BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB VI PENUTUP. Labuan Bajo Manggarai Barat NTT, maka dapat disimpulkan: 1) Berdasarkan kelengkapan pengendara kendaraan sepeda motor di

CONTOH SOAL TES TORI SIM C (PART 1)

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bermanfaat atau dapat berguna untuk tujuan tujuan tertentu. Alat pendukung. aman, nyaman, lancar, cepat dan ekonomis.

Mengenal Undang Undang Lalu Lintas

MASALAH LALU LINTAS DKI JAKARTA

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang berlangsung tanpa diduga atau diharapkan, pada umumnya ini terjadi dengan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Inspeksi Keselamatan Jalan

UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN [LN 2009/96, TLN 5025]

BAB III LANDASAN TEORI. motor. Terdapat beberapa hal yang mempengaruhi karakteristik pengemudi Modal dasar yang harus dimiliki oleh pengendara

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 1993 TENTANG PRASARANA DAN LALU LINTAS JALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Pengertian Lalu Lintas

BAB III LANDASAN TEORI. 3.1 Modal Dasar Yang Harus Dimiliki Oleh Pengendara. a. Indera : Sesuatu yang membuat pengemudi waspada dalam mengemudi,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Berdasar AASHTO 2001 dalam Khisty and Kent, persimpangan jalan dapat didefinisikan sebagai daerah umum di

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

LAMPIRAN C DAFTAR ISTILAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KAWASAN TERTIB LALU LINTAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

LANGGAR ATURAN SANKSI MENUNGGU TAHAP II

Masyarakat Transparansi Indonesia Kajian Page 1 of 6

Lampiran 1: Keterangan Telah Melakukan Penelitian

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. Kota Waingapu, Sumba Timur, kemudian diolah dan dianalisis, ada beberapa hal

BAB IV : Dalam bab ini diuraikan tentang dasar pertanggungjawaban pidana pada kasus. kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan kerugian materil.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG PEMERIKSAAN KENDARAAN BERMOTOR DI JALAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN 2010 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. Aman dalam berkendara, bukanlah sebuah slogan sebuah instansi

CRITICAL CARE UNIT. Berfikir kritis bagaimana tanda-tanda shock yang selalu kita hadapi dalam kegawatdaruratan medis di Unit Gawat Darurat

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 1993 TENTANG PEMERIKSAAN KENDARAAN BERMOTOR DI JALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG NOMOR 43 TAHUN 1993 TENTANG PRASARANA DAN LALU LINTAS JALAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2012, No MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TATA CARA PEMERIKSAAN KENDARAAN BERMOTOR DI JALAN DAN PENINDAKAN PELANGGARAN LALU

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Pifih Setiawati, 2013

TATA CARA PEMERIKSAAN KENDARAAN BERMOTOR DI JALAN DAN PENINDAKAN PELANGGARAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN

BAB III LANDASAN TEORI. Tata cara berlalu lintas dijelaskan pada Undang-Undang Republik

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II JEMBRANA NOMOR 18 TAHUN 1994 T E N T A N G

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR TAHUN 2012 TENTANG

PANDUAN MATERI LALU LINTAS PATROLI KEAMANAN SEKOLAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Keselamatan Jalan

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANGKA SELATAN TAHUN 2009 NOMOR 13

BAB III LANDASAN TEORI. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009

KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA JAKARTA

Detail denda lalu lintas berserta pasal ( tilang ),

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERILAKU PENGGUNA SEPEDA MOTOR DALAM KESELAMATAN BERLALU LINTAS (Studi kajian : Kabupaten Bantul, D. I. Y) Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan,

BAB I PENDAHULUAN. kematian tiap hari di seluruh dunia. Berdasarkan laporan POLRI, angka

BAB I PENDAHULUAN. (On-line), (29 Oktober 2016). 2

Perda No. 19/2001 tentang Pengaturan Rambu2 Lalu Lintas, Marka Jalan dan Alat Pemberi Izyarat Lalu Lintas.

BAB III LANDASAN TEORI. Jalan Wonosari, Piyungan, Bantul, banyak terjadi kecelakaan lalu lintas yang

BAB III LANDASAN TEORI. diangkut selalu bertambah seperti pertambahan jumlah penduduk, urbanisasi,

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

I. PENDAHULUAN. penduduk kota Bandar Lampung yang semakin padat dan pertambahan jumlah

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT TENTANG ZONA SELAMAT SEKOLAH (ZoSS). Pasal 1

BAB II TATA TERTIB LALU LINTAS BAGI KENDARAAN BERMOTOR. yang dimaksud dengan Ruang Lalu Lintas Jalan adalah prasarana yang

BAB III LANDASAN TEORI. hanya melibatkan satu kendaraan tetapi beberapa kendaraan bahkan sering sampai

PENGENALAN RAMBU-RAMBU DAN MARKA LALU LINTAS BAGI SISWA SMK DALAM RANGKA MEMBENTUK PERILAKU TERTIB BERLALU LINTAS

Perpustakaan Unika SKALA DISIPLIN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan negara hukum, dengan jumlah penduduk Indonesia

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2013 TENTANG JARINGAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2013, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah ser

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2013 TENTANG JARINGAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

a. Manusia 89,56 % b. Jalan dan lingkungan 564% 5,64 c. Kendaraan 4,80 %

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1992 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN [LN 1992/49, TLN 3480]

BUPATI BANGKA TENGAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA TENGAH NOMOR 26 TAHUN 2014 TENTANG

I. PENDAHULUAN. lalu lintas, dan lain sebagainya (Soekanto, 2007: 101). undang-undang yang berlaku secara sah, sedangkan pelaksananya adalah

機車標誌 標線 號誌選擇題 印尼文 第 1 頁 / 共 12 頁 題號答案題目圖示題目. (1) Tikungan ke kanan (2) Tikungan ke kiri (3) Tikungan beruntun, ke kanan dahulu

SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( SAP ) Mata Kuliah : Rekayasa Lalulintas Kode : CES 5353 Semester : V Waktu : 1 x 2 x 50 menit Pertemuan : 13 (Tiga belas)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menjatuhkan sanksi. Sanksi hanya dijatuhkan pada warga yang benar-benar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN. A. Karakteristik Kecelakaan. 1. Jumlah kecelakaan dan jumlah korban kecelakaan

ANALISIS PELANGGARAN PENGENDARA SEPEDA MOTOR TERHADAP UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN

KUESIONER. Identitas Responden

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lalu lintas dan angkutan jalan mempunyai peran strategis dalam

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 61 TAHUN 1993 TENTANG RAMBU-RAMBU LALU LINTAS DI JALAN MENTERI PERHUBUNGAN,

BUPATI KAPUAS HULU PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KAPUAS HULU NOMOR 14 TAHUN 2014 TENTANG

BAB III PENUTUP. A. Kesimpulan. Berdasarkan keterangan dan fakta yang terdapat dalam pembahasan,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

pembinaan dan operasi. Audit keselamatan jalan pada awalnya diperiksa oleh orang atau tim yang berkualitas secara mandiri untuk

(1) Sebelum jalan, 2 hal yang benar cara memastikan aman melalui kaca spion adalah?

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 09 TAHUN 2011 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Berdasarkan Undang-Undang 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Keselamatan Jalan. lintas melalui rekayasa dan upaya lain adalah keselamatan berlalu lintas. Konsep

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. yakni perbandingan terhadap satuan mobil penumpang. Penjelasan tentang jenis. termasuk di dalamnya jeep, sedan dan lain-lain.

(2) Di lokasi manakah dari yang berikut ini Anda diharuskan untuk mengemudi sambil mengurangi kecepatan menurut Undang-undang Lalu Lintas Jalan?

PEMERINTAH KABUPATEN REJANG LEBONG PERATURAN DAERAH KABUPATEN REJANG LEBONG NOMOR 17 TAHUN 2007

PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA SELATAN

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Transportasi Menurut Nasution (1996) transportasi diartikan sebagai pemindahan barang dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan. Dalam hubungan ini terlihat tiga hal berikut (a) ada muatan yang diangkut, (b) tersedia kendaraan sebagai alat angkutannya dan (c) ada jalan yang dapat dilalui. Proses transportasi merupakan gerakan dari tempat asal, dari mana kegiatan pengangkutan dimulai, ke tempat tujuan, ke mana kegiatan pengangkutan diakhiri. 2.2 Prasarana Lalu Lintas Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 pasal 1 ayat (6) Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, prasarana lalu lintas dan angkutan jalan adalah ruang lalu lintas, terminal dan perlengkapan jalan yang meliputi marka, rambu, alat pemberi isyarat lalu lintas, alat pengendali dan pengaman pengguna jalan, alat pengawasan dan pengamanan jalan serta fasilitas pendukung. 2.3 Rambu Lalu Lintas Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 pasal 1 ayat (17) Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, rambu lalu lintas adalah bagian perlengkapan jalan yang berupa lambang, huruf, angka, kalimat, 6

7 dan/atau perpaduan yang berfungsi sebagai peringatan, larangan, perintah, atau petunjuk bagi pengguna jalan. 2.3.1 Rambu perintah Rambu perintah merupakan rambu yang harus dilakukan oleh pengguna jalan. Rambu ini biasanya berbentuk bundar berwarna biru dan lambang atau tulisannya berwarna putih. Gambar 2.1 Rambu Perintah

8 2.3.2 Rambu larangan Rambu larangan merupakan rambu yang dilarang untuk dilakukan oleh pengguna jalan. Rambu ini biasanya berwarna putih dan lambang atau tulisannya berwarna hitam atau merah. Gambar 2.2 Rambu Larangan 2.3.3 Rambu peringatan Rambu peringatan merupakan rambu yang menunjukkan bahwa kemungkinan adanya bahaya atau tempat berbahaya di depan pengguna jalan. Rambu ini biasanya berwarna kuning dan lambang atau tulisannya berwarna hitam.

9 Gambar 2.3 Rambu Peringatan 2.3.4 Rambu petunjuk Rambu petunjuk merupakan rambu yang menunjukkan petunjuk jurusan atau petunjuk arah bagi pengguna jalan untuk mencapai tujuan, seperti kota,

10 daerah atau wilayah yang ingin dituju. Rambu ini biasanya berwarna hijau dan lambang atau tulisannya berwarna putih. Gambar 2.4 Rambu Petunjuk 2.4 Marka Jalan Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 pasal 1 ayat (18) Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, marka jalan adalah suatu tanda yang berada di permukaan jalan atau di atas permukaan jalan yang meliputi peralatan atau tanda yang membentuk garis membujur, garis melintang, garis serong, serta lambang yang berfungsi untuk mengarahkan arus lalu lintas dan membatassi daerah kepentingan lalu lintas. 2.4.1 Marka putus-putus Marka putus-putus merupakan marka yang diperbolehkan untuk berpindah jalur atau mendahului kendaraan lain apabila jalur yang akan dipindah kosong.

11 Gambar 2.5 Marka Putus-Putus 2.4.2 Marka utuh Marka utuh merupakan marka yang tidak diperbolehkan untuk berpindah jalur, marka ini biasanya terdapat pada daerah yang berisiko kecelakaan, seperti tikungan, turunan, tanjakan atau daerah yang ramai. Gambar 2.6 Marka Utuh 2.4.3 Marka putus-putus dan marka utuh Marka putus-putus dan marka utuh merupakan marka yang diperbolehkan untuk berpindah jalur bagi pengendara yang berada di marka putus-putus, sedangkan pengendara yang berada di marka utuh tidak dapat berpindah jalur.

12 Gambar 2.7 Marka Putus-Putus dan Marka Utuh 2.5 Sepeda Motor Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 pasal 1 ayat (20) Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, sepeda motor adalah kendaraan bermotor beroda dua dengan atau tanpa rumah-rumah dan dengan atau tanpa kereta samping atau kendaraan bermotor beroda tiga tanpa rumah-rumah. Sepeda motor diwajibkan memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan yang meliputi kaca spion, klakson, lampu utama, lampu rem, lampu penunjuk arah, alat pemantul cahaya, alat pengukur kecepatan, knalpot dan kedalaman alur ban, sebagaimana yang telah diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 pasal 106 ayat (3) Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 2.6 Pengemudi Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 pasal 1 ayat (23) Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pengemudi adalah orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan yang telah memiliki surat izin mengemudi.

13 Berikut adalah syarat pengemudi untuk mengendarai sepeda motor : 1. minimal usia 17 tahun dan memiliki SIM C yang didapatkan melalui serangkaian tes di kepolisian, 2. wajib menggunakan helm SNI saat mengemudi atau membonceng, 3. tidak dalam keadaan sedang sakit atau mengonsumsi obat-obatan yang membuat pengemudi mengantuk, 4. tidak dalam pengaruh minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang atau narkoba, 5. mematuhi peraturan lalu lintas, 6. wajib mengutamakan pejalan kaki atau pesepeda 7. wajib menyalakan lampu utama di siang hari dan 8. menyalakan lampu isyarat atau sign pada saat berhenti di pinggir jalan, berbelok atau memutar balik arah. 2.7 Kecelakaan Lalu Lintas Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 pasal 1 ayat (24) Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan yang tidak diduga dan disengaja melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan lain yang mengakibatkan korban manusia dan/atau kerugian harta benda. Kecelakaan lalu lintas merupakan kejadian yang tidak direncanakan dan tidak terkendali, ketika aksi atau reaksi suatu objek, bahan atau radiasi menyebabkan cidera atau kemungkinan cidera (Heinrich, 1980).

14 2.7.1 Karakteristik kecelakaan menurut jumlah (Hubdat, 2006) karakteristik kecelakaan menurut jumlah kendaraan yang terlibat dapat dibedakan menjadi : 1. kecelakaan tunggal, yaitu kecelakaan yang hanya melibatkan satu kendaraan bermotor dan tidak melibatkan pengguna jalan lain, seperti menabrak pohon, kendaraan tergelincir dan terguling akibat ban pecah, 2. kecelakaan ganda, yaitu kecelakaan yang melibatkan lebih dari satu kendaraan atau kendaraan dengan pejalan kaki yang mengalami kecelakaan di waktu dan tempat yang bersamaan. 2.7.2 Karakteristik kecelakaan menurut jenis tabrakan (Hubdat, 2006) karakteristik kecelakaan menurut jenis tabrakan dapat diklasifikasikan menjadi : 1. Angle (Ra), tabrakan antara kendaraan yang bergerak pada arah yang berbeda, namun bukan dari arah berlawanan, Gambar 2.8 Angle (Ra)

15 2. Rear-End (Re), kendaraan menabrak dari belakang kendaraan lain yang bergerak searah, Gambar 2.9 Rear-End (Re) 3. Sideswipe (Ss), kendaraan yang bergerak menabrak kendaraan lain dari samping ketika berjalan pada arah yang sama atau pada arah yang berlawanan,

16 Gambar 2.10 Sideswipe (Ss) 4. Head-On (Ho), tabrakan antara kendaraan yang berjalan pada arah yang berlawanan (tidak sideswipe), Gambar 2.11 Head-On (Ho)

17 5. Backing, tabrakan secara mundur. Gambar 2.12 Backing 2.8 Keselamatan Lalu Lintas Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 pasal 1 ayat (31) Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan adalah suatu keadaan terhindarnya setiap orang dari risiko kecelakaan selama berlalu lintas yang disebabkan oleh manusia, kendaraan, jalan dan/atau lingkungan.

18 2.9 Karakter Pengemudi Menurut Khisty dan Lall (2005) pengemudi mempunyai karakteristik dalam mengendarai kendaraannya. Karakteristik pengemudi terkandung pengetahuan yang luas yang menangani kemampuan alamiah pengemudi, kemampuan belajar, dan motif serta perilakunya. Untuk memahami mengapa pengemudi berperilaku seperti yang mereka lakukan dapat diketahui dari motif dan sikapnya. Perilaku sering kali dapat menentukan bagaimana seorang pengemudi bereaksi terhadap situasi saat berkendara. Khisty dan Lall (2005) motif dapat dikaitkan dengan rasa takut akan kecelakaan, takut dikritik dan perasaan tanggung jawab sosial. Karakteristik pengendara dapat berubah secara drastis dan cepat karena penggunaan alkohol, narkotika dan obat-obatan. Rasa sakit, jenuh dan tidak nyaman dapat secara praktis mengurangi efisiensi mengemudi. 2.9.1 Pengindraan Khisty dan Lall (2005) pengemudi dapat menerima informasi yang bermanfaat yang berhubunngan dengan pengendalian kendaraan yang aman melalui penglihatan dan pendengaran. 2.9.2 Perasaan Khisty dan Lall (2005) pengemudi mengalami gaya-gaya yang bekerja pada kendaraannya seperti gaya gravitasi, percepatan, perlambatan dan percepatan membelok. Dalam mempercepat dan memperlambat kendaraannya pengemudi sangat dipengaruhi oleh kecepatan dan kondisi jalan, sehingga pada saat itulah bagaiman pengendalian ini dilakukan.

19 2.9.3 Penglihatan Khisty dan Lall (2005) penglihatan adalah komponen yang terpenting bagi pengemudi untuk memperoleh informasi yang akurat mengenai keterkaitan antara objek yang ia lihat dan mengenai pesan-pesan pada rambu lalu lintas. Karakteristik-karakteristik tertentu dari ketajaman penglihatan mendapat perhatian khusus dalam transportasi. Karakteristik ini antara lain meliputi : ketajaman penglihatan statis dan dinamis, persepsi kedalaman, penglihatan peripheral (melihat jauh), penglihatan malam hari dan kepulihan dari silau cahaya. Ketajaman penglihatan adalah kemampuan untuk melihat dengan baik suatu objek hingga detail terkecilnya. 2.9.4 Pendengaran Khisty dan Lall (2005) pendengaran penting bagi pengemudi dan pejalan kaki. Meskipun pendengaran tidak sepenting penglihatan ketika berkendara, pendengaran bisa bermanfaat dalam mengurangi kecelakaan. Selain itu pengemudi, dengan kemampuan pendengarannya dapat mengumpulkan informasi yang berguna mengenai mesin kendaraan, roda, suara-suara peringatan, seperti sirene, klakson, lonceng radio, dan kemungkinan suara-suara lalu lintas lainnya. 2.9.5 Kondisi yang mempengaruhi Khisty dan Lall (2005) karakteristik pengemudi dapat diperbaiki dengan cepat dan serius, tapi sering hanya bersifat sementara akibat kondisi tidak terduga, beberapa diantaranya dibawa oleh pengemudi sendiri. Hal ini dapat berpengaruh pada perilaku dan juga reaksi pengemudi atas situasi lalu lintas. Kondisi ini mempunyai pengaruh yang berbeda-beda pada pengemudi.

20 Tabel 2.1 Kondisi-Kondisi Yang Mempengaruhi Racun Penyakit Mengantuk Kenyamanan Alkohol Lemah jantung Kejenuhan Suhu Narkotika Epilepsy Tekanan Kebisingan Karbonmonoksida Diabetes Menonton Kelaparan Kelelahan 2.10 Perilaku Pengemudi Poerwadarminta (1976), menurut kamus besar Bahasa Indonesia perilaku merupakan tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. Adapun perilaku hukum adalah perilaku yang berakibat tuntutan hukum karena merupakan kehendak yang melanggar (berlawanan dengan) kepentingan orang lain. Perilaku kolektif kegiatan orang secara bersama-sama dengan cara tertentu dan mengikuti pola tertentu pula. Perilaku legal perilaku nyata, sesuai dengan apa yang dianggap pantas oleh kaidah hukum yang berlaku. Perilaku preventif ialah perbuatan seseorang atau sekelompok yang bertujuan mencegah timbulnya atau menularnya suatu penyakit. Tulisan ini sebelumnya sudah pernah dibuat oleh peneliti sebelumnya. Menurut Jenahu (2016) dalam tulisannya perilaku pengendara di Kota Labuan Bajo Manggarai Barat, NTT, dapat dikategorikan berperilaku baik dalam hal-hal sebagai berikut :

21 1. saat mengendarai sepeda motor dan akan berbelok atau berbalik arah wajib mengamati situasi lalu lintas di depan, di samping, dan di belakang kendaraan serta memberikan isyarat dengan lampu penunjuk arah atau isyarat tangan, 2. saat mengendarai sepeda motor tidak dalam pengaruh alkohol dan obat-obatan terlarang, 3. setelah berbelok arah mematikan lampu isyarat/sign, 4. tidak menggunakan jalan umum sebagai arena balapan, 5. tidak menerobos lampu merah saat mengendarai sepeda motor, 6. wajib mengutamakan keselamatan pejalan kaki dan pesepeda, 7. tidak mengendarai motor di atas trotoar saat menghindari kemacetan, 8. selalu mengendarai sepeda motor dalam kondisi kesehatan yang baik, 9. orang yang dibonceng wajib menggunakan helm, 10. selalu mematuhi rambu lalu lintas dan marka jalan saat mengendarai sepeda motor, 11. selalu mengendarai sepeda motor di jalur sebelah kiri, 12. saat mengendarai sepeda motor tidak memboncengkan lebih dari satu orang penumpang, 13. selalu memperhatikan marka jalan (zebra cross) saat mengendarai sepeda motor, 14. memperoleh Surat Ijin Mengemudi (SIM) melalui serangkaian tes. Menurut Jenahu (2016) dalam tulisannya perilaku pengendara di Kota Labuan Bajo Manggarai Barat, NTT, dapat dikategorikan berperilaku buruk dalam hal-hal sebagai berikut :

22 1. menyalib kendaraan dari sebelah kiri, 2. tidak mengurangi kecepatan sepeda motor yang dikendarai pada saat hujan, 3. pada saat akan hujan mempercepat kecepatan sepeda motor yang di kendarai, 4. anak-anak tidak wajib menggunakan helm pada saat dibonceng, 5. tidak selalu menyalakan lampu utama saat mengendarai sepeda motor pada siang hari. Menurut Wini (2016) dalam tulisannya perilaku pengendara di Kota Waingapu, Sumba Timur, NTT, dapat dikategorikan berperilaku baik terhadap aspek kelengkapan pengendara. Mayoritas responden memiliki kepedulian terhadap kelengkapan saat berkendara. Namun responden masih memiliki perilaku yang buruk pada aspek perilaku pengendara, seperti memperoleh SIM dan STNK tidak melalui serangkaian tes, tidak mewajibkan anak-anak mengunakan helm pada saat dibonceng serta tidak menyalakan lampu utama saat mengendarai motor pada siang hari. Disini penulis akan membahas tentang kelengkapan dan perilaku pengguna sepeda motor dalam keselamatan berlalu lintas di Kabupaten Bantul, D. I. Y, serta mengamati langsung keadaan di lapangan.