PENGARUH JUMLAH WAJIB PAJAK, SURAT PEMBERITAHUAN PAJAK TERHUTANG DAN JUMLAH BANGUNAN TERHADAP PENERIMAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN DI NAGARI AUA KUNING KECAMATAN PASAMAN KABUPATEN PASAMAN BARAT Fitri Kurnia 1, Citra Ramayani 2, Jolianis 2 1 Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi STKIP PGRI Sumatera Barat 2 Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi STKIP PGRI Sumatera Barat fitrikurnia0203@gmail.com ABSTRACT This study aims to analyze: The influence of the number of taxpayers, tax payable notes and the number of buildings on the tax revenue of the earth and buildings in Nagari Aua Kuning Pasaman District Pasaman Barat Regency. This type of research is associative research. Data analytics technique is panel data regression analysis. The results of this study indicate that: 1) the number of taxpayers did not significantly affect the tax revenue of the earth and buildings with the value of tcount 1.583721 <ttabel 1.70562. 2) tax letters notes have no significant effect on the tax revenue of the earth and buildings with a value of t86 0.862547 <ttabel 1.70562. 3) the number of buildings significantly affect the tax revenue of the earth and buildings with a value of t calculate 2.275058> ttabel 1.70562. 4) Simultaneously for the variable of the taxpayer, the letter of tax payable and the number of buildings together significantly affect the tax revenue of the earth and buildings, it can show that Fcount is 6.431325> Ftable of 2.98 and value significant 0.000340 <0.05. Keywords: Number of Taxpayers, Income Tax Notification, Building Amount and Land and Building Tax Receipts PENDAHULUAN Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) merupakan pajak langsung yang dikenakan atas bumi dan atau bangunan. Menurut (Irfan, 2010) Subjek pajak dalam PBB adalah orang atau badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas bumi, dan atau memiliki, menguasai, dan atau memperoleh manfaat atas bangunan. Pajak Bumi dan Bangunan merupakan pajak property di Indonesia sebagaimana tertulis dalam Undang-Undang Nomor 12 tahun 1994. Pajak Bumi dan Bangunan sebagai pajak obyektif, yaitu pajak Negara yang sebagian besar penerimanya merupakan pendapatan daerah yang antara lain dipergunakan untuk penyediaan fasilitas yang juga
dinikmati oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, oleh sebab itu, wajar bila pemerintah pusat juga membiayai penyediaan fasilitas tersebut melalui pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan. Meskipun Pajak Bumi dan Bangunan memiliki nilai rupiah kecil dibandingkan dengan pajak pusat lainnya, tetapi memiliki dampak luas sebab hasil penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan dikembalikan untuk pembangunan daerah yang bersangkutan. Pada dasarnya, Pajak Bumi dan Bangunan merupakan Wajib Pajak (WP) terbesar dibandingkan pajak-pajak lainnya dan merupakan satu-satunya pajak property di Indonesia yang mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Pajak Bumi dan Bangunan mempunyai dampak yang lebih luas sebab hasil penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sepenuhnya untuk pembangunan daerah yang bersangkutan sesuai dengan Undang- Undang No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Untuk itu, perlu bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan peranan Pajak Bumi dan Bangunan sebagai sumber pendapatan asli daerah (PAD). Tabel 1. Jumlah Pendapatan Asli Daerah yang Bersumber Dari Pajak Bumi dan Bangunan Pada dari 2011-2015 No Tahun PAD (Rp) PBB (Rp) % 1 2011 29.399.707.750 6.684.678.407 22,73 2 2012 32.339.687.525 7.704.528.064 23,82 3 2013 35.573.646.157 8.973.930.670 25,23 4 2014 39.131.010.772 10.425.360.460 26,64 5 2015 43.044.111.849 11.941.849.247 27,74 Sumber: Badan Aset dan Pendapatan Daerah Kabupaten Pasaman Barat Berdasarkan tabel 1 diatas terlihat bahwa jumlah pendapatan asli daerah dari tahun 2011-2015 di Kabupaten Pasaman Barat terjadi peningkatan pada setiap tahunnya yang salah satu nya bersumber dari pembayaran pajak bumi dan bangunan oleh wajib pajak sebagai sumber pendapatan asli daerah untuk pembangunan daerah Kabupaten Pasaman Barat, dan penerimaan pajak bumi dan bangunan pada setiap
tahunnya juga mengalami peningkatan dari tahun 2011-2015 tersebut. Dalam pelaksanaan pemungutan pajak bumi dan bangunan di Nagari Aua Kuning Kecamatan Pasaman Kabupaten Pasaman Barat masih banyak wajib pajak yang belum sepenuhnya sadar akan kewajibannya dalam membayar pajak sehingga menghambat terealisasinya pembangunan di segala bidang. Hal ini disebabkan oleh masih rendahnya penerimaan pajak setiap tahunnya karena wajib pajak merasa enggan atau kurangnya kepercayaan masyarakat kepada administrasi pengelolaan pajak untuk membayar pajak. Pajak daerah merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang penting guna membiayai pelaksanaan pemerintahan daerah dan dilaksanakan berdasarkan prinsip demokrasi, pemerataan dan keadilan, peran serta masyarakat, dan akuntabilitas dengan memperhatikan potensi daerah. Setiap tahunnya Badan Aset dan Pendapatan Daerah menetapkan target serta realisasi penerimaan yang berasal dari sektor pajak khususnya Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Agar hasil penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan dapat terealisasi sesuai target yang ditetapkan, perlu diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan pengelolaan Pajak Bumi dan Bangunan. Wajib Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah Subjek Pajak yang dikenakan kewajiban membayar Pajak Bumi dan Bangunan. Pertumbuhan penduduk yang meningkat, menyebabkan kebutuhan penduduk akan perumahan berupa tanah dan bangunan semakin meningkat. Penduduk yang mempunyai sertifikat atas tanah dan bangunan, wajib mendaftarkan objek bumi dan/atau bangunan dengan menggunakan formulir Surat Pemberitahuan Objek Pajak Daerah (SPOPD) ke Badan Aset dan Pendapataan Daerah paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender sejak tanggal diterimanya SPOPD oleh Wajib Pajak. Wajib Pajak yang telah mendaftarkan objek pajak bumi dan/ atau bangunan akan diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah
(NPWPD). Dengan meningkatnya tanah dan bangunan yang bersertifikat dan disertai dengan NPWPD, maka jumlah wajib pajak yang dikenai kewajiban membayar PBB atas tanah dan bangunan akan semakin meningkat, sehingga menyebabkan PBB yang dibayarkan akan meningkat dan pada akhirnya meningkatkan penerimaan PBB. Pajak bumi dan bangunan merupakan pajak yang menggunakan sistem yang cukup memudahkan Wajib Pajak, tidak seperti pajak lainnya yang secara umum menggunakan Self Assessment System. PBB merupakan pajak dengan sistem pemungutan Official Assessment System dimana pihak fiskus yang lebih pro aktif dan kooperatif melakukan perhitungan, penetapan pajak yang terutang dan mendistribusikannya kepada pemerintah daerah melalui Dispenda atau BAPD berdasarkan Surat Pendaftaran Objek Pajak (SPOP) yang diisi oleh Wajib Pajak atau verifikasi pihak fiskus dilapangan, Pemerintah Daerah melalui Kecamatan, Kelurahan/Desa, bahkan mendistribusikan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) sampai ketangan Wajib Pajak dan juga menerima pembayaran PBB. Menurut (Mardiasmo, 2009:311) Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan pedalaman dan/atau laut. Nilai dari bangunan akan meningkat sesuai dengan kondisi bangunan dan perkembangan perekonomian di daerah bangunan tersebut didirikan. Faktor-faktor untuk menentukan klasifikasi bangunan sebagai objek perhitungan PBB yang terutang yaitu: bahan yang digunakan, rekayasa, letak, dan kondisi lingkungan. Nilai jual tanah dari tahun ke tahun mengalami peningkatan seiring dengan perkembangan wilayahnya, begitu pula dengan bangunan yang melekat atau tertanam di atas tanah tersebut. Penerimaan PBB di pengaruhi oleh seberapa luas lahan dan bangunan yang dikenakan pajak. Semakin meningkat jumlah bangunan dan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) suatu bangunan, maka semakin tinggi PBB yang dibayar oleh wajib pajak
sehingga semakin tinggi pula penerimaan yang didapat oleh pemerintah daerah yang berasal dari PBB. Penerimaan pendapatan pajak bumi dan bangunan agar dapat berlangsung secara maksimal tentunya membutuhkan kesadaran masyarakat atau wajib pajak untuk kewajibannya dalam membayar pajak. Untuk mencapai target penerimaan pajak, perlu ditumbuhkan terus menerus kesadaran masyarakat atau wajib pajak untuk kewajibannya membayar pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Mengingat jumlah wajib pajak, surat pemberitahuan pajak terhutang (S PPT) dan jumlah bangunan merupakan faktor penting bagi peningkatan dan pancapaian target bangunan. Oleh Sebab Itu Penulis Tertarik Untuk Mengetahui Lebih Lanjut Bagaimana, Pengaruh Jumlah Wajib Pajak, Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang Dan Jumlah Bangunan Terhadap Penerimaan Pajak Bumi Dan Bangunan Di Nagari Aua Kuning Kecamatan Pasaman Kabupaten Pasaman Barat. METODOLOGI PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian asosiatif, menurut (Arikunto, 2002:239) penelitian asosiatif adalah penelitian yang menguji ada tidaknya hubungan atau pengaruh antara satu variabel dengan variabel lainnya. Sumber data dalam penelitian ini adalah data dari Kantor Badan Aset dan Pendapatan Daerah Kabupaten Pasaman Barat tentang bangunan di Nagari Aua Kuning Kecamatan Pasaman Kabupaten Pasaman Barat dari tahun 2011-2016. 1. Analisis Deskriptif Analisis ini untuk mengetahui gambaran jumlah wajib pajak, surat pemberitahuan pajak terhutang dan jumlah bangunan terhadap penerimaan pajak bumi dan bangunan secara eksternal, yaitu melibatkan suatu nagari kecamatan yang dibandingkan dengan kondisi dari seluruh objek penelitian.
a. Mean b. Median c. Modus d. Standar Deviasi 2. Uji Regresi Data Panel a. Pemilihan Model Estimasi Regresi Data Panal 1) Uji Signifikan Fixed Effect (Uji Chow) 2) Uji Signifikan Random Effect (Uji Hausman) b. Model Estimasi Regresi Data Panel Yaitu Uji Fixed (Fixed Effect). 3. Koefisien Determinasi (R 2 ) 4. Uji Hipotesis a. Uji t b. Uji F HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini mnggunakan estimsi regresi data panel, dimana dalam regresi data panel ada tiga model yaitu common effect, fixed effect dan random effect. Untuk menentukan model yang akan digunakan maka diperlukan uji prasyarat yaitu uji chow dan uji hausman. Setelah melalukan penelitian terhadap 30 data mengenai jumlah wajib pajak, surat pemberitahuan pajak terhutang dan jumlah bangunan terhadap penerimaan PBB di Nagari Aua Kuning Kecamatan Pasaman Kabupaten Pasaman Barat tahun 2011-2016 maka didapatkan hasil uji chow memperoleh nilai F hitung adalah 4,290147 dengan nilai F tabel α = (5%) adalah 2.98, sehingga nilai F hitung > F tabel maka H 0 ditolak, sehingga model data panel yang dapat digunakan adalah Fixed Effek Model. Sedangkan nilai probability 0,0634 > level signifikan (α = 0,05) maka H a diterima, maka dapat disimpulkan bahwa model terbaik yang dipilih menggunakan uji hausman yaitu Fixed Effek Model. 1. Pengaruh Jumlah Wajib Pajak Terhadap Penerimaan Pajak Bumi Dan Bangunan Di Nagari Aua Kuning Kecamatan Pasaman Kabupaten Pasaman Barat. Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan dengan menggunakan program eviews8, dapat diketahui bahwa jumlah wajib pajak tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan pajak bumi dan bangunan. Hal ini terbukti dari nilai jumlah wajib pajak memiliki nilai koefisien
sebesar 1,301464 nilai t-statistik 1,583721 < t tabel yaitu sebesar 1,70562 dan nilai probabilitasnya sebesar 0,1275 > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah wajib pajak tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan pajak bumi dan bangunan. Menurut (Afriyanah, 2015) jumlah wajib pajak adalah banyaknya subjek pajak (orang pribadi atau badan) yang dikenakan kewajiban membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Afriyanah, 2015) yang berjudul Pengaruh Jumlah Wajib Pajak, Luas Lahan, Jumlah Bangunan Dan Laju Inflasi Terhadap Penerimaan Pajak Bumi Dan Bangunan ( Pbb) Studi empiris pada Kecamatan- Kecamatan di Kota Tangerang Periode 2010 s.d. 2013. Hasil penelitiannya menunjukkan dari hasil uji t bahwa jumlah wajib pajak memiliki pengaruh signifikan terhadap penerimaan pajak bumi dan bangunan, untuk setiap kenaikan satu orang wajib pajak disetiap Kecamatan yang ada di Kota Tangerang akan menyebabkan penerimaan pajak bumi dan bangunan meningkat. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa jumlah wajib pajak tidak berpengaruh terhadap penerimaan pajak bumi dan bangunan karena tidak ada pengaruh pengurangan wajib pajak dan penambahan wajib pajak untuk meningkatkan bangunan di Nagari Aua Kuning di Kecamatan Pasaman Kabupaten Pasaman Barat. 2. Pengaruh Surat Pemberitahun Pajak Terhutang Terhadap Penerimaan Pajak Bumi Dan Bangunan Di Nagari Aua Kuning Kecamatan Pasaman Kabupaten Pasaman Barat Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan dengan menggunakan program eviews8, dapat diketahui bahwa surat pemberitahuan pajak terhutang tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan pajak bumi dan bangunan. Hal ini terbukti dari nilai surat pemberitahuan pajak terhutang memiliki nilai
koefisien sebesar 0,014092 nilai t-statistik sebesar 0,862547 < t tabel yaitu sebesar 1,70562 dan nilai probabilitasnya sebesar 0,3977 > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa surat pemberitahuan pajak terhutang tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan pajak bumi dan bangunan. Menurut (Rahayu & Ely, 2010:274) Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (S PPT) adalah surat yang digunakan Direktorat Jenderal Pajak untuk memberitahukan besarnya pajak terutang kepada wajib pajak. SPPT diterbitkan berdasarkan pada SPOP yang telah diisi oleh wajib pajak. Hasil penelitian ini yang sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Elisabeth Tilana Mutiara Putri, 2015) Pengaruh Jumlah Surat Pemberitahuan Pajak Terutang, Nilai Jual Objek Pajak, Dan Tunggakan Pajak Terhadap Penerimaan Pajak Bumi Dan Bangunan Di Yogyakarta. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dari hasil pengujian secara parsial menunjukkan bahwa jumlah surat pemberitahuan pajak terhutang tidak berpengaruh signifikan terhadap bangunan. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa surat pemberitahuan pajak terhutang tidak berpengaruh terhadap penerimaan pajak bumi dan bangunan. surat pemberitahuan pajak terhutang tidak berpengaruh dalam upaya meningkatkan penerimaan pajak bumi dan bangunan di Nagari Aua Kuning di Kecamatan Pasaman Kabupaten Pasaman Barat. 3. Pengaruh Jumlah Bangunan Terhadap Penerimaan Pajak Bumi Dan Bangunan Di Nagari Aua Kuning Kecamatan Pasaman Kabupaten Pasaman Barat Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan dengan menggunakan program eviews8, dapat diketahui bahwa jumlah bangunan berpengaruh signifikan terhadap penerimaan pajak bumi dan bangunan. Hal ini terbukti dari nilai jumlah bangunan
memiliki nilai koefisien sebesar 4,279833 nilai t-statistik sebesar 2,275058 > t tabel yaitu sebesar 1,70562 dan nilai probabilitasnya sebesar 0,0330 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah bangunan berpengaruh signifikan terhadap penerimaan pajak bumi dan bangunan. Menurut (Mardiasmo, 2011:331) Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau diletakan secara tetap pada tanah dan atau perairan. Termasuk dalam bangunan adalah jalan lingkungan dalam satu kesatuan kompleks bangunan, jalan tol, kolam renang, pagar mewah, tempat olahraga, galangan kapal, dermaga, taman mewah, tempat penampungan minyak, fasilitas lain yang memberikan manfaat. Hasil penelitian ini yang sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Afriyanah, 2015) yang berjudul Pengaruh Jumlah Wajib Pajak, Luas Lahan, Jumlah Bangunan Dan Laju Inflasi Terhadap Penerimaan Pajak Bumi Dan Bangunan (Pbb) Studi empiris pada Kecamatan- Kecamatan di Kota Tangerang Periode 2010 s.d. 2013. Hasil penelitiannya menunjukkan dari hasil pengujian secara parsial bahwa jumlah bangunan memiliki pengaruh signifikan terhadap penerimaan pajak bumi dan bangunan, untuk setiap peningkatan satu meter persegi 1 (m 2 ) jumlah bangunan yang menjadi objek PBB disetiap Kecamatan yang ada di Kota Tangerang, akan menyebabkan penerimaan PBB meningkat. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa jumlah bangunan berperan penting dalam upaya meningkatkan penerimaan pajak bumi dan bangunan agar tercapainya target yang diharapkan karena setiap peningkatan satu meter persegi 1 (m 2 ) jumlah bangunan di Nagari Aua Kuning Kecamatan Pasaman yang menjadi objek PBB maka akan menyebabkan penerimaan pajak bumi dan bangunan juga akan meningkat.
4. Pengaruh Jumlah Wajib Pajak, Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang dan Jumlah Bangunan Secara Bersamasama Terhadap Penerimaan Pajak Bumi Dan Bangunan Di Nagari Aua Kuning Kecamatan Pasaman Kabupaten Pasaman Barat Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan dengan menggunakan program eviews8, dapat diketahui bahwa jumlah wajib pajak tidak berpengaruh signifikan, surat pemberitahuan pajak terhutang tidak berpengaruh signifikan dan jumlah bangunan berpengaruh signifikan secara bersama-sama berpengaruh terhadap bangunan. Dari hasil tabel 14 uji fixed effect diatas, Uji f dilakukan untuk menguji apakah model yang digunakan signifikan atau tidak. Dengan tingkat kepercayaan untuk pengujian hipotesis adalah 95% atau (α) = 0,05. Hasil pengolahan data menunjukkan F hitung yaitu sebesar 6,431325 > F tabel yaitu sebesar 2,98 dan nilai probability sebesar 0,000340 < 0,05. Hal ini berarti H 0 ditolak dan H a diterima. Selain itu, berdasarkan hasil analisis koefisien determinasi diperoleh hasil nilai R-Squared menunjukkan sebesar 0,671736. Hal ini dapat menunjukkan bahwa kontribusi variabel independen terhadap variabel dependen sebesar 67,17% perubahan pada variabel dependen ( penerimaan pajak bumi dan bangunan) dapat dijelaskan oleh variabel independen (jumlah wajib pajak, surat pemberitahuan pajak terhutang dan jumlah bangunan) sedangkan sisanya sebesar 32,83% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. Dengan demikian hasil penelitian ini menunjukkan secara simultan jumlah wajib pajak, surat pemberitahuan pajak terhutang dan jumlah bangunan secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap bangunan. Jika jumlah wajib pajak, surat pemberitahuan pajak
terhutang dan jumlah bangunan tidak meningkat setiap tahunnya, maka bangunan tidak akan mengalami peningkatan pada tahun-tahun yang akan datang karena pada setiap kenaikan dan bertambahnya satu orang wajib pajak disetiap Nagari yang ada di Kecamatan Pasaman akan menyebabkan penerimaan pajak bumi dan bangunan juga meningkat. Dengan bertambahnya jumlah wajib pajak dan surat pemberitahuan pajak terhutang juga akan meningkat. Oleh karena itu jumlah wajib pajak, surat pemberitahuan pajak terhutang dan jumlah bangunan berperan penting dalam upaya meningkatkan penerimaan pajak bumi dan bangunan agar tercapainya target yang diharapkan dengan kesadaran wajib pajak untuk membayar pajak bumi dan bangunan. Maka dapat disimpulkan bahwa hubungan antara jumlah wajib pajak, surat pemberitahuan pajak terhutang dan jumlah bangunan berpengaruh terhadap bangunan. Hal ini berarti variabel jumlah wajib pajak, surat pemberitahuan pajak terhutang dan jumlah bangunan memiliki pengaruh yang simultan dan signifikan terhadap penerimaan pajak bumi dan bangunan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil simpulan sebagai berikut: 1. Secara parsial jumlah wajib pajak tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan pajak bumi dan bangunan sehingga besar kecilnya penerimaan pajak bumi dan bangunan yang diterima oleh Nagari Aua Kuning Kecamatan Pasaman Kabupaten Pasaman Barat tidak di pengaruhi oleh jumlah wajib pajak. 2. Secara parsial untuk variabel jumlah SPPT menunjukkan bahwa variabel SPPT tidak berpengaruh signifikan terhadap bangunan sehingga besar kecilnya penerimaan pajak bumi
dan bangunan yang diterima oleh Nagari Aua Kuning Kecamatan Pasaman Kabupaten Pasaman Barat tidak di pengaruhi oleh SPPT. 3. Secara parsial untuk variabel jumlah bangunan menunjukkan bahwa jumlah bangunan berpengaruh signifikan terhadap bangunan sehingga besar kecilnya penerimaan pajak bumi dan bangunan yang diterima oleh Nagari Aua Kuning Kecamatan Pasaman Kabupaten Pasaman Barat di pengaruhi oleh jumlah bangunan. 4. Secara simultan untuk variabel jumlah wajib pajak, surat pemberitahuan pajak terhutang dan jumlah bangunan secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap penerimaan pajak bumi dan bangunan. DAFTAR PUSTAKA Afriyanah. (2015). Pengaruh Jumlah Wajib Pajak, Luas Lahan, Jumlah Bangunan dan Laju Inflasi Terhadap Penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Studi empiris pada Kecamatan-Kecamatan di Kota Tangerang Periode 2010 s.d. 2013. Ultima Accounting, Vol 7 No.1. Ansofino, dkk. (2016). Ekonometrika (1st ed.). Yogyakarta: Deepublish. Arikunto. (201 1). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: Rineka Cipta. Irfan. (2 010). Pengaruh kenaikan upah minimum propinsi (ump) dan jumlah penduduk terhadap bangunan (pbb) di jakarta selatan. skripsi. Universutas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Mardiasmo. (2011). Perpajakan. Yogyakarta: Andi Offset. Putri, E. T. M. (201 5). Pengaruh Jumlah Surat Pemberitahuan Pajak Terutang, Nilai Jual Objek Pajak, Dan Tunggakan Pajak Terhadap Penerimaan Pajak Bumi Dan Bangunan Di Yogyakarta. Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Rahayu, S. K. (201 0). Perpajakan: Konsep, teori dan isu. Jakarta: PT. Kencana