Geo Image 1 (1) (2012) Geo Image.

dokumen-dokumen yang mirip
Geo Image (Spatial-Ecological-Regional)

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. bencana didefinisikan sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

I. PENDAHULUAN. (21%) dari luas total global yang tersebar hampir di seluruh pulau-pulau

Geo Image (Spatial-Ecological-Regional)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

Iklim Perubahan iklim

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN. Indonesia memiliki hutan mangrove yang terluas di dunia. Hutan

BAB I PENDAHULUAN. Model Genesi dalam Jurnal : Berkala Ilmiah Teknik Keairan Vol. 13. No 3 Juli 2007, ISSN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai lebih dari pulau dan

BAB I PENDAHULUAN. tumbuhannya bertoleransi terhadap garam (Kusman a et al, 2003). Hutan

PENDAHULUAN. terluas di dunia. Hutan mangrove umumnya terdapat di seluruh pantai Indonesia

DAFTAR ISI. Ekspedisi Citarum Wanadri Muara Gembong, Bekasi...4 Sekilas Potret Masyarakat Muara...9 Pencemaran Air: Berkah atau Bencana?...

BAB I PENDAHULUAN I - 1

Geo Image (Spatial-Ecological-Regional)

ANALISIS KEMISKINAN DI WILAYAH BENCANA BANJIR ROB DESA TIMBULSLOKO, KECAMATAN SAYUNG, KABUPATEN DEMAK. Nanang Ahmad Fauzi

KAJIAN PERMUKIMAN DI KAWASAN HUTAN BAKAU DESA RATATOTOK TIMUR DAN DESA RATATOTOK MUARA KABUPATEN MINAHASA TENGGARA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Hutan mangrove merupakan ekosistem yang penting bagi kehidupan di

BAB I PENDAHULUAN. dengan yang lain, yaitu masing-masing wilayah masih dipengaruhi oleh aktivitas

PENTINGNYA MENJAGA KEANEKARAGAMAN HAYATI ALAM DI SEKITAR KITA

BAB I PENDAHULUAN. tempat dengan tempat lainnya. Sebagian warga setempat. kesejahteraan masyarakat sekitar saja tetapi juga meningkatkan perekonomian

Maksud dari pembuatan Tugas Akhir Perencanaan Pengamanan Pantai Dari Bahaya Abrasi Di Kecamatan Sayung Kabupaten Demak adalah sebagai berikut :

STUDI PREFERENSI MIGRASI MASYARAKAT KOTA SEMARANG SEBAGAI AKIBAT PERUBAHAN IKLIM GLOBAL JANGKA MENENGAH TUGAS AKHIR

IDENTIFIKASI DAERAH RAWAN ROB UNTUK EVALUASI TATA RUANG PEMUKIMAN DI KABUPATEN DEMAK

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki kawasan pesisir sangat luas,

SD kelas 6 - ILMU PENGETAHUAN ALAM BAB 10. PELESTARIAN LINGKUNGANLatihan soal 10.4

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Wilayah pesisir dan lautan Indonesia terkenal dengan kekayaan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

MODEL IMPLENTASI KEBIJAKAN PENGELOLAAN MANGROVE DALAM ASPEK KAMANAN WILAYAH PESISIR PANTAI KEPULAUAN BATAM DAN BINTAN.

Kata-kata Kunci: Kabupaten Pekalongan, Banjir Rob, Sawah Padi, Kerugian Ekonomi

ANALISIS EKONOMI USAHA BUDIDAYA TAMBAK DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI

KESESUAIAN PEMANFAATAN LAHAN WILAYAH PESISIR KABUPATEN DEMAK TUGAS AKHIR

BAB VI ALTERNATIF PENANGGULANGAN ABRASI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Wilayah pesisir mempunyai peranan yang sangat penting bagi kehidupan

Laporan Kegiatan Keterlibatan Masyarakat Dalam Pengelolaan Kawasan Pesisir dan Laut

Geo Image 5 (2) (2016) Geo Image.

BAB VI DAMPAK KONVERSI MANGROVE DAN UPAYA REHABILITASINYA

Geo Image (Spatial-Ecological-Regional)

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove

Valuasi Ekonomi Pemanfaatan Ekosistem Mangrove di Desa Bedono, Demak. Arif Widiyanto, Suradi Wijaya Saputra, Frida Purwanti

I. PENDAHULUAN. rumah kaca yang memicu terjadinya pemanasan global. Pemanasan global yang

DAMPAK POLA PENGGUNAAN LAHAN PADA DAS TERHADAP PRODUKTIVITAS TAMBAK DI PERAIRAN PESISIR LAMPUNG SELATAN

BAB I PENDAHULUAN. maupun terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang

Pengembangan Kawasan Perdesaan Berkelanjutan pada Kecamatan Muaragembong Kabupaten Bekasi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Mangrove merupakan ekosistem dengan fungsi yang unik dalam lingkungan

Penentuan Variabel Berpengaruh dalam Pengembangan Kawasan Strategis Ekonomi Pesisir Utara pada Bidang Perikanan di Kota Pasuruan

I. PENDAHULUAN. A. Latar belakang. sepanjang km (Meika, 2010). Wilayah pantai dan pesisir memiliki arti

(Sebagai Bahan Pengayaan Pembelajaran Geografi Pada Materi Pokok Mitigasi dan Adaptasi Bencana Alam Kelas X)

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

J. Aquawarman. Vol. 2 (1) : April ISSN : Karakteristik Oksigen Terlarut Pada Tambak Bermangrove Dan Tambak Tidak Bermangrove

BAB I PENDAHULUAN. membentang dari Sabang sampai Merauke yang kesemuanya itu memiliki potensi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN. didarat masih dipengaruhi oleh proses-proses yang terjadi dilaut seperti

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pembangunan merupakan suatu proses perubahan untuk meningkatkan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang khusus terdapat

I. PENDAHULUAN. Menurut Mahi (2001 a), sampai saat ini belum ada definisi wilayah pesisir yang

BAB I PENDAHULUAN. dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS TADULAKO 2016

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Ekosistem pesisir tersebut dapat berupa ekosistem alami seperti hutan mangrove,

KAJIAN DAMPAK PENGEMBANGAN WILAYAH PESISIR KOTA TEGAL TERHADAP ADANYA KERUSAKAN LINGKUNGAN (Studi Kasus Kecamatan Tegal Barat) T U G A S A K H I R

BAB I PENDAHULUAN. Di Indonesia perkiraan luas mangrove sangat beragam, dengan luas

Tabel 3 Kenaikan muka laut Kota Semarang berdasarkan data citra satelit.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

PERSEN TASE (%) Dinas Kelautan dan Perikanan ,81 JUMLAH ,81

BAB I PENDAHULUAN. antara dua samudera yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik mempunyai

Edu Geography

PENDAHULUAN Latar Belakang

TINGKAT PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA MANGROVE PADA MASYARAKAT PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU

BAB I PENDAHULUAN. Sungai Asahan secara geografis terletak pada ,2 LU dan ,4

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia memiliki mangrove terluas di dunia (Silvus et al, 1987; Primack et al,

I. PENDAHULUAN. dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut (Mulyadi dan Fitriani,

Edu Geography 3 (7) (2015) Edu Geography.

PENDAHULUAN. lahan pertambakan secara besar-besaran, dan areal yang paling banyak dikonversi

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir merupakan suatu wilayah peralihan antara daratan dan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tabel 1.1 Luas Hutan Mangrove di Indonesia Tahun 2002 No Wilayah Luas (ha) Persen

BAB 1 PENDAHULUAN. memiliki pulau dengan garis pantai sepanjang ± km dan luas

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

VALUASI EKONOMI JASA LINGKUNGAN HUTAN MANGROVE DI PESISIR KECAMATAN MEDAN BELAWAN HASIL PENELITIAN

Geo Image 5 (1) (2016) Geo Image.

Kajian Hidro-Oseanografi untuk Deteksi Proses-Proses Dinamika Pantai (Abrasi dan Sedimentasi)

Transkripsi:

Geo Image 1 (1) (2012) Geo Image http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/geoimage PENGARUH ABRASI TERHADAP TINGKAT PENDAPATAN PETANI TAMBAK DI KECAMATAN SAYUNG KABUPATEN DEMAK Cakrawala Singka Ismai l, Hariyanto, Erni Suharini. Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang, Indonesia Info Artikel Sejarah Artikel: Diterima Juni 2012 Disetujui Agustus 2012 Dipublikasikan Oktober 2012 Keywords: Abrasion, Pond Farmer, Revenue Abstrak Pertambahan penduduk mendorong perubahan tak terbatas pada jumlah penduduk, Penelitian Penelitian ini Mengetahui tingkat pendapatan petani tambak akibat abrasi 5 tahun terakhir. Subjek penelitian ini adalah petani tambak Desa Surodadi dan Desa Timbulsloko. Jenis penelitian ini adalah penelitian uji dua sampel berpasangan (Paired samples Test). Variabel bebas meliputi pendapatan petani tambak, produktifitas lahan, luas lahan tambak, variabel terikat yaitu abrasi. Pada hasil penelitian ini adalah pendapatan petani tambak di Desa Surodadi mengalami penurunan produksi sesudah abrasi adalah 46% dan di Desa Timbulsloko mengalami penurunan produksi sesudah abrasi adalah 79%, sedangkan luas lahan tambak di Desa Surodadi mengalami penurunan luas lahan tambak sesudah abrasi adalah 28% dan di Desa Timbulsloko mengalami penurunan luas lahan tambak sesudah abrasi adalah 70%. Daerah yang terkena abrasi sebagian luas lahan tambak hilang adalah Desa Timbulsloko. Abstract Knowing this study the level of income fish farmers due to abrasion of the last 5 years. The subject of this study were farmers and village ponds Surodadi Timbulsloko Village. This type of research is the study of two paired samples test (Paired samples test). Independent variables include the income of fish farmers, the productivity of land, pond area, the dependent variable that is abrasion. On the results of this study is the income of farmers in the village pond Surodadi production decreased after abrasion was 46% and in the Village Timbulsloko production decreased after abrasion was 79%, while the land area in the village pond Surodadi pond area decreased after abrasion was 28% and Timbulsloko village pond area decreased after abrasion was 70%. areas most affected by the abrasion lossof land area is the village pond Timbulsloko. 2012 Universitas Negeri Semarang Alamat korespondensi: Gedung C1 Lantai 2, Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229 Email: geografiunnes@gmail.com ISSN 2252-6285

Pendahuluan Abrasi merupakan peristiwa terkikisnya alur-alur pantai akibat gerusan air laut. Gerusan ini terjadi karena permukaan air laut mengalami peningkatan. Naiknya permukaan air laut ini disebabkan mencairnya es di daerah kutub akibat pemanasan global (Mulyanto,2010). Penyebab abrasi adalah naiknya permukaan air laut diseluruh dunia karena mencairnya lapisan es di daerah kutub bumi. Mencairnya lapisan es ini merupakan dampak dari pemanasan global yang sering terjadi karena gas-gas CO2 yang berasal dari asap pabrik maupun dari gas buangan kendaraan bermotor menghalangi keluarnya gelombang panas dari matahari yang dipantulkan oleh bumi, sehingga panas tersebut akan tetap terperangkap di dalam atmosfer bumi dan mengakibatkan suhu di permukaan bumi meningkat. Akibat abrasi berbagi infrastruktur rusak dan ekosistem berubah. Abrasi pantai terjadi di beberapa daerah di Indonesia yaitu salah satunya Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Demak, Kabupaten Demak merupakan salah satu kabupaten di wilayah pesisir utara jawa tengah yang wilayah pantainya mengalami abrasi yang cukup parah. Terjadinya abrasi di pesisir kabupaten demak lebih banyak disebabkan oleh kegiatan pembangunan di wilayah lain yang berakibat pada berubahnya pola hidrodinamika perairan yang akhirnya berakibat pada terjadinya abrasi yang berkepanjangan di wilayah pesisir kabupaten demak. Kecamatan sayung mengalami abrasi pantai yang cukup parah yang mengakibatkan rusaknya ekosistem pantai.kecamatan Sayung merupakan daerah yang terkena dampak abrasi yang cukup parah. Daerah yang terkena abrasi yaitu desa Surodadi, desa Timbusloko, desa Bedono dan desa Sriwulan, dari empat daerah yang terkena abrasi, terdapat dua desa yang hilang yaitu desa Bedono dan desa Sriwulan. Luas wilayah Kecamatan Sayung adalah 78,80 km2, terdiri atas 20 desa. Sebagian besar penduduknya hidup dari pertanian dan lahan pertambakan seluas 750 ha yang menghasilkan bandeng dan udang di tahun 1995. Dan pada 2008 tinggal 20 hektar akibat abrasi. Kecamatan Sayung sebagian besar penduduk sekitar bermata pencaharian adalah petani tambak dengan pengahasilan 10 juta rupiah pertahun dengan tambak udang, bandeng dan lobster. Namun karena abrasi penghasilan budidaya tambak menurun drastis dan sebagian tambak hilang karena gerusan ombak Laut Jawa dengan penghasilan 5 juta rupiah pertahun. Metode Jenis penelitian ini adalah Uji T Sampel Berpasangan (Paired Samples Test) (Priyanto,2010:37). Populasi dari penelitian ini adalah masyarakat petani tambak yang terkena abrasi pantai. Sampelnya adalah Desa Surodadi petani tambaknya adalah 48 kk dan Desa Timbulsloko petani tambaknya adalah 15 kk. Variabel bebas meliputi pendapatan petani tambak, produktifitas lahan, dan luas lahan tambak. Teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi Hasil dan Pembahasan 1. Hasil Penelitian Desa Surodadi Dari hasil penelitian tersebut jumlah ratarata pendapatan petani tambak sebelum abrasi di Desa Surodadi Rp.168.800.000 dibagi dengan jumlah responden adalah 48 dengan hasil rata-rata pendapatan adalah Rp.3.516.000. sedangkan jumlah rata-rata pendapatan petani tambak sesudah abrasi Rp.90.975.000 dibagi dengan jumlah responden adalah 48 dengan hasil rata-rata pendapatan adalah Rp.1.895.000. Dari pendapatan tersebut bahwa pendapatan petani tambak sangat menurun adalah 46%. Dari rata-rata luas lahan tambak petani tambak sebelum abrasi sejumlah 104,7 Ha, dan ratarata luas lahan tambak petani tambak setelah abrasi sejumlah 75,25 Ha. Pada rata-rata produksi ikan petani tambak adalah ikan bandeng, produksi ikan bandeng tersebut di jual di pasar ikan Kecamatan Sayung maupun pasar ikan Kobong Semarang. Hasil total produksi (Rp) Rp.636.450.000 dibagi dengan luas lahan tambak sebelum abrasi adalah 104.7 Ha dengan hasil produktifitas adalah 6.078. Sedangkan hasil total produksi (Rp) Rp.485.777.500 dibagi dengan luas lahan tambak sesudah abrasi adalah 75.25 Ha dengan hasil produktifitas adalah 6.45. 2. Hasil Penelitian Desa Timbulsloko Dari hasil penelitian tersebut jumlah rata-rata pendapatan petani tambak sebelum abrasi di Desa Timbulsloko Rp.36.200.000 dibagi dengan jumlah responden adalah 15 dengan hasil rata-rata pendapatan adalah Rp.2.413.000. sedangkan jumlah rata-rata pendapatan petani tambak sesudah abrasi Rp.7.500.000 dibagi jumlah responden adalah 15 dengan hasil rata-rata pendapatan adalah Rp.500.000. Dari pendapatan tersebut bahwa pendapatan petani tambak sangat menurun adalah 79%. Dari 58

rata-rata luas lahan tambak petani tambak sebelum abrasi sejumlah 27,5 Ha, dan rata-rata luas lahan tambak petani tambak setelah abrasi sejumlah 8 Ha. Pada rata-rata produksi ikan petani tambak adalah ikan bandeng, produksi ikan bandeng tersebut di jual di pasar ikan Kecamatan Sayung. Hasil total produksi (Rp) Rp.164.425.000 dibagi dengan luas lahan tambak sebelum abrasi adalah 27.5 Ha dengan hasil produktifitas adalah 5.97. Sedangkan hasil total produksi (Rp) Rp.60.100.000 dibagi dengan luas lahan tambak sesudah abrasi adalah 8 Ha dengan hasil produktifitas adalah 5.7. 3. Kesimpulan Hasil Output Data (Paired Sampel Test) 1. Kesimpulan Analisis Output Hasil Produksi: Oleh karena t hitung= 2.012 dan signifikansi (0.048 < 0.050) maka Ho ditolak artinya bahwa ada perbedaan antara rata-rata produksi sebelum abrasi dan sesudah abrasi. Pada Paired Samples Statistic terlihat rata-rata (mean) untuk sebelum abrasi = 2.2458 dan untuk sesudah abrasi = 1.5970 artinya bahwa rata-rata sebelum abrasi lebih tinggi daripada rata-rata sesudah abrasi. Nilai t hitung tidak negatif berarti rata-rata sebelum abrasi lebih tinggi daripada sesudah abrasi lebih rendah. Dengan ini maka adanya abrasi akan menurunkan tingkat produksi. 2. Kesimpulan Analisis Output Hasil Pen dapatan Petani Tambak: Pada t hitung= 2.395 dan signifikansi (0.020 < 0.050) maka Ho ditolak artinya bahwa ada perbedaan antara rata-rata pendapatan petani tambak sebelum abrasi dan sesudah abrasi. Pada Tabel Samples Statistic terlihat ratarata (mean) untuk sebelum abrasi = 5.8406 dan sesudah abrasi = 3.9430 artinya bahwa ratarata sebelum abrasi lebih tinggi daripada sesudah abrasi. Nilai t hitung tidak negatif berarti rata-rata sebelum abrasi lebih tinggi daripada sesudah abrasi lebih rendah. Dengan ini maka adanya abrasi akan menurunkan tingkat pendapatan petani tambak. 3. Kesimpulan Analisis Output Hasil Luas lahan Tambak: Dari t hitung= 5.318 dan signifikansi (0.000 < 0.050) maka Ho artinya bahwa ada perbedaan antara rata-rata luas lahan tambak sebelum abrasi dan sesudah abrasi. Pada Tabel Samples Statistic terlihat rata-rata (mean) untuk sebelum abrasi = 2.1000 dan untuk sesudah abrasi = 1.3105 artinya bahwa rata-rata sebelum abrasi luas lahan tambak lebih banyak daripada rata-rata sesudah abrasi luas lahan tambak lebih sedikit. Dengan ini maka adanya abrasi akan menghilangkan sebagian besar luas lahan tambak. Berdasarkan hasil penelitian ini adalah menurunnya pendapatan produksi petani tambak di Desa Timbulsloko disebabkan luas lahan tambak sangat dekat dengan laut dan banyak sekali lahan petani tambak terkena abrasi laut. sehingga petani tambak di Desa Timbulsloko kehilangan mata pencaharian mereka seharihari. 4. Upaya Pemerintah dalam Penanggulangan Abrasi 1) Pembuatan APO (alat pemecah ombak) dan penanaman Mangrove (greenbelt) serta pembuatan Breach Watter (Pemecah Air / Ombak) 2) Mengadakan pembersihan pantai secara massal ketika memperingati hari Bakti Nu- Gambar 4.1. Peta Adminitrasi Kecamatan Sayung Kabupaten Demak 59

santara, Sosialisasi tentang pemanfaatan limbah prodak Kelautan dan Kampanye Laut ku biru dan bersih kepada masyarakat pesisir pantai 3) Pembuatan talut / tanggul sepanjang pantai baik dengan material dari tanah maupun material betonisasi. 4) Pembuatan rumah ramah bencana dan rehabilitasi rumah tidak layak huni serta direncanakan adanya pelatihan mitigasi bencana pada masyarakat pesisir. 4) Mengadakan perbaikan ekosistem dengan menanam Mangrove di pesisir laut dan sekitar wilayah tambak. Simpulan Dari hasil penelitian, analisis data dan pembahasan diperoleh simpulan sebagai berikut. Ada penurunan hasil produksi dan pendapatan petani tambak sebelum abrasi dan sesudah abrasi disebabkan adanya abrasi laut yang mengahatam lahan tambak. Banyak sekali pendapatan petani tambak di Desa Surodadi mengalami penurunan produksi sesudah abrasi adalah 46% dan di Desa Timbulsloko mengalami penurunan produksi sesudah abrasi adalah 79%, sedangkan luas lahan tambak di Desa Surodadi mengalami penurunan luas lahan tambak sesudah abrasi adalah 28% dan di Desa Timbulsloko mengalami penurunan luas lahan tambak sesudah abrasi adalah 70%. Daerah yang terkena abrasi sebagian luas lahan tambak hilang adalah Desa Timbulsloko. Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan, maka penulis akan mengajukan beberapa saran sebagai berikut: Agar meningkatkan produktifitas dan pendapatan petani tambak disektor perikanan.cara penanggulangan abrasi tersebut adalah menanam pohon mangrove agar tidak terjadi abrasi di bibir pantai, membuat tanggul atau pemecah gelombang agar abrasi tidak merusak lahan tambak untuk para petani tambak. Hutan bakau (mangrove) mempunyai fungsi untuk perlindungan pantai. Pohon yng kuat dan berakar banyak itu berfungsi sebagai perendam ombak dan mempercepat pengendapan lumpur yang dibawa oleh air sungai dan sekitarnya. Tanaman bakau (mangrove) dapat berfungsi sebagai penahan abrasi dan pelindung pemukiman, disamping itu merupakan pengahasil bahan organic yang merupakan mata rantai jaringan makanan didaerah pantai, tempat bertelur dan memijah binatang perairan (ikan dan udang) dan sebagai tempat berlindung berbagai jenis binantang seperti burung dan kalong. Adanya kebijakan nasional dan spasial tentang kawasan pesisir dinyatakan dalam UU No.24/1992. Yaitu kawasan pesisir sebagai suatu sistem, maka pengembangan tidak dapat dipisahkan dalam pengembangan budidaya, kawasn lindung maupun kawasan tertentu tetap menjadi arahan dalam penegmbangan kawasan pesisir agar penantaan dan pemanfaatan ruangnya memberikan kesejahteraan masyarakat yang meningkat dalam lingkungan yang tetap lestari.penentuan kawasan pantai (dan perairan) sebagai suatu strategi pemanfaatan tata ruang lahan daratan dan wilayah perairan/lautan secara optimal, mempunyai sasaran penting yaitu: a. Meningkatkan produksi dan produktifitas sektor-sektor yang berada pada kawasan yang bersangkutan (sektor perikanan darat, sektor perikanan laut dan tanaman pangan). b. Meningkatan pendapatan petani tambak dan nelayan. c. Mencegah membesarnya tingkat pertumbuhan antara sektor/wilayah daratan dan sektor wilayah perairan (lautan). Daftar Pustaka. Akhmad Fauzi, dan Suzy Anna,. Permodelan Sumber Daya Perikanan dan Kelautan untuk Analisis Kebijakan. 2005. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Edisi Revisi VI) Jakarta: PT Rineka Cipta. Buwono, Dwi Ibnu., 1993. Tambak UdangWindu Sistem Pengelolaan Berpola Intensif. Yogyakarta: Kanisius. Dahuri, Rokhmin Dkk., 2004. PengelolaanSumber Daya Wilayah Pesisir danlautan Secara Terpadu. Jakarta: Pradnya Paramita. Depdiknas, Pustekkom., 2007. Abrasi. Jakarta. Fanani Achmad, 2009. Kamus Istilah Populer. Yogyakarta: Mitra pelajar. H.R.,Mulyanto. 2010. Prinsip Rekayasa Pengandalian Muara dan Pantai. Yogyakarta: Graha Ilmu. Poerwadarminta, 2006. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. Priyanto, Duwi. 2010. Paham Analisis Statistik Data Dengan SPSS. Yogyakarta:Mediakom. Satria, Arif., 2009. Pesisir dan laut untuk rakyat. Bogor: Kampus IPB Darmaga Bogor. Sriyanto., 2007. Geografi Pertanian. Semarang: Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. Tukidi, Drs. 2009. Statistik Terapan. Semarang: Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Uni- 60

versitas Negeri Semarang. Tika, Pabundu. 2005. Metode Penelitian Geografi. Jakarta: Bumi Aksara Wibisono, M.S. 2005. Pengantar Ilmu Kelautan. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Wibowo, Setyo Idel Antoni., 1996. Budidaya Bandeng Modern. Surabaya: Gitamedia Press. Widiatmaka, Hardjowigeno Sarwono. 2007. Evaluasi Kesesuaian Lahan & Perencanaan Tata Guna Lahan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.www. Forum. Lingkungan.com. http://www.carapedia.com/pengertian/definisi/ produksi/info2348.html. http://www.jurnal-sdm.blogspot.com/produktivitaskerja/definisi/html.(02.juli.2009) 61