UPAYA PEMERTAHANAN BAHASA

dokumen-dokumen yang mirip
BANJAR-BANJAR DI KALIMANTAN SELATAN

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia terdiri atas berbagai macam suku. Salah satu suku di Indonesia

BAB II KAJIAN PUSTAKA. tentang pemertahanan bahasa Bali di Universitas Airlangga, dan pemertahanan

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat di dunia. Bahasa terdiri atas bahasa lisan dan tulisan. Sebagai bagian dari

BAB I PENDAHULUAN. memiliki jumlah penutur lebih dari satu juta jiwa (Bawa, 1981: 7). Bagi

BAB I PENDAHULUAN. bahasa dalam penggunaannya di tengah adanya bahasa baru dalam masyarakat

PEMERTAHANAN BAHASA JAWA PADA MASYARAKAT KAMPUNG CIDADAP KABUPATEN CIREBON. Oleh. Hesti Muliawati, Rendi Suhendra, dan M.

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI. kaitannya dengan penelitian yang dilakukan. Kajian pustaka adalah langkah yang

BAB I PENDAHULUAN. tinggal di daerah tertentu, misalnya bahasa Bugis, Gorontalo, Jawa, Kaili (Pateda

PEMEROLEHAN BAHASA JAWA PADA ANAK USIA DINI DI LINGKUNGAN PENUTUR MULTIBAHASA SERTA STRATEGI PEMERTAHANANNYA SEBAGAI PENGUAT JATI DIRI BUDAYA BANGSA

Abstraksi. Kata kunci: dialektologi, sikap, bahasa, minang, rantau

BAB II KAJIAN PUSTAKA. bahasa. Tidak seperti sistem isyarat yang lain, sistem verbal bisa digunakan untuk

BAB I PENDAHULUAN. komunikasi yang sangat dibutuhkan manusia dalam menyampaikan suatu maksud

BAB I PENDAHULUAN. berkomunikasi dengan sesamanya. Bahasa juga merupakan ekspresi kebudayaan,

KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA BALI PADA MASYARAKAT ISLAM DI BANJAR CANDIKUNING II KECAMATAN BATURITI KABUPATEN TABANAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian

I. PENDAHULUAN. Sumarsono (2009) mengemukakan bahwa bahasa sebagai alat manusia untuk. apabila manusia menggunakan bahasa. Tanpa bahasa, manusia akan

KEPUNAHAN BAHASA BETAWI PADA SUKU BETAWI DI CENGKARENG BARAT, JAKARTA BARAT

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA

Sikap Bahasa Masyarakat Urban terhadap Bahasa Indonesia. (Menemukan Tipe Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Wilayah Rural dan Urban)

BAB VIII SIMPULAN DAN SARAN. a. Upaya pemertahanan bahasa Bali dalam keluarga. Hal ini tampak dalam situasi

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PEMAKAIAN BAHASA TONTEMBOAN SISWA SMA DAN SMK DI KABUPATEN MINAHASA SELATAN

ASEP HIDAYATULLAH, 2016 PENGARUH SIKAP BERBAHASA INDONESIA TERHADAP KEMAMPUAN BERBICARA AKADEMIK

BAB I PENDAHULUAN. bahasa juga mempengaruhi pikiran manusia itu sendiri. Ilmu Sosiolinguistik

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara yang kaya akan keanekaragaman budaya. Terdiri

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. berupaya menjawab pertanyaan penelitian yang diajukan dalam penelitian ini.

PEMEROLEHAN BAHASA JAWA ANAK USIA 4-6 TAHUN (Studi Kasus: TK Al-Hidayah 06 Candisari Semarang)

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI

- 1 - PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA DAN

MUHAMMAD BAKRI ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Budi Utomo, 2014

KEBANGGAAN TERHADAP BAHASA INDONESIA (LANGUAGE PRIDE) DI PURWAKARTA. Siti Chadijah ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI. Dalam bab ini dijelaskan mengenai kajian pustaka, konsep, dan landasan teori

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu kebanggaan nasional (national pride) bangsa Indonesia adalah

PEMERTAHANAN BAHASA BANJAR HULU DI KOTA BANJARMASIN PADA UMUR DEWASA (Ranah Keluarga, Pergaulan, Pekerjaan, dan Ranah Pendidikan)

PERGESERAN DAN PEMERTAHANAN BAHASA

PERGESERAN BAHASA SASAK DI SEBAMBAN KABUPATEN TANAH BUMBU. Kamariah dan Muhammad Abdillah STKIP PGRI Banjarmasin

BAB I PENDAHULUAN. manusia lain dalam kehidupan sehari-harinya. Untuk melakukan interaksi

BAB I PENDAHULUAN. 1 Kata tembang nyanyian sama fungsi dan kegunaannya dengan kidung, kakawin dan gita. Kata kakawin berasal

BAB I PENDAHULUAN. alat berkomunikasi antara anggota masyarakat yang berupa lambang bunyi yang

PEMERTAHANAN BAHASA BANJAR HULU DI KOTA BANJARMASIN PADA UMUR DEWASA (Ranah Pemerintahan, Ranah Transaksi, dan Ranah Tetangga)

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN. 7.1 Kesimpulan Berdasarkan temuan di lapangan dan hasil analisis data yang

BAB II KAJIAN PUSTAKA. maupun teori pendukung lainnya. Keseluruhan teori tersebut akan menjadi dasar

BAB I PENDAHULUAN. hingga sekarang. Folklor termasuk dalam suatu kebudayaan turun-temurun yang

PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan budaya yang sangat luar biasa.

PEMILIHAN KODE MASYARAKAT PESANTREN DI PESANTREN AL-AZIZ BANJARPATOMAN DAMPIT

BAB I PENDAHULUAN. lisan. Secara tertulis merupakan hubungan tidak langsung, sedangkan secara. sebuah percakapan antar individual atau kelompok.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sikap bahasa merupakan sebagian dari sosiolinguistik yang mengkaji tentang bahasa.

ANALISIS WACANA KELUHAN DALAM BAHASA JAWA STUDI KASUS WARGA DESA BANGSRI KECAMATAN PURWANTORO KABUPATEN WONOGIRI

2015 PENGAKUAN KEESAAN TUHAN DALAM MANTRA SAHADAT SUNDA DI KECAMATAN CIKARANG TIMUR KABUPATEN BEKASI

BAB I PENDAHULUAN. dan berkembang sebagaimana yang dijamin oleh penjelasan undang-undang dasar

BAB 1 PENDAHULUAN. mempunyai makna tertentu. Sebagai sistem lambang bunyi yang mempunyai makna,

BAB II KAJIAN TEORI. penelitian dari laporan penelitian yang relevan. Menurut Triandis (melalui Suhardi, 1996: 22) sikap didefinisikan sebagai

BAB I PENDAHULUAN. beragam suku dan budaya. Suku-suku yang terdapat di provinsi Gorontalo antara lain suku

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Bab 1. Pendahuluan. berasal dari nama tumbuhan perdu Gulinging Betawi, Cassia glace, kerabat

ANALISIS PENGGUNAAN DIKSI PADA ARTIKEL SURAT KABAR SOLOPOS EDISI APRIL - MEI 2010

KEBERADAAN BAHASA DAN DINAMIKA KEHIDUPAN MASYARAKAT (LANGUAGE EXISTENCE AND SOCIAL LIFE DYNAMIC)

BAB I PENDAHULUAN. Kalimantan, sebagaimana dengan wilayah Indonesia lainnya yang kaya akan

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa daerah memiliki peran yang sangat penting dalam eksistensinya. Bahasa

BAB I PENDAHULUAN. dan memeliharanya. Salah satu cara untuk menjaga amanat dan anugrah yang Maha Kuasa yaitu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. membuat banyaknya penelitian tentang bahasa daerah. Penelitian-penelitian tersebut

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL PENELITIAN. ada beberapa studi sebagai acuan kajian pustaka untuk kepentingan penelitian

KEDUDUKAN BAHASA INGGRIS SEBAGAI BAHASA PENGANTAR DALAM DUNIA PENDIDIKAN

BAB I PENDAHULUAN. keanekaragaman budaya, adat istiadat, bahasa dan sebagainya. Setiap daerah pun

BAB I PENDAHULUAN. Aktivitas komunikasi tidak lepas dari kehidupan manusia sehari-hari.

BAB I PENDAHULUAN. semangat kebangsaan dan semangat perjuangan dalam mengantarkan rakyat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang memiliki

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan sosial masyarakat karena tanpa bahasa masyarakat akan sulit untuk

IDENTITAS NASIONAL. Mengetahui identitas nasional dan pluralitas bangsa Indonesia RINA KURNIAWATI, SHI, MH. Modul ke: Fakultas FAKULTAS.

BAB I PENDAHULUAN. lain. Penggunaan suatu kode tergantung pada partisipan, situasi, topik, dan tujuan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. gejala sosial, yang dinyatakan dalam istilah atau kata (Malo, 1985:46). Untuk

BAB I PENDAHULUAN. berinteraksi, dan mengidentifikasi diri (Kridalaksana, 2001: 21). Sebagai alat

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini peranan bahasa sebagai alat komunikasi masih sangat penting. Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. Keberadaan bahasa dalam kehidupan manusia mempunyai peranan yang sangat. pada setiap bahasa, khususnya bahasa ibu atau bahasa asal.

BAB I PENDAHULUAN. sebagai alat komunikasi, baik komunikasi antar individu yang satu dengan yang

BAB I PENDAHULUAN. Utara yang berjarak ± 160 Km dari Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara (Medan). Kota

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan, di samping unsur yang

BAB I PENDAHULUAN. dengan beberapa bangsa asing yang membawa bahasa dan kebudayaannya masing-masing.

BAB I PENDAHULUAN. Museum Budaya Dayak Di Kota Palangka Raya Page 1

BAB I PENDAHULUAN. Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar. Setiap kelompok etnik tersebut memiliki

PENGEMBANGAN DWIBAHASAWAN YANG SEIMBANG UNTUK MEMPERTAHANKAN BAHASA-BAHASA DAERAH DI INDONESIA *

Sikap Bahasa dan Pola Pewarisan Bahasa Keluarga Kawin Campur Kabupaten Maros: Pendekatan Sosiolinguistik

I. PENDAHULUAN. yakni berbeda-beda tetapi tetap satu. Maknanya meskipun berbeda-beda namun

BAB I PENDAHULUAN. peran orang tua sebagai generasi penerus kehidupan. Mereka adalah calon

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil temuan di lapangan mengenai perkembangan seni

CAMPUR KODE DAN ALIH KODE PEMAKAIAN BAHASA BALI DALAM DHARMA WACANA IDA PEDANDA GEDE MADE GUNUNG. Ni Ketut Ayu Ratmika

LEMBARAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I BALI NOMOR : 385 TAHUN : 1992 SERI: D NO. 379 PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I BALI

Transkripsi:

UPAYA PEMERTAHANAN BAHASA Ida Komalasasi 1, Ida Rusdiana 2 1 STKIP PGRI Banjarmasin, Banjarmasin 2 STKIP PGRI Banjarmasin, Banjarmasin 1 idakomalasari56@gmail.com, 2 idarusdiana41@yahoo.co.id ABSTRAK Masalah yang dihadapi bahasa daerah saat ini adalah kedudukan dan fungsinya tidak lagi sesuai dengan kedudukan dan fungsi yang diberikan kepadanya. Bahasa daerah tidak lagi dijadikan identitas yang membanggakan, begitu pula fungsinya tidak lagi dijadikan bahasa komunikasi utama dalam kehidupan keluarga dan masyarakat pendukungnya. Oleh karena itu pemertahanan bahasa daerah perlu dilakukan. Masalah ini berhubungan dengan warisan nilai-nilai budaya masyarakat. Jika tidak ada secuilpun budaya yang dapat diwarisi oleh masyarakat terutama yang bahasanya sudah punah dan hampir punah maka masyarakat akan kehilangan akar budayanya. Artikel ini membicarakan berbagai upaya pemertahanan bahasa daerah, sehingga dapat dipetik manfaat tentang upaya upaya pemertahanan bahasa daerah dari berbagai daerah dengan kondisi yang berbeda. 1. PENDAHULUAN Salah satu kekayaan budaya Indonesia yang hanya sedikit dimiliki bangsa lain adalah keragaman bahasa. Keragaman bahasa dimiliki bangsa Indonesia ini merupakan warisan unik dan langka dari nenek moyang yang wajib dijaga dan dilestarikan. Kewajiban menjaga dan melestarikan ini tidak hanya bertumpu pada penutur atau peneliti bahasa saja, akan tetapi seluruh komponen bangsa wajib turut andil dalam hal menjaga dan melestarikannya. Melalui bahasa dapat digali dan diketahui kearifan lokal bangsa. Dengan demikian diharapkan kearifan lokal bangsa tidak hanya tinggal kenangan, tetapi mampu membuat kehidupan bangsa lebih baik. Kekayaan budaya Indonesia juga tercermin dalam kekayaan akan bahasabahasa daerah. Oleh karena itu, bangsa Indonesia juga dikenal kaya akan bahasa daerah. Dengan memiliki banyak bahasa daerah, Indonesia disebut memiliki keragaman budaya yang luar biasa. Pada setiap bahasa daerah yang tumbuh dan berkembang di Indonesia tersimpan berbagai filosofi, kearifan lokal, folklore, dan berbagai bentuk tradisi. 2 nd NEDS Proceedings 105

Banyak pemerhati bahasa mengkhawatirkan kelestarian bahasa-bahasa lokal karena semakin berkurang penuturnya. Kekhawatiran ini senada dengan perkiraan UNESCO bahwa abad ke-21 ini separuh dari enam ribu bahasa yang ada di dunia ini akan punah ( Tempo, 21 Februari 2007). Untuk itu perlu strategi pemertahanan bahasa daerah. Strategi pemertahanan bahasa daerah yang hampir punah dan yang sudah punah tidak akan berhasil jika dilakukan setengah-setengah. Perlu kerjasama yang sinergis antara agen-agen budaya pemerintah dan semua pemangku budaya. Peran pemerintah daerah menjadi penting karena pemeliharaan budaya daerah menjadi hak otonomi pemerintah daerah. Berbagai alternative strategi yang telah disajikan tidak akan berhasil jika para pemangku budaya daerah tidak diikutsertakan dalam proses penanganannya (Poerwadi, 2014:8). 2. KONSEP PEMERTAHANAN BAHASA Pemertahanan bahasa sebagaimana yang ditunjukkan hasil kajian yang dilakukan para pakar pemeliharaan bahasa merupakan usaha agar suatu bahasa tetap dipakai dan dihargai terutama sebagi identitas suatu kelompok dalam masyarakat bahasa yang bersangkutan (Kridalaksana, 2001:159). Jendra (2012:26) menyatakan pemertahanan bahasa adalah situasi ketika sebuah komunitas dapat mempertahankan atau melanjutkan penggunaan bahasa mereka dari generasi ke generasi meskipun ada kondisi yang dapat mempengaruhi mereka untuk beralih ke bahasa lain. Melalui sikap positif masyarakat bahasa untuk mempertahankan bahasanya akan mencegah pergeseran bahasa yang mengarah pada kepunahan bahasa. Sebaliknya tanpa kesadaran suatu masyarakat untuk memelihara atau melestraikan bahasanya, maka akan mempercepat kepunahan bahasa sebagaimana. Pemertahanan bahasa mengacu pada sebuah situasi dimana anggota komunitas atau masyarakatnya berusaha mempertahankan penggunaan bahasanya yang telah biasa mereka gunakan (Hoffman, 1991:186). Salah satu cara untuk menguji penggunaan bahasa pada komunitas tutur diperlukan teori ranah (domain)sebuah istilah yang dipopulerkan oleh sosiolinguis Amerika, Joshua Fishman (1968). Fishman (1972:442) mendefinisikan ranah sebagai gambaran 106 2 nd NEDS Proceedings

abstrak sosio budaya dari topic komunikasi, hubungan antar komunikator, dan tempat terjadinya peristiwa komunikasi sesuai struktur social lapisan masyarakat. 3. BEBERAPA KASUS PEMERTAHANAN BAHASA 3.1 Kasus Pemertahanan Bahasa Loloan di Bali Sumarsono (2004:147) mendeskripsikan penduduk desa Loloan yang berjumlah tiga ribu orang tidak menggunakan bahasa Bali, tetapi menggunakan Bahasa Melayu Loloan,, sejak abad ke-18 yang lalu ketika leluhur mereka yang berasal dari Bugis dan Pontianak tiba di tempat itu. Faktor yang menyebabkan mereka bertahan adalah: i. Wilayah pemukiman mereka terkonsentrasi pada satu tempat yang secara geografis tidak terpisah dari wilayah pemukiman masyarakat Bali. Meski secara geografis satu wilayah penduduk Bali dan penduduk Melayu Loloan tapi wilayah pemukiman mereka terpisah sehingga Bahasa Melayu Loloan terkonsentrasi pemakaiannya dan pengaruh dari bahasa lain kurang. ii. Adanya toleransi dari masyarakat mayoritas Bali untuk menggunakan bahasa Melayu Loloan dalam berinteraksi dengan golongan minoritas Loloan meskipun dalam interaksi itu kadang-kadang digunakan juga bahasa Bali. Penduduk Bali sangat toleransi dengan masyakat Melayu Loloan, sehingga mereka tidak masalah ketika masyarakat Melayu Loloan tetap menggunakan bahasa mereka ketika berinteraksi. iii. Anggota masyarakat Loloan mempunyai sikap keislaman yang tidak akomodatif terhadap masyarakat, budaya, dan bahasa Bali. Bagi masyarakat Melayu Loloan, bahasa Bali identic dengan agama Hindu, sehingga mereka tidak mau menggunakan bahasa Bali. iv. Adanya loyalitas yang tinggi dari Masyarakat Melayu Loloan sebagai konsekkuensi kedudukan atau status bahasa ini yang menjadi lambang indentitas diri. Bagi masyarakat Melayu Loloan Bahasa Melayu Loloan merupakan lambing identitas diri sehingga mereka selalu menggunakan bahasa ini. Mereka memiliki kebanggaan dan kesetiaaan terhadap bahasa Melayu Loloan. 2 nd NEDS Proceedings 107

v. Adanya kesinambungan pengalihan bahasa Melayu Loloan dari generasi terdahulu ke generasi berikutnya. Karena loyalitas tinggi, maka generasi tua masyarakat Melayu Loloan mewariskan bahasa tersebut ke generasi muda berikutnya sehingga terjadi kesinambungan pengalihan bahasa Ibu. 3.2 Keberhasilan Pemertahanan Bahasa Holmes (1993:14) mengatakan tiga faktor utama keberhasilan pemertahanan bahasa: i. Jumlah orang yang mengakui bahasa tersebut sebagai bahasa ibu mereka Dilihat dari kuantitas, jumlah penutur yang banyak pada sebuah bahasa membuat sebuah bahasa dapat bertahan. ii. Jumlah media yang mendukung bahasa tersebut dalam masyarakat (sekolah, publikasi, radio). Jika media massa seperti radio, televise, koran, buku-buku sastra menggunakan bahasa daerah maka akan mendukung pemertahanan sebuah bahasa. iii. Indeks yang berhubungan dengan jumlah orang yang mengakui dengan perbandingan total dari media media pendukung. iv. Jumlah atau kuantitas penutur yang banyak dan media-media pendukung pemakaian sebuah bahasa sangat berpengaruh terhadap pemertahanan sebuah bahasa. Faktor Pemertahanan Bahasa Menurut Miller (1972): i. Faktor Prestise dan Loyalitas Jika seorang penutur bangga dengan budayanya termasuk bahasanya maka dia akan menggunakan bahasa daerah mereka di tengah komunitas yang heterogen. ii. Faktor Migrasi dan Konsentrasi Wilayah Jika sejumlah orang dari sebuah penutur bahasa bermigrasi ke suatu daerah dan jumlahnya dari masa ke masa bertambah sehingga melebihi jumlah populasi penduduk asli daerah itu, maka dapat tercipta pergeseran bahasa, tetapi jika terbentuk pola konsentrasi wilayah maka dapat mendukung kelestarian sebuah bahasa. 108 2 nd NEDS Proceedings

iii. Faktor Publikasi Media Massa Radio dan televisi banyak mengiklankan produk produk dalam bahasa daerah daripada bahasa lain agar lebih akrab. Ini mendukung keberhasilan pemertahanan bahasa. Jika jumlah media yang mendukung pemakaian bahasa lebih banyak maka sangat mendukung pemertahanan bahasa tersebut. Faktor Pemertahanan Bahasa Jawa di Suriname (Komariyah dan Ruriana, 2010): i. Siaran radio dan televisi berbahasa Jawa Radio dan televisi dengan bahasa pengantar bahasa Jawa dapat mendukung pemertahanan Bahasa Jawa. ii. Nama geografi yang meliputi nama jalan dan desa Nama-nama geografi baik itu jalan, desa, dan sebagainya yang berciri daerah Jawa juga menyumbang pemertahanan Bahasa Jawa. iii. Nama diri Nama-nama diri yang khas keturunan Jawa juga menyumbang pemertahanan Bahasa Jawa. iv. Ceramah agama berbahasa Jawa. Ceramah agama yang disampaikan dengan bahasa pengantar bahasa Jawa biasanya menunjukkan keakraban, humor, lebih mudah dimengerti juga akan mendukung pemertahanan Bahasa Jawa. 3.3 Upaya pemertahanan bahasa Banjar di Kuala Tungkal Provinsi Jambi (Komalasari, 2016:144) i. Pewarisan BB kepada Anak Hidup sebagai kaum urban di perkotaan dalam masyarakat bahasa yang majemuk harus mempunyai sikap. Bahasa Banjar perlu dipertahankan sebagai bahasa ibu. Orang tua perlu mengajarkan bahasa Banjar kepada anak-anaknya. ii. Peningkatan Loyalitas Pemupukan loyalitas memang perlu. Tetap diturunkannya kemampuan berbahasa Banjar kepada generasi selanjutnya memegang peranan penting 2 nd NEDS Proceedings 109

dalam pemertahanan Bahasa Banjar. Jika ada peralihan bahasa maka bahasa akan punah dalam tiga generasi, iii. Pelestarian melalui jalur formal dan informal Pada jalur formal, bahasa Banjar dijadikan materi pelajaran dalam kurikulum muatan lokal. Kehadiranmateri pelajaran Bahasa Banjar sangat penting dan memiliki peran strategis dalam pelestarian unsur kebudaan nasional. Bahasa Banjar juga diakui oleh pemerintah sebagai bahasa pengantar di kelas-kelas rendah. iv. Pelestarian melalui tradisi lisan Bahasa Banjar juga memiliki tradisi sastra dan lisan. Kondisi yang demikian ini merupakan asset kebudayaan yang sangat penting dalam upaya pengembangan kebudayaan nasional. Bahasa yang sudah punah juga dapat ditangani dengan strategi pewarisan nilai budaya dapat dilakukan secara lisan.. Tradisi tulis jika ada akan lebih kuat daripada dilakukan melalui tradisi lisan. v. Penggunaan pada pendakwah Para pendakwah telah lama memanfaatkan bahasa Banjar dalam kegiatan dakwahnya di masyarakat. Buku-buku, kitab kitab dalam agama Islam juga banyak ditulis dengan menggunakan bahasa daerah setempat. Penggunaan bahasa daerah secara tertulis dirakan lebih sulit dibandingkan dengan penggunaan bahasa daerah secara lisan. Hal ini terkait dengan kuatnya budaya lisan di kalangan masyarakat Indonesia. vi. Penggunaan pada perkawinan antar suku. Semakin erat hubungan seseorang dengan jaringan kelompok sukunya maka akan semakin dekat juga dia dengan sukunya sehingga dia akan mempertahankan identitas kelompok termasuk di dalamnya adalah bahasa daerah. Perkawinan antar etnis atau suku bias tetap melestarikan bahasa Banjar. vii. Pembentukan kelompok organisasi Untuk mempererat tali silaturahmi antara suku, penutur perantau membentuk organisasi agar perantau tetap menjaga budaya dan juga menjaga kerukunan antar sesame. 110 2 nd NEDS Proceedings

viii. Terbentuknya konsentrasi penutur Konsentrasi penutur yang terkumpul dalam sebuah wilayah memberikan keuntungan yang sanagat besar dalam pemertahanan bahasa. Bahasa akan tetap bertahan di wilayah tersebut selama orang dewasa tetap menggunakan bahasa Banjar di dalam keluarga dan generasi mudanya tetap menggunakan di lingkungan tempat tinggal mereka. 4. PENUTUP Pemertahanan bahasa daerah baik dari bahasa nasional maupun bahasa asing tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya peran dan kontribusi pengguna bahasa daerah itu sendiri. Keberlangsungan bahasa daerah ini memerlukan sikap positif yang melandasi penggunaan bahasa akan norma-norma penggunaan bahasa. Garvin dan Mathiot (1968) mengemukakan sikap positif terhadap bahasa Indonesia ini antara lain: a) kesetiaan bahasa yaitu sikap yang mendorong masyakat suatu bahasa mempertahankan bahasanya dan apabila perlu mencegah adanya pengaruh bahasa lain, b) kebanggaan bahasa yakni sikap yang mendorong orang menembangkan bahasanya dan menggunakan sebagai lambing indentitas dan kesatuan masyarakat, c) kesadaran adanya norma bahasa yang mendorong orang menggunakan bahasanya dengan cermat dan santun dan merupakan factor yang sangat besar pengaruhnya terhadap perbuatan yaitu kegiatan menggunakan bahasa. Pemertahanan suatu bahasa tidak akan terjadi jika tidak ada peran serta dan penggunaan bahasa yang baik oleh pengguna bahasa itu sendiri. Pengguna bahasa memiliki caranya masing-masing bahasa yang akan digunakan. Nanti sejarah akan melihat apakah suatu bahasa akan bertahan atau tidak. Begitu juga yang terjadi dengan berbagai bahasa daerah sebagai bahasa etnik yang dimiliki oleh Indonesia. Di tangan kita lah bahasa ini akan terus hidup dan berkembang. Namun di tangan kita pula bahasa ini akan mati dan hanya aka nada dalam cerita dan sejarah. Untuk itulah sebagai generasi yang bijak akan lebih baik jika kita terus mewariskan warisan bahasa budaya ini hingga dapat dinikmati juga oleh anak cucu dan generasi mendatang. 2 nd NEDS Proceedings 111

5. DAFTAR PUSTAKA Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2007. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: PT Rineka Cipta. Holmes. 1993. Language Maintenance and Shit in Three New Zealand Speech Community. Siti, Komariyah dan Puspa, Ruriana (2010). Pemertahanan Bahasa Jawa di Suriname. Hotel Pandanaran Semarang: Seminar Nasional Pemertahanan Bahasa Nusantara, 6 Mei 2010. Tim. 2015. Proceeding Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Pengajaran Bahasa. Banjarmasin: Grafika Indah. Jendra, I Wayan. 2007. Sosiolinguitik Teori dan Penerapannya. Surabaya: Paramita. Jendra, Made Iwan Indrawan. 2012. Sosiolinguistics The Study Of Societies Language. Yogyakarta: Graha Ilmu. Kridalaksana, Harimurti (Ed). 1986. Pengembangan Ilmu Bahasa dan Pembinaan Bahasa. Flores. Nusa Indah. Poerwadi, Petrus. 2014. Startegi Pemertahanan Bahasa-Bahasa Daerah (Kasus Bahasa Dayak di Kalimantan Tengah). Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Bahasa Daerah Banjarmasin: Seminar Nasional Bahasa Daerah, Martapura, 10-11 September 2014. UNESCO. 21 Februari 2007. Separuh Bahasa Dunia Nyaris Punah. Tempo, hlm. 10. Idayuanggra.blogspot.co.id/2013/03/konsep-pemertahanan-bahasa.html?m=1 Sumrsono. 2011. Sosiolinguistik. Yogyakarta: SABDA (Lembaga Studi Agama, Budaya dan Pedamaian). 112 2 nd NEDS Proceedings