BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Perkembangan Motorik kasar 1. Pengertian perkembangan motorik kasar Perkembangan motorik adalah perkembangan dari unsur kematangan dan pengendalian gerak tubuh dan perkembangan tersebut erat kaitannya dengan perkembangan pusat motorik otak. Perkembangan motorik kasar adalah gerakan yang dilakukan melibatkan sebagian besar bagian tubuh dan biasanya memerlukan tenaga karena dilakukan oleh otot yang lebih besar (Depkes, 2008, dalam Sukesih 2009). Motorik kasar merupakan gerakan tubuh yang membutuhkan keseimbangan dan koordinasi antar anggota tubuh atau gerakan yang menggunakan otot-otot besar, sebagian atau seluruh anggota tubuh (Kurniasih, 2008 dalam yuiniati, 2009). 2. Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Motorik Faktor-faktor yang dapat mempercepat atau memperlambat perkembangan motorik antara lain ialah (Rumini, dkk, 2004) : a. Faktor genetik Individu yang mempunyai beberapa faktor keturunan yang dapat menunjang perkembangan motorik misalnya otot kuat, syaraf baik, cerdas, menyebabkan perkembangan motorik individu tersebut menjadi baik dan cepat. b. Faktor kesehatan pada periode pranatal Janin yang selama dalam kandungan dalam keadaan sehat, tidak keracunan, tidak kekurangan gizi, tidak kurang vitamin, dapat membantu memperlancar perkembangan motorik anak. c. Faktor kesulitan dalam kelahiran 6
7 Bayi yang mengalami kesulitan dalam kelahiran, misalnya dalam perjalanan kelahiran, kelahiran dengan bantuan alat (vacum, tang) sehingga bayi mengalami kerusakan otak, akan memperlambat perkembangan motorik bayi. d. Kesehatan dan gizi Kesehatan dan gizi yang baik pada awal kehidupan pasca lahir akan mempercepat perkembangan bayi. e. Rangsangan Adanya rangsangan, bimbingan dan kesempatan anak untuk menggerakkan bagian tubuh, akan mempercepat perkembangan motorik. f. Perlindungan Perlindungan yang berlebihan sehingga anak tidak ada waktu untuk bergerak, misalnya anak hayanya digendong trus, ingin naik tangga tidak boleh, akan menghambat perkembangan motorik anak. g. Prematur Kelahiran sebelum masanya disebut prematur, biasanya memperlambat perkembangan motorik. h. Kelainan Individu yang mengalami kelianan, baik fisik maupun psikis, sosial, mental, biasanya mengalami hambatan perkembangan motorik. i. Kebudayaan Peraturan setempat dapat mempengaruhi perkembangan motorik anak. Misalnya ada daerah yang tidak mengijinkan anak putri naik sepeda, maka tidak akan diberi pelajaran naik sepeda roda tiga. 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan motorik kasar Faktor-faktor yang dapat mempercepat atau memperlambat perkembangan motorik antara lain ialah (Rumini, dkk, 2004) : a. Faktor kesehatan dan gizi
8 Kecukupan pangan yang sesuai baik kualitas dan kuantitas sangat penting dalam memicu perkembangan motorik kasar yang normal. Pada malnutrisi protein kalori yang berat terjadi keterlambatan dalam pertumbuhan tulang dan maturasi, kelambatan penyatuan epivisi sekitar satu tahun dibandingkan dengan anak gizi cukup, dan proses pubertas juga mengalami keterlambatan. Banyak zat atau unsur yang penting untuk memicu perkembangan motorik kasar bayi, yaitu yodium, kalsium, fosfor, magnesium, besi, flour, dan juga beberapa macam vitamin, seperti vitamin A, B12, C, dan D dapat mempengaruhi perkembangan bayi. 4. Tahap perkembangan motorik kasar usia 7-8 bulan (Denver). a. Usia 7-8 bulan 1) Bayi dapat duduk tanpa pegangan 2) Bayi dapat berdiri dengan berpegangan 3) Bangkit lalu duduk 4) Bangkit untuk berdiri 5. Cara mengukur perkembangan motorik kasar a. Menggunakan denver development stress test (DDST). DDST adalah salah satu dari metode skrining terhadap kelainan terhadap perkembangan anak, tes ini bukanlah tes diagnostik atau tes IQ. DDST memenuhi semua persyaratan yang diperlukan untuk metode skrining yang baik. Tes ini mudah dan cepat (15-20 menit), dapat diandalkan dan menunjukkan validitas tinggi. Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan ternyata DDST secara efektif dapat mengidentifikasikan 80-100% bayi dan anak-anak prasekolah yang mengalami keterlambatan perkembangan, dan pada follow up selanjutnya ternyata 89% dari kelompok DDST abnormal mengalami kegagalan di usia 5-6 tahun kemudian.
9 Tetapi dari penelitian Borowitz (1986) menunjukkan bahwa DDST tidak dapat mengidentifikasikan setengah dari anak yang mengalami kelainan bicara. Frankerburg melakukan revisi dari DDST tersebut diganti dengan denver II. 1) Aspek perkembangan yang dinilai Semua perkembangan itu disusun berdasarkan urutan perkembangan dan diatur dalam 4 kelompok besar yang dsebut sektor perkembangan, yang meliputi : a) Personal sicial (perilaku sosial) b) Fine motor adaptive (gerakan motorik halus) c) Language (bahasa) d) Gross motor (gerakan motorik kasar) Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh. Setiap tugas (kemampuan) digambarkan dalam bentuk kotak persegi panjang horisontal yang berurutan menurut umur, dalam lembar DDST. Pada umunnya pada saat waktu tes, tugas yang perlu diperiksa pada waktu setiap kali skrining hanya berkisar antara 25-30 tugas saja, sehingga tidak memakan waktu lama hanya sekitar 15-20 menit. 2) Alat yang digunakan a) Alat peraga : benang wol merah, kismis/manik-manik, kubus warna merah-kuning, hijau biru, permainan anak, btol kecil, bola tenis, bel kecil, kertas, dan pensil. b) Lembar formulir DDST c) Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan caracara melakukan tes dan cara penilaiannya. 3) Prosedur DDST terdiri dari 2 tahap, yaitu : a) Tahap I : secara periodik dilakukan pada setiap anak yang berusia: (1) 3-6 buan
10 (2) 9-12 bulan (3) 18-24 bulan (4) 3-5 tahun b) Tahap II : dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan perkembangan pada tahap I. Kemudian dilanjutkan pada tahap evaluasi diagnostik yang lengkap. 4) Cara penilaian Buku petunjuk terdapat penjelasan tentang bagaimana melakukan penilaian apakah lulus (passed=p), gagal (fail=f), atau anak tidak mendapat kesempatan melakukan tugas (No.Opportunity=N.O). kemudian digaris sesuai umur kronologisyang memotong garis horisontal tugas perkembangan pada formulir DDST. Setelah dihitung pada masing-masing sektor, berapa yamg P dan berapa yang F, selanjutnya berdsarkan pedoman, hasil tes diklasifikasikan daalam : Normal, Abnormal, dan meragukan (Questionable) dan tidak dapat dites (Untesteble) a) Abnormal (1) Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan, pada dua sektor atau lebih. (2) Bila dalam 1 sektor atau lebih di dapatkan 2 atau lebih keterlambatan PLUS 1 sektor atau lebih dengan keterlambatan dan apad 1 swktor yang sama tersebut tidak ada yang luluspada kontak yang berhubungan dengan garis vertikal usia. b) Meragukan (1) Bila dalam 1 sektor mengalami 2 keter lambatan atau lebih. (2) Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tidak ada
11 yang lulus pada kontak yang berpotongan pada garis verikal usia. (3) Tidak dapat dites (4) Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi abnormal atau meragukan. c) Normal Semua yang tidak tercantum didalam kreteria tersebut di atas. Dalam pelaksanaan skrining dengan DDST ini, umur anak perlu ditetapkan terlebih dahulu, dengan menggunakan patokan 30 hari untuk 1 bulan dan 12 bulan untuk 1 tahun. Jika dalam perhitiungan umum kurang dari 15 dibuletkan kebawah dan sama dengan atau lebih dari 15 hari dibulatkan keatas. Agar lebih cepat dalam melasanakan skrining, maka dapat digunakan tahap praskrining dengan menggunakan : a) DDST short form, masing-masing sektor hanya diambil 3 tugas 8 seluruhnya ada 12 bulan, yang ditanyakan pada ibunya. Bila didapatkan salah satu gagal atau ditolak, maka dianggap suspect dan perlu dilanjutkan dengan DDST lengkap. Dari penelitian Frenkenburg didapatkan 25% anak pada pemeriksaan DDST short from ternyata memerlukan pemeriksaan DDST lengkap b) PDQ (pra-screenning development questionnaire) Bentuk koesioner ini digunakan orang tua yang berkependidikan SLTA keatas. Dapat diisi orang tua dirumah atau pada saat menunggu di klinik. Dipilih 10 pertanyaan pada koesioner yang sesuai dengan umur anak. Kemungkinan dinilai berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan, dan pada kasus yang dicurigai dilakukan tes DDST lengkap (Marimbi, 2010)
12 B. MP-ASI 1. Pengertian MP-ASI Makanan pendamping ASI adalah makanan dan minuman yang mengandung gizi yang diberikan kepada bayi untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Makanan pendamping merupakan proses perubahan dari asupan susu menuju ke makanan semi padat. Hal ini dilakukan karena bayi membutuhkan lebih banyak gizi. Bayi juga ingin berkembang dari refleks menghisap menjadi menelan makanan yang berbentuk cairan semi padat dengan memindahkan makanan dari lidah ke bagian depan dan belakang (Sukaca, 2009) Pemberian MP-ASI harus dilakukan secara bertahap dan sesuai dengan kemampuan bayi. Hal ini dimaksudkan agar kualitas dan kuantitas untuk peertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan bayi berkembang dengan pesat (Sukaca, 2009) Seiring dengan bertambahnya usia anak, ragam makanan yang diberikan harus bergizi lengkap dan seimbang. Peran zat gizi ini penting untuk menunjang tumbuh kembang anak. Dalam hal pengaturan pola konsumsi makan, ibu mempunyai peran yang sangat penting dalam memilih jenis makanan yang bergizi seimbang. Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) adalah makanan atau minuman yang mengandung zat gizi, diberikan kepada bayi atau anak usia 6-24 bulan guna memenuhi kebutuhan gizi selain dari ASI (Depkes, 2006 dalam Khandila, 2010). 2. Tujuan pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) Menurut Marimbi 2010 tujuan pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) adalah : a. Melengkapi zat gizi ASI yang sudah berkurang b. Mengembangkan kemampuan bayi untuk menerima bermacammacam makanan dengan berbagai rasa dan bentuk c. Mengembangkan kemampuan bayi untuk mengunyah dan menelan
13 d. Mencoba adaptasi terhadap makanan yang mengandung kadar energi tinggi 3. Cara pemberian makanan pendamping ASI pada bayi a. Berikan secara hati-hati, sedikit demi sedikit dari bentuk encer kemudian yang lebih kental secara berangsur-angsur. b. Makanan diperkenalkan satu persatu sampai bayi benar-benar dapat menerimanya. c. Makanan yang dapat menimbulkan alergi diberikan paling terakhir dan harus dicoba sedikit demi sedikit. d. Dalam pemberian makanan jangan dipaksa sebaiknya diberikan pada waktu lapar (Marimbi, 2010). 4. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemberian makanan pendamping ASI ( MP-ASI ) Pemberian makanan pendamping ASI terdapat beberapa tahapan dalam pemberiannya yaitu : a. Mutu bahan makanan, mutu bahan makanan yang baik sangat penting dalam membantu proses pertumbuhan karena yang tergantung di dalam makanan sangat tinggi. b. Tekstur dan kekentalan makanan, bayi dengan tekstur makanan lumat, cair akan membantu dalam proses makan secara bertahap. c. Jenis makanan, bayi yang secara dini diperkenalkan satu per satu jenis makanan supaya mengenal dengan baik sehingga nantinya dengan perkembangan waktu dapat menerima makanan yang baru. d. Jumlah atau porsi makanan, pemberian makanan secara bertahap merupakan cara yang tepat dalam proses makanan. Jangan sekali memaksa bayi untuk menghabiskan makanan karena akan mengurangi rasa selera makan bayi. e. Urutan pemberian MP-ASI, makanan yang diberikan secara bertahap dan berurutan dari makanan yang ringan kemudian agak padat, seperti maknan saring, nasi tim, sari jeruk dan jus kemudian di lanjutkan sayuran dan daging.
14 f. Jadwal waktu makan, jadwal makan yang diperlukan bayi sangat bervariasi tergantung tingkat lapar pada bayi. Jadwal yang sesuai dengan keadaan lapar atau haus yang sngat berkaitan dengan pengosongan lambung sehingga saluran cerna siap untuk makan ( Ferdinan, 2008 ). 5. Syarat-Syarat makanan pendamping ASI Pemberian makanan pendamping pada anak harus memenuhi beberapa syarat yang harus diperhatikan pada ibu, diantaranya adalah : a. Makanan yang disajikan harus sesuai dengan kebutuhan bayi. b. Makanan yang disajikan dapat diterima dengan baik oleh organ pencernaan bayi. c. Makanan yang dsajikan aman dikonsumsi oleh bayi yaitu makanan disajikan bebas dari gangguan pathogen dan organic lainnya bebas dari racun dan bahan-bahan yang berbahaya lainnya. Ditambahkan lagi menurut WHO ( 2003 ) tentang makanan pendamping yang baik untuk bayi adalah : a. Makanan yang dimakan dapat memenuhi kebutuhannya terutama zat-zat besi, kalsium, vitamin A, B, C, D, dan K. b. Bersih dan aman 1) Tidak ada pathogen misalnya tidak ada bakteri penyebab penyakit, atau organisme penyebab penyakit. 2) Tidak ada bahan kimia lainnya yang berbahaya. 3) Makanan yang disajikan tidak terlalu panas. 4) Makanan yang disajikan tidak terlalu pedas. 5) Makanan mudah dicerna oleh organ pencernaan. 6) Makanan disukai oleh anak. 7) Makanan tersedia dan mudah dijangkau. 6. Usia dalam pemberian makanan pendamping ASI ( MP-ASI ) Menurut Lewis ( 2004 ) dan Amalia ( 2006 ) kebutuhan nutrisi yang harus dikonsumsi oleh bayi, yaitu :
15 a. Usia 0-6 bulan Bayi hanya diberi ASI saja, lebih sering lebih baik karena ASI banyak mengandung zat-zat antibody yang sangat dibutuhkan oleh tubuh, serta sangat baik untuk petumbuhan otak si bayi. b. Usia 6-9 bulan Bayi yang diberi ASI dan makanan pendamping pada usia 6 bulan lebih karena dalam hal ini alat cerna sudah berfunsi dengan baik, makanan yang cocok diberikan diantaranya bubur, tepung beras, bubur encer, pisang lumat, dan pepaya lumat. c. Usia 9-12 bulan Bayi diberikan ASI dan makanan pendamping seperti makanan bubur, nasi, dan menginjak usia 10 bulan bayi mulai diperkenalkan makanan keluarga. d. Usia 12-24 bulan Bayi tetap diberikan ASI dan makanan lengkap sekurangkurangnya diberikan 3x sehari dengan porsi setengah makan tetap diberikan makanan selingan 2-3x sehari. 7. Masalah yang sering timbul dalam pemberian MP-ASI a. Alergi makanan dan susu Anak yang alergi terhadap susu sapi pada umumnya juga alergi terhadap makanan lapin. Inilah yang menjadi dasar mengapa susu sapi dan makanan padat tidak boleh diberikan pada bayi sebelum umur enam bulan. b. Konstipasi Sembelit atau konstipasi dapat dialami oleh bayi. Biasanya dikarenakan terlalu banyak makanan padat yang dimakan oleh bayi. Jika hal itu terjadai maka kurangilah makanan yang terlalu padat dan buatlah lebih encer. Begitu juga penggunaan susu sapi biasanya ibu suka membuat susunya lebih pekat sehingga membuat konstipasi. Buatlah susu sesuai petunjuk penggunaan.
16 c. Bayi tersedak Hati-hati jika bayi tersedak. Sebab akan membuat bayi tidak nyaman. Mulailah ibu belajar mengenali makanan yang bisa mengakibatkan anak anda tersedak, biasanya makanan keras, halus, licin, kenyal, dan bulat penuh (Sukaca, 2009). C. ASI Eksklusif 1. Pengertian ASI Eksklusif ASI Eksklusif adalah bayi yang hanya diberi ASI selama 6 bulan, tanpa memberikan tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, dan air putih, serta tanpa memberikan makanan tambahan padat seperti pisang, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan nasi tim. Setelah 6 bulan baru mulai diberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI). ASI dapat biberikan sampai anak usia 2 tahun (Kristiyansari, 2009). Pemberian ASI secara Eksklusif adalah pemberian ASI tanpa menambahkan makanan dan minuman lain pada bayi berusia 0-6 bulan. Makanan dan minuman yang dimaksud adalah susu formula, jeruk, madu, air teh, ataupun makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi dan tim. Bahkan air putih tidak diberikan dalam tahap pemberian ASI Eksklusif (Kodrat, 2010). ASI Eksklusif atau atau lebih tepatnya pemberian ASI secara Eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI saja, tanpa tambahan cairan apapun seperti susu forrmula, jeruk, madu, air putih, dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan tim. Bayi sehat umumnya tidak memerlukan tambahan makanan sampai usia 6 bulan. Pada keadaan khusus dibenarkan/dibolehkann mulai memberikan makanan padat setelah usia 4 bulan tetapi belum berusia 6 bulan. Misalnya karena terjadi peningkatan berat badan kurang atau didapatkan tanda-tanda lain yang
17 menunjukkan pemberian ASI Eksklusif tidak berjalan dengan baik (Roesli, 2000). 2. Fisiologi laktasi ASI dipengaruhi oleh kerja gabungan antara hormon dan reflek. Menurut Roesli (2000), selama kehamilan terjadi perubahan hormon yang berfingsi mempersiapkan jaringan kelenjar susu untuk memproduksi ASI. Terbentuknya hormon esterogen dan progesteron berfungsi untuk maturasi alveoli. Sedangkan hormon prolaktin adalah hormon yang berfungsi untuk produksi ASI. Sebelum kehamilan hormon prolaktin dari plasenta meningkat, tetapi ASI biasanya belum keluar karena masih dihambat oleh hormon esterogen dan progesteron yang tinggi. Pasca persalinan, kadar esterogen dan progesteron turun drastis dan pada saat inilah mulai terjadi sekresi ASI. Pada waktu bayi menghisap ASI, akan terjadi 2 reflek yang menyebabkan ASI keluar pada saat yang tepat dan jumlah yang tepat. Reflek-reflek tersebut adalah : a. Reflek prolaktin/ pembentukan produksi ASI Puting susu terdapat banyak ujung syaraf sensorik, bila dirangsang akan timbul implus yang menuju hipotalamus selanjutnya ke kelenjar hipofisis anterior yang mengeluarkan hormon prolaktin. Hormon ini yang berperan dalam produksi ASI tingkat alveoli. Dengan demikian makin sering rangsangan penyusuan makin banyak pula produksi ASI (Roesli, 2000). b. Let down reflek/ reflek aliran Rangsangan puting susu tidak hanya diteruskan sampai hipofisis anterior, tapi juga ke hipofisis posterior yang mengeluarkan hormon oksitosin yang berfungsi memacu kontraksi otot polos yang ada di dinding alveolus dan dinding saluran ASI sehingga ASI dipompa keluar (Roesli, 2000) 3. Macam-macam ASI Menurut Roesli (2000) ASI dibedakan menjadi 3, yaitu :
18 a. Kolostrum Kolostrum adalah ASI yang keluar dari hari pertama sampai hari ke empat atau hari ke tujuh, berwarna kuning atau dapat juga jernih. Ini lebih menyerupai darah dari pada susu, sebab mengandung sel hidup yang menyerupai sel darah putih yang dapat membunuh kuman. Pada hari pertama dan kedua setelah persalinan, meskipun ASI yang keluar sedikit, tetapi kolostrum yang ada dalam payudara mendekati kapasitas lambung bayi yang berusia 1-2 hari. Kolostrum lebih banyak mengandung protein dibanding dengan ASI matang. b. ASI transisi/ peralihan ASI transisi adalah ASI yang keluar setelah kolostrum sampai sebelum ASI matang. Dimulai sejak hari keempat atau hari ketujuh sampai hari kesepuluh atau hari keempat belas, berwarna kuning keputih-putihan. Kadar protein makin rendah sedangkan kadar karbohidrat makin tinggi dengan volume yang makin meningkat. c. ASI matang/ mature Merupakan ASI yang keluar sekitar hari keempat belas dan seterusnya dengan komposisi relatif konstan, berwarna putih. Pada ibu yang sehat dengan produksi ASI cukup. ASI merupakan satusatunya yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai umur 6 bulan. 4. Komposisi ASI a. Karbohidrat Karbohidrat ASI terasa manis dan segar, karena laktosa ASI memang manis dan segar rasanya. Karbohidrat utma ASI adalah laktosa (gula). Menurut Reosli (2000), ASI lebih banyak mengandung laktosa dibanding dengan susu formula, atau sangat menguntungkan karena laktosa ini difermentasikan menjadi asam
19 laktat. Adanya asam laktat memberi suasana asam, di dalam usus memberikan kandungan, yaitu : 1) Menghambat pertumbuhan bakteri yang patologis. 2) Memacu prtumbuhan mikroorganisme yang memproduksi asam organik dan mensintesis vitamin. 3) Memudahkan absorbsi dari mineral misalnya kalsium dan magnesium. Laktosa relatif tidak larut sehingga waktu proses digesti di dalam usus bayi lebih lama sehingga dapat diabsorbsi dengan baik oleh usus bayi. Selain laktosa yang merupakan 7 % dari total ASI juga terdapat glukosa, galaktosa, dan glukosamin yang merupakan produk-produk dari laktosa. Galaktosa penting untuk pertumbuhan otak danmedulla spinalis karena pertumbuhan di medulla spinalis dan sintesis galaktosida di otak membtuhkan galaktosa. Sedangkan glukosamin merupakan bifidus faktor, disamping laktosa yang memacu pertumbuhan lactobacillus bifidus yang sangat menguntungkan bayi (Roesli, 2000). b. Protein dalam ASI Protein adalah bahan baku untuk pertumbuhan. Protein ASI yang utama adalah whey yang merupakan protein halus dan lembut serta mudah dicerna. Sedangkan protein lainnya adalah : alfa laktalbumin yang melindungi usus bayi dari bakteri, taurin merupakan protein otak yang dibtuhkan untuk pertumbuhan otak, susunan syaraf, juga penting untuk pertumbuhan retina. Kemudian lysosyme yang merupakan satu kelompok antibiotik alami di dalam ASI (Roesli, 2000). c. Lemak dalam ASI Lemak dalam ASI adalah komponen ASI yang dapat beubah-ubah kadarnya. Kadar lemak bervariasi disesuaikan dengan kebutuhan kalori untuk bayi yang sedang tumbuh. Perubahan kadar lemak ini terjadi secara otomatis, dapat menyesuaikan diri dengan
20 jumlah kalori yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bayi dari hari ke hari. Lemak utama ASI adalah ikatan panjang (omega-3, omega-6, DNA, Arachidonic acid) suatu asam lemak esensial, merupakan komponen penting untuk pembentukan selaput isolasi yang melindungi selaput syaraf (mielinisasi) yang akan membantu rangsangan menjalar cepat. Lemak ASI mudah dicerna dan diserap oleh bayi karena mengandung enzim lipase. Lemak juga mengandung kolesterol yang berguna untuk meningkatkan pertumbuhan otak bayi. Kandungan kolesterol dalam ASI tergolong tinggi. Berdasarkan penelitian pada saat pertumbuhan otak yang cepat dibutuhkan kadar kolesterol yang tinggi. Kolesterol juga diperkirakan berfungsi dalam pembentukan enzim untuk metabolisme kolesterol yang akan mengendalikan kadar kolesterol dikemudian hari, sehingga dapat mencegah serangan jantung dan penebalan pembuluh darah (arteri dan sclerosis) pada usia muda (Roesli, 2000). d. Faktor pelindung dalam ASI Pada waktu lahir sampai bayi berusia beberapa bulan, bayi belum dapat membentuk kekebalannya sendiri secara sempurna. ASI mampu memberikan perlindungan baik terhadap infeksi dan bakteri secara aktif maupun pasif dan merangsang perkembangan sistem kekebabalan bayi itu sendiri. Kandungan zat anti infeksi dalam ASI menurut Suradi (2005), yaitu : 1) Sel darah putih ASI mengandung berjuta-juta sel hidup yang menyerupai sel darah putih sehingga dinamakan sel-sel darah putih dalam ASI. Sel ini beredar dari usus bayi dan membunuh kumankuman jahat.
21 2) Immunoglobulin Selain sel-sel darah putih yang hidup. ASI juga mengandung immunoglobulin. Immunoglobulin adalah suatu protein yang beredar dan bertugas memerangi infeksi yang masuk dalam tubuh bayi. Dapat disamakan dengan anti biotik alamiah yang tersebar di seluruh tubuh dan membunuh kumankuman jahat. e. Vitamin, mineral, dan zat besi ASI Vitamin dalam ASI dapat dikatakan lengkap. Vitamin A, D dan C tersdia dalam jumlah yang cukup, sedangkan vitamin B (kecuali ribloflavin dan asam pantothenik) kurang. Kadar mineral dalam ASI tergolong lengkap. Walaupun kadarnya relatif kurang, tetapi cukup untuk bayi sampai 6 bulan. Total mineral selama laktasi adalah konstan, tetapi beberapa yang spesifik kadarnya tergantung dari diit dan stadium laktasi. Fe dan Cu paling stabil, tidak dipengaruhi oleh diit ibu. Garam organik utama pada ASI adalah Ca, K, Na dari asam klorida dan fosfat yang terbanyak adalah kalsium sedangkan kadar Cu, Fe, dan Mn yang merupakan bahan pembuat darah relatif sedikit. Ca dan P yang merupakan bahan tulang kadarnya dalam ASI cukup (Roesli, 2000). f. Taurin Fungsi taurin adalah berperan dalam perkembangan pada mata si kecil. Pada mata, taurin banyak terdapat di retina, terutama terkonsentrasi di epitel pigmen retina dan lapisan fotoreseptor. Asupan taurin yang adekuat dapat menjaga penglihatan si kecil dari gangguan retina. Salain itu taurin juga berperan dalam perkembangan otak dan sistem saraf. Apabila si kecil mendapatkan ASI, kebutuhan taurin tercukupi. g. Lactobacillus Lactobacillus dalam ASI berfungsi menghambat petumbuhan mikroorganisme seperti bakteri E.Coli yang sering
22 menyebabkan diare pada bayi. Bayi yang lebih banyak yang mengkonsumsi susu formula akan lebih sering mengalami diare karena bakteri lactobacillus dalam susu sapi sangat sedikit. 5. Manfaat ASI ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi karena mempunyai manfaat yang besar, yaitu sebagai gizi dan dapat meningkatkan daya tahan tubuh. ASI dapat menyempurnakan pertumbuhan bayi sehingga lebih sehat dan cerdas. Memberikan prlindungan tehadap berbagai penyakit terutama penyakit infeksi, karena tinggi akan zat kekebalan serta memperindah kulit bayi, gigi, dan bentuk rahang. ASI selalu tersedia dalam suhu yang tepat sehingga tidak akan mengecewakan bayi karena harus menunggu. Bayi yang minum ASI tidak akan diare, tidak akan sembelit, jarang terkena alergi dan menjalin hubungan yang erat dan hangat dengan ibu (Roesli, 2000). a. Manfaat utama ASI Eksklusif bagi bayi adalah : 1) Sebagai sumber zat gizi terbaik ASI merupakan sumber zat gizi dan energi yang sangat ideal dengan komposisi yang seimbang karena disesuaikan dengan kebutuhan bayi pada masa pertumbuhan. ASI adalah makanan bayi yang paling sempuna, baik kualitas maupun kuantitas. Dengan melaksanakan tata laksana menyusui yang tepat dan benar, produksi ASI seorang ibu akan cukup sebagai makanan tunggal bagi bayi normal sampai dengan usia 6 bulan. Setelah 6 bulan bayi harus mulai diberi makanan padat tambahan, tetapi ASI masih dapat diteruskan sampai usia 2 tahun atau lebih. 2) Meningkatkan daya tahan tubuh Bayi yang baru lahir secara alamiah mendapat zat kekebalan atau daya tahan tubuh melalui plasenta, tetapi kadar zat tersebut akan cepat menurun setelah kelahiran bayi. Selanjutnya akan terjadi kesenjangan daya tahan tubuh.
23 Kesenjangan tersebut dapat diatasi apabila bayi diberi ASI, sebab ASI adalah cairan yang mengandung zat kekebalan tubuh yang dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi, bakteri, virus, dan jamur. 3) Menyebabkan pertumbuhan yang baik Bayi yang mendapat ASI mempunyai kenaikan berat badan yang baik setelah lahir, pertumbuhan setelah periode perinatal baik, dan mengurangi kemungkinan obesitas. 4) Mengurangi kejadian karies dentis Kebiasaan minum susu dengan botol dan dot, terutama pada waktu akan tidur menyebabkan gigi lebih lama kontak dengan susu formula dan menyebabkan asam yang terbentuk akan merusak gigi. 5) Mempunyai efek psikologis yang membangun Interaksi yang timbul waktu menyususi antara ibu dan bayi akan menimbulkan rasa yang aman bagi bayi. Perasaan aman ini penting untuk menimbulkan dasar kepercayaan bagi bayi. 6. Keunggulan ASI Eksklusif Mengandung semua zat gizi dan zat kekebalan yang tidak dimiliki oleh susu formula. a. Komposisi berubah-ubah sesuai dengan usia bayi b. ASI lebih mudah dicerna c. ASI tidak pernah basi d. ASI aman dan higienis e. ASI tidak perlu dibeli dan praktis (Roesli, 2000) 7. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI Eksklusif a. Perubahan sosial budaya 1) Ibu bekerja atau kesibukan lain 2) Meniru teman, tetangga atau orang terkemuka yang memberi susu botol 3) Merasa ketinggalan zaman jika menyusui bayinya
24 b. Faktor psikologis 1) Takut kehilangan daya tarik sebagai wanita 2) Tekanan batin (kekhawatiran ibu menjadi orang tua) c. Faktor fisik ibu : Ibu sakit seperti mastitis dan sebagainya d. Faktor kurangnya petugas kesehatan : Sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI (Roesli, 2000). D. Kerangka Teori Faktor Mempengaruhi Perkembangan Motorik bayi : 1. Faktor genetik 2. Faktor kesehatan pada periode pranatal 3. Faktor kesulitan dalam kelahiran 4. Kesehatan dan gizi 5. Rangsangan 6. Perlindungan 7. Prematur 8. Kelainan 9. Kebudayaan ASI Eksklusif Kesehatan dan Gizi MP-ASI Perkembangan motorik kasar bayi usia 7-8 bulan Bagan 2.1 kerangka teori Sumber : Rumini (2004)
25 E. Kerangka Konsep Variable independent Variabel dependent MP-ASI ASI Eksklusif Perkembangan motorik kasar bayi usia 7-8 bulan Bagan 2.2 kerangka konsep F. Variabel Penelitian Variabel adalah gejala yang menjadi fokus peneliti untuk diamati (Sugiyono, 2007). Variabel dalam penelitian ini adalah : 1. Variabel Independen (Variabel Bebas) Variabel Independen adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen. Variabel independent dalam penelitian ini adalah MP-ASI dan ASI Eksklusif. 2. Variabel Dependen (Variabel Terikat) Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah perkembangan motorik kasar bayi usia 7-8 bulan. G. Hipotesis Menurut Notoatmodjo (2010), hipotesa penelitian adalah jawaban sementara penelitian, patokan duga atau sementara, yang kebenaranya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut. Ada perbedaan perkembangan motorik kasar antara bayi usia 7-8 bulan yang mendapat MP-ASI dan ASI Eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Kedungmundu kota Semarang.