BAB II PROFIL SANITASI SAAT INI

dokumen-dokumen yang mirip
DATA LUAS WILAYAH ADMINISTRASI DESA/KELURAHAN DI KABUPATEN TABALONG PROVINSI KALIMANTAN SELATAN


Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kabupaten Tabalong Tahun 2014 BAB I PENDAHULUAN


PERATURAN DAERAH KABUPATEN TABALONG NOMOR 19 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN TABALONG TAHUN

Map Area of Tabalong Regency

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

Presiden Republik Indonesia,

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Kondisi Geografis LS dan BT. Beriklim tropis dengan

28 antara 20º C 36,2º C, serta kecepatan angin rata-rata 5,5 knot. Persentase penyinaran matahari berkisar antara 21% - 89%. Berdasarkan data yang tec

III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU


IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. A. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Selatan

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

Propinsi KALIMANTAN SELATAN. Total Kabupaten/Kota

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

BUPATI TABALONG PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN BUPATI TABALONG NOMOR 32 TAHUN 2015 TENTANG URAIAN TUGAS INSPEKTORAT DAERAH KABUPATEN TABALONG

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN. Letak dan Luas

IV. GAMBARAN LOKASI PENELITIAN. A. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Tengah BT dan LS, dan memiliki areal daratan seluas

16. ACUAN PENETAPAN REKOMENDASI PUPUK N, P, DAN K PADA LAHAN SAWAH SPESIFIK LOKASI (PER KECAMATAN) PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

PROFIL SANITASI SAAT INI

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Belitung yang terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2003 sejak

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 65 TAHUN 2013 TENTANG

V. GAMBARAN UMUM WILAYAH

DATA AGREGAT KEPENDUDUKAN PER KECAMATAN (DAK2)

NO. KODE NAMA MADRASAH NEGERI SE-KALSEL KAB/KOTA MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 PARINGIN BALANGAN

BAB III DESKRIPSI WILAYAH KAJIAN

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN


IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

Lampiran I.63 PENETAPAN DAERAH PEMILIHAN DAN JUMLAH KURSI ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DALAM PEMILIHAN UMUM TAHUN 2014

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN. a) Kondisi Grafis Kota Bandar Lampung

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang Barat terletak pada BT dan

BAB 4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BENGKALIS DAN PERKEMBANGAN PERIKANANNYA

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. demikian ini daerah Kabupaten Lampung Selatan seperti halnya daerah-daerah

BAB IV GAMBARAN UMUM


IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

STATISTIK DAERAH KECAMATAN SEKUPANG

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tanggamus terbentuk atas dasar Undang-undang Nomor 2 tertanggal 3

IV. KONDISI UMUM WILAYAH STUDI

IV KONDISI UMUM KAWASAN PERENCANAAN

V. GAMBARAN UMUM. 5.1 Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Karawang. Kabupaten Karawang merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa

KONDISI UMUM LOKASI. Gambaran Umum Kabupaten Cirebon

IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung.

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Lampung Selatan adalah salah satu dari 14 kabupaten/kota yang terdapat di Provinsi

V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN Keadaan Umum Kabupaten Lampung Selatan. Wilayah Kabupaten Lampung Selatan terletak antara 105.

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

GAMBARAN UMUM. Kabupaten OKU Selatan merupakan pemekaran dari. Kabupaten Ogan Komering Ulu, terbentuknya Kabupaten OKU

KONDISI UMUM BANJARMASIN

BAB III GAMBARAN UMUM

Inventarisasi Plasma Nutfah Tanaman di Kabupaten Tanah Laut dan Tabalong Kalimantan Selatan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN TANAH BUMBU DAN KABUPATEN BALANGAN DI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi


IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Propinsi Lampung merupakan salah satu propinsi yang terdapat di Pulau

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penggunaan lahan di Kabupaten Serang terbagi atas beberapa kawasan :

IV. GAMBARAN UMUM KOTA BONTANG. 4.1 Gambaran Umum Wilayah Kota Bontang. Gambar 4.1 Peta Wilayah Kota Bontang

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. terletak di bagian selatan Pulau Jawa. Ibu kota Provinsi Daerah Istimewa

Pasal 5 ayat (1), Pasal 18, Pasal 18A, Pasal 18B, Pasal 20, dan Pasal 21 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lain yang berada di Provinsi

2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar

STATISTIK DAERAH KECAMATAN BUKIT BATU 2013

IV. GAMBARAN UMUM TEMPAT PENELITIAN. Bandar Lampung merupakan Ibukota Provinsi Lampung yang merupakan daerah

3. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN. Letak Geografis

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Secara geografis, Kabupaten OKU Selatan terletak antara sampai

V. GAMBARAN UMUM KECAMATAN TOSARI

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung yang

V. GAMBARAN UMUM. Kota Bogor mempunyai luas wilayah km 2 atau 0.27 persen dari

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN SOPPENG

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. pemerintahan Propinsi Lampung di Bandar Lampung adalah 77 km.

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu dari lima daerah otonom di

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. wilayah Kabupaten Lampung Utara berdasarkan Undang-Undang No.6 Tahun

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kemiling, Kota Bandarlampung. Kota

KONDISI UMUM WILAYAH STUDI

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Pringsewu dengan ibukota Pringsewu terletak 37 kilometer sebelah

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Letak, Luas dan Batas Wilayah Penelitian. Kabupaten Kuningan terletak di bagian timur Jawa Barat dengan luas

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. 1. Sejarah Terbentuknya Kabupaten Lampung Barat

Gambar 10. Peta Jakarta dan Teluk Jakarta

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Maksud dan Tujuan


GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Pulau Jawa, dan sebaliknya. Provinsi Lampung memiliki 12 kabupaten dan 2

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Kampar terletak antara 1º 02' Lintang Utara dan 0º 20' Lintang

V. GAMBARAN UMUM. permukaan laut, dan batas-batas wilayah sebagai berikut : a) Batas Utara : Kabupaten Banyuasin

KEADAAN UMUM LOKASI. Tabel 7. Banyaknya Desa/Kelurahan, RW, RT, dan KK di Kabupaten Jepara Tahun Desa/ Kelurahan

BAB 3 TINJAUAN WILAYAH

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

Transkripsi:

2.1 Gambaran Wilayah BAB II PROFIL SANITASI SAAT INI Kabupaten Tabalong dengan ibukotanya Tanjung terletak paling utara dari propinsi Kalimantan Selatan. Menurut Peraturan Daerah Kabupaten Tabalong Nomor 19 Tahun 2014 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tabalong Tahun 2014 2034, Ruang lingkup wilayah administrasi penataan ruang meliputi wilayah Kabupaten Tabalong seluas ± 3.646,52 Km² atau ± 364.652 Ha, yang secara geografis terletak antara 115 9' - 115 47' Bujur Timur dan 1 18' - 2 25' Lintang Selatan. Sedangkan Grid Provinsi Kalimantan Selatan dari proyeksi UTM terletak pada Grid CE-25 sampai BD-39 dengan koordinat x=295.000m dan y=9.735.000m pada zona 5 LS, dengan batas batas wilayah sebagai berikut : Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Barito Utara Provinsi Kalimantan tengah Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Paser Provinsi Kalimantan Timur Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Barito Timur Provinsi Kaliantan Tengah. Luas wilayah kabupaten Tabalong adalah ± 3.646,52 Km² atau sebesar 10,61 persen dari luas propinsi Kalimantan Selatan. Kecamatan yang terluas adalah kecamatan Muara Uya dengan 924,16 km 2, kemudian kecamatan Jaro dengan 819,00 km 2. Sedangkan daerah terkecil adalah kecamatan Muara Harus dengan 62,90 km 2. Bentuk morfologi wilayah dapat dibagi menjadi empat bentuk yaitu daratan alluvial, dataran, bukit dan pegunungan. Jika dilihat dari persentasenya ternyata wilayah ini didominasi oleh dataran sebesar 41,34 persen dan pegunungan sebesar 29,79 persen. Wilayah kabupaten Tabalong banyak dialiri oleh sungai antara lain sungai Tabalong, sungai Anyar, sungai Jaing, sungai Kinarum, sungai Ayo, sungai Mangkupum, sungai Tamunti, sungai Walangkir, sungai Gendawang, sungai Awang, sungai Masingai, sungai Lumbang, sungai Juran, sungai Hunangin, sungai Umbu, sungai Karawili dan lain-lain. Wilayah administrasi kabupaten Tabalong dengan ibukotanya Tanjung terdiri dari 12 kecamatan yang terbagi atas tiga wilayah pengembangan pembangunan (WPP), bagian utara meliputi kecamatan Haruai, Bintang Ara, Upau, Muara Uya dan Jaro. Bagian tengah meliputi kecamatan Tanta, Tanjung dan Murung Pudak serta bagian selatan meliputi kecamatan Banua Lawas Pugaan, Kelua dan Muara Harus. Banyaknya desa/kelurahan di kabupaten Tabalong ini sebanyak 122 desa dan 9 kelurahan, dimana kecamatan Tanjung dan Banua Lawas mempunyai desa terbanyak yaitu 15 desa dan yang paling sedikit adalah kecamatan Upau dengan 6 desa. Seluruh desa/kelurahan ini sudah sampai pada tingkat swa sembada. Jarak terjauh menuju ibukota pemerintahan kabupaten dari kecamatan adalah kecamatan Jaro 60 km. Dan yang terdekat adalah kecamatan Tanjung yaitu 2 km. Rencana pengembangan sistem jaringan sumber daya air di Kabupaten Tabalong yang tertuang dalam RTRW Kabupaten Tabalong antara lain wilayah sungai (WS) dan cekungan air tanah (CAT). Wilayah Sungai (WS) yang ada di Kabupaten Tabalong yaitu WS Barito yang merupakan WS

lintas provinsi yaitu WS Barito Kapuas dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito sub DAS Tabalong yang merupakan kewenangan nasional terdiri atas sub-sub DAS Tabalong Kiwa, sub-sub DAS Tabalong Kanan, sub-sub DAS Kumap; dan sub-sub DAS Hayup. Kabupaten Tabalong merupakan wilayah yang beriklim tropis. Kelembaban udara maksimum di Tabalong pada tahun 2010 berkisar antara 98-100 persen dan kelembaban udara minimum antara 80-95 persen, sementara kelembaban udara rata-rata setiap bulan adalah 92 97,5 persen. Temperatur udara di suatu tempat antara lain ditentukan oleh tinggi rendahnya tempat tersebut terhadap permukaan laut dan jaraknya dari pantai. Temperatur udara maksimum di Kabupaten Tabalong pada tahun 2010 berkisar antara 25 0 C sampai 31 0 C, temperatur udara minimum berkisar antara 19 0 C sampai 23,5 0 C dan rata-rata temperatur udara setiap bulan berkisar antara 22 0 C sampai 27 0 C GAMBAR 2.1. PROPORSI LUAS WILAYAH KABUPATEN TABALONG TABALONG 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 No Kecamatan Luas (km2) Jarak Menuju Ibukota (1) (2) (3) (4) 1 Banua Lawas 161,67 30 2 Pugaan 64,06 26 3 Kelua 115,78 20 4 Muara Harus 62,90 15 5 Tanta 172,10 6 6 Tanjung 323,34 2 7 Murung Pudak 118,72 5 8 Haruai 469,77 25 9 Upau 323,00 44 10 Muara Uya 924,16 48 11 Jaro 819,00 60 12 Bintang Ara 391,50 25 Tabalong 3.946,00 XXX

Tabel 2.1 Tabel 2.1 Nama dan Luas Wilayah per Kecamatan serta Jumlah Kelurahan Kecamatan Luas Wilayah Luas Area Jumlah Administratif Kelurahan RW RT Ha Km2 (%) Terhadap Total Administrasi Luas Wilayah Terbangun (km2) % 12 905 394.600 3.946 394.600,00 56 0,01 BANUA LAWAS - 96 16.167 162 4,10 4 0,03 Hapalah - 8 1.540 Batang Banyu - 4 260 Sungai Durian - 6 435 Pematang - 8 1.010 Hariang - 7 596 Bungin - 4 344 Bangkiling - 7 1.550 Bangkiling Raya - 5 1.010 Banua Lawas - 8 380 Habau - 6 2.870 Banua Rantau - 9 1.025 Habau Hulu - 4 2.117 Purai - 8 900 Talan - 4 1.800 Sungai Anyar - 8 330 15,4 2,6 4,35 10,1 5,96 3,44 15,5 10,1 3,8 28,7 10,25 21,17 9 18 3,3 0,39 0,239 0,02 0,07 0,105 0,04 0,11 0,231 0,05 0,26 0,375 0,04 0,15 0,418 0,07 0,09 0,178 0,05 0,39 0,281 0,02 0,26 0,218 0,02 0,10 0,377 0,10 0,73 0,428 0,01 0,26 0,332 0,03 0,54 0,214 0,01 0,23 0,284 0,03 0,46 0,224 0,01 0,08 0,279 0,08 PUGAAN - 30 6.406 64 1,62 1,627 0,03 Pampanan 6 2.340 Tamunti 3 1.500 Pugaan 5 500 Halangan 4 750 23,4 15 5 7,5 0,59 0,329 0,01 0,38 0,193 0,01 0,13 0,275 0,06 0,19 0,22 0,03

Sei Rukam I 4 150 Sei Rukam II 3 880 Jirak 5 286 1,5 8,8 2,86 0,04 0,198 0,13 0,22 0,161 0,02 0,07 0,251 0,09 KELUA - 68 11.578 115,78 2,93 5,511 0,05 Telaga Itar 4 350 Pudak Setegal 5 834 Bahungin 6 825 Takulat 4 389 Kel. Pulau 6 264 Masintan 8 1.768 Paliat 4 200 Sungai Buluh 5 1.107 Binturu 6 1.774 Karangan Putih 7 1.053 Pasar Panas 4 567 3,5 8,34 8,25 3,89 2,64 17,68 2 11,07 17,74 10,53 5,67 0,09 0,41 0,12 0,21 0,548 0,07 0,21 0,314 0,04 0,10 0,371 0,10 0,07 0,73 0,28 0,45 0,602 0,03 0,05 0,405 0,20 0,28 0,467 0,04 0,45 0,428 0,02 0,27 0,379 0,04 0,14 0,189 0,03 Ampukung 9 2.447 24,47 0,62 0,668 0,03 MUARA HARUS - 33 6.290 63 1,59 1,653 0,03 Madang 5 1.232 Padangin 5 955 Harus 4 705 Tantaringin 6 1.014 Manduin 4 851 Mantuil 4 200 Murung Karangan 5 1.333 12,32 9,55 7,05 10,14 8,51 2 13,33 0,31 0,168 0,01 0,24 0,176 0,02 0,18 0,157 0,02 0,26 0,274 0,03 0,22 0,211 0,02 0,05 0,258 0,13 0,34 0,409 0,03 TANTA - 77 17.210 172 4,36 4,875 0,03 Walangkir 4 1.238 12,38 0,31 0,263 0,02

Pulau Ku u 5 616 Tamiyang 3 590 Warukin 10 1.618 Padang Panjang 9 2.450 Barimbun 5 1.673 Padangin 3 550 Luk Bayur 5 837 Mangkusip 6 1.671 Tanta 5 1.250 Tanta Hulu 5 1.250 Puain Kanan 7 1.692 Pamarangan Kanan 5 1.325 Murung Baru 5 450 6,16 5,9 16,18 24,5 16,73 5,5 8,37 16,71 12,5 12,5 16,92 13,25 4,5 0,16 0,314 0,05 0,15 0,195 0,03 0,41 0,504 0,03 0,62 0,561 0,02 0,42 0,416 0,02 0,14 0,303 0,06 0,21 0,358 0,04 0,42 0,475 0,03 0,32 0,44 0,04 0,32 0,305 0,02 0,43 0,276 0,02 0,34 0,268 0,02 0,11 0,197 0,04 TANJUNG 6 120 32.334 323 8,19 8 0,03 Banyu Tajun 6 1.560 Sungai Pimping 7 2.597 Pamarangan Kiwa 6 3.230 Puain Kiwa 2 5 2.310 Kel. Jangkung 12 2.736 Kel. Tanjung 17 430 Kel. Agung 6 750 Kambitin 5 2.795 Kel. Hikun 8 1.050 Kambitin Raya 4 18 1.760 Wayau 10 4.770 Juai 6 2.190 15,6 25,97 32,3 23,1 27,36 4,3 7,5 27,95 10,5 17,6 47,7 21,9 0,40 0,466 0,03 0,66 0,436 0,02 0,82 0,514 0,02 0,59 0,302 0,01 0,69 1,008 0,04 0,11 1,58 0,37 0,19 0,674 0,09 0,71 0,317 0,01 0,27 0,808 0,08 0,45 0,593 0,03 1,21 0,575 0,01 0,55 0,297 0,01

Garunggung 6 2.520 Kitang 5 3.215 25,2 32,15 0,64 0,347 0,01 0,81 0,295 0,01 Mahe 4,21 Seberang 3 421 0,11 0,153 0,04 MURUNG PUDAK - 109 11.872 119 3,01 9,963 0,08 Sulingan 10 1.142 Kel. Pembataan 14 581 Kel. Mabu un 11 400 Maburai 4 1.100 Kel. Belimbing Raya 18 1.020 Kel. Belimbing 21 440 Kapar 14 1.351 Masukau 7 2.526 Kasiau 6 2.197 Kasiau Raya 4 1.115 11,42 5,81 4 11 10,2 4,4 13,51 25,26 21,97 11,15 0,29 1,253 0,11 0,15 0,998 0,17 0,10 1,683 0,42 0,28 0,985 0,09 0,26 0,887 0,09 0,11 0,373 0,08 0,34 1,535 0,11 0,64 0,176 0,01 0,56 1,608 0,07 0,28 0,465 0,04 HARUAI - 88 46.977 470 11,90 6 0,01 Lok Batu 4 8.722 Kembang Kuning 4 2.450 Seradang 7 1.950 Halong 5 2.300 Suput 6 3.800 Catur Karya 5 1.000 Mahe Pasar 4 3.000 Suriyan 6 1.000 Hayup 17 7.600 Bongkang 7 5.500 Wirang 6 2.500 87,22 24,5 19,5 23 38 10 30 10 76 55 25 2,21 0,272 0,00 0,62 0,384 0,02 0,49 0,382 0,02 0,58 0,444 0,02 0,96 0,542 0,01 0,25 0,168 0,02 0,76 0,364 0,01 0,25 0,207 0,02 1,93 0,819 0,01 1,39 0,535 0,01 0,63 0,548 0,02

Nawin 10 4.155 41,55 1,05 0,487 0,01 Marindi 7 3.000 30 0,76 0,793 0,03 BINTANG ARA - 48 39.150 392 9,92 2 0,01 Waling 4 2.750 Usih 6 2.750 Bintang Ara 7 3.750 Argo Mulyo 8 1.250 Burum 3 3.000 Panaan 5 11.900 Hegar Manah 3 5.000 Dambung Raya 6 7.500 Bumi Makmur 6 1.250 27,5 27,5 37,5 12,5 30 119 50 75 12,5 7,02 0,258 0,01 0,70 0,327 0,01 0,95 0,409 0,01 0,32 0,185 0,01 0,76 0,207 0,01 3,02 0,372 0,00 1,27 0,143 0,00 1,90 0,333 0,00 0,32 0,119 0,01 UPAU 6 47 32.300 323 8,19 1,66 0,01 Masingai II 4 15 1.800 Masingai I 13 1.800 Bilas 2 6 3.400 Kaong 6 11.000 Pangelak 4 5.300 Kinarum 3 9.000 18 18 34 110 53 90 0,46 0,345 0,02 0,46 0,312 0,02 0,86 0,357 0,01 2,79 0,177 0,00 1,34 0,294 0,01 2,28 0,175 0,00 MUARA UYA - 120 92.416 924 23,42 6,185 0,01 Ribang 14 2.000 Kupang Nunding 8 2.050 Mangkupum 9 10.384 Kampung Baru 4 5.670 Palapi 10 1.732 Pasar Batu 9 2.550 20 20,5 103,84 56,7 17,32 25,5 0,51 0,545 0,03 0,52 0,463 0,02 2,63 0,577 0,01 1,44 0,296 0,01 0,44 0,376 0,02 0,65 0,346 0,01

Simpung Layung 11 380 Uwie 15 13.500 Muara Uya 11 580 Lumbang 9 900 Santu un 5 15.670 Binjai 6 19.000 Salikung 6 14.000 Sungai Kumap 3 4.000 3,8 135 5,8 9 156,7 190 140 40 0,10 0,467 0,12 3,42 0,55 0,00 0,15 0,857 0,15 0,23 0,8 0,09 3,97 0,338 0,00 4,82 0,266 0,00 3,55 0,234 0,00 1,01 0,07 0,00 JARO - 69 81.900 819 20,76 4,026 0,00 Namun 6 18.500 Muang 6 18.800 Teratau 6 600 Purui 4 1.500 Nalui 8 10.900 Jaro 17 14.500 Garagata 8 13.100 Solan 9 1.600 Lano 5 2.400 185 188 6 15 109 145 131 16 24 4,69 0,365 0,00 4,76 0,398 0,00 0,15 0,426 0,07 0,38 0,138 0,01 2,76 0,403 0,00 3,67 0,881 0,01 3,32 0,454 0,00 0,41 0,685 0,04 0,61 0,276 0,01 TOTAL 905 394.600 3946,00 100,00 56 1,43 Sumber : Tabalong Dalam Angka Tahun 2015

Gambar 2.2 Peta Orientasi Wilayah Perkotaan Kabupaten Tabalong Sumber : Bapeda KabupatenTabalongTahun 2016

Gambar 2.3 Peta Wilayah Kajian Strategi Sanitai Kabupaten Tabalong u Sumber : Bappeda Kabupaten Tabalong Tahun 2016

2.1.1. Kecamatan Banua Lawas Secara geografis Kecamatan Banua Lawas terletak pada posisi 2 Lintang Selatan dan 116 Bujur Timur, dengan luasan wilayah mencapai ± 161,67 Km² atau 4,10% dari luas wilayah Kabupaten Tabalong. Kecamatan Banua Lawas memiliki batas-batas wilayah administrasi sebagai berikut: Sebelah Utara : Kecamatan Kelua; Sebelah Timur : Kecamatan Kelua dan Kecamatan Pugaan; Sebelah Selatan : Kabupaten Hulu Sungai Utara; Sebelah Barat : Provnsi Kalimantan Tengah; Kecamatan Banua Lawas memiliki fasilitas pendidika disetiap desanya sudah memiliki fasilitas kesehatan minimalposyandu atau poskesdes. Merupakan Kecamatan yang memiliki komoditas unggul dibidang ertanian dan ternak unggas. Untuk lebih jelasnya, luas masing-masing Desa dan jumlah Rukun Tetangga (RT) di Kecamatan Banua Lawas dapat dilihat pada tabel 2.2 berikut. TABEL 2.2 WILAYAH ADMINISTRASI DAN JUMLAH RT/RW DI KECAMATAN BANUA LAWAS Luas Area Administratif Kecamatan Jumlah Kelurahan/ Desa RW RT Ha Km2 Luas Wilayah (%) Terhadap Total Administrasi Luas Wilayah Terbangun (km2) % BANUA LAWAS - 96 16.167 162 4,10 4 0,03 1 Hapalah - 8 1.540 2 Batang Banyu - 4 260 3 Sungai Durian - 6 435 4 Pematang - 8 1.010 5 Hariang - 7 596 6 Bungin - 4 344 7 Bangkiling - 7 1.550 8 Bangkiling Raya - 5 1.010 9 Banua Lawas - 8 380 10 Habau - 6 2.870 15,4 2,6 4,35 10,1 5,96 3,44 15,5 10,1 3,8 28,7 0,39 0,239 0,02 0,07 0,105 0,04 0,11 0,231 0,05 0,26 0,375 0,04 0,15 0,418 0,07 0,09 0,178 0,05 0,39 0,281 0,02 0,26 0,218 0,02 0,10 0,377 0,10 0,73 0,428 0,01

11 Banua Rantau - 9 1.025 12 Habau Hulu - 4 2.117 13 Purai - 8 900 14 Talan - 4 1.800 15 Sungai Anyar - 8 330 10,25 21,17 9 18 3,3 0,26 0,332 0,03 0,54 0,214 0,01 0,23 0,284 0,03 0,46 0,224 0,01 0,08 0,279 0,08 Grafik persentase luas wilayah kecamatan Banua Lawas Tahun 2014 2.1.2. Kecamatan Pugaan Kecamatan Pugaan secara geografis berada pada 115 0 9 115 0 47 Bujur Timur dan 1 0 18 2 0 25 Lintang Selatan, dengan luasan wilayah mencapai ± 64,06 km 2 atau 1,62% dari luas wilayah Kabupaten Tabalong. Kecamatan Pugaan memiliki batas-batas wilayah administrasi sebagai berikut: Sebelah Utara : Kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan; Sebelah Timur : Kacamatan Muara Harus; Sebelah Selatan : Kecamatan Amuntai Utara Kabupaten HSU; Sebelah Barat : Kecamatan Banua Lawas; Kecamatan Pugaan merupakan kecamatan yang kegiatan penduduknya banyak bergerak di bidang pertanian dimana komoditas unggulannya adalah sektor tanaman bahan makanan khususnya padi dan ternak, juga industri kecil kerajinan anyaman purun dan rumbia. Di Kecamatan Pugaan di setiap Desanya memiliki fasilitas Pendidikan dan fasilitasi kesehatan yaitu minimal satu buah SD,Posyandu atau Poskesdes.

. Untuk lebih jelasnya, luas masing-masing kelurahan dan jumlah Rukun Tetangga (RT) di Kecamatan Pugaan dapat dilihat pada tabel 2.2 berikut : TABEL 2.3 WILAYAH ADMINISTRASI DAN JUMLAH RT/RW DI KECAMATAN PUGAAN Luas Wilayah Luas Area Administratif (%) Terhadap Kecamatan Jumlah Kelurahan/ Desa RW RT Ha Km2 Total Administrasi Luas Wilayah Terbangun (km2) % PUGAAN - 30 6.406 64 1,62 1,627 0,03 1 Pampanan - 6 2.340 23,4 0,59 0,329 0,01 2 Tamunti - 3 1.500 15 0,38 0,193 0,01 3 Pugaan - 5 500 5 0,13 0,275 0,06 4 Halangan - 4 750 7,5 0,19 0,22 0,03 5 Sei Rukam I - 4 150 1,5 0,04 0,198 0,13 6 Sei Rukam II - 3 880 8,8 0,22 0,161 0,02 7 Jirak - 5 286 2,86 0,07 0,251 0,09 GRAFIK PERSENTASE LUAS WILAYAH KECAMATAN PUGAAN 2.1.3. Kecamatan Kelua Secara geografis, Kecamatan Kelua terletak pada posisi 2 LS dan 166 BT, dengan luasan wilayah mencapai ± 115,78 km 2 atau 2,93% dari luas wilayah Kabupaten Tabalong. Kecamatan Kelua memiliki batas-batas wilayah administrasi sebagai berikut: Sebelah Utara : Kecamatan Muara Harus dan Propinsi Kalimantan Tengah; Sebelah Timur : Kecamatan Muara Harusdan Kecamatan Pugaan; Sebelah Selatan : Kecamatan Banua Lawas dan Propins Kalimantan Tengah; Sebelah Barat : Kecamatan Pugaan;

Kecamatan Kelua merupakan bagian dari pusat kota (CBD) Kabupaten Tabalong di wilayah Selatan, menitik beratkan disektor pertanian pangan, padi merupakan tanaman unggulan. Memiliki fungsi sebagai pusat pemerintahan, kawasan hankam, permukiman, serta perdagangan yang ramai dan jasa.untuk lebih jelasnya, luas masing-masing Desa dan jumlah Rukun Tetangga (RT) di Kecamatan Kelua dapat dilihat pada tabel 2.2 berikut. TABEL 2.4 WILAYAH ADMINISTRASI DAN JUMLAH RT/RW DI KECAMATAN KELUA Luas Area Administratif Kecamatan Jumlah Kelurahan/ Desa RW RT Ha Km2 Luas Wilayah (%) Terhadap Total Administrasi Luas Wilayah Terbangun (km2) % KELUA - 68 11.578 115,78 2,93 5,511 0,05 1 Telaga Itar - 4 350 2 Pudak Setegal - 5 834 3 Bahungin - 6 825 4 Takulat - 4 389 5 Kel. Pulau - 6 264 6 Masintan - 8 1.768 7 Paliat - 4 200 8 Sungai Buluh - 5 1.107 9 Binturu - 6 1.774 10 Karangan Putih - 7 1.053 11 Pasar Panas - 4 567 12 Ampukung - 9 2.447 3,5 8,34 8,25 3,89 2,64 17,68 2 11,07 17,74 10,53 5,67 24,47 0,09 0,41 0,12 0,21 0,548 0,07 0,21 0,314 0,04 0,10 0,371 0,10 0,07 0,73 0,28 0,45 0,602 0,03 0,05 0,405 0,20 0,28 0,467 0,04 0,45 0,428 0,02 0,27 0,379 0,04 0,14 0,189 0,03 0,62 0,668 0,03

1 Telaga Itar 3,02% 2 Pudak Setegal 7,20% 3 Bahungin 7,12 % 4 Takulat 3,35% 5 Kel. Pulau 2,28% 6 Masintan 15,27 % 7 Paliat 1,72% 8 Sungai Buluh 9,56% 9 Binturu 15,32% 10 Karangan Putih 9,09 % 11 Pasar Panas 4,89% 12 Ampukung 21,13% Grafik persentase luas wilayah Kecamatan Kelua 2.1.4. Kecamatan Muara Harus Secara geografis Kecamatan Muara Harus terletak pada posisi 2 09'11 LS dan 116 24'04 BT, dengan luasan wilayah mencapai ± 62,90 km 2 atau 1,59 % dari luas wilayah Kabupaten Tabalong. Kecamatan Muara Harus memiliki batas-batas wilayah administrasi sebagai berikut: Sebelah Utara : Kecamatan Kelua; Sebelah Timur : Kecamatan Tanjung; Sebelah Selatan : Kecamatan Tanta; Sebelah Barat : Kecamatan Kelua; Kecamatan Muara Harus merupakan kecamatan yang kegiatan penduduknya banyak bergerak di bidang pertanian dimana komoditas unggulannya adalah sektor tanaman bahan makanan khususnya padi dan ternak. Untuk lebih jelasnya, luas masing-masing Desa dan jumlah Rukun Tetangga (RT) di Kecamatan Muara Harus dapat dilihat pada tabel 2.5 berikut.

TABEL 2.5 WILAYAH ADMINISTRASI DAN JUMLAH RT/RW DI KECAMATAN MUARA HARUS Kecamatan Luas Area Jumlah Administratif Kelurahan/ Desa RW RT Ha Km2 Luas Wilayah (%) Terhadap Total Administrasi Luas Wilayah Terbangun (km2) % MUARA HARUS - 33 6.290 63 1,59 1,653 0,03 1 Madang 5 1.232 2 Padangin 5 955 3 Harus 4 705 4 Tantaringin 6 1.014 5 Manduin 4 851 6 Mantuil 4 200 7 Murung Karangan 5 1.333 12,32 9,55 7,05 10,14 8,51 2 13,33 0,31 0,168 0,01 0,24 0,176 0,02 0,18 0,157 0,02 0,26 0,274 0,03 0,22 0,211 0,02 0,05 0,258 0,13 0,34 0,409 0,03 Grafik persentase luas wilayah kecamatan Muara Harus

2.1.5. Kecamatan Tanta Secara geografis Kecamatan Tanta terletak pada posisi 2 LS dan 116 BT, dengan luasan wilayah mencapai ± 172,10 km 2 atau 4,36% dari luas wilayah Kabupaten Tabalong. Kecamatan Tanta memiliki batas-batas wilayah administrasi sebagai berikut: Sebelah Utara : Kecamatan Murng Pudak ; Sebelah Timur : Kecamatan lampihong kabupaten Balangan ; Sebelah Selatan : Kecamatan Muara Harus ; Sebelah Barat : Kecamatan Tanjung ; Kecamatan Tanta bila dibandingkan dengan kecamatan yang lain memiliki jumlah penduduk yang cukup besar yaitu sebanyak 18.643 jiwa, dengan jumlah penduduk yang cukup besar ini akan berdampak pada permintaan perumahan, kecukupan pangan. Kecamatan Tanta masuk dalam wilayah eksplorasi pertambangan minyak oleh Pertamina dan batubara yang dikuasai penambangannya oleh PT.Adaro, wilayah yang terkena tambang batubara berada didesa Padang Panjang/Wara. Untuk lebih jelasnya, luas masing-masing Desa dan jumlah Rukun Tetangga (RT) di Kecamatan Tanta dapat dilihat pada tabel 2.6 berikut. Kecamatan TABEL 2.6 WILAYAH ADMINISTRASI DAN JUMLAH RT/RW DI KECAMATAN TANTA Luas Area Administratif Jumlah Kelurahan/ Desa RW RT Ha Km2 Luas Wilayah (%) Terhadap Total Administrasi Luas Wilayah Terbangun (km2) % TANTA - 77 17.210 172 4,36 4,875 0,03 1 Walangkir 4 1.238 2 Pulau Ku u 5 616 3 Tamiyang 3 590 4 Warukin 10 1.618 5 Padang Panjang 9 2.450 6 Barimbun 5 1.673 7 Padangin 3 550 8 Luk Bayur 5 837 9 Mangkusip 6 1.671 12,38 6,16 5,9 16,18 24,5 16,73 5,5 8,37 16,71 0,31 0,263 0,02 0,16 0,314 0,05 0,15 0,195 0,03 0,41 0,504 0,03 0,62 0,561 0,02 0,42 0,416 0,02 0,14 0,303 0,06 0,21 0,358 0,04 0,42 0,475 0,03

10 Tanta 5 1.250 11 Tanta Hulu 5 1.250 12 Puain Kanan 7 1.692 13 Pamarangan Kanan 5 1.325 14 Murung Baru 5 450 12,5 12,5 16,92 13,25 4,5 0,32 0,44 0,04 0,32 0,305 0,02 0,43 0,276 0,02 0,34 0,268 0,02 0,11 0,197 0,04 2.1.6. Kecamatan Tanjung Grafik persentase luas wilayah Kecamatan Tanta Secara geografis, Kecamatan Tanjung terletak pada posisi 3 LS dan 116 BT, dengan luasan wilayah mencapai ± 3.233.400 Ha atau 8,19 % dari luas wilayah Kabupaten Tabalong. Kecamatan Tanjung memiliki batas-batas wilayah administrasi sebagai berikut: Sebelah Utara : Kecamatan Haruai ; Sebelah Timur : Kacamatan Murung Pudak dan KecamatanTanta ; Sebelah Selatan : Kecamatan Kelua dan Muara Harus ; Sebelah Barat : Provinsi Kalimantan Tengah ; Kecamatan Tanjung merupakan ibukota kabupaten Tabalong, merupakan bagian dari pusat kota (CBD) dari Kabupaten Tabalong yang memiliki fungsi sebagai pusat pemerintahan, kawasan hankam, permukiman, serta perdagangan dan jasa. Untuk lebih jelasnya, luas masing-

masing kelurahan/ Desa dan jumlah Rukun Tetangga (RT) di Kecamatan Tanjung dapat dilihat pada tabel 2.7 berikut. TABEL 2.7 WILAYAH ADMINISTRASI DAN JUMLAH RT/RW DI KECAMATAN TANJUNG Luas Area Administratif Kecamatan Jumlah Kelurahan/ Desa RW RT Ha Km2 TANJUNG 1 Banyu Tajun - 6 1.560 2 Sungai Pimping - 7 2.597 3 Pamarangan Kiwa - 6 3.230 4 Puain Kiwa 2 5 2.310 5 Kel. Jangkung - 12 2.736 6 Kel. Tanjung - 17 430 7 Kel. Agung - 6 750 8 Kambitin - 5 2.795 9 Kel. Hikun - 8 1.050 10 Kambitin Raya 4 18 1.760 11 Wayau - 10 4.770 12 Juai - 6 2.190 13 Garunggung - 6 2.520 14 Kitang - 5 3.215 15 Mahe Seberang - 3 421 Luas Wilayah (%) Terhadap Total Administrasi Luas Wilayah Terbangun (km2) % 6 120 32.334 323 8,19 8 0,03 15,6 25,97 32,3 23,1 27,36 4,3 7,5 27,95 10,5 17,6 47,7 21,9 25,2 32,15 4,21 0,40 0,466 0,03 0,66 0,436 0,02 0,82 0,514 0,02 0,59 0,302 0,01 0,69 1,008 0,04 0,11 1,58 0,37 0,19 0,674 0,09 0,71 0,317 0,01 0,27 0,808 0,08 0,45 0,593 0,03 1,21 0,575 0,01 0,55 0,297 0,01 0,64 0,347 0,01 0,81 0,295 0,01 0,11 0,153 0,04

1 Banyu Tajun 4,87% 2 Sungai Pimping 8,03% 3 Pamarangan Kiwa 9,99% 4 Puain Kiwa 7,18% 5 Kel. Jangkung 8,40% 6 Kel. Tanjung 1,40% 7 Kel. Agung 2,31% 8 Kambitin Raya 8,64% 9 Kel. Hikun 3,29% 10 Kambitin Raya 5,48% 11 Wayau 14,74% 12 Juai 6,69% 13 Garunggung7,79% 14 Kitang 9,87 % 15 Mahe Seberang 1,34 % Grafik persentase luas wilayah Kecamatan Tanjung 2.1.7. Kecamatan Murung Pudak Secara geografis Kecamatan Murung Pudak terletak pada posisi 2 09'11'' LS dan 116 24'04'' BT,dengan luasan wilayah mencapai ± 118,72 km 2 atau 3,01% dari luas wilayah Kabupaten Tabalong. Kecamatan Murung Pudak memiliki batas-batas wilayah administrasi sebagai berikut: Sebelah Utara : Kecamatan Haruai ; Sebelah Timur : Kabupaten Balangan ; Sebelah Selatan : Kacamatan Tanta ; Sebelah Barat : Kecamatan Tanjung ; Kecamatan Murung Pudak merupakan bagian dari pusat kota (CBD) yang memiliki fungsi sebagai pusat pemerintahan, kawasan hankam, permukiman, serta perdagangan dan jasa. Untuk lebih jelasnya, luas masing-masing kelurahan Desa dan jumlah Rukun Tetangga (RT) di Kecamatan Murung Pudak dapat dilihat pada tabel 2.8 berikut.

Kecamatan TABEL 2.8 WILAYAH ADMINISTRASI DAN JUMLAH RT/RW DI KECAMATAN MURUNG PUDAK Luas Area Administratif Jumlah Kelurahan/ Desa RW RT Ha Km2 Luas Wilayah (%) Terhadap Total Administrasi Luas Wilayah Terbangun MURUNG PUDAK (km2) % - 109 11.872 119 3,01 9,963 0,08 1 Sulingan 10 1.142 11,42 0,29 1,253 0,11 2 Kel. Pembataan 14 581 5,81 0,15 0,998 0,17 3 Kel. Mabu un 11 400 4 0,10 1,683 0,42 4 Maburai 4 1.100 11 0,28 0,985 0,09 5 Kel. Belimbing Raya 18 1.020 10,2 0,26 0,887 0,09 6 Kel. Belimbing 21 440 4,4 0,11 0,373 0,08 7 Kapar 14 1.351 13,51 0,34 1,535 0,11 8 Masukau 7 2.526 25,26 0,64 0,176 0,01 9 Kasiau 6 2.197 21,97 0,56 1,608 0,07 10 Kasiau Raya 4 1.115 11,15 0,28 0,465 0,04 Grafik persentase luas wilayah kecamatan Murung pudak

2.1.8. Kecamatan Haruai Secara geografis Kecamatan Haruai terletak pada posisi 3 LS dan 116 BT, dengan luasan wilayah mencapai ± 4.697.700 Ha atau 11,90 % dari luas wilayah Kabupaten Tabalong. Kecamatan Haruai memiliki batas-batas wilayah administrasi sebagai berikut: Sebelah Utara : Kecamatan Muara Uya dan Kecamatan Bintang Ara ; Sebelah Timur : Kecamatan Upau dan Kabupaten Balangan ; Sebelah Selatan : Kecamatan Tanjung dan Kecamatan Murung Pudak ; Sebelah Barat : Provinsi Kalimantan Tengah ; Kecamatan Haruai merupakan Kecamatan yang penduduknya paling majemuk bila dibandingkan dengan Kecamatan lain. Merupakan kecamatan yang selain bergerak di pertanian karet juga industri palawija kelapa sawit. Untuk lebih jelasnya, luas masing-masing Desa dan jumlah Rukun Tetangga (RT) di Kecamatan Haruai dapat dilihat pada tabel 2.9 berikut. TABEL 2.9 WILAYAH ADMINISTRASI DAN JUMLAH RT/RW DI KECAMATAN HARUAI Luas Area Administratif Kecamatan Jumlah Kelurahan/ Desa RW RT Ha Km2 HARUAI 1 Lok Batu - 4 8.722 2 Kembang Kuning - 4 2.450 3 Seradang - 7 1.950 4 Halong - 5 2.300 5 Suput - 6 3.800 6 Catur Karya - 5 1.000 7 Mahe Pasar - 4 3.000 8 Suriyan - 6 1.000 9 Hayup - 17 7.600 Luas Wilayah (%) Terhadap Total Administrasi Luas Wilayah Terbangun (km2) % - 88 46.977 470 11,90 6 0,01 87,22 24,5 19,5 23 38 10 30 10 76 2,21 0,272 0,00 0,62 0,384 0,02 0,49 0,382 0,02 0,58 0,444 0,02 0,96 0,542 0,01 0,25 0,168 0,02 0,76 0,364 0,01 0,25 0,207 0,02 1,93 0,819 0,01 10 Bongkang - 7 55 0,535 0,01

5.500 1,39 11 Wirang - 6 2.500 12 Nawin - 10 4.155 13 Marindi - 7 3.000 25 0,63 0,548 0,02 41,55 1,05 0,487 0,01 30 0,76 0,793 0,03 1 Lok Batu 19% 2 Kembang Kuning 5% 3 Seradang 4 % 4 Halong 5% 5 Suput 8% 6 Catur Karya 2% 7 Mahe Pasar 6% 8 Suriyan 2% 9 Hayup 16 % 10 Bongkang 12 % 11 Wirang 5% 12 Nawin 9% 13 Marindi 6% Grafik persentase luas wilayah kecamatan Haruai 2.1.9. Kecamatan Bintang Ara Secara geografis Kecamatan Bintang Ara terletak pada posisi 2 LS dan 116 BT, dengan luasan wilayah mencapai ± 391.50 km 2 atau 9,92 % dari luas wilayah Kabupaten Tabalong. Kecamatan Bintang Ara memiliki batas-batas wilayah administrasi sebagai berikut: Sebelah Utara : Kecamatan Muara Uya dan Provnsi kalmantan Tengah ; Sebelah Timur : Kecamatan Haruai ; Sebelah Selatan : Kecamatan Tanjung dan Kecamatan Haruai ; Sebelah Barat : Provinsi Kalimantan Tengah dan Kecamtan Tanjung ; Kecamatan Bintang Ara mempunyai kualifikasi sebagai wilayah adminstrasi desa yang menganut sistem desa pemilihan, Sebagian besar wilayah Bintang Ara berupa pegunungan dengan sumber daya alamnya yang melimpah, misalnya Kayu Hutan, Penduduk di Kecamatan Bintang Ara banyak

melakukan usahanya dibidang perkebunan dan kehutanan khususnya perkebunan Karet Untuk lebih jelasnya, luas masing-masing kelurahan dan jumlah Rukun Tetangga (RT) di Kecamatan Banjarbaru Utara dapat dilihat pada tabel 2.10 berikut : TABEL 2.10 WILAYAH ADMINISTRASI DAN JUMLAH RT/RW DI KECAMATAN BINTANG ARA Luas Area Administratif Kecamatan Jumlah Kelurahan/ Desa RW RT Ha Km2 BINTANG ARA 1 Waling 4 2.750 2 Usih 6 2.750 3 Bintang Ara 7 3.750 4 Argo Mulyo 8 1.250 5 Burum 3 3.000 6 Panaan 5 11.900 7 Hegar Manah 3 5.000 8 Dambung Raya 6 7.500 9 Bumi Makmur 6 1.250 Luas Wilayah (%) Terhadap Total Administrasi Luas Wilayah Terbangun (km2) % - 48 39.150 392 9,92 2 0,01 27,5 27,5 37,5 12,5 30 119 50 75 12,5 7,02 0,258 0,01 0,70 0,327 0,01 0,95 0,409 0,01 0,32 0,185 0,01 0,76 0,207 0,01 3,02 0,372 0,00 1,27 0,143 0,00 1,90 0,333 0,00 0,32 0,119 0,01 9 Bumi Makmur 3,19% 3% 8 Dambung Raya 19, 16% 19% 7 Hegar Manah 12,77% 13% Bintang Ara 6 Panaan 30,39% 30% 1 Waling 7,02% 7% 2 Usih 7,02 % 7% 3 Bintang Ara 9,58% 10% 4 Argo Mulyo 3,19% 3% 5 Burum 7,67 % 8% Grafik persentase luas wilayah kecamatan Bintang Ara

2.10. Kecamatan Upau Secara geografis Kecamatan Upau terletak pada posisi 2 LS dan 166 47' BT, dengan luasan wilayah mencapai ± 323,00 km 2 atau 8,19% dari luas wilayah Kabupaten Tabalong. Kecamatan Upau memiliki batas-batas wilayah administrasi sebagai berikut : Sebelah Utara : Kecamatan Haruai ; Sebelah Timur : Provinsi Kalimantan Timur ; Sebelah Selatan : Kabupaten Balangan ; Sebelah Barat : Kecamatan Haruai ; Kecamatan Upau memiliki penduduk yang paling majemuk bila dibandingkan dengan wilayah kecamatan lain dengan mayoritas penduduk suku Dayak Upau. Pada umumnya di setiap desa di kecamatan ini sudah tersedia fasilitas kesehatan minimal posyandu atau poskesdes dan terdapat fasilitas pendidikan di Kecamatan ini. Untuk lebih jelasnya, luas masing-masing Desa dan jumlah Rukun Tetangga (RT) di Kecamatan Upau dapat dilihat pada tabel 2.11 berikut. Kecamatan TABEL 2.11 WILAYAH ADMINISTRASI DAN JUMLAH RT/RW DI KECAMATAN UPAU Luas Area Administratif Jumlah Kelurahan/ Desa RW RT Ha Km2 Luas Wilayah (%) Terhadap Total Administrasi Luas Wilayah Terbangun (km2) % UPAU 6 47 32.300 323 8,19 1,66 0,01 1 Masingai II 4 15 1.800 2 Masingai I 13 1.800 3 Bilas 2 6 3.400 4 Kaong 6 11.000 5 Pangelak 4 5.300 6 Kinarum 3 9.000 18 18 34 110 53 90 0,46 0,345 0,02 0,46 0,312 0,02 0,86 0,357 0,01 2,79 0,177 0,00 1,34 0,294 0,01 2,28 0,175 0,00

1 Masingai II 5,57 % 2 Masingai I 5,57 % 3 Bilas 10,53% 4 Kaong 34,06% 5 Pangelak 16,41% 6 Kinarum 27,86% Grafik persentase luas wilayah kecamatan Bintang Ara 2.1.11. Kecamatan Muara Uya Secara geografis Kecamatan Muara Uya terletak pada posisi 115 0 9-115 0 47 Bujur Timur dan 1 0 18-2 0 25 Lintang Selatan, dengan luasan wilayah mencapai 924,16 km 2 atau 23,42 % dari luas wilayah Kabupaten Tabalong. Kecamatan Muara Uya memiliki batas-batas wilayah administrasi sebagai berikut: Sebelah Utara : Provinsi Kalimantan Tengah ; Sebelah Timur : Kecamatan Jaro dan Provinsi Kalimantan Timur ; Sebelah Selatan : Kecamatan Haruai ; Sebelah Barat : Provinsi Kalimantan Tengah ; Kecamatan Muara Uya merupakan bagian dari pusat kota (CBD) wilayah utara Kabupaten Tabalong, yang memiliki fungsi sebagai pusat pemerintahan, kawasan hankam, permukiman, serta perdagangan dan jasa. Untuk lebih jelasnya, luas masing-masing Desa dan jumlah Rukun Tetangga (RT) di Kecamatan Muara Uya dapat dilihat pada tabel 2.12 berikut:

TABEL 2.12 WILAYAH ADMINISTRASI DAN JUMLAH RT/RW DI KECAMATAN MUARA UYA Kecamatan Luas Area Administratif Jumlah Kelurahan/ Desa RW RT Ha Km2 Luas Wilayah (%) Terhadap Total Administrasi Luas Wilayah Terbangun (km2) % MUARA UYA - 120 92.416 924 23,42 6,185 0,01 1 Ribang 14 2.000 2 Kupang Nunding 8 2.050 3 Mangkupum 9 10.384 4 Kampung Baru 4 5.670 5 Palapi 10 1.732 6 Pasar Batu 9 2.550 7 Simpung Layung 11 380 8 Uwie 15 13.500 9 Muara Uya 11 580 10 Lumbang 9 900 11 Santu un 5 15.670 12 Binjai 6 19.000 13 Salikung 6 14.000 14 Sungai Kumap 3 4.000 20 20,5 103,84 56,7 17,32 25,5 3,8 135 5,8 9 156,7 190 140 3,55 40 0,51 0,545 0,03 0,52 0,463 0,02 2,63 0,577 0,01 1,44 0,296 0,01 0,44 0,376 0,02 0,65 0,346 0,01 0,10 0,467 0,12 3,42 0,55 0,00 0,15 0,857 0,15 0,23 0,8 0,09 3,97 0,338 0,00 4,82 0,266 0,00 0,234 0,00 1,01 0,07 0,00

1 Ribang 2,16% 2 Kupang Nunding 2,22% 3 Mangkupum 11,24% 4 Kampung Baru 6,13% 5 Palapi 1,87 % 6 Pasar Batu 2,76% 7 Simpung Layung 0,41% 8 Uwie 14,61% 9 Muara Uya 0,63% 10 Lumbang 0,94% 11 Santu un 16,95% 12 Binjai 20,56% 13 Salikung 15,15% 14 Sungai Kumap 4,33% Grafik persentase luas wilayah kecamatan Muara Uya 2.1.12. Kecamatan Jaro Secara geografis Kecamatan Jaro terletak pada posisi 1 18-2 25 ' LS dan 115 09' -115 47' BT, dengan luasan wilayah mencapai ± 819,00 km 2 atau 20,76% dari luas wilayah Kabupaten Tabalong. Kecamatan Jaro memiliki batas-batas wilayah administrasi sebagai berikut: Sebelah Utara : Propinsi Kalimantan Timur ; Sebelah Timur : Propinsi Kalimantan Timur ; Sebelah Selatan : Kecamatan Muara Uya ; Sebelah Barat : Kecamatan Muara Uya ; Kecamatan Jaro merupakan kawasan strategis kabupaten juga merupakan bagian dari pusat kota (CBD) wilayah utara kabupaten Tabalong yang memiliki fungsi sebagai pusat pemerintahan, kawasan hankam, permukiman, serta perdagangan dan jasa. Komoditas unggulan pertanian di Jaro adalah Padi dan karet. Sebagian penduduk di Kecamatan Jaro adalah pendatang/migrasi dari Pulau Jawa dengan pola transmigrasi sebelumnya Untuk lebih jelasnya, luas masing-masing Desa dan jumlah Rukun Tetangga (RT) di Kecamatan Banjarbaru Utara dapat dilihat pada tabel 2.13 berikut :

Kecamatan TABEL 2.13 WILAYAH ADMINISTRASI DAN JUMLAH RT/RW DI KECAMATAN JARO Luas Area Administratif Jumlah Kelurahan/ Desa RW RT Ha Km2 Luas Wilayah (%) Terhadap Total Administrasi Luas Wilayah Terbangun (km2) % JARO - 69 81.900 819 20,76 4,026 0,00 1 Namun 6 18.500 2 Muang 6 18.800 3 Teratau 6 600 4 Purui 4 1.500 5 Nalui 8 10.900 6 Jaro 17 14.500 7 Garagata 8 13.100 8 Solan 9 1.600 9 Lano 5 2.400 185 188 6 15 109 145 131 16 24 4,69 0,365 0,00 4,76 0,398 0,00 0,15 0,426 0,07 0,38 0,138 0,01 2,76 0,403 0,00 3,67 0,881 0,01 3,32 0,454 0,00 0,41 0,685 0,04 0,61 0,276 0,01 Grafik persentase luas wilayah kecamatan Jaro

2..2 Demografi 2.2.1 JUMLAH PENDUDUK Jumlah penduduk yang besar dengan disertai kualitas sumber daya manusia yang baik merupakan suatu keuntungan bagi daerah yang bersangkutan. Hal ini merupakan modal penting dalam pembangunan. Sebaliknya jumlah penduduk yang besar tanpa disertai kualitas yang handal, akan berpotensi menjadi factor penghambat pembangunan daerah. Jumlah penduduk Tabalong pada tahun 2014 sebesar 235.777 jiwa dengan tingkat kepadatan mencapai 60 jiwa/km2. Laju pertumbuhan rata-rata penduduk pertahun pada tahun 2013 sebesar 1,75 persen, yang dipengaruhi oleh migrasi penduduk ke Tabalong. Adapun jumlah rumah tangga pada tahun tersebut sekitar 66.480 ruta dengan perkiraan rata-rata setiap rumah tangga terdiri dari 3,55. Pada periode yang sama, rasio jenis kelamin Kabupaten Tabalong sebesar 103,47 artinya setiap 100 penduduk perempuan terdapat 103 orang penduduk laki-laki. Ditinjau dari piramida penduduk, tampak bahwa sebagian besar penduduk masih berusia muda (0-14 tahun). Kondisi tersebut menggambarkan tingkat fertilitas dan mortalitas di Kabupaten Tabalong yang tinggi, serta angka harapan hidup yang rendah.. Rasio jenis kelamin penduduk di kabupaten Tabalong yang berada di bawah 100 persen terdapat di kecamatan Banua Lawas, Pugaan, Kelua, Muara Harus dan Upau. Artinya di wilayah kecamatan tersebut penduduk perempuan rata-rata lebih banyak daripada penduduk laki-laki, salah satu penyebabnya adalah migrasi penduduk laki-laki keluar dari wilayah kecamatan tersebut untuk bekerja. Laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Tabalong mencapai 1,75 persen pada tahun 2014

Tabel 2.14 Jumlah penduduk dan Kepala Keluarga Kabupaten Tabalong Kecamatan Populasi (org) Populasi (org) Rata2 tahunan Populasi (org) Rata2 tahunan Populasi (org) Rata2 tahunan Populasi (org) Rata2 tahunan Sumber BPS BPS calc BPS calc BPS calc BPS calc Kelurahan Tahun 2007 2007 2008 2008 2009 2009 2010 2010 2011 2011 Laki Pr Total Laki Pr Total growth % Laki Pr Total 0 191.001 193.640 1,38% 206.830 BANUA LAWAS 8.513 9.140 17.653 8.095 8.781 16.876-4,40% 8.054 8.968 17.022 PUGAAN Hapalah 465 499 964 442 480 922-4,40% 440 490 930 Batang Banyu 234 251 486 223 242 464-4,40% 222 247 468 Sungai Durian 396 425 821 376 408 785-4,40% 375 417 792 Pematang 672 721 1.393 639 693 1.332-4,40% 635 708 1.343 Hariang 760 816 1.576 723 784 1.507-4,40% 719 801 1.520 Bungin 341 366 706 324 351 675-4,40% 322 359 681 Bangkiling 575 618 1.193 547 593 1.140-4,40% 544 606 1.150 Bangkiling Raya 412 443 855 392 425 818-4,40% 390 435 825 Banua Lawas 768 825 1.593 730 792 1.523-4,40% 727 809 1.536 Habau 813 873 1.686 773 839 1.612-4,40% 769 857 1.626 Banua Rantau 723 776 1.500 688 746 1.434-4,40% 684 762 1.446 Habau Hulu 603 647 1.250 573 622 1.195-4,40% 570 635 1.205 Purai 685 735 1.420 651 706 1.358-4,40% 648 722 1.370 Talan 413 444 857 393 426 820-4,40% 391 436 827 Sungai Anyar 652 700 1.353 620 673 1.293-4,40% 617 687 1.304 3.096 3.261 6.357 3.091 3.256 6.347-0,16% 2.936 3.186 6.122 Pampanan 567 597 1.165 566 596 1.163-0,16% 538 584 1.122 Tamunti 399 420 818 398 419 817-0,16% 378 410 788 Pugaan 549 578 1.126 548 577 1.125-0,16% 520 565 1.085 growth % 4,06% -1,80% -1,80% -1,80% -1,80% -1,80% -1,80% -1,80% -1,80% -1,80% -1,80% -1,80% -1,80% -1,80% -1,80% -1,80% -1,80% -1,86% -1,86% -1,86% -1,86% Laki Pr Total growth % Laki Pr Total growth % 218.620 4,60% 224.386 4,11% 8.750 9.247 17.997 0,65% 8.820 9.293 18.113 0,65% 482 501 983 0,65% 483 495 978 0,36% 232 263 495 0,65% 235 263 498 0,64% 378 459 837 0,65% 377 455 832 0,33% 687 733 1.420 0,65% 693 741 1.434 0,73% 789 818 1.607 0,65% 793 819 1.612 0,56% 316 404 720 0,65% 316 405 721 0,52% 581 635 1.216 0,65% 584 634 1.218 0,52% 406 466 872 0,65% 399 462 861 0,17% 819 805 1.624 0,65% 827 810 1.637 0,68% 874 845 1.719 0,65% 894 856 1.750 0,93% 745 784 1.529 0,65% 745 788 1.533 0,55% 611 663 1.274 0,65% 621 675 1.296 0,91% 732 716 1.448 0,65% 737 719 1.456 0,62% 444 430 874 0,65% 452 438 890 0,94% 654 725 1.379 0,65% 664 733 1.397 0,81% 3.172 3.307 6.479 0,64% 3.199 3.328 6.527 0,66% 580 607 1.187 0,64% 581 611 1.192 0,58% 432 402 834 0,64% 440 403 843 0,75% 554 594 1.148 0,64% 559 597 1.156 0,65%

KELUA Halangan 431 454 884 430 453 883-0,16% 408 443 851 Sei Rukam I 380 400 780 379 399 779-0,16% 360 391 751 Sei Rukam II 291 307 598 291 306 597-0,16% 276 299 575 Jirak 480 506 986 479 505 984-0,16% 455 494 950 10.094 10.512 20.606 10.204 10.585 20.789 0,89% 10.511 10.896 21.407 Telaga Itar 608 633 1.240 614 637 1.251 0,89% 633 656 1.289 Pudak Setegal 961 1.001 1.962 971 1.008 1.979 0,89% 1.001 1.037 2.038 Bahungin 845 880 1.725 854 886 1.740 0,89% 880 912 1.792 Takulat 687 715 1.401 694 720 1.414 0,89% 715 741 1.456 Kel. Pulau 1.145 1.193 2.338 1.158 1.201 2.358 0,89% 1.192 1.236 2.428 Masintan 930 969 1.899 940 975 1.916 0,89% 968 1.004 1.972 Paliat 830 864 1.694 839 870 1.709 0,89% 864 896 1.760 Sungai Buluh 758 789 1.547 766 795 1.561 0,89% 789 818 1.607 Binturu 833 868 1.701 842 874 1.716 0,89% 868 900 1.767 Karangan Putih 942 981 1.923 952 988 1.940 0,89% 981 1.017 1.998 Pasar Panas 590 614 1.204 596 618 1.215 0,89% 614 637 1.251 Ampukung 966 1.006 1.972 977 1.013 1.990 0,89% 1.006 1.043 2.049 MUARA HARUS 2.819 3.000 5.819 2.906 2.992 5.898 1,35% 2.706 2.879 5.584 TANTA Madang 304 323 627 313 322 636 1,35% 292 310 602 Padangin 311 331 642 321 330 651 1,35% 298 318 616 Harus 246 262 508 254 261 515 1,35% 236 251 487 Tantaringin 560 596 1.156 577 594 1.171 1,35% 537 572 1.109 Manduin 333 354 686 343 353 696 1,35% 319 340 659 Mantuil 445 473 918 458 472 930 1,35% 427 454 881 Murung Karangan 621 661 1.282 640 659 1.299 1,35% 596 634 1.230 7.065 7.503 14.568 7.678 7.732 15.410 5,78% 8.471 7.807 16.278-1,86% -1,86% -1,86% -1,86% 1,93% 1,93% 1,93% 1,93% 1,93% 1,93% 1,93% 1,93% 1,93% 1,93% 1,93% 1,93% 1,93% -2,04% -2,04% -2,04% -2,04% -2,04% -2,04% -2,04% -2,04% 5,71% 452 449 901 0,64% 461 455 916 0,89% 394 401 795 0,64% 401 408 809 0,92% 284 325 609 0,64% 282 326 608 0,43% 476 529 1.005 0,64% 475 528 1.003 0,43% 11.211 11.417 22.628 3,17% 11.438 11.619 23.057 2,85% 655 707 1.362 3,17% 661 714 1.375 2,61% 1.055 1.099 2.154 3,17% 1.081 1.119 2.200 2,91% 954 940 1.894 3,17% 974 957 1.931 2,86% 761 778 1.539 3,17% 773 786 1.559 2,70% 1.296 1.271 2.567 3,17% 1.322 1.291 2.613 2,82% 971 1.114 2.085 3,17% 977 1.121 2.098 2,53% 920 940 1.860 3,17% 944 960 1.904 2,97% 883 816 1.699 3,17% 899 823 1.722 2,71% 957 911 1.868 3,17% 984 938 1.922 3,10% 1.049 1.063 2.112 3,17% 1.088 1.108 2.196 3,37% 671 651 1.322 3,17% 695 674 1.369 3,27% 1.039 1.127 2.166 3,17% 1.040 1.128 2.168 2,39% 2.904 2.997 5.901 0,47% 2.937 3.021 5.958 0,59% 323 313 636 0,47% 324 310 634 0,27% 315 336 651 0,47% 314 333 647 0,19% 243 272 515 0,47% 246 273 519 0,54% 566 606 1.172 0,47% 573 617 1.190 0,73% 345 351 696 0,47% 349 352 701 0,53% 470 461 931 0,47% 487 477 964 1,23% 642 658 1.300 0,47% 644 659 1.303 0,41% 8.774 8.430 17.204 5,70% 9.051 8.635 17.686 4,97%

Walangkir 384 408 792 417 420 837 5,78% 460 424 885 5,71% 479 456 935 5,70% 488 460 948 4,61% Pulau Ku u 480 510 990 522 525 1.047 5,78% 576 530 1.106 5,71% 584 585 1.169 5,70% 601 604 1.205 5,04% Tamiyang 215 229 444 234 236 469 5,78% 258 238 496 5,71% 247 277 524 5,70% 251 283 534 4,74% Warukin 809 859 1.668 879 885 1.765 5,78% 970 894 1.864 Padang Panjang 1.035 1.099 2.135 1.125 1.133 2.258 5,78% 1.241 1.144 2.385 5,71% 5,71% 995 975 1.970 5,70% 1.051 1.027 2.078 5,65% 1.429 1.092 2.521 5,70% 1.539 1.155 2.694 5,99% Barimbun 549 583 1.132 597 601 1.198 5,78% 658 607 1.265 5,71% 664 673 1.337 5,70% 665 676 1.341 4,32% Padangin 402 427 830 437 440 878 5,78% 483 445 927 5,71% 495 485 980 5,70% 502 490 992 4,56% Luk Bayur 449 477 926 488 491 979 5,78% 538 496 1.034 5,71% 545 548 1.093 5,70% 555 556 1.111 4,67% Mangkusip 646 686 1.333 702 707 1.410 5,78% 775 714 1.489 5,71% 766 808 1.574 5,70% 776 816 1.592 4,54% Tanta 585 621 1.206 636 640 1.276 5,78% 701 646 1.347 5,71% 708 716 1.424 5,70% 723 726 1.449 4,70% Tanta Hulu 487 517 1.004 529 533 1.062 5,78% 584 538 1.122 5,71% 618 568 1.186 5,70% 643 587 1.230 5,20% Puain Kanan 378 401 779 411 413 824 5,78% 453 417 870 Pamarangan Kanan 361 384 745 393 395 788 5,78% 433 399 833 5,71% 5,71% 451 469 920 5,70% 456 472 928 4,47% 449 431 880 5,70% 455 435 890 4,54% Murung Baru 284 301 585 308 311 619 5,78% 340 314 654 5,71% 344 347 691 5,70% 346 348 694 4,36% TANJUNG 14.164 14.163 28.327 14.897 14.589 29.486 4,09% 15.713 15.001 30.714 4,13% 16.406 16.034 32.440 4,62% 16.839 16.398 33.237 4,08% Banyu Tajun 613 613 1.227 645 632 1.277 4,09% 681 650 1.330 Sungai Pimping 726 726 1.451 763 747 1.511 4,09% 805 769 1.574 Pamarangan Kiwa 806 806 1.611 847 830 1.677 4,09% 894 853 1.747 4,13% 4,13% 4,13% 678 727 1.405 4,62% 696 742 1.438 4,05% 812 850 1.662 4,62% 839 872 1.711 4,20% 906 939 1.845 4,62% 916 949 1.865 3,73% Puain Kiwa 423 423 846 445 436 881 4,09% 469 448 917 Kel. Jangkung 1.506 1.506 3.013 1.584 1.552 3.136 4,09% 1.671 1.595 3.266 4,13% 4,13% 508 461 969 4,62% 520 467 987 3,92% 1.757 1.693 3.450 4,62% 1.816 1.737 3.553 4,21% Kel. Tanjung 2.743 2.743 5.486 2.885 2.825 5.710 4,09% 3.043 2.905 5.948 4,13% 3.197 3.085 6.282 4,62% 3.260 3.137 6.397 3,92% Kel. Agung 1.162 1.162 2.324 1.222 1.197 2.419 4,09% 1.289 1.230 2.519 4,13% 1.312 1.349 2.661 4,62% 1.357 1.391 2.748 4,28% Kambitin 641 640 1.281 674 660 1.333 4,09% 711 678 1.389 4,13% 740 727 1.467 4,62% 767 754 1.521 4,39% Kel. Hikun 1.456 1.456 2.911 1.531 1.499 3.030 4,09% 1.615 1.542 3.157 Kambitin Raya 933 933 1.866 981 961 1.942 4,09% 1.035 988 2.023 4,13% 4,13% 1.727 1.607 3.334 4,62% 1.767 1.640 3.407 4,01% 1.154 983 2.137 4,62% 1.195 1.015 2.210 4,32% Wayau 1.267 1.267 2.534 1.333 1.305 2.638 4,09% 1.406 1.342 2.748 4,13% 1.454 1.448 2.902 4,62% 1.493 1.486 2.979 4,13%

Juai 518 518 1.036 545 533 1.078 4,09% 574 548 1.123 Garunggung 597 597 1.194 628 615 1.243 4,09% 662 632 1.294 Kitang 541 541 1.083 569 558 1.127 4,09% 601 573 1.174 Mahe Seberang 233 233 465 245 240 484 4,09% 258 246 505 MURUNG PUDAK 16.339 15.786 32.125 16.339 15.786 32.125 0,00% 23.820 18.456 42.276 HARUAI Sulingan 1.485 1.435 2.919 1.485 1.435 2.919 0,00% 2.165 1.677 3.842 Kel. Pembataan 2.725 2.633 5.359 2.725 2.633 5.358 0,00% 3.973 3.078 7.052 Kel. Mabu un 3.248 3.138 6.387 3.248 3.138 6.386 0,00% 4.736 3.669 8.405 Maburai 1.049 1.013 2.062 1.049 1.013 2.062 0,00% 1.529 1.185 2.714 Kel. Belimbing Raya 2.785 2.691 5.476 2.785 2.691 5.476 0,00% 4.061 3.146 7.207 Kel. Belimbing 1.766 1.706 3.471 1.766 1.706 3.471 0,00% 2.574 1.994 4.568 Kapar 1.432 1.384 2.816 1.432 1.384 2.816 0,00% 2.088 1.618 3.706 Masukau 481 465 946 481 465 946 0,00% 701 543 1.245 Kasiau 1.158 1.119 2.277 1.158 1.119 2.277 0,00% 1.688 1.308 2.996 Kasiau Raya 210 202 412 210 202 412 0,00% 305 237 542 9.791 9.685 19.476 10.102 10.032 20.134 3,38% 9.866 9.452 19.318 Lok Batu 461 456 917 476 472 948 3,38% 464 445 909 Kembang Kuning 582 576 1.158 601 597 1.197 3,38% 587 562 1.149 Seradang 611 604 1.215 630 626 1.256 3,38% 616 590 1.205 Halong 740 732 1.471 763 758 1.521 3,38% 745 714 1.459 Suput 861 852 1.713 889 883 1.771 3,38% 868 832 1.699 Catur Karya 285 282 567 294 292 586 3,38% 287 275 562 Mahe Pasar 586 579 1.165 604 600 1.204 3,38% 590 565 1.155 Suriyan 327 324 651 337 335 673 3,38% 330 316 645 Hayup 1.347 1.333 2.680 1.390 1.380 2.770 3,38% 1.357 1.301 2.658 Bongkang 1.035 1.024 2.060 1.068 1.061 2.129 3,38% 1.043 1.000 2.043 4,13% 4,13% 4,13% 4,13% 14,72% 14,72% 14,72% 14,72% 14,72% 14,72% 14,72% 14,72% 14,72% 14,72% 14,72% -0,41% -0,41% -0,41% -0,41% -0,41% -0,41% -0,41% -0,41% -0,41% -0,41% -0,41% 588 598 1.186 4,62% 597 607 1.204 3,84% 660 707 1.367 4,62% 680 729 1.409 4,23% 635 605 1.240 4,62% 654 617 1.271 4,09% 278 255 533 4,62% 282 255 537 3,64% 23.677 21.011 44.688 11,63% 25.217 22.153 47.370 10,20% 2.095 1.966 4.061 11,63% 2.138 1.991 4.129 9,05% 3.972 3.482 7.454 11,63% 4.336 3.801 8.137 11,01% 4.858 4.026 8.884 11,63% 5.496 4.507 10.003 11,87% 1.790 1.079 2.869 11,63% 2.016 1.152 3.168 11,33% 3.963 3.655 7.618 11,63% 4.121 3.784 7.905 9,61% 2.486 2.343 4.829 11,63% 2.454 2.313 4.767 8,25% 1.919 1.998 3.917 11,63% 1.937 2.026 3.963 8,92% 635 681 1.316 11,63% 640 688 1.328 8,85% 1.683 1.484 3.167 11,63% 1.775 1.559 3.334 10,01% 276 297 573 11,63% 304 332 636 11,47% 10.316 10.100 20.416 1,58% 10.479 10.231 20.710 1,55% 480 481 961 1,58% 482 482 964 1,26% 650 564 1.214 1,58% 671 574 1.245 1,83% 658 616 1.274 1,58% 677 634 1.311 1,91% 748 794 1.542 1,58% 754 795 1.549 1,30% 885 911 1.796 1,58% 892 922 1.814 1,44% 309 285 594 1,58% 320 295 615 2,07% 589 632 1.221 1,58% 602 645 1.247 1,72% 347 335 682 1,58% 356 342 698 1,77% 1.448 1.361 2.809 1,58% 1.458 1.371 2.829 1,36% 1.056 1.103 2.159 1,58% 1.082 1.130 2.212 1,80%

Wirang 945 935 1.880 975 969 1.944 3,38% 952 913 1.865 Nawin 809 800 1.609 835 829 1.664 3,38% 815 781 1.596 Marindi 1.202 1.189 2.391 1.240 1.231 2.471 3,38% 1.211 1.160 2.371 BINTANG ARA 3.853 3.648 7.501 3.878 3.725 7.603 1,36% 3.991 3.517 7.508 UPAU Waling 436 413 849 439 422 860 1,36% 452 398 850 Usih 640 605 1.245 644 618 1.262 1,36% 662 584 1.246 Bintang Ara 661 626 1.287 665 639 1.304 1,36% 685 603 1.288 Argo Mulyo 306 290 596 308 296 604 1,36% 317 279 596 Burum 361 342 702 363 349 712 1,36% 374 329 703 Panaan 650 616 1.266 654 629 1.283 1,36% 674 593 1.267 Hegar Manah 211 200 411 213 204 417 1,36% 219 193 412 Dambung Raya 375 355 731 378 363 741 1,36% 389 343 731 Bumi Makmur 213 202 415 215 206 421 1,36% 221 195 415 3.117 3.150 6.267 3.232 3.306 6.538 4,32% 3.336 3.324 6.660 Masingai II 574 580 1.154 595 609 1.204 4,32% 614 612 1.226 Masingai I 580 586 1.165 601 615 1.216 4,32% 620 618 1.238 Bilas 637 644 1.282 661 676 1.337 4,32% 682 680 1.362 Kaong 398 402 800 412 422 834 4,32% 426 424 850 Pangelak 620 626 1.246 643 657 1.300 4,32% 663 661 1.324 Kinarum 309 312 621 320 328 648 4,32% 330 329 660 MUARA UYA 9.917 9.760 19.677 9.987 9.784 19.771 0,48% 10.689 9.829 20.518 Ribang 780 767 1.547 785 769 1.554 0,48% 840 773 1.613 Kupang Nunding 525 517 1.042 529 518 1.046 0,48% 566 520 1.086 Mangkupum 904 890 1.794 910 892 1.802 0,48% 974 896 1.870 Kampung Baru 476 468 944 479 469 948 0,48% 513 471 984 Palapi 622 612 1.234 626 613 1.240 0,48% 670 616 1.287-0,41% -0,41% -0,41% 0,04% 0,04% 0,04% 0,04% 0,04% 0,04% 0,04% 0,04% 0,04% 0,04% 3,08% 3,08% 3,08% 3,08% 3,08% 3,08% 3,08% 2,11% 2,11% 2,11% 2,11% 2,11% 2,11% 1.011 960 1.971 1,58% 1.018 967 1.985 1,36% 855 832 1.687 1,58% 872 840 1.712 1,56% 1.280 1.226 2.506 1,58% 1.295 1.234 2.529 1,42% 4.089 3.846 7.935 1,89% 4.105 3.853 7.958 1,49% 447 451 898 1,89% 453 454 907 1,67% 664 653 1.317 1,89% 679 662 1.341 1,87% 692 669 1.361 1,89% 689 667 1.356 1,32% 332 298 630 1,89% 338 304 642 1,89% 380 363 743 1,89% 384 366 750 1,65% 687 652 1.339 1,89% 713 672 1.385 2,28% 241 194 435 1,89% 221 176 397-0,88% 412 361 773 1,89% 398 349 747 0,55% 234 205 439 1,89% 230 203 433 1,07% 3.526 3.520 7.046 3,98% 3.605 3.600 7.205 3,55% 640 657 1.297 3,98% 658 676 1.334 3,70% 654 656 1.310 3,98% 675 674 1.349 3,73% 713 728 1.441 3,98% 729 744 1.473 3,54% 455 444 899 3,98% 464 452 916 3,45% 707 694 1.401 3,98% 720 711 1.431 3,52% 357 341 698 3,98% 359 343 702 3,12% 11.067 10.622 21.689 3,30% 11.272 10.781 22.053 2,89% 863 842 1.705 3,30% 871 850 1.721 2,70% 562 586 1.148 3,30% 579 601 1.180 3,17% 990 987 1.977 3,30% 1.006 997 2.003 2,80% 532 508 1.040 3,30% 542 520 1.062 3,00% 700 660 1.360 3,30% 708 663 1.371 2,67%

Pasar Batu 518 510 1.028 522 511 1.033 0,48% 558 513 1.072 Simpung Layung 816 803 1.619 821 805 1.626 0,48% 879 808 1.688 2,11% 2,11% 579 554 1.133 3,30% 581 558 1.139 2,60% 941 843 1.784 3,30% 971 865 1.836 3,20% Uwie 943 928 1.871 949 930 1.880 0,48% 1.016 934 1.951 2,11% 1.058 1.004 2.062 3,30% 1.073 1.021 2.094 2,86% Muara Uya 1.405 1.382 2.787 1.415 1.386 2.800 0,48% 1.514 1.392 2.906 2,11% 1.562 1.510 3.072 3,30% 1.603 1.541 3.144 3,06% Lumbang 1.398 1.376 2.773 1.408 1.379 2.787 0,48% 1.507 1.385 2.892 2,11% 1.565 1.492 3.057 3,30% 1.608 1.524 3.132 3,09% Santu un 550 541 1.090 553 542 1.096 0,48% 592 545 1.137 2,11% 620 582 1.202 3,30% 633 589 1.222 2,89% Binjai 492 484 975 495 485 980 0,48% 530 487 1.017 2,11% 547 528 1.075 3,30% 557 531 1.088 2,77% Salikung 378 372 749 380 373 753 0,48% 407 374 781 Sungai Kumap 113 112 225 114 112 226 0,48% 122 112 235 2,11% 2,11% 411 415 826 3,30% 409 414 823 2,37% 137 111 248 3,30% 131 107 238 1,41% JARO 6.390 6.233 12.623 6.429 6.235 12.664 0,32% 6.895 6.528 13.423 3,12% 7.194 7.003 14.197 3,99% 7.358 7.154 14.512 3,55% Namun 643 627 1.270 647 627 1.274 0,32% 694 657 1.350 3,12% 702 726 1.428 3,99% 725 751 1.476 3,84% Muang 572 558 1.130 576 558 1.134 0,32% 617 584 1.202 3,12% 647 624 1.271 3,99% 659 630 1.289 3,34% Teratau 672 656 1.328 676 656 1.332 0,32% 725 687 1.412 3,12% 762 731 1.493 3,99% 779 744 1.523 3,49% Purui 222 217 439 224 217 441 0,32% 240 227 467 3,12% 248 246 494 3,99% 251 247 498 3,19% Nalui 803 784 1.587 808 784 1.592 0,32% 867 821 1.688 3,12% 883 902 1.785 3,99% 908 931 1.839 3,75% Jaro 1.412 1.377 2.789 1.421 1.378 2.798 0,32% 1.524 1.443 2.966 3,12% 1.627 1.510 3.137 3,99% 1.642 1.523 3.165 3,21% Garagata 701 684 1.385 706 684 1.390 0,32% 757 716 1.473 3,12% 793 765 1.558 3,99% 812 785 1.597 3,62% Solan 938 915 1.853 944 915 1.859 0,32% 1.012 958 1.970 3,12% 1.045 1.039 2.084 3,99% 1.067 1.060 2.127 3,51% Lano 426 416 842 429 416 845 0,32% 460 435 895 3,12% 487 460 947 3,99% 515 483 998 4,34%

Nama Kecamatan Banua Lawas Tabel 2.15 Tingkat Pertumbuhan Penduduk dan Kepadatan Saat Ini dan Proyeksinya Selama 5 tahun Jumlah Penduduk Jumlah KK Tingkat Pertumbuhan 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2011 2012 2013 2014 2015 2016 18.113 18.230 18.347 18.466 18.585 18.705 4.528 4.557 4.587 4.616 4.646 4.676 Pugaan 6.527 6.570 6.614 6.657 6.701 6.746 1.632 1.643 1.653 1.664 1.675 1.686 Kelua 23.057 23.714 24.390 25.085 25.800 26.535 5.764 5.929 6.097 6.271 6.450 6.634 Muara Harus 5.958 5.993 6.029 6.064 6.100 6.136 1.490 1.498 1.507 1.516 1.525 1.534 Tanta 17.686 18.565 19.487 20.455 21.472 22.539 4.422 4.641 4.872 5.114 5.368 5.635 Tanjung 33.237 34.592 36.002 37.470 38.997 40.587 8.309 8.648 9.001 9.367 9.749 10.147 Murung Pudak 47.370 52.200 57.522 63.386 69.849 76.970 11.843 13.050 14.380 15.847 17.462 19.243 Haruai 20.710 21.031 21.356 21.686 22.022 22.363 5.178 5.258 5.339 5.422 5.506 5.591 Bintang Ara 7.958 8.076 8.197 8.319 8.443 8.568 1.990 2.019 2.049 2.080 2.111 2.142 Upau 7.205 7.461 7.725 7.999 8.283 8.577 1.801 1.865 1.931 2.000 2.071 2.144 Muara Uya 22.053 22.691 23.347 24.021 24.716 25.430 5.513 5.673 5.837 6.005 6.179 6.358 Jaro 14.512 15.027 15.560 16.112 16.683 17.275 3.628 3.757 3.890 4.028 4.171 4.319 Jumlah 224.386 233.607 243.207 253.201 263.606 274.439 56.097 58.402 60.802 63.300 65.902 68.610 Sumber : Data BPS

NO. 2.1.3 Kemiskinan Berdasarkan data hasil olahan Pemerintah Kabupaten Tabalong ada kecenderungan penurunan jumlah rumah tangga miskin, pada tahun 2005 terdapat 11.348 rumah tangga miskin (23,99%), tahun 2008 sebanyak 7.067 rumah tangga miskin (13,79%) dan tahun 2010 terdapat 6.239 rumah tangga miskin (10,71%). Data penduduk miskin perkecamatan sebagaimana tabel 2.16. KECAMATAN Tabel 2.16 Jumlah penduduk miskin per Kecamatan KELURAHAN / DESA Angka Kemiskinan (%) Angka Kepadatan ( Org/ Km²) Konversi Jiwa / Ha 1 BANUA LAWAS Hapalah 49 67,14 0,6714 2 BANUA LAWAS Batang Banyu 80 200,03 2,0003 3 BANUA LAWAS Sungai Durian 70 202,29 2,0229 4 BANUA LAWAS Pematang 43 147,82 1,4782 5 BANUA LAWAS Hariang 26 271,14 2,7114 6 BANUA LAWAS Bungin 52 283,38 2,8338 7 BANUA LAWAS Bangkiling 72 78,77 0,7877 8 BANUA LAWAS Bangkiling Raya 96 82,51 0,8251 9 BANUA LAWAS Banua Lawas 54 449,47 4,4947 10 BANUA LAWAS Habau 56 62,99 0,6299 11 BANUA LAWAS Banua Rantau 32 156,87 1,5687 12 BANUA LAWAS Habau Hulu 26 63,24 0,6324 13 BANUA LAWAS Purai 39 169,11 1,6911 14 BANUA LAWAS Talan 33 51,05 0,5105 15 BANUA LAWAS Sungai Anyar 64 439,09 4,3909 NO. KECAMATAN KELURAHAN / DESA Angka Kemiskinan (%) Angka Kepadatan ( Org/ Km²) Konversi Jiwa / Ha 1 PUGAAN Pampanan 89 54 0,54 2 PUGAAN Tamunti 89 59 0,59 3 PUGAAN Pugaan 46 245 2,45 4 PUGAAN Halangan 56 128 1,28 5 PUGAAN Sei Rukam I 51 564 5,64 6 PUGAAN Sei Rukam II 62 74 0,74 7 PUGAAN Jirak 99 374 3,74

NO. KECAMATAN KELURAHAN / DESA Angka Kemiskinan (%) Angka Kepadatan ( Org/ Km²) Konversi Jiwa / Ha 1 KELUA Telaga Itar 49 419 4,19 2 KELUA Pudak Setegal 33 278 2,78 3 KELUA Bahungin 24 247 2,47 4 KELUA Takulat 21 426 4,26 5 KELUA Kel. Pulau 17 1047 10,47 6 KELUA Masintan 42 127 1,27 7 KELUA Paliat 34 1002 10,02 8 KELUA Sungai Buluh 24 165 1,65 9 KELUA Binturu 55 113 1,13 10 KELUA Karangan Putih 31 216 2,16 11 KELUA Pasar Panas 31 251 2,51 12 KELUA Ampukung 37 95 0,95 NO. KECAMATAN KELURAHAN / DESA Angka Kemiskinan (%) Angka Kepadatan ( Org/ Km²) Konversi Jiwa / Ha 1 MUARA HARUS Madang 26 55 0,55 2 MUARA HARUS Padangin 44 73 0,73 3 MUARA HARUS Harus 52 78 0,78 4 MUARA HARUS Tantaringin 45 124 1,24 5 MUARA HARUS Manduin 26 99 0,99 6 MUARA HARUS Mantuil 36 500 5 7 MUARA HARUS Murung Karangan 44 104 1,04 NO. KECAMATAN KELURAHAN / DESA Angka Kemiskinan (%) Angka Kepadatan ( Org/ Km²) Konversi Jiwa / Ha 1 TANTA Walangkir 27 83 0,83 2 TANTA Pulau Ku u 36 204 2,04 3 TANTA Tamiyang 41 106 1,06 4 TANTA Warukin 18 115 1,15 5 TANTA Padang Panjang 23 111 1,11 6 TANTA Barimbun 29 109 1,09 7 TANTA Padangin 15 197 1,97 8 TANTA Luk Bayur 29 149 1,49 9 TANTA Mangkusip 23 107 1,07

10 TANTA Tanta 25 128 1,28 11 TANTA Tanta Hulu 16 144 1,44 12 TANTA Puain Kanan 20 58 0,58 Pamarangan 13 TANTA Kanan 33 72 0,72 14 TANTA Murung Baru 41 165 1,65 NO. KECAMATAN KELURAHAN / DESA Angka Kemiskinan (%) Angka Kepadatan ( Org/ Km²) Konversi Jiwa / Ha 1 TANJUNG Banyu Tajun 33 98 0,98 2 TANJUNG Sungai Pimping 39 69 0,69 3 TANJUNG Pamarangan Kiwa 39 62 0,62 4 TANJUNG Puain Kiwa 31 45 0,45 5 TANJUNG Kel. Jangkung 16 137 1,37 6 TANJUNG Kel. Tanjung 9 1583 15,83 7 TANJUNG Kel. Agung 12 384 3,84 8 TANJUNG Kambitin 23 344 3,44 9 TANJUNG Kel. Hikun 15 57 0,57 10 TANJUNG Kambitin Raya 17 131 1,31 11 TANJUNG Wayau 20 66 0,66 12 TANJUNG Juai 19 59 0,59 13 TANJUNG Garunggung 24 59 0,59 14 TANJUNG Kitang 26 42 0,42 15 TANJUNG Mahe Seberang 21 137 1,37 NO. KECAMATAN KELURAHAN / DESA Angka Kemiskinan (%) Angka Kepadatan ( Org/ Km²) Konversi Jiwa / Ha 1 MURUNG PUDAK Sulingan 7 387 3,87 2 MURUNG PUDAK Kel. Pembataan 6 1396 13,96 3 MURUNG PUDAK Kel. Mabu un 5 2417 24,17 4 MURUNG PUDAK Maburai 4 284 2,84 Kel. Belimbing 5 MURUNG PUDAK Raya 7 813 8,13 6 MURUNG PUDAK Kel. Belimbing 6 1194 11,94 7 MURUNG PUDAK Kapar 18 315 3,15 8 MURUNG PUDAK Masukau 19 57 0,57 9 MURUNG PUDAK Kasiau 13 157 1,57 10 MURUNG PUDAK Kasiau Raya 22 56 0,56

NO. KECAMATAN KELURAHAN / DESA Angka Kemiskinan (%) Angka Kepadatan ( Org/ Km²) Konversi Jiwa / Ha 1 HARUAI Lok Batu 38 12 0,12 2 HARUAI Kembang Kuning 10 53 0,53 3 HARUAI Seradang 25 70 0,7 4 HARUAI Halong 12 72 0,72 5 HARUAI Suput 16 50 0,5 6 HARUAI Catur Karya 21 63 0,63 7 HARUAI Mahe Pasar 25 43 0,43 8 HARUAI Suriyan 16 73 0,73 9 HARUAI Hayup 14 39 0,39 10 HARUAI Bongkang 20 42 0,42 11 HARUAI Wirang 34 84 0,84 12 HARUAI Nawin 42 43 0,43 13 HARUAI Marindi 23 89 0,89 NO. KECAMATAN KELURAHAN / DESA Angka Kemiskinan (%) Angka Kepadatan ( Org/ Km²) Konversi Jiwa / Ha 1 BINTANG ARA Waling 26 34 0,34 2 BINTANG ARA Usih 24 50 0,5 3 BINTANG ARA Bintang Ara 27 37 0,37 4 BINTANG ARA Argo Mulyo 20 53 0,53 5 BINTANG ARA Burum 10 26 0,26 6 BINTANG ARA Panaan 26 12 0,12 7 BINTANG ARA Hegar Manah 94 10 0,1 8 BINTANG ARA Dambung Raya 53 11 0,11 9 BINTANG ARA Bumi Makmur 51 38 0,38 NO. KECAMATAN KELURAHAN / DESA Angka Kemiskinan (%) Angka Kepadatan ( Org/ Km²) Konversi Jiwa / Ha 1 UPAU Masingai II 21 76 0,76 2 UPAU Masingai I 32 77 0,77 3 UPAU Bilas 25 45 0,45 4 UPAU Kaong 16 8 0,08 5 UPAU Pangelak 19 28 0,28 6 UPAU Kinarum 9 8 0,08

NO. KECAMATAN KELURAHAN / DESA Angka Kemiskinan (%) Angka Kepadatan ( Org/ Km²) Konversi Jiwa / Ha 1 MUARA UYA Ribang 24 92 0,92 2 MUARA UYA Kupang Nunding 30 60 0,6 3 MUARA UYA Mangkupum 17 20 0,2 4 MUARA UYA Kampung Baru 24 20 0,2 5 MUARA UYA Palapi 29 84 0,84 6 MUARA UYA Pasar Batu 27 48 0,48 7 MUARA UYA Simpung Layung 48 504 5,04 8 MUARA UYA Uwie 48 16 0,16 9 MUARA UYA Muara Uya 18 569 5,69 10 MUARA UYA Lumbang 28 365 3,65 11 MUARA UYA Santu un 33 8 0,08 12 MUARA UYA Binjai 33 6 0,06 13 MUARA UYA Salikung 24 6 0,06 14 MUARA UYA Sungai Kumap 38 7 0,07 NO. KECAMATAN KELURAHAN / DESA Angka Kemiskinan (%) Angka Kepadatan ( Org/ Km²) Konversi Jiwa / Ha 1 JARO Namun 34 8,42 0,0842 2 JARO Muang 21 7,37 0,0737 3 JARO Teratau 71 271,5 2,715 4 JARO Purui 9 35,9 0,359 5 JARO Nalui 29 17,86 0,1786 6 JARO Jaro 23 23,6 0,236 7 JARO Garagata 19 12,97 0,1297 8 JARO Solan 15 142,12 1,4212 9 JARO Lano 30 43,04 0,4304 Sumber : Bappeda (Bid. Sosbud) Tahun 2016

2.1.4 Tata Ruang Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara termasuk di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan dan memeliharan kelangsungan hidupnya. Sementara itu ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang. Tujuan penataan ruang wilayah kabupaten adalah mewujudkan pemanfaatan struktur dan pola ruang wilayah kabupaten yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan dengan memprioritaskan pengembangan agribisnis berbasis sumber daya lokal, industri dan usaha pertambangan yang memperhatikan kelestarian sumber daya alam, daya dukung serta daya tampung lingkungan. 1. Rencana Struktur Ruang Sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Tabalong Nomor 19 tahun 2014 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tabalong Tahun 2014 2034 Strategi Penataan Ruang Strategi kebijakan peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi wilayah kabupaten yang mendukung kelancaran kegiatan sosial ekonomi dan pengembangan potensi daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a, meliputi : a. menjaga keterkaitan antar kawasan kecamatan, antara kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan, serta antara kawasan perkotaan dan wilayah di sekitarnya; b. mengembangkan infrastruktur PKL, PPK, dan PPL; c. menjaga keterkaitan antara PKL dengan PPK, dan PPL; d. mengembangkan pusat pertumbuhan baru di kawasan yang belum terlayani oleh pusat pertumbuhan yang ada; e. meningkatkan fasilitasi pengembangan jaringan telekomunikasi; f. meningkatkan jaringan energi untuk memanfaatkan energi terbarukan dan tak terbarukan secara optimal serta mewujudkan keterpaduan sistem penyediaan tenaga listrik; g. meningkatkan kualitas jaringan prasarana persampahan dan mewujudkan keterpaduan sistem jaringan persampahan; dan h. meningkatkan kualitas jaringan prasarana sanitasi dan mewujudkan keterpaduan sistem jaringan sanitasi. (2) Strategi kebijakan peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi yang mendukung pengembangan kawasan strategis kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf b, meliputi :

a. meningkatkan kualitas jaringan prasarana dan mewujudkan keterpaduan pelayanan transportasi darat dan udara; b. meningkatkan manajemen transportasi darat; dan c. mengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengembangan perekonomian kabupaten yang produktif, efisien, dan mampu bersaing dalam perekonomian regional dan nasional. (3) Strategi kebijakan perwujudan pengembangan kawasan strategis yang mendukung berkembangnya agribisnis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf c, meliputi: a. menciptakan iklim investasi yang kondusif; b. mengoptimalkan pengembangan perkebunan karet, peternakan sapi, pertanian tanaman pangan, perbenihan dan perbesaran ikan; c. mengintensifkan promosi peluang investasi; dan d. meningkatkan pelayanan prasarana dan sarana penunjang kegiatan agribisnis. (4) Strategi kebijakan pemantapan kawasan lindung yang ditujukan untuk menjamin keseimbangan dan keserasian lingkungan hidup serta kelestarian pemanfaatan potensi sumberdaya alam dan sumberdaya buatan sesuai prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf d, meliputi: a. melestarikan dan meningkatkan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup untuk mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem, melestarikan keanekaragaman hayati, mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan kawasan, dan melestarikan keunikan bentang alam; b. menetapkan kawasan berfungsi lindung dalam satu wilayah kabupaten yang disesuaikan dengan kondisi ekosistemnya; c. mengelola secara terpadu dan mengendalikan pelaksanaan pembangunan secara ketat; d. mengembalikan dan meningkatkan fungsi kawasan lindung yang telah menurun akibat pengembangan kegiatan budidaya, dalam rangka mewujudkan dan memelihara keseimbangan ekosistem wilayah; e. membatasi kegiatan budidaya baik yang sudah ada maupun yang baru dalam kawasan lindung; f. mengelola pemanfaatan sumber daya alam agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung kawasan; g. mengelola dampak negatif kegiatan budidaya agar tidak menurunkan kualitas lingkungan hidup dan efisiensi kawasan; h. membatasi kegiatan budidaya dalam kawasan cagar budaya, kecuali kegiatan yang berhubungan dengan fungsinya dan tidak mengubah bentang alam, kondisi penggunaan lahan, serta ekosistem alami yang ada; i. menyebarkan informasi kepada masyarakat mengenai batas-batas kawasan lindung dan budidaya, serta syarat-syarat pelaksanaan kegiatan budidaya yang terdapat di dalam kawasan lindung; dan j. memindahkan kegiatan penduduk yang mengganggu secara bertahap keluar kawasan lindung.

(5) Strategi kebijakan pemantapan dan penetapan kawasan pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf e, meliputi : a. memetakan wilayah pertambangan mineral logam dan non logam serta batubara; b. menetapkan wilayah pertambangan batuan; dan c. mengelelola dan memanfaatkan kawasan pertambangan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat dengan memperhatikan kelestarian sumberdaya alam, daya dukung dan daya tampung lingkungan serta penanganan pasca tambang. (6) Strategi kebijakan pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf f, meliputi : a. mewujudkan dan meningkatkan keterpaduan dan keterkaitan antar kegiatan budidaya; b. mengendalikan perkembangan kegiatan budidaya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan; c. menyelenggarakan upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup; d. melindungi kemampuan lingkungan hidup dari tekanan perubahan dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya; e. melindungi kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang dibuang ke dalamnya; f. mencegah terjadinya tindakan yang dapat secara langsung atau tidak langsung menimbulkan perubahan sifat fisik lingkungan; g. mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana untuk menjamin kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan; h. mengelola sumber daya alam tak terbarukan dan terbarukan untuk menjamin keberlanjutannya; i. mengembangkan kegiatan budidaya yang mempunyai daya adaptasi bencana di kawasan rawan bencana; dan j. menegakan hukum melalui upaya penerapan peraturan secara konsisten. (7) Strategi kebijakan pengembangan industri besar, sedang, kecil dan rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf g, meliputi : a. mewujudkan keterpaduan kawasan industri besar dan menengah dengan akses transportasi; b. mengembangkan industri berbasis sumberdaya lokal; c. mengembangkan industri yang ramah lingkungan; dan d. mengembangkan pasar industri kecil dan rumah tangga. (8) Strategi kebijakan pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf g, meliputi: a. menetapkan kawasan strategis kabupaten berfungsi lindung; b. mencegah pemanfaatan ruang di kawasan strategis kabupaten yang berpotensi mengurangi fungsi lindung kawasan;

c. membatasi pemanfaatan ruang di sekitar kawasan strategis kabupaten yang berpotensi mengurangi fungsi lindung kawasan; d. membatasi pengembangan prasarana dan sarana di dalam dan di sekitar kawasan strategis kabupaten yang dapat memicu perkembangan kegiatan budidaya; e. mengembangkan kegiatan budidaya tidak terbangun di sekitar kawasan strategis kabupaten yang berfungsi sebagai zona penyangga yang memisahkan kawasan lindung dengan kawasan budidaya terbangun; dan f. merehabilitasi fungsi lindung kawasan yang menurun akibat dampak pemanfaatan ruang yang berkembang di dalam dan di sekitar kawasan strategis kabupaten. (9) Strategi kebijakan peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf h, meliputi: a. mendukung penetapan kawasan strategis nasional dengan fungsi khusus pertahanan dan keamanan; b. mengembangkan kegiatan budidaya secara selektif di dalam dan sekitar kawasan pertahanan dan keamanan untuk menjaga fungsi dan peruntukannya; c. mengembangkan kawasan lindung dan/atau budidaya tidak terbangun di sekitar kawasan pertahanan sebagai zona penyangga yang memisahkan kawasan tersebut dengan kawasan budidaya terbangun; dan d. turut menjaga dan memelihara aset-aset pertahanan. RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH Rencana struktur ruang wilayah kabupaten, meliputi: a. pusat-pusat kegiatan; b. sistem jaringan prasarana utama; dan c. sistem jaringan prasarana lainnya. (1) Rencana struktur ruang wilayah kabupaten, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1 : 50.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran II dan merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Pusat-Pusat Kegiatan (1)Pusat-pusat kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf a, meliputi : a. PKL; b. PPK; dan c. PPL. (2) PKL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, yaitu perkotaan Tanjung sebagai ibukota kabupaten, yang meliputi sebagian kecamatan Tanjung melingkupi Kelurahan Jangkung, Tanjung, Agung serta Hikun dan sebagian Kecamatan Murung Pudak melingkupi Kelurahan Sulingan, Pembataan, Belimbing Raya, Belimbing, Desa Kapar, Kelurahan Mabuun serta Desa Maburai.

(3) PPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdiri atas: a. Kepubamua yaitu singkatan dari Kelua, Pugaan, Banua Lawas, Muara Harus dan Tanta, yang pelayanannya meliputi kecamatan Kelua, Pugaan, Banua Lawas dan Muara Harus yang dipusatkan di Kelurahan Pulau Kecamatan Kelua; dan b. Habar Jamu yaitu singkatan dari Haruai, Bintang Ara, Jaro, Muara Uya dan Upau, yang pelayanannya meliputi Kecamatan Haruai, Bintang Ara, Upau, Jaro dan Muara Uya yang dipusatkan di Desa Muara Uya Kecamatan Muara Uya. (4) PPL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, terdiri atas : a. Desa Banua Lawas di Kecamatan Banua Lawas b. Desa Tantaringin di Kecamatan Muara Harus; c. Desa Halangan di Kecamatan Pugaan; d. Desa Tanta di Kecamatan Tanta; e. Desa Pangelak di Kecamatan Upau; f. Desa Halong di Kecamatan Haruai g. Desa Usih di Kecamatan Bintang Ara; dan h. Desa Jaro di Kecamatan Jaro. Sistem Jaringan Prasarana Utama Sistem jaringan prasarana utama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf b, meliputi : a. sistem jaringan transportasi darat; b. sistem jaringan perkeretaapian; dan c. sistem jaringan transportasi udara. Sistem Jaringan Transportasi Darat (1) Sistem jaringan transportasi darat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf a, terdiri atas : a. jaringan jalan dan jembatan; b. jaringan prasarana lalu lintas; dan c. jaringan layanan lalu lintas. (2) Jaringan jalan dan jembatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) huruf a, meliputi: a. jaringan jalan arteri primer, terdiri atas : ruas jalan yang menghubung Desa Tabur (batas Kabupaten Tabalong) - Kelua; Kelua Batas Kota Tanjung; Jalan Antasari; Jalan A. Yani; Tanjung Mabuun; Mabuun Simp.4 Haruai; Jalan Putri Jaleha; Simp.4 Haruai Batu Babi;

b. jaringan jalan kolektor primer (K-1), terdiri atas : ruas jalan Pasar Panas (Batas Provinsi Kalimantan Tengah) Kelua; Dahai Mabuun; c. jaringan jalan kolektor primer (K-2) terdiri atas : ruas jalan Dahai - Tanjung; d. jaringan jalan kolektor primer (K-3) terdiri atas : ruas jalan Tanjung Muara Uya; e. jalan kolektor primer (K-4), terdiri atas : 1. ruas jalan di Kecamatan Murung Pudak, yaitu : ruas jalan Sp.3 Pembataan Sp.3 Belimbing; Pembataan Komperta; Kapar Hikun; Tanjung Selatan Limau Manis; Sp.3 Pembataan Sp.3 Fajar Baru (Bataman); Sp.3 Pembataan Komp. Stadion; Terminal Mabuun Sp. 3 Guru Danau; Bangun Sari Sp.4 Mabuun; Sp.3 Kasiau Marido; By pass Mabuun Guru Danau; 2. ruas jalan di Kecamatan Tanjung, yaitu : ruas jalan Kamboja Basuki Rahmat; Penghulu Rasyid Kamboja; Jaksa Agung Suprapto Basuki Rahmat; Cendrawasih Bangun Sari; Padang Lumbu Batas Kalteng; Jangkung Wikau; Sei. Pimping Luk Kulur; Kambitin II Pangi; Wikau Kambitin; 3. ruas jalan di Kecamatan Tanta, yaitu : ruas jalan Sp.3 Bayahin Pamarangan Raya; Sp.3 Bayahin Harus; Tanta Sp.3 Bayahin; 4. ruas jalan di Kecamatan Muara Harus, yaitu : ruas jalan Harus Masintan; Jembatan Baja Muara Harus Muara Harus; 5. ruas jalan di Kecamatan Pugaan, yaitu : ruas jalan Jembatan Baja Tamunti Pampanan; Sei Rukam II Sp.3 Tamunti; Sp.3 Tamunti Tamunti; 6. ruas jalan di Kecamatan Banua Lawas, yaitu : ruas jalan Sei. Anyar Kiri (I) Pasar Arba; Pasar Arba Sei. Durian; Sp.3 Sei. Durian Tabur; Banua Rantau Habau Hulu; 7. ruas jalan di Kecamatan Kelua, yaitu : ruas jalan Masintan Ampukung; Pasintik/Bahungin Purai; Luk Kulur Pasintik/Bahungin; Purai - Baco; Karangan Putih Habau Hulu; Sp.3 Baco Pasar Arba; 8. ruas jalan di Kecamatan Haruai, yaitu : ruas jalan Mahe Pujung; Sp.4 Wirang Kinarum; Kembang Kuning Nawin Hulu; Kembang Kuning Bilas; Haruai Sp.3 Hayup; Sp.3 Hayup Sp. 3 Danau Trans; Sp.4 Wirang Bongkang; Sp.3 Hayup Ribang; 9. ruas jalan di Kecamatan Bintang Ara, yaitu : ruas jalan Pujung Burum; Kuari Miho; Burum Sp.3 Miho; Sp.3 Kalingai Rungun; Rungun Missim; 10. ruas jalan di Kecamatan Upau, yaitu : ruas jalan Kinarum Upau; Upau Kaong; Temporejo Upau; Kaong Bilas; dan 11. ruas jalan di Kecamatan Muara Uya, yaitu : ruas jalan Muara Uya Bangkar; Lumbang Randu; Lumbang Teratau; Muara Uya Binjai; Simpung Layung Uwie; Ribang I Sp. 4 Ribang II; Simpung Layung Santuul Tohe; Kayu Bawang Kupang Nunding; Santuun Salikung; Binjai Salikung; Sp. 3 Kumap Kumap. f. jalan kolektor sekunder (K-5), terdiri atas : 1. ruas jalan di Kecamatan Murung Pudak, yaitu : ruas jalan Sulingan Tanjung Selatan; Koperum Peg.10 Rumah Jabatan Bupati; Sp.3 Gambah Sp.3 Belimbing; Kompl. Stadion Sp.3 Majumbi; Sp.3 Mabuun TPA Maburai; Sp.Tugu Mabuun Dalam Sp.3 Maburai Mabuun;

2. ruas jalan di Kecamatan Tanjung, yaitu : ruas jalan Puteri Zaleha Ujung Murung; Kenanga Dr. Murjani; Dr.Murjani Sp.3 Jaksa A. Suprapto; Cempaka Penghulu Rasyid; Mawar Penghulu Rasyid; Melati Penghulu Rasyid; Palang Merah Jend. Sudirman; Tepian Jend. Sudirman; Mujahidin Putri Zaleha; Gerilya Jend. Sudirman; Pelajar Belimbing; Pangkalan Garuda; Wikau Batas Kalteng; 3. ruas jalan di Kecamatan Tanta, yaitu : ruas jalan Murung Padangin Mungkur Palawan; 4. ruas jalan di Kecamatan Haruai, yaitu : ruas jalan Mahe Luar Mahe Dalam; Nawin Luar Nawin Dalam; Bongkang Luar Bongkang Dalam; Seradang Luar Seradang Dalam; Kambitin I Nawin Dalam; Suput Luar Suput Dalam; Suput Kambitin I; 5. ruas jalan di Kecamatan Muara Uya, yaitu : ruas jalan Santuul Tohe Danau; Lumbang Pasar Muara Uya; Bangkar Ayah; Mangkupum Pasar Batu; Mangkupum Kampung Baru; Ayah Kampung Baru; Simpung Layung Desa Objek; Palapi Luar Palapi Dalam; Mangkupum Jambu; Lingkar Pasar Muara Uya Terminal; dan 6. ruas jalan di Kecamatan Jaro, yaitu : ruas jalan Namun Santuun; Teratau Purui; g. jalan kolektor tersier kelas jalan III b terdiri atas : ruas jalan Upau Balangan Pasir; Kambitin Bentot (Kal-Teng); Wikau Pasar Panas (Kal-Teng); h. jalan lokal primer (L-4), terdiri atas : 1. ruas jalan di Kecamatan Murung Pudak, yaitu : ruas jalan Bangun Sari Gunung Sari; Masukau-Pasar Panas; Simp.4 Murung Pudak Masukau; Sei. Ulin Jaing Hulu; Kasiau Sei. Ulin; Kasiau Kitang; Kasiau Raya Kitang; Simp.3 Tanjung Selatan Barimbun; Simp.3 SMP 3 Tjg Sp.3 Barimbun; 2. ruas jalan di Kecamatan Tanta, yaitu : ruas jalan Kuranji Tanta; Sp.3 Puain Murung Baru; Bajud Lajar; Walangkir Duhat; Barimbun Sp.3 Mungkur Palawan; Sp.3 Murung Palawan Walangkir; Mangkusip Pamarangan; Pamaranan Kanan Mangkusip dalam; Tamiyang Batas jalan pertamina; Sp.3 Tamiyang Batas Kab. Balangan; Sp.3 Laburan Komp. Trans; Sp.3 Limau Manis Sp.3 Tanta; Pulau Ku u Unggang; 3. ruas jalan di Kecamatan Jaro, yaitu : ruas jalan Teratau Namun; Simp.4 Jaro Jaro Atas/Desa Nalui; Nalui Peweh; Namun Jaro Atas/Desa Nalui; Jaro Atas/Desa Nalui Dam Jaro; Sp.4 Jaro Liang Tapah; Liang Tapah Garagata; Teratau Muang Atas; Purui Tawi; Pupuh Tamperak; Solan Pupuh; Jaro Kampung Jawa; Sp.3 Purui Purui Dalam; Sp.3 Pasar Jaro Jaro; Tu u Solangai; Garagata Dam; Solan Tu u; 4. ruas jalan di Kecamatan Tanjung, yaitu : ruas jalan Agung Kutat; Mahe Seberang Kitang; Sp.3 Sei.Pimping Ja an; Tebing Siring Masukau; Kambitin Komp. Trans; Kambitin II Garunggung; Banyu Tajun Batas Kalteng; Sp.3 J.A Soeprapto Jangkung; Sidorejo Sp.3 Pangi Dalam; Sp.3 Kambitin Ktr.BBI Kambitin; Sp.3 Wikau Pulau Padang; Nusantara Sp.3 Jangkung; Kambitin II Tembus Wayau; Sp.3 Pamarangan Ja an; Ja an Wikau; 5. ruas jalan di Kecamatan Muara Harus, yaitu : ruas jalan Desa Madang - Jirak; Sp.3 Padangin Madang; Manduin Tantaringin; Tantaringin Sp.3 Padangin; Sp. Walangkir Sp. Madang; Sp.3 Harus Padangin;

6. ruas jalan di Kecamatan Pugaan, yaitu : ruas jalan Sp.3 Pampanan Kayu Getah; Jirak Sp.3 Tamunti; Liang Jirak; 7. ruas jalan di Kecamatan Banua Lawas, yaitu : ruas jalan Sei. Anyar Kiri (II) Pasar Arba; Pasar Arba Hapalah; Sp.3 Pematang Sei. Anyar; Simp.3 Sei Durian Batang Banyu; Sei. Gampa Habau Hilir; Batang Banyu Bangkiling; Bangkiling Seberang Sampang Sari; Hariang Pugaan; 8. ruas jalan di Kecamatan Kelua, yaitu : ruas jalan Purai Tembus Kelua Kota; Sp.3 Talan Batas Talan; Luk Kulur Murung Karangan; Sp.4 Binturu Karangan Putih; Pasar Minggu Binturu; Sp.4 Binturu Batas Kalteng; Kota Paris Pasar Kelua; Sei. Buluh Luk Kulur; Takulat Makam Syekh Nafis; Binturu Makam Syekh Nafis; Sp.3 Batas Kalteng Pasar Panas; 9. ruas jalan di Kecamatan Haruai, yaitu : ruas jalan Bongkang Tamporejo; Sp.3 Danau RT 07 Ribang II; Danau Rantau jari II; Sp.3 Kembg Kuning Dalam Sp.3 Kambitin I Dalam; Sp.3 Kinarum Kinarum; Nawin RT II RT III Mesjid YAMP; 10. ruas jalan di Kecamatan Bintang Ara, yaitu : ruas jalan Sp.3 Rantau Jari I Rantau Jari II; Pujung - Mantuyup; Mantuyup Kutam; Rantau jari II Argomulyo Dalam; Jabang Komp PIR Trans Surian; Simp.3 Pujung Bumi Makmur/Trans Rumbia; Usih Komp.PIR Argomulyo Luar; Km 54/Kalingai Sp.3 Kumap; Argomulyo Luar Argomulyo Dalam; Sp.3 Batung Badinding Rungun; Duyun Usih Dalam; Bina Desa Rungun Jembatan Sakuyah; 11. ruas jalan di Kecamatan Upau, yaitu : ruas jalan Masingai I Lok Batu; Sp.3 Kaong Buruk Balik; Sp.3 Lok Batu Lok Batu; Sp.3 Bilas Bilas; Sp.3 Masingai II Jaing Hulu; Sp.3 Bilas Masingai II; Upau Halong (Batas Paringin); dan 12. ruas jalan di Kecamatan Muara Uya, yaitu : ruas jalan Sp.3 Simpung Layung Trans PIR Simpung Layung; Ayah Randu; Binjai Nyali; Salikung Memban; Santuun Tamperak; Sp.3 Simpung Layung Tohe Dalam; Pasar Batu Tohe Kampung. i. jalan lokal sekunder, terdiri atas : 1. ruas jalan di Kecamatan Murung Pudak, yaitu : ruas jalan Tanjung Bunga Komp. Perkantoran; Jl. Tanjung Putri Kompl. Tanjung Putri; Sulingan/Jl. Suka Damai Ir. PHM Noor/Depot Ayu; Pembataan jl. Komp.Anggrek; Sp.3 Mabuun Komp. Swadharma; Sp.4 Sulingan Jl. Kasturi; Gg. Suka Maju Tanjung Selatan; Sp.3 Pembataan Perkantoran; Komp. Stadion Permata Indah; Terminal Regional Komp Pasar Mabuun; Jln Arjuna Pertamina; Panca Bhakti Pertamina; Jl. Anggrek 6 Komp. Perumahan Rakyat; Sp.3 Pembataan Flamboyan; Sp.SMEA Tanjung Selatan; dan 2. ruas jalan di Kecamatan Tanta, yaitu : ruas jalan Tanta Muka Ktr Camat Mangkusip. j. jalan strategis kabupaten, meliputi : rencana pembangunan dan peningkatan jalan lingkar dalam kabupaten (jalan lokal primer), meliputi : 1. ruas jalan Maburai Tanjung Selatan Tanta - Sulingan; Kambitin - Kapar Masukau Kasiau Raya Kasiau Cakung Tepian Timur Maburai; dan 2. ruas jalan Maburai Tanta Jangkung - Wikau Kapar Hulu Mabuun. k. jaringan jalan khusus angkutan komoditas sumberdaya mineral dan perkebunan, terdiri atas :

1. jalan angkutan khusus komoditas perkebunan yang berada di lokasi perkebunan besar swasta; 2. jalan angkutan khusus batubara yang berada di Kecamatan Murung Pudak dan Tanta sampai perbatasan Kabupaten Tabalong dengan Kabupaten Barito Timur; 3. jalan angkutan khusus minyak dan gas yang berada di Kecamatan Tanjung, Murung Pudak dan Tanta; 4. rencana pembangunan jalan angkutan khusus komoditas sumber daya mineral dan perkebunan di lokasi-lokasi perizinan pertambangan dan perkebunan menuju pelabuhan; 5. rencana peningkatan dan pengembangan jalan pada ruas jalan khusus angkutan komoditas sumber daya mineral dan perkebunan di Kabupaten Tabalong; 6. jalan khusus angkutan komoditas sumber daya mineral dan perkebunan sebagaimana dimaksud pada angka 1, angka 2, dan angka 3 di atas dapat berubah dan bertambah sepanjang memenuhi persyaratan administrasi dan teknis; dan 7. ruas-ruas jalan khusus angkutan komoditas pada angka angka 1, angka 2, 3, dan angka 5 di atas akan dipersiapkan menjadi cikal bakal jalan umum apabila masa kontrak investor telah berakhir dan atau adanya kepentingan pengembangan wilayah dan kepentingan umum. l. rencana pembangunan jalan di Kecamatan Banua Lawas, meliputi : Ruas jalan Sei, Rukam Pematang (jalan alternatif Sei Anyar I) ; m. rencana pembangunan jalan di Kecamatan Kelua, meliputi: Ruas jalan tembus Kelua Baco; n. rencana pelebaran jalan di Kecamatan Kelua, meliputi : Ruas jalan Sei. Pimping Luk Kulur Pasintik; o. rencana pembangunan jalan dari Desa Pugaan Kecamatan Pugaan ke Desa Maburai Kecamatan Murung Pudak; p. rencana pembangunan jalan Muara Uya Bintang Ara sepanjang ± 17 km; q. rencana pembangunan jalan tembus di Kecamatan Murung Pudak ruas jalan Cenderawasih Bataman sepanjang ± 800 meter; r. rencana pembangunan jembatan permanen dan jalan Kitang Mahe (jalan lingkar pasar Mahe); s. rencana pembangunan jalan (pemindahan jalan kolektor primer K-3) di Desa Suput sepanjang ± 1 km; t. rencana pembangunan jalan (pemindahan arteri primer Kelua Batas Kota Tanjung) sepanjang ± 30 km; u. rencana pembangunan jalan angkutan hasil alam dari desa Kembang Kuning Kitang Perbatasan Kalteng di dusun Labak; v. rencana pembangunan jalan lingkar luar selatan ke utara pada kawasan perkotaan ibukota kabupaten dari desa Kapar sampai ke desa Maburai; dan dari Kelurahan Mabuun sampai ke jalan tanjung selatan kelurahan Pembataan; w. rencana pembangunan jalan dalam kawasan perkotaan ibukota kabupaten, terdiri atas : 1. dari pertigaan jalan P.H.M. Noor sampai ke Bundaran Monumen Tanjung Puri;

2. dari jalan di Kelurahan Jangkung sampai ke pertigaan jalan Basuki Rahmat Kelurahan Hikun; 3. dari jalan di Kelurahan Belimbing sampai ke jalan A. Yani di Kelurahan Mabuun; 4. dari jalan Basuki Rahmat di Kelurahan Hikun sampai ke rencana pembangunan jalan kolektor primer Jangkung pertigaan jalan Basuki rahmat Kelurahan Hikun; dan 5. dari jalan Basuki Rahmat sampai jalan di Kelurahan Pembataan Bangun Sari. x. rencana pembangunan jalan lokal dalam kawasan perkotaan ibukota kabupaten. (3) Jaringan prasarana lalu lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) huruf b, meliputi : terminal penumpang terdiri atas : a. terminal regional tipe C di Kelurahan Mabuun Kecamatan Murung Pudak dan akan ditingkatkan menjadi terminal regional tipe B; b. pembangunan terminal Kambitin Desa Kambitin Kecamatan Tanjung; c. teminal Kelua di Kelurahan Pulau Kecamatan Kelua; dan d. terminal Muara Uya di Desa Muara Uya Kecamatan Muara Uya. (4) Jaringan layanan lalu lintas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, meliputi : angkutan orang dengan kendaraan bermotor umum dalam trayek dan tidak dalam trayek yang terdiri atas : a. angkutan antar kota antar provinsi; b. angkutan antar kota dalam provinsi; c. angkutan perkotaan; d. angkutan perdesaan; e. angkutan orang dengan menggunakan taksi; f. angkutan orang dengan tujuan tertentu; g. angkutan orang untuk keperluan pariwisata; dan h. angkutan orang di kawasan tertentu. Sistem Jaringan Perkeretaapian Jaringan perkeretaapian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf b, meliputi: a. rencana pembangunan jalan kereta api angkutan penumpang dan barang antar kota PKN dengan PKW dan PKL, terdiri atas : Tanjung Barabai Rantau Martapura Banjarmasin; Tanjung Tanah Grogot Balikpapan; Tanjung Buntok Muara Teweh; b. rencana pembangunan jalan kereta api angkutan barang di sebelah barat Pegunungan Meratus, yaitu ruas : Batas Kalimantan Tengah di Kabupaten Barito Timur Kabupaten Tabalong Kabupaten Hulu Sungai Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kabupaten Tapin Kabupaten Banjar Kabupaten Tanah Laut; c. rencana pembangunan jaringan prasarana kereta api untuk angkutan barang yaitu di Batas Kalimantan Tengah di Kabupaten Barito Timur Kabupaten Tabalong Kabupaten Balangan - Batas Kalimantan Timur di Kabupaten Pasir Batakan/Tanjung Dewa di Kabupaten Kotabaru Kabupaten Tanah Laut; dan

d. rencana pembangunan stasiun kereta api sebagai simpul jaringan jalur kereta api diarahkan pada ibukota kabupaten. Sistem Jaringan Transportasi Udara Jaringan transportasi udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf c, meliputi : a. tatanan kebandarudaraan meliputi: rencana peningkatan dan pengembangan untuk menunjang jalur penerbangan reguler perintis dan antar bandar udara perintis se Kalimantan pada bandar udara pengumpan (spoke) Warukin di Desa Warukin Kecamatan Tanta; dan b. melaksanakan kegiatan kebandarudaraan untuk angkutan udara niaga berjadwal; dan c. ruang udara untuk penerbangan yang akan diatur lebih lanjut dalam rencana induk bandar udara. Sistem Jaringan Prasarana Lainnya Sistem jaringan prasarana lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf c, terdiri atas : a. sistem jaringan energi; b. sistem jaringan telekomunikasi; c. sistem jaringan sumber daya air; dan d. sistem prasarana pengelolaan lingkungan Sistem Jaringan Energi (1) Sistem jaringan energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf a, meliputi : a. pembangkit tenaga listrik; dan b. jaringan prasarana energi. (2) Pembangkit tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdiri atas : a. Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di Maburai Tanjung; b. Pembangkitan Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Kecamatan Murung Pudak (Desa Kasiau) dengan kapasitas sebesar 2 x 30 Mega Watt; c. pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yaitu PLTU IPP Kalimantan Selatan di Tanjung dengan kapasitas sebesar 2 x 100 Mega Watt; d. pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di desa-desa yang belum terlayani jaringan ketenagalistrikan nasional yaitu Desa Hegar Manah, Panaan, Dusun Rakutat, Dusun Kuari, Dusun Miho, Dusun Kalingai, Dusun Kutam, Dusun Undul,

Desa Dambung dan Dusun Kalingai di Kecamatan Bintang Ara; Desa Kumap, Salikung, Kampung Baru, Uwi, Tiara, Dusun Mimban dan Binjai Tangkan di Kecamatan Muara Uya; Desa Solan, Garagata, Purui, Nalui dan Lano di Kecamatan Jaro; Suput Dalam Kecamatan Haruai; Dusun Menaken di Kecamtan Upau; dan e. pembangunan pembangkit listrik tenaga mikrohidro di desa-desa yang berpotensi mikrohidro dan belum terlayani jaringan ketenagalistrikan nasional yaitu di desa Kampung Baru Kecamatan Muara Uya dan desa Dambung Raya dan Hegar Manah Kecamatan Bintang Ara. (3) Jaringan prasarana energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdiri atas : a. jaringan pipa minyak, terdiri atas : Stasiun Pengumpul Minyak dan gas bumi yaitu : SPM Manunggul yang ditetapkan sebagai objek vital nasional; dan b. jaringan transmisi tenaga listrik, terdiri atas : 1. jaringan transmisi sistem 150 (Seratus Lima Puluh) Kilo Volt, yaitu : Barikin Tanjung I, Barikin Tanjung II; 2. rencana pembangunan saluran transmisi, yaitu : Barikin Tanjung, Tanjung Perbatasan (Tamiang layang Buntok); 3. Gardu Induk (GI.) terdiri dari : GI Tanjung; dan 4. Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)/SUTET terdiri dari : SUTT GI Tanjung GI. Barikin, GI. Tanjung di Kabupaten Tabalong GI. Kuaro di Kabupaten Tanah Grogot/Provinsi Kalimantan Timur. Sistem Jaringan Telekomunikasi (1) Sistem jaringan telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b, meliputi : a. sistem jaringan kabel; dan b. sistem jaringan nirkabel. (2) Sistem jaringan kabel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdiri atas : Rencana pengembangan Stasiun Telepon Otomat (STO) Lokal pada STO Tanjung. (3) Sistem jaringan nirkabel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdiri atas : Rencana penembangan jaringan stasiun penguatan daya pancar/terima seluler (Base Transciever Station/BTS) terpadu (4) Sistem Jaringan Sumberdaya Air (1) Rencana pengembangan sistem jaringan sumberdaya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf c, meliputi : a. wilayah sungai ((WS); b. cekungan air tanah (CAT); c. jaringan irigasi; d. jaringan rawa; e. prasarana air baku untuk air bersih;

f. jaringan air bersih ke kelompok pengguna; dan g. sistem pengendali banjir. (2) Rencana pengembangan sistem jaringan sumberdaya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) direncanakan berbasis WS dan CAT serta keterpaduannya dengan pola ruang yang memperhatikan keseimbangan pemanfaatan sumberdaya air permukaan dan air tanah. (3) Rencana pengembangan sistem jaringan sumberdaya air sebagaimana pada ayat (1) meliputi aspek konservasi sumberdaya air, pendayagunaan sumberdaya air, dan pengendalian daya rusak air sesuai dengan arahan pola dan rencana pengelolaan sumberdaya air. (4) Wilayah sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a yaitu WS Barito yang merupakan WS lintas provinsi yaitu WS Barito Kapuas dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito sub DAS Tabalong yang merupakan kewenangan nasional, terdiri atas : a. sub-sub DAS Tabalong Kiwa; b. sub-sub DAS Tabalong Kanan; c. sub-sub DAS Kumap; dan d. sub-sub DAS Hayup. (5) Cekungan Air Tanah sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi CAT Palangkaraya Banjarmasin yang merupakan CAT lintas provinsi. (6) Jaringan irigasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, meliputi : a. Daerah Irigasi (D.I) dan Daerah Irigasi Desa (D.I.D) kewenangan Pemerintah Kabupaten, terdiri atas : D.I. Jaro Atas seluas 816 (delapan ratus enam belas) hektar; D.I. Jaro Bawah seluas 200 (dua ratus) hektar; D.I. Liang Tapah/Garagata seluas 187 (seratus delapan puluh tujuh) hektar; D.I.D. Namun seluas 60 (enam puluh) hektar; D.I.D. Muang seluas 300 (tiga ratus) hektar; D.I. Lumbang seluas 600 (enam ratus) hektar; D.I. Salikung seluas 100 (seratus) hektar; D.I.D. Pasar Batu seluas 25 (dua puluh lima) hektar; D.I.D. Kampung Baru seluas 30 (tiga puluh) hektar; D.I.D. Uwie seluas 25 (dua puluh lima) hektar; D.I. Hayup seluas 80 (delapan puluh) hektar; D.I.D. Marindi seluas 450 (empat ratus lima puluh) hektar; D.I.D. Baruh Balang seluas 70 (tujuh puluh) hektar; D.I. Luk Batu seluas 80 (delapan puluh) hektar; D.I.D. Mambanin seluas 30 (tiga puluh) hektar; D.I.D. Nawin seluas 100 (seratus) hektar; D.I.D. Halong seluas 100 (seratus) hektar; D.I.D. Kupang Nunding seluas 100 (seratus) hektar; D.I.D. Bongkang seluas 50 (lima puluh) hektar; D.I.D. Mahe Pasar seluas 200 (dua ratus) hektar; D.I.D. Saradang seluas 100 (seratus) hektar; D.I. Kambitin seluas 250 (dua ratus lima puluh) hektar; D.I. Gumba seluas 269 (dua ratus enam puluh sembilan) hektar; D.I.D. Baruh Kumpai seluas 400 (empat ratus) hektar; D.I.D. Sei. Pimping seluas 50 (lima puluh) hektar; D.I.D. Puain Kiwa seluas 75 (tujuh puluh lima) hektar; D.I. Kadaman seluas 100 (seratus) hektar; D.I.D. Gambah seluas 100 (seratus) hektar; D.I. Tamiyang seluas 300 (tiga ratus) hektar; D.I.D. Pulau Ku u seluas 600 (enam ratus) hektar; D.I.D. Mangkusip seluas 100 (seratus) hektar; D.I.D. Walangkir seluas 100 (seratus) hektar; D.I. Mamas seluas 450 (empat ratus lima puluh) hektar; D.I.D. Kaong seluas 400 (empat ratus) hektar; D.I.D. Masingai Luar seluas 100 (seratus) hektar; D.I. Bilas seluas 250 (dua ratus lima puluh) hektar; D.I.D. Masingai I seluas 150 (seratus lima puluh) hektar;

b. rehabilitasi, pemeliharaan, dan peningkatan jaringan irigasi yang ada; c. rencana pengembangan saluran irigasi primer, terdiri atas : saluran irigasi primer Kinarum, Bilas dan Teratau; d. rencana pengembangan saluran irigasi sekunder, terdiri atas : saluran irigasi sekunder Kinarum, Bilas dan Teratau; e. rencana pengembangan saluran irigasi tersier, terdiri atas : saluran irigasi tersier Kinarum, Bilas dan Teratau; dan f. rencana pengembangan bendungan Jaro, bendung Kinarum, bendung Teratau, bendung Bilas. (7) Jaringan rawa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, terdiri atas : pengembangan Daerah Rawa (DR) yang melayani daerah yang tersebar di kabupaten, yaitu di Kecamatan Banua Lawas meliputi ; DR Hapalah seluas 505 (lima ratus lima) hektar; DR Bangkiling Raya seluas 331 (tiga ratus tiga puluh satu) hektar; DR Bangkiling seluas 508 (lima ratus delapan) hektar; DR Banua Lawas seluas 125 (seratus dua puluh lima) hektar; DR Habau seluas 941 (sembilan ratus empat puluh satu) hektar; DR Habau Hulu. Seluas 694 (enam ratus sembilan puluh empat) hektar; DR Talan seluas 590 (lima ratus sembilan puluh) hektar; DR Purai seluas 295 (dua ratus sembilan puluh lima) hektar; DR Banua Rantau seluas 336 (tiga ratus tiga puluh enam) hektar; DR Sei. Anyar seluas 108 (seratus delapan) hektar; DR Hariang seluas 196 (seratus sembilan puluh enam) hektar; DR Pematang seluas 331 (tiga ratus tiga puluh satu) hektar; DR Sei. Durian seluas 143 (seratus empat puluh tiga) hektar; DR Bungin seluas 112 (seratus dua belas) hektar; DR Batang Banyu seluas 85 (delapan puluh lima) hektar; di Kecamatan Muara Harus meliputi ; DR Muara Harus seluas 200 (dua ratus) hektar; DR Luk Kulur Tuhuran seluas 100 (seratus) hektar; DR Sei. Manduin Babarut seluas 250 (dua ratus lima puluh) hektar; DR Pintu Air Murung Karangan seluas 300 (tiga ratus) hektar; DR Padangin seluas 200 (dua ratus) hektar; DR Mantuil seluas 50 (lima puluh) hektar; DR Pintu Air Madang seluas 370 (tiga ratus tujuh puluh) hektar; di Kecamatan Pugaan meliputi : DR Sei. Rukam 1 seluas 37 (tiga puluh tujuh) hektar; DR Sei. Rukam 2 seluas 220 (dua ratus dua puluh) hektar; DR Halangan seluas 187 (seratus delapan puluh tujuh) hektar; DR Pugaan seluas 125 (seratus dua puluh lima) hektar; DR Tamunti seluas 375 (tiga ratus tujuh puluh lima) hektar; DR Jirak seluas 71 (tujuh puluh satu) hektar; DR Pampanan seluas 584 (lima ratus delapan puluh empat) hektar; di Kecamatan Kelua meliputi ; DR Sei. Nanti seluas 200 (dua ratus) hektar; DR Ampukung seluas 500 (lima ratus) hektar; DR Sei. Rampang seluas 600 (enam ratus) hektar; DR Sei. Paliat seluas 475 (empat ratus tujuh puluh lima) hektar; DR Sei. Binturu seluas 150 (seratus lima puluh) hektar; DR Asam Pauh seluas 400 (empat ratus) hektar; DR Pintu Air Pudak Setegal seluas 350 (tiga ratus lima puluh) hektar; DR Sei. Awang Latuk seluas 200 (dua ratus) hektar; DR Telaga Itar/Tabat Hanau seluas 150 (seratus lima puluh) hektar; DR Pintu Air Pasar Minggu seluas 40 (empat puluh) hektar. (8) Jaringan air baku untuk air bersih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e, terdiri atas : a. air baku untuk air minum menggunakan sungai Tabalong untuk kawasan perkotaan; b. pengembangan sumber mata air terdapat di Muara Uya Kecamatan Muara Uya; dan

c. pengembangan sumber air tanah pada CAT Palangkaraya Banjarmasin yang terpantau pemanfaatannya dengan mengutamakan pemanfaatan air permukaan; (9) Jaringan air air bersih ke kelompok pengguna sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f merupakan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), terdiri atas: a. pengembangan sumber air baku untuk air bersih dari air permukaan berupa Saluran Air Baku (SAB) PDAM Tabalong dan saluran pembawa primer PDAM Tabalong; b. pengembangan SAB Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang terdapat di Banua Lawas Kecamatan Banua Lawas; Halong Kecamatan Haruai; Kelua Kecamatan Kelua; Tantaringin Kecamatan Muara Harus; Simpung Layung di Kecamatan Muara Uya; Usih di Kecamatan Bintang Ara; Belimbing Raya Kecamatan Murung Pudak; Kelurahan Agung Kecamatan Tanjung; Tanta Kecamatan Tanta; dan c. rencana pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) di Desa Kinarum Kecamatan Upau, Desa Sei. Rukam II Kecamatan Pugaan, dan Desa Solan Kecamatan Jaro. (10) Sistem pengendali banjir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g, meliputi : a. penetapan zona banjir di Murung Kelurahan Tanjung Kecamatan Tanjung, di Sp. 3 Pangkalan Kelurahan Hikun, Timbuk Baru Kelurahan Agung, Desa Wayau, Desa Juai, Desa Pangi Kecamatan Tanjung; di Gambah Kelurahan Belimbing Raya, Pamasiran Kelurahan Belimbing Kecamatan Murung Pudak; Desa Tanta Kecamatan Tanta; Desa Mahe, Batu Pulut Hulu, Batu Pulut Hilir, Murung Layung di Desa Nawin Kecamatan Haruai; Desa Muara Uya, Kupang Nunding, Ribang, Simpung Layung Kecamatan Muara Uya; Desa Upau Kecamatan Upau; Desa Madang dan Padangin Kecamatan Muara Harus; dan b. pembangunan sarana dan prasarana pengendali banjir di Murung Kelurahan Tanjung Kecamatan Tanjung, di Sp. 3 Pangkalan Kelurahan Hikun, Timbuk Baru Kelurahan Agung, Desa Wayau, Desa Juai, Desa Pangi Kecamatan Tanjung; di Gambah Kelurahan Belimbing Raya, Pamasiran Kelurahan Belimbing Kecamatan Murung Pudak; Desa Tanta Kecamatan Tanta; Desa Mahe, Batu Pulut Hulu, Batu Pulut Hilir, Murung Layung di Desa Nawin Kecamatan Haruai; Desa Muara Uya, Kupang Nunding, Ribang, Simpung Layung Kecamatan Muara Uya; Desa Upau Kecamatan Upau; Desa Madang dan Padangin Kecamatan Muara Harus. Sistem Prasarana Pengelolaan Lingkungan (1) Sistem prasarana pengelolaan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf d, meliputi : a. sistem pengelolaan persampahan; b. sistem jaringan air minum; c. sistem jaringan sanitasi; d. sistem jaringan drainase; e. jalur dan ruang evakuasi bencana. (2) Sistem pengelolaan persampahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi : a. pengembangan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sampah yang terdapat di semua kecamatan;

b. pengembangan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah yang terdapat Desa Maburai Kecamatan Murung Pudak dan akan ditetapkan sebagai bank sampah, Desa Karangan Putih di Kecamatan Kelua, dan Desa Muara Uya di Kecamatan Muara Uya; dan c. pembangunan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah di Desa Saradang Kecamatan Haruai. (3) Sistem jaringan air minum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, meliputi: a. instalasi air minum, yang terdapat di Banua Lawas Kecamatan Banua Lawas; Halong Kecamatan Haruai; Kelua Kecamatan Kelua; Tantaringin Kecamatan Muara Harus; Simpung Layung Kecamatan Muara Uya; Belimbing Raya Kecamatan Murung Pudak; Kelurahan Agung Kecamatan Tanjung; Tanta Kecamatan Tanta; Usih Kecamatan Bintang Ara; b. jaringan perpipaan air bersih yang terdapat di Kecamatan Banua Lawas; Kecamatan Haruai; Kecamatan Kelua; Kecamatan Muara Harus; Kecamatan Muara Uya; Kecamatan Murung Pudak; Kecamatan Tanjung; Kecamatan Tanta; Kecamatan Bintang Ara; dan c. rencana pembangunan instalasi air minum dan jaringan perpipaan air bersih di Desa Kinarum Kecamatan Upau, Desa Sei. Rukam II Kecamatan Pugaan, dan Desa Solan Kecamatan Jaro. (4) Sistem jaringan sanitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, meliputi : a. pengembangan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), terhadap setiap kegiatan yang wajib membuat dokumen lingkungan dan yang mengeluarkan limbah; dan b. pembangunan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT), yang terdapat di Saradang Kecamatan Haruai. (5) Sistem jaringan drainase sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, meliputi : a. drainase alam, terdiri atas sungai di perkotaan; dan b. drainase buatan, terdiri atas konstruksi saluran drainase di perkotaan, jalan raya, dan gorong-gorong; (6) Jalur dan ruang evakuasi bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e, meliputi : a. jalur evakuasi bencana pada ruas jalan Putri Zaleha, jalan Basuki Rahmat, jalan Belimbing Raya, Belimbing, jalan desa Tanta, Wayau, Juai, Pangi, Mahe, Nawin, Muara Uya, Kupang Nunding, Ribang, Simpung Layung, Upau, Madang dan Padangin; b. ruang evakuasi bencana yang memanfaatkan ruang terbuka hijau, lapangan publik di Kelurahan Tanjung, Kelurahan Hikun Kelurahan Agung, Kelurahan Belimbing Raya, Kelurahan Belimbing, Desa Tanta, Wayau, Juai, Pangi, Mahe, Nawin, Muara Uya, Kupang Nunding, Ribang, Simpung Layung, Upau, Madang, dan Padangin; dan

RENCANA POLA RUANG WILAYAH (1) Rencana pola ruang wilayah kabupaten meliputi : a. rencana kawasan lindung; dan b. rencana kawasan budidaya. (2) Rencana pola ruang wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1 : 50.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran III dan merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini Kawasan Lindung Kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) huruf a, terdiri atas : 1. Kawasan hutan lindung; 2. Kawasan perlindungan setempat; 3. Kawasan pelestarian alam dan cagar budaya; dan 4. Kawasan rawan bencana alam. Kawasan Hutan Lindung (1) Kawasan hutan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf a, seluas 86.669 (delapan puluh enam ribu enam ratus enam puluh sembilan) hektar, meliputi: a. kawasan hutan lindung di Kecamatan Haruai dengan luas 1.420 (seribu empat ratus dua puluh) hektar; b. kawasan hutan lindung di Kecamatan Bintang Ara dengan luas 3.785 (tiga ribu tujuh ratus delapan puluh lima) hektar; c. kawasan hutan lindung di Kecamatan Muara Uya dengan luas 66.905 (enam puluh enam ribu sembilan ratus lima) hektar; d. kawasan hutan lindung di Kecamatan Jaro dengan luas 8.621 (delapan ribu enam ratus dua puluh satu) hektar; dan e. kawasan hutan lindung di Kecamatan Upau dengan luas 5.938 (lima ribu sembilan ratus tiga puluh delapan) hektar. (2) Dalam kawasan hutan lindung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdapat areal pencadangan untuk pembangunan Hutan Kemasyarakatan (HKm) di Desa Purui dan Nalui Kecamatan Jaro seluas 1.000 (seribu) hektar. Kawasan Perlindungan Setempat Kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf b, terdiri atas : a. kawasan resapan air; b. kawasan sempadan sungai; c. kawasan sekitar danau/waduk;

d. kawasan sekitar mata air; dan e. ruang terbuka hijau kawasan perkotaan. (2) Kawasan resapan air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, berada di sekitar danau di desa Hegarmanah Kecamatan Bintang Ara seluas kurang lebih 2 (dua) hektar dan di Kawasan Wisata Tanjung Puri Desa Kasiau Kecamatan Murung Pudak seluas kurang lebih 2 (dua) hektar. (3) Kawasan sempadan sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, dikembangkan bagi seluruh aliran sungai baik sungai besar maupun anak sungai yang mengalir di kawasan perkotaan maupun di luar kawasan perkotaan dengan memperhatikan dan mempertimbangkan kawasan permukiman penduduk lokal pada sepanjang sempadan sungai. (4) Kawasan sekitar danau/waduk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, dikembangkan danau di desa Hegarmanah Kecamatan Muara Uya seluas kurang lebih 2 (dua) hektar dan di Kawasan Wisata Tanjung Puri Desa Kasiau Kecamatan Murung Pudak seluas kurang lebih 2 (dua) hektar. (5) Kawasan sekitar mata air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, dikembangkan pada mata air di Desa Kinarum Kecamatan Upau seluas kurang lebih 0,5 (setengah) hektar, Kambitin Raya Kecamatan Tanjung seluas kurang lebih 0,5 (setengah) hektar, Simpung Layung Kecamatan Muara Uya seluas kurang lebih 0,5 (setengah) hektar, Hegarmanah Kecamatan Bintang Ara seluas kurang lebih 0,5 (setengah) hektar, Garagata Kecamatan Jaro seluas kurang lebih 0,5 (setengah) hektar. (6) Ruang Terbuka Hijau kawasan perkotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e, terdiri atas : a. kawasan hutan kota seluas kurang lebih 4 (empat) hektar yang berada di Bataman Kelurahan Belimbing Raya Kecamatan Murung Pudak; b. kawasan taman kota, taman lingkungan kantor Pemerintah Daerah dan gedung Sarabakawa seluas kurang lebih 2 (dua) hektar yang berada di Kelurahan Tanjung; c. kawasan taman kota seluas kurang lebih 0,5 (setengah) hektar yang berada di komplek Pertamina Kelurahan Belimbing Kecamatan Murung Pudak; d. lapangan golf Murung Pudak seluas kurang lebih 20 (dua puluh) hektar di Kecamatan Murung Pudak; e. pembangunan Tanjung City Centre (TCC) seluas kurang lebih 2 (dua) hektar di Kelurahan Mabuun Kecamatan Murung Pudak; f. taman terminal regional seluas kurang lebih 1 (satu) hektar di Kelurahan Mabuun Kecamatan Murung Pudak; g. taman lingkungan Islamic Centre di Maburai Kecamatan Murung Pudak seluas 6 (enam) hektar; h. kawasan tempat wisata Danau Tanjung Puri seluas kurang lebih 8 (delapan) hektar di Kecamatan Murung Pudak; i. kawasan Tempat Pemakaman Umum (TPU) dan Taman Makam Pahlawan (TMP) seluas kurang lebih 4 (empat) hektar di Kelurahan Tanjung dan Jangkung Kecamatan Tanjung dan Kelurahan Belimbing, Belimbing Raya, Mabuun Kecamatan Murung Pudak;

j. taman di lingkungan rumah jabatan bupati, GOR dan stadion Pembataan seluas kurang lebih 7 (tujuh) hektar; k. rencana pembuatan taman di rencana lokasi kawasan Perkantoran Pemerintah Daerah kurang lebih 2 (dua) hektar di Kelurahan Mabuun; l. jalur kiri-kanan jalan Ir. P.H.M. Noor, jalan Basuki Rahmat, jalan Tanjung Selatan, dan jalan Tanjung Baru Maburai; m. rencana pengembangan areal murung di Kelurahan Tanjung menjadi hutan kota seluas kurang lebih 18 (delapan belas) hektar; n. penanaman pohon-pohon yang diwajibkan pada komplek-komplek perumahan; dan o. rencana pembangunan taman kota tersebar di Kecamatan Murung Pudak dan Tanjung dengan luas kurang lebih 900 (sembilan ratus) hektar. Kawasan Pelestarian Alam dan Cagar Budaya Kawasan pelestarian alam dan cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf c, meliputi : a. kawasan Taman Wisata Alam (TWA) seluas kurang lebih 2 (dua) hektar yang berada di Desa Jaro Kecamatan Jaro; dan b. kawasan cagar budaya, terdiri atas : Situs Gua Batu Babi seluas kurang lebih 1 (satu) hektar di Gunung Batu Buli Kecamatan Muara Uya. Kawasan Rawan Bencana Alam Kawasan rawan bencana alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf d, meliputi : a. kawasan rawan banjir yang terdapat di Murung Kelurahan Tanjung Kecamatan Tanjung, di Sp. 3 Pangkalan Kelurahan Hikun, Timbuk Baru Kelurahan Agung, Desa Wayau, Desa Juai, Desa Pangi Kecamatan Tanjung; di Gambah Kelurahan Belimbing Raya, Pamasiran Kelurahan Belimbing Kecamatan Murung Pudak; Desa Tanta Kecamatan Tanta; Desa Mahe, Batu Pulut Hulu, Batu Pulut Hilir, Murung Layung di Desa Nawin Kecamatan Haruai; Desa Muara Uya, Kupang Nunding, Ribang, Simpung Layung Kecamatan Muara Uya; Desa Upau Kecamatan Upau; Desa Madang, Padangin Kecamatan Muara Harus; dan b. kawasan rawan bencana kebakaran hutan dan lahan terdiri atas : kawasan kebakaran pada kawasan hutan, lahan kritis, padang alang-alang, kawasan perkebunan dan, kawasan pertanian lahan kering yang terjadi setiap musim kemarau di Kecamatan Jaro, Muara Uya, Haruai, Upau, Bintang Ara, Murung Pudak, Tanjung, Tanta, Kelua, Muara Harus, Banua Lawas dan Pugaan.

Kawasan Budidaya atas : Kawasan budidaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) huruf b, terdiri a. kawasan peruntukan hutan produksi; b. kawasan peruntukan pertanian; c. kawasan peruntukan perkebunan; d. kawasan peruntukan peternakan; e. kawasan peruntukan perikanan; f. kawasan peruntukan industri; g. kawasan peruntukan pariwisata; h. kawasan peruntukan permukiman; i. kawasan peruntukan pertambangan; dan j. kawasan peruntukan lainnya. Kawasan Peruntukan Hutan Produksi (1) Kawasan peruntukan hutan produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf a, meliputi : a. kawasan hutan produksi terbatas; b. kawasan hutan produksi tetap; dan c. kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi. (2) Kawasan hutan produksi terbatas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, seluas 53.983 (lima puluh tiga ribu sembilan ratus delapan puluh tiga) hektar, meliputi : a. kawasan hutan produksi terbatas di Kecamatan Bintang Ara dengan luas 1.124 (seribu seratus dua puluh empat) hektar; b. kawasan hutan produksi terbatas di Kecamatan Muara Uya dengan luas 44.793 (empat puluh empat ribu tujuh ratus sembilan puluh tiga) hektar; dan c. kawasan hutan produksi terbatas di Kecamatan Jaro dengan luas 8.066 (delapan ribu enam puluh enam) hektar. (3) Kawasan hutan produksi tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, seluas 96.247 (sembilan puluh enam ribu dua ratus empat puluh tujuh) hektar, meliputi : a. kawasan hutan produksi tetap di Kecamatan Murung Pudak dengan luas 4.390 (empat ribu tiga ratus sembilan puluh) hektar; b. kawasan hutan produksi tetap di Kecamatan Haruai dengan luas 6.810 (enam ribu delapan ratus sepuluh) hektar; c. kawasan hutan produksi tetap di Kecamatan Bintang Ara dengan luas 25.060 (dua puluh lima ribu enam puluh) hektar; d. kawasan hutan produksi tetap di Kecamatan Muara Uya dengan luas 47.847 (empat puluh tujuh ribu delapan ratus empat puluh tujuh) hektar; e. kawasan hutan produksi tetap di Kecamatan Jaro dengan luas 5.470 (lima ribu empat ratus tujuh puluh) hektar; dan

f. kawasan hutan produksi tetap di Kecamatan Upau dengan luas 6.670 (enam ribu enam ratus tujuh puluh) hektar. (4) Kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, seluas 2.397 (dua ribu tiga ratus sembilan puluh tujuh) hektar meliputi : a. kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi di Kecamatan Tanjung dengan luas 2.332 (dua ribu tiga ratus tiga puluh dua) hektar; b. kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi di Kecamatan Bintang Ara dengan luas 33 (tiga puluh tiga) hektar; dan c. kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi di Kecamatan Kelua dengan luas 32 (tiga puluh dua) hektar. (5) Pada kawasan hutan produksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdapat pencadangan areal untuk pembangunan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) seluas 6.015 (enam ribu lima belas) hektar di Desa Marindi Kecamatan Haruai; Desa Lumbang, Kampung Baru dan Mangkupum Kecamatan Muara Uya; Desa Kinarum dan Pangelak Kecamatan Upau; Desa Teratau Kecamatan Jaro. Kawasan Peruntukan Pertanian (1) Kawasan peruntukan pertanian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf b, meliputi : a. kawasan budidaya pertanian lahan basah; dan b. kawasan budidaya pertanian lahan kering dan hortikultura; (2) Kawasan budidaya pertanian lahan basah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, seluas kurang lebih 18.673 (delapan belas ribu enam ratus tujuh puluh tiga) hektar, yang berada di Kecamatan Banua Lawas seluas 3.571 (tiga ribu lima ratus tujuh puluh satu) hektar, Kecamatan Kelua seluas 1.782 (seribu tujuh ratus delapan puluh dua) hektar, Kecamatan Muara Harus seluas 919 (sembilan ratus sembilan belas) hektar, Kecamatan Pugaan seluas 1.521 (seribu lima ratus dua puluh satu) hektar, Kecamatan Tanta seluas 1.004 (seribu empat) hektar, Kecamatan Tanjung seluas 4.919 (empat ribu sembilan ratus sembilan belas) hektar, Kecamatan Murung Pudak seluas 340 (tiga ratus empat puluh) hektar, Kecamatan Haruai seluas 1.103 (seibu seratus tiga) hektar, Kecamatan Upau seluas 416 (empat ratus enam belas) hektar, Kecamatan Jaro seluas 1.334 (seribu tiga ratus tiga puluh empat) hektar, Kecamatan Muara Uya seluas 1.725 (seribu tujuh ratus dua puluh lima) hektar dan Kecamatan Bintang Ara seluas 40 (empat puluh) hektar. (3) kawasan budidaya pertanian lahan kering dan hortikultura sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b seluas kurang lebih 3.914 (tiga ribu sembilan ratus empat belas) hektar, yang berada di Kecamatan Bintang Ara seluas 385 (tiga ratus delapan puluh lima) hektar, dan Kecamatan Haruai seluas 3.529 (tiga ribu lima ratus dua puluh sembilan) hektar. (4) Pembentukan lahan pertanian pangan berkelanjutan dan cadangannya akan ditetapkan dengan peraturan daerah tersendiri.

Kawasan Peruntukan Perkebunan Kawasan peruntukan perkebunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf c, meliputi : (1) kawasan pengembangan perkebunan besar swasta kelapa sawit dan karet seluas kurang lebih 30.745 (tiga puluh ribu tujuh ratus empat puluh lima) hektar yang terdapat di Kecamatan Murung Pudak, Tanjung, Tanta, Haruai, Banua Lawas, Pugaan, Muara Harus dan Kelua. (2) kawasan pengembangan perkebunan rakyat berupa tanaman karet, kelapa sawit, kelapa dalam, kopi dan komoditas lainnya seluas kurang lebih 47.534 (empat puluh tujuh ribu lima ratus tiga puluh empat) hektar yang tersebar di seluruh kecamatan, dengan membentuk sentra komoditas karet, kelapa dalam, kepala sawit dan kopi serta hasil komoditas lainnya baik swadaya dan pola kemitraan dengan perkebunan besar swasta. Kawasan Peruntukan Peternakan Kawasan peruntukan peeternakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf d, akan dikembangkan dengan memperhatikan kaidah lingkungan, meliputi : (1) kawasan pusat pembibitan dan pengembangan ternak sapi di Desa Hayup, Surian dan Catur Karya Kecamatan Haruai; Desa Masingai I dan Masingan II Kecamatan Upau; Desa Garagata, Jaro, Nalui, Namun dan Muang Kecamatan Jaro; Desa Argomulyo dan Bintang Ara Kecamatan Bintang Ara; Desa Kambitin Kecamatan Tanjung. (2) kawasan pembibitan dan pengembangan unggas di Kecamatan Tanta, Kelua, Pugaan, Muara Harus dan Banua Lawas. (3) kawasan pengembangan ternak sedang di seluruh kecamatan. Kawasan Peruntukan Perikanan (1) Kawasan peruntukan perikanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf e, meliputi : a. kawasan peruntukan perikanan tangkap; b. kawasan peruntukan perikanan budidaya; dan c. kawasan pengolahan ikan. (2) Kawasan peruntukan perikanan tangkap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdapat di Kecamatan Kelua, Banua Lawas, Muara Harus dan Tanta. (3) Kawasan peruntukan budidaya perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdiri atas : a. pembenihan dan perbesaran ikan di Desa Kambitin dan Kambitin Raya Kecamatan Tanjung dan Desa Jaro Kecamatan Jaro; b. pengembangan usaha perbesaran ikan di Kecamatan Kelua, Muara Harus, Pugaan, Banua Lawas, Jaro dan Tanjung; dan

c. pengembangan minapadi, yang meliputi Kecamatan Muara Uya, Jaro, Haruai dan Upau. (4) Kawasan pengolahan ikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, dikembangkan di pusat-pusat sentra produksi ikan. Kawasan Peruntukan Industri (1) Kawasan peruntukan industri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf f, meliputi : a. kawasan peruntukan industri besar, sedang dan kecil; dan b. kawasan peruntukan industri rumah tangga kerajinan dan produk makanan. (2) Kawasan peruntukan industri besar, sedang dan kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, dikembangkan dalam bentuk zona industri, meliputi : a. kawasan industri Murung Pudak seluas kurang lebih 841 (delapan ratus empat puluh satu) hektar di Desa Kasiau Kecamatan Murung Pudak dengan prioritas pengembangan untuk industri agro; b. kawasan industri Seradang seluas kurang lebih 1.017 (seribu tujuh belas) hektar yang sebagian terletak di Desa Seradang Kecamatan Haruai dan sebagian terletak di Desa Kaong Kecamatan Upau, untuk industri besar berbahan baku sumberdaya mineral logam dan non logam; dan c. kawasan industri sawit terletak di masing-masing lokasi kebun sawit khusus untuk pembuatan CPO. (3) Kawasan peruntukan industri rumah tangga kerajinan dan produk makanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, dikembangkan di seluruh kelurahan dan desa yang berpotensi. Kawasan Peruntukan Pariwisata (1) Kawasan peruntukan pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf g, meliputi : a. kawasan peruntukan pariwisata budaya; b. kawasan peruntukan pariwisata alam; dan c. kawasan peruntukan pariwisata buatan. (2) Kawasan peruntukan pariwisata budaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdiri atas : Mesjid Pusaka Banua Lawas di Kecamatan Banua Lawas, Makam Syech Nafis di Kecamatan Kelua, Mesjid Puain Kanan dan Makam Datu Puain di Kecamatan Tanta, Makam Datu Harung di Kecamatan Murung Pudak, Makam Datu Abi (Datu Buaya) di Kecamatan Pugaan, Makam Gusti Buasan di Kecamatan Haruai, dan Pemukiman Suku Dayak di Kecamatan Tanta. (3) Kawasan peruntukan pariwisata alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdiri atas : air terjun dan riam Kinarum di Kecamatan Upau, air terjun Mambanin di Kecamatan Haruai, air terjun di Lano, air terjun Tabur Berangin dan Melor di Kecamatan Jaro, air terjun Katingkang di Kecamatan Upau, Danau Undan di Kecamatan Banua Lawas, air panas di desa Tamiyang Kecamatan Tanta, arung jeram sungai Salikung di

Kecamatan Muara Uya, batu pujung di Kecamatan Bintang Ara, air terjun tangkung dan riam tampalingun di desa Panaan kecamatan Bintang Ara, sumber air panas luyuh di Kecamatan Tanta, gua Liang Kantin di Kecamatan Jaro dan Muara Uya dan gua Batu Babi gunung Batu Buli di Kecamatan Muara Uya. (4) Kawasan peruntukan pariwisata buatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, terdiri atas : Tanjung Puri, danau dan sirkuit Marido, Islamic Centre dan Tanjung City Centre (TCC) di Kecamatan Murung Pudak, agro wisata dan danau sempalang jaya Desa Nalui Kecamatan Jaro. Kawasan Peruntukan Permukiman (1) Kawasan peruntukan permukiman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf h, meliputi : a. kawasan peruntukan permukiman perkotaan seluas kurang lebih 2.784 (dua ribu tujuh ratus delapan puluh empat) hektar; dan b. kawasan peruntukan permukiman perdesaan seluas kurang lebih 17.250 (tujuh belas ribu dua ratus lima puluh delapan) hektar. (2) Kawasan peruntukan permukiman perkotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi seluruh kelurahan dan desa yang berada di wilayah PKL. (3) Kawasan peruntukan permukiman perdesaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, meliputi PPK dan PPL serta seluruh desa dan anak desa di setiap kecamatan. Kawasan Peruntukan Pertambangan (1) Kawasan peruntukan pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf i, meliputi : a. kawasan peruntukan pertambangan mineral dan batubara; b. kawasan peruntukan pertambangan minyak dan gas bumi; dan c. kawasan peruntukan pertambangan non logam dan batuan. (2) Kawasan peruntukan pertambangan mineral dan batubara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, berupa : a. batubara terdapat di Kecamatan Tanjung, Murung Pudak, Tanta, Upau, Haruai, Bintang Ara, Muara Uya, dan Jaro; b. logam berupa emas terdapat di Kecamatan Jaro dan Murung Pudak; dan c. biji besi yang terdapat di Kecamatan Jaro dan Upau; (3) Kawasan peruntukan pertambangan mineral dan batubara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, yang berada di luar kawasan peruntukan kehutanan meliputi : a. wilayah usaha pertambangan batubara PKP2B terdapat di Kecamatan Haruai seluas kurang lebih 6.282 (enam ribu dua ratus delapan puluh dua) hektar di Kecamatan Jaro seluas kurang lebih 0,02 (nol koma nol dua) hektar, di Kecamatan Muara Uya seluas kurang lebih 3.484 (tiga ribu empat ratus delapan puluh empat) hektar, di Kecamatan

Murung Pudak seluas kurang lebih 5.885 (lima ribu delapan ratus delapan puluh lima) hektar, di Kecamatan Tanta seluas kurang lebih 3.844 (tiga ribu delapan ratus empat puluh empat) hektar, di Kecamatan Upau seluas kurang lebih 765 (tujuh ratus enam puluh lima) hektar; b. wilayah usaha pertambangan batubara menurut izin usaha pertambangan terdapat di Kecamatan Bintang Ara seluas kurang lebih 1.645 (seribu enam ratus empat puluh lima) hektar, di Kecamatan Haruai seluas kurang lebih 10.581 (sepuluh ribu lima ratus delapan puluh satu) hektar, di Kecamatan Muara Uya seluas kurang lebih 689 (enam ratus delapan puluh sembilan) hektar di Kecamatan Tanjung seluas kurang lebih 2.688 (dua ribu enam ratus delapan puluh delapan) hektar, di Kecamatan Upau seluas kurang lebih 1.398 (seribu tiga ratus sembilan puluh delapan) hektar, dan c. wilayah usaha pertambangan logam menurut izin usaha pertambangan terdapat di Kecamatan Jaro seluas kurang lebih 88 (delapan puluh delapan) hektar, di Kecamatan Muara Uya seluas kurang lebih 94 (sembilan puluh empat) hektar. (4) Kawasan peruntukan pertambangan mineral dan batubara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, yang berada di dalam kawasan peruntukan kehutanan meliputi : a. wilayah usaha pertambangan batubara PKP2B terdapat di Kecamatan Haruai seluas kurang lebih 4.621 (empat ribu enam ratus dua puluh satu) hektar, Kecamatan Jaro seluas kurang lebih 3.129 (tiga ribu seratus dua puluh sembilan) hektar di Kecamatan Muara Uya seluas kurang lebih 8.193 (delapan ribu seratus sembilan puluh tiga) hektar, di Kecamatan Murung Pudak seluas kurang lebih 5.178 (lima ribu seratus tujuh puluh delapan) hektar, di Kecamatan Upau seluas kurang lebih 1.896 (seribu delapan ratus sembilan puluh enam) hektar, di Kecamatan Bintang Ara seluas kurang lebih 177 (seratus tujuh puluh tujuh) hektar; b. wilayah usaha pertambangan batubara menurut izin usaha pertambangan terdapat di Kecamatan Bintang Ara seluas kurang lebih 12.308 (dua belas ribu tiga ratus delapan) hektar, di Kecamatan Haruai seluas kurang lebih 2.159 (dua ribu seratus lima puluh sembilan) hektar, di Kecamatan Jaro seluas kurang lebih 1.839 (seribu delapan ratus tiga puluh sembilan) hektar, di Kecamatan Muara Uya seluas kurang lebih 27.223 (dua puluh tujuh ribu dua ratus dua puluh tiga) hektar, di Kecamatan Murung Pudak seluas kurang lebih 1.005 (seribu lima), hektar di Kecamatan Tanjung seluas kurang lebih 13 (tiga belas) hektar, di Kecamatan Upau seluas kurang lebih 1.115 (seribu seratus lima belas) hektar, dan c. wilayah usaha pertambangan logam menurut izin usaha pertambangan terdapat di Kecamatan Jaro seluas kurang lebih 3.815 (tiga ribu delapan ratus lima belas) hektar, di Kecamatan Muara Uya seluas kurang lebih 3.186 (tiga ribu seratus delapan puluh enam) hektar. (5) Kawasan peruntukan pertambangan minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdapat di Murung Pudak dan Tepian Timur Kecamatan Murung Pudak; Tanjung dan Kambitin Kecamatan Tanjung; Dahor, Warukin dan Tanta Kecamatan Tanta; Surian Kecamatan Haruai; Kecamatan Kelua, Kecamatan Banua Lawas serta Kecamatan Pugaan, dan ditetapkan sebagai objek vital nasional.

(6) Kawasan peruntukan pertambangan non logam dan batuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, berupa marmer, batu gamping, andesit, lempung, batu rijang, pasir kuarsa, pasir berangkal, dan kerikil terdapat di Kecamatan Muara Uya, Jaro, Upau, Bintang Ara, Haruai, Murung Pudak, Tanjung, dan Kelua. (7) Kawasan peruntukan pertambangan non logam dan batuan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) menurut izin usaha pertambangan yang berada di luar kawasan peruntukan kehutanan terdapat di Kecamatan Jaro seluas kurang lebih 18 (delapan belas) hektar berada di luar kawasan peruntukan kehutanan dan kurang lebih 3 (tiga) hektar berada dalam kawasan peruntukan kehutanan, di Kecamatan Muara Uya seluas kurang lebih 4 (empat) hektar berada di luar kawasan peruntukan kehutanan, dan di Kecamatan Upau seluas kurang lebih 1 (satu) hektar berada di luar kawasan peruntukan kehutanan dan kurang lebih 331 (tiga ratus tiga puluh satu) hektar berada dalam kawasan peruntukan kehutanan. (8) Kawasan peruntukan pertambangan non logam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, berupa pasir kuarsa terdapat di Kecamatan Banua Lawas seluas 212 (dua ratus dua belas) hektar. (9) Sebaran kawasan pertambangan sebagai dimaksud pada ayat (1) digambarkan kedalam peta tematik dengan tingkat ketelitian 1 : 50.000 dan merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Kawasan Peruntukan Lainnya Kawasan peruntukan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf j, meliputi kawasan pertahanan dan keamanan negara, terdiri dari : a. Komando Distrik Militer (Kodim) 1008 Tanjung; b. Komando Rayon Militer (Koramil) yang tersebar di seluruh kecamatan; c. Kepolisian Resor (Polres) Tanjung; d. Kepolisian Sektor (Polsek) yang tersebar di seluruh kecamatan; e. Kompi A Yonif-621/Manuntung; dan f. Kiban Yonif-621/Manuntung.

2.2 Kemajuan Pelaksanaan SSK 2.2.1 DATA DASAR TAHUN 2013 - Tabel 2.17: Tahapan pengembangan air limbah domestik kabupaten/kota Tahun 2013 No Sistem Cakupan layanan eksisting* (%) Target cakupan layanan* (%) Jangka pendek Jangka menengah Jangka panjang (a) (b) (c) (d) (e) A Sistem On-site 1 Individual (tangki septik) 62,45 68 72 73,5 2 Komunal (MCK, MCK++ dan IPAL komunal 1,25 3 5,7 17,1 B Sistem Off-site 1 Skala Kota - - - - 2 Skala Wilayah/Kawasan - - 1 2 Keterangan: *) Cakupan layanan adalah persentase penduduk terlayani oleh sistem dimaksud atas total penduduk Tabel 2.18: Tahapan Pengembangan Persampahan Kabupaten/Kota Tahun 2013 No Sistem Cakupan layanan eksisting* (%) Cakupan layanan* (%) Jangka pendek Jangka menengah Jangka panjang (a) (b) (c) (d) (e) (f) A Penanganan langsung (Direct) (c) (d) (e)

1 Kawasan komersial/perkotaan 64,11 70,11 80 85 B Penanganan tidak langsung (indirect) 1 Kawasan non komersial/perkotaan 16,80 20 26 49 Keterangan: *) Cakupan layanan adalah persentase penduduk terlayani oleh sistem dimaksud atas total penduduk No Sistem Tabel 2.19: Tahapan Pengembangan Drainase Kabupaten/Kota Tahun 2013 Cakupan layanan eksisting* (%) Cakupan layanan* (%) Jangka pendek Jangka menengah Jangka panjang (a) (b) (c) (d) (e) (f) 1 Drainase skala besar Belum tersedia data 100 2 Drainase skala kecil Belum tersedia data 100 2.2.2 PENCAPAIAN SAAT INI Capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang N o Jenis Pelayanan Dasar Satuan Target SPM Tahun 2019 Capaian EXTING Thn 2015 1 Penyediaan air minum Persentase penduduk yang mendapatkan % Penduduk Sanga t Buruk 40% 55,81%

akses air minum yang aman Buruk 50% Sedan g 70% Baik 80% Sanga t Baik 100 % 2 Penyediaan sanitasi Persentase penduduk yang terlayani sistem air limbah yang memadai % Penduduk Siste m On Site Siste m Off Site 60% 5% 84,28% Persentase pengurangan sampah di perkotaan % Penduduk 20% 3,22% Persentase pengangkutan sampah % Penduduk 70% 65,88% Persentase pengoperasian TPA % pengoperasian TPA - 60,2% Persentase penduduk yang terlayani sistem jaringan drainase skala kota sehingga tidak terjadi genangan (lebih dari 30 cm, selama 2 jam) lebih dari 2 kali setahun % penduduk % pengurangan genangan 50% 5,38%

3 Penataan Bangunan dan Lingkungan 4 Penangan Pemukiman Kumuh Perkotaan Persentase jumlah Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang diterbitkan Persentase berkurangnya luasan permukiman kumuh di kawasan perkotaan IMB IMB 100% HSBGN 100% Ha 10% 89,74% 1% PENCAPAIAN SEBELUMNYA 2013-2016 TAHUN Air Limbah Sampah Drainase 2013 1. Masterplan air limbah 2. Pengadaan tanah untuk TPS3R di Unggung 2014 1. Masterplan air limbah 2. Desa ODF 5 desa 1. Pengadaan truk arm roll dan dump truk 2 unit 1. Masterplan drainase

2015 1. DED PS air limbah skala kawasan 2. Dokumen Amdal dan DED IPLT 3. Desa ODF 16 desa 4. Pengadaan tanah TPS3R di Hikun 5. Pengadaan tanah IPLT dan TPA 1. DED Penanganan Genangan di Kel.Tanjung, koridor Jl Pembataan-Bangun Sari dan Depan DPRD (Penanganan Drainase daerah prioritas berdasarkan Masterplan drainase) 2016 1. Pelaks dan supervisi pembi PS air limbah percontohan Skala RSH kota Tanjung 2. Perenc, pelaks dan supervisi MCK Saradang, Ampukung, Bintang Ara dan Muara Uya 3. Pelaks dan supervisi pembangunan IPLT 4. Perenc, Pelaks dan supervisi pemb tangki septiktank media bakteri desa 6. Penanganan saluran drainase di Belimbing Raya Rt.19 7. Drainase belakang Depag 8. Drainase Pembataan Rt.04 9. Perenc. Teknis saluram drainase kawasan perdagangan, Tanjung Selatan dan kawasan pusaka bersejarah Banua lawas dan Syeik Nafis

Kapar 5. Perenc, pelaks, dan supervisi toilet umum di komplek TEC, Pasar kelua, Pasar Kapar 2.3 Profil Sanitasi Saat Ini Berisi penjelasan singkat mengenai sistem air limbah domestik, persampahan dan drainase perkotaan saat ini serta cakupan layanannya termasuk rencana pengembangan berdasarkan master plan. Bagian ini juga dilengkapi penjelasan kajian-kajian EHRA maupun non EHRA yang mendukung penggambaran sanitasi saat ini di Kabupaten Tabalong. a. Air Limbah Domestik (1) Sistem dan Infrastruktur Gambar 2.5 Diagram Sistem Sanitasi (DSS) Pengelolaan Air Limbah Domestik Kabupaten Tabalong

Perorangan/ Rumah tangga Perorangan/ Rumah tangga DPU Perorangan/ Rumah tangga DPU, Swasta + Perorangan/ Rumah tangga Untuk IPLT belum memiliki, TPA masih sistem Open dumping

Tabel Kondisi Prasarana dan Sarana Pengelolaan Air Limbah Domestik di Kabupaten Tabalong No Jenis Satuan Jumlah/ Kapasitas Berfungsi Kondisi Tidak Berfungsi Keterangan (i) (ii) (iii) (iv) (v) (vi) (vii) SPAL Setempat (Sistem On Site) 1 Tangki Septik Komunal < 10 KK Unit - - 2 MCK++ Unit - - 3 MCK Biasa/WC Umum Unit - 4 Truk Tinja Unit - - 5 IPLT ; kapasitas m³/unit - - SPAL Terpusat (Sistem Off Site) 1 Tangki Septik Komunal > 5KK Unit 2 IPAL Komunal Unit 3 IPAL Kawasan Unit 4 IPAL Terpusat m³/unit

Gambar 2. 6 Peta Cakupan Akses dan Layanan Air Limbah Kabupaten Tabalong Tahun 2016 Sumber : Bappeda Kabupaten Tabalong

(2) Kelembagaan dan Peraturan Tabel 3.8 Peta Pemangku Kepentingan Dalam Pembangunan Air Limbah Domestik Kabupaten Tabalong Perencanaan FUNGSI Menyusun target pengelolaan air limbah domestik skala kota Menyusun rencana program air limbah domestik dalam rangka pencapaian target Menyusun rencana anggaran program air limbah domestik dalam rangka pencapaian target Pemerintah Kota PEMANGKU KEPENTINGAN Swasta Masyarakat Pengadaan Sarana Menyediakan sarana pembuangan awal air limbah domestic Membangun sarana pengumpulan dan pengelolaan awal (tangki septik) Menyediakan sarana pengangkutan dan tangki septik ke IPLT (truk Tinja) Membangun jaringan dan saluran pengaliran limbah dari sumber ke IPAL (pipa kolektor) Membangun sarana IPLT dan atau IPAL Pengelolaan Menyediakan layanan pengelolaan lumpur tinja Mengelola IPLT dan atau IPAL

Melakukan penarikan retribusi pengelolaan lumpur tinja Memberikan izin usaha pengelolaan air limbah domestik dan atau penyedotan air limbah domestik Melakukan pengecekan kelengkapan utilitas teknis bangunan (tangki septik, dan saluran drainase lingkungan) dalam pengurusan IMB Pengaturan dan Pembinaan Mengatur prosedur penyediaan air limbah domestik (pengangkutan, personil, peralatan dll) Melakukan sosialisasi peraturan, dan pembinaan dalam hal pengelolaan air limbah domestik Memberikan sanksi terhadap pelanggaran pengelolaan air limbah domestik Monitoring dan Evaluasi Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap capaian target pengelolaan air limbah domestik skala kota Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kapasitas infrastruktur sarana pengelolaan air limbah domestik Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap efektivitas layanan air limbah domestik dan atau menampung serta mengelola keluhan atas layanan air limbah domestik. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap baku mutu air limbah domestik Tanggung jawab terhadap pengelolaan air limbah belum memiliki dasar pijakan yang kuat dalam penerapan kebijakan pengelolaan air limbah. Landasan hukum pelaksanaan pengelolaan limbah cair berdasarkan beberapa produk hukum nasional, antara lain berupa : a. Undang-Undang :

1) Undang-undang RI Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup 2) Kepmen No.51 Tahun 1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri 3) Kepmen No.52 Tahun 1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Hotel b. Peraturan pemerintah : 1) PP No.82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air 2) PP Nomor 18 tahun 1999 jo PP No.85 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah B3 3) PP Nomor 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan B3 Tabel Peta Peraturan Air Limbah Domestik Kabupaten Tabalong Ketersediaan Pelaksanaan Peraturan Ada Tidak Ada Efektif Dilaksanaka n Belum Efektif Dilaksanakan Tidak Efektif Dilaksanakan Ket Target Capaian Pelayanan Pengelolaan Air Limbah Domestik Kewajiban dan sanksi bagi Pemerintah Kab/Kota dalam penyediaan layanan pengelolaan Air Limbah Domestik Kewajiban dan sanksi bagi pemerintah Kab/Kota dalam memberdayakan masyarakat dan badan usaha dalam pengelolaan Air Limbah Domestik Kewajiban dan sanksi bagi masyarakat dan atau pengembang untuk menyediakan sarana pengelolaan Air Limbah Domestik di hunian umum Keawajiban dan sanksi bagi Industri rumah tangga untuk menyediakan sarana pengelolaan Air Limbah

Domestik di tempat usaha Keawajiban dan sanksi bagi kantor untuk menyediakan sarana pengelolaan Air Limbah Domestik di tempat umum Kewajiban pengelolaan air limbah domestik untuk masyarakat, industri rumah tangga, dan kantor pemilik tangki septik Retribusi pengelolaan air limbah domestik Tata cara perizinan untuk kegiatan pembangunan air limbah domestik bagi kegiatan permukiman, usaha rumah tangga, dan perkantoran a. Persampahan (1) Sistem dan Infrastruktur Diagram Sistem Sanitasi Persampahan Kabupaten Tabalong Tabel Timbulan Sampah per Kecamatan

Tabel Diagram Sistem Sanitasi Pengelolaan Persampahan Input Sampah perumahan Pasar Komersial Jalan Umum User Interfase Tong sampah Tong sampah Tong sampah Tong sampah Penampungan awal TPS TPS TPS TPST Pengaliran Armada angkut Armada angkut Armada Angkut Armada angkut Pengolahan akhir Pembuangan/Daur ulang Kode/Nama Aliran TPA TPA P1 TPA TPA P2 TPA TPST P3 TPA TPST P4 Tabel Sistem Pengelolaan Persampahan yang ada di Kabupaten Tabalong Kelompok Fungsi Teknologi yang Jenis data Nilai Sumber Data digunakan sekunder data(perkiraan) User Interfase Tong samaph Jumlah(kuantitas) Distakober Penampungan TPS/TPST Jumlah(kuantitas) Distakober awal Pengaliran Armada angkut Jumlah(kuantitas) Distakober Pengolahan akhir TPA Jumlah(kuantitas) Distakober Pembuangan/Daur ulang TPA Jumlah(kuantitas) Distakober

Bila di kawasan-kawasan perumahan umumnya menggunakan jasa tenaga pengumpul, maka rumah tangga yang berada di kawasan permukiman, terutama yang didominasi golongan menegah ke bawah lebih memilih untuk membuang sendiri sampahnya ke TPS terdekat atau melakukan penanganan dengan cara lainnya seperti dibakar atau membuangnya ke dalam lubang galian yang telah disiapkan sebelumnya. Pola pewadahan sampah pada tingkat rumah tangga di Kota Banjarbaru saat ini sepenuhnya didasarkan pada swadaya masyarakat, yang menyebabkan pola pewadahan cukup beragam, ada yang menggunakan kantong plastik, tong plastik atau tong/ember dari karet. Tabel Kondisi Prasarana dan Sarana Persampahan N o. Jenis Prasarana/ Sarana Sat Jumlah Kapasitas Ritasi/ hari Baik Kondisi Rusak Ringan Rusak Berat Ket (i) (ii) (iii) (iv) (v) (vi) (vii) (viii) (ix) (x) 1 Pengumpulan Setempat - Gerobak Sampah unit - Motor Sampah unit - Pick Up Sampah unit 2 Tempat Penampungan Sementara (TPS) - Bak Biasa unit - Kontainer unit - Transfer Depo unit - SPA (Stasiun Peralihan Antara) unit 3 Pengangkutan - Dump Truck unit

- Arm Roll Truck unit - Compactor Truck unit 4 Pengolahan Sampah - TPS 3R unit - ITF unit - Bank Sampah unit - Incenerator unit 5 TPA/TPA Regional : Lahan Urug Terkendali - Luas Total Lahan TPA ha - Luas Sel Landfill ha - Daya Tampung TPA (m³/ hari) 6 Alat Berat - Bulldozer unit - Excavator unit - Truk Tanah unit 7 IPL Hasil pemeriksaan lab mg/l (BOD dan COD): - Efluen di Inlet - Efluen di Outlet

Keterangan : IPL : Instalasi Pengolahan Lindi (2) Kelembagaan dan Peraturan Di dalam struktur organisasi Pemerintah Kabupaten Tabalong, Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) yang dilimpahi kewenangan pengelolaan sampah adalah Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Tabel Peta Pemangku Kepentingan Dalam Pembangunan Dan Pengelolaan Persampahan FUNGSI PEMANGKU KEPENTINGAN Pemerintah Kota Swasta Masyarakat Perencanaan - Menyusun target pengelolaan sampah skala kab./kota - Menyusun rencana program persapahan dalam angka pencapaian target - Menyusun rencana anggaran program persampahan dalam rangka pencapaian target Pengadaan Sarana - Menyediakan sarana pewadahan sampah di sumber sampah - Menyediakan sarana pengumpulan (pengumpulan dari sumber sampah ke TPS) - Menyediakan sarana Tempat Penampungan Sementara (TPS) - Membangun sarana pengangkutan sampah dari TPS ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) - Membangun sarana TPA - Menyediakan sarana komposting

Pengelolaan - Mengumpulkan sampah dari sumber ke TPS - Mengelola sampah di TPS - Mengangkut sampah dari TPS ke TPA - Mengelola TPA - Melakukan pemilahan sampah - Melakukan penarikan retribusi sampah - Memberikan izin usaha pengelolaan sampah Pengaturan dan Pembinaan - Mengatur prosedur penyediaan layanan sampah (jam pengangkutan, personil, peralatan, dll) - Melakukan sosialisai peraturan, dan pembinaan dalam hal pengelolaan sampah - Memberikan sanksi terhadap pelanggaran pengelolaan sampah Monitoring dan Evaluasi - Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap capaian target pengelolaan sampah skala - Memberikan sanksi terhadap kapasitas infrastruktur sarana pengelolaan - Memberikan sanksi terhadap efektivitas layanan persampahan

Tabel 3.25 Peta Peraturan Persampahan Domestik Kabupaten Tabalong Ketersediaan Pelaksanaan Peraturan Ada Tidak Ada Efektif Dilaksanaka n Belum Efektif Dilaksanakan Tidak Efektif Dilaksanakan Ket Target capaian pelayanan pengelolaan persampahan di Kota Banjarbaru Kewajiban dan sanksi bagi Pemerintah Kota Banjarbaru dalam menyediakan layanan pengelolaan sampah Kewajiban dan sanksi bagi Pemerintah Kota Banjarbaru dalam memberdayakan masyarakat dan badan usaha dalam pengelolaan sampah Kewajiban dan sanksi bagi masyarakat untuk mengurangi sampah, menyediakan tempat sampah di hunian rumah, dan membuang ke TPS Kewajiban dan sanksi bagi kantor / unit usaha dikawasan komersial/ fasilitas social / fasilitas umum untuk mengurangi sampah, menyediakan tempat sampah dan membuang ke TPS Pembagian kerja pengumpulan sampah dari sumber ke TPS, dari TPS ke TPA, pengelolaan di TPA, dan pengaturan waktu pengangkutan

sampah dari TPS ke TPA Kerjasama Pemerintah Kota Banjarbaru dengan swasta atau pihak lain dalam pengelolaan sampah Retribusi sampah atau kebersihan

9750000 9775000 9800000 9825000 9850000 Pemutakhiran Strategi Sanitasi Kabupaten Gambar 2.6 Peta Cakupan Layanan Persampahan 275000 300000 325000 350000 375000 KABUPATEN BARITO UTARA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH 9850000 KABUPATEN BARITO SELATAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH KABUPATEN PASER PROVINSI KALIMANTAN TIMUR 9825000 9800000 KA BUPATE N BARITO TIMUR PROVINSI KALIMANTAN TENGAH TP A MUARA UYA %U 9775000 TPA MABURAI %U %U TP A KARANGAN PUTIH 9750000 KABUPATEN BALANGAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA PROVI NS I KA LIM ANTAN S ELA TA N Proyeksi Spheroit Sistem Grid Zone UTM 275000 N SKAL A 1 : 450.00 0 10000 0 10000 20000 Meters :... Universal Transverse Marcator :... WGS 84 :... Grid Universal Transverse Marcator :... 50 S SUMBER DATA 1. Peta Rupa Bumi Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan Skala 1:50.000 Tahun 1991/1992, Edisi Digital Tahun 2007 2. Penentuan Batas Wilayah Kaltim - Kalsel SK. Mendagri No.185.5 Tahun 1973 3. Penentuan Batas Wilayah Kalsel - Kalteng SK. Mendagri No. 11 Tahun 1973 4. Hasil Kesepakatan tentang batas wilayah antara Pemerintah Kabupaten Tabalong dengan Pemerintah Kabupaten Paser 300000 3.1. PETA CAKUPAN LAYANAN PERSAMPAHAN WILAYAH KABUPATEN TABALONG PROVINSI KALIMANTAN SELATAN LEGEN DA %U Titik TPA Su nga i Ja la n Batas Kabupaten Tetangga Cakupan Layanan Wilayah U tara Cakupan Layanan Wilayah Tengah Cakupan Layanan Wilayah Selatan 325000 Ke ca ma tan Banua Lawas Bintang Ara Harua i Ja ro Ke lu a Muara H arus Muara U ya Murung Pudak Pu gaa n Tanjun g Tanta Upa u 350000 375000 PEMERINTAH KABUPATEN TABALONG PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

DRAINASE Kondisi Genangan / Banjir di Kabupaten Tabalong 1. Potensi Genangan di Koridor Jl. Mabuun Raya (Kawasan Hotel Aston - United Tractors) Genangan yang terdapat di kawasan Hotel Aston adalah akibat adanya penyempitan saluran drainase sehingga sedimentasi saluran tersebut tinggi dan mengakibatkan saluran air tersumbat. Genangan air juga diakibatkan oleh elevasi di kawasan hotel aston yang rendah sehingga mendapat kiriman limpasan air dari daerah yang lebih tinggi. Selain itu diakibatkan juga oleh tidak adanya daerah resapan air karena alihfungsi lahan menjadi lahan terbangun di sekitar kawasan Hotel Aston. Akibatnya, kawasan perumahan yang ada di sekitar kawasan Hotel Aston dan United Tractors ikut tergenang akibat tidak ada resapan air di sekitar kawasan tersebut. 2. Potensi Genangan di Koridor Jl. Mabuun Raya (Depan SPBU -Terminal Kota) Potensi genangan air di kawasan ini diakibatkan oleh kondisi drainase yang sudah tertutup oleh lahan terbangun dan akibat aktivitas perdagangan dan jasa sehingga sedimentasi saluran tinggi. Akibatnya aliran air ketika musim penghujan dari kawasan yang lebih tinggi meluap dan tidak dapat ditampung oleh kapasitas drainase eksisting yang sudah tidak maksimal 3. Potensi Genangan di Koridor Jl. Ir. P.H.Muh Noor (Depan Polres) Potensi genangan di kawasan ini diakibatkan oleh kontur kawasan yang membentuk cekungan sehingga menjadi titik pertemuan air. Potensi genangan ini juga diakibatkan oleh kondisi saluran drainase yang tidak maksimal akibat sedimentasi saluran yang tinggi sehingga kapasitas saluran drainase eksisting tidak mampu menampung air 4.Potensi Genangan di Kelurahan Tanjung Potensi genangan di Kelurahan terdapat di beberapa lokasi yaitu di Koridor Jl. Penghulu Rasyid (depan Kantor Bappeda Telkom), Koridor Jl. Jaksa Agung Suprapto, kawasan Pasar Tanjung dan di pertigaan Jl. Pahlawan. Potensi genangan di Kelurahan Tanjung diakibatkan oleh kontur kawasan yang membentuk cekungan sehingga menjadi titik pertemuan air. Potensi genangan ini juga diakibatkan oleh kondisi saluran drainase yang tidak maksimal akibat sedimentasi saluran yang tinggi sehingga kapasitas saluran drainase eksisting tidak mampu menampung air. 5.Potensi Genangan di Koridor Jl. Jenderal Ahmad Yani (Depan Kantor Kelurahan Jangkung)

Potensi genangan di kawasan kantor Kelurahan Jangkung adalah akibat kontur kawasan yang membentuk cekungan sehingga menjadi titik pertemuan air. Lokasi potensi genangan tersebut juga terletak di dekat Sungai Jangkung sehingga naiknya air sungai dapat mengakibatkan luapan pada lokasi potensi genangan tersebut. 6.Potensi Genangan di Koridor Jl. Pembataan Bangun Sari (Kawasan Hutan Kota) Potensi genangan yang terjadi di Koridor Jl. Pembataan Bangun Sari (samping hutan kota) terjadi akibat adanya topografi kawasan yang membentuk cekungan sehingga menjadi titik pertemuan air. Genangan juga diakibatkan oleh adanya sedimentasi saluran drainase eksisting yang menyebabkan limpasan air sehingga kapasitas saluran drainase eksisting tidak mampu menampung air 7.Potensi Genangan di Perumahan Bumi Tabalong Damai, Kelurahan Mabuun Potensi genangan yang terjadi di Perumahan Bumi Tabalong Damai terjadi akibat limpasan air dari Jl. Mabuun Raya karena sistem saluran drainase eksisting yang tersumbat di kawasan sekitar Hotel Aston United Tractors. 8.Potensi Genangan di Koridor Jl. Stadion (Depan Stadion Kabupaten Tabalong) Potensi genangan di kawasan ini diakibatkan oleh limpasan air dari jalan utama yaitu Jl. Ir.P.H.Moch Noor yang tidak mampu menampung debit air limpasan pada saat musim hujan. Potensi genangan ini juga diakibatkan oleh kondisi saluran drainase yang tidak maksimal akibat sedimentasi saluran yang tinggi sehingga kapasitas saluran drainase eksisting tidak mampu menampung air. 9.Potensi Genangan di Koridor Jl. Ir.P.H.Moch Noor (Depan Hotel Jelita) Potensi genangan di kawasan ini diakibatkan oleh kontur kawasan yang membentuk cekungan sehingga menjadi titik pertemuan air. Potensi genangan ini juga diakibatkan oleh kondisi saluran drainase yang tidak maksimal akibat sedimentasi saluran yang tinggi sehingga kapasitas saluran drainase eksisting tidak mampu menampung air.

Tabel 3.39 Peta Pemangku Kepentingan Dalam Pembangunan dan Pengelolaan Drainase Lingkungan Di Kabupaten Tabalong FUNGSI Pemerintah Kota PEMANGKU KEPENTINGAN Swasta Masyarakat Perencanaan Menyusun target pengelolaan drainase lingk. skala kota Menyusun rencana program drainase lingkungan dalam rangka pencapaian target Menyusun rencana anggaran program drainase lingkungan dalam rangka pencapaian target Pengadaan Sarana Menyediakan / membangun sarana drainase lingkungan Pengelolaan Membersihkan sarana drainase lingkungan Memperbaiki sarana drainase lingkungan yang rusak Melakukan pengecekan kelengkapan utilitas teknis bangunan (saluran drainase lingkungan) dalam pengurusan IMB FUNGSI Pemerintah Kota PEMANGKU KEPENTINGAN Swasta Masyarakat

Pengaturan dan Pembinaan Menyediakan advis planning untuk pengembangan kawasan permukiman, termasuk penataan drainase lingkungan di wilayah yang akan dibangun Memastikan integrasi sistem drainase lingkungan (sekunder) dengan sistem drainase sekunder dan primer Melakukan sosialisasi peraturan dan pembinaan dalam hal pengelolaan drainase lingkungan Memberikan sanksi terhadap pelanggaran pengelolaan drainase lingkungan Monitoring dan Evaluasi Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap capaian target pengelolaan drainase lingkungan skala kota Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kapasitas infrastruktur sarana pengelolaan drainase lingkungan Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap efektivitas layanan drainase lingkungan dan atau menampung serta mengelola keluhan atas layanan drainase lingkungan. Tabel Peta Peraturan Drainase Lingkungan Kabupaten Tabalong Ketersediaan Pelaksanaan Peraturan Ada Tidak Ada Efektif Dilaksanakan Belum Efektif Dilaksanakan Tidak Efektif Dilaksanakan Ket

Target Capaian Pelayanan Pengelolaan Drainase Lingkungan Kewajiban dan sanksi bagi Pemerintah Kab/Kota dalam menyediakan drainase lingkungan Kewajiban dan sanksi bagi pemerintah Kab/Kota dalam memberdayakan masyarakat dalam pengelolaan Drainase Lingkungan Kewajiban dan sanksi bagi masyarakat dan atau pengembang untuk menyediakan sarana drainase lingkungan dan menghubungkannya dengan sistem drainase sekunder Kewajiban dan sanksi bagi masyarakat untuk memelihara drainase sebagai saluran pemutus air hujan a. Struktur Organisasi Peta Jaringan Drainase

9750000 9775000 9800000 9825000 9850000 Pemutakhiran Strategi Sanitasi Kabupaten 275000 300000 325000 350000 375000 KABUPATEN BARITO UTARA PRO VINSI KA LIMANTAN TENG AH 9850000 KABU PATEN BAR ITO SELATAN PRO VINSI KA LIMANTAN TENG AH KABUPATEN PAS ER PRO VINSI KA LIMANTAN TIMUR 9825000 9800000 KABUPATEN BARITO TIMUR PRO VINSI KA LIMANTAN TENG AH 9775000 9750000 K ABUPA TEN BALAN GAN PRO VINSI KA LIMANTAN SELATAN KABUP ATEN HULU SUNGA I UTARA PRO VINSI KA LIMANTAN SELATAN 275000 300000 325000 350000 375000 3.3. PETA JARINGAN DRAINASE WILAYAH KABUPATEN TABALONG PROVINSI KALIMANTAN SELATAN N SKA LA 1 : 4 00.0 00 100 00 0 100 00 Met ers Proyeksi :... Universal Transverse Marcator Spheroit :... WGS 84 Sistem Grid :... Grid Universal Transverse Marcator Zone UTM :... 50 S SUMBER DATA 1. Peta Rupa Bumi Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan Skala 1:50.000 Tahun 1991/1992, Edisi Digital Tahun 2007 2. Penentuan Batas Wilayah Kaltim - Kalsel SK. Mendagri No.185.5 Tahun 1973 3. Penentuan Batas Wilayah Kalsel - Kalteng SK. Mendagri No. 11 Tahun 1973 4. Hasil Kesepakatan tentang batas wilayah antara Pemerintah Kabupaten Tabalong dengan Pemerintah Kabupaten Paser LEGEND A Ke ca ma tan %U Titik IKK/BNA Banua Lawas Su nga i Bintang Ara Ja la n Harua i Batas Kabupaten Tetangga Ja ro Jaringan Drainase Ke lu a Muara H arus Muara U ya Murung Pudak Pu gaa n Tanjun g Tant a Upa u PEMERINTAH KABUPATEN TABALONG PROVINSI KALIMANTAN SELATAN