BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Aspal merupakan bahan pengikat dalam campuran perkerasan lentur, aspal juga mengurangi instrusi air masuk ke dalam lapisan perkerasan. Aspal yang digunakan untuk perkerasan jalan saat ini belum mampu mengatasi masalah kerusakan dini pada perkerasan jalan. Filler berperan penting dalam campuran perkerasan lentur, karena filler berfungsi sebagai pengisi rongga-rongga dalam suatu campuran beraspal dan juga dapat bercampur dengan aspal menjadikan aspal modifikasi. Persentase filler yang digunakan pada campuran aspal relatif kecil, namun memberikan pengaruh yang besar pada kekuatan perkerasan jalan. Upaya yang telah dilakukan terkait aspal dan filler untuk mengatasi kerusakan dini yang terjadi pada perkerasan jalan, antara lain penelitian mengenai penggunaan aspal BNA blend 75:25 pada lapisan AC-WC dan pemanfaatan zeolit alam pada campuran, sedangkan untuk penelitian aspal BNA blend 75:25 dan zeolit alam sebagai filler pada lapisan AC-BC belum pernah dilakukan, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian terkait hal tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Fatmawati (2012) menunjukkan bahwa campuran AC-WC dengan menggunakan bahan ikat aspal BNA blend 75:25 lebih baik dibandingkan dengan menggunakan aspal Pertamina Pen 60/70 untuk daerah dengan temperatur permukaan jalan tinggi dan curah hujan tinggi, karena aspal BNA blend 75:25 lebih tahan terhadap deformasi. Menurut Audrius, dkk seperti yang dikutip oleh Affandi (2011) bahwa WMA yang dihasilkan pada temperatur 120 C dengan penambahan aditif zeolit alam memiliki kestabilan yang lebih rendah pada uji Marshall dan rongga udara (void) yang lebih tinggi dari rongga udara HMA dari jenis yang sama. Berdasarkan permasalahan diatas, maka peneliti mencoba untuk melakukan penelitian tentang Campuran Asphalt Concrete-Binder Course (AC-BC) Menggunakan Aspal BNA blend 75:25 dan zeolit alam Sebagai filler. Pengambilan judul ini dikarenakan dari hasil penelitian sebelumnya menunjukkan 1
2 bahwa aspal BNA blend 75:25 mempunyai ketahanan yang lebih lama terhadap deformasi pada campuran AC-WC dan dengan penambahan zeolit alam campuran mempunyai kestabilan yang lebih rendah serta rongga udara yang lebih tinggi. Perancangan laboratorium yang dilakukan merupakan proses penelitian lanjutan dengan harapan adanya penelitian ini mampu melengkapi hasil penelitian sebelumnya. B. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian penggunaan Aspal BNA blend 75/25 dan Zeolit Alam sebagai Filler pada Lapis Aspal Beton - Lapis Pengikat (Asphalt Concrete-Binder Course, AC-BC) ini, adalah : 1. Mengetahui karakteristik Marshall dari campuran AC-BC yang menggunakan aspal BNA blend 75:25 dan zeolit alam sebagai filler. 2. Mengetahui nilai kuat tarik tidak langsung campuran AC-BC dengan uji Indirect Tensile Strength yang menggunakan aspal BNA blend 75:25 dan zeolit alam sebagai filler. 3. Mengetahui komposisi optimum penambahan zeolit alam sebagai filler.pada campuran AC-BC. C. Manfaat Penelitian Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain : 1. Memperoleh referensi karakteristik tentang lapis AC-BC yang menggunakan Aspal BNA blend 75:25 dan zeolit alam sebagai filler. 2. Mendapatkan informasi performa zeolit alam sebagai bahan pengganti filler. D. Batasan Penelitian Adapun yang menjadi batasan di dalam penelitian ini, sebagai berikut : 1. Pencampuran menggunakan Rancangan Spesifikasi Umum Bina Marga, Divisi VI Perkerasan Aspal Kementerian Pekerjaan Umum Edisi Tahun 2010
3 Revisi II (2012) yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia. 2. Asal Bahan/Material a. Agregat kasar berasal dari Kali Clereng, Kabupaten Kulon Progo, DIY; b. Agregat halus dari Kali Clereng, Kabupaten Kulon Progo, DIY; c. Filler debu batu dari Kali Clereng, Kabupaten Kulon Progo, DIY dan filler zeolit alam dari Pandan simping, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah; d. Aspal BNA blend 75/25 dari Surabaya. 3. Variasi filler yang direncanakan yaitu : a. 100% debu batu + 0% zeolit alam b. 75% debu batu + 25% zeolit alam c. 50% debu batu + 50% zeolit alam d. 25% debu batu + 75% zeolit alam e. 0% debu batu + 100% zeolit alam 4. Persyaratan dan pengujian yang dilakukan pada bahan penyusun campuran berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI). 5. Pengujian yang dilakukan untuk memperoleh nilai stabilitas adalah dengan uji Marshall Standard dan Marshall Immersion yang direndam selama 0,5 jam dan 24 jam. 6. Pengujian dan persyaratan penentuan kuat tarik tidak langsung (ITS) berdasarkan pada SNI 03-6753-2008 dan rasio kuat tarik (TSR) berdasarkan pada AASHTO T-283. 7. Dalam pembahasan tidak mengurai secara mendalam mengenai kandungan kimiawi aspal serta ikatannya, hanya pengaruh umum yang di berikan pada struktur. 8. Lokasi penelitian/pengujian bahan terbatas di Laboratorium Transportasi Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Yogjakarta.
4 E. Keaslian Penelitian Penelitian-penelitian sejenis yang pernah dilakukan sebelumnya dengan menggunakan aspal BNA blend 75:25 dan zeolit alam sebagai filler antara lain: 1. Affandi F., (2011), melakukan penelitian mengenai Pengaruh Metode Aktivasi Zeolit Alam Sebagai Bahan Penurun Temperatur Campuran Beraspal Hangat. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental di laboratorium dengan tiga jenis teknik aktivasi yaitu secara fisika, aktivasi secara kimia dan aktivasi secara kimia-fisika yang mempunyai tujuan untuk mengoptimalisasi kadar air pada zeolit alam sehingga didapatkan nilai bahan dan proses yang efisien. Dari hasil percobaan didapat bahwa metode aktivasi secara kimia bahan zeolit mempunyai kemampuan efektif dan efisien dalam menurunkan temperatur campuran guna mendapatkan campuran beraspal hangat. 2. Fatmawati L., (2012), melakukan penelitian mengenai Kinerja Aspal Pertamina Pen 60/70 dan Aspal BNA Blend 75:25 Pada Campuran Aspal Panas AC-WC. Penelitian ini menggunakan aspal BNA blend 75:25 dan aspal Pertamina pen.60/70 sebagai bahan ikat. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengkaji kinerja aspal pertamina pen 60/70 dan Buton natural Asphalt (BNA) blend 75:25 pada campuran aspal panas AC-WC. Hasil dari penelitian tersbut dapat disimpulkan bahwa aspal BNA blend 75:25 lebih baik dibandingkan dengan aspal pertamina pen.60/70 untuk daerah dengan temperatur permukaan jalan dan curah hujan tinggi, karena aspal BNA blend 75:25 lebih tahan lama terhadap deformasi baik yang disebabkan beban lalu lintas tinggi maupun temperatur. 3. Krisma P., (2013), melakukan penelitian dengan judul Perancangan Laboratorium Campuran Split Mastic Asphalt (SMA) dengan menggunakan BNA blend 75:25. Penelitian ini menggunakan aspal BNA blend 75:25 sebagai bahan ikat dan bahan tambah serat selulosa Custom Fiber (CF) 31500 serta bahan aspal pertamina pen 60/70 dengan bahan aditif CF 31500. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan karakteristik campuran SMA yang menggunakan bahan aspal BNA blend 75:25 dengan atau tanpa
5 bahan tambah selulosa Custom Fiber (CF) 31500 serta bahan aspal pertamina AC 60/70 dengan bahan aditif CF 31500. Hasil dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa campuran SMA yang menggunakan bahan ikat BNA blend 75:25 tanpa bahan tambah selulosa mempunyai nilai yang lebih baik dibandingkan campuran SMA berbahan ikat BNA blend 75:25 dengan bahan tambah serat selulosa serta campuran SMA dengan menggunakan aspal pertamina AC 60/70. Berdasarkan penelitian terdahulu yang paling mendekati dengan penelitian yang akan dilaksanakan adalah penelitian yang dilakukan oleh Fatmawati L., (2012) dan Krisma P., (2013). Namun terdapat perbedaan mendasar, yaitu: lapisan yang akan diteliti pada penelitian ini adalah lapisan AC-BC dan bahan filler yang akan digunakan adalah zeolit alam.