasi bahan kebijakan pelaksanaan pembinaan, monitoring dan evaluasi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD); d. memverifikasi bahan pelaksanaan pembinaan sumberdaya dan Pengawasan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD); e. memverifikasi bahan kebijakan pembinaan dan penataan Pedagang Informal;

- 23 - f. mengkoordinasi pelaksanaan fasilitasi terhadap Pedagang Informal; dan g. mengkoordinasikan melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan sesuai dengan bidang tugasnya. Paragraf 1 Seksi Perencanaan dan Pengembangan Usaha Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pasal 23 (1) Kepala Seksi Perencanaan dan Pengembangan Usaha Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) mempunyai tugas menyusun rencana, mempersiapkan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional, bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang Perencanaan dan Pengembangan Usaha Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Kepala Seksi Perencanaan dan Pengembangan Usaha Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) mempunyai fungsi : a. menyusun bahan kebijakan perencanaan dan pengembangan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD); b. menyusun bahan serta melaksanakan pendampingan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD); c. menyusun perencanaan dan penyiapan bahan dalam rangka Penyertaan Modal Badan Usaha Milik Daerah (BUMD); d. melaksanakan kerjasama dengan intansi terkait dalam rangka pengembangan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD); e. menyusun bahan perencanaan dan melaksanakan kajian pengembangan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD); f. melaksanakan fasilitasi dalam rangka usaha pengembangan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD); dan g. melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Perusahaan Daerah dan Pedagang Informal sesuai dengan bidang tugasnya.

- 24 - Paragraf 2 Seksi Pembinaan dan Pengawasan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pasal 24 (1) Kepala Seksi Pembinaan dan Pengawasan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) mempunyai tugas menyusun rencana, mempersiapkan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional, bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang Pembinaan dan Pengawasan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Kepala Seksi Pembinaan dan Pengawasan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) mempunyai fungsi : a. menyusun bahan kebijakan pembinaan sumber daya dan Pengawasan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD); b. melaksanakan kegiatan pengkoordinasian unit terkait dalam rangka pembinaan dan pengawasan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD); c. menyusun bahan perencanaan dan pelaksanaan monitoring dan evaluasi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD); d. menyiapkan bahan penyusunan kebijakan pemilihan dan rekruitmen organ Badan Usaha Milik Daerah (BUMD); e. melaksanakan fasilitasi guna peningkatan kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD); f. mengumpulkan dan menyusun bahan guna pelaporan terhadap laporan keuangan dan manajemen Badan Usaha Milik Daerah (BUMD); dan g. melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Perusahaan Daerah dan Pedagang Informal sesuai dengan bidang tugasnya. Paragraf 3 Seksi Pembinaan dan Penataan Pedagang Informal Pasal 25 (1) Kepala Seksi Pembinaan dan Penataan Pedagang Informal mempunyai tugas menyusun rencana, mempersiapkan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional, bimbingan teknis dan supervisi,

- 25 - serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang Pembinaan dan Penataan Pedagang Informal. Kepala Seksi Pembinaan dan Pengawasan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) mempunyai fungsi : a. menyusun bahan kebijakan Pembinaan, Penataan dan fasilitasi terhadap Pedagang Informal; b. melakukan inventarisasi dan rekapitulasi data potensi Pedagang Informal; c. melaksanakan pembinaan terhadap sumberdaya Pedagang Informal; d. melakukan koordinasi dan konsultasi dengan instansi terkait guna pembinaan dan penataan Pedagang Informal; e. memberikan fasilitasi terhadap Pedagang Informal; f. menyusun bahan regulasi guna pembinaan, penataan dan fasilitasi terhadap Pedagang Informal; g. memberikan rekomendasi ijin penempatan terhadap Pedagang Informal di Kabupaten Blitar; dan h. melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Perusahaan Daerah dan Pedagang Informal sesuai dengan bidang tugasnya. BAB IV UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS Pasal 26 (1) Unit Pelaksana Teknis Dinas adalah unsur pelaksana teknis operasional dan penunjang Dinas lapangan. (2) Unit Pelaksana Teknis Dinas dipimpin oleh seorang Kepala yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas dan secara operasional dikoordinasikan dengan Camat. Pasal 27

- 26 - Jumlah, Nomenklatur, Susunan Organisasi dan Uraian Tugas dan Fungsi Unit Pelaksana Teknis Dinas ditetapkan dalam Peraturan Bupati tersendiri. BAB V KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL Pasal 28 (1) Kelompok Jabatan Fungsional terdiri atas sejumlah tenaga dalam jenjang jabatan fungsional yang terbagi dalam berbagai kelompok sesuai dengan bidang keahliannya. (2) Setiap kelompok dipimpin oleh seorang tenaga fungsional senior yang diangkat oleh Bupati. (3) Jenis jenjang dan jumlah jabatan fungsional ditetapkan oleh Bupati berdasarkan kebutuhan dan beban kerja, sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. BAB VI TATA KERJA Pasal 29 (1) Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, Kepala Dinas, Sekretaris, Kepala Bidang, Kepala Sub Bagian, Kepala Seksi dan Kelompok Jabatan Fungsional wajib menerapkan prinsip koordinasi, integrasi dan sinkronisasi baik dalam lingkungan masing-masing maupun antar satuan organisasi di lingkungan Pemerintah Daerah serta Instansi lain di luar Pemerintah Daerah sesuai dengan tugas pokoknya mesing-masing. (2) Setiap pemimpin satuan organisasi wajib mengawasi bawahannya masing-masing dan bila terjadi penyimpangan agar mengambil langkah-langkah yang diperlukan. (3) Setiap pemimpin satuan organisasi bertanggung jawab memimpin dan mengkoordinasi bawahan masing-masing dan memberikan bimbingan serta petunjuk bagi pelaksanaan tugas bawahannya. (4) Setiap pemimpin sebuah organisasi wajib mengikuti dan mematuhi petunjuk dan bertanggung jawab pada atasannya masing-masing serta menyampaikan laporan berkala tepat waktu. (5) Setiap laporan yang diterima oleh pimpinan satuan organisasi dan bawahannya wajib diolah dan dipergunakan sebagai bahan untuk

- 27 - penyusunan laporan lebih lanjut dan untuk memberikan petunjuk kepada bawahannya. (6) Dalam menyampaikan laporan masing-masing kepada atasan, tembusan laporan wajib disampaikan pula kepada satuan organisasi lain yang secara fungsional mempunyai hubungan kerja. BAB VII PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN DALAM JABATAN Pasal 30 (1) Kepala Dinas diangkat dan diberhentikan oleh Bupati dari Pegawai Aparatur Sipil Negara yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) Sekretaris, Kepala Bidang, Kepala Sub Bagian, dan Kepala Seksi diangkat dan diberhentikan oleh Bupati dari Pegawai Aparatur Sipil Negara yang memenuhi syarat atas usul Kepala Dinas melalui Sekretaris Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 31 Pada saat Peraturan Bupati ini mulai berlaku, UPTD dengan Kedudukan, Susunan Organisasi, Uraian Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja yang ditetapkan sebelum Peraturan Bupati ini diundangkan, tetap melaksanakan tugasnya sampai dengan Peraturan Bupati tentang UPTD yang baru ditetapkan. BAB IX KETENTUAN PENUTUP PASAL 32

- 28 - Dengan berlakunya Peraturan Bupati ini, maka Peraturan Bupati Blitar Nomor 58 Tahun 2008 tentang Penjabaran Tugas dan Fungsi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Blitar dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 33 Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Blitar. Ditetapkan di Blitar pada tanggal 8 Nopember 2016 BUPATI BLITAR, Ttd. RIJANTO Diundangkan di Blitar pada tanggal 8 Nopember 2016 SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN BLITAR, Ttd. PALAL ALI SANTOSO BERITA DAERAH KABUPATEN BLITAR TAHUN 2016 NOMOR 61/D Salinan sesuai dengan aslinya An. SEKRETARIS DAERAH ASISTEN PEMERINTAHAN DAN KESRA U.b. KEPALA BAGIAN HUKUM HARIS SUSIANTO, SH., M.Si Pembina NIP. 19670531 199003 1 002

- 29 -