BAB II LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
TINJAUAN PUSTAKA. Tulang adalah subtansi hidup yang dapat diperbaharui yang memiliki

EKSTRAKSI GELATIN DARI LIMBAH TULANG IKAN TENGGIRI (Scomberomorus sp.) DENGAN JENIS DAN KONSENTRASI ASAM YANG BERBEDA

I PENDAHULUAN. (5) Kerangka Penelitian, (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Larutan Perendam terhadap Rendemen Gelatin

BAB I PENDAHULUAN. Gelatin memiliki sifat yang khas, yaitu berubah secara reversible dari bentuk sol

TINJAUAN PUSTAKA. dikelompokkan sebagai berikut:kingdomanimalia, FilumChordata, KelasAves,

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN ,5 ribu US$ (Kemenperin, 2014).

I. TINJAUAN PUSTAKA. pengisi. Bahan pengisi pada tulang terdiri dari protein dan garam-garam mineral.

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Gelatin adalah biopolimer yang dihasilkan dari hidrolisis parsial jaringan

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Ariansah (2008), itik masih sangat populer dan banyak di manfaatkan

I PENDAHULUAN. (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian,

I. PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. pengolahan menjadi produk lain yang bermanfaat, yaitu nonfood untuk kulit

PEMBUATAN GELATIN DARI TULANG AYAM BOILER DENGAN PROSES HIDROLISA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permen jelly merupakan salah satu produk pangan yang disukai semua orang dari kalangan anak-anak hingga dewasa.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pemanfaatan: pangan, farmasi, kosmetik. Komoditas unggulan. total luas perairan yang dapat dimanfaatkan 1,2 juta hektar

Protein (asal kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling utama") adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan

11. TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. kolagen alami hewan yang terdapat pada kulit, tulang, tulang rawan, dan

EFEK ASAM TERHADAP SIFAT TERMAL EKSTRAK GELATIN DARI TULANG IKAN TUNA (Euthynnus affinis)

TINJAUAN PUSTAKA Tulang

I PENDAHULUAN. kandungan gizi yang cukup baik. Suryana (2004) melaporkan data statistik

B. Struktur Kulit Ikan

I PENDAHULUAN. Pemikiran,(6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. disukai oleh masyarakat mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

I. PENDAHULUAN. yang berfungsi sebagai penstabil pada emulsi. Pada makanan, emulsifier berperan

1. PENDAHULUAN Latar Belakang

MODUL TEKNOLOGI PEMANFAATAN KULIT TERNAK. Oleh : Muhammad Irfan Said, S.Pt, M.P

PENDAHULUAN. proses pengolahannya permen terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan tingkat metabolisme yang tinggi. Ayam broiler sering dibudidayakan

I. PENDAHULUAN. lainnya. Secara visual, faktor warna berkaitan erat dengan penerimaan suatu

PENGANTAR. Latar Belakang. Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk kebutuhan pangan

I PENDAHULUAN. kesehatan. Nutrisi dalam black mulberry meliputi protein, karbohidrat serta

Penggolongan minyak. Minyak mineral Minyak yang bisa dimakan Minyak atsiri

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

4.1. Pengaruh Pra Perlakuan dan Jenis Larutan Ekstraksi terhadap Rendemen Gelatin yang Dihasilkan.

HIDROLISIS TULANG SAPI MENGGUNAKAN HCL UNTUK PEMBUATAN GELATIN

REAKSI SAPONIFIKASI PADA LEMAK

I. PENDAHULUAN. Mie merupakan salah satu bahan pangan yang bernilai ekonomis tinggi. Mie

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. nama ilmiah Tectona grandis linn. F. secara historis, nama tectona berasal dari bahasa portugis

BAB 1 PENDAHULUAN. 2000, dimana dalam satu tanaman biasanya menghasilkan 1 Kg buah. Dalam satu

Protein adalah sumber asam-asam amino yang mengandung unsur-unsur C, H, O, dan N yang tidak dimiliki oleh lemak atau karbohidrat.

I PENDAHULUAN. hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Kelapa termasuk dalam famili Palmae,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Lemak dan minyak adalah golongan dari lipida (latin yaitu lipos yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. daerah. Menurut Kementerian Pertanian Indonesia (2014) produksi nangka di

untuk diaplikasikan dalam produk jelly, pasta, mayonnaise, es krim atau marshmallow. Gelatin dalam industri pangan bersifat sebagai pembentuk gel

BAB I PENDAHULUAN. sangat beragam dan tergolong ke dalam jenis buah tropis seperti rambutan, nanas,

PENDAHULUAN. Buah-buahan tidak selalu dikonsumsi dalam bentuk segar, tetapi sebagian

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2015

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (6) Hipotesa dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

SUSU. b. Sifat Fisik Susu Sifat fisik susu meliputi warna, bau, rasa, berat jenis, titik didih, titik beku, dan kekentalannya.

9/6/2016. Hasil Pertanian. Kapang; Aspergillus sp di Jagung. Bakteri; Bentuk khas, Dapat membentuk spora

TINJAUAN PUSTAKA. daritubuhhewan, diperoleh setelah hewan tersebutmatidandikuliti. kerbaudandombasertakambingmemilikistruktur jaringan yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bahan alternatif (Aboulfalzli et al., 2015). Es krim merupakan produk olahan susu

II. TINJAUAN PUSTAKA. Selatan. Buah naga sudah banyak di budidayakan di Negara Asia, salah satunya di

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

I PENDAHULUAN. perubahan pola makan yang ternyata berdampak negatif pada meningkatnya

BAB IV. karakterisasi sampel kontrol, serta karakterisasi sampel komposit. 4.1 Sintesis Kolagen dari Tendon Sapi ( Boss sondaicus )

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: HK TENTANG PENGAWASAN PANGAN OLAHAN ORGANIK

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Rendemen merupakan suatu parameter yang penting untuk mengetahui nilai

Dewi Hastuti, dkk. Pengenalan dan proses.. PENGENALAN DAN PROSES PEMBUATAN GELATIN

BABI PENDAHULUAN. Sosis merupakan produk olahan hewani dengan nilai g1z1 yang tinggi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Madu tidak hanya bermanfaat dalam bidang pangan, tapi juga bermanfaat dalam bidang kesehatan dan kecantikan. Karena kandungan madu yang kaya akan

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

ASAM, BASA DAN GARAM

I PENDAHULUAN. masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka

BAB I PENDAHULUAN. vitamin dan mineral, sayuran juga menambah ragam, rasa, warna dan tekstur

b. Bahan pangan hewani bersifat lunak dan lembek sehingga mudah terpenetrasi oleh faktor tekanan dari luar.

BAB I PENDAHULUAN. perikanan yang sangat besar. Oleh karena itu sangat disayangkan bila. sumber protein hewani, tingkat konsumsi akan ikan yang tinggi

I. PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang Masalah, (2)

I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian. Kepulauan Indonesia dengan daerah continental dengan perairan

kabar yang menyebutkan bahwa seringkali ditemukan bakso daging sapi yang permasalahan ini adalah berinovasi dengan bakso itu sendiri.

I PENDAHULUAN. mempunyai nilai ekonomi tinggi sehingga pohon ini sering disebut pohon

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Dosen Pembimbing Tugas Akhir : Ir. Budi Setiawan, MT. Oleh : Sinta Aprillia Dwi Wardani ( ) Ivan Edo Nurhadist ( )

Memiliki bau amis (fish flavor) akibat terbentuknya trimetil amin dari lesitin.

I PENDAHULUAN. Bab ini menjelaskan mengenai: (1) Latar Belakang Masalah, (2) Identifikasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

EFISIENSI PENGGANDAAN SKALA KAPASITAS BENCH PADA PRODUKSI GELATIN TULANG IKAN KAKAP MERAH (Lutjanus sp.)

I. PENDAHULUAN. saji kaya protein yang bersumber dari bahan pangan hewani, memengaruhi

BAB I PENDAHULUAN. bahan dalam pembuatan selai adalah buah yang belum cukup matang dan

BAB I PENDAHULUAN. kecukupan gizi. Unsur gizi yang dibutuhkan manusia antara lain: protein, lemak,

HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Fisik Sosis Sapi

Transkripsi:

BAB II LANDASAN TEORI II.1 Tinjauan Pustaka II.1.a Tulang Gambar 2.1 Limbah Tulang Ayam Tulang merupakan salah satu tenunan pengikat. Tulang terdiri dari sel, seratserat dan bahan pengisi. Bahan pengisi pada tulang adalah protein dan garamgaram mineral, seperti kalsium fosfat sebanyak 58,3%, kalsium karbonat 1,0%, magnesium fosfat 2,1%, kalsium florida 1,9%, dan protein sebanyak 30,6% (Septriansyah, 2000). Tulang mengandung kurang lebih 50% air dan 15% sumsum merah dan kuning. Sumsum tulang teridiri dari lemak sebesar 96%. Tulang yang telah diambil lemaknya terdiri dari bahan organik dan garam-garam anorganik dalam perbandingan 1:2. Penghilangan zat organik oleh panas tidak menyebabkan perubahan struktur tulang secara keseluruhan, tetapi akan mengurangi berat tulang (Septriansyah, 2000). Terdapat dua jenis protein dalam tulang, yaitu protein kolagen dan non kolagen. Kandungan kolagen dalam tulang lebih besar dibandingkan non kolagen. Protein kolagen memiliki nilai jual tinggi yang mana digunakan untuk pembuatan kosmetik, bahan dasar pembuatan gelatin dan perekat (Aini, 2011). Surakarta 3

Pemanfaatan protein yang terkandung dalam tulang ayam dapat dilakukan dengan cara ekstraksi. Ekstraksi protein dari tulang ayam merupakan salah satu usaha pemanfaatan limbah industri yang bergerak di bidang pangan. Ekstraksi protein ini diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomis tulang ayam. Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat dari campurannya dengan menggunakan solvent sebagai tenaga pemisah. Ektraksi protein dari tulang ayam dilakukan melalui padat-cair. Ekstraksi padat cair adalah ekstraksi dimana solute yang akan dipisahkan terdapat dalam padatan menggunakan pelarut yang berupa cairan (Aini, 2010). Tulang dibedakan menjadi dua yaitu tulang rawan dan tulang keras (tulang sejati) : Tulang Rawan Tulang rawan adalah tulang yang berserabut tebal dan matriks yang elastis. Tulang rawan memiliki kandungan kolagen yang tinggi sehingga bersifat kuat dan lentur. Tulang rawan tidak mempunyai saraf dan pembuluh darah. Tulang rawan banyak ditemukan pada bagian ujung tulang keras, hidung, telinga, dan vertebrae (ruas-ruas tulang belakang). Tulang Sejati Tulang sejati adalah tulang yang telah mengalami osifikasi (pematangan tulang) sehingga strukturnya lebih keras. Dalam matriksnya kandungan kolagen sangat sedikit, sedangkan bahan anorganik lainnya seperti kalsium, fosfor, bikarbonat, sirat, Mg, Na, dan K sangat banyak didapati. Komposisi kimia dan fisik tulang dapat dilihat pada Tabel 2.1 dan komposisi tulang ayam kerangka binatang dapat dilihat pada Tabel 2.2 Surakarta 4

Tabel 2.1 Komposisi Kimiawi dan Fisik Tulang Persenyawaan Gelatin Kalsium karbonat Kalsium fosfat Magnesium fosfat Sodium karbonat Bobot jenis Kekuatan tarik Kekuatan tekan Sumber : (Septriansyah, 2000) Komposisi 33,3 % 3,85 % 57,35 % 2,05 % 3,45 % 1,9 g/cm 3 20000 lb/in 2 15000 lb/in 2 Tabel 2.2 Komposisi Tulang Ayam Kerangka Binatang Komponen Kandungan (%) Air 1,8-44,3 Lemak 1,2-26,9 Kolagen 15,8 32,8 Zat anorganik 28,0 56,3 Sumber : (Retno, 2012) II.1.b Kolagen Bahan baku utama dari gelatin adalah senyawa kolagen. Kolagen ini banyak terdapat pada urat, kulit, tulang rawan dan tulang keras pada hewan. Kolagen merupakan komponen serat utama dari jaringan ikat protein yang paling melimpah yaitu mencapai 20-25% dari total protein (Septriansyah, 2000). Jaringan kolagen tersusun atas fibril kolagen yang nampak seperti garis-garis melintang. Fibril ini terorganisasi sesuai dengan sistem biologis jaringan tersebut. Kolagen merupakan protein yang mengandung 35% glisin dan sekitar Surakarta 5

11% alanin serta kandungan prolin yang cukup tinggi. Komposisi inilah yang menjadi dasar untuk produksi gelatin (Septriansyah, 2000). Molekul kolagen tersusun dari kira-kira dua puluh asam amino yang memiliki bentuk agak berbeda bergantungan pada sumber bahan bakunya. Asam amino glisin, prolin dan hidrosiprolin merupakan asam amino utama kolagen (Miskah, 2010). Molekul dasar pembentukan kolagen disebut tropokolagen yang mempunyai struktur batang dengan BM 300.000, dimana di dalamnya terdapat tiga rantai polipeptida yang sama panjang, bersama-sama membentuk struktur heliks. Tropokolagen akan terdenaturalisasi oleh pemanasan atau perlakuan dengan zat seperti asam, basa, urea, dan potassium permanganate (Miskah, 2010). Pemanasan kolagen secara bertahap akan menyebabkan struktur rusak dan rantai-rantai akan terpisah. Bobot molekul, bentuk dan konfirmasi larutan kolagen sensitif terhadap perubahan temperatur yang dapat menghancurkan makromolekulnya. Kolagen murni sangat sensitif terhadap reaksi enzim dan kimia. Perlakuan alkali menyebabkan kolagen mengembang dan menyebar. Disamping pelarut alkali, kolagen juga larut dalam pelarut asam (Septriansyah, 2000). Sifat-sifat kolagen antara lain tidak larut dalam larutan asam maupun alkali, tahan terhadap enzim tripsin dan chimotripsin. Kolagen juga dapat mengkerut apabila dipanaskan. Apabila pemanasan berada pada suhu pengkerutannya yaitu 52 0 C maka kolagen akan berubah menjadi gelatin (Retno, 2012). II.1.c Gelatin Gelatin adalah salah satu hidrokoloid yang dapat digunakan sebagai gelling, bahan pengental (thickner) atau penstabil. Gelatin berbeda dengan hidrokoloid lain, karena kebanyakan hidrokoloid adalah polisakarida seperti karagenan dan Surakarta 6

pektin, sedangkan gelatin merupakan protein mudah dicerna, mengandung semua asam-asam amino essensial kecuali triptofan (Septriansyah, 2000). Gambar 2.2 Struktur Kimia Gelatin (Clarizka, 2010) Senyawa gelatin merupakan suatu polimer linier dari asam-asam amino. Umumnya pada polimer ini terjadi perulangan dari asam amino glisin-prolinprolin atau glisin-prolin-hidroksiprolin. Tidak terdapatnya triptofan pada gelatin menyebabkan gelatin tidak dapat di golongkan sebagai protein lengkap (Septriansyah, 2000). Komposisi asam amino dari gelatin dapat dilihat dapat dilihat pada Tabel 2.3 Tabel 2.3 Kandungan Asam Amino pada Gelatin Glisin Prolin Hidroksiprolin Asam Glutamat Alanin Jenis asam amino Jumlah (%) Sumber : (Septriansyah, 2000) 26,4-30,5 14,0-18,0 13,3-14,5 11,1-11,7 8,6-11,3 Gelatin digunakan dalam pengolahan pangan lebih disebabkan sifat kimia dan fisika gelatin yang khas dari pada nilai gizinya sebagai sumber protein. Dalam indutstri pangan gelatin berfungsi sebagai pembentuk gel, pemantap emulsi, pengental, penjernih, pengikat air, pelapis dan pengemulsi. Gelatin jika direndam Surakarta 7

dalam air akan mengembang dan menjadi lunak berangsur-angsur menyerap air 5-10 kali bobotnya. Gelatin dengan mudah larut pada suhu 71,1 0 C dan cenderung membentuk gel pada suhu 48,8 0 C. Gelatin mudah larut dalam gliserol, manitol, sorbitol dan propile, tetapi tidak larut dalam alkohol, aseton dan pelarut nonpolar lainnya (Septriansyah, 2000). Mekanisme rekasi pembentukan gelatin : C 102 H 149 N 31 O 38 + H 2 O C 102 H 151 N 31 O 39 Kolagen Gelatin Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan gelatin antara lain suhu hidrolisa. Semakin tinggi suhu, maka reaksi akan semakin cepat, tetapi warna gelatin yang dihasilkan semakin gelap karena protein dalam kolagen rusak. Apabila dijalankan pada suhu lebih dari 95 0 C. maka akan terjadi pemecahan gelatin. Menurut persamaan Archenius: k=a.e-rt, apabila suhu diperbesar maka nilai k juga akan semakin besar sehingga konversi besar. Jika suhu melebihi 95 0 C, gelatin yang sudah terbentuk mengalami pemecahan menjadi semiglutin dan hemikolin (Retno, 2012). Reaksinya adalah sebagai berikut : C 102 H 151 N 31 O 39 + H 2 O C 55 H 83 N 17 O 22 + C 47 H 70 N 14 O 18 Gelatin Air Semiglutin Hemikolin Gelatin terbagi menjadi dua tipe berdasarkan perbedaan proses pengolahannya yaitu tipe A dan tipe B dalam pembuatan gelatin tipe A bahan baku diberi perlakuan perendaman dalam larutan asam sehingga proses ini dikenal dengan sebutan proses asam. Sedangkan dalam pembuatan gelatin tipe B, perlakuan yang diaplikasikan adalah perlakuan basa, proses ini disebut sebagai proses alkali (Hariyanto dan Sambudi, 2011). Bahan baku yang biasanya digunakan pada proses asam adalah tulang dan kulit babi, sedangkan bahan baku yang biasa digunakan pada proses basa adalah Surakarta 8

tulang dan kulit jangat sapi. Secara ekonomis, proses asam lebih disukai dibandingkan proses basa hal ini dikarenakan perendaman yang dilakukan dalam proses asam relatif lebih singkat dibandingkan proses basa (Hariyanto dan Sambudi, 2011). Hidrolisis protein dengan menggunakan alkali dapat menyebabkan degradasi protein, namun tergantung dosis, konsentrasi, suhu dan lama perlakuan. (Mayasaroh, Rusmana, dan Wiradimadja, 2012). Pada tahap ini perendaman dapat dilakukan dengan larutan asam organik seperti asam asetat, sitrat, fumarat, askorbat, malat suksinat, tartarat dan asam lainnya yang aman. Sedangkan asam anorganik yang biasa digunakan adalah asam klorida, fosfat, dan sulfat. Jenis pelarut alkali yang umum digunakan adalah sodium karbonat, sodium hidroksida, potassium karbonat dan potassium hidroksida (Hariyanto dan Sambudi, 2011). Nilai rendemen dari suatu pengolahan bahan merupakan parameter yang penting sebagai dasar perhitungan analisis finansial, memperkirakan jumlah bahan baku untuk memproduksi produk dalam jumlah tertentu, dan mengetahui tingkat efisiensi dari suatu proses pengolahan (Fulanah, 2012). Sifat fisik secara umum dan kandungan unsur-unsur mineral tertentu dalam gelatin dapat digunakan untuk menilai mutu gelatin. Standar mutu gelatin menurut SNI dapat dilihat pada Tabel 2.4 (Septriansyah, 2000). Tabel 2.4 Standar Mutu Gelatin (SNI 06-3735, 1995) Karakteristik Syarat Warna Tidak berwarna Bau,rasa Normal (dapat diterima konsumen) Kadar air Maksimum 16% Kadar abu Maksimum 3,25% Logam berat Maksimum 50 mg/kg Arsen Maksimum 2 mg/kg Surakarta 9

Tembaga Seng Sulfit Maksimum 30 mg/kg Maksimum 100 mg/kg Maksimum 1000 mg/kg II.I.d Aplikasi Gelatin a. Aplikasi gelatin dalam bahan makanan Gelatin banyak digunakan karena kemampuannya untuk memekatkan, menstabilkan, mengeraskan dan menghasilkan produk yang baik. Ciri khusus dari gelatin yang tidak dapat diganti dengan bahan lain adalah kemampuan membentuk thermo-reversible gels dan lebur pada suhu ruangan. Contoh produk yang mengandung gelatin : 1. Marshmallow, fruit chews, toffee, dan jelly 2. Produk roti dan kue 3. Produk daging : sosis 4. Produk susu : es krim, yoghurt, margarin 5. Produk minuman buah-buahan dan wine b. Aplikasi gelatin dalam pharmaceutical dan kosmetik 1. Sebagai pengembang plasma darah 2. Kapsul gelatin keras, kapsul lembut untuk obat-obatan dan makanan suplemen 3. Agen pembentukan dan pembungkus tablet dan pil 4. Bahan campuran lotion, cream dan kosmetik c. Aplikasi gelatin dalam fotografi 1. Gelatin digunakan sebagai gel penguat untuk pembungkus negatif film, kertas fotografi dan film sinaran X (X-ray), gel penguat ini berisi pewarna dan bahan yang sensitit terhadap cahaya. 2. Bahan imaging bagi holografi dan pembungkus kertas ink-jet. (Septriansyah, 2000) Surakarta 10

Aplikasi gelatin dapat diklasifikasikan antara lain: 1. Ph : gelatin dengan ph rendah digunakan untuk produk sirup rasa asam, juice, mayonnaise, krim dan aneka kosmetik. Sedangkan gelatin dengan Ph netral digunakan untuk produk daging, cat, farmasi dan fotografi. 2. Proses perendaman : Gelatin tipe A digunakan untuk produk krim tabir surya/sunblock, milk cleanser/susu pembersih dll. Sedangkan gelatin tipe B digunakan untuk pembuatan sabun mandi cair, shampoo, shower gel dll II.2 Kerangka Proses Pembuatan Gelatin Study literature / pustaka tentang gelatin Menentukan komposisi bahan yang akan digunakan Degreasing Demineralisasi Netralisasi Ekstraksi Pemekatan Pengeringan Analisa produk Membuat laporan Gambar 2.3 Skema Pelaksanaan Penelitian Surakarta 11