BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II LANDASAN TEORI

EROSI DAN SEDIMENTASI

Teknik Konservasi Waduk

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan kebutuhan manusia akibat dari pertambahan jumlah penduduk maka

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kebutuhan akan lahan untuk berbagai kepentingan manusia semakin lama

BAB I PENDAHULUAN. Hujan memiliki peranan penting terhadap keaadaan tanah di berbagai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. Daerah Aliran Sungai adalah suatu daerah atau wilayah dengan

EROSI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI OLEH: MUH. ANSAR SARTIKA LABAN

I. PENDAHULUAN. Degradasi lahan atau kerusakan lahan merupakan faktor utama penyebab

1/3/2017 PROSES EROSI

VIII. KONSERVASI TANAH DAN AIR

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. unsur-unsur utamanya terdiri atas sumberdaya alam tanah, air dan vegetasi serta

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Proses erosi karena kegiatan manusia kebanyakan disebabkan oleh

BAB I PENDAHULUAN. yang lebih baik. Menurut Bocco et all. (2005) pengelolaan sumber daya alam

TINJAUAN PUSTAKA. erosi, tanah atau bagian-bagian tanah pada suatu tempat terkikis dan terangkut

PETA SATUAN LAHAN. Tabel 1. Besarnya Indeks LS menurut sudut lereng Klas lereng Indeks LS 0-8% 0,4 8-15% 1, % 3, % 6,8 >40% 9,5

BAB I PENDAHULUAN. Lahan merupakan salah satu sumberdaya alam yang dibutuhkan umat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sejak awal kehidupan manusia, sumberdaya alam sudah merupakan

TANAH LONGSOR; merupakan salah satu bentuk gerakan tanah, suatu produk dari proses gangguan keseimbangan lereng yang menyebabkan bergeraknya massa

Erosi. Rekayasa Hidrologi

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karakteristik Hujan

Longsoran translasi adalah ber-geraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.

BAB II FAKTOR PENENTU KEPEKAAN TANAH TERHADAP LONGSOR DAN EROSI

TINJAUAN PUSTAKA. Daerah Aliran Sungai Asahan. harafiah diartikan sebagai setiap permukaan miring yang mengalirkan air

Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang

PENGEMBANGAN KONSERVASI LAHAN TERHADAP EROSI PARIT/JURANG (GULLY EROSION) PADA SUB DAS LESTI DI KABUPATEN MALANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Dela Risnain Tarigan Djati Mardiatno

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Erosi

BAB I PENDAHULUAN. pangan saat ini sedang dialami oleh masyarakat di beberapa bagian belahan dunia.

BAB I PENDAHULUAN. utama dunia yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia dan lempeng. Indonesia juga merupakan negara yang kaya akan hasil alam.

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB III LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan satu kesatuan ekosistem yang unsur-unsur

HIDROSFER I. Tujuan Pembelajaran

TINJAUAN PUSTAKA. merupakan manfaat yang dirasakan secara tidak langsung (intangible). Selain itu,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Lahan merupakan sumberdaya yang sangat penting untuk memenuhi

II. TINJAUAN PUSTAKA. tingkat produktivitas yang rendah atau tidak produktif sama sekali bagi kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. fungsi utama, yaitu sebagai sumber unsur hara bagi tumbuhan dan sebagai matriks

2.1.1 Pengertian Erosi Tanah

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN... 93

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Manfaat Penelitian. Ruang Lingkup Penelitian

DAFTAR ISI. ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xiii

Identifikasi Daerah Rawan Longsor

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kabupaten Temanggung terletak di tengah-tengah Propinsi Jawa Tengah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. proses kehilangan tanah pada peristiwa erosi geologi (geological erosion) (Frevert

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Menurut seorang ilmuwan kuno yang bernama Eratosthenes Geografi berasal

TINJAUAN PUSTAKA. Tanah merupakan salah satu sumber daya alam yang banyak digunakan,

ANALISIS TINGKAT EROSI TANAH DI KECAMATAN SIANJUR MULA- MULA KABUPATEN SAMOSIR

PERUBAHAN IKLIM GLOBAL DAN PROSES TERJADINYA EROSI E-learning Konservasi Tanah dan Air Kelas Sore tatap muka ke 5 24 Oktober 2013

BAB III Hasil Percobaan dan Pembahasan. VI = = = 11 m

II. TINJAUAN PUSTAKA Pertumbuhan Penduduk dan Dampaknya terhadap Perkembangan Suatu Wilayah

TUGAS TEKNOLOGI KONSERVASI SUMBER DAYA LAHAN

BAB I PENDAHULUAN. dengan erosi geologi atau geological erosion. Erosi jenis ini tidak berbahaya

MENENTUKAN LAJU EROSI

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. adalah perbandingan relatif pasir, debu dan tanah lempung. Laju dan berapa jauh

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang Potensi bencana alam yang tinggi pada dasarnya tidak lebih dari sekedar

DAFTAR ISI Keaslian Penelitian... 4

KAJIAN EROSI DAN ALIRAN PERMUKAAN PADA BERBAGAI SISTEM TANAM DI TANAH TERDEGRADASI SKRIPSI. Vivin Alviyanti NIM

PEDOSFER BAHAN AJAR GEOGRAFI KELAS X SEMESTER GENAP

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

KARAKTERISTIK TANAH. Angga Yuhistira Teknologi dan Manajemen Lingkungan - IPB

IV. Hasil dan Pembahasan. pada Gambar 2 dan data hasil pengamatan disajikan pada Tabel 3.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. air. Melalui periode ulang, dapat ditentukan nilai debit rencana. Debit banjir

DASAR-DASAR ILMU TANAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. lempeng tektonik besar yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Daerah

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. tinggi sehingga rentan terhadap terjadinya erosi tanah, terlebih pada areal-areal

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

TINGKAT ERODIBILITAS TANAH DI KECAMATAN AMBARAWA KABUPATEN SEMARANG PROPINSI JAWA TENGAH

KAJIAN EROSI TANAH DENGAN PENDEKATAN WISCHMEIER PADA DAS KALIMEJA SUBAIM KECAMATAN WASILE TIMUR KABUPATEN HALMAHERA TIMUR

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

PENINGKATAN EROSI TANAH PADA LERENG TIMBUNAN OVERBURDEN AKIBAT KEGIATAN PENAMBANGAN DI DAERAH CLERENG, PENGASIH, KABUPATEN KULON PROGO

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III LANDASAN TEORI

ANALISIS DAERAH RAWAN LONGSOR DI KECAMATAN WAY KRUI TAHUN 2015 (JURNAL) Oleh. Catur Pangestu W

125 permukaan dan perhitungan erosi berasal dari data pengukuran hujan sebanyak 9 kejadian hujan. Perbandingan pada data hasil tersebut dilakukan deng

BAB III METODOLOGI. Gambar 3.1 Diagram Alir Penyusunan Tugas Akhir

BAB III PENGENDALIAN LONGSOR Identifikasi dan Delineasi Daerah Rawan Longsor

Bab ini berhubungan dengan bab-bab yang terdahulu, khusunya curah hujan dan pengaliran air permukaan (run off).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lingkungan hidup menyediakan sumberdaya alam bagi kelangsungan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. jenuh air atau bidang luncur. (Paimin, dkk. 2009) Sutikno, dkk. (2002) dalam Rudiyanto (2010) mengatakan bahwa

BAB III LANDASAN TEORI. A. Metode USLE

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Letak Geografis. Daerah penelitian terletak pada BT dan

IDENTIFIKASI KERUSAKAN AKIBAT BANJIR BANDANG DI BAGIAN HULU SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) LIMAU MANIS ABSTRAK

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Erosi Erosi adalah hilangnya atau terkikisnya tanah dari suatu tempat ke tempat lain melalui media air atau angin. Erosi melalui media angin disebabkan oleh kekuatan angin sedangkan erosi melalui media air disebabkan oleh kekuatan air (Arsyad, 2010). Beberapa macam erosi yaitu erosi geologi, erosi normal dan erosi dipercepat. Erosi geologi merupakan erosi yang timbul sejak permukaan bumi terbentuk sehingga terkikisnya batuan. Erosi normal disebut juga erosi alami yang merupakan pengangkutan tanah atau bagian-bagian tanah yang terjadi dibawah keadaan alami. Erosi alami terjadi dengan lambat, erosi ini menimbulkan tanah menjadi tebal dan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetasi. Erosi dipercepat merupakan pengangkutan tanah secara laju lebih cepat dari erosi normal dan lebih cepat dari pembentukan tanah. Hal ini sangat mempengaruhi timbulnya kerusakan tanah (Banuwa, 2010). Erosi tanah adalah perpindahan material tanah untuk mengifiltrasikan air ke lapisan tanah yang lebih dalam, baik pada waktu terjadinya hujan atau dengan adanya air yang mengalir ke permukaan tanah, laju aliran air akan terjadi di permukaan tanah sambil mengakut partikel partikel tanah (Russel, 1973 dalam Kartasapoetra, 2005). Erosi tanah bisa juga diartikan sebagai proses hilangnya suatu lapisan tanah yang lebih cepat dari proses pemindahan bagian-bagian tanah 4

karena erosi secara alamiah (geological erosion) (Frevert, 1959 dalam Kartasapoetra, 2005). Erosi tanah terjadi akibat adanya media seperti aliran angin dan air. Khusus di daerah beriklim kering tanah sangat peka terhadap erosi. Erosi merupakan proses terlepasnya butiran tanah dari induknya disuatu tempat dan terangkutnya material oleh gerakan air atau angin kemudian diikuti dengan pengendapan material yang terangkut di tempat yang lain (Suripin, 2004). Erosi bisa terjadi akibat interaksi kerja antara faktor iklim, topografi, tanah, vegetasi dan manusia. Faktor iklim yang sangat berpengaruh terhadap erosi yaitu intensitas curah hujan. Kecuraman dan panjang lereng merupakan faktor topografi yang berpengaruh terhadap terjadinya erosi tanah. Luas kemiringan lereng, luas lahan kritis, luas tanah berkedalaman rendah sangat berpengaruh terhadap terjadinya erosi dan sedimentasi (Arsyad, 2010). B. Bentuk bentuk Erosi Menurut Arsyad (2010) dari segi bentuknya dibedakan menjadi 7 macam erosi yaitu: 1. Erosi Percikan (Splash erosion) Erosi ini merupakan terlemparnya partikel-partikel tanah dari massa tanah yang diakibatkan oleh pukulan butiran hujan secara langsung. 2. Erosi Lembar Erosi lembar (sheet erosion) merupakan pengangkutan suatu lapisan tanah yang tebalnya merata dari suatu permukaan tanah. Erosi lembar disebut juga 5

erosi kulit, yang bisa diartikan dengan tipisnya lapisan permukaan tanah didaerah berlereng yang terkikis oleh kombasi air hujan dan air larian (run off). Penyebab erosi kulit berdasarkan sumber tenaga kinetis air hujan lebih penting karena kecepatan air jatuhan lebih besar, yaitu antara 0,3-0,6 m/dt. 3. Erosi Alur Erosi alur (rill erosion) merupakan pengangkutan tanah dari alur tertentu pada permukaan tanah, yang menimbulkan parit-parit kecil dan dangkal. Erosi ini biasanya terjadi karena air mengalir pada permukaan tanah yang tidak merata, tetapi terkonsentrasi pada alur tertentu, sehingga pengangkutan tanah terjadi tepat pada tempat aliran terkonsetrasi. Erosi ini lebih dipengaruhi oleh cara bertanam dan sifat fisik tanah dari pada oleh sifat hujan. 4. Erosi Parit Erosi parit (gully erosion) merupakan proses terjadinya sama dengan erosi alur, tetapi alur yang dibentuk sudah demikian besar, sehingga tidak dapat dihilangkan dengan pengolahan tanah biasa. Biasanya erosi parit yang baru terbentuk berukuiran sekitar 40 cm lebarnya dengan kedalaman sekitar 30 cm. Erosi parit yang sudah lanjut dapat mencapai kedalaman 30 m. Erosi parit biasanya berbentuk V atau U tergantung pada kepekaan erosi substratanya. Tanah-tanah yang biasanya mengalami erosi ini sangat sulit digunakan untuk dijadikan sebagai tanah pertanian. 5. Erosi Tebing Sungai Erosi tebing sungai (river bank erosion) terjadi sebagai akibat tebing sungai oleh air yang mengalir dari bagian atas tebing. Erosi ini akan terjadi 6

lebih hebat, jika vegetasi penutup tebing tidak ada atau pengolahan tanah yang dilakukan sampai ke pinggir tebing. Untuk mencegah semua itu maka sangat dianjurkan memelihara satu trip tumbuhan sepanjang sungai. 6. Longsor Longsor (landslide) merupakan erosi yang pemindahan tanah terjadi pada saat bersamaan dalam volume yang besar terjadi secara sekaligus. Longsor terjadi sebagai akibat meluncurnya suatu lapisan sedikit kedap air. Lapisan kedap air terdiri atas tanah liat yang tinggi atau batuan lain seperti napal liat (clay shale) yang setelah jenuh air berlaku sebagai tempat meluncur. 7. Erosi internal Erosi internal merupakan terangkutnya butir-butir tanah kedalam pori-pori tanah, sehingga tanah menjadi kedap air dan udara. Erosi ini menyebabkan menurunnya kapasitas infiltrasi tanah dengan cepat, sehingga aliran permukaan meningkat dan menyebabkan terjadinya erosi lembar atau erosi alur. Erosi internal bisa juga disebut dengan erosi vertikal. C. Bahaya Erosi Bahaya memiliki arti kehilangan tanah atau pelepasan sedimen di masa yang akan datang yang dapat diperkirakan dengan baik, sehingga hal tersebut menjadi dasar perencanaan kerja konservasi. Bahaya erosi merupakan ancaman terhadap manusia dan kerja manusia yang dipengaruhi oleh kerawanan erosi (Sutikno, 2014). 7

Bahaya erosi pada awalnya terjadi percabangan dan pelebaran jeram yang terjadi pada parit. Bahaya erosi terjadi oleh degradasi lebih pada daerah yang terpengaruhinya selanjutnya terdapat penurunan produktivitas yang sudah diperkirakan sebelumnya (Sutikno, 2014). D. Lereng Lereng adalah kenampakan permukaan alam yang disebabkan oleh beda tinggi, dimana hal tersebut akan berpengaruh terhadap penilaian suatu lahan kritis. Besarnya kemiringan lereng dapat memberikan gambaran tentang keadaan lahan bentuk disuatu daerah (Zaidam, 1988). Bentuk lereng mempengaruhi banyaknya tanah yang tererosi dan besarnya erosi di sepanjang lereng (Arsyad, 2010). Lereng adalah suatu permukaan tanah yang miring dan membentuk sudut tertentu terhadap suatu bidang horizontal. Ada 2 jenis lereng yaitu lereng alami dan juga lereng buatan, lereng alami adalah lereng yang sering kita jumpai di perbukitan atau pegunungan, sedangkan lereng buatan adalah lereng yang terbentuk akibat timbunan maupun galian dari suatu perkerjaan yang pernah dilakukan (Arsyad, 2010). E. Kemiringan Lereng Kemiringan lereng menunjukkan besarnya sudut lereng dalam persen atau derajat. Dua titik yang memiliki jarak horizontal 100 meter yang mempunyai selisih tinggi 10 meter maka membentuk lereng 10 persen. Kecuraman lereng 100 persen sama dengan kecuraman 45 derajat. Dari perbesaran jumlah aliran 8

permukaan maka curam lereng juga akan memperbesar energi angkut air. Jika kemiringan lereng semakin besar, maka jumlah butir-butir tanah yang terpecik ke bawah oleh tumbukan butir hujan akan semakin besar. Hal ini disebabkan oleh adanya gaya berat yang semakin besar sejalan dengan semakin miringnya permukaan tanah pada bidang horizontal. Sehingga lapisan tanah atas yang tererosi akan semakin banyak (Arsyad, 2010). Faktor kemiringan lereng merupakan jarak horizontal dari permukaan atas yang mengalir ke bawah dimana gradien lereng turun hingga ketitik awal yang terfokus pada saluran tertentu (Renard et.,al 1997 dalam Herawati, 2010). Faktor kecuraman lereng mencerminkan pengaruh kemiringan kereng terhadap erosi (Arsyad, 2010). Pengolahan data kontur untuk menghasilkan informasi keiringan lereng dapat dilakukan secara manual maupun sengan bantuan komputer. Tabel 2.1 Klasifikasi Kemiringan Lereng No Kelas Lereng (%) Keterangan 1 I 0-15 Landai 2 II 15-25 Agak Curam 3 III 25-45 Curam 4 IV >45 Sangat Curam Sumber : BAPPEDA, 2016. F. Penelitian Terdahulu Marlina Sahara (2013), melakukan penelitian yang berjudul Kajian Kemiringan Lereng Terhadap Tingkat Kerawanan Longsor di Kecamatan Pekuncen, Banyumas. Tujuan dari penelitian yaitu untuk mengetahui 9

kemiringan lereng terhadap tingkat kerawanan longsor. Metode yang digunakan yaitu pendekatan analisis kualitatif, maka hasilnya yaitu Peta Kemiringan Lereng terhadap Tingkat Kerawanan Longsor. Maria Nopayanti Susana (2013), dengan judul penelitiannya yaitu Kajian Tekanan Penduduk terhadap Lahan Pertanian pada setiap Kemiringan Lereng di Kecamatan Kembaran Banyumas. Tujuan dari penelitian adalah untuk Mengkaji kemiringan lereng dan mengkaji tekanan penduduk pada setiap kemiringan lereng di Kecamatan Kembaran Banyumas. Metode yang digunakan adalah Quota Sampling. Hasil dari penelitian adalah Terdapat tekanan penduduk pada setiap kemiringan lereng di Kecamatan Kembaran Banyumas. Eko Setiawan (2016), penelitian berjudul Aplikasi Sistem Informasi Geografis Untuk Pemodelan Bahaya Erosi di Sub-Daerah Aliran Sungai Logawa Banyumas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui model bahaya erosi di Sub-Daerah Aliran Sungai Logawa Banyumas menggunakan Aplikasi Sistem Informasi Geografis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Overlay (tumpang susun dari beberapa peta) dengan pendekatan Sistem Informasi Geografis. Hasil yang diperoleh terdapat 5 kategori bahaya erosi dengan luasan secara berturut-turut adalah kategori erosi tinggi dengan luas 3.640,56 ha, kategori erosi rendah dengan luas 3.071,79 ha, kategori erosi sedang dengan luas 2.986,86 ha, kategori erosi sangat rendah dengan luas 1.866,24 ha dan kategori erosi sangat tinggi dengan luas 63,70 ha. 10

Netty Kusuma Lusianida (2017), penelitian berjudul Kajian Hubungan Kemiringan Lereng dengan Bahaya Erosi di Kecamatan Patikraja Banyumas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan kemiringan lereng dengan bahaya erosi di Kecamatan Patikraja Banyumas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Insidental Sampling. Hasil yang diperoleh yaitu terdapat hubungan yang kuat pada setiap kemiringan lereng dengan bahaya erosi di Kecamatan Patikraja Banyumas. Hubungan antara Kemiringan Lereng dengan Bahaya Erosi yang memiliki Kelas kemiringan lereng I terdapat kategori bahaya erosi ringan, berat dan sangat berat. Kelas kemiringan lereng II terdapat kategori bahaya erosi sangat ringan, ringan, sedang, berat, sangat berat. Kelas kemiringan lereng III terdapat kategori bahaya sangat ringan, ringan, sedang, berat dan sangat berat. Kelas kemiringan lereng IV terdapat kategori bahaya erosi sangat ringan, sedang, berat, dan sangat berat. 11

Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu PENELITI JUDUL TUJUAN LOKASI METODE HASIL Marlina Sahara, 2013 Kajian Kemiringan Lereng Terhadap Tingkat Kerawanan Longsor Mengetahui kemiringan lereng terhadap tingkat kerawanan Kecamatan Pekuncen, Banyumas. Pendekatan analisis kualitatif. Peta Kemiringan Lereng Terhadap Tingkat Lerawanan Longsor. Maria Nopayanti Susana 2013 Eko Setiawan, 2016 Kajian Tekanan Penduduk terhadap Lahan Pertanian pada setiap Kemiringan Lereng di Kecamatan Kembaran Banyumas. Aplikasi Sistem Informasi Geografis Untuk Pemodelan Bahaya Erosi di Sub-Daerah Aliran longsor. Mengkaji kemiringan lereng dan mengkaji tekanan penduduk pada setiap kemiringan lereng di Kecamatan Kembaran Banyumas. Mengetahui model bahaya erosi di Sub- Daerah Aliran Sungai Logawa Kecamatan Kembaran Banyumas Sub-Daerah Aliran Sungai Logawa Quota Sampling Overlay (tumpang susun dari beberapa peta) dengan Terdapat tekanan penduduk pada setiap kemiringan lereng di Kecamatan Kembaran Banyumas. 5 kategori bahaya erosi yaitu kategori erosi tinggi, kategori erosi rendah, kategori erosi sedang, kategori erosi 12

Netty Kusuma Lusianida, 2017 Sungai Logawa Banyumas Kajian Hubungan Kemiringan Lereng dengan Bahaya Erosi di Kecamatan Patikraja Banyumas Banyumas menggunakan Aplikasi Sistem Informasi Geografis. Mengetahui hubungan kemiringan lereng dengan bahaya erosi di Kecamatan Patikraja Banyumas. Banyumas Kecamatan Patikraja Banyumas pendekatan Sistem Informasi Geografis. Insidental Sampling. sangat rendah dan kategori erosi sangat tinggi. Terdapat hubungan keterkaitan antara kemiringan lereng dengan bahaya erosi di Kecamatan Patikraja Banyumas. Sumber : Marlina Sahara (2013), Maria Nopayanti (2013), Eko Setiawan (2016), dan Netty Kusuma Lusianida (2017). 13

G. Landasan Teori 1. Kemiringan Lereng Lereng adalah suatu kenampakan alam yang disebabkan adanya beda tinggi dua tempat dibandingkan dengan jarak lurus mendatar sehingga diperoleh besarnya kelerengan. Besarnya kemiringan lereng dinyatakan dengan satuan seperti persen (%) dan derajat ( ). 2. Bahaya Erosi Bahaya erosi merupakan ancaman terhadap manusia dan kerja manusia yang dipengaruhi oleh kerawanan erosi. Hal ini mengakibatkan menurunnya produktivitas tanah dan berkurangnya pengikisan air bawah tanah. Indikator adanya bahaya erosi yaitu : a. Faktor Erosivitas Hujan (R) Erosivitas merupakan kemampuan hujan dalam mengerosi tanah. Faktor iklim yang besar pengaruhnya terhadap erosi tanah adalah hujan, temperatur dan suhu. Sejauh ini hujan merupakan faktor yang paling penting. Hujan menyebabkan erosi tanah melalui dua jalan yaitu pelepasan butiran tanah oleh pukulan air hujan pada permukaan tanah dan kontribusi hujan terhadap aliran. Jumlah hujan yang besar tidak selalu menyebabkan erosi berat jika intensitasnya rendah, dan sebaliknya hujan lebat dalam waktu singkat mungkin juga hanya menyebabkan sedikit erosi karena jumlah hujannya hanya sedikit. Jika 14

jumlah dan intensitas hujan keduanya tinggi, maka erosi tanah yang terjadi cenderung tinggi (Suripin, 2004). b. Faktor Erodibilitas Tanah (K) Erodibilitas tanah merupakan faktor kepekaan tanah terhadap erosi. Nilai erodibilitas tanah yang tinggi pada suatu lahan menyebabkan erosi yang terjadi menjadi lebih besar dan sebaliknya. Faktor erodibilitas tanah sangat berkaitan dengan tekstur tanah dan juga kandungan bahan organik tanah (Suripin, 2004). c. Faktor Panjang dan Kemiringan Lereng (LS) Menurut Renard et al., (1997) dalam Herawati (2010) faktor kemiringan dan panjang lereng (LS) terdiri dari dua komponen, yakni faktor kemiringan dan faktor panjang lereng. Faktor panjang lereng adalah jarak horizontal dari permukaan atas yang mengalir ke bawah dimana gradien lereng menurun hingga ke titik awal atau ketika limpasan permukaan (run off) menjadi terfokus pada saluran tertentu. d. Indeks penutupan vegetasi dan pengolahan lahan (CP) Renard et al., (1997) dalam Herawati (2010) faktor penutupan lahan menggambarkan dampak kegiatan pertanian dan pengelolaannya pada tingkat erosi tanah. H. Kerangka Pikir Manusia membutuhkan lahan untuk tempat tinggal yang aman dari bencana alam seperti erosi sedangkan kondisi alam tiap wilayah tidak sama. Ada 15

wilayah yang memiliki perbedaan tinggi dan kemiringan lereng yang berbedabeda. Penyebab terjadinya erosi di Kecamatan Patikraja karena hujan yang deras dan tanah yang tidak kuat sehingga tidak mampu menahan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan kemiringan lereng dengan bahaya erosi yang nantinya diharapkan dapat memberikan informasi tentang bahaya erosi yang ditinjau dari kemiringan lereng. Untuk mempermudah penelitian ini dibuatlah gambar kerangka pikir sebagai berikut : EROSI Erosivitas CH (R) Erobidilitas Tanah (K) Panjang dan Kemiringan Lereng (LS) Penutupan Vegetasi dan Pengolahan Lahan (CP) Overlay Tingkat Bahaya Erosi (TBE) Panjang dan Kemiringan Lereng (LS) Overlay Peta Tingkat Bahaya Erosi dan Kemiringan Lereng Gambar 1. Kerangka Pikir 16

I. Hipotesis Berdasarkan kerangka pikir tersebut penulis telah merumuskan hipotesis sebagai berikut : Berdasarkan gabungan peta bahaya erosi dan peta kemiringan lereng akan mengetahui hubungan kemiringan lereng dengan bahaya erosi di Kecamatan Patikraja Banyumas. 17