BAB III METODOLOGI A. POLA PIKIR STUDI.

dokumen-dokumen yang mirip
Laporan Akhir Studi Penyusunan Kebutuhan Norma, Standar, Pedoman, dan Kriteria (NSPK)di Bidang Pelayaran KATA PENGANTAR

2016, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 64, Tambahan

[ U.30 ] PENELITIAN FAKTOR DOMINAN YANG MEMPENGARUHI TERHAMBATNYA ARUS DISTRIBUSI BARANG PADA TERMINAL PETI KEMAS GEDEBAGE BANDUNG

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

2017, No Belawan, Pelabuhan Utama Tanjung Priok, Pelabuhan Utama Tanjung Perak, dan Pelabuhan Utama Makassar; c. bahwa berdasarkan pertimbangan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. RANCANGAN PENELITIAN (RESEARCH DESIGN).

PERAN PELABUHAN CIREBON DALAM MENDUKUNG PERTUMBUHAN INDUSTRI DI KABUPATEN CIREBON (Studi Kasus: Industri Meubel Rotan di Kabupaten Cirebon)

Bab I. Pendahuluan. Globalisasi mencerminkan hubungan tanpa batas antara negara satu

KATA PENGANTAR. Jakarta, Nopember 2013 PT. Qorina Konsultan Indonesia. Tim Pelaksana

BAB III PENDEKATAN DAN METODOLOGI

TERMINAL PENUNPANG KAPAL LAUT TANJUNG EMAS SEMARANG Dengan Pendekatan Desain Arsitektur Neo Vernakular

2017, No Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 151, Tambahan L

STUDI PENGURANGAN DWELLING TIME PETIKEMAS IMPOR DENGAN PENDEKATAN SIMULASI (STUDI KASUS : TERMINAL PETIKEMAS SURABAYA)

2015, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 64, Tambahan L

7 STRATEGI PENGEMBANGAN PELABUHAN TANJUNG PRIOK SEBAGAI INTERNATIONAL HUB PORT. Pendahuluan

BELAWAN INTERNATIONAL PORT PASSANGER TERMINAL 2012 BAB I. PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Belawan International Container Terminal (BICT) sebagai unit usaha PT.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Yukki Nugrahawan Hanafi Ketua Umum DPP ALFI/ILFA

2016, No kepelabuhanan, perlu dilakukan penyempurnaan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 51 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pelabuhan L

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN PENDAHULUAN KAJIAN PENDANAAN BIDANG KERJASAMA PEMBANGUNAN INTERNASIONAL

Bab I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan dimana masing-masing pulau

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Kota Tanjung Balai adalah salah satu kota di provinsi Sumatera Utara.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB II METODELOGI PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Identifikasi persepsi..., Ayiful Ramadhan Asit, FE UI, Universitas Indonesia

RANCANGAN KRITERIA KLASIFIKASI PELAYANAN PELABUHAN

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah

BAB I PENDAHULUAN. mereka. Adanya perbedaan kekayaan alam serta sumber daya manusia

Badan Litbang Perhubungan telah menyusun kegiatan penelitian yang dibiayai dari anggaran pembangunan tahun 2010 sebagai berikut.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara maritim dengan luas wilayah laut terbesar di

Pesawat Polonia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. daratan dan perairan disekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

PEMBERDAYAAN JASA MARITIM BERBASIS PERKAPALAN DI SELAT MALAKA

BAB I PENDAHULUAN. (Asia dan Australia), jelas ini memberikan keuntungan bagi negara indonesia

PENELITIAN PEMILIHAN MODA ANGKUTAN BATUBARA ANTARA ANGKUTAN SUNGAI DAN TRUK DI PULAU KALIMANTAN

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan suatu negara kepulauan yang terbesar di dunia,

BAB I PENDAHULUAN. merupakan kekayaan yang luar biasa bagi bangsa Indonesia. 1

BAB I PENDAHULUAN. Penyusunan Tataran Transportasi Lokal Kota Tual 1.1. LATAR BELAKANG

REDESAIN PELABUHAN ULEE LHEUE SEBAGAI PELABUHAN FERRY INTERNASIONAL DI BANDA ACEH

BAB I PENDAHULUAN. besar dengan biaya rendah merupakan keungggulannya. selayaknya memiliki keunggulan di sektor maritim. Salah satu bagian penting

SISTEM TRANSPORTASI DALAM MENDUKUNG EFISIENSI DISTRIBUSI

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) PERENCANAAN PEMBUATAN MAKET PELABUHAN KARGO

PROFILE PELABUHAN PARIWISATA TANAH AMPO

2015, No Ketentuan Impor Produk Tertentu, dan mengatur kembali ketentuan impor produk tertentu; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana

BAB I PENDAHULUAN. serta sebagai tempat perpindahan intra-dan antarmoda transportasi.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Laju pertumbuhan ekonomi di beberapa propinsi di Indonesia menunjukkan

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Paket Kebijakan Ekonomi (Tahap XV)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I.1 Latar Belakang Perusahaan petikemas di dalam menjalankan usahanya mempunyai tujuan untuk mengeliminasi inefisiensi atau pemborosan.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB VIII KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. A. Kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka dari analisa tersebut

BAB III METODE PERANCANGAN. teori-teori dan data-data yang di dapat dari studi literatur maupun studi lapangan, sehingga dari

2 Tahun 2009 Nomor 151, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5070); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2010 tentang Kenavigasian (Lemb

STATUS REKOMENDASI KESELAMATAN SUB KOMITE INVESTIGASI KECELAKAAN PELAYARAN KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI. Penerima Receiver.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia merupakan negara kepulauan/maritim yang dua pertiga

BAB I PENDAHULUAN. Terminal Peti Kemas (TPK) Koja merupakan salah satu pelabuhan yang memberikan

MODEL PENENTUAN UKURAN KAPAL OPTIMUM KORIDOR PENDULUM NUSANTARA

BAB I PENDAHULUAN. terletak pada lokasi yang strategis karena berada di persilangan rute perdagangan

7. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

1 Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang. Bab

BAB I. Pendahuluan. Indonesia terletak di wilayah Jawa Tengah, yaitu Pelabuhan Tanjung Emas

BAB III METODE PENELITIAN. kepustakaan atau data sekunder, dengan mengkaji mengenai asas-asas, norma,

I. PENDAHULUAN. Peranan jasa angkutan dalam menunjang pembangunan. ekonomi memiliki fungsi yang vital. Pengembangan ekonomi suatu

BAB I PENDAHULUAN. tidak boleh menyimpang dari konfigurasi umum kepulauan. 1 Pengecualian

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan akan jasa angkutan laut semakin lama semakin meningkat, baik

User Manual - SIMOP KAPAL AGEN PELAYARAN. Page 23 of 104


Tahapan Persiapan Penyusunan RP4D Kabupaten merupakan kegiatan yang bersifat administratif dengan tujuan mempersiapkan pihak penyelenggaran kegiatan

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG ANGKUTAN DI PERAIRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 504/PMK.04/2009 TENTANG

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Bahan Kuliah Materi Penelitian Kualitatif 1 Jurusan Antropologi FISIP UNAND

2015, No Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan Lemb

DAFTAR ISI... HALAMAN JUDUL... LEMBAR PENGESAHAN... LEMBAR PERNYATAAN... LEMBAR PERSEMBAHAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

2015, No d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Menteri Perdag

FUNGSI PELABUHAN P P NOMOR 69 TAHUN 2001 SIMPUL DALAM JARINGAN TRANSPORTASI; PINTU GERBANG KEGIATAN PEREKONOMIAN DAERAH, NASIONAL DAN INTERNASIONAL;

BAB II LANDASAN TEORI. miliki kepada bangsa lain atau negara asing dengan mengharapkan

DEWAN ANGKATAN LAUT Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 1959 Tanggal 31 Desember 1959 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

MODEL PENGAMBILAN KEPUTUSAN PERENCANAAN SANDARAN KAPAL INTEGRASI DENGAN LAYANAN KERETA API BARANG. (STUDI KASUS: PT.TERMINAL TELUK LAMONG SURABAYA)

Transkripsi:

BAB III METODOLOGI A. POLA PIKIR STUDI. Pola pikir studi ini berawal dari anggapan perlunya untuk mengkaji relevansi commercial code bidang pelayaran dan implementasinya yang ada pada saat ini. Commercial code atau hukum dagang yang mengatur mengenai pelayaran sebelum diterapkanya Undang-Undang tersendiri terdapat dalam buku III Hukum Dagang peninggalan Belanda. Sehingga dengan latar belakang tersebut akan dikaji melalui peraturan-peraturan yang ada dan dianalisis berdasarkan kondisi eksisting baik di lingkup nasional maupun internasional. Penjelasan pola pikir ini dapat diperinci sebagai berikut : 1. Input. Segala bentuk permasalahan mengenai kelemahan peraturan commercial code di bidang pelayaran, keberadaan peraturan yang tidak relevan dengan kondisi saat ini, dan kendala penerapanya di lapangan. 2. Proses. a. Subyek. Merupakan pelaksana studi pengembangan commercial code di bidang pelayaran. b. Obyek. Obyek studi ini meliputi pihak-pihak yang memiliki keterkaitan yaitu regulator, pengguna jasa dan yang melakukan praktik usaha di bidang pelayaran. c. Metoda. Penelusuran data melalui studi literatur dan survey lapangan, dianalisis secara deskriptif evaluatif kelemahan peraturan yang ada. Selain itu berdasarkan data lapangan (das sein) dan norma LAPORAN AKHIR - Studi Pengembangan Commercial Code di Bidang Pelayaran III - 1

(das sollen) dilakukan analasis legal gap sehingga diketahui kondisi eksisting sebagai acuan perbaikan regulasi di masa yang akan datang. 3. Instrumental Input dan Data Eksisting Input Instrumental input merupakan peraturan perudang-undangan yang berlaku di Indonesia, yaitu Undang-Undang dan peraturan yang berada di bawahnya serta Peraturan yang berlaku secara Internasional. Sedangkan data eksisting input berasal dari survey lapangan yang dilakukan. a. Output. Hasil yang diharapkan dari studi ini adalah draft laporan studi pengembangan commercial code di bidang pelayaran. b. Outcome. B. DATA STUDI. Tersedianya rekomendasi sebagai naskah akademis untuk perbaikan pengembangan commercial code di bidang pelayaran di masa yang akan datang. 1. Sumber Data Studi Sumber data studi diperoleh dari : a. Literatur; b. Peraturan perundangan yang berlaku di Negara Indonesia; c. Peraturan Internasional; d. Hasil survey terhadap pihak terkait dengan kebutuhan. 2. Metode Pengumpulan Data Studi. Data yang dibutuhkan dalam studi ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer akan dikumpulkan dengan metode wawancara dan penyebaran angket serta survey lapangan untuk mengetahui kondisi eksisting dan untuk mengetahui aspek-aspek yang memerlukan perbaikan. Untuk data sekunder meliputi dokumen kepustakaan yang berasal dari berbagai media cetak dan LAPORAN AKHIR - Studi Pengembangan Commercial Code di Bidang Pelayaran III - 2

elektronik akan dikumpulkan dengan metode studi pustaka dan dokumen. Terkait dengan penelusuran data di lapangan melalui survey, beberapa indikator yang menurut tim peneliti perlu untuk diungkap sebagai data studi meliputi beberapa hal sebagaimana yang akan diuraikan dalam Tabel 3.1 di bawah ini. Tabel 3.1 Aspek yang harus digali dari lokasi studi dalam penelusuran data No Aspek 1 Kapal 2 Pelabuhan 3 Sumber Daya Manusia 4 Pelaku Usaha 5 Regulator Kemudian dari aspek-aspek tersebut diturunkan ke dalam pertanyaan sebagai alat pengungkap data (lihat lampiran). Langkah-langkah yang akan ditempuh dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut : a. Melakukan pengumpulan informasi dan pengawasan lapangan yang berkaitan dengan materi bahasan melalui : 1) Studi literatur; 2) Studi Regulasi-regulasi yang berlaku di tingkat Nasional dan Regulasi-regulasi internasional; 3) Informasi atau data dari pengguna jasa di lapangan. LAPORAN AKHIR - Studi Pengembangan Commercial Code di Bidang Pelayaran III - 3

b. Melakukan penyesuaian antara regulasi nasional dan internasional terutama membahas kedaulatan sebuah negara dalam membentuk peraturan nasional untuk mengakomodir kepentingan sosial, politik dan ekonominya hingga melahirkan rekomendasi. c. Mengkaji peraturan Internasioanal, untuk perbandingan, bahkan untuk diadopsi guna mendapatkan hasil yang optimal dan dapat dioperasikan di Indonesia terutama dalam transaksi bisnis internasional melalui jalur pelayaran. d. Melakukan kajian pengembangan Commercial Code di bidang pelayaran ini akan melahirkan rekomendasi untuk; 1) Tanpa melakukan perubahan regulasi yang sudah ada; 2) Melakukan perubahan terhadap regulasi-regulasi yang sudah ada dengan pertimbangan penyesuaian kondisi di Indonesia. 3. Analisis Data Studi. Data studi yang terkumpul, akan dianalisis dengan model sebagai berikut : a. Analisis deskriptif-evaluatif. Analisis ini bertujuan untuk menggambarkan kondisi eksisting dan kelengkapan fasilitas yang ada saat ini, kemudian dilakukan evaluasi berdasarkan kebutuhan dan harapan-harapan dari stakeholder pengguna jasa terkait dengan commercial code untuk kebutuhan ke depan. b. Analisis legal gap. Analisis ini bertujuan untuk melakukan identifikasi dan inventarisasi peraturan perundangan yang terkait dengan commercial code, kemudian dievaluasi atau dicari kelemahan-kelemahan dari segi subtansi peraturan-peraturan hukum tersebut mana yang masih relevan dan mana yang sudah tidak relevan dengan perkembangan yang terjadi. Selanjutnya akan dilihat pula bagaimana aturan hukum itu dipraktikkan di lapangan, apakah masih berfungsi atau sudah ketinggalan (out of date) dengan tuntutan perkembangan dan kebutuhan saat ini dan mendatang; dengan kata lain apakah terjadi kesenjangan antara hukum yang berlaku saat ini (ius constitutum) dan hukum yang menjadi cita-cita semestinya LAPORAN AKHIR - Studi Pengembangan Commercial Code di Bidang Pelayaran III - 4

(ius constituendum), dan apakah pula terjadi penyimpanganpenyimpangan dalam praktik dari hal-hal yang dinormakan oleh peraturan dengan kenyataan yang ada (antara das sollen dan das sein). Dengan melihat kesenjangan (gap) tersebut akan diperoleh faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesenjangan tersebut. LAPORAN AKHIR - Studi Pengembangan Commercial Code di Bidang Pelayaran III - 5

OUTCOME INSTRUMENTAL INPUT Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri dan Peraturan Lain di bawahnya di Indonesia serta Peraturan Internasionalyang di berlakukan Rekomendasi, naskah akademis untuk perbaikan pengembangan commercial code di bidang pelayaran. kelemahan peraturan commercial code di bidang pelayaran, keberadaan peraturan yang tidak relevan dengan kondisi saat ini, dan kendala penerapanya di lapangan SUBYEK OBYEK METODA Pelaksana studi pengembangan Commercial Code di bidang pelayaran - regulator - operator pelabuhan - pengguna jasa - pelaku usaha - studi literatur dan lapangan - analisis deskriptif evaluatif - analisis legal gap laporan studi pengembangan commercial code di bidang pelayaran. DATA EKSISTING INPUT Data yang dihimpun dari survey lapangan OUTPUT FEED BACK Gambar 3.1 Pola Pikir Studi LAPORAN AKHIR - Studi Pengembangan Commercial Code di Bidang Pelayaran III - 6

C. ALUR PIKIR PEMECAHAN MASALAH. Dari pola pikir studi yang dikemukakan di atas, secara rinci proses analisis studi dapat dilihat dalam gambar berikut ini : Commercial Code Bidang Pelayaran Meliputi peraturan-peraturan Kegiatan bidang Bongkar Muat, Pengangkutan, Asuransi, Ship Manning, Ekspor, Impor, penyelesaian sengketa bisnis Peraturan Nasional & Internasional Analisis Deskriptif Evaluatif Diketahui kelemahankelemahan regulasi yang ada Analisis legal gap Rekomendasi Pengembangan Commercial Code bidang pelayaran Data dari survey Lapangan Gambar 3.2 Alur Pikir Studi LAPORAN AKHIR - Studi Pengembangan Commercial Code di Bidang Pelayaran III - 7

Langkah pertama yang ditempuh dalam studi ini adalah mengidentifikasi peraturan-peraturan terkait kegiatan bisnis di bidang pelayaran untuk dianalisis kelemahan-kelemahanya. Sedangkan langkahh berikutnya adalah menganalisis peraturan-peraturan yang berhasil diidentifikasi dengan data eksisting yang berhasil diperoleh untuk ditelaah lebih lanjut antara norma (das sollen) dan kondisi di lapangan (das sein) sehingga didapatkan hasil analisis yang dapat dirujuk apakah peraturan terkait perlu dirubah, dipertahankan untuk tetap diimplementasikan, atau diperbaiki sesuai kebutuhan. D. PROFIL LOKASI STUDI. Kegiatan studi ini akan dilakukan di beberapa pelabuah yang digunakan untuk aktifitas komersial di Indonesia dan Malaysia sebagai sample : 1. Jakarta; 2. Medan; 3. Surabaya; 4. Makassar; 5. Malaysia. Profil dari lima lokasi survey tersebut dapat di lihat secara singkat dalam tabel 3.2 berikut ini. Tabel 3.2. Profil Lokasi Studi Pelabuhan Kelas Lokasi Survey Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Pelabuhan Hub Internasional Syahbandar PT. Pelindo II Perusahaan Bongkar Muat LAPORAN AKHIR - Studi Pengembangan Commercial Code di Bidang Pelayaran III - 8

Perusahaan Angkutan Laut Bea Cukai Gafeksi Otoritas Pelabuhan Syahbandar PT. Pelindo I Belawan, Medan Pelabuhan Utama Internasional Perusahaan Bongkar Muat Perusahaan Angkutan Laut Bea Cukai Gafeksi Otoritas Pelabuhan Syahbandar Tanjung Perak, Surabaya Pelabuhan Utama Internsional PT. Pelindo III Perusahaan Bongkar Muat Perusahaan Angkutan Laut LAPORAN AKHIR - Studi Pengembangan Commercial Code di Bidang Pelayaran III - 9

Bea Cukai Gafeksi Otoritas Pelabuhan Syahbandar PT. Pelindo IV Makassar Pelabuhan Utama Internasional Perusahaan Bongkar Muat Perusahaan Angkutan Laut Bea Cukai Gafeksi Port Klang Authority Port Klang, Malaysia Pelabuhan Utama Internasional Pelaku Usaha Pengguna Jasa Sedangkan peta mengenai lokasi survey yang akan dituju dapat dilihat pada gambar di bawah ini. LAPORAN AKHIR - Studi Pengembangan Commercial Code di Bidang Pelayaran III - 10

Gambar 3.3. Peta Lokasi Survey E. RENCANA KERJA STUDI. Rencana kerja studi ini dibagi ke dalam empat tahap, yaitu : 1. Tahap Persiapan. Tahap ini mengarah pada persiapan pelaksanaan seluruh rangkaian pekerjaan agar dapat dilaksanakan secara terarah, berurutan, terencana sesuai dengan jadwal dan target pencapaian yang telah ditetapkan. Sehingga aktivitas inti dalam tahap persiapan ini adalah koordinasi seluruh anggota tim dalam mempersiapkan sistem administrasi dan fasilitas pekerjaan, sistem rencana kerja, target pencapaian dan jadwal pelaksanaan. Hal lain yang penting dalam tahap ini adalah pembagian tugas secara jelas untuk masing-masing tenaga ahli yang mengarah kepada usaha pencapaian target pekerjaan. Dalam tahap ini juga dilakukan penyusunan berbagai alat survey dan panduan wawancara untuk melakukan pengumpulan data primer. 2. Tahap Pengumpulan Data. Tahap ini mengarah pada proses pengumpulan semua data baik data LAPORAN AKHIR - Studi Pengembangan Commercial Code di Bidang Pelayaran III - 11

primer atau sekunder serta diskusi dengan pihak-pihak yang relevan sebagai bahan pendukung proses analisis data pekerjaan ini. Data primer adalah temuan data yang diperoleh dari lokasi studi terutama data yang sangat dibutuhkan dalam menunjang proses analisis pekerjaan ini. Data primer tersebut dibutuhkan untuk lebih menguatkan serta memperdalam data-data sekunder menyangkut aktivitas dan unsur-unsur yang terkait. Salah satu tujuan dari ketersediaan data primer adalah diketahuinya kondisi terkini dari lokasi studi sehingga tahap analisis data dapat dilakukan secara lebih mendalam. 3. Tahap Analisis Data. Pada tahap ini, seluruh data akan dianalisis untuk mendapatkan formulasi ideal terkait dengan rancangan perbaikan commercial code di bidang pelayaran ke depan. 4. Tahap Pelaporan. Sistem pelaporan dalam pekerjaan ini dilakukan dalam 4 (empat) tahap yaitu sebagai berikut : a. Laporan Pendahuluan (Inception Report). Laporan ini berisikan tanggapan atas kerangka acuan kerja, metode pekerjaan, gambaran umum masalah pekerjaan, rencana kerja dan instrumen pekerjaan; b. Laporan Antara (Interim Report). Laporan ini berisikan hasilhasil pencarian data primer dan sekunder, hasil pengamatan dan permasalahan yang ditemukan di lapangan serta rencana analisis yang akan dilakukan tahap berikutnya; c. Laporan Rancangan Laporan Akhir (Draft Final Report). Laporan ini terdiri atas evaluasi data, pemaduan data primer dan data sekunder, pengolahan dan analisis data, serta rekomendasi pengembangan commercial code di bidang pelayaran. d. Laporan Akhir (Final Report). Laporan ini memuat hasil perbaikan dan penyempurnaan dari rancangan laporan akhir dan telah dibahas melalui forum diskusi baik intern maupun ekstern guna memperoleh rancangan commercial code pelayaran yang bisa ditindak lanjuti. LAPORAN AKHIR - Studi Pengembangan Commercial Code di Bidang Pelayaran III - 12

Gambar 3.4 Tahap Pelaksanaan Laporan LAPORAN AKHIR - Studi Pengembangan Commercial Code di Bidang Pelayaran III - 13