BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang menganut prinsip kedaulatan

dokumen-dokumen yang mirip
2 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rak

BAB I PENDAHULUAN. 1945) Pasal 1 ayat (2) menegaskan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat dan

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. dikelola salah satunya dengan mengimplementasikan nilai-nilai demokrasi

PENGGUNAAN HAK RECALL ANGGOTA DPR MENURUT PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG MPR, DPR, DPD, DAN DPRD (MD3) FITRI LAMEO JOHAN JASIN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

I.PENDAHULUAN. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD Tahun 1945) menyatakan

ASPEK HUKUM PEMBERHENTIAN DAN PENGGANTIAN ANTAR WAKTU (PAW) ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA. Oleh: Husendro

RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 008/PUU-IV/2006 Perbaikan Tgl. 12 Mei 2006

-2- demokrasi serta menyerap dan memperjuangkan aspirasi rakyat dan daerah sesuai dengan tuntutan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Mesk

2018, No Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2014 tentang P

TINJAUAN YURIDIS HAK RECALL OLEH PARTAI POLITIK DALAM SISTEM PEMILU PROPORSIONAL TERBUKA NASKAH PUBLIKASI

RINGKASAN PUTUSAN. 2. Materi pasal yang diuji: a. Nomor 51/PUU-VI/2008: Pasal 9

BAB II KAJIAN PUSTAKA. kata re yang artinya kembali dan call yang artinya panggil atau memanggil,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. membuat UU. Sehubungan dengan judicial review, Maruarar Siahaan (2011:

I. PENDAHULUAN. praktik ketatanegaraan Indonesia. Setiap gagasan akan perubahan tersebut

Tugas dan Fungsi MPR Serta Hubungan Antar Lembaga Negara Dalam Sistem Ketatanegaraan

II. TINJAUAN PUSTAKA. kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang

UU 22/2003, SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

IMPLIKASI PEMILIHAN UMUM ANGGOTA LEGISLATIF DAN PEMILIHAN UMUM PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN SECARA SERENTAK TERHADAP AMBANG BATAS PENCALONAN PRESIDEN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2003 TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. yang menjadi bagian dari proses peralihan Indonesia menuju cita demokrasi

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 70/PUU-XV/2017

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA

BAB I PENDAHULUAN. Daerah Provinsi dan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten/Kota 1 periode 2014-

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2014 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARAN RAKYAT,

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. memerlukan perppu (peraturan pemerintah pengganti undang-undang). 1 Karena

2 c. bahwa beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakila

POLITIK DAN STRATEGI (SISTEM KONSTITUSI)

BAB I PENDAHULUAN. Pasca reformasi tahun 1998, landasan hukum pemilihan umum (pemilu) berupa Undang-Undang mengalami perubahan besar meskipun terjadi

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor : 72/PUU-X/2012 Tentang Keberadaan Fraksi Dalam MPR, DPR, DPD dan DPRD

BAB I PENDAHULUAN. mencapai 48 partai politik peserta Pemilu Sistem multipartai ini

BAB II PEMBAHASAN. A. Pengaturan Mengenai Pengisian Jabatan Presiden dan Wakil Presiden di Indonesia

DPD RI, BUBARKAN ATAU BENAHI?? Oleh: Moch Alfi Muzakki * Naskah diterima: 06 April 2016; disetujui: 15 April 2016

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERBAIKAN RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor 26/PUU-VII/2009 Tentang UU Pemilihan Presiden & Wakil Presiden Calon Presiden Perseorangan

PEDOMAN TEKNIS VERIFIKASI SYARAT CALON PENGGANTI ANTARWAKTU ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH PEMILIHAN UMUM TAHUN 2009

FUNGSI LEGISLASI DPR PASCA AMANDEMEN UUD Sunarto 1

ANOTASI UNDANG-UNDANG BERDASARKAN PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2014 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. Sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia

RECALL ANGGOTA DPR DAN DPRD DALAM DINAMIKA KETATANEGARAAN INDONESIA

PENUTUP. partai politik, sedangkan Dewan Perwakilan Daerah dipandang sebagai

MAHKAMAH KONSTITUSI. R. Herlambang Perdana Wiratraman Departemen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya, 19 Juni 2008

BAB V PENUTUP. penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

BAB II TINJAUAN KEBERADAAN LEMBAGA PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DALAM SISTEM KETATANEGARAAN INDONESIA

Hubungan Antar Lembaga Negara IRFAN SETIAWAN, S.IP, M.SI

RINGKASAN PUTUSAN. 2. Materi pasal yang diuji:

BAB I PENDAHULUAN. 1.4 Metode penelitian

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 47/PUU-XV/2017 Hak Angket DPR Terhadap KPK

SKRIPSI. Diajukan Guna Memenuhi Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum. Oleh : Nama : Adri Suwirman.

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH. Muchamad Ali Safa at

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 15/PUU-XIII/2015

BAB I PENDAHULUAN. hukum dikenal adanya kewenangan uji materiil (judicial review atau

BAB I PENDAHULUAN. diwujudkan dengan adanya pemilihan umum yang telah diselenggarakan pada

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor 142/PUU-VII/2009 Tentang UU MPR, DPR, DPD & DPRD Syarat menjadi Pimpinan DPRD

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. untuk rakyat (Abraham Lincoln). Demokrasi disebut juga pemerintahan rakyat

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor 38/PUU-VIII/2010 Tentang Pengujian UU No. 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD Hak Recall

RINGKASAN PUTUSAN. Perkara Nomor 17/PUU-V/2007 : Henry Yosodiningrat, SH, dkk

BAB III GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN

MEMUTUSKAN : BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1

BAB II KAJIAN TEORETIK DAN KAJIAN NORMATIF

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

MEWUJUDKAN DPR RI SEBAGAI LEMBAGA PERWAKILAN YANG KREDIBEL 1 Oleh: Muchamad Ali Safa at 2

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Adanya korupsi di berbagai bidang menjadikan cita-cita demokrasi

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Konstitusi dan Rule of Law

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI

PENDAHULUAN. kendatipun disebut sebagai karya agung yang tidak dapat terhindar dari

KUASA HUKUM Munathsir Mustaman, S.H., M.H. dan Habiburokhman, S.H., M.H. berdasarkan surat kuasa hukum tertanggal 18 Desember 2014

BAB II KOMISI YUDISIAL, MAHKAMAH KONSTITUSI, PENGAWASAN

BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI MAHKAMAH KONSTITUSI, MAHKAMAH AGUNG, PEMILIHAN KEPALA DAERAH

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. yang ditetapkan oleh lembaga legislatif.

DR. R. HERLAMBANG P. WIRATRAMAN MAHKAMAH KONSTITUSI FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS AIRLANGGA, 2015

PEMILIHAN UMUM. R. Herlambang Perdana Wiratraman, SH., MA. Departemen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya, 6 Juni 2008

BAB I PENDAHULUAN. di dunia berkembang pesat melalui tahap-tahap pengalaman yang beragam disetiap

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 35/PUU-XII/2014

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

BAB 1 PENDAHULUAN. legislatif dengan masyarakat dalam suatu Negara. kebutuhan-kebutuhannya yang vital (Ni matul Huda, 2010: 54).

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

BAB I PENDAHULUAN. adanya pemerintah yang berdaulat dan terakhir yang juga merupakan unsur untuk

Cita hukum Pancasila harus mencerminkan tujuan menegara dan seperangkat nilai dasar yang tercantum baik dalam Pembukaan maupun batang tubuh UUD 1945.

BAGIAN KEDUA RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG DEWAN PERWAKILAN DAERAH

RechtsVinding Online. RUU tentang Penyelenggaraan Pemilu. bersikap untuk tidak ikut ambil bagian. dalam voting tersebut.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

BAB I PENDAHULUAN. perubahan konstitusi yang memberikan jaminan kemandirian dan akuntabilitas

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2004 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

CHECK AND BALANCES ANTAR LEMBAGA NEGARA DI DALAM SISTEM POLITIK INDONESIA. Montisa Mariana

PENGUATAN SISTEM DEMOKRASI PANCASILA MELALUI INSTITUSIONALISASI PARTAI POLITIK Oleh: Muchamad Ali Safa at (Dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya)

mengintegrasikan dan mengkoordinasikan kepentingan-kepentingan yang membatasi dan melindungi kepentingan-kepentingan tersebut.

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang menganut prinsip kedaulatan rakyat. Sejalan dengan itu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) Pasal 1 ayat (2) menyatakan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. Kedaulatan sendiri berarti kekuasaan tertinggi dalam suatu negara dan itu berarti rakyatlah yang memegang kekuasaan tertinggi di Indonesia. Dengan menyandang prinsip kedaulatan rakyat ini mengantarkan Indonesia untuk menganut sistem demokrasi sebagai metode penyelenggaraan negara. Sistem demokrasi menjamin bahwa rakyat terlibat penuh dalam merencanakan, mengatur, melaksanakan, dan melakukan pengawasan serta menilai pelaksanaan fungsi-fungsi kekuasaan. Sehingga dalam Negara demokrasi modern yang hanya dapat dilakukan melalui sistem demokrasi perwakilan, dibutuhkan adanya lembaga perwakilan rakyat sebagai penyandang kedaulatan rakyat yang bertindak untuk dan atas nama rakyat yang memilihnya. Di Indonesia lembaga perwakilan rakyat itu disebut Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di tingkat pusat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Baik DPR maupun DPRD sebagai bagian dari lembaga perwakilan rakyat yang hadir dalam 1

sistem ketatanegaraan Indonesia merupakan perwujudan dari pelaksanaan amanat UUD Negara RI Tahun 1945. Selanjutnya untuk dapat diangkat menjadi anggota DPR/DPRD, seseorang harus dipilih melalui suatu pemilihan umum yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Mekanisme pemilihan tersebut dilaksanakan dalam kurun waktu lima tahun sekali sebagaimana ketentuan Pasal 19 ayat (1) juncto Pasal 22E ayat (1) dan (2) UUD Negara RI Tahun 1945. Sebagai lembaga yang merupakan perwujudan kedaulatan rakyat, banyak yang berpendapat bahwa arah kebijakan yang dibuat dan ditetapkan oleh DPR/DPRD sebagai lembaga demokrasi representasi wakil rakyat, sangat menentukan nasib rakyat. Berkaitan dengan itu, perlu dibuat suatu Undang-Undang yang mewadahi peran DPR/DPRD sebagai wakil rakyat. Hal inilah yang menjadi salah satu pertimbangan atau alasan dibentuknya UU tentang MPR, DPD, DPR dan DPRD (UU MD3) tahun 2014 yaitu dalam rangka mewujudkan kedaulatan rakyat berdasarkan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. 1 Pertimbangan dibuatnya UU MD3 Nomor 42 karena UU MD3 Nomor 17 kurang memenuhi kebutuhan rakyat. Dalam UU MD3 nomor 17 ini masih terdapat beberapa ketentuan yang tidak sesuai dengan perkembangan hukum dan kebutuhan masyarakat serta sistem pemerintahan presidensial seperti susunan pimpinan alat kelengkapan DPR. 1 Konsiderans UU No. 42 Tahun 2014, Ibid. 2

Tujuan pembuatan UU MD3 Nomor 42 Tahun 2014 adalah untuk mewujudkan peningkatan kedaulatan rakyat berdasarkan kerakyatan yang menyerap dan memperjuangkan aspirasi rakyat guna mewujudkan tujuan nasional demi kepentingan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia secara optimal. Sebelum berlakunya UU No. 42 Tahun 2014, berlaku UU No. 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (MD3). Undang-Undang ini telah memuat pengaturan yang lengkap mengenai MPR, DPR, DPD, dan DPRD dalam rangka mewujudkan lembaga yang mampu mengejawantahkan nilai-nilai demokrasi serta menyerap dan memperjuangkan aspirasi rakyat dan daerah sesuai dengan tuntutan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun masih terdapat beberapa ketentuan dalam UU No. 17 Tahun 2014 yang tidak sesuai dengan perkembangan hukum dan kebutuhan masyarakat serta sistem pemerintahan presidensial, sehingga dipandang perlu untuk melakukan penyempurnaan melalui perubahan UU No. 17 Tahun 2014. Beberapa ketentuan yang perlu disempurnakan adalah ketentuan mengenai penggunaan hak interpelasi, hak angket, hak menyatakan pendapat atau hak anggota DPR mengajukan pertanyaan kepada: a. pejabat negara atau pejabat pemerintah yang mengabaikan atau tidak melaksanakan rekomendasi DPR atau tidak melaksanakan keputusan dan/atau kesimpulan rapat kerja komisi atau rapat kerja gabungan komisi 3

serta permintaan DPR kepada Presiden untuk menjatuhkan sanksi administratif kepada pejabat negara atau pejabat pemerintah tersebut; dan b. badan hukum atau warga negara yang mengabaikan atau tidak melaksanakan rekomendasi DPR atau tidak melaksanakan keputusan dan/atau kesimpulan rapat kerja komisi atau rapat kerja gabungan komisi serta permintaan DPR kepada instansi yang berwenang untuk menjatuhkan sanksi kepada badan hukum atau warga negara tersebut. Di samping itu dilakukan pula penyempurnaan terhadap ketentuan mengenai susunan pimpinan alat kelengkapan DPR yaitu Komisi, Badan Legislasi, Badan Anggaran, Badan Kerja Sama Antar-Parlemen, Mahkamah Kehormatan Dewan, dan Badan Urusan Rumah Tangga yang dilakukan dengan cara menambah jumlah wakil ketua sebanyak 1 (satu) orang pada setiap alat kelengkapan DPR tersebut guna meningkatkan kinerja DPR dalam melaksanakan fungsi, wewenang, dan tugasnya serta untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap DPR sebagai lembaga perwakilan yang mencerminkan representasi rakyat. 2 Dengan telah dilakukannya perubahanperubahan tersebut dalam UU MD3 yang baru (UU No. 42 Tahun 2014, maka diharapkan pelaksanaan aspirasi dan kepentingan rakyat yang diemban DPR/DPRD akan lebih optimal. Dalam praktek untuk memilih anggota DPR/DPRD, partai politik diletakkan sebagai peserta dalam suatu pemilihan umum yang memilih anggota DPR. Proposisi ini secara tegas dinyatakan dalam Pasal 22E ayat (3) 2 Penjelasan Umum UU No. 42 Tahun 2014. 4

UUD 1945 yang menyebutkan bahwa Peserta Pemilihan Umum untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah partai politik. Pasal tersebut menunjukkan bahwa penempatan seorang anggota DPR adalah merupakan pemberian mandat dari sebuah partai politik. Dengan kata lain tanpa partai politik mustahil seseorang dapat menjadi anggota DPR, selain itu setiap anggota DPR tergabung dalam Fraksi yang merupakan representasi dari eksistensi partai politik di (DPR), sehingga terdapat konteks pertanggungjawaban antar keduanya. Di satu sisi anggota DPR bertanggungjawab atas penegakan AD/ART partai politik dan sisi lainnya partai politik memiliki tanggungjawab untuk melakukan kontrol terhadap kinerja para anggotanya di DPR dan bentuk kontrol (pertanggungjawaban parpol) tersebut adalah dalam bentuk mekanisme hak recall parpol. Sejalan dengan itu, dalam percaturan politik tanah air, sering terdengar ada anggota DPR/DPRD yang di-recall. Recall dipahami secara umum sebagai penarikan kembali anggota DPR/DPRD untuk diberhentikan dan kemudian digantikan dengan anggota lainnya sebelum berakhir masa jabatannya. 3 Recall dapat dilakukan oleh partai politik dan juga Badan Kehormatan DPR/DPRD. 4 Recall oleh partai politik biasanya dilakukan dengan alasan yang bersangkutan melanggar kebijakan partai atau AD/ART partai. Hak recall partai politik ini cenderung didasarkan atas pertimbangan politis 3 Lihat UU No. 42 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (UU MD3). 4 Yusril Ihza Mahendra, 1996, Dinamika Tatanegara Indonesia, Gema Insani Press, Jakarta, hal. 16. 5

semata, apabila partai politik menganggap tindakan anggotanya yang mengemban keanggotaan DPR/DPRD di luar garis kebijakan partai politik. Di lain pihak, recall oleh Badan Kehormatan DPR/DPRD dilakukan dengan alasan yang bersangkutan melanggar kode etik DPR/DPRD, misalnya melakukan perbuatan asusila, korupsi, dan tindakan-tindakan pelanggaran kode etik lainnya. Ketika seseorang diberhentikan sebagai anggota partai politik berakibat secara serta merta ia diberhentikan sebagai anggota DPR/DPRD. Oleh karena itulah recall bagi anggota parlemen seringkali menjadi momok yang menakutkan, baik bagi yang vokal menyuarakan jeritan rakyat maupun yang berperilaku menyimpang dari garis partai, sekaligus juga bagi anggota parlemen yang berperangai buruk di mata rakyat. Sejak pemerintahan Orde Baru hingga pasca reformasi, recall terhadap anggota DPR/DPRD selalu menarik untuk dikaji baik dalam perspektif politik maupun hukum. Kebijakan recall pernah menghilang dari perpolitikan Indonesia pasca reformasi yakni dalam UU No. 4 Tahun 1999 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD. Hilangnya wacana recall dari panggung politik pasca reformasi 1998 mungkin memang menjadi bagian dari tuntutan reformasi di era transisi demokrasi saat itu. 5 Ketika tahap konsolidasi demokrasi mulai dilakukan, justru recall anggota DPR/DPRD muncul kembali dalam UU No. 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD. 5 Ni matul Huda, Recall Anggota DPR dan DPRD dalam Dinamika Ketatanegaraan Indonesia, e-jurnal, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, pp. 460-478. 6

Istilah recall dalam ketatanegaraan di Indonesia, juga dikenal sebagai penggantian antar waktu. Terdapat beberapa alasan, mengapa pergantian antar waktu diperbolehkan. Hal ini diatur dalam peraturan-peraturan yang mengatur tentang MPR, DPD, DPR, dan DPRD. Salah satu alasan yang menimbulkan problematik adalah alasan dimana pemberhentian antar waktu dilaksanakan atas usul partai politik. 6 Regulasi inilah yang menimbulkan permasalahan, karena seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat, duduk sebagai anggota Parlemen dengan legitimasi dari suara rakyat, dan bukan dari suara Partai Politik. Tidak dapat dipungkiri bahwa partai politik adalah salah satu unsur penting dinamika ketatanegaraan Indonesia, namun sebagaimana diketahui bahwa Indonesia menganut prinsip Separation Of Power with Checks and Balances maka perlu adanya pembatasan terhadap kekuasaan partai politik, terutama partai politik yang memegang pucuk pimpinan tertinggi, baik di ranah kekuasaan legislatif, maupun di ranah kekuasaan ekskutif. Semangat yang dibangun dengan mekanisme recall sebenarnya memuat tujuan yang positif, yaitu sebagai mekanisme kontrol terhadap anggota partai politik. Setidaknya ada beberapa argumentasi yang bisa dijadikan dasar atas diberlakukannya mekanisme recall di Indonesia yang menganut sistem multipartai, sebagaimana dikemukakan oleh Nike K. Rumokoy berikut ini. 6 Lihat Pasal 213 ayat (1) yang dijabarkan lebih lanjut mengenai alasan-alasannya dalam Pasal 213 ayat (2) UU No. 27 Tahun 2009. Demikian juga lihat Pasal 239 ayat (2) huruf d dan Pasal 240 ayat (1) UU No. 42 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 7

Pertama, recall dibutuhkan sebagai upaya preventif untuk mengantisipasi gejolak politik yang dapat ditimbulkan dalam sistem multipartai dan koalisi yang hal itu bisa saja menimbulkan instabilitas politik. Hal ini dikarenakan apabila tidak ada mekanisme recall dikhawatirkan anggota parpol yang duduk di DPR bisa membuat blunder terhadap kesepakatan-kesepakatan yang telah ditandatangani di dalam koalisi. Perlu dipahami bahwa dengan sistem multipartai dan sistem presidensil sekarang ini, jelas bahwa eksekutif (presiden) dalam menjalankan program-programnya membutuhkan dukungan mayoritas di parlemen. Apabila program-program kerja yang telah disusun presiden tidak mendapat respon positif dari anggota DPR, yang hal tersebut diakibatkan oleh ulah nakal anggota DPR yang tergabung dalam koalisi, maka secara otomatis akan terjadi deadlock. Dalam konteks inilah maksud dan tujuan recall harus tetap dipertahankan. Kedua, salah satu upaya dalam memberdayakan Parpol adalah dengan memberikan hak atau kewenangan untuk menjatuhkan tindakan dalam menegakkan disiplin terhadap anggotanya, agar anggota tidak bersikap dan berbuat menyimpang, apalagi bertentangan dengan AD/ART. Artinya apabila Parpol tidak diberi kewenangan menjatuhkan sanksi terhadap anggotanya yang menyimpang dari AD/ART atau kebijaksanaan Parpol maka anggota Parpol bebas berbuat semenamena. Oleh karenanya recall dijadikan sebagai mekanisme pengawasan. Dalam tataran ini pada hakikatnya recall berfungsi sebagai penegak otoritas dan integritas partai politik. Jika dilihat dari alasan perlunya mekanisme recall di atas, dapat diketahui ada sisi baik dari mekanisme recall. Akan tetapi di sisi lain, recall terhadap anggota DPR/DPRD sama halnya dengan membonsai hak asasi anggota DPR/DPRD yang bersifat inheren. Recall merupakan bentuk pembatasan atas kebebasan berpendapat, karena seorang anggota DPR/DPRD akan merasa takut untuk menunjukkan sikap atau menyampaikan pendapat yang berbeda, karena khawatir di-recall oleh parpolnya. 7 Hal sebagaimana diuraikan di atas pernah dialami oleh Djoko Edhi Sutjipto Abdurrahman. Gara-gara kedapatan mengikuti studi banding 7 Nike K. Rumokoy, Kajian Yuridis tentang Hak Recall Partai Politik dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia, Jurnal Hukum Universitas Sam Ratulangi Manado, Vol. XX, No. 1, Januari-Maret 2012, pp. 1-7. 8

Rancangan Undang-Undang (RUU) Perjudian ke Mesir, Djoko Edhi Sutjipto Abdurrahman yang merupakan anggota Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) di-recall. Dalam perkara ini, Djoko Edhi merasa hak konstitusionalnya untuk melaksanakan aspirasi dan amanat rakyat dan hak pelaksanaan tugas DPR dengan baik telah terlanggar dengan recall atas dirinya. Karenanya, Djoko Edhi memohonkan judicial review UU Susduk dan UU Parpol ke Mahkamah Konstitusi (MK). 8 MK sendiri dalam putusannya yang berkomposisi 5:4 menolak permohonan itu yang berarti bahwa Mahkamah Konstitusi menyatakan hak recall Parpol adalah sah atau konstitusional. Sejarah juga mencatat Sri Bintang Pamungkas di-recall oleh Partai Persatuan Pembangunan pada tahun 1995. Penyebabnya adalah Sri Bintang sering menyampaikan kritik terhadap Pemerintah. Puncaknya, Bintang menolak pertanggungjawabannya kepada Presiden Soeharto pada tahun 1993, sehingga ia di-recall. Tidak terima dengan recall atas dirinya, Sri Bintang menggugat Keppres No. 150/M Tahun 1995 yang memuat pemecatan dirinya sebagai anggota DPR. Ia mendaftarkan gugatannya pada PTUN pada tanggal 10 Agustus 1995, namun kandas. Hakim menyatakan recall atas dirinya sah. Berbeda dengan Sri Bintang, Djoko Edhi pada awalnya berupaya lewat jalur internal, yakni Badan Arbitrase PAN, namun upayanya gagal. Setelah upaya internal gagal, Djoko Edhi maju ke MK dan hasilnya tidak berbeda, yaitu gagal juga. Mengenai upaya hukum ini, Jimly Asshidiqie menilai bahwa recall oleh partai politik terhadap anggotanya yang ada di DPR tidak dapat 8 Aru, "Mempertanyakan Hegemoni Recall Anggota DPR di Tangan Partai Politik", http://www.hukumonline.com diakses pada tanggal 22 Juli 2016. 9

dibenarkan jika dilakukan serta merta tanpa melalui satu due process of law dalam mekanisme hukum. 9 Prinsip due process of law dalam negara hukum adalah suatu keniscayaan. Hukum dalam sebuah negara hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu yang ditandai dengan hadirnya hukum yang benar-benar melindungi segenap warga negara untuk mewujudkan potensi dirinya dan disaat yang bersamaan hukum juga harus adil. Keberadaan dan keberlangsungan hukum seperti ini mutlak harus ada di negara hukum. 10 Dalam peristilahan yang disebutkan dalam paham Negara Hukum, due process of law diartikan sebagai Penegakan hukum dengan cara tidak bertentangan dengan hukum. Sejalan dengan itu istilah due process of law juga mempunyai konotasi bahwa segala sesuatu harus dilakukan secara adil. Konsep due process of law sebenarnya terdapat dalam konsep hak-hak fundamental (fundamental rights) dan konsep kemerdekaan/kebebasaan yang tertib (ordered liberty). 11 Dalam konteks recall, due process of law diimplementasikan dengan melakukan recall sesuai dengan mekanisme yang ditentukan dalam Undangundang dan peraturan yang berlaku, tidak bertentangan dengan hukum, menjamin keadilan bagi semua pihak, dan tidak dijadikan sebagai alat partai untuk menekan anggota DPR/DPRD manakala yang bersangkutan dianggap tidak seirama dengan kebijakan partai politik. 9 Aru, "Mempertanyakan Hegemoni Recall Anggota DPR di Tangan Partai Politik", Ibid. 10 Irwan Kartiwan, Hendra N. Soenardji, Kamajaya Al Katuuk, 2014, Ruang-ruang gelap Jasa Konstruksi Indonesia, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, hal. 170. 11 Munir Fuady, 2009, Teori Negara Hukum Modern (Rehctstaat), Refika Aditama, Bandung, hal. 46. 10

Sejalan dengan pendapat Jimly Asshidiqie, penggunaan hak recall oleh Parpol, Hakim Mahkamah Konstitusi Laica Marzuki yang merupakan salah satu dari empat hakim konstitusi yang mengadili Sri Bintang Pamungkas, menyatakan bahwa recall legislation tidak lazim diterapkan di Parlemen negara yang menganut Sistem Pemerintahan Presidensiil, yang anggotanya dipilih menurut sistem distrik atau single member constituency. Penggunaan hak recall oleh Parpol, menurut Laica cenderung menjadikan Parpol dominan terhadap anggota partainya sehingga anggota dewan lebih mementingkan kepentingan partainya dari pada membawakan aspirasi rakyat. Anggota dewan yang bersangkutan akan takut pada tindakan recall yang sewaktu-waktu dapat dikenakan terhadap dirinya. Dengan demikian, menurut Laica parlemen menjadi tidak solid serta tidak stabil, serta dikendalikan oleh elit partai-partai politik. Oleh karena itulah, ketika mengadili perkara Sri Bintang, Hakim Laica melakukan dissenting opinion (menentang mekanisme recall). Pendapat yang sama juga diberikan oleh Hakim Mahkamah Konstitusi Abdul Mukhtie Fajar yang juga melakukan dissenting opinion dalam perkara Sri Bintang Pamungkas, dengan alasan Indonesia menganut kedaulatan rakyat bukan kedaulatan partai. 12 Anggota DPR dan DPRD itu wakil rakyat ataukah wakil organisasi sosial politik? Pertanyaan inilah yang seringkali muncul manakala terjadi recalling terhadap anggota DPR atau pun DPRD. Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu diketahui bagaimana hubungan antara si wakil 12 Aru, "Mempertanyakan Hegemoni Recall Anggota DPR di Tangan Partai Politik", Ibid. 11

dengan yang diwakilinya. Menurut Gilbert Abcarian hubungan antara wakil dengan yang diwakili ada 4 (empat) tipe, yaitu: 13 1. Si wakil bertindak sebagai wali (trustee). Wakil bebas bertindak mengambil keputusan menurut pertimbangannya sendiri tanpa perlu berkonsultasi dahulu dengan yang diwakilinya. 2. Wakil bertindak sebagai utusan (delegate). Wakil bertindak sebagai utusan atau duta dari yang diwakilinya. Wakil selalu mengikuti instruksi dan petunjuk dari yang diwakilinya dalam melaksanakan tugas. 3. Wakil bertindak sebagai politico. Wakil kadang-kadang bertindak sebagai wali dan ada kalanya bertindak sebagai utusan. Tindakan ini bergantung dari isi (materi) yang akan dibahas. 4. Wakil bertindak sebagai partisan. Wakil bertindak sesuai dengan keinginan atau program partainya. Setelah wakil dipilih oleh pemilihnya maka lepaslah hubungan dengan pemilihnya. Mulailah hubungan terjalin dengan parpol yang mencalonkannya dalam pemilihan tersebut. Di lain pihak, menurut A. Hoogerwer hubungan antara si wakil dengan yang diwakilinya, yang terdiri dari 5 (lima) model, yaitu: 14 1. Model delegate (utusan). Di sini si wakil bertindak sebagai yang diperintah seorang kuasa usaha yang harus menjalankan perintah dari yang diwakilinya. 13 Gilbert Abcarian dan George S. Massanat, 1970, Contemporary Political System, Charler Scribner s and Son, New York, Charler Scribner s and Son, New York, hal. 177-178. Sebagaimana dikutip kembali oleh Bintan R. Saragih, 1988, Lembaga Perwakilan dan Pemilihan Umum di Indonesia, Gaya Media Pratama, Jakarta, hal. 85. 14 Gilbert Abcarian dan George S. Massanat, 1970, Contemporary Political System, Charler Scribner s and Son, New York, hal. 177-178. Sebagaimana dikutip kembali oleh Bintan R. Saragih, 1988, Lembaga Perwakilan dan Pemilihan Umum di Indonesia, hal. 85-86. 12

2. Model trustee (wali). Di sini si wakil bertindak sebagai orang yang diberi kuasa, yang memperoleh kuasa penuh dari yang diwakilinya. Jadi ia dapat bertindak berdasarkan pendirian sendiri. 3. Model politicos. Di sini si wakil kadang-kadang bertindak sebagai delegasi dan kadang-kadang bertindak sebagai kuasa penuh. 4. Model kesatuan. Di sini anggota parlemen dilihat sebagai wakil seluruh rakyat. 5. Model diversifikasi (penggolongan). Anggota parlemen dilihat sebagai wakil dari kelompok territorial, sosial atau politik tertentu. Dari teori Abcarian dan Hoogerwer di atas jika dikontekskan dengan fenomena hubungan antara wakil rakyat dengan partai politiknya di Indonesia, terlihat bahwa hubungannya adalah partisan karena wakil rakyat bertindak sesuai dengan keinginan atau program dari organisasi sosial politik yang mengusungnya, bukan sebagai wali (trustee) atau pun utusan (delegate). Dalam sistem ini, setelah wakil rakyat dipilih oleh pemilihnya maka lepaslah hubungannya dengan pemilihnya tersebut, dan mulailah hubungannya dengan partai politik yang mencalonkannya dalam pemilihan umum, sehingga yang lebih disuarakan adalah suara partai bukan suara konsituen pemilihnya. 15 Hubungan partisan seperti ini akan menjadi belenggu bagi wakil rakyat yang benar-benar ingin menyuarakan aspirasi rakyat yang diwakilinya manakala hal itu berseberangan dengan kebijakan partai politiknya. Dalam posisi yang demikian seolah terjadi gap antara 15 Ni matul Huda, Recall Anggota DPR dan DPRD dalam Dinamika Ketatanegaraan Indonesia, e-jurnal, Op. Cit., pp. 460-478. 13

wakil rakyat dengan yang pemilihnya. Dalam pertimbangannya pada Putusan MK RI No. 008/PUU-IV/2006 Mahkamah Konstitusi menyatakan, dalam sistem pemilihan di mana pemilih langsung memilih nama seseorang sebagai wakil, maka adalah logis jika recall dilakukan oleh pemilih, misalnya melalui mekanisme petisi. Sedangkan dalam sistem pemilihan dengan memilih partai politik dalam hal pemilihan anggota DPR dan DPRD, maka logis pula apabila recall dilakukan oleh partai yang mencalonkan. Dari putusan ini jelas bahwa Putusan MK RI No. 008/PUU-IV/2006 menyiratkan bahwa karena sistem pemilihan adalah pemilihan langsung, maka recall harus dilakukan melalui mekanisme petisi. 16 Lebih lanjut mengenai hak recall ini diatur pula dalam Putusan No. 22-24/PUUVI/2008. Dalam putusan tersebut Mahkamah Konstitusi memberikan satu penilaian dan pendapat hukum bahwa Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 menyatakan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. Hal ini menunjukkan bahwa kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat, sehingga dalam berbagai kegiatan pemilihan umum, rakyat langsung memilih siapa yang dikehendakinya. Besarnya suara pilihan rakyat menunjukkan tingginya legitimasi politik yang diperoleh oleh para calon legislatif maupun eksekutif, sebaliknya rendahnya perolehan suara juga menunjukkan rendahnya legitimasi politik calon yang bersangkutan. 17 16 Putusan MK RI No. 008/PUU-IV/2006 tentang Pengujian Undang-undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawarakatan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik. 17 Putusan MK RI No. 22-24/PUU-VI/2008 tentang Pengujian UU No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD 14

Seharusnya, pasca Putusan MK No. 22-24/PUU-VI/2008, kedudukan anggota DPR dan DPRD semakin kuat karena mewakili rakyat yang dibuktikan melalui besarnya suara pilihan rakyat yang menunjukkan tingginya legitimasi politik yang diperoleh oleh para calon legislatif. Karena itu, keterpilihan calon anggota legislatif tidak boleh bergeser dari keputusan rakyat yang berdaulat kepada keputusan pengurus partai politik. Hal ini menimbulkan akibat hukum, bahwa recall anggota legislatif tidak dapat dilakukan oleh partai politik, tetapi oleh para pemilihnya di wilayah yang dimenanginya. Jika mayoritas penduduk, melalui petisi, memintanya untuk turun dari jabatannya, maka anggota legislatif itu di-recall. Apabila tidak, maka ia tetap berhak menjadi wakil rakyat yang duduk di kursi legislatif. Sebagai konsekuensinya, pemberhentian anggota DPR/DPRD yang dimaksud menurut Pasal 22B UUD 1945 tidak boleh semata-mata diputuskan sebagai mekanisme internal partai, tetapi harus melalui mekanisme eksternal berupa pelaksanaan petisi untuk menentukan layak tidaknya seorang anggota DPR/DPRD di-recall. Recall oleh partai politik atas anggotanya yang duduk di lembaga perwakilan dengan alasan pelanggaran AD/ART (Pasal 12 huruf h jo. Pasal 16 ayat (1) huruf d UU Parpol) tidak menjamin prinsip due process of law yang merupakan salah satu prinsip negara hukum, karena bisa bersifat subjektif pimpinan partai politik yang sulit dikontrol oleh publik. Yang masih bersifat objektif dan dapat diterima ialah recalling atas dasar alasan mengundurkan diri dari parpol atau masuk parpol lain, atau melanggar 15

peraturan perundang-undangan seperti melakukan korupsi, perbuatan asusila, makar, atau dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih, dan lain-lain. 18 Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa proses recall anggota legislatif yang tidak sesuai dengan prinsip due process of law merupakan bentuk ketidakadilan yang dialami angggota yang bersangkutan. Hal ini tidak boleh terus dibiarkan dalam konteks negara Indonesia yang merupakan negara hukum. Berkaitan dengan itu, Penulis tertarik untuk meneliti mengenai kajian yuridis wewenang partai politik dalam melakukan recall anggota legislatif ditinjau dari prinsip due process of law yang berkeadilan. Hasil penelitian dituliskan dalam bentuk karya ilmiah tesis. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dirumuskan masalah sebagai berikut. 1. Bagaimanakah pengaturan mekanisme recall dalam UU Nomor 42 Tahun 2014 tentang MD3? 2. Bagaimana praktek pelaksanaannya, apakah sudah sesuai dengan prinsip due process of law yang berkeadilan? 3. Bagaimana hambatan yang terjadi dalam pelaksanaannya dan apa upaya pemerintah untuk mengatasinya? IV/2006. 18 Lihat Dissenting Opinion Abdul Mukthie Fadjar dalam Putusan MK RI No. 008/PUU- 16

C. Tujuan Penelitian Sesuai dengan masalah yang telah dirumuskan, tujuan penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaturan mekanisme recall dalam UU Nomor 42 Tahun 2014 tentang MD3. 2. Untuk mengetahui dan menganalisis praktek pelaksanaan recall, apakah sudah sesuai dengan prinsip due process of law yang berkeadilan. 3. Untuk mengetahui dan menganalisis hambatan yang terjadi dalam pelaksanaan recall dan upaya pemerintah untuk mengatasinya. D. Manfaat Penelitian Penelitian ini memberikan manfaat sebagai berikut. 1. Manfaat Teoretis Secara teoretis penelitian ini membangun teori baru ilmu hukum ketatanegaraan khususnya mengenai mekanisme recall anggota legislatif yang sesuai dengan prinsip due process of law yang berkeadilan, serta dapat menjadi dasar pijakan bagi pengembangan ilmu tata negara untuk selanjutnya. 2. Manfaat Praktis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan perbaikan terhadap mekanisme recall anggota legislatif, sehingga dihasilkan sistem recall yang benar-benar adil dan sesuai dengan prinsip due process of law dan tidak merugikan siapapun. 17

Pemilihan anggota DPR/DPRD dengan sistem proporsional terbuka dan suara terbanyak sama halnya dengan pemilihan Kepala Daerah dan Presiden. Hal ini membawa implikasi bahwa sistem recall oleh rakyat dengan alasan yang bersangkutan melanggar hukum dan/atau melanggar kewajiban konstitusionalnya juga dapat diberlakukan kepada Kepala Daerah dan Presiden. Hal ini bisa diterapkan di Indonesia sebagai terobosan hukum sesuai dengan teori hukum progresif yang berusaha membalikkan keadaan dengan melakukan perubahan hukum yang fundamental demi terciptanya hukum yang dicita-citakan. E. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan tesis ini terdiri dari lima bab. Adapun sistematika selengkapnya adalah sebagai berikut. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Rumusan Masalah C. Tujuan Penelitian D. Manfaat Penelitian E. Sistematika Penulisan BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sejarah Ketentuan tentang Recall Bagi Anggota Legislatif B. Pandangan Ahli B.1. Teori Negara Hukum 18

B.2. Teori Perlindungan Hukum B.3. Teori Keadilan B.3.1. Keadilan Sebagai Fairness (Tidak Memihak) B.3.2. Posisi Asali B.3.3. Dua Prinsip Keadilan B.3.4. Keadilan dalam Penataan Institusi-institusi Politik dan Ekonomi B.4. Teori Demokrasi B.5. Teori Hukum Progresif B.6. Konsep Due Process of Law B.7. Teori tentang Partai Politik BAB III METODE PENELITIAN A. Paradigma Penelitian B. Metode Pendekatan C. Spesifikasi Penelitian D. Sumber dan Metode Pengumpulan Data E. Metode Penentuan Sampel F. Metode Analisis Data BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pengaturan Mekanisme Recall dalam UU Nomor 42 Tahun 2014 tentang MPRD, DPD, DPR dan DPRD A.1. Mekanisme Recall Anggota DPR oleh Partai Politik A.2. Mekanisme Recall Anggota DPRD Provinsi oleh Partai 19

Politik A.3. Mekanisme Recall Anggota DPRD Kabupaten/Kota oleh Partai Politik B. Praktek Pelaksanaan Recall Sekarang ini Dilihat dari Prinsip Due Process Of Law yang Berkeadilan B.1. Penerapan Konsep Due Process of Law yang Prosedural B.2. Penerapan Konsep Due Process of Law yang Substantif C. Hambatan yang Terjadi dalam Pelaksanaan Recall yang Sesuai dengan Prinsip Due Process Of Law dan Upaya Pemerintah Untuk Mengatasinya C.1. Hambatan Pelaksanaan Recall yang Sesuai Prinsip Due Process of Law yang Berkeadilan C. 2. Upaya Pemerintah Agar Tercipta Recall yang Sesuai Prinsip Due Process of Law yang Berkeadilan BAB V PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran 20