BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Bagi sebagian besar orang, masa remaja adalah masa yang paling berkesan

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHALUAN. A. Latar Belakang Masalah. status sebagai orang dewasa tetapi tidak lagi sebagai masa anak-anak. Fase remaja

BAB I PENDAHULUAN. bagi perubahan besar sebuah negara. Ujung tombak sebuah negara ditentukan

BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. peralihan dari satu tahap anak-anak menuju ke tahap dewasa dan mengalami

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. psikis, maupun secara sosial (Hurlock, 1973). Menurut Sarwono (2011),

BAB I PENDAHULUAN. yang menjembatani masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Pada usia ini individu

BAB I PENDAHULUAN. sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal (Kartono, 2013:6).

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Intany Pamella, 2014

BAB I PENDAHULUAN. apabila individu dihadapkan pada suatu masalah. Individu akan menghadapi masalah yang lebih

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. faktor yang secara sengaja atau tidak sengaja penghambat keharmonisan

BAB I PENDAHULUAN. perilaku menyimpang. Dalam perspektif perilaku menyimpang masalah sosial

BAB I PENDAHULUAN. dalam Friz Oktaliza, 2015). Menurut WHO (World Health Organization), remaja adalah penduduk dalam rentang usia tahun, menurut

BAB I PENDAHULUAN. Hampir setiap hari kasus perilaku agresi remaja selalu ditemukan di media

BAB 1 PENDAHULUAN. perilaku agresi, terutama di kota-kota besar khususnya Jakarta. Fenomena agresi

BAB I PENDAHULUAN. Sebuah pemberitaan di Jakarta menyatakan ham p ir 40% tindak

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dasar perilaku perkembangan sikap dan nilai kehidupan dari keluarga. Salah

BAB I PENDAHULUAN. dengan masa remaja, kemudian masa dewasa. Masa remaja adalah masa. fisik, kognitif dan sosial emosional (Santrock, 2003).

BAB I PENDAHULUAN. juga adalah apa yang dikerjakan oleh organisme tersebut, baik dapat diamati secara langsung

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. keluarga itu adalah yang terdiri dari orang tua (suami-istri) dan anak. Hubungan

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan luar. Perubahan-perubahan tersebut menjadi tantangan besar bagi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. merasa senang, lebih bebas, lebih terbuka dalam menanyakan sesuatu jika berkomunikasi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Berbicara tentang siswa sangat menarik karena siswa berada dalam kategori

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. tidak termasuk golongan dewasa dan juga bukan golongan anak-anak, tetapi remaja

BAB 1 PENGANTAR. A. Latar Belakang Masalah. Perjalanan hidup manusia mengalami beberapa tahap pertumbuhan.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Devi Eryanti, 2013

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dimasyarakat pada saat ini melalui media-media seperti televisi, koran, radio dan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. yang datang dari dirinya maupun dari luar. Pada masa anak-anak proses

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. adalah aset yang paling berharga dan memiliki kesempatan yang besar untuk

I. PENDAHULUAN. Remaja sebagai bagian dari masyarakat merupakan mahluk sosial yang

PERILAKU ANTISOSIAL REMAJA DI SMA SWASTA RAKSANA MEDAN

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan dan pertumbuhan tersebut, salah satu fase penting dan menjadi pusat

BAB I PENDAHULUAN. A.Latar Belakang Masalah. menyenangkan, dimana terjadi juga perubahan pada dirinya baik secara fisik,

BAB I PENDAHULUAN. dan berfungsinya organ-organ tubuh sebagai bentuk penyesuaian diri terhadap

BAB I PENDAHULUAN. Remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Remaja merupakan suatu periode yang disebut sebagai masa strum and drang,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. makhluk sosial. Pada kehidupan sosial, individu tidak bisa lepas dari individu

BAB I PENDAHULUAN. Salah satunya adalah krisis multidimensi yang diderita oleh siswa sebagai sumber

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pada masa remaja, terjadi proses pencarian jati diri dimana remaja banyak

SKRIPSI IDENTIFIKASI FAKTOR PENYEBAB KENAKALAN REMAJA PADA SISWA SMP PGRI 4 KOTA JAMBI. Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh

BAB I PENDAHULUAN. Remaja berasal dari bahasa latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi

BAB I PENDAHULUAN. indah itu adalah masa remaja, karena pada saat remaja manusia banyak

BAB I PENDAHULUAN. Akhir-akhir ini masalah kenakalan remaja semakin dirasa meresahkan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Diah Rosmayanti, 2014

BAB I PENDAHULUAN. manusia, yang menjembatani masa kanak-kanak dengan masa dewasa (Santrock,

BAB I PENDAHULUAN. Manusia senantiasa membutuhkan kehadiran orang lain untuk berinteraksi

PENDAHULUAN. disebut sebagai periode pubertas, pubertas (puberty) adalah perubahan cepat pada. terjadi selama masa remaja awal (Santrock, 2003).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KENAKALAN REMAJA PELAKU TATO

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. mengatakan mereka telah dilukai dengan senjata. Guru-guru banyak mengatakan

BAB I PENDAHULUAN. proses perkembangan yang serba sulit dan masa-masa membingungkan

PENGARUH LAYANAN BIMBINGAN SOSIAL TERHADAP KENAKALAN REMAJA PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 SUMBER GEMPOL TULUNGAGUNG TAHUN PELAJARAN 2014/2015

BAB I PENDAHULUAN. hidup dan kehidupan manusia, begitu pula dengan proses perkembangannya.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan emosi menurut Chaplin dalam suatu Kamus Psikologi. organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam

BAB I PENDAHULUAN. A.Latar Belakang Masalah. hidup semaunya sendiri, karena di dalam kehidupan bermasyarakat terdapat

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan. Menurut World Health Organization (WHO (2010) remaja

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. berhubungan dengan orang lain, atau dengan kata lain manusia mempunyai

HUBUNGAN ANTARA KEHARMONISAN KELUARGA DENGAN PERILAKU AGRESIF PADA REMAJA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. bahkan hal ini sudah terjadi sejak dulu. Kenakalan remaja, seperti sebuah

BAB II TINJAUAN TEORI. yang luas, dari tingkah laku yang tidak dapat diterima secara sosial

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Keluarga menurut Lestari (2012) memiliki banyak fungsi, seperti

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kemudian dilanjutkan ke tahapan selanjutnya. Salah satu tahapan individu

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nurlaela Damayanti, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Mahasiswa adalah status yang disandang oleh seseorang karena

BAB I PENDAHULUAN. awal yaitu berkisar antara tahun. Santrock (2005) (dalam

BAB I PENDAHULUAN. Remaja merupakan periode transisi antara masa anak-anak ke masa dewasa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. manusia yang merupakan masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa. Masa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja merupakan masa seorang individu mengalami peralihan dari

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain dan

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang menjembatani masa kanak-kanak dengan masa dewasa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kembang remaja. Istilah remaja sendiri berasal dari bahasa latin yaitu adolescere

SM, 2015 PROFIL PENERIMAAN DIRI PADA REMAJA YANG TINGGAL DENGAN ORANG TUA TUNGGAL BESERTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHINYA

I. PENDAHULUAN. masa sekarang dan yang akan datang. Namun kenyataan yang ada, kehidupan remaja

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH DEMOKRATIS ORANG TUA DAN KEMANDIRIAN DENGAN KEMAMPUAN MENYELESAIKAN MASALAH PADA REMAJA SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terutama karena berada dibawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru.

BAB I PENDAHULUAN. Panti asuhan merupakan suatu lembaga yang sangat populer untuk

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa yang penting di dalam suatu kehidupan. manusia. Teori Erikson memberikan pandangan perkembangan mengenai

BAB II LANDASAN TEORI. tersebut mempelajari keadaan sekelilingnya. Perubahan fisik, kognitif dan peranan

PROBLEM PSIKOSOSIAL PADA REMAJA YANG ORANG TUA NYA MERANTAU NASKAH PUBLIKASI. Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. laki-laki dan perempuan. Responden siswa laki-laki sebanyak 37 siswa atau 60 %.

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan sekolah. Perkelahian tersebut sering kali menimbulkan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dalam kehidupan remaja, karena remaja tidak lagi hanya berinteraksi dengan keluarga

BAB 1 PENDAHULUAN. pengaruhi oleh kematangan emosi baik dari suami maupun istri. dengan tanggungjawab dan pemenuhan peran masing-masing pihak yang

Transkripsi:

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bagi sebagian besar orang, masa remaja adalah masa yang paling berkesan dan menyenangkan. Pengalaman baru yang unik serta menarik banyak sekali dilalui pada masa ini. Banyak kejadian dan peristiwa penting terjadi pada masa ini, sehingga kebanyakan orang tidak akan dapat melupakan masa remajanya. Mereka yang berada pada usia remaja akan berusaha menikmati dan mengisi masa remajanya dengan berbagai kegiatan yang menarik. Selain menarik, masa ini juga penuh dengan tantangan dan tekanan sehingga dikenal sebagai masa storm and stress (Hurlock 1999). Masa Storm and stress atau masa badai dan tekanan, disebut tekanan karena seseorang akan mengalami peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Banyak terjadi perubahan, baik secara fisik, psikis, sikap, perilaku, emosi dan sosial pada masa peralihan ini (Santrock, 2009). Sebagian remaja dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap perubahan yang terjadi pada masa remaja, namun sebagian lainnya tidak (Gunarsa, 2003). Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh faktor kontrol diri pada remaja tersebut. Kontrol diri di usia remaja berpengaruh terhadap keseimbangan hidup, yang membantu remaja lebih baik dalam mempersiapkan diri dan menyesuaikan diri dengan beberapa aspek kehidupan yang berbeda, seperti penyesuaian perilaku, emosi, sikap, dll (Kuhnle, dkk, 2011). 1

2 Averill (dalam Ghufron & Risnawati, 2011) mendefisikan kontrol diri sebagai suatu kemampuan individu untuk memodifikasi perilaku, mengelola informasi yang diinginkan dan yang tidak diinginkan, serta kemampuan individu untuk memilih salah satu tindakan berdasarkan sesuatu yang diyakini memberi dampak positif atau keuntungan bagi diri sendiri. Remaja dengan kontrol diri yang tinggi akan sangat memperhatikan bagaimana cara berperilaku yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi serta penerimaan sosial terhadap cara seseorang berperilaku, bersikap dan mengatur emosinya, berbeda dengan remaja dengan kontrol diri rendah yang cenderung kurang mempertimbangkan dampak positif dan negatif dari perilaku mereka (Kartono, 2008). Remaja dengan kontrol diri yang tinggi menunjukkan kemampuan belajar yang lebih baik. Kontrol diri yang tinggi memungkinkan seseorang untuk mendapatkan prestasi sekolah yang lebih baik, tidak mudah cemas dan depresi, self esteem tinggi dan kepuasan hubungan yang lebih baik (Crandell, dkk, 2009). Kontrol diri yang rendah mengakibatkan remaja menjadi terlalu bebas, agresif, dan sulit diarahkan oleh orang dewasa. Selanjutnya munculah kebiasaan buruk (Kartono, 2008). Rendahnya kontrol diri seseorang, khususnya remaja juga sangat berpengaruh terhadap prestasi di sekolah, cara hidup yang positif, serta kemampuan untuk menolak penggunaan obat-obatan terlarang, seperti yang dikemukakan oleh Jason & Jody (2009). Gottfredson & Hirschi menyatakan bahwa kontrol diri yang rendah juga berpengaruh terhadap perilaku kriminal (Phythian, 2008).

3 Remaja dengan kontrol diri yang rendah tampaknya sangat banyak ditemui kasusnya dalam kehidupan sehari-hari saat ini. banyak remaja yang perilakunya menyimpang dari apa yang dipandang baik dan positif oleh masyarakat. Perkembangan yang bersifat negatif ini mengacu pada perilaku yang bertentangan dengan nilai dan norma yang dapat diterima oleh masyarakat, seperti perilaku yang melanggar, dan bahkan tindakan-tindakan kriminal (Santrock, 2009). Beberapa contoh hal negatif yang banyak dilakukan oleh remaja pada saat ini antara lain adalah mencontek, bolos sekolah, merokok, menonton film porno, mengonsumsi obat-obat terlarang, kecanduan bermain game, minum minuman keras, tawuran, terlibat dengan geng yang anarkis, pergaulan bebas, dll. Jumlah kegiatan remaja yang bersifat negatif yang salah satunya kenakalan, saat ini tergolong sangat tinggi. Remaja yang terlibat dengan kenakalan remaja ternyata mempunyai sifat kepribadian khas, salah satunya adalah mereka kurang memiliki kontrol diri (Kartono, 2008). Sebagaimana pernyataan Kartono, Santrock (2009) juga menyatakan hal yang sama, yaitu perilaku kenakalan remaja digambarkan sebagai kegagalan untuk mengembangkan kontrol diri yang cukup dalam hal tingkah laku. Kenakalan remaja di Indonesia saat ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan yang sebelumnya. Data terbaru menunjukkan bahwa terdapat lima provinsi di Indonesia yang memiliki tingkat kenakalan tertinggi. Lima provinsi yang dimaksud antara lain adalah Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sumatera Utara (Badan Pusat Statistik, 2010). Kenakalan remaja juga sering kali terlihat dari berbagai tayangan berita

4 kriminal di televisi dan media massa lainnya yang selalu disajikan setiap harinya. Meningkatnya tingkat kenakalan remaja ini juga ditunjukkan oleh data Polda Metro jaya yang menyatakan bahwa kenakalan remaja pada tahun 2012 meningkat sebanyak 36,33%, yang mana bentuk perilaku kenakalan yang paling banyak meningkat adalah perkelahian, pencurian, judi, dan penggunaan narkotika (Berita Satu, 2012). Data dari lembaga pemasyarakatan menunjukkan bahwa dari 33 provinsi di Indonesia, provinsi Sumatera utara pada tahun 2015 memiliki jumlah tahanan anak laki-laki dan perempuan sebanyak 129 orang. Jumlah ini merupakan jumlah yang terbanyak diantara semua provinsi di indonesia (Sistem Database Pemasyarakatan, 2015). Faktor rendahnya kontrol diri pada remaja juga berpengaruh terhadap perilaku bully (Unnever & Cornell, 2003). Indonesia saat ini masuk ke dalam negara dengan tingkat bullying terbesar di dunia, yang mana Indonesia berada pada peringkat kedua (Latitude News, 2012). Masa remaja memang menjadi masa yang penuh dengan perubahan dan menjadi hal yang lumrah ketika banyak remaja pada akhirnya sulit dalam melakukan penyesuaian diri. Namun biarpun menjadi hal yang lumrah, pada kenyataannya adalah banyak juga remaja yang tetap dapat berkembang dan berperilaku secara positif. Hal ini dikarenakan masa remaja juga menjadi masa dimana pola berpikir berkembang menjadi lebih baik, seharusnya remaja sudah mampu menentukan, mengendalikan dan mempertanggungjawabkan perilakunya sesuai dengan nilai dan norma dalam lingkungan sosialnya (Hurlock, 1999).

5 Remaja harusnya sudah dapat mengetahui mana perilaku buruk yang tidak dapat diterima oleh masyarakat serta memberikan pengaruh negatif terhadap diri sendiri, namun remaja yang memiliki kontrol diri yang rendah umumnya tidak mengenali hal ini (Santrock, 2003). Kontrol diri dipengaruhi oleh beberapa faktor. Secara garis besar faktorfaktor yang memepengaruhi kontrol diri ini terdiri dari faktor internal (dari diri individu), dan faktor eksternal (lingkungan individu). Salah satu faktor internal kontrol diri adalah usia. Faktor eksternal diantaranya adalah lingkungan keluarga khususnya orangtua (Ghufron & Risnawati, 2011). Remaja yang pada dasarnya sudah berada pada masa badai dan tekanan (Hurlock, 1999) membuat remaja sangat membutuhkan dukungan dari orang terdekat yaitu orangtua. Orientasi pada masa remaja memang lebih kepada teman sebaya. Dari teman sebaya remaja dapat belajar banyak hal, baik itu positif maupun negatif, dan dalam hal inilah orangtua sangat dibutuhkan. Orang tua berfungsi sebagai sosok yang menanamkan nilainilai disiplin pada anak. Sehingga remaja yang orientasinya lebih kepada teman sebaya masih dapat dikendalikan sehingga tidak terlibat dengan pengaruh negatif yang berasal dari teman (Hurlock, 1999). Orangtua yang secara konsisten menerapkan perilaku disiplin pada remaja, khususnya yang dilakukan sejak dini, memungkinkan anak memiliki kontrol diri yang tinggi (Phythian, 2008). Realitanya, keluarga tidak selalu berada dalam kondisi yang seimbang, khususnya kondisi orangtua. Perubahan orangtua memiliki pengaruh pada hubungan orangtua dan remaja. Perubahan yang orangtua alami antara lain seperti perubahan dalam kepuasan pernikahan, kondisi ekonomi, kesehatan tubuh, karir

6 dll (Santrock, 2009). Perubahan dalam kepuasan pernikahan dapat berujung pada perceraian, yang mana perceraian ini akan mengakibatkan perubahan struktur keluarga. Keberadaan ayah dan ibu secara bersama-sama menunjukkan keutuhan sebuah keluarga secara struktural. Secara struktural, keluarga didefinisikan berdasarkan kehadiran atau ketidakhadiran anggota keluarga, seperti kehadiran orangtua, anak dan kerabat lainnya (Lestari, 2012). Struktur keluarga baik itu utuh atau tidak utuh, yang dalam hal ini bercerai juga turut mempengaruhi perkembangan sosial remaja (Ahmadi, 1991). Sebagaimana Herbert C.Quay (dalam Santrock, 2003) mengungkapkan bahwa keutuhan keluarga, baik utuh secara struktur maupun secara interaksi mempengaruhi perkembangan sosial remaja. Keluarga yang utuh menjadi idaman bagi banyak orang khususnya bagi anak. Keutuhan keluarga membuat anak merasakan dan memahami arahan orangtua. Arahan dan bimbingan dari kedua orangtua membuat remaja tidak mudah dipengaruhi oleh pergaulan yang buruk (Gunarsa, 2009). Remaja yang dibesarkan dalam keluarga yang utuh dengan suasana keluarga yang positif cenderung dapat menjalani masa remajanya tanpa menghadapi masalah yang serius (Papalia, 2009). Di samping dampak positif keluarga utuh seperti yang disebutkan sebelumnya, remaja yang tinggal di tengah-tengah keluarga utuh juga tidak menutup kemungkinan untuk melakukan penyesuaian yang buruk dan terlibat dengan hal-hal yang bersifat negatif. Beberapa hal yang dapat mempengaruhi hal ini adalah jika konflik di tengah-tengah keluarga tersebut tergolong tinggi (Santrock, 2009), penyesuaian orangtua dan anak yang kurang baik, dasar yang

7 kurang baik selama masa anak-anak, serta pola asuh yang membuat remaja sangat bergantung dengan orangtua (Hurlock, 1999). Remaja dengan kebiasaan buruk dan negatif juga ditemui pada keluarga utuh. Hal ini dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh Bangun (2006) yang menunjukkan bahwa remaja yang berasal dari keluarga utuh juga terlibat dengan perilaku kenakalan remaja. Meskipun ada kalanya struktur keluarga utuh tidak menjamin sepenuhnya perkembangan remaja, namun perubahan struktur keluarga akibat perceraian tetap saja menjadi suatu hal yang tidak diharapkan oleh siapapun. Perceraian sebagaimana Hurlock (1999) nyatakan terjadi apabila antara suami dan isteri sudah tidak mampu lagi mencari cara penyelesaian masalah yang dapat memuaskan kedua belah pihak. Perceraian yang terjadi dapat berupa perpisahan dan pembatalan baik secara hukum maupun dengan diam-diam, atau salah satu (isteri/suami) meninggalkan keluarga. Perceraian saat ini dianggap menjadi hal yang biasa. Di Indonesia sendiri angka perceraian tergolong cukup tinggi, khususnya di Medan, Sumatera Utara. Menurut Pengadilan Tinggi Agama, perceraian tahun 2013 meningkat dari tahun sebelumnya. Jika dilihat berdasarkan jenis perkara diketahui bahwa pada tahun 2013 jumlah cerai talak terdapat 2.549 kasus dan cerai gugat sejumlah 6939 kasus. Kenaikan setiap tahunnya berkisar 15% sampai dengan 20% (Pengadilan Tinggi Agama, 2013). Perubahan struktur keluarga akibat perceraian memiliki banyak sekali dampak negatif bagi remaja. Pada umumnya anak dari keluarga bercerai merasa malu karena mereka merasa berbeda (Hurlock, 1999), dan kehilangan kontrol diri

8 (Santrock, 2009). Kehilangan kontrol diri inilah yang selanjutnya berpengaruh pada kesulitan dalam melakukan penyesuaian diri, kesulitan dalam belajar, atau penarikan diri dari lingkungan sosial (Papalia, 2009) dan cenderung terlibat dengan kenakalan remaja (Kartono, 2008). Hal ini salah satunya dipengaruhi juga oleh faktor komunikasi. Remaja yang berasal dari keluarga bercerai kemungkinan akan mengurangi komunikasi antara anak dengan kedua orangtua, padahal komunikasi menjadi penentu terhadap bagaimana cara remaja dapat menghadapi perubahan dalam hidupnya secara efektif (DeGenova, 2008). Di sisi lain, remaja yang tinggal dengan keluarga bercerai tidak selamanya menunjukkan perilaku yang menyimpang, terkadang mereka lebih mandiri (Lestari, 2012). Remaja dari keluarga bercerai juga menjadi lebih bertanggungjawab, karena mereka banyak belajar untuk melakukan segala sesuatunya sendiri dan mempertanggungjawabkan apa yang mereka kerjakan. Selain itu, mereka juga lebih terampil dalam melakukan beberapa hal khususnya melakukan apa yang orang dewasa dapat lakukan. Keterampilan ini diperoleh karena mereka cenderung akan membantu orangtua tunggal akibat perceraian (DeGenova, 2008). Perkembangan positif seperti yang telah disebutkan di atas dapat terjadi jika konflik yang remaja alami tergolong rendah ketika perceraian tersebut berlangsung. Remaja yang berasal dari keluarga bercerai juga dapat berkembang menjadi pribadi yang positif jika remaja masih tetap berkomunikasi dan bersosialiasasi dengan baik dengan orangtua. Selain itu dukungan dari pihak lain seperti teman, keluarga besar, dll tidak menutup kemugkinan untuk membuat

9 remaja yang berasal dari keluarga bercerai untuk dapat melakukan penyesuaian dengan baik. Dari beberapa kajian yang telah dikemukakan terdapat kontroversi antara keluarga bercerai dengan keluarga utuh dalam peranannya terhadap kontrol diri, sehingga perlu dikaji lebih jauh bagaimana sebenarnya peranan struktur keluarga terhadap kontrol diri pada remaja. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa remaja yang berasal dari keluarga bercerai lebih sering terlibat dengan perilaku negatif yang menunjukkan rendahnya kontrol diri mereka bila dibandingkan dengan remaja yang berasal dari keluarga utuh, namun dari fenomena yang terjadi di lapangan, remaja yang dibesarkan dalam keluarga bercerai tidak selalu terlibat dengan perilaku negatif atau kenakalan remaja yang menunjukkan rendahnya kontrol diri mereka. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan membandingkan kontrol diri remaja yang berasal dari keluarga bercerai dengan remaja yang berasal dari keluarga utuh. B. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Adakah perbedaan kontrol diri pada remaja yang berasal dari keluarga utuh dan bercerai? C. Tujuan Penelitian Adapun tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan jawaban dari rumusan masalah yang telah diuraikan, yaitu

10 mengungkapkan ada atau tidaknya perbedaan kontrol diripada remaja yang berasal dari keluarga utuh dan keluarga bercerai. D. Manfaat Penelitian Penelitian ini tentunya dilakukan dengan harapan akan memberikan manfaat. Adapun manfaat penelitian ini antara lain adalah sebagai berikut. 1. Manfaat Teoritis Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu psikologi, khususnya dalam bidang Psikologi Perkembangan. Selain itu, hasil akhir penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan terhadap teori kontrol diridan perceraian. 2. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada pihak-pihak sebagai berikut ini: a. Penelitian ini dapat memberikan informasi tentang kontrol diri remaja yang berasal dari keluarga utuh dan keluarga bercerai b. Remaja Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan bagi remaja tentang pentingnya kontrol diriyang memampukan remaja untuk melakukan dan menyesuaikan diri dengan perilaku positif dan terhindar dari perilaku negatif yang bertentangan dengan nilai dan norma masyatakat, serta mengetahui kemungkinan

11 perbedaan kontrol diri pada remaja dengan struktur keluarga utuh dan bercerai. c. Orangtua Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi kepada orangtua mengenai perbedaan kontrol diri pada remaja yang berasal dari struktur keluarga utuh dan keluarga bercerai. Selain itu hasil penelitian ini juga diharapkan dapat membuat orangtua lebih waspada dengan masa perkembangan remaja. E. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan berguna untuk memberikan gambaran yang jelas tentang penelitian yang akan dilakukan agar tidak menyimpang dari pokok permasalahan, secara sistematis, susunan tulisan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bab I Pendahuluan, yang berisi tentang latar belakang masalah, rumusan permasalahan, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan. 2. Bab II Tinjauan Pustaka, yang berisi tentang teori-teori yang digunakan sehubungan dengan masalah yang akan dibahas. Teori yang dimaksud berhubungan dengan teori kontrol diri, remaja, struktur keluarga baik utuh dan bercerai. Di dalam Bab II nantinya juga akan disertai dengan hipotesis penelitian.

12 3. Bab III Metode Penelitian, yang berisi tentang variabel penelitian, definisi operasional, instrumen penelitian, subjek penelitian, dan analisis data yang digunakan dalam penelitian serta prosedur penelitian. 4. Bab IV Analisa dan Interpretasi data, yang berisikan gambaran sampel penelitian, uji asumsi penelitian, uji hipotegsa hasil penelitian dan hasil tambahan penelitian, serta pembahasan 5. Bab V Saran dan Kesimpulan, yang berisikan saran dan kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan