BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 1.1 Metode Pengukuran Tingkat Resiko Ergonomi Yang Ada Sekarang Pengukuran tingkat resiko ergonomi merupakan cara yang dilakukan oleh seseorang atau suatu lembaga, untuk mengetahui beban resiko bekerja yang dialami oleh operator/pekerja dalam melakukan suatu pekerjaan. Dengan mengadakan suatu pengukuran tingkat resiko ergonomi terhadap pekerjaan yang dilakukan, operator dapat mengurangi kemungkinan terjadinya hal hal yang tidak diiginkan selama pekerjaan sedang dilakukan. Terdapat berbagai macam metode yang dapat digunakan dalam melakukan pengukuran tingkat resiko ergonomi terhadap pekerja. Beberapa diantaranya adalah Rapid Entire Body Assessment (REBA), Quick Exposure Checklist (QEC), Ovako Working-Posture Analysis System (OWAS), dan Strain Index. 1.1.1 Metode Rapid Entire Body Assessment (REBA) Rapid Entire Body Assessment (REBA) merupakan sebuah metode yang didesain untuk mengevaluasi pekerjaan atau aktivitas, dimana pekerjaan tersebut memiliki kecenderungan menimbulkan ketidaknyamanan seperti kelelahan pada leher, tulang punggung, lengan, dan sebagainya. Metode ini mengevaluasi pekerjaan dengan memberikan nilai (score) pada 5 aktivitas level yang berbeda. Hasil nilai ini menunjukkan tingkatan atau level resiko yang dihadapi oleh pekerja dalam 44
45 melakukan pekerjaannya dan terhadap beban kerja yang ditanggungnya. Resiko dari pekerjaan terkait dengan penyakit otot dan postur tubuh. Dalam kegunaannya untuk melakukan pengukuran tingkat resiko ergonomi, REBA memiliki beberapa kelebihan, yaitu : Dapat menilai resiko ergonomi pada seluruh anggota tubuh. REBA memiliki faktor penilaian yang luas dan mencakup seluruh anggota tubuh dari pekerja yang melakukan pekerjaan. Dapat menilai aktivitas manual handling pada suatu pekerjaan. Pada REBA, terdapat poin poin yang dapat digunakan terhadap perhitungan tingkat resiko bagi aktivitas manual handling. Dapat menilai beragam aktivitas kerja. Terdapat penambahan activity score dimana merupakan beragam aktivitas kerja yang dimaksudkan sebagai jenis jenis gerakan pada saat berkerja, seperti gerakan statis, dinamis, dan repetitive. Selain beberapa kelebihan diatas, penggunaan metode REBA untuk melakukan pengukuran resiko ergonomi juga memiliki beberapa kekurangan dalam penggunaannya, yaitu : Kurang beragamnya penumpuan kaki pekerja. Pada metode REBA, jenis letak penumpuan kaki pekerja tidak beragam dan hanya berdasarkan pada lekuk sudut tumpuan saja. Hal ini menyebabkan
46 metode REBA kurang merepresentasikan keadaan pekerjaan yang bertumpu pada kaki terus menerus. Sistem penilaian cukup sulit. REBA merupakan salah satu metode pengukuran yang memiliki sistem penilaian yang sedikit membingungkan. Apabila penilaian atau scoring dilakukan dengan tidak hati hati atau kurang memperhatikan penjelasan, maka terdapat kemungkinan hasil penilaian menjadi salah. Jelas dalam melakukan Hanya berdasarkan pengamatan. Pengukuran yang dilakukan pada pekerja dengan menggunakan metode REBA dilakukan hanya sepihak dari pengamat. Hal ini menyebabkan hasil dari metode REBA merupakan hasil dari sudut pandang si pengamat saja. 1.1.2 Metode Ovako Working-Posture Analysis System (OWAS) Metode OWAS (Ovako Working Postural Analysis System) adalah suatu metode yang digunakan untuk mengetahui komplikasi rangka otot sehingga menyebabkan rasa sakit dan nyeri pada tubuh. OWAS adalah suatu metode ergonomi yang digunakan untuk mengevaluasi postural resiko yang terjadi pada seseorang ketika sedang bekerja. Kegunaan dari metode OWAS adalah untuk memperbaiki kondisi pekerja dalam bekerja, sehingga performance kerja dapat ditingkatkan terus. Hasil yang diperoleh dari metode OWAS, digunakan untuk merancang metode perbaikan kerja guna meningkatkan produktivitas. Metode OWAS dibuat oleh Karhu
47 yang berasal dari negara Finlandia pada tahun 1977 untuk menganalisa postural stress pada bidang pekerjaan manual. Dalam kegunaannya untuk melakukan pengukuran tingkat resiko ergonomi, OWAS memiliki beberapa kelebihan dan juga kekurangan, yaitu : Ketelitian dalam menilai posisi kaki pekerja. Metode OWAS merupakan salah satu metode yang memiliki penilaian postur kaki pekerja paling beragam. Hal ini menyebabkan tingkat ketelitian OWAS dalam pengukuran pekerjaan sambil berdiri lebih dibandingkan metode metode lainnya. Sistem penilaian mudah. Penilaian dari metode OWAS sangat mudah. Hal ini dikarenakan metode OWAS memiliki lembar penilaian yang sangat sederhana. Pengukuran beban pada dua tangan yang berbeda. Hal yang dimaksudkan disini adalah pada pengukuran dengan menggunakan metode OWAS, pengukuran tangan dapat dilakukan untuk gerakan kedua tangan yang berbeda secara langsung. Selain beberapa kelebihan diatas, penggunaan metode OWAS untuk melakukan pengukuran resiko ergonomi juga memiliki beberapa kekurangan dalam penggunaannya, yaitu :
48 Pengukuran hanya dilakukan pada tiga bagian tubuh utama. Pengukuran yang dilakukan dengan metode OWAS hanya berpusat pada tiga bagian tubuh utama, yaitu punggung, tangan, dan kaki, sehingga pengukuran tubuh menjadi kurang lengkap. Hanya berdasarkan pengamatan. Pengukuran yang dilakukan pada pekerja dengan menggunakan metode OWAS dilakukan hanya sepihak dari pengamat. Hal ini menyebabkan hasil dari metode OWAS merupakan hasil dari sudut pandang si pengamat saja. 4.1.3 Metode Quick Exposure Checklist (QEC) Quick Exposure Check (QEC) adalah suatu metode yang dikembangkan oleh Li and Buckle pada tahun 1998. Tool ini digunakan untuk menilai bahaya pada segi ergonomi (tingkat resiko). QEC memperhitungkan postur punggung, gerakan frekuensi, ketinggian tugas, postur pergelangan tangan, putaran leher, berat, waktu, tenaga, getaran, permintaan visual, kesulitan menjaga stressfulness kerja dan pekerjaan. Analisis QEC memberikan nilai eksposur ke bahu, kembali / lengan, pergelangan tangan / tangan dan leher. QEC sensitif terhadap perubahan dalam eksposur sebelum dan setelah intervensi ergonomis, dan cocok untuk membandingkan paparan baik antara operator melakukan tugas yang sama, atau antara orang-orang yang melakukan tugas yang berbeda.
49 Dalam kegunaannya untuk melakukan pengukuran tingkat 49esik ergonomi, QEC memiliki beberapa kelebihan, yaitu : Memiliki dua jenis kuisioner. Pada pengukuran dengan metode QEC, terdapat dua kuisioner yang diisi, yaitu kuisioner yang berasal dari pekerja (worker s assessment), dan yang berasal dari pengamat (observer s assessment). Pada worker s assessment, pekerja mengisi sendiri data mengenai pekerjaan mereka sesuai dengan yang mereka rasakan selama melakukan pekerjaan tersebut. Hal ini penting karena data hasil pengamatan belum tentu sesuai dengan apa yang operator rasakan selama bekerja. Terdapat pengukuran dengan alat getar (vibrating tool). Pada metode QEC, khususnya bagian worker s assessment, terdapat pengukuran yang dikususkan bagi penggunaan vibrating tool. Dapat mengukur penggunaan kendaraan. Selain penggunaan alat getar (vibrating tool), metode QEC juga memiliki pengukuran terhadap penggunaan kendaraan selama operator melakukan pekerjaannya. Sistem penilaian cukup mudah.
50 Pengukuran dengan menggunakan metode QEC cukup mudah untuk dilakukan karena pengisian tidak berbelit belit dan sistem perhitungan 50esi pun memiliki rumus yang mudah dipahami. Selain beberapa kelebihan diatas, penggunaan metode QEC untuk melakukan pengukuran resiko ergonomi juga memiliki beberapa kekurangan dalam penggunaannya, yaitu : Pengukuran bagian tubuh hanya terbatas pada tangan. Penilaian dengan menggunakan strain index hanya terbatas pada tangan, dan tidak dilakukan pengukuran terhadap bagian tubuh utama lainnya, sehingga pengukuran tingkat resiko hanya relevan terhadap penggunaan tangan saat bekerja saja. Strain Index tidak mengevaluasi getaran segmental. Pengukuran dengan menggunakan strain index tidak mengikutkan evaluasi dengan menggunakan alat alat getar (seperti dari alat-alat tangan). Oleh karena itu maka metode ini tidak akan memprediksi risiko tangan-lengan sindrom getaran. 4.2 Analisis Sistem Ergonomi pada Stasiun Assembly PT. XYZ Stasiun kerja assembly merupakan salah satu dari sekian banyak stasiun kerja di PT. XYZ. Stasiun kerja ini memiliki jumlah pekerja sebanyak 6 orang dengan 2 bekerja pada tiap tiap shift kerja. Pekerjaan utama pada stasiun kerja ini adalah
51 perakitan tambahan atau proses finishing pada produk produk utama. Rata rata pekerjaan pada lantai produksi assembly memiliki karakteristik yang mirip walaupun produk yang diproduksi berbeda beda. Pekerjaan pekerjaan yang menjadi bagian dari penelitian pada PT. XYZ adalah pengamplasan pada alas dan ujung dari rak display; pemasangan kenop pada pintu lemari; perakitan knalpot untuk genset; pekerjaan pemotongan karton untuk storage bagi tiang antrian; pengamplasan ulang pada kursi tunggu dengan menggunakan soda api dan metal polish; dan pemasangan baut pada alas rak display. Pekerjaan pada stasiun assembly ini mengharuskan operator untuk bersentuhan secara langsung dengan produk yang sedang dikerjakan. Hal ini menyebabkan para operator untuk bekerja dengan posisi membungkuk untuk menyesuaikan posisi tubuh dengan keadaan tempat bekerja. Ruang lingkup kerja pada stasiun assembly secara tidak langsung mengharuskan operatornya untuk melakukan pekerjaan sambil berdiri. Hal ini menyebabkan operator hanya bertumpu pada kaki selama bekerja tanpa adanya tumpuan lain (ex. Stool) 4.2.1 Analisis Kebutuhan Pengukuran Sesuai dengan karakteristik pekerjaan yang telah dijelaskan diatas, dalam mengakomodasi pengukuran bagi operator stasiun assembly, dibutuhkan suatu pengukuran yang dapat mengukur bagian bagian utama tubuh operator yang terpengaruh oleh posisi saat bekerja, yaitu leher, punggung, tangan, dan kaki. Pengukuran kaki diharuskan ada karena operator melakukan pekerjaan 51esi dengan
52 cara berdiri selama shift berlangsung. Selain itu pekerjaan operator juga menggunakan alat alat getar secara langsung terhadap produk yang sedang dikerjakan, seperti 52esik otomatis. Selain itu, untuk mendapatkan hasil yang lebih tepat dalam pengukuran, dibutuhkan suatu pengukuran yang berasal dari dua sisi (berdasarkan pengamatan dan yang diamati) Beberapa metode yang telah dijelaskan diatas memiliki pengukuran yang dibutuhkan bagi pengukuran tingkat resiko ergonomi bagi stasiun assembly PT. XYZ. Metode pertama yang cocok digunakan dalam stasiun assembly adalah metode REBA. Metode ini dapat dikatakan sebagai suatu metode yang memiliki ruang cakupan paling luas dan dapat meneliti seluruh bagian tubuh. Maka REBA merupakan metode yang tepat digunakan bagi pengukuran di stasiun assembly dimana pekerja melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan seluruh postur tubuh. Akan tetapi metode ini tidak memiliki pemilihan pengukuran postur kaki yang lengkap, sehingga akan menjadikannya lemah dalam mengukur postur pekerjaan yang dilakukan sebagian besar dengan berdiri atau bertumpu pada kaki. Karena kekurangan tersebut, dibutuhkan suatu metode yang memiliki pengukuran postur kaki yang lengkap, Metode pengukuran tersebut dapat dilengkapi dengan mestode OWAS, dimana pengguna metode ini memiliki pemilihan pengukuran postur kaki yang lengkap sehingga lebih aktual dalam digunakan pada pekerja yang dilakukan sambil berdiri. Selain OWAS juga melakukan pengukuran pada bagiam bagian tubuh utama dari pekerja
53 Akan tetapi pengukuran dari kedua metode diatas tidak mencakup perhitungan dengan menggunakan alat getar ataupun perhitungan yang berdasarkan dari pekerja itu sendiri. Pengukuran ini dapat dilakukan dengan menggunakan metode QEC, dimana pada metode ini terdapat penilaian dari pihak pekerja itu sendiri (worker s assessment) sehingga peneliti akan memiliki penilaian dari dua belah pihak. Selain itu QEC memiliki penilaian yang memungkinkan terdapatnya penggunaan alat getar (vibrating tool). Metode-metode yang disebutkan merupakan metode yang paling sesuai dengan karakteristik pekerjaan stasiun assembly. Metode strain index tidak dapat digunakan karena metode ini hanya berfokus pada pengukuran tingkat 53esik bagian tangan saja, dimana bagian ini dapat diakomodasi oleh metode lain yang memiliki pengukuran yang lebih lengkap. Metode REBA, QEC, dan OWAS merupakan metode yang paling tepat untuk digunakan pada stasiun assembly. Akan tetapi pengukuran secara langsung metode metode ini terhadap operator akan memiliki kemungkinan hasil yang berbeda beda dikarenakan fokus utama dari metode yang juga berbeda beda. Hasil dari ketiga metode ini akan saling kontradiktif antara satu dengan yang lain. Akan tetapi hasil pengukuran dari ketiga metode ini tetap dibutuhkan karena kesemua metode ini merupakan metode yang relevan pengukurannya terhadap stasiun assembly. Oleh karena itu dibutuhkan pembuatan suatu alat atau model pengukuran tingkat 53esik yang dapat menyatukan hasil dari pengukuran dengan menggunakan tiga metode tersebut. Dimana model tersebut akan menghimpun hasil dari
54 pengukuran masing-masing dengan menggunkan metode-metode yang ada, dan akan memiliki satu keluaran yang berasal dari ketika metode tersebut. Dalam pembuatan model ini akan digunakan expert system atau sistem pakar yang dapat menghimpun metode metode tersebut assembly suatu model, dimana dalam penentuan output dari model ini akan digunakan pendapat dari pakar pakar yang memahami secara jelas mengenai metode serta resiko ergonomi dari suatu lantai pekerjaan. Dengan keberadaan model ini perhitungan tingkat resiko ergonomi dari suatu pekerjaan menjadi lebih teliti hasilnya karena fokus dari masing-masing metode tetap masuk dalam model ini. Model ini akan disebut sebagai Model R.O.Q untuk kedepannya 4.3 Perancangan Model Pengukuran Tingkat Resiko Ergonomi Perancangan model pengukuran adalah proses bagi pembuatan model R.O.Q yang akan digunakan untuk mengukur tingkat resiko ergonomi. Hal yang harus dilakukan adalah penentuan level resiko secara keseluruhan. Penentuan level resiko ini diawali dengan penentuan rule base kbagi level resiko dari metode REBA, OWAS, dan juga QEC. Level 54esik dari seluruh metode, REBA; OWAS; QEC, akan memiliki 80 buah hasil kombinasi. 4.3.1 Identifikasi Input Input atau masukan yang dibutuhkan sebagai dasar pembuatan model R.O.Q adalah level resiko dari hasil pengukuran metode REBA, QEC, dan OWAS.
55 Pada metode REBA, perhitungan tingkat resiko ergonomi dilakukan pada posisi sudut tubuh leher, punggung, kaki, lengan atas, lengan bawah, dan pergelangan tangan. Metode ini memiliki 5 buah level resiko, yaitu dapat diabaikan, kecil, sedang, tinggi, dan sangat tinggi.
56 Lalu pada metode OWAS, perhitungan tingkat resiko ergonomi dilakukan pada posisi punggung, kedua tangan, kedua kaki, dan beban kerja operator. Metode ini memiliki 4 buah level resiko, yaitu kategori kecil, sedang, tinggi, dan sangat. Serta yang terakhir adalah QEC dimana perhitungan tingkat resiko ergonomi dilakukan pada posisi punggung, bahu atau lengan, pergelangan tangan, leher, berat beban,dan penggunaan alat getar. Metode ini juga memiliki 4 buah level resiko, yaitu kecil, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Jadi terdapat 13 level resiko input bagi model R.O.Q ini. Tabel 4.1 Tabel Level Resiko QEC Skor QEC 40 % Tindakan Kecil 40-50% Sedang 51-70% Tinggi >70% Sangat Tinggi Tabel 4.2 Tabel Level Resiko REBA Skor Level Resiko 1 Dapat Diabaikan 2 3 Kecil 4 7 Sedang 8 10 Tinggi 11 15 Sangat Tinggi
57 Tabel 4.3 Tabel Level Resiko OWAS Nilai Tindakan 1 Kecil 2 Sedang 3 Tinggi 4 Sangat Tinggi 4.3.2 Identifikasi Output Input dari metode metode yang digunakan untuk model R.O.Q memiliki empat dan lima tingkat resiko. Tingkat resiko dari metode QEC dan OWAS adalah sama, yaitu kecil, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Sedangkan pada metode REBA memiliki satu tingkat resiko lain yaitu dapat diabaikan. Dari hasil input tersebut, akan direduksi keluaran pada model R.O.Q menjadi tiga tingkat level resiko. Hal ini disebabkan terdapat hasil dari tingkat resiko metode metode yang memiliki perbedaan sangat kecil hasil akhirnya sehingga dapat dibiaskan. Yang pertama adalah tingkat resiko REBA dapat diabaikan. Disini istilah dapat diabaikan maksudnya adalah tingkat resiko dari suatu pekerjaan sangatlah kecil sehingga dapat dianggap diabaikan. Akan tetapi tingkat tersebut tetap memiliki suatu resiko pekerjaan. Maka tingkat resiko dapat diabaikan tersebut dapat menjadi tingkat resiko kecil. Yang kedua adalah tingkat resiko sangat tinggi, dimana maksud dari tingkat resiko ini adalah memiliki besar resiko yang tertinggi. Akan tetapi level resiko ini
58 dapat disamakan dengan tinggi karena pada akhirnya prioritas yang akan dijalankan dalam melakukan perbaikan resiko adalah yang pertama. Tingkat resiko sedang tetap digunakan, karena dalam protokol evaluasi suatu stasiun kerja atau pabrik, biasa hanya digunakan tiga buah hasil akhir atau level resiko sebagai batasan dalam mengatasi tingkat keparahan suatu permasalahan yang terjadi. Maka dari itu, output dari model R.O.Q ini akan menjadi kecil (low), sedang (moderate), dan tinggi (high) mengikuti hasil dari diatas. 4.3.3 Perancangan Rule Base Perancangan rule base dimulai dengan penentuan konsep awal dari rule base itu sendiri. Dimana konsep awal tersebut adalah kombinasi dari input ke-13 level resiko metode yang telah ditentukan, yaitu REBA, QEC, dan OWAS. Hasil kombinasi ini akan menghasilkan output berupa level resiko low, high, dan moderate. Kombinasi dilakukan dengan menggunakan Microsoft Excel seperti pada gambar dibawah : Tabel 4.4 Tabel Kombinasi Level Resiko
59
60
61 Seluruh hasil kombinasi yang dibuat akan menjadi dasar dari rule base yang akan dibuat. Rule base ini akan dibuat dengan mempunyai 3 kategori level resiko, yaitu Low (Kecil), Moderate (Sedang), High (Tinggi). Pembagian menjadi 3 kategori level resiko ini dibuat sesuai dengan hasil analisa output sebelumnya. Penentuan hasil dari rule base diambil dari hasil kombinasi ketiga metode pengukuran postur yang digunakan. Untuk menentukan akibat resiko, digunakan hasil penelitian dengan yang dilakukan dengan beberapa pakar yang berhubungan dengan ergonomi dan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) pada perusahaan manufaktur. Pakar yang ada untuk melakukan penentuan rule base dipilih karena telah memiliki pengalaman pada lantai produksi manufaktur, serta mengerti mengenai pengaruh ergonomi pada operator lantai produksi. Alasan terdapat dua orang pakar untuk penentuan rule base ini adalah agar tingkat kehati-hatian dari hasil kombinasi level resiko lebih mendekati kebenaran. Pakar yang dipilih pada penentuan rule base ini adalah : 1. Sapta Nugraha, selaku manajer HRD (Human Resource Development) yang menaungi urusan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) dari perusahaan perakitan mabel lemari dsb. 2. Agus Triyono, selaku manajer SHE (Safety Health Environment) dari perusahaan manufaktur alat berat. Hasil dari penelitian serta perundingan yang dilakukan dengan para pakar terhadap kombinasi level resiko adalah pemilihan masing-masing dipilih level resiko tertinggi dari hasil metode metode tersebut. Hal ini dikarenakan setiap metode
62 memiliki kelebihan masing-masing, sehingga jika terdapat level resiko yang lebih tinggi dari hasil lainnya maka terdapat faktor yang menyebabkan resiko pada salah satu metode menjadi lebih tinggi. Hal tersebut tidak bisa diabaikan karena 62esik merupakan sesuatu yang tidak dapat dipastikan secara akurat. Kedua pakar yang ada memiliki pandapat yang sama mengenai hasil dari rule base ni. Jika pada perhitugan level resiko dari ketiga metode menghasilkan suatu nilai, maka dapat disimpulkan kalau terdapat suatu resiko dari pekerjaan yang sedang dilakukan. Oleh karena itu, akan diperlukan suatu perbaikan untuk menghilangkan atau mengurangi resiko pekerjaan yang ada tersebut. Hasil kombinasi level resiko dari ketiga metode yang ada akan menjadi acuan prioritas dari perbaikan yang akan dilakukan kedepannya. Berikut adalah rule base dari model R.O.Q yang merupakan kombinasi dari metode REBA, QEC, dan OWAS : 1. Jika QEC Kecil ; REBA Dapat Diabaikan ; dan OWAS Kecil, Maka Level Resiko MSDs Adalah LOW 2. Jika QEC Kecil ; REBA Dapat Diabaikan ; dan OWAS Sedang, Maka Level Resiko MSDs Adalah LOW 3. Jika QEC Kecil ; REBA Dapat Diabaikan ; dan OWAS Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH
63 4. Jika QEC Kecil ; REBA Dapat Diabaikan ; dan OWAS Sangat Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 5. Jika QEC Kecil ; REBA Kecil ; dan OWAS Kecil, Maka Level Resiko MSDs Adalah LOW 6. Jika QEC Kecil ; REBA Kecil ; dan OWAS Sedang, Maka Level Resiko MSDs Adalah MODERATE 7. Jika QEC Kecil ; REBA Kecil ; dan OWAS Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 8. Jika QEC Kecil ; REBA Kecil ; dan OWAS Sangat Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 9. Jika QEC Kecil ; REBA Sedang ; dan OWAS Kecil, Maka Level Resiko MSDs Adalah MODERATE 10. Jika QEC Kecil ; REBA Sedang, dan OWAS Sedang, Maka Level Resiko MSDs Adalah MODERATE 11. Jika QEC Kecil ; REBA Sedang ; dan OWAS Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 12. Jika QEC Kecil ; REBA Sedang ; dan OWAS Sangat Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 13. Jika QEC Kecil ; REBA Tinggi ; dan OWAS Kecil, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH
64 14. Jika QEC Kecil ; REBA Tinggi ; dan OWAS Sedang, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 15. Jika QEC Kecil ; REBA Tinggi ; dan OWAS Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 16. Jika QEC Kecil ; REBA Tinggi ; dan OWAS Sangat Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 17. Jika QEC Kecil ; REBA Sangat Tinggi ; dan OWAS Kecil, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 18. Jika QEC Kecil ; REBA Sangat Tinggi ; dan OWAS Sedang, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 19. Jika QEC Kecil ; REBA Sangat Tinggi ; dan OWAS Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 20. Jika QEC Kecil ; REBA Sangat Tinggi ; dan OWAS Sangat Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 21. Jika QEC Sedang ; REBA Dapat Diabaikan ; dan OWAS Kecil, Maka Level Resiko MSDs Adalah MODERATE 22. Jika QEC Sedang ; REBA Dapat Diabaikan ; dan OWAS Sedang, Maka Level Resiko MSDs Adalah MODERATE 23. Jika QEC Sedang ; REBA Dapat Diabaikan ; dan OWAS Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH
65 24. Jika QEC Sedang ; REBA Dapat Diabaikan ; dan OWAS Sangat Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 25. Jika QEC Sedang ; REBA Kecil ; dan OWAS Kecil, Maka Level Resiko MSDs Adalah MODERATE 26. Jika QEC Sedang ; REBA Kecil ; dan OWAS Sedang, Maka Level Resiko MSDs Adalah MODERATE 27. Jika QEC Sedang ; REBA Kecil ; dan OWAS Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 28. Jika QEC Sedang ; REBA Kecil ; dan OWAS Sangat Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 29. Jika QEC Sedang ; REBA Sedang ; dan OWAS Kecil, Maka Level Resiko MSDs Adalah MODERATE 30. Jika QEC Sedang ; REBA Sedang ; dan OWAS Sedang, Maka Level Resiko MSDs Adalah MODERATE 31. Jika QEC Sedang ; REBA Sedang ; dan OWAS Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 32. Jika QEC Sedang ; REBA Sedang ; dan OWAS Sangat Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 33. QEC Sedang ; REBA Tinggi ; dan OWAS Kecil, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH
66 34. Jika QEC Sedang ; REBA Tinggi ; dan OWAS Sedang, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 35. Jika QEC Sedang ; REBA Tinggi ; dan OWAS Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 36. Jika QEC Sedang ; REBA Tinggi ; dan OWAS Sangat Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 37. Jika QEC Sedang ; REBA Sangat Tinggi ; dan OWAS Kecil, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 38. Jika QEC Sedang ; REBA Sangat Tinggi ; dan OWAS Sedang, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 39. Jika QEC Sedang ; REBA Sangat Tinggi ; dan OWAS Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 40. Jika QEC Sedang ; REBA Sangat Tinggi ; dan OWAS Sangat Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 41. Jika QEC Tinggi ; REBA Dapat Diabaikan ; dan OWAS Kecil, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 42. Jika QEC Tinggi ; REBA Dapat Diabaikan ; dan OWAS Sedang, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 43. Jika QEC Tinggi ; REBA Dapat Diabaikan ; dan OWAS Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH
67 44. Jika QEC Tinggi ; REBA Dapat Diabaikan ; dan OWAS Sangat Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 45. Jika QEC Tinggi ; REBA Kecil ; dan OWAS Kecil, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 46. Jika QEC Tinggi ; REBA Kecil ; dan OWAS Sedang, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 47. Jika QEC Tinggi ; REBA Kecil ; dan OWAS Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 48. Jika QEC Tinggi ; REBA Kecil ; dan OWAS Sangat Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 49. Jika QEC Tinggi ; REBA Sedang ; dan OWAS Kecil, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 50. Jika QEC Tinggi ; REBA Sedang ; dan OWAS Sedang, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 51. Jika QEC Tinggi ; REBA Sedang ; dan OWAS Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH \ 52. Jika QEC Tinggi ; REBA Sedang ; dan OWAS Sangat Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 53. Jika QEC Tinggi ; REBA Tinggi ; dan OWAS Kecil, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH
68 54. Jika QEC Tinggi ; REBA Tinggi ; dan OWAS Sedang, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 55. Jika QEC Tinggi ; REBA Tinggi ; dan OWAS Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 56. Jika QEC Tinggi ; REBA Tinggi ; dan OWAS Sangat Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 57. Jika QEC Tinggi ; REBA Sangat Tinggi ; dan OWAS Kecil, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 58. Jika QEC Tinggi ; REBA Sangat Tinggi ; dan OWAS Sedang, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 59. Jika QEC Tinggi ; REBA Sangat Tinggi ; dan OWAS Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 60. Jika QEC Tinggi ; REBA Sangat Tinggi ; dan OWAS Sangat Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 61. Jika QEC Sangat Tinggi ; REBA Dapat Diabaikan ; dan OWAS Kecil, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 62. Jika QEC Sangat Tinggi ; REBA Dapat Diabaikan ; dan OWAS Sedang, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 63. Jika QEC Sangat Tinggi ; REBA Dapat Diabaikan ; dan OWAS Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH
69 64. Jika QEC Sangat Tinggi ; REBA Dapat Diabaikan ; dan OWAS Sangat Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 65. Jika QEC Sangat Tinggi ; REBA Kecil ; dan OWAS Kecil, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 66. Jika QEC Sangat Tinggi ; REBA Kecil ; dan OWAS Sedang, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 67. Jika QEC Sangat Tinggi ; REBA Kecil ; dan OWAS Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 68. Jika QEC Sangat Tinggi ; REBA Kecil ; dan OWAS Sangat Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 69. Jika QEC Sangat Tinggi ; REBA Sedang ; dan OWAS Kecil, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 70. Jika QEC Sangat Tinggi ; REBA Sedang ; dan OWAS Sedang, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 71. Jika QEC Sangat Tinggi ; REBA Sedang ; dan OWAS Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 72. Jika QEC Sangat Tinggi ; REBA Sedang ; dan OWAS Sangat Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 73. Jika QEC Sangat Tinggi ; REBA Tinggi ; dan OWAS Kecil, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH
70 74. Jika QEC Sangat Tinggi ; REBA Tinggi ; dan OWAS Sedang, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 75. Jika QEC Sangat Tinggi ; REBA Tinggi ; dan OWAS Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 76. Jika QEC Sangat Tinggi ; REBA Tinggi ; dan OWAS Sangat Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 77. Jika QEC Sangat Tinggi ; REBA Sangat Tinggi ; dan OWAS Kecil, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 78. Jika QEC Sangat Tinggi ; REBA Sangat Tinggi ; dan OWAS Sedang, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 79. Jika QEC Sangat Tinggi ; REBA Sangat Tinggi ; dan OWAS Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 80. Jika QEC Sangat Tinggi ; REBA Sangat Tinggi ; dan OWAS Sangat Tinggi, Maka Level Resiko MSDs Adalah HIGH 4.3.4 Verifikasi dan Validasi Model R.O.Q Model R.O.Q merupakan sebuah model yang dibuat berdasarkan input dari metode REBA, QEC, serta OWAS. Berdasarkan konsep awal bahwa model R.O.Q merupakan sebuah hasil kombinasi dari input ke-13 hasil level resiko tiga metode dan akan menghasilkan tiga jenis hasil output sesuai dengan kombinasi yang ada dan hasil dari pakar.
71 Pada konsep awal, ditentukan bahwa akan dibuat sebuah kombinasi dari input metode metode yang digunakan. Setelah pengkombinasian dilakukan, dapat dilihat kalau output dapat ditentukan sesuai dengan hasil pakar yang telah dintentukan. Maka hasil dari model R.O.Q ini telah sesuai dengan konsep awal yang telah dibuat dengan masing-masing kombinasi menghasilkan sebuah outputnya. Untuk mengetahui apakah model R.O.Q telah dapat mengukur tingkat 71esik ergonomi dari suatu pekerjaan dilantai assembly seperti yang dimaksudkan dari perancangan model, maka dilakukan validasi dari model tersebut. Proses validasi dilakukan dengan menghitung tingkat resiko ergonomi dari salah seorang operator di stasiun assembly. Berikut merupakan contoh hasil perhitungan dari salah satu operator (operator 6) stasiun kerja assembly: Perhitungan Bagi Operator 6 QEC Operator 6 pada bagian stasiun assembly melakukan pekerjaan pemasangan baut pada alas rak display. Operator ini bekerja pada 1 shift dengan lama waktu bekerja 4 jam. Jumlah rak display yang selesai dikerjakan pada 1 shift tersebut sekitar 12 rak display Perhitungan yang pertama dilakukan adalah perhitungan dengan menggunakan QEC. Pada hasil perhitungan resiko didapatkan bahwa :
72 Tabel 4.5 Tabel Hasil Rating QEC Keseluruhan Operator 6 Punggung Bahu/Lengan Pergelangan Tangan Leher Mengendarai Vibrasi Alur Kerja Strees 24 32 36 12 1 1 4 4 Setelah hasil rating operator 6 didapatkan, maka nilai exposure level nya dapat dihitung. Berdasarkan perhitungan dari hasil rating keseluruhan operator 6, maka didaptkan kalau hasil perhitungan (%)=. % Oleh karena itu, maka hasil dari perhitungan exposure level dari QEC operator 6 adalah > 70 %, yaitu pekerjaan memiliki resiko sangat tinggi. REBA Perhitungan dilakukan dengan melakukan rating pada ketiga tabel perhitungan. Hasil dari perhitungan pada operator 6 adalah : - Tabel A : skor 7 - Tabel B : skor 3 - Tabel C : skor 8 Hasil dari tabel C merupakan hasil akhir dari perhitungan dengan menggunakan metode REBA. Karena skor akhir nya adalah 8, maka pekerjan memiliki resiko tinggi. OWAS Perhitungan dilakukan dengan penilaian pada punggung, lengan, kaki, dan beban kerja operator. Maka dari itu, hasil nilai pengamatan dari operator 6 adalah : - Punggung : 2
73 - Lengan : 1 - Kaki : 3 - Beban kerja : 2 Setelah semua nilai 73esik-masing didapatkan, maka skor akhir OWAS akan didapatkan, sehingga hasil akhir dari skor OWAS operator 6 adalah 2. Sesuai dengan hasil skoringnya, maka tindakan dari kategori 3 adalah perlu dilakukan perbaikan. Hasil Akhir Operator 6 : Maka dapat dilihat hasil akhir perhitungan postur kerja dari operator 6 adalah sebagai berikut : Tabel 4.6 Ringkasan Hasil Perhitungan Operator 6 Metode Skor/Kategori Level Resiko QEC 70,37% Sangat Tinggi REBA 8 Tinggi OWAS 2 Sedang Dapat dilihat kalau hasil perhitungan tingkat resiko 73esik73ly73 salah satu operator pada stasiun assembly memiliki hasil yang berbeda beda dari tiap metode nya dan memiliki hasil sesuai dengan rule base model R.O.Q yang ada. Karena tingkat resiko REBA tinggi, tingkat resiko QEC sangat tinggi, dan tingkat resiko OWAS sedang, maka operator 6 memiliki tingkat resiko ergonomi HIGH.
74 1.4 Pengukuran Tingkat Resiko Ergonomi Tiap Operator Setelah model R.O.Q yang dikembangkan telah dinyatakan valid, maka selanjutnya dapat dilakukan perhitungan tingkat resiko dari semua operator stasiun assembly pada PT. XYZ. Stasiun assembly pada PT. XYZ memiliki 6 orang operator yang terbagi dalam 3 shift setiap harinya. 4.4.1 Perhitungan Bagi Operator 1 Operator 1 pada bagian stasiun assembly melakukan pekerjaan pengamplasan pada alas dan ujung dari rak display. Operator ini bekerja pada 1 shift dengan lama waktu bekerja 4 jam. Jumlah produk rak display yang dikerjakan pada 1 shift tersebut bervariasi antara 10 15 buah rak display. Gambar 4.4 Pengerjaan Rak Display oleh Operator 1 pada Stasiun Assembly
75 4.4.1.1 Perhitungan Quick Exposure Checklist (QEC) Operator 1 Hal pertama yang dilakukan dalam metode QEC adalah dengan mengisi metode QEC. Kuisioner ini terbagi menjadi dua kuisioner, yaitu berdasarkan pengamat dan berdasarkan pekerja. Berdasarkan metode QEC, maka dapat dijabarkan kalau penilaian akhir akan ditentukan dari pemberian rating bagi operator 1. Pemberian rating yang pertama bagi operator 1 adalah bagian kuisioner pengamat. Terdapat 4 buah kuisioner yang harus ditentukan oleh penulis dengan cara mengamati operator 1. Rating bagi bagian punggung operator 1 yaitu A3 posisi bungkuk berlebihan; dan B2 posisi punggung tetap untuk kebanyakan waktu. Sedangkan rating bagi bahu atau lengan yaitu C2 tangan sejajar dengan dada; dan D2 pergerakan lengan atau bahu sering. Lalu rating bagi pergelangan tangan yaitu E2 pekerjaan dilakukan dengan pergelangan tangan tertekuk; dan F2 pergerakan yang sama terulang 11 sampai 20 kali per menit. Dan yang terakhir adalah rating bagi leher yaitu G2 saat bekerja leher terkadang menunduk. Pemberian kuisioner selanjutnya bagi operator 1 adalah bagian kuisioner berdasarkan pekerja. Kuisioner ini diisi oleh operator 1 dan hanya memiliki satu penilaian untuk pekerja. Rating bagi operator 1 yaitu H1 beban maksimum yang ditangani secara manual ringan ( > 5 kg); J2 rata-rata waktu yang dihabiskan untuk melakukan pekerjaan ini antara 2 sampai 4 jam/hari; K2 tenaga maksimum untuk melakukan pekerjaan medium (1 4 kg); L2 visual yang dibutuhkan saat bekerja adalah tinggi; M1 keperluan dalam mengendarai alat transportasi saat bekerja kurang dari 1 jam atau tidak pernah; N2 penggunaan vibrating tools antara 1 4
76 jam/hari; P2 terkadang kesulitan mengerjakan pekerjaan; dan Q3 pekerjaan dirasa cukup membuat stres. Berdasarkan pemberian rating diatas, maka hasil dari pemberian skoring bagi operator satu adalah sebagai berikut : Tabel 4.4 Tabel Hasil Rating Keseluruhan Operator 1 Punggung Bahu/Lengan Pergelangan Tangan Leher Mengendarai Vibrasi Alur Kerja Strees 24 24 30 12 1 4 4 9 Setelah hasil rating operator 1 didapatkan, maka nilai exposure level nya dapat dihitung. Hasil perhitungan dari nilai exposure level akan menentukan tindakan yang harus diambil bagi operator 1 nantinya. Rumus dari perhitungan exposure level adalah : (%) = 100 % Dimana : E = nilai exposure level X = jumlah dari seluruh perhitungan metode QEC (punggung, bahu/lengan, pergelangan tangan, leher, serta perhitungan rating pekerja) Xmax = jumlah total perhitungan maksimal yang dapat terjadi pada QEC Berdasarkan perhitungan dari hasil rating keseluruhan operator 1, maka : = 24 + 24 + 30 + 12 + 1 + 4 + 4 + 9 = 108
77 Dengan Xmax adalah 162, hal ini dikarenakan pekerjaan yang dilakukan oleh operator 1 di stasiun asstmbly bersifat statis. Dengan hasil perhitungan nya adalah : Tabel 4.5 Tabel Penilaian QEC Skor QEC Tindakan Level Resiko 40 % Aman Kecil 40 50 % Penelitian lebuh lanjut Sedang 51 70 % Perlu penelitian lebih lanjut Tinggi > 70 % Dilakukan penelitian & Sangat tinggi perubahan secepatnya Maka perhitungan nilai exposure level bagi operator 1 adalah : (%) = 100 % (%) = 100 % (%) = 0.6667 100 % (%) =. % Oleh karena itu, maka hasil dari perhitungan exposure level dari QEC operator 1 adalah 51 70 %, yaitu level resiko tinggi. 4.4.1.2 Perhitungan Rapid Entire Body Assesment (REBA) Operator 1 Pada perhitungan REBA terdapat 3 buah tabel kuisioner, yaitu tabel A, tabel B, dan tabel C. Ketiga tabel itu terbagi menjadi perhitungan yang diambil bagi
78 beberapa bagian tubuh. Tabel A merupakan perhitungan bagi leher, tubuh bagian atas, dan kaki. Tabel B merupakan perhitungan bagi lengan dan pergelangan tangan. Lalu tabel C merupakan hasil perhitungan keseluruhan antara tabel A dan B. Kemudian hasil dari tabel C ditambah dengan nilai aktivitas sehingga terdapat nilai akhir REBA. a. Perhitungan Tabel A Perhitungan yang pertama pada tabel A adalah pada bagian leher. Seperti yang terlihat pada gambar, posisi leher dari operator 1 sejajar dengan punggung sehingga membentuk sudut 10. Posisi leher tidak menengok sehingga skor berdasarakan tabel REBA nya adalah +1. Selanjutnya bagian tubuh atas, dimana dapat dilihat kalau posisi tubuh operator membungkuk sejauh 60 dan sedikit menekuk ke arah meja kerja. Karena itu skor dari tubuh atas adalah +4. Lalu terdapat perhitungan bagi bagian kaki. Kedua kaki dari operator 1 menekuk dua-duanya ketika bekerja sehingga membentuk sudut antara 30-60. Karena itu skor dari bagian kaki adalah +1. Lalu ketiga hasil ini dilihat melalui tabel A sehingga menghasilkan nilai 3 seperti gambar dibawah. Gambar 4.2 Perhitungan Tabel A bagi Operator 1
79 Setelah skor postur A didapatkan, maka skor ini ditambahkan dengan nilai beban dari pekerjaan yaitu sebesar 0 (karena beban kurang dari 11 lbs / 4,9 kg) sehingga hasil akhir dari skor A adalah 3. b. Perhitungan Tabel B Perhitungan yang pertama pada tabel B adalah pada bagian lengan bagian atas. Seperti yang terlihat pada gambar, posisi lengan bagian atas dari operator1 mengangkat dan membentuk sudut antara 45-90, sehingga mempunyai nilai +3. Posisi lengan atas mempunyai penyesuaian karena bagian bahu mengangkat sebesar +1 sehingga hasil akhir skor lengan atas adalah 4. Selanjutnya bagian lengan bawah, dimana dapat dilihat kalau posisi lengan bawah operator naik sebesar 100 sehingga memiliki skor +2. Lalu terdapat perhitungan bagi bagian pergelangan tangan. Kedua pergelangan tangan dari operator 1 membentuk sudut sebesar 15 sehingga memiliki skor +2. Pada bagian pergelangan tangan terdapat penyesuaian karena posisi tangan operator 1 menekuk sebesar +1 sehingga total skor nya adalah 3. Lalu ketiga hasil ini dilihat melalui tabel B sehingga menghasilkan nilai 7 seperti gambar dibawah. Gambar 4.3 Perhitungan Tabel B bagi Operator 1
80 Setelah skor postur B didapatkan, maka skor ini ditambahkan dengan nilai coupling dari pekerjaan yaitu sebesar +2 (karena posisi tangan saat bekerja tidak dapat diterima tapi memungkinkan) sehingga hasil akhir dari skor B adalah 9. c. Perhitungan Tabel C Perhitungan dari tabel C merupakan hasil dari angka skor pada tabel A dan tabel B yang dimasukan pada tabel C. Dengan hasil dari skor A sebesar 3 dan skor B sebesar 9, maka hasil dari tabel C adalah 7. Gambar 4.4 Perhitungan Tabel C bagi Operator 1 Setelah skor postur C didapatkan, maka skor ini ditambahkan dengan nilai aktivitas dari pekerjaan yaitu sebesar +1 (karena terdapat pengulangan dari tindakan kecil) sehingga hasil akhir dari skor REBA operator 1 adalah 8. Sesuai dengan hasil skoring nya, maka pekerjaan dari operator 1 memiliki resiko yang tinggi.
81 4.4.1.3 Perhitungan Ovako Working Analysis System (OWAS) Operator 1 Pada perhitungan OWAS terdapat 4 buah penilaian, yaitu untuk punggung (back), lengan (arms), kaki (legs), dan beban kerja operator (load). Untuk perhitungan operator 1, dimulai dari pengamatan pada bagian punggung. Punggung dari operator 1 membungkuk ke depan, maka mempunyai nilai 2. Lalu selanjutnya pada bagian lengan. Lengan operator berada pada posisi diatas bahu pada saat bekerja sehingga mempunyai nilai 3. Selanjutnya adalah bagian kaki. Operator berdiri dengan kedua kaki sedikit berlutut atau tertekuk, maka nilainya adalah 4. Dan yang terakhir adalah nilai beban kerja operator. Terlihat bahwa operator 1 hanya menggunakan sebuah alat one-hand sander machine dengan berat 2 kg. Maka nilai dari beban kerja nya adalah 1. Setelah semua nilai masing-masing didapatkan, maka skor akhir OWAS akan didapatkan, sehingga hasil akhir dari skor OWAS operator 1 adalah 3. Sesuai dengan hasil skoring, maka level resiko dari dari kategori 3 adalah tinggi. Gambar 4.5 Perhitungan OWAS Operator 1
82 Hasil Akhir Operator 1 : Maka dapat dilihat hasil akhir perhitungan postur kerja dari operator 1 adalah sebagai berikut Tabel 4.6 Ringkasan Hasil Perhitungan Operator 1 Metode Skor/Kategori Level Resiko QEC 66,67% Tinggi REBA 8 Tinggi OWAS 3 Tinggi 4.4.2 Perhitungan Bagi Operator 2 Operator 2 pada bagian stasiun assembly melakukan pekerjaan pemasangan kenop pada pintu lemari. Operator ini bekerja pada 1 shift dengan lama waktu bekerja 4 jam. Jumlah produk pintu lemari yang dikerjakan pada 1 shift tersebut bervariasi antara 15 20 buah pintu lemari. Gambar 4.6 Pengerjaan Pintu Lemari oleh Operator 2 pada Stasiun Assembly
83 4.4.2.1 Perhitungan Quick Exposure Checklist (QEC) Operator 2 Hal pertama yang dilakukan dalam metode QEC adalah dengan mengisi kuisioner QEC. Kuisioner ini terbagi menjadi dua metode, yaitu berdasarkan pengamat dan berdasarkan pekerja. Berdasarkan kuisioner QEC, maka dapat dijabarkan kalau penilaian akhir akan ditentukan dari pemberian rating bagi operator 2. Pemberian rating yang pertama bagi operator 2 adalah bagian kuisioner pengamat. Terdapat 4 buah rating yang harus ditentukan oleh penulis dengan cara mengamati operator 2. Rating bagi bagian punggung operator 2 yaitu A3 posisi bungkuk berlebihan; dan B2 posisi punggung tetap untuk kebanyakan waktu. Sedangkan rating bagi bahu atau lengan yaitu C1 tangan berada berada sejajar atau dibawah pinggang; dan D2 pergerakan lengan atau bahu sering. Lalu rating bagi pergelangan tangan yaitu E1 pekerjaan dilakukan dengan pergelangan hampir lurus; dan F1 pergerakan yang sama terulang 10 kali per menit atau kurang. Dan yang terakhir adalah rating bagi leher yaitu G2 saat bekerja leher terkadang menunduk. Pemberian rating selanjutnya bagi operator 2 adalah bagian kuisioner berdasarkan pekerja. Kuisioner ini diisi oleh operator 2 dan hanya memiliki satu penilaian untuk pekerja. Rating bagi operator 2 yaitu H1 beban maksimum yang ditangani secara manual ringan ( < 5 kg); J2 rata-rata waktu yang dihabiskan untuk melakukan pekerjaan ini antara 2 sampai 4 jam/hari; K2 tenaga maksimum untuk melakukan pekerjaan medium (1 4 kg); L2 visual yang dibutuhkan saat bekerja adalah tinggi; M1 keperluan dalam mengendarai alat transportasi saat bekerja
84 kurang dari 1 jam atau tidak pernah; N1 penggunaan vibrating tools kurang dari 1 jam/hari atau tidak sama sekali; P2 terkadang kesulitan mengerjakan pekerjaan; dan Q3 pekerjaan dirasa cukup membuat stres. Berdasarkan pemberian rating diatas, maka hasil dari pemberian hasil bagi operator satu adalah sebagai berikut : Tabel 4.7 Tabel Hasil Rating Keseluruhan Operator 2 Punggung Bahu/Lengan Pergelangan Tangan Leher Mengendarai Vibrasi Alur Kerja Strees 24 24 22 12 1 1 4 9 Setelah hasil rating operator 2 didapatkan, maka nilai exposure level nya dapat dihitung. Hasil perhitungan dari nilai exposure level akan menentukan tindakan yang harus diambil bagi operator 2 nantinya. Rumus dari perhitungan exposure level adalah : (%) = 100 % Dimana : E = nilai exposure level X = jumlah dari seluruh perhitungan rating QEC (punggung, bahu/lengan, pergelangan tangan, leher, serta perhitungan rating pekerja) Xmax = jumlah total perhitungan maksimal yang dapat terjadi pada QEC Berdasarkan perhitungan dari hasil rating keseluruhan operator 2, maka : = 93 = 24 + 20 + 22 + 12 + 1 + 1 + 4 + 9
85 Dengan Xmax adalah 162, hal ini dikarenakan pekerjaan yang dilakukan oleh operator 2 di stasiun assembly bersifat statis. Maka perhitungan nilai exposure level bagi operator 2 adalah : (%) = 100 % (%) = 100 % (%) = 0.5741 100 % (%) =. % Oleh karena itu, maka hasil dari perhitungan exposure level dari QEC operator 2 adalah 51 70 %, yaitu level resiko tinggi. 4.4.2.2 Perhitungan Rapid Entire Body Assesment (REBA) Operator 2 Pada perhitungan REBA terdapat 3 buah tabel skoring, yaitu tabel A, tabel B, dan tabel C. Ketiga tabel itu terbagi menjadi perhitungan yang diambil bagi beberapa bagian tubuh. Tabel A merupakan perhitungan bagi leher, tubuh bagian atas, dan kaki. Tabel B merupakan perhitungan bagi lengan dan pergelangan tangan. Lalu tabel C merupakan hasil perhitungan keseluruhan antara tabel A dan B dengan ditambah nilai aktivitas. a. Perhitungan Tabel A Perhitungan yang pertama pada tabel A adalah pada bagian leher. Seperti yang terlihat pada gambar, posisi leher dari operator 2 sejajar dengan punggung sehingga membentuk sudut 10. Posisi leher menengok ke arah meja kerja sehingga terdapat nilai penyesuaian +1. Maka skor berdasarakan tabel REBA untuk leher nya adalah +2. Selanjutnya bagian tubuh atas, dimana dapat dilihat
86 kalau posisi tubuh operator membungkuk sejauh 60 dan sedikit menekuk ke arah meja kerja. Karena itu skor dari tubuh atas adalah +4. Lalu terdapat perhitungan bagi bagian kaki. Kedua kaki dari operator 2 lurus, karena itu skor dari bagian kaki adalah +1. Lalu ketiga hasil ini dilihat melalui tabel A sehingga menghasilkan nilai 5 seperti gambar dibawah. Gambar 4.7 Perhitungan Tabel A bagi Operator 2 Setelah skor postur A didapatkan, maka skor ini ditambahkan dengan nilai beban dari pekerjaan yaitu sebesar 0 (karena beban kurang dari 11 lbs / 4,9 kg) sehingga hasil akhir dari skor A adalah 5. b. Perhitungan Tabel B Perhitungan yang pertama pada tabel B adalah pada bagian lengan bagian atas. Seperti yang terlihat pada gambar, posisi lengan bagian atas dari operator 2 mengangkat dan membentuk sudut antara 20-45, sehingga mempunyai nilai +2. Selanjutnya bagian lengan bawah, dimana dapat dilihat kalau posisi lengan bawah operator naik sebesar 60 sehingga memiliki skor +2. Lalu terdapat perhitungan bagi bagian pergelangan tangan. Kedua pergelangan tangan dari operator 2 membentuk sudut kurang dari 15 sehingga memiliki skor +1. Lalu
87 ketiga hasil ini dilihat melalui tabel B sehingga menghasilkan nilai 2 seperti gambar dibawah. Gambar 4.8 Perhitungan Tabel B bagi Operator 2 Setelah skor postur B didapatkan, maka skor ini ditambahkan dengan nilai coupling dari pekerjaan yaitu sebesar +1 (karena posisi masih dapat diterima tetapi tidak ideal) sehingga hasil akhir dari skor B adalah 3. c. Perhitungan Tabel C Perhitungan dari tabel C merupakan hasil dari angka skor pada tabel A dan tabel B yang dimasukan pada tabel C. Dengan hasil; dari skor A sebesar 5 dan skor B sebesar 3, maka hasil dari tabel C adalah 4.
88 Gambar 4.9 Perhitungan Tabel C bagi Operator 2 Setelah skor postur C didapatkan, maka skor ini ditambahkan dengan nilai aktivitas dari pekerjaan yaitu sebesar +1 (karena terdapat pengulangan dari tindakan kecil) sehingga hasil akhir dari skor REBA operator 2 adalah 5. Sesuai dengan hasil skoring nya, maka pekerjaan dari operator 2 memiliki resiko sedang. 4.4.2.3 Perhitungan Ovako Working Analysis System (OWAS) Operator 2 Pada perhitungan OWAS terdapat 4 buah penilaian, yaitu untuk punggung (back), lengan (arms), kaki (legs), dan beban kerja operator (load). Untuk perhitungan operator 2, dimulai dari pengamatam pada bagian punggung. Punggung dari operator 2 membungkuk ke depan dan sedikit berputar, maka dari itu mempunyai nilai 4. Lalu selanjutnya pada bagian lengan. Kedua lengan operator berada pada posisi dibawah bahu pada saat bekerja sehingga mempunyai nilai 1. Selanjutnya adalah bagian kaki. Operator berdiri dengan kedua kaki lurus,
89 maka nilainya adalah 2. Dan yang terakhir adalah nilai beban kerja operator. Terlihat bahwa operator 2 hanya melakukan pemasangan kenop dengan alat berupa obeng dan lem cair dengan berat kurang dari 1 kg. Maka nilai dari beban kerja nya adalah 1. Setelah semua nilai masing-masing didapatkan, maka skor akhir OWAS akan didapatkan, sehingga hasil akhir dari skor OWAS operator 2 adalah 2. Sesuai dengan hasil skoring nya, maka level resiko dari kategori 2 adalah sedang. Gambar 4.10 Perhitungan OWAS Operator 2 Hasil Akhir Operator 2 : Maka dapat dilihat hasil akhir perhitungan postur kerja dari operator 2 adalah sebagai berikut : Tabel 4.8Ringkasan Hasil Perhitungan Operator 2 Metode Skor/Kategori Level Resiko QEC 57,41% Tinggi REBA 5 Sedang OWAS 2 Sedang
90 4.4.3 Perhitungan Bagi Operator 3 Operator 3 pada bagian stasiun assembly melakukan pekerjaan perakitan knalpot untuk genset. Operator ini bekerja pada 1 shift dengan lama waktu bekerja 4 jam. Jumlah produk knalpot genset yang dikerjakan pada 1 shift tersebut bervariasi antara 10 12 buah knalpot genset. Gambar 4.11 Pengerjaan Knalpot Genset oleh Operator 3 pada Stasiun Assembly 4.4.3.1 Perhitungan Quick Exposure Checklist (QEC) Operator 3 Hal pertama yang dilakukan dalam metode QEC adalah dengan mengisi kuisioner QEC. Kuisioner ini terbagi menjadi dua kuisioner, yaitu berdasarkan pengamat dan berdasarkan pekerja. Berdasarkan kuisioner QEC, maka dapat dijabarkan kalau penilaian akhir akan ditentukan dari pemberian rating bagi operator 3. Pemberian rating yang pertama bagi operator 3 adalah bagian kuisioner pengamat. Terdapat 4 buah rating yang harus ditentukan oleh penulis dengan cara
91 mengamati operator 3. Rating bagi bagian punggung operator 3 yaitu A3 posisi bungkuk berlebihan; dan B2 posisi punggung tetap untuk kebanyakan waktu. Sedangkan rating bagi bahu atau lengan yaitu C2 tangan sejajar dengan dada; dan D2 pergerakan lengan atau bahu sering. Lalu rating bagi pergelangan tangan yaitu E2 pekerjaan dilakukan dengan pergelangan tangan tertekuk; dan F1 pergerakan yang sama terulang 10 kali per menit atau kurang. Dan yang terakhir adalah rating bagi leher yaitu G2 saat bekerja leher terkadang menunduk. Pemberian rating selanjutnya bagi operator 3 adalah bagian kuisioner berdasarkan pekerja. Kuisioner ini diisi oleh operator 3 dan hanya memiliki satu penilaian untuk pekerja. Rating bagi operator 3 yaitu H2 beban maksimum yang ditangani secara manual cukup berat (6 10 kg); J2 rata-rata waktu yang dihabiskan untuk melakukan pekerjaan ini antara 2 sampai 4 jam/hari; K2 tenaga maksimum untuk melakukan pekerjaan medium (1 4 kg); L1 visual yang dibutuhkan saat bekerja adalah rendah; M1 keperluan dalam mengendarai alat transportasi saat bekerja kurang dari 1 jam atau tidak pernah; N1 penggunaan vibrating tools kurang dari 1 jam/hari atau tidak sama sekali; P2 terkadang kesulitan mengerjakan pekerjaan; dan Q3 pekerjaan dirasa cukup membuat stres. Berdasarkan pemberian rating diatas, maka hasil dari pemberian skoring bagi operator satu adalah sebagai berikut :
92 Tabel 4.9 Tabel Hasil Rating Keseluruhan Operator 3 Punggung Bahu/Lengan Pergelangan Tangan Leher Mengendarai Vibrasi Alur Kerja Strees 28 30 26 10 1 1 4 9 Setelah hasil rating operator 3 didapatkan, maka nilai exposure level nya dapat dihitung. Hasil perhitungan dari nilai exposure level akan menentukan tindakan yang harus diambil bagi operator 3 nantinya. Rumus dari perhitungan exposure level adalah : (%)= 100 % Dimana : E = nilai exposure level X = jumlah dari seluruh perhitungan rating QEC (punggung, bahu/lengan, pergelangan tangan, leher, serta perhitungan rating pekerja) Xmax = jumlah total perhitungan maksimal yang dapat terjadi pada QEC Berdasarkan perhitungan dari hasil rating keseluruhan operator 3, maka : =28+30+26+10+1+1+4+9 =109 Dengan Xmax adalah 162, hal ini dikarenakan pekerjaan yang dilakukan oleh operator 3 di stasiun assembly bersifat statis. Maka perhitungan nilai exposure level bagi operator 3 adalah : (%)= 100 % (%)= 100 %
93 (%)=0.6728 100 % (%)=. % Oleh karena itu, maka hasil dari perhitungan exposure level dari QEC operator 3 adalah 51 70 %, yaitu level resiko tinggi. 4.4.3.2 Perhitungan Rapid Entire Body Assesment (REBA) Operator 3 Pada perhitungan REBA terdapat 3 buah tabel skoring, yaitu tabel A, tabel B, dan tabel C. Ketiga tabel itu terbagi menjadi perhitungan yang diambil bagi beberapa bagian tubuh. Tabel A merupakan perhitungan bagi leher, tubuh bagian atas, dan kaki. Tabel B merupakan perhitungan bagi lengan dan pergelangan tangan. Lalu tabel C merupakan hasil perhitungan keeluruhan antara tabel A dan B. Kemudian hasil dari tabel C ditambah dengan nilai aktivitas sehingga terdapat nilai akhir REBA. a. Perhitungan Tabel A Perhitungan yang pertama pada tabel A adalah pada bagian leher. Seperti yang terlihat pada gambar, posisi leher dari operator 3 sejajar dengan punggung sehingga membentuk sudut 10. Posisi leher lurus sehingga tidak terdapat nilai penyesuaian. Maka skor berdasarakan tabel REBA untuk leher nya adalah +1. Selanjutnya bagian tubuh atas, dimana dapat dilihat kalau posisi tubuh operator membungkuk sejauh 60 dan sedikit menekuk ke arah meja kerja. Karena itu skor dari tubuh atas adalah +4. Lalu terdapat perhitungan bagi bagian kaki. Salah satu kaki dari operator 3 lurus dan yang satu nya lagi terteku, karena itu skor dari bagian kaki adalah +2. Lalu ketiga
94 hasil ini dilihat melalui tabel A sehingga menghasilkan nilai 5 seperti gambar dibawah. Gambar 4.12 Perhitungan Tabel A bagi Operator 3 Setelah skor postur A didapatkan, maka skor ini ditambahkan dengan nilai beban dari pekerjaan yaitu sebesar +1 (karena beban kurang dari sekitar 6 kg) sehingga hasil akhir dari skor A adalah 6. b. Perhitungan Tabel B Perhitungan yang pertama pada tabel B adalah pada bagian lengan bagian atas. Seperti yang terlihat pada gambar, posisi lengan bagian atas dari operator 3 mengangkat dan membentuk sudut antara 20-45, sehingga mempunyai nilai +2. Pada bagian lengan atas memiliki penyusuaian karena bahu dari operator naik saat bekerja, yaitu sebesar +1. Maka skor dari lengan atas adalah +3. Selanjutnya bagian lengan bawah, dimana dapat dilihat kalau posisi lengan bawah operator naik sebesar 60 sehingga memiliki skor +2. Lalu terdapat perhitungan bagi bagian pergelangan tangan. Kedua pergelangan tangan dari operator 3 membentuk sudut lebih dari 15 sehingga memiliki skor +2. Lalu
95 ketiga hasil ini dilihat melalui tabel B sehingga menghasilkan nilai 5 seperti gambar dibawah. Gambar 4.13 Perhitungan Tabel B bagi Operator 3 Setelah skor postur B didapatkan, maka skor ini ditambahkan dengan nilai coupling dari pekerjaan yaitu sebesar +3 (karena posisi tidak ideal dan 95esi tidak sesuai dengan berat beban) sehingga hasil akhir dari skor B adalah 8. c. Perhitungan Tabel C Perhitungan dari tabel C merupakan hasil dari angka skor pada tabel A dan tabel B yang dimasukan pada tabel C. Dengan hasil dari skor A sebesar 6 dan skor B sebesar 8, maka hasil dari tabel C adalah 9.
96 Gambar 4.14 Perhitungan Tabel C bagi Operator 3 Setelah skor postur C didapatkan, maka skor ini ditambahkan dengan nilai aktivitas dari pekerjaan yaitu sebesar +1 (karena terdapat pengulangan dari tindakan kecil) sehingga hasil akhir dari skor REBA operator 3 adalah 10. Sesuai dengan hasil skoring nya, maka pekerjaan dari operator 3 memiliki resiko tinggi. 4.4.3.3 Perhitungan Ovako Working Analysis System (OWAS) Operator 3 Pada perhitungan OWAS terdapat 4 buah penilaian, yaitu untuk punggung (back), lengan (arms), kaki (legs), dan beban kerja operator (load). Untuk perhitungan operator 3, dimulai dari pengamatan pada bagian punggung. Punggung dari operator 3 membungkuk ke arah depan, maka dari itu mempunyai nilai 2. Lalu selanjutnya pada bagian lengan. Kedua lengan operator berada pada posisi dibawah bahu pada saat bekerja sehingga mempunyai nilai 1. Selanjutnya adalah bagian kaki. Operator berdiri dengan kedua kaki lurus, maka nilainya adalah 2. Dan yang terakhir adalah nilai beban kerja operator. Terlihat bahwa
97 operator 3 melakukan pengangkatan knalpot dengan berat kurang dari 10 kg. Maka nilai dari beban kerja nya adalah 1. Setelah semua nilai masing-masing didapatkan, maka skor akhir OWAS akan didapatkan, sehingga hasil akhir dari skor OWAS operator 3 adalah 2. Sesuai dengan hasil skoring nya, maka level resiko dari dari kategori 2 adalah sedang. Gambar 4.15 Perhitungan OWAS Operator 3 Hasil Akhir Operator 3 : Maka dapat dilihat hasil akhir perhitungan postur kerja dari operator 3 adalah sebagai berikut : Tabel 4.10 Ringkasan Hasil Perhitungan Operator 3 Metode Skor/Kategori Level Resiko QEC 67,28% Tinggi REBA 10 Tinggi OWAS 2 Sedang
98 1.4.4 Perhitungan Bagi Operator 4 Operator 4 pada bagian stasiun assembly melakukan pekerjaan pemotongan karton untuk storage bagi tiang antrian. Operator ini bekerja pada 1 shift dengan lama waktu bekerja 4 jam. Jumlah karton storage yang dikerjakan pada 1 shift tersebut sekitar 50 buah potong. Gambar 4.16 Pengerjaan Karton Storage Operator 4 pada Stasiun Assembly 1.4.4.1 Perhitungan Quick Exposure Checklist (QEC) Operator 4 Hal pertama yang dilakukan dalam metode QEC adalah dengan mengisi kuisioner QEC. Kuisioner ini terbagi menjadi dua kuisioner, yaitu berdasarkan pengamat dan berdasarkan pekerja. Berdasarkan kuisinoer QEC, maka dapat dijabarkan kalau penilaian akhir akan ditentukan dari pemberian rating bagi operator 4.
99 Pemberian rating yang pertama bagi operator 4 adalah bagian kuisioner pengamat. Terdapat 4 buah rating yang harus ditentukan oleh penulis dengan cara mengamati operator 4. Rating bagi bagian punggung operator 4 yaitu A2 posisi cukup membungkuk; dan B2 posisi punggung tetap untuk kebanyakan waktu. Sedangkan rating bagi bahu atau lengan yaitu C1 tangan berada berada sejajar atau dibawah pinggang; dan D2 pergerakan lengan atau bahu sering. Lalu rating bagi pergelangan tangan yaitu E2 pekerjaan dilakukan dengan pergelangan tangan tertekuk; dan F1 pergerakan yang sama terulang 10 kali per menit atau kurang. Dan yang terakhir adalah rating bagi leher yaitu G2 saat bekerja leher terkadang menunduk. Pemberian rating selanjutnya bagi operator 4 adalah bagian kuisioner berdasarkan pekerja. Kuisioner ini diisi oleh operator 4 dan hanya memiliki satu penilaian untuk pekerja. Rating bagi operator 4 yaitu H1 beban maksimum yang ditangani secara manual ringan ( < 5 kg); J2 rata-rata waktu yang dihabiskan untuk melakukan pekerjaan ini antara 2 sampai 4 jam/hari; K1 tenaga maksimum untuk melakukan pekerjaan rendah (kurang dari 1 kg); L2 visual yang dibutuhkan saat bekerja adalah tinggi; M1 keperluan dalam mengendarai alat transportasi saat bekerja kurang dari 1 jam atau tidak pernah; N1 tidak meggunakan vibrating tools; P2 terkadang kesulitan mengerjakan pekerjaan; dan Q2 pekerjaan dirasa sedikit membuat stres. Berdasarkan pemberian rating diatas, maka hasil dari pemberian skoring bagi operator satu adalah sebagai berikut :
100 Tabel 4.11 Tabel Hasil Rating Keseluruhan Operator 4 Punggung Bahu/Lengan Pergelangan Tangan Leher Mengendarai Vibrasi Alur Kerja Strees 20 20 20 12 1 1 4 4 Setelah hasil rating operator 4 didapatkan, maka nilai exposure level nya dapat dihitung. Hasil perhitungan dari nilai exposure level akan menentukan tindakan yang harus diambil bagi operator 4 nantinya. Rumus dari perhitungan exposure level adalah : (%)= 100 % Dimana : E = nilai exposure level X = jumlah dari seluruh perhitungan rating QEC (punggung, bahu/lengan, pergelangan tangan, leher, serta perhitungan rating pekerja) Xmax = jumlah total perhitungan maksimal yang dapat terjadi pada QEC Berdasarkan perhitungan dari hasil rating keseluruhan operator 4, maka : =20+20+20+12+1+1+4+4 =82 Dengan Xmax adalah 162, hal ini dikarenakan pekerjaan yang dilakukan oleh operator 4 di stasiun assembly bersifat statis. Maka perhitungan nilai exposure level bagi operator 4 adalah : (%)= 100 % (%)= 100 %
101 (%)=0.5062 100 % (%)=50.62 % % Oleh karena itu, maka hasil dari perhitungan exposure level dari QEC operator 4 adalah 51 70 %, yaitu level resiko tinggi. 4.4.4.2 Perhitungan Rapid Entire Body Assesment (REBA) Operator 4 Pada perhitungan REBA terdapat 3 buah tabel kuisioner, yaitu tabel A, tabel B, dan tabel C. Ketiga tabel itu terbagi menjadi perhitungan yang diambil bagi beberapa bagian tubuh. Tabel A merupakan perhitungan bagi leher, tubuh bagian atas, dan kaki. Tabel B merupakan perhitungan bagi lengan dan pergelangan tangan. Lalu tabel C merupakan hasil perhitungan keseluruhan antara tabel A dan B dengan ditambah nilai aktivitas. a. Perhitungan Tabel A Perhitungan yang pertama pada tabel A adalah pada bagian leher. Seperti yang terlihat pada gambar, posisi leher dari operator 4 sejajar dengan menunduk dari punggung sehingga membentuk sudut 30. Posisi leher lurus sehingga tidak terdapat nilai penyesuaian. Maka skor berdasarakan tabel REBA untuk leher nya adalah +2. Selanjutnya bagian tubuh atas, dimana dapat dilihat kalau posisi tubuh operator membungkuk sejauh 25 dan dalam keadaan lurus. Karena itu skor dari tubuh atas adalah +3. Lalu terdapat perhitungan bagi bagian kaki. Kedua kaki dari operator 4 lurus, karena itu skor dari bagian kaki adalah +1. Lalu ketiga hasil ini dilihat melalui tabel A sehingga menghasilkan nilai 4 seperti gambar dibawah.
102 Gambar 4.17 Perhitungan Tabel A bagi Operator 4 Setelah skor postur A didapatkan, maka skor ini ditambahkan dengan nilai beban dari pekerjaan yaitu sebesar 0 (karena beban kurang dari 11 lbs) sehingga hasil akhir dari skor A adalah 4. b. Perhitungan Tabel B Perhitungan yang pertama pada tabel B adalah pada bagian lengan bagian atas. Seperti yang terlihat pada gambar, posisi lengan bagian atas dari operator 4 mengangkat dan membentuk sudut antara 40, sehingga mempunyai nilai +2. Selanjutnya bagian lengan bawah, dimana dapat dilihat kalau posisi lengan bawah operator naik sebesar 60 sehingga memiliki skor +2. Lalu terdapat perhitungan bagi bagian pergelangan tangan. Kedua pergelangan tangan dari operator 4 membentuk sudut lebih dari 15 sehingga memiliki skor +2. Lalu ketiga hasil ini dilihat melalui tabel B sehingga menghasilkan nilai 3 seperti gambar dibawah.
103 Gambar 4.18 Perhitungan Tabel B bagi Operator 4 Setelah skor postur B didapatkan, maka skor ini ditambahkan dengan nilai coupling dari pekerjaan yaitu sebesar +1 (karena posisi tangan tidak ideal tetapi masih bisa diterima dengan kondisi badan) sehingga hasil akhir dari skor B adalah 4. c. Perhitungan Tabel C Perhitungan dari tabel C merupakan hasil dari angka skor pada tabel A dan tabel B yang dimasukan pada tabel C. Dengan hasil dari skor A sebesar 4 dan skor B sebesar 4, maka hasil dari tabel C adalah 4. Gambar 4.19 Perhitungan Tabel C bagi Operator 4
104 Setelah skor postur C didapatkan, maka skor ini ditambahkan dengan nilai aktivitas dari pekerjaan yaitu sebesar +1 (karena terdapat pengulangan dari tindakan kecil) sehingga hasil akhir dari skor REBA operator 4 adalah 5. Sesuai dengan hasil skoring nya, maka pekerjaan dari operator 4 memiliki resiko sedang. 4.4.4.3 Perhitungan Ovako Working Analysis System (OWAS) Operator 4 Pada perhitungan OWAS terdapat 4 buah penilaian, yaitu untuk punggung (back), lengan (arms), kaki (legs), dan beban kerja operator (load). Untuk perhitungan operator 4, dimulai dari pengamatan pada bagian punggung. Punggung dari operator 4 membungkuk ke arah depan, maka dari itu mempunyai nilai 2. Lalu selanjutnya pada bagian lengan. Kedua lengan operator berada pada posisi dibawah bahu pada saat bekerja sehingga mempunyai nilai 1. Selanjutnya adalah bagian kaki. Operator berdiri dengan kedua kaki lurus, maka nilainya adalah 2. Dan yang terakhir adalah nilai beban kerja operator. Terlihat bahwa operator 4 melakukan pemotongan karton dengan menggunakan cutter dengan berat kurang dari 10 kg. Maka nilai dari beban kerja 104esi adalah 1. Setelah semua nilai masing-masing didapatkan, maka skor akhir OWAS akan didapatkan, sehingga hasil akhir dari skor OWAS operator 4 adalah 2. Sesuai dengan hasil skoring nya, maka level resiko dari dari kategori 2 adalah sedang.
105 Gambar 4.20 Perhitungan OWAS Operator 4 Hasil Akhir Operator 4 : Maka dapat dilihat hasil akhir perhitungan postur kerja dari operator 4 adalah sebagai berikut : Tabel 4.12 Ringkasan Hasil Perhitungan Operator 4 Metode Skor/Kategori Level Resiko QEC 51,00% Tinggi REBA 5 Sedang OWAS 2 Sedang 4.4.5 Perhitungan Bagi Operator 5 Operator 5 pada bagian stasiun assembly melakukan pekerjaan pengamplasan ulang pada kursi tunggu dengan menggunakan soda api dan metal polish Operator ini bekerja pada 1 shift dengan lama waktu bekerja 4 jam. Jumlah kursi tunggu yang dikerjakan pada 1 shift tersebut sekitar 12-16 kursi tunggu.
106 Gambar 4.21 Pengerjaan Pengamplasan Kursi Tunggu oleh Operator 5 pada Stasiun Assembly 4.4.5.1 Perhitungan Quick Exposure Checklist (QEC) Operator 5 Hal pertama yang dilakukan dalam metode QEC adalah dengan mengisi kuisioner QEC. Kuisioner ini terbagi menjadi dua kuisioner, yaitu berdasarkan pengamat dan berdasarkan pekerja. Berdasarkan kuisioner QEC, maka dapat dijabarkan kalau penilaian akhir akan ditentukan dari pemberian rating bagi operator 5. Pemberian rating yang pertama bagi operator 5 adalah bagian kuisioner pengamat. Terdapat 4 buah rating yang harus ditentukan oleh penulis dengan cara mengamati operator 5. Rating bagi bagian punggung operator 5 yaitu A2 posisi cukup membungkuk; dan B2 posisi punggung tetap untuk kebanyakan waktu.
107 Sedangkan rating bagi bahu atau lengan yaitu C3 tangan berada berada diatas ketinggian bahu; dan D2 pergerakan lengan atau bahu sering. Lalu rating bagi pergelangan tangan yaitu E2 pekerjaan dilakukan dengan pergelangan tangan tertekuk; dan F2 pergerakan yang sama terulang 11 sampai 20 kali per menit. Dan yang terakhir adalah rating bagi leher yaitu G2 saat bekerja leher terkadang menunduk. Pemberian rating selanjutnya bagi operator 5 adalah bagian kuisioner berdasarkan pekerja. Kuisioner ini diisi oleh operator 5 dan hanya memiliki satu penilaian untuk pekerja. Rating bagi operator 5 yaitu H2 beban maksimum yang ditangani secara manual cukup berat (6 10 kg); J2 rata-rata waktu yang dihabiskan untuk melakukan pekerjaan ini antara 2 sampai 4 jam/hari; K2 tenaga maksimum untuk melakukan pekerjaan medium (1 4 kg); L1 visual yang dibutuhkan saat bekerja adalah rendah; M1 keperluan dalam mengendarai alat transportasi saat bekerja kurang dari 1 jam atau tidak pernah; N1 tidak meggunakan vibrating tools; P2 terkadang kesulitan mengerjakan pekerjaan; dan Q2 pekerjaan dirasa sedikit membuat stres. Berdasarkan pemberian rating diatas, maka hasil dari pemberian skoring bagi operator satu adalah sebagai berikut : Tabel 4.13 Tabel Hasil Rating Keseluruhan Operator 5 Punggung Bahu/Lengan Pergelangan Tangan Leher Mengendarai Vibrasi Alur Kerja Strees 24 34 30 10 1 1 4 4
108 Setelah hasil rating operator 5 didapatkan, maka nilai exposure level nya dapat dihitung. Hasil perhitungan dari nilai exposure level akan menentukan tindakan yang harus diambil bagi operator 5 nantinya. Rumus dari perhitungan exposure level adalah : (%)= 100 % Dimana : E = nilai exposure level X = jumlah dari seluruh perhitungan rating QEC (punggung, bahu/lengan, pergelangan tangan, leher, serta perhitungan rating pekerja) Xmax = jumlah total perhitungan maksimal yang dapat terjadi pada QEC Berdasarkan perhitungan dari hasil rating keseluruhan operator 5, maka : =24+34+30+10+1+1+4+4 =108 Dengan Xmax adalah 162, hal ini dikarenakan pekerjaan yang dilakukan oleh operator 5 di stasiun assembly bersifat statis. Maka perhitungan nilai exposure level bagi operator 5 adalah : (%)= 100 % (%)= 100 % (%)=0.6667 100 % (%)=. %
109 Oleh karena itu, maka hasil dari perhitungan exposure level dari QEC operator 5 adalah 51 70 %, yaitu level resiko tinggi. 4.4.5.2 Perhitungan Rapid Entire Body Assesment (REBA) Operator 5 Pada perhitungan REBA terdapat 3 buah tabel skoring, yaitu tabel A, tabel B, dan tabel C. Ketiga tabel itu terbagi menjadi perhitungan yang diambil bagi beberapa bagian tubuh. Tabel A merupakan perhitungan bagi leher, tubuh bagian atas, dan kaki. Tabel B merupakan perhitungan bagi lengan dan pergelangan tangan. Lalu tabel C merupakan hasil perhitungan keseluruhan antara tabel A dan B dengan ditambah nilai aktivitas. a. Perhitungan Tabel A Perhitungan yang pertama pada tabel A adalah pada bagian leher. Seperti yang terlihat pada gambar, posisi leher dari operator 5 menunduk dari punggung sehingga membentuk sudut 30. Posisi leher lurus sehingga tidak terdapat nilai penyesuaian. Maka skor berdasarakan tabel REBA untuk leher nya adalah +2. Selanjutnya bagian tubuh atas, dimana dapat dilihat kalau posisi tubuh operator membungkuk sejauh 20 dan dalam keadaan lurus. Karena itu skor dari tubuh atas adalah +3. Lalu terdapat perhitungan bagi bagian kaki. Kedua kaki dari operator 5 lurus, karena itu skor dari bagian
110 kaki adalah +1. Lalu ketiga hasil ini dilihat melalui tabel A sehingga menghasilkan nilai 4 seperti gambar dibawah. Gambar 4.22 Perhitungan Tabel A bagi Operator 5 Setelah skor postur A didapatkan, maka skor ini ditambahkan dengan nilai beban dari pekerjaan yaitu sebesar +1 (karena beban berada di antara 11 22 lbs) sehingga hasil akhir dari skor A adalah 5. b. Perhitungan Tabel B Perhitungan yang pertama pada tabel B adalah pada bagian lengan bagian atas. Seperti yang terlihat pada gambar, posisi lengan bagian atas dari operator 5 mengangkat dan membentuk sudut sekitar 70, dan memiliki nilai penyesuaian karena bahu dari operator mengangkat sehingga mempunyai nilai +4. Selanjutnya bagian lengan bawah, dimana dapat dilihat kalau posisi lengan bawah operator naik sehingga memiliki skor +2. Lalu terdapat perhitungan bagi bagian pergelangan tangan. Kedua pergelangan tangan dari operator 5 membentuk sudut lebih dari 10 sehingga memiliki skor +1. Lalu ketiga hasil ini dilihat melalui tabel B sehingga menghasilkan nilai 5 seperti gambar dibawah.
111 Gambar 4.23 Perhitungan Tabel B bagi Operator 5 Setelah skor postur B didapatkan, maka skor ini ditambahkan dengan nilai coupling dari pekerjaan yaitu sebesar +1 (karena posisi tangan tidak ideal tetapi masih bisa diterima dengan kondisi badan) sehingga hasil akhir dari skor B adalah 6. c. Perhitungan Tabel C Perhitungan dari tabel C merupakan hasil dari angka skor pada tabel A dan tabel B yang dimasukan pada tabel C. Dengan hasil dari skor A sebesar 5 dan skor B sebesar 6, maka hasil dari tabel C adalah 7. Gambar 4.24 Perhitungan Tabel C bagi Operator 5
112 Setelah skor postur C didapatkan, maka skor ini ditambahkan dengan nilai aktivitas dari pekerjaan yaitu sebesar +1 (karena terdapat pengulangan dari tindakan kecil) sehingga hasil akhir dari skor REBA operator 5 adalah 8. Sesuai dengan hasil skoring nya, maka pekerjaan dari operator 5 memiliki resiko tinggi, dan harus diteliti dan dibuat perubahan. 4.4.5.3 Perhitungan Ovako Working Analysis System (OWAS) Operator 5 Pada perhitungan OWAS terdapat 4 buah penilaian, yaitu untuk punggung (back), lengan (arms), kaki (legs), dan beban kerja operator (load). Untuk perhitungan operator 5, dimulai dari pengamatan pada bagian punggung. Punggung dari operator 5 membungkuk ke arah depan, maka dari itu mempunyai nilai 2. Lalu selanjutnya pada bagian lengan. Salah satu lengan operator berada pada posisi dibawah bahu dan lengan yang satu lagi berada pada posisi diatas bahu pada saat bekerja sehingga mempunyai nilai 2. Selanjutnya adalah bagian kaki. Operator berdiri dengan kedua kaki lurus, maka nilainya adalah 2. Dan yang terakhir adalah nilai beban kerja operator. Terlihat bahwa operator 5 melakukan pengamplasan dengan menggunakan soda api dan menahan kursi tunggu dengan berat kurang dari 10 kg. Maka nilai dari beban kerja 112esi adalah 1. Setelah semua nilai masing-masing didapatkan, maka skor akhir OWAS akan didapatkan, sehingga hasil akhir dari skor OWAS operator 5 adalah 2. Sesuai dengan hasil skoring nya, maka level resiko dari dari kategori 2 adalah sedang.
113 Gambar 4.25 Perhitungan OWAS Operator 5 Hasil Akhir Operator 5 : Maka dapat dilihat hasil akhir perhitungan postur kerja dari operator 5 adalah sebagai berikut. Tabel 4.14 Ringkasan Hasil Perhitungan Operator 5 Metode Skor/Kategori Level Resiko QEC 66,67% Tinggi REBA 8 Tinggi OWAS 2 Sedang 4.4.6 Perhitungan Bagi Operator 6 Operator 6 pada bagian stasiun assembly melakukan pekerjaan pemasangan baut pada alas rak display. Operator ini bekerja pada 1 shift dengan lama waktu bekerja 4 jam. Jumlah rak display yang selesai dikerjakan pada 1 shift tersebut sekitar 12 rak display.
114 Gambar 4.26 Pengerjaan Pemasangan Baut pada Alas Rak Display oleh Operator 6 pada Stasiun Assembly 4.4.6.1 Perhitungan Quick Exposure Checklist (QEC) Operator 6 Hal pertama yang dilakukan dalam metode QEC adalah dengan mengisi kuisioner QEC. Kuisioner ini terbagi menjadi dua kuisioner, yaitu berdasarkan pengamat dan berdasarkan pekerja. Berdasarkan kuisioner QEC, maka dapat dijabarkan kalau penilaian akhir akan ditentukan dari pemberian rating bagi operator 6. Pemberian rating yang pertama bagi operator 6 adalah bagian kuisioner pengamat. Terdapat 4 buah rating yang harus ditentukan oleh penulis dengan cara mengamati operator 6. Rating bagi bagian punggung operator 6 yaitu A1 posisi badan cukup lurus hampir netral; dan B2 posisi punggung tetap untuk kebanyakan
115 waktu. Sedangkan rating bagi bahu atau lengan yaitu C1 tangan berada berada dibawah ketinggian pinggang; dan D2 pergerakan lengan atau bahu sering. Lalu rating bagi pergelangan tangan yaitu E2 pekerjaan dilakukan dengan pergelangan tangan tertekuk; dan F2 pergerakan yang sama terulang 11 sampai 20 kali per menit. Dan yang terakhir adalah rating bagi leher yaitu G3 saat bekerja leher terus menunduk. Pemberian rating selanjutnya bagi operator 6 adalah bagian kuisioner berdasarkan pekerja. Kuisioner ini diisi oleh operator 6 dan hanya memiliki satu penilaian untuk pekerja. Rating bagi operator 6 yaitu H3 beban maksimum yang ditangani secara manual berat (11 20 kg); J2 rata-rata waktu yang dihabiskan untuk melakukan pekerjaan ini antara 2 sampai 4 jam/hari; K3 tenaga maksimum untuk melakukan pekerjaan tinngi ( 4 kg); L1 visual yang dibutuhkan saat bekerja adalah rendah; M1 keperluan dalam mengendarai alat transportasi saat bekerja kurang dari 1 jam atau tidak pernah; N1 tidak meggunakan vibrating tools; P2 terkadang kesulitan mengerjakan pekerjaan; dan Q2 pekerjaan dirasa sedikit membuat stres. Berdasarkan pemberian rating diatas, maka hasil dari pemberian skoring bagi operator satu adalah sebagai berikut : Tabel 4.14 Tabel Hasil Rating Keseluruhan Operator 6 Punggung Bahu/Lengan Pergelangan Tangan Leher Mengendarai Vibrasi Alur Kerja Strees 24 32 36 12 1 1 4 4
116 Setelah hasil rating operator 6 didapatkan, maka nilai exposure level nya dapat dihitung. Hasil perhitungan dari nilai exposure level akan menentukan tindakan yang harus diambil bagi operator 6 nantinya. Rumus dari perhitungan exposure level adalah : (%)= 100 % Dimana : E = nilai exposure level X = jumlah dari seluruh perhitungan rating QEC (punggung, bahu/lengan, pergelangan tangan, leher, serta perhitungan rating pekerja) Xmax = jumlah total perhitungan maksimal yang dapat terjadi pada QEC Berdasarkan perhitungan dari hasil rating keseluruhan operator 6, maka : =24+32+36+12+1+1+4+4 =114 Dengan Xmax adalah 162, hal ini dikarenakan pekerjaan yang dilakukan oleh operator 6 di stasiun assembly bersifat statis. Maka perhitungan nilai exposure level bagi operator 6 adalah : (%)= 100 % (%)= 100 % (%)=0.7037 100 % (%)=. % Oleh karena itu, maka hasil dari perhitungan exposure level dari QEC operator resiko sangat tinggi.
117 4.4.6.2 Perhitungan Rapid Entire Body Assesment (REBA) Operator 6 Pada perhitungan REBA terdapat 3 buah tabel skoring, yaitu tabel A, tabel B, dan tabel C. Ketiga tabel itu terbagi menjadi perhitungan yang diambil bagi beberapa bagian tubuh. Tabel A merupakan perhitungan bagi leher, tubuh bagian atas, dan kaki. Tabel B merupakan perhitungan bagi lengan dan pergelangan tangan. Lalu tabel C merupakan hasil perhitungan keseluruhan antara tabel A dan B dengan ditambah nilai aktivitas. a. Perhitungan Tabel A Perhitungan yang pertama pada tabel A adalah pada bagian leher. Seperti yang terlihat pada gambar, posisi leher dari operator 6 menunduk dari punggung sehingga membentuk sudut 10 nilainya adalah +2. Posisi leher menekuk ke samping sehingga terdapat nilai penyesuaian +1. Maka skor berdasarakan tabel REBA untuk leher nya adalah +3. Selanjutnya bagian tubuh atas, dimana dapat dilihat kalau posisi tubuh operator membungkuk sejauh 10 dan dalam keadaan menekuk ke samping (penyesuaian +1). Karena itu skor dari tubuh atas adalah +3. Lalu terdapat perhitungan bagi bagian kaki. Salah satu kaki dari operator 6 lurus, dan yang satunya lagi tertekuk. Karena itu skor dari bagian kaki adalah +2. Lalu ketiga hasil ini dilihat melalui tabel A sehingga menghasilkan nilai 5 seperti gambar dibawah.
118 Gambar 4.27 Perhitungan Tabel A bagi Operator 6 Setelah skor postur A didapatkan, maka skor ini ditambahkan dengan nilai beban dari pekerjaan yaitu sebesar +2 (karena beban lebih dari 22 lbs) sehingga hasil akhir dari skor A adalah 7. b. Perhitungan Tabel B Perhitungan yang pertama pada tabel B adalah pada bagian lengan bagian atas. Seperti yang terlihat pada gambar, posisi lengan bagian atas dari operator 6 hanya mengangkat sedikit dan membentuk sudut 20, sehingga mempunyai nilai +2. Selanjutnya bagian lengan bawah, dimana dapat dilihat kalau posisi lengan bawah operator naik sebesar 60 sehingga memiliki skor +2. Lalu terdapat perhitungan bagi bagian pergelangan tangan. Kedua pergelangan tangan dari operator 6 membentuk sudut sekitar dari 10 sehingga memiliki skor +1. Lalu ketiga hasil ini dilihat melalui tabel B sehingga menghasilkan nilai 2 seperti gambar dibawah.
119 Gambar 4.28 Perhitungan Tabel B bagi Operator 6 Setelah skor postur B didapatkan, maka skor ini ditambahkan dengan nilai coupling dari pekerjaan yaitu sebesar +1 (karena posisi tangan tidak ideal tetapi masih bisa diterima dengan kondisi badan) sehingga hasil akhir dari skor B adalah 3. c. Perhitungan Tabel C Perhitungan dari tabel C merupakan hasil dari angka skor pada tabel A dan tabel B yang dimasukan pada tabel C. Dengan hasil dari skor A sebesar 7 dan skor B sebesar 3, maka hasil dari tabel C adalah 7. Gambar 4.29 Perhitungan Tabel C bagi Operator 6
120 Setelah skor postur C didapatkan, maka skor ini ditambahkan dengan nilai aktivitas dari pekerjaan yaitu sebesar +1 (karena terdapat pengulangan dari tindakan kecil) sehingga hasil akhir dari skor REBA operator 6 adalah 8. Sesuai dengan hasil skoring nya, maka pekerjaan dari operator 6 memiliki resiko tinggi. 4.4.6.3 Perhitungan Ovako Working Analysis System (OWAS) Operator 6 Pada perhitungan OWAS terdapat 4 buah penilaian, yaitu untuk punggung (back), lengan (arms), kaki (legs), dan beban kerja operator (load). Untuk perhitungan operator 6, dimulai dari pengamatan pada bagian punggung. Punggung dari operator 6 membungkuk ke arah depan, maka dari itu mempunyai nilai 2. Lalu selanjutnya pada bagian lengan. Kedua lengan operator berada pada posisi dibawah bahu pada saat bekerja sehingga mempunyai nilai 1. Selanjutnya adalah bagian kaki. Operator berdiri dengan beban berada pada salah satu kaki, maka nilainya adalah 3. Dan yang terakhir adalah nilai beban kerja operator. Terlihat bahwa operator 6 melakukan pemasangan baut pada alas rak display dengan berat rak di antara 10 20 kg. Maka nilai dari beban kerja 120esi adalah 2. Setelah semua nilai masing-masing didapatkan, maka skor akhir OWAS akan didapatkan, sehingga hasil akhir dari skor OWAS operator 6 adalah 2. Sesuai dengan hasil skoring nya, maka level resiko dari dari kategori 2 adalah sedang.
121 Gambar 4.30 Perhitungan OWAS Operator 6 Hasil Akhir Operator 6 : Maka dapat dilihat hasil akhir perhitungan postur kerja dari operator 6 adalah sebagai berikut : Tabel 4.15Ringkasan Hasil Perhitungan Operator 6 Metode Skor/Kategori Level Resiko QEC 70,37% Sangat Tinggi REBA 8 Tinggi OWAS 2 Sedang