S. Nulhaq *, S. Utari

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. konsep fisika dan mampu menerjemaahkan representasi-representasi suatu konsep

BAB I PENDAHULUAN. salah satunya karena materi fisika memiliki banyak rumus-rumus matematika

MULTIREPRESENTASI DALAM PEMBELAJARAN FISIKA 1 M. Yusup 2 Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Sriwijaya

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. penelitian, populasi dan sampel penelitian, teknik pengumpulan data, prosedur

PROFIL KONSISTENSI REPRESENTASI DAN KONSISTENSI ILMIAH SISWA SMP PADA KONSEP GERAK

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi dan informasi yang sangat pesat saat ini

STUDI KOMPETENSI MULTIREPRESENTASI MAHASISWA PADA TOPIK ELEKTROSTATIKA

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PBM) DISERTAI LKS BERBASIS MULTIREPRESENTASI PADA PEMBELAJARAN IPA-FISIKA DI SMP

BAB II KAJIAN TEORETIS

I. Suminar*, P. Siahaan, I. Mustika Sari

Analisis Free Body Diagrams pada Siswa SMA dalam Menyelesaikan Tes Uraian Terstruktur

Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Jember

Kata kunci : Multi representasi, kemampuan kognitif, kemampuan pemecahan masalah

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika 2) Dosen Pendidikan Fisika FKIP Universitas Jember

BAB II KEMAMPUAN MULTIREPRESENTASI TERHADAP TES URAIAN PADA MATERI BUNYI

ANALISIS MULTIREPRESENTASI MAHASISWA PGSD PADA KONSEP GELOMBANG DAN BUNYI

Analisis Kemampuan Siswa Mengubah Representasi dalam Physics Problem Solving Pada Siswa SMA Kelas X

Peran Pendidik dan Ilmuwan dalam Menghadapi MEA

PERBANDINGAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA YANG MENDAPATKAN METODE PEMBELAJARAN PSI DENGAN KONVENSIONAL

MULTI REPRESENTASI SEBAGAI ALTERNATIF PEMBELAJARAN DALAM FISIKA

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika 2)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA KELAS XI IPA SMA NEGERI 5 PADANG

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TAI TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEKNIK BERKIRIM SALAM DAN SOAL TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA KELAS VIII

Analisis Konsistensi Respon Siswa SMA terhadap Tes Representasi Majemuk dalam Pembelajaran Fisika Materi Gerak Lurus

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA

ANALISIS REPRESENTASI GAMBAR DALAM MENYELESAIKAN PERMASALAHAN PEMANTULAN DAN PEMBIASAN BAGI MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

Nola Despita Sari*), Zulfitri Aima**), Mulia Suryani**).

PENGARUH MULTIPLE REPRESENTATION PADA PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH TERHADAP KEMAMPUAN REPRESENTASI MAHASISWA FISIKA

Absract. Key words: students result of learning, expository learning strategy, contextual teaching learning strategy. Abstrak

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Sheny Meylinda S, 2013

MODEL PEMBELAJARAN FREE INQUIRY (INKUIRI BEBAS) DALAM PEMBELAJARAN MULTIREPRESENTASI FISIKA DI MAN 2 JEMBER

KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA DALAM MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL DI KELAS VIII SMP

ANALISIS KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA MELALUI PENDEKATAN PROBLEM POSING DI KELAS X IPA 1 SMA NEGERI 9 MALANG

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE GIVING QUESTION AND GETTING ANSWER

PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MELALUI PENDEKATAN PMR DALAM POKOK BAHASAN PRISMA DAN LIMAS. FMIPA UNP,

KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN LEMBAR KEGIATAN SISWA BERBASIS PROBLEM SOLVING

PENGEMBANGAN BUKU FISIKA MULTI REPRESENTASI PADA MATERI GELOMBANG DENGAN PENDEKATAN BERBASIS MASALAH

PENGARUH PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE LEARNING STARTS WITH A QUESTION

PENGARUH PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE LEARNING STARTS WITH A QUESTION (LSQ)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE INSIDE OUTSIDE CIRCLE PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 9 PARIAMAN

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING (CPS) TERHADAP KEMAMPUAN PENALARAN ADAPTIF MATEMATIS SISWA

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Bung Hatta

المفتوح العضوية المفتوح العضوية

DESKRIPSI KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA

DESKRIPSI KESALAHAN MAHASISWA CALON GURU DALAM MENYELESAIKAN SOAL-SOAL PEMBIASAN CAHAYA PADA LENSA TIPIS

PENGARUH METODE PENEMUAN TERBIMBING TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA. Bahrudin 1, Rini Asnawati 2, Pentatito Gunowibowo 2

KEMAMPUAN REPRESENTASI MATEMATIS PESERTA DIDIK MELALUI MODEL PEMBELAJARAN THINK TALK WRITE

KEMAMPUAN MULTIREPRESENTASI SISWA SMA DALAM MENYELESAIKAN SOAL-SOAL HUKUM NEWTON

ANALISIS REPRESENTASI MAHASISWA DALAM MENYELESAIKAN PERMASALAHAN FISIKA

KEMAMPUAN REPRESENTASI MATEMATIS MENYELESAIKAN SOAL OPEN-ENDED MENURUT TINGKAT KEMAMPUAN DASAR MATERI SEGIEMPAT DI SMP

PENGARUH BENTUK TES FORMATIF DAN SIKAP BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR MEMBACA BAHASA ARAB

EFEKTIVITAS PENDEKATAN PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA

JPPPF - Jurnal Penelitian & Pengembangan Pendidikan Fisika Volume 1 Nomor 2, Desember 2015 p-issn: e-issn: Halaman 45

Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Jember Abstract

Millathina Puji Utami et al., Model Pembelajaran Children Learning in Science (CLIS)...

ANALISIS KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIK SISWA MTs DITINJAU DARI SELF CONFIDENCE

PENGARUH METODE DISCOVERY LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA KELAS X SMAN 5 BATAM TAHUN PELAJARAN 2014/2015

PENERAPAN COOPERATIVE LEARNING

PENGEMBANGAN INSTRUMEN ASSESSMENT ISOMORPHIC DAN RUBRIKNYA PADA MATERI HUKUM II NEWTON BERBASIS MULTIREPRESENTASI

PENGARUH PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE ROTASI REFLEKSI TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA KELAS VIII SMPN 22 PADANG

PENGARUH PENERAPAN TEKNIK ONE TO ONE TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA KELAS VIII SMPN 4 SUTERA KABUPATEN PESISIR SELATAN

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA KELAS VII SMPN 2 LUHAK NAN DUO

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT DITINJAU DARI KEMAMPUANKOMUNIKASI MATEMATIS SISWA

PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMP PERCUT SEI TUAN MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD

I Ketut Mahardika, Subiki, Lailati Mukharomah

ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL GARIS SINGGUNG LINGKARAN BERDASARKAN ANALISIS NEWMAN PADA KELAS VIII SMP NEGERI 1 KEC.

PENERAPAN MODEL PBL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN REPRESENTASI MATEMATIS SISWA

JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA, VOLUME 2, NOMOR 2, JULI 2011

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN TEKNIK PROBING-PROMPTING TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS

Mutammimah Finnajah, Eko Setyadi Kurniawan, Siska Desy Fatmaryanti

PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE KELOMPOK BELAJAR TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA KELAS VIII SMPN 25 PADANG

PENGARUH LATIHAN MEMBANGUN KONSEP TERHADAP KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH TOPIK KALOR PADA SISWA SMAN 1 SUKODADI KABUPATEN LAMONGAN

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA

ABSTRACT. Keywords: MathLearning Outcomes, Inquiry Without LKS, LKS accompanied Inquiry

EFEKTIVITAS PENERAPAN GROUP INVESTIGATION DITINJAU DARI PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY LEARNING TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA KELASVIII SMPN 3 PARIAMAN ABSTRACT

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE EVERYONE IS A TEACHER HERE

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEKNIK NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA

PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DENGAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE QUESTION STUDENTS HAVE

PENGARUH PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN THINK TALK WRITE TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA

PENGARUH PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE LEARNING

PENGARUH PENERAPAN STATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE LISTENING TEAM TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA SISWA KELAS XI IPS SMAN 2 BAYANG

USING PROBLEM BASED LEARNING MODEL TO INCREASE CRITICAL THINKING SKILL AT HEAT CONCEPT

Mahasiswa Progam Studi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Sumatera Barat 2

PENGARUH METODE THINK ALOUD PAIR PROBLEM SOLVING (TAPPS) TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIKA SISWA SMA

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA

ANALISIS KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS DAN KEAKTIFAN SISWA SMA DENGAN PENDEKATAN PROBLEM POSING

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY TWO STRAY TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA

PENGARUH PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE COLLEGE BALL TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII SMPN 30 PADANG

PERBEDAAN HASIL BELAJAR SISWA YANG PROSES PEMBELAJARANNYA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY

PENGARUH PENERAPAN TEKNIK OPERAN KERTAS IDE TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA KELAS VIII SMPN 3 LENGAYANG

Transkripsi:

ISSN: 2338-1027 Jurnal Wahana Pendidikan Fisika 1 (2013) 92-98 Februari 2013 ANALISIS PROFIL KEMAMPUAN MULTIREPRESENTASI SISWA BERDASARKAN HASIL TES URAIAN PADA MATERI BUNYI DI SMP S. Nulhaq *, S. Utari Jurusan Pendidikan Fisika, Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan ALam Universitas Pendidikan Indoonesia (UPI), Bandung, Indonesia e-mail: diamberartimati@yahoo.com ABSTRAK Pemahaman konsep siswa dapat dilihat dari profil kemampuan multirepresentasi siswa dalam memecahkan masalah, karena siswa dituntut untuk mampu menginterpretasi suatu konsep pada berbagai representasi (multirepresentasi) dalam memecahkan masalah secara tepat. Profil kemampuan multirepresentasi siswa tersebut berdasarkan hasil tes pada dua bentuk soal uraian, yaitu soal uraian terbatas dan soal uraian terstruktur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis profil kemampuan multirepresentasi siswa dari hasil tes pada bentuk soal uraian terbatas dan soal uraian terstruktur. Selain itu, penelitian ini ditujukan untuk menganalisis profil kemampuan multirepresentasi pada setiap label konsep. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analisis yang didasarkan pada tafsiran persentase dari hasil tes yang dilakukan siswa. Pada desain penelitian hanya dilakukan post-test dan kelompok yang diperbandingkan ditentukan tidak secara random. Post-test dilakukan dua kali pada dua kelompok homogen yang terdiri dari 30 siswa SMP secara cross sectional, yaitu dilakukannya pertukaran uji tes pada pertemuan selanjutnya untuk menghindari bias. Materi yang diujikan baik pada post-test pertemuan pertama maupun post-test pertemuan kedua adalah materi bunyi SMP dengan menggunakan penilaian berdasarkan kriteria multiple ways. Hasil penelitian menunjukan bahwa profil kemampuan multirepresentasi siswa dalam mengerjakan tes berbentuk soal uraian terstruktur lebih baik daripada dalam mengerjakan tes berbentuk soal uraian terbatas. Hal tersebut ditunjukan dengan jawaban siswa yang lebih lengkap dan rinci pada setiap kriteria multiple ways saat mengerjakan tes berbentuk uraian terstruktur. Oleh sebab itu, tes berbentuk soal uraian terstruktur lebih baik digunakan pada jenjang SMP yang masih berfikir abstrak. ABSTRACT The understanding of a concept of a student can be measured from their multi representation ability profile in solving the problems, because they are demanded to be able to interpret a concept in various representation (multi representation) to solve the problem accurately. The profile of students multirepresentation ability can be discovered from the result of two types of essay tests; they are restricted response items and structurized response items. The aims of this research was to analyze the profile of students multirepresentation ability in solving the restricted response items and structurized response items. Furthermore, this research was aimed to analyze the profile of students multirepresentation ability in each concept. The method used in the research was descriptive analisys method which was taken from the percentage commentary of the test result. In the research design, post-test was the only test taken. Two groups were taken to be compared in purposive way. The posttest was conducted twice in two homogeneous groups consisted 30 junior high school students in crosssectional method, which meant that there was an exchange of the test in the next test to avoid a bias. The material given in both post-test was sound for junior high school. The evaluation was done by employing the seven criteria of multiple ways. The result of the test showed that the profile of students multirepresentation ability in solving structurized response items was better than in solving restricted response items. It was seen as the students answered more completely and more detail when they solved the structurized response items. Therefore, the structurized response items is better to be used in junior high school level where the students are still in a stage that cannot fully think in abstract way. 2013 Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA UPI Bandung Key words : multi representation ability, restricted response items, structurized response item PENDAHULUAN Ainsworth (1999) menyatakan bahwa untuk mempelajari fisika secara efektif siswa harus memahami penggunaan representasi dalam menjelaskan suatu konsep fisika dan mampu menerjemaahkan representasi-

S. Nulhaq, dkk, - Analisis Profil Kemampuan Multirepresentasi Siswa 93 representasi suatu konsep dari satu bentuk ke bentuk lain. Dengan pemahaman yang baik terhadap konsep-konsep dan prinsipprinsip fisika, keterampilan siswa dalam memecahkan masalah-masalah fisika akan semakin baik. Representasi merupakan sesuatu yang mewakili, menggambarkan atau menyimbolkan objek dan atau proses (Rosengrant, Etkina, & Heuvelen, 2006). Selanjutnya Waldrip dan Prain (2007) menyimpulkan bahwa multirepresentasi adalah mempresentasi ulang konsep yang sama dengan format yang berbeda, diantaranya secara verbal, gambar, grafik dan matematik. Sehingga, keterampilan multirepresentasi adalah kemampuan menginterpretasi dan menerapkan berbagai konsep untuk memecahkan masalahmasalah (dalam hal ini fisika) secara tepat. Berdasarkan hasil pengamatan langsung dan wawancara dengan guru pada beberapa Sekolah Menengah Pertama, pembelajaran di kelas didominasi oleh pembahasan LKS yang didominasi oleh rangkuman materi dan soal-soal latihan serta penggunaan metode pembelajaran yang menonjolkan rumus-rumus tanpa mengajarkan konsep fisika secara utuh. Hal inilah yang menyebabkan siswa terjebak dalam pengerjaan soal-soal fisika tanpa mengetahui konsep fisika secara utuh. Terlihat ketika siswa menyelesaikan soal soal, mereka cenderung berorientasi pada jawaban akhir dan mengabaikan proses atau langkah-langkah dalam menyelesaikan soal tersebut. Siswa hanya menjawab pertanyaan sesuai dengan apa yang ditanyakan soal tanpa ada pengembangan jawaban, khususnya pengembangan representasi yang lain seperti yang diharapkan dan cenderung memiliki anggapan bahwa belajar fisika berarti belajar untuk menghapal rumus dan menyelesaikan masalah secara matematis. Siswa akan melakukan pemecahan masalah dengan menggunakan representasi yang baik bila selama proses pemebelajarannya pun siswa diberikan representasi-representasi terkait konsepkonsep yang diberikan, sehingga siswa akan terbiasa memecahkan masalah dengan multirepresentasi. Sesuai dengan pendapat Mettalidou, seharusnya pemecahan masalah mengarahkan siswa kepada kemampuan untuk merepresentasi konsep yang baik, (Aisnworth, 1999) Sebelumnya telah dilakukan penelitian-penelitian mengenai multirepresentasi dalam kaitannya dengan kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah- masalah fisika diantaranya oleh Heuvelen & Xueli (2001), Harper (2006), Kohl & Noah (2005; 2006; 2007; 2008). Heuvelen & Xueli (2001) meneliti pendekatan multirepresentasi pada topik usaha-energi dan menyimpulkan bahwa pendekatan tersebut membantu siswa dalam memahami konsep usaha-energi. Harper (2006) menyoroti perbedaan perilaku siswa yang terampil (expert) dengan siswa yang kurang terampil (novice) dalam memecahkan masalah fisika. Siswa yang terampil memandang pemecahan masalah sebagai suatu proses, sementara siswa yang kurang terampil berpikir bahwa pemecahan masalah merupakan tugas mengingat kembali (recall task ). Perbedaan perilaku dalam memecahkan masalah sebelumnya telah dinyatakan oleh beberapa peneliti (Glaser & Rees, 1982; Larkin, 1983 dalam Kohl, David, & Noah, 2007). Mereka menyimpulkan bahwa siswa yang terampil cenderung menggunakan representasi nonmatematik, sementara siswa yang kurang terampil cenderung langsung menggunakan representasi matematik. Kohl dan Noah (2005) menyimpulkan bahwa keberhasilan siswa dalam memecahkan masalah-masalah fisika dipengaruhi oleh format representasi masalah-masalah itu. Dari pemaparan di atas, diketahui bahwa hampir semua penelitian mengenai penggunaan multirepresesntasi untuk pemecahan masalah dan penguasaan konsep. Penggunaan multirepresentasi tidak dapat dipisahkan dengan kemampuan siswa dalam merepresentasikan konsep-konsep fisika secara baik yang disebut kemampuan multirepresentasi. Adapun kemampuan multirepresentasi yang digunakan sesuai dengan rubrik Rosengrant (2007) yaitu sebagai berikut : 1). Mampu memformulasikan informasi dan representasi secara benar. 2). Mampu menyusun representasi baru dari representasi sebelumnya. 3). Mampu mengevaluasi representasi secara konsisten. 4). Mampu

94 Jurnal Wahana Pendidikan Fisika 1 (2013) 92-98 menggunakan representasi untuk menyelesaikan soal. Ditambah dengan aspek representasi yang mungkin dibuat siswa diantaranya adalah verbal, gambar, grafik dan matematik. Maka diperlukannya analisis kemampuan multirepresentasi siswa sehingga akan diketahui aspek multirepresentasi yang cenderung digunakan siswa dalam memecahkan masalah fisika. Semakin banyak aspek multirepresentasi yang dipakai siswa, hal itu menunjukan bahwa siswa memahami konsep secara utuh. Dalam mengevaluasi kemampuan multirepresentasi untuk memecahkan masalah fisika, digunakan alat ukur berupa tes dengan dua bentuk soal uraian yaitu uraian terstruktur dan uraian terbatas. Uji tes diberikan kepada dua kelompok yang homogen dan dilakukan secara cross sectional yaitu dilakukannya pertukaran uji tes kepada kedua kelompok pada pembelajaran selanjutnya. Hal ini dilakukan karena ingin melihat apakah tes dengan bentuk soal uraian terbatas dan soal uraian terstruktur memiliki konsistensi pada kedua kelompok. Luaran yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah analisis terhadap proses pembelajaran yang memunculkan berbagai kemampuan multirepresentasi dan bentuk tes yang digunakan. Penelitian ini penting dilakukan karena memberikan gambaran kemampuan multirepresentasi pada siswa dalam memecahkan masalah sehingga akan menjadi pertimbangan dalam penyusunan strategi pembelajaran yang kaya akan multirepresentasi. Selain itu juga ingin mengetahui bentuk tes yang lebih baik digunakan antara tes uraian terbatas atau tes uraian terstruktur terhadap materi yang kaya akan representasi. Konsep fisika yang ditinjau dalam penelitian ini adalah materi bunyi. Pemilihan materi tersebut dilakukan karena memiliki konsep yang bersifat abstrak sehingga memerlukan banyak representasi dalam penyampaian konsep pada siswa dan merupakan salah satu konsep fisika yang banyak representasi dalam pembelajaran dan pemecahan masalahnya. Sesuai dengan Kohl dan Noah (2005) dalam penelitiannya yang menyimpulkan bahwa keberhasilan siswa dalam memecahkan masalah-masalah fisika dipengaruhi oleh format representasi masalah-masalah itu. Penulis tertarik untuk melakukan penelitian yaitu menganalisis kemampuan multirepresentasi siswa pada jenjang SMP dengan menggunakan dua jenis bentuk tes yaitu tes uraian terbatas dan tes uraian terstruktur. Dengan harapan akan didapatkannya data kemampuan multirepresentasi siswa pada kedua jenis soal yaitu soal uraian terbatas dan uraian terstruktur. Masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah profil kemampuan multirepresentasi siswa berdasarkan hasil tes uraian terbatas dan tes uraian terstruktur perlabel konsep pada materi bunyi. METODE Karena kebutuhan penelitian yaitu menganalisis kemampuan multirepresentasi siswa setelah melakukan uji tes tanpa adanya manipulasi terhadap variabel maka penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis. Desain dan alur yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan melakukan pembagian siswa dalam satu kelas secara purposive menjadi dua kelompok yang sebelumnya mendapatkan pembelajaran yang sama mengenai materi yang akan diteskan yaitu materi bunyi. Ketika pemberian tes, kedua kelompok yaitu kelompok A dan kelompok B mendapatkan bentuk soal yang berbeda pada submateri yang sama dengan kelompok A mendapatkan jenis soal uraian terstruktur dan kelompok B mendapatkan jenis soal uraian terbatas. Setelah itu kedua kelompok beristirahat selama 20 menit, kemudian siswa yang sama kembali melakukan tes kembali tetapi pada submateri yang berbeda dari tes pertemuan pertama. Pada tes pertemuan kedua penulis melakukan teknik silang pada jenis soal yang akan diberikan yaitu kelompok A mengerjakan jenis soal uraian terbatas dan kelompok B mengerjakan jenis soal uraian terstruktur. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi bias pada subjek kedua kelompok saat penganalisisan data. Teknik pengumpulan data yang digunakan terdiri dari dua bentuk yaitu tes kemampuan multirepresentasi dan wawancara. Tes untuk mengetahui profil kemampuan multirepresentasi siswa dalam memecahkan masalah berupa soal yang berbentuk uraian. Soal berbentuk uraian ini

S. Nulhaq, dkk, - Analisis Profil Kemampuan Multirepresentasi Siswa 95 dibagi menjadi dua jenis. jenis soal pertama adalah jenis soal terstruktur dengan karakteristik adanya sub pertanyaan berupa pertanyaan arahan pada setiap soal, sehingga dalam menjawabnya siswa mendapatkan panduan dari soal arahan yang telah disediakan. Jenis soal kedua adalah soal uraian terbatas dengan karakteristik tidak adanya sub pertanyaan arahan pada setiap soalnya sehingga dibebaskan pada siswa untuk berpikir dalam menjawab setiap soalnya namun masih dibatasi pada cakupan konsep pada soal. Kedua jenis soal memiliki indikator yang sama dan dibuat sesetara mungkin, artinya apa yang ditanyakan pada masing-masing jenis soal memiliki representasi yang sama untuk konsep yang sama. Pengumpulan data yang kedua adalah melalui wawancara. Teknik wawancara digunakan pada saat observasi awal. Instrumen wawancara ditujukan kepada guru mata pelajaran fisika dengan maksud untuk mengetahui kemampuan memecahkan masalah siswa, model pembelajaran yang sering digunakan oleh guru fisika, dan juga keadaan siswa selama pembelajaran fisika. Data yang terkumpul dianalisis sebagai dasar untuk melakukan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Data yang diperoleh adalah berupa jawaban siswa yang terdiri dari jawaban soal tes dari materi bunyi bagian pertama dengan jenis tes uraian terbatas dan terstruktur dan jawaban soal tes pada materi bunyi bagian kedua dengan jenis tes uraian terbatas dan jenis tes uraian terstruktur. Jawaban siswa dinilai berdasarkan rubrik penilaian yang berpedoman pada rubrik dalam jurnal Rosengrant yang disebut rubrik multiple ways. Adapun pemberian skor pada rubrik penilaian disesuaikan dengan pertimbangan jawabannya dengan skor terendah 0 dan skor tertinggi 3. Dalam setiap aspek yang dinilai dari jawaban tersebut disesuaikan dengan rubrik multiple way. Untuk mengetahui signifikansi perbedaan kedua jenis soal tes uraian terstruktur dan tes uraian terbatas tersebut digunakan perhitungan menggunakan statistik uji Mann-Whitney U-Test dikarenakan sampel yang cenderung sedikit sehingga data diasumsikan terdistribusi tidak normal. Profil kemampuan multirepresentasi siswa dalam memecahkan masalah antara jenis soal uraian terbatas dan uraian terstruktur berdasarkan label konsep. setelah dilakukan analisis, diperoleh hasil bahwa pada soal nomor 4 pada konsep menentukan cepat rambat bunyi pada gelombang, kelompok yang mengerjakan soal berbentuk uraian terbatas memperoleh skor lebih tinggi dari kelompok yang mengerjakan soal berbentuk uraian terstruktur. Soal nomor 4 dengan konsep menentukan cepat rambat bunyi pada gelombang merupakan soal dalam kategori mudah. Pada soal yang mudah, siswa cenderung memecahkan masalah secara langsung tanpa membuat representasi untuk membantu memecahkan masalah. Sehingga, baik dalam permasalahan berbentuk uraian terbatas maupun uraian terstruktur, maka cara siswa menjawab akan cenderung sama. Dalam hal ini, kelompok yang mengerjakan permasalahan multirepresentasi uraian terbatas memperoleh skor lebih unggul, hal ini dimungkinkan karena sekalipun soal tersebut berbentuk uraian terbatas namun soal tersebut berada pada kategori mudah dan pada usia SMP siswa sudah mampu berpikir secara abstrak. Untuk soal nomor 1, 2, 3, 5 materi Bunyi Pertemuan Pertama dan soal nomor 1, 2, 3, 4, 5 materi bunyi pertemuan kedua, kelompok yang memecahkan masalah multirepresentasi uraian terstruktur memperoleh skor rata-rata lebih tinggi. Soal nomor 1, 2, 3, 5 materi Bunyi Pertemuan Pertama dan soal 1, 2, 4, 5 materi bunyi pertemuan kedua merupakan soal dalam kategori sedang. Sedangkan soal nomor 3 materi bunyi pertemua kedua merupakan soal pada kategori sulit. Pada soal dengan tingkat kesukaran sedang dan sulit tersebut, diperoleh hasil bahwa siswa menjawab dengan lebih baik jika diberikan permasalahan berbentuk uraian terstruktur. Hal ini dapat disebabkan pada permasalahan multirepresentasi uraian terstruktur siswa diberi petunjuk untuk melakukan langkahlangkah yang diperlukan yang akan membantu siswa dalam memecahkan masalah. Dari analisis di atas, dapat disimpulkan kemampuan multirepresentasi siswa dalam memecahkan masalah sulit akan

96 Jurnal Wahana Pendidikan Fisika 1 (2013) 92-98 lebih baik dengan pemberian soal terstruktur, sedangkan kemampuan multirepresentasi siswa pada soal mudah akan lebih baik ketika diberikan soal berbentuk terbatas. Hal ini relevan dengan pernyataan Rosengrant (2007) bahwa pendekatan multi representasi secara tes uraian terstruktur lebih efektif dan sukses untuk menyelesaikan soal yang tergolong sulit, sedangkan soal yang tergolong pendek akan lebih efektif dan sukses dipecahkan dengan menggunakan pendekatan multi representasi tes uraian terbatas. Dibawah ini adalah bentuk pola pada profil persentase tes uraian terstruktur dan tes uraian terbatas per label konsep. Pada materi Bunyi Pertemuan Pertama dipaparkan dalam grafik seperti dibawah ini. Grafik 1. Pola pada Profil Persentase Tes Uraian Terbatas dan Uraian Terstruktur Pertemuan Pertama Grafik 2. Pola pada Profil Persentase Tes Uraian Terbatas dan Uraian Terstruktur Pertemuan Kedua Diagram persentase diatas menunjukan bahwa kedua bentuk tes memiliki pola yang sama tetapi tes uraian terstruktur cenderung memiliki persentase lebih tinggi daripada tes uraian terbatas. Secara keseluruhan, hasil dari penelitian menunjukan bahwa siswa mampu memecahkan masalah multirepresentasi dengan lebih baik dalam bentuk uraian terstruktur. Selain itu, tingkat kesukaran dari permasalahan multirepresentasi yang diberikan dapat memengaruhi cara siswa dalam memecahkan permasalahan tersebut.

S. Nulhaq, dkk, - Analisis Profil Kemampuan Multirepresentasi Siswa 97 PENUTUP Berdasarkan analisis terhadap profil kemampuan multirepresentasi siswa dalam memecahkan masalah berbentuk uraian terbatas, siswa memperoleh skor lebih tinggi pada kriteria matematis. Hal ini dapat disebabkan oleh kecenderungan siswa yang sehari-hari memecahkan masalah matematis, sehingga ketika diberi keterbatasan mereka cenderung akan langsung menjawab secara matematis. Analisis terhadap profil kemampuan multirepresentasi siswa dalam memecahkan masalah berbentuk uraian terstruktur menunjukan bahwa perolehan skor tertinggi siswa terdapat pada kriteria memecahkan masalah dengan bantuan representasi. Hal ini dapat disebabkan oleh karakter soal terstruktur yang akan menuntun siswa untuk memformulasikan informasi yang diperoleh ke dalam representasi yang diperlukan. Sehingga, siswa memperoleh bayangan terhadap penyelesaian masalah yang dihadapi. DAFTAR PUSTAKA Angell, C, O. Guttersrud, dan E.K. Henriksen. 2007 Multiple representations as a framework for a modeling approach to physics education. Creswell, John W. Research Design. Terjemahan.Yogyakarta :Pustaka Pelajar Djaali, Mulyono. 200. Pengukuran Dalam Bidang Pendidikan. Jakarta : Pps UNJ Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Menengah Umum. 2003. Kurikulum 2004 SMA Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran Fisika. Jakarta: Depdiknas Gronlund and Linn.( 1995). Meassurement and Assesment in Teaching. New Jersey : Prentice Hall Goldin, G. A (2002). Representation in Mathematical Learning and Problem Solving. Dalam L. D English (Ed). Handbook of International Research in Mathematics Education (IRME). New Jersey : Lawrence Erlbaum Associates Hopkin., Kenneth. (1981). Educational and Phsykoilgycal Measurement Evaluation. New Jersey : Prentice Hall Izsak, A. and M.G. Sherin, 2003. Exploring the Use of New Representation as a Resource for Theaching Learning. Journal School Science and Mathematics.The University of Georgia and North Western University. 103,(1) Kohl P, Rosengrant. D, and Finkelstein,N I. 2007. Comparing Explicit and Implicit Teaching of Multiple Representation Use in Physics Problem Solving. Physics Education Research Lindenfeld, P., 2002. Format and Content in Introductory Physics.American Journal of Physics. 70,(1),12 Miller, Patrick W. 2008. Measurement and Teaching. United States of America: Library of Congress Contrl Nitko, Anthony. 1996. Educational Assesment of Student. New Jersey : Prentice Hall Popham, W. James.1995. What Teacher Need to Know. Los Angles :Allyn and Bacon Reif, F. 1995. Understanding and Teaching Important Scientific Thought Processe.American Journal of Physics. 63, (1),17-32 S. E. Ainsworth. 2008. The educational value of multiple representations when learning complex scientific concepts. S. E. Ainsworth. 2008. The educational value of multiple representations when learning complex scientific concepts. [Online] Tersedia: http://www.psychology.nottingham.ac. uk/staff/sea/ainsworth_gilbert.pdf Silverius.1991. Evaluasi Hasil Belajar Umpan Balik. Jakarta : PT. Grasindo Sudjono, A. 2009. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT. Raja Grasindo Persada Sudjana, N. (1998). Penilaian Hasil Proses Belajar. Bandung: Remaja Rosda karya

98 Jurnal Wahana Pendidikan Fisika 1 (2013) 92-98 Sudjono, 1998.Pengejaran Matematika untuk Sekolah Menengah.J akarta : P3G Depdikbud Sugiyono 2010.Metode Penelitian Pendidikan. Bandung :Alfabeta Sugiyono.2011. Statistika Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta. Ulfarina, L. (2011). Penggunaan pendekatan Multi Representasi pada Pembelajaran Konsep Gerak untuk Meningkatkkan Pemahaman Konsep dan Memperkecil Kuantitas Miskonsepsi Siswa SMP. [On Line]. [18 September 2011] Waldrip, B dan Prain, V. (2006). An Exploratory Study of Teachers and Students Use of Multi-modal Representations of Concepts in Primary Science. International Journal of Science Education. 28, (15), 1843-1896 Walpole, R.E. (1992). Pengantar Statistika. Edisi 3.Jakarta : PT Gramedia Utama