I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Koperasi primer adalah koperasi yang anggotanya menghasilkan satu atau lebih komoditi. Salah satu contoh koperasi primer yang memproduksi komoditi pertanian adalah koperasi peternak sapi perah yang memproduksi susu segar. Jenis koperasi ini dapat tumbuh secara lebih kokoh dibandingkan koperasi komoditi pertanian lainnya. Salah satu alasannya adalah karena sebagian besar kelompok peternak sapi perah ini memiliki tingkat aglomorasi yang tinggi, yaitu cenderung berkelompok pada suatu daerah atau wilayah sehingga membentuk suatu daerah khusus yaitu daerah kelompok peternak sapi perah 1. Hal tersebut mengakibatkan kebutuhan para peternak, untuk membentuk organisasi yang dapat memenuhi kebutuhan bersama melalui unit usaha yang dimiliki dan dikelola bersama, dapat terpenuhi dalam sebuah koperasi peternak sapi perah. Koperasi peternak sapi perah ini dapat menjadi mediator antara peternak dengan Industri Pengolahan Susu (IPS) dalam menentukan posisi tawar peternak untuk menetapkan waktu penjualan, jumlah penjualan susu dan harga yang akan diterima peternak sehingga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan dari para peternak dan memudahkan dalam pemenuhan kebutuhan susu nasional. Pada tahun 1949, koperasi-koperasi peternak di Indonesia mendirikan sebuah wadah bernaung bernama Gabungan Petani Peternak Sapi Indonesia Pangalengan (GAPPSIP). Namun pada tahun 1961 GAPPSIP membubarkan diri karena tidak mampu menghadapi labilnya perekonomian Indonesia. Akan tetapi, karena pemerintah merasa sangat penting untuk membentuk suatu organisasi sebagai wadah bersatunya seluruh koperasi peternak sapi di Indonesia, maka pada tahun 1978 dibentuklah Badan Koordinasi Koperasi Susu Indonesia (BKKSI). Selanjutnya pada tahun 1979 BKKSI dibubarkan dan digantikan oleh Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) sebagai koperasi sekunder persusuan sampai saat ini. Adanya GKSI ini menjadi satu kekuatan yang dimiliki oleh para peternak sapi perah karena susu produksi peternak dapat dipastikan terserap pasar. Hal ini 1 Soetrisno, Noer. Koperasi Produsen Susu : Model Klaster Industri Peternakan. http://www.scribd.com/doc/12775908/koperasi-produsen-susu-model-cluster [12 Februari 2010] 1
terkait dengan salah satu peran GKSI yaitu sebagai satu-satunya lembaga yang menjadi fasilitator penjualan susu peternak sapi perah ke IPS dengan kualitas yang baik dan volume stabil serta harga yang disepakati oleh kedua belah pihak 2. GKSI memiliki beberapa pabrik pengolahan susu atau milk treatment. Salah satu pabrik yang dimiliki oleh GKSI adalah PT Industri Susu Alam Murni (PT ISAM) di Bandung, Jawa Barat. Pabrik ini mengolah susu dari para peternak sapi perah yang disalurkan melalui koperasi-koperasi primer. PT ISAM ini juga bekerja sama dengan beberapa perusahaan lain untuk mengolah susu dalam pemenuhan kebutuhan susu di masyarakat. Koperasi-koperasi primer anggota GKSI pun memiliki kesempatan untuk melakukan pengolahan susu di PT ISAM dengan cara melakukan subkontrak produksi. Dengan keberadaan PT ISAM ini, diharapkan mampu menyediakan dan mendistribusikan produk-produk olahan susu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat serta dapat mensejahterakan masyarakat baik di pihak peternak maupun masyarakat konsumen pada umumnya 3. Saat ini, koperasi peternak sapi perah di Indonesia memerlukan pengembangan usaha yang terlihat dari belum terpenuhinya kebutuhan konsumsi susu nasional oleh produksi susu nasional, yang sebagian besar diproduksi oleh koperasi peternak sapi perah, seperti yang terlihat pada Tabel 1. Pada tahun 2007 saja, dari konsumsi susu nasional sebesar 1.758.243 ton, hanya 567.638 ton yang dapat dipenuhi oleh produksi susu nasional dan sisanya dipenuhi oleh susu impor. Seiring dengan peningkatan konsumsi susu nasional tersebut, maka IPS menutupi kekurangan bahan baku susu lokal dengan melakukan impor susu yang berbentuk Skim Milk Powder (SMP) dan Anhydrous Milk Fat (AMF). Alasan lainnya adalah pendapatan masyarakat dan jumlah penduduk Indonesia yang semakin meningkat setiap tahunnya serta perubahan pola konsumsi hewani yang didorong oleh arus urbanisasi, kesadaran gizi serta perubahan gaya hidup masyarakat yang berdampak kepada meningkatnya permintaan susu nasional (Delgado et al. dalam Priyanti dan Saptati 2009). Kedua alasan inilah yang menyebabkan diperlukannya suatu usaha untuk 2 Kompas. 26 Februari 2009. GKSI Jadi Pemasok Tunggal IPS. http://cetak.kompas.com [16 Februari 2010] 3 Nurdiansyah, Nanda. 2008. Perusahaan Pengolahan Susu Sapi. http://agro-ekonomi.blogspot.com [12 Februari 2010] 2
mengembangkan persusuan nasional terutama dari tingkat koperasi peternak sapi perah dan anggota peternaknya. Tabel 1. Jumlah Sapi Perah, Produksi dan Konsumsi Susu di Indonesia (2001-2008) Tahun Jumlah sapi perah Produksi susu (ton) Konsumsi susu (ton) (ekor) 2001 346.998 479.947 883.758 2002 358.386 493.375 889.934 2003 373.573 553.442 1.133.091 2004 364.062 549.945 957.624 2005 361.351 535.962 845.744*) 2006 369.008 616.549 1.621.524 2007 374.067 567.638 1.758.243 2008**) 407.767 574.406 - Keterangan : *) Tidak masuk data beberapa provinsi **) Angka sementara Sumber : Direktorat Jenderal Peternakan (2010) Salah satu sentra produksi susu di Indonesia adalah Provinsi Jawa Barat, yang merupakan penghasil susu segar peringkat kedua setelah Jawa Timur. Pada tahun 2009, produksi susu segar di Jawa Barat mencapai 236.473 ton susu segar dari 679.331 ton keseluruhan produksi susu segar di Indonesia, seperti yang terlihat pada Lampiran 1 (Direktorat Jenderal Peternakan 2010). Salah satu penyumbang susu dari Jawa Barat adalah kelompok peternak yang berasal dari daerah Kabupaten Bandung Utara dan Barat yang tergabung dalam Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Jawa Barat. KPSBU, yang memproduksi susu segar sebanyak 40.312.703 liter sepanjang tahun 2008 (Laporan Tahunan KPSBU 2009), merupakan penyumbang terbesar dari produksi susu di Jawa Barat (Lampiran 2). KPSBU Jawa Barat didirikan pada 8 Agustus 1971 dengan perintis sebanyak 35 orang peternak sapi perah yang berlokasi di daerah Lembang. Dalam perkembangannya selama kurang lebih 28 tahun, pada tahun 2009 anggota KPSBU telah mencapai 6.351 orang, dengan populasi sapi sebanyak 17.000 ekor 3
dan produksi susu per hari sebanyak 135.000 liter. Berkat kerja keras anggota dan pengurus koperasi dalam mempertahankan kualitas dan kuantitas susu segarnya serta kualitas manajemen koperasi yang baik, KPSBU mendapatkan Indonesia Cooperative Award (ICA) dari Kementrian Negara Koperasi dan UKM pada tahun 2006 sebagai peringkat kelima dari sepuluh koperasi terbaik di Indonesia. Seperti koperasi peternak sapi pada umumnya, KPSBU juga mengadakan kerja sama dengan IPS dalam memasarkan produk susu segarnya. Kerja sama KPSBU dengan IPS dimulai sejak tahun 70-an yaitu dengan melakukan pemasaran susu segar setiap harinya kepada Frisian Flag Indonesia (FFI). Tabel 2. Perbandingan Usaha KPSBU Jawa Barat tahun 2006-2008 Uraian Keanggota an (orang) Kepegawai an (orang) Tahun 2006 2007 2008 6.163 6.226 6.351 276 271 313 Populasi sapi (ekor) 15.947 16.533 16.469 Penjualan 83.031.192.015,08 110.943.931.706,48 146.857.476.375,85 Susu (Rp) Penjualan Yoghurt (Rp) - - 637.362.288,46 Total 117.134.295.594,83 154.404.484.891,12 208.523.854.049,14 Pendapatan (Rp) SHU 1.204.348.905,93 1.210.334.633,52 1.215.907.038,16 Sumber : Laporan Tahunan KPSBU (2009) KPSBU Jawa Barat memiliki beberapa keunggulan, di antaranya adalah jumlah anggota dan karyawan yang besar dan meningkat setiap tahunnya, tingginya populasi sapi, total pendapatan yang selalu melebihi target Rapat Anggota Tahunan (RAT) pada setiap tahunnya, kualitas susu yang baik karena dapat memenuhi standar IPS (dalam hal ini adalah standar laboratorium susu FFI), kuantitas susu perhari yang kontinu sehingga dapat memenuhi permintaan IPS dan sisanya dipasarkan langsung ke konsumen dalam bentuk susu segar dan produk 4
olahan yoghurt serta keunggulan lainnya yang terdapat pada Tabel 2. Keunggulankeunggulan tersebut dapat menjadi kekuatan koperasi dalam menghadapi peluang besar tingginya permintaan susu nasional yang belum dapat dipenuhi oleh produksi susu dalam negeri. 1.2. Perumusan Masalah Salah satu pihak yang memiliki pengaruh besar terhadap agribisnis persusuan adalah pemerintah yang ditunjukkan dengan adanya beberapa kebijakan yang berdampak pada kondisi persusuan di Indonesia. Salah satu kebijakan pemerintah yang menyangkut kondisi persusuan Indonesia adalah dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri (Menteri Pertanian, Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan dan Koperasi) pada tahun 1983. Dalam SKB tersebut IPS diwajibkan menyerap susu segar dalam negeri sebagai pendamping dari susu impor untuk bahan baku industrinya. Proporsi penyerapan susu segar dalam negeri ditetapkan dalam bentuk rasio susu yaitu perbandingan antara pemakaian susu segar dalam negeri dan susu impor yang harus dibuktikan dalam bentuk bukti serap atau lebih dikenal dengan BUSEP. Tujuan dari BUSEP adalah untuk melindungi peternak dalam negeri dari persaingan terhadap susu impor. Namun kebijakan BUSEP ini menjadi tidak berlaku dengan adanya Inpres No. 4 Tahun 1998, sehingga susu impor menjadi komoditi yang bebas masuk ke dalam negeri. Dalam hal pemasaran susu dari peternak dalam negeri, keberadaan Inpres No. 4/1998 ini mengakibatkan posisi IPS menjadi jauh lebih kuat dibandingkan peternak karena IPS mempunyai pilihan untuk memenuhi bahan baku yang dibutuhkan yaitu susu segar dari dalam negeri maupun dari impor. Kebijakan pemerintah lainnya untuk melindungi peternak lokal adalah dengan menetapkan bea masuk bahan baku susu dan produk susu sesuai SK Menteri Keuangan No. 573 tahun 2000 sebesar lima persen. Namun, kebijakan-kebijakan pemerintah tersebut ternyata belum mampu memperkuat posisi tawar koperasi dan peternak dibandingkan IPS. Hal ini terlihat dari relatif stagnannya harga susu segar yang diterima oleh peternak dalam negeri 4 4 Daryanto, Arief. 2007. Persusuan Indonesia : Kondisi, Permasalahan dan Arah Kebijakan. http://ariefdaryanto.wordpress.com [14 Februari 2010] 5
dan kondisi peternak yang tidak mampu bersaing dengan susu impor karena harga dan kualitas yang lebih baik dibandingkan peternak dalam negeri. Tabel 3. Perkembangan Harga Susu Dalam Negeri dengan Harga Susu Impor Setara dengan Susu Segar (1999-2008) Tahun Harga Susu Impor Setara Susu Segar (Rp/l) Harga Susu Dalam Negeri (Rp/l) Rasio Harga Susu Dalam Negeri terhadap Impor 1999 1.882 1.000 0,53 2000 2.279 1.137 0,50 2001 2.399 1.411 0,59 2002 1.725 1.562 0,91 2003 2.139 1.612 0,75 2004 2.668 1.647 0,62 2005 2.792 1.756 0,63 2006 2.916 1.988 0,68 2007 5.764 2.431 0,42 2008 5.196 3.200 0,62 Sumber : Priyanti dan Saptati (2009) Pada Tabel 3 terlihat bahwa harga susu segar dalam negeri selalu berada di bawah harga impor setara susu segar. Pada tahun 2006 hingga 2007 harga susu dunia meningkat hingga rata-rata tertinggi 74 persen dibandingkan harga biasanya. Pada saat harga susu dunia meningkat cukup tinggi, harga susu segar dalam negeri tidak mengalami peningkatan yang terlalu tinggi, bahkan rasionya terhadap harga susu impor setara susu segar hanya mencapai 0,42 saja. Seharusnya kenaikan harga susu di pasar internasional dapat meningkatkan bargaining power dan tingkat kompetitif dari susu segar dalam negeri. Namun yang terjadi adalah adanya kesenjangan harga susu segar yang relatif besar di tingkat IPS dan peternak dikarenakan posisi tawar peternak atau dalam hal ini koperasi peternak sapi terhadap IPS yang rendah. Harga susu yang rendah juga disebabkan karena rendahnya kualitas susu segar yang dinilai oleh IPS dari kandungan mikroba dan total solid dari susu segar hasil produksi koperasi. Rendahnya kualitas ini disebabkan karena tidak 6
terpenuhinya kebutuhan sapi perah akan pakan konsentrat yang mengalami kenaikan harga seiring dengan kenaikan harga susu segar. Peningkatan mutu pakan konsentrat ini sangat berpengaruh pada kuantitas dan kualitas susu yang dihasilkan, sehingga bila kualitas susu meningkat harga susu segar pun dapat turut meningkat (Priyanti dan Saptati 2009). Dengan adanya permasalahan ini, peternak tidak mampu merasakan peningkatan harga susu segar karena harus mengalokasikannya terhadap harga konsentrat yang juga mengalami kenaikan. Berbagai kebijakan pemerintah dan harga susu yang cenderung stagnan pun turut dirasakan oleh KPSBU Jawa Barat, terutama karena posisi tawar yang lemah terhadap IPS yang membeli hampir 91 persen produksi susu KPSBU perharinya. Harga susu segar KPSBU ditentukan oleh hasil uji lab milik FFI sehingga dalam hal ini KPSBU berperan sebagai price taker dan mengalami kestagnanan harga susu yang selalu diiringi dengan kenaikan biaya produksi sapi perah. Hal tersebut mengakibatkan cenderung stabilnya pendapatan peternak sedangkan biaya produksi terutama pakan konsentrat semakin meningkat. Permasalahan lainnya adalah pada bulan April 2009 sejumlah IPS, termasuk FFI, memberlakukan kuota pembelian susu peternak lokal. Hal ini berdampak negatif terhadap peternak, termasuk KPSBU. KPSBU terpaksa membuang susu yang tidak terserap IPS sebanyak 16 ton per hari. Kondisi ini dikarenakan IPS tidak memberi waktu kepada KPSBU untuk mencari pembeli lain yang dapat menerima pasokan susu dari koperasi 5. Dengan adanya kelebihan susu yang tidak terserap oleh IPS tersebut tentunya dapat menyebabkan kerugian pada peternak dan KPSBU bila terbuang sia-sia. Dari permasalahan-permasalahan tersebut, dibutuhkan suatu jalan keluar untuk memanfaatkan jumlah susu yang tidak terserap oleh FFI dan untuk meningkatkan pendapatan KPSBU yang akan berdampak pada pendapatan peternak agar sesuai dengan tujuan koperasi yaitu meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Salah satu cara untuk meningkatkan pendapatan tersebut adalah dengan menciptakan nilai tambah dari susu segar produksi KPSBU. Pada tahun 2008, KPSBU mulai mengolah susu segar produksinya menjadi produk olahan yoghurt. Setiap harinya KPSBU memproduksi yoghurt bermerek Fresh Time 5 215 Ton Susu Koperasi akan Dibuang. www.web.bisnis.com [28 Januari 2010] 7
sebanyak 0,30 persen dari jumlah total susu yang diproduksi. Namun, terdapat beberapa kendala dalam produksi yoghurt ini, seperti yang tercantum di dalam Laporan Tahunan KPSBU Jawa Barat tahun 2008, yaitu realisasi pendapatan produksi yoghurt hanya tercapai 58,79 persen dari rencana tahunan (Rp 637.362.288,46 dari rencana pendapatan Rp 1.084.089.000), pemantauan yang kurang terhadap distribusi yoghurt pada sejumlah pedagang di daerah Bandung, pengendalian yang kurang optimal terhadap yoghurt yang rusak dan hal ini akan merusak image dari yoghurt produksi KPSBU Jawa Barat. Karena terdapat beberapa kendala yang ada dalam produksi yoghurt inilah maka pihak manajemen KPSBU melakukan pengolahan susu segar menjadi produk olahan baru, yaitu susu sterilisasi dengan merek yang sama, Fresh Time. Susu sterilisasi dipilih karena perizinan yang tidak memakan waktu lama, proses pembuatan yang relatif mudah dan daya tahan susu yang dapat bertahan jauh lebih lama dibandingkan yoghurt dalam kondisi suhu ruangan normal sehingga tidak memerlukan biaya penyimpanan yang cukup besar serta pasar yang lebih luas untuk produk susu sterilisasi Dalam melakukan usaha produksi susu sterilisasi Fresh Time, pihak manajemen KPSBU melakukan subkontrak produksi dengan PT ISAM karena pihak KPSBU belum merasa siap untuk melakukan produksi susu sterilisasi Fresh Time sendiri. Ketidaksiapan ini berasal dari segi investasi (biaya investasi untuk mendirikan pabrik pengolahan susu, membeli dan melakukan instalasi mesinmesin dan peralatan produksi dan alat transportasi), biaya produksi, teknologi yang akan digunakan, kesiapan sumber daya manusia KPSBU baik dari anggota maupun karyawan dan masih banyak lagi. Padahal, dengan melakukan subkontrak produksi susu yang dapat diolah koperasi sangatlah terbatas yaitu sebanyak 2 ton sehari dengan frekuensi dua minggu sekali. Jumlah tersebut sangatlah kecil jika dibandingkan dengan jumlah susu produksi koperasi yang tidak dapat dipasok lagi kepada FFI. Maka koperasi membutuhkan suatu pengembangan usaha dengan mendirikan pabrik pengolahan susu yang dapat mengolah seluruh susu yang tidak dapat dipasok lagi ke FFI sehingga akan membawa manfaat yang lebih besar dan dapat meningkatkan nilai dari susu segar dan pendapatan koperasi serta para peternak. Hal tersebut juga sesuai dengan rencana manajemen koperasi untuk 8
melakukan pengembangan usaha koperasi dengan cara mendirikan pabrik pengolahan susu. Karena terdapat beberapa alternatif dalam memproduksi susu sterilisasi Fresh Time maka dibutuhkan suatu analisis kelayakan dari alternatif-alternatif tersebut untuk mengetahui alternatif manakah yang layak untuk direkomendasikan kepada KPSBU Jawa Barat dalam melakukan produksi susu sterilisasi Fresh Time sehingga dapat menghasilkan manfaat terbesar bagi koperasi dan anggotanya. Dalam melakukan analisis kelayakan usaha produksi susu sterilisasi ini, terdapat tiga skenario yang dianalisis yaitu : (1) KPSBU melakukan subkontrak produksi (subcontracting production) dengan PT Industri Susu Alam Murni (PT ISAM) milik GKSI untuk memproduksi susu sterilisasi, dan hanya mengeluarkan biaya sewa produksi, transportasi dan menambah sedikit sumber daya manusia dalam proses transportasi bahan baku susu segar dan bahan baku tambahan lainnya dari KPSBU ke lokasi pabrik PT ISAM; (2) KPSBU memproduksi susu sterilisasi dengan mendirikan pabrik sendiri, melakukan pembelian mesin-mesin dan peralatan, dan menambah jumlah sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam produksi susu sterilisasi, namun masih berproduksi dengan volume produksi yang sama dengan skenario pertama; dan (3) KPSBU memproduksi susu sterilisasi dengan mendirikan pabrik sendiri, melakukan pembelian mesin-mesin dan peralatan, dan menambah jumlah sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam produksi susu, dan mengolah seluruh susu yang tidak dapat dipasok kepada FFI untuk dijadikan produk-produk olahan susu. Dari uraian tersebut, permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah : 1. Apakah ketiga skenario usaha produksi susu sterilisasi Fresh Time oleh KPSBU Jawa Barat layak bila ditinjau dari aspek pasar, teknis, manajemen, hukum, sosial, ekonomi dan lingkungan? 2. Apakah secara finansial ketiga skenario usaha produksi susu sterilisasi Fresh Time oleh KPSBU Jawa Barat layak untuk dilaksanakan? 3. Bagaimanakah sensitivitas kelayakan usaha produksi susu sterilisasi Fresh Time jika terjadi penurunan harga output susu sterilisasi dan kenaikan biaya produksi? 9
4. Setelah dilakukan analisis kelayakan, skenario manakah yang lebih layak untuk dilaksanakan dan memberikan lebih banyak manfaat kepada KPSBU Jawa Barat? 1.3. Tujuan Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Menganalisis kelayakan dari tiga skenario usaha produksi susu sterilisasi Fresh Time oleh KPSBU Jawa Barat ditinjau dari aspek pasar, teknis, manajemen, hukum, sosial, ekonomi dan lingkungan. 2. Menganalisis kelayakan dari tiga skenario usaha produksi susu sterilisasi Fresh Time oleh KPSBU Jawa Barat ditinjau dari aspek finansial. 3. Menganalisis dampak yang terjadi apabila penurunan harga output susu sterilisasi dan harga bahan baku pada usaha produksi susu sterilisasi Fresh Time oleh KPSBU. 4. Mengetahui skenario manakah yang lebih layak untuk dilaksanakan dan memberikan lebih banyak manfaat kepada KPSBU Jawa Barat. 1.4. Manfaat Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak yang berkepentingan : 1. Pengambil keputusan pada KPSBU Jawa Barat sebagai bahan masukan dalam melakukan perencanaan usaha. 2. Pelaku usaha, pengambil keputusan maupun segenap pemerhati yang berkecimpung di bidang yang sama atau sejenis sebagai bahan masukan. 3. Peneliti sebagai bahan referensi untuk bahan referensi penelitian selanjutnya. 10