Keywords: finite element method, subgrade, limestone, deflection. Kata kunci : metode elemen hingga, tanah dasar, limestone, lendutan.

dokumen-dokumen yang mirip
Keywords: granular soil, subbase course, k v, CBR. Kata Kunci: tanah granuler, subbase course, nilai k v, CBR

Jalan Ir.Sutami No.36A Surakarta Telp.(0271)

SKRIPSI. Disusun untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Teknik pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret

PENGARUH PENAMBAHAN KOLOM PASIR (SAND COLUMN) SEBAGAI PERKUATAN TERHADAP NILAI LENDUTAN PADA TANAH DASAR (SUB GRADE)

DR. EVA RITA UNIVERSITAS BUNG HATTA

PENGGUNAAN MATERIAL BATU KAPUR SEBAGAI LAPISAN SUBBASE COURSE PERKERASAN JALAN PADA SUBGRADE TANAH LUNAK DENGAN PERKUATAN PLASTIK DAN GEOSINTETIK

ANALISIS LENDUTAN PERKERASAN KAKU PADA PEMBEBANAN SUDUT DENGAN METODE ELEMEN HINGGA

Institut Teknologi Nasional

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Hobbs (1995), ukuran dasar yang sering digunakan untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Pekerasan Jalan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Tinjauan Umum

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Istilah umum Jalan sesuai dalam Undang-Undang Republik Indonesia. Nomor 38 Tahun 2004 tentang JALAN, sebagai berikut :

Perbandingan Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Metode Bina Marga 2011 Dengan Metode Jabatan Kerja Raya Malaysia 2013

ASPEK GEOTEKNIK PADA PEMBANGUNAN PERKERASAN JALAN

KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN FLEXIBLE PAVEMENT DAN RIGID PAVEMENT. Oleh : Dwi Sri Wiyanti

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Kontruksi Perkerasan Lentur (Flexible Pavement)

gambar 3.1. teriihat bahwa beban kendaraan dilimpahkan ke perkerasan jalan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERBAIKAN TANAH DASAR AKIBAT TIMBUNAN PADA JALAN AKSES JEMBATAN TAYAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Studi Pengaruh Pengurangan Tebal Perkerasan Kaku Terhadap Umur Rencana Menggunakan Metode AASHTO 1993

GAMBAR KONSTRUKSI JALAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Jalan Ir. Sutami No.36A Surakarta 5716.Telp:

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Permukaan tanah pada umumnya tidak mampu menahan beban kendaraan

Hendra Wahyu, Suherman Sulaiman, Mujiman Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Bandung

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan jumlah penduduk dan kemajuan teknologi pada zaman sekarang,

PENGGUNAAN METODE CAKAR AYAM MODIFIKASI SEBAGAI SOLUSI PEMBANGUNAN JALAN DI ATAS TANAH EKSPANSIF

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ANALISIS STABILITAS LERENG BERTINGKAT DENGAN PERKUATAN GEOTEKSTIL MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA

LAPISAN STRUKTUR PERKERASAN JALAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Perkerasan kaku adalah struktur yang terdin dan pelat (slab) beton semen yang

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI. Dimensi, berat kendaraan, dan beban yang dimuat akan menimbulkan. dalam konfigurasi beban sumbu seperti gambar 3.

Bab 1 PENDAHULUAN. tanah yang buruk. Tanah dengan karakteristik tersebut seringkali memiliki permasalahan

PENGARUH DRAINASE VERTIKAL DUA ARAH KOLOM PASIR KELOMPOK PADA TANAH LUNAK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

STUDI PENURUNAN PONDASI TELAPAK DIPERKUAT KOLOM KAPUR DI ATAS PASIR

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH PENAMBAHAN KOLOM PASIR (SAND COLUMN) SEBAGAI PERKUATAN TERHADAP NILAI LENDUTAN PADA TANAH DASAR (SUB GRADE)

Jl. Banyumas Wonosobo

Reka Racana Jurusan Teknik Sipil Itenas No. 1 Vol. 4 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Maret 2018

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

konfigurasi sumbu, bidang kontak antara roda perkerasan. Dengan demikian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Perkerasan kaku (rigid pavement) atau perkerasan beton semen adalah perkerasan

STUDI KORELASI DAYA DUKUNG TANAH DENGAN INDEK TEBAL PERKERASAN JALAN MENGGUNAKAN METODE BINA MARGA

Perkerasan kaku Beton semen

RINGKASAN. Kata Kunci : Tanah Ekspansif, Repetisi Beban, Tegangan Tanah, Penurunan Tanah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN. penambangan batu bara dengan luas tanah sebesar hektar. Penelitian ini

Perbandingan Kekerasan Kaku I Gusti Agung Ayu Istri Lestari 128

BAB II TINJAUAN PUSTAKA PERENCANAAN MEKANISTIK EMPIRIS OVERLAY PERKERASAN LENTUR

Aplikasi Program Plaxis dalam Analisis Numerik Deformasi Lapis Fondasi Jalan Poncosari - Greges Yogyakarta

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Tinjauan Umum

PERILAKU PENAMBAHAN SOIL MIXING COLUMN SEBAGAI PERKUATAN PADA TANAH DASAR (SUBGRADE) LUNAK

BAB I PENDAHULUAN. fisik menuntut perkembangan model struktur yang variatif, ekonomis, dan aman. Hal

PEMANFAATAN BAMBU UNTUK TULANGAN JALAN BETON

Analisis Daya Dukung dan Penurunan Fondasi Rakit dan Tiang Rakit pada Timbunan di Atas Tanah Lunak

ANALISIS PENGARUH KONDISI PONDASI MATERIAL BERBUTIR TERHADAP UMUR PELAYANAN JALAN DENGAN METODE ANALITIS

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL ABSTRAK... i ABSTRACT... iii KATA PENGANTAR... v DAFTAR ISI... vii DAFTAR TABEL... xi DAFTAR GAMBAR...

Analisis Stabilitas dan Penurunan pada Timbunan Mortar Busa Ringan Menggunakan Metode Elemen Hingga

ANALISIS ANGKA KEAMANAN (SF) LERENG SUNGAI CIGEMBOL KARAWANG DENGAN PERKUATAN SHEET PILE

Bab V Analisa Data. Analisis Kumulatif ESAL

KAJIAN NILAI MODULUS REAKSI SUBGRADE DAN NILAI CBR BERDASARKAN PENGUJIAN DI LABORATORIUM

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Kelebihan dari konstruksi perkerasan kaku adalah sifat kekakuannya yang. sementara kelemahan dalam menahan beban

ANALISA DAYA DUKUNG TANAH (DDT) PADA SUB GRADE

PERANCANGAN STRUKTURAL PERKERASAN BANDAR UDARA

TUGAS AKHIR. Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Sarjana di Program Studi Teknik Sipil. Disusun Oleh NIM NIM

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dari bahan khusus yang mempunyai kualitas yang lebih baik dan dapat

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

A. LAPISAN PERKERASAN LENTUR

PERKUATAN TANAH LUNAK PADA PONDASI DANGKAL DI BANTUL DENGAN BAN BEKAS

BAB I PENDAHULUAN. Jalan Palembang - Indralaya dibangun disepanjang tanah rawa yang secara

TINJAUAN KUAT LENTUR BALOK BETON BERTULANG DENGAN PENAMBAHAN KAWAT YANG DIPASANG LONGITUDINAL DI BAGIAN TULANGAN TARIK.

BAB I PENDAHULUAN. diimbangi oleh ketersediaan lahan, pembangunan pada lahan dengan sifat tanah

Analisis Model Fisik dan Model Numerik pada Daya Dukung Fondasi Lingkaran di Atas Tanah Lunak

ANALISA TEGANGAN DAN REGANGAN PADA PERKERASAN PORUS DENGAN SKALA SEMI LAPANGAN DAN SOFTWARE ANSYS

yaitu sekitar 50 ton. Oleh karenanya struktur perkerasan kaku bandara yang di overlay secara langsung, rentan mengalami retak refleksi.

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang C. Tujuan Penelitian D. Manfaat Penelitian B. Rumusan Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. pesat, terutama terjadi di daerah perkotaan. Seiring dengan hal tersebut,

sampai ke tanah dasar, sehingga beban pada tanah dasar tidak melebihi daya

PERENCANAAN PERKERASAN JALAN (Pavement Design) Menggunakan CBR

KAJIAN PERILAKU LENTUR PELAT KERAMIK BETON (KERATON) (064M)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERENCANAAN JEMBATAN KALI TUNTANG DESA PILANGWETAN KABUPATEN GROBOGAN

Prediction of Concrete Slab Behavior on Soft Soil Using BoEF (Beams on Elastic Foundation) Program Regarding Various Thickness of Slab and Loadings

Studi Defleksi Balok Beton Bertulang Pada Sistem Rangka Dengan Bantuan Perangkat Lunak Berbasis Metode Elemen Hingga

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. atau jalan rel atau jalan bagi pejalan kaki.(

Transkripsi:

ANALISIS METODE ELEMEN HINGGA PADA LENDUTAN STRUKTUR JALAN RAYA TERHADAP PENGGUNAAAN BATU KAPUR (LIMESTONE) Fajar Andi Baihaqi 1), Bambang Setiawan 2), R. Harya Dananjaya H.I. 3) 1)Mahasiswa Program S1 Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret 2) 3)Pengajar Program studi Teknik Sipil, Universitas Sebelas Maret Jalan Ir.Sutami No.36A Surakarta 57126.Telp.0271647069. Email : fajarandib@gmail.com Abstract Damage to the highway pavement is a problem in the transportaion system. Those problem can be solved by strengthening the carrying capacity of the foundation to thicken the base course layer and the use of geotextiles on the subgrade. The purpose of this study was to determine the use of local materials such as limestone as a base course in terms of the value of deflection. Limestone as a base course thickness variation studied by 5, 10, 15 and 20 cm on the basis of different subgrade conditions, namely soft soil, soft soil with a geotextile and granular soil. This study uses three different types of calculation methods, the finite element method with SAP 2000, Plaxis v.8.2, and the formula Hetenyi (1974). Road conditions assumed in road class III with the axis of heaviest load of 8 tons. Coating the surface of a concrete slab with dimensions of 24 m x 6 m x 0.15 m with quality K350 and f'c of 35 MPa. These results indicate that the addition of the thickness of the base layer of limestone as a base course with SAP 2000, Plaxis v.8.2, and the formula Hetenyi (1974) can reduce deflection of 8.15%, 2.04% and 11.06%. Added geotextile in soft soil with three methods can reduce the deflection of 12.52%, 1.35% and 16.92%. omparison of types of granular soil and soft soil with three methods can decrease by 41.97%, 33.47% and 53.09%. Keywords: finite element method, subgrade, limestone, deflection. Abstrak Kerusakan pada perkerasan jalan raya menjadi masalah dalam sistem transportasi. Salah satu cara penanganan dengan memperkuat daya dukung pondasi dengan mempertebal lapisan pondasi dan penggunaan geotekstil pada tanah dasar. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pemanfaatan material lokal berupa batu kapur limestone sebagai material lapisan pondasi perkerasan jalan ditinjau dari nilai lendutan. Lapisan pondasi batu kapur limestone diteliti dengan variasi ketebalan 5 cm, 10 cm, 15 cm, dan 20 cm pada kondisi tanah dasar yang berbeda, yaitu tanah lunak, tanah lunak dengan geotekstil, dan tanah granuler. Penelitian ini menggunakan tiga jenis metode perhitungan, yaitu metode elemen hingga dengan batuan program SAP 2000, Plaxis v.8.2 dan rumus Hetenyi (1974). Kondisi jalan diasumsikan dalam kelas III dengan muatan sumbu terberat sebesar 8 ton. Lapisan permukaan merupakan pelat beton dengan dimensi 24 m 6 m 0,15 m dengan mutu K350 dan f c sebesar 35 MPa. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penambahan ketebalan lapisan pondasi batu kapur (limestone) dengan metode SAP 2000, Plaxis v.8.2, dan rumus Hetenyi (1974) dapat menurunkan lendutan sebesar 8,15%, 2,04%, dan 11,06%. Pertambahan geotekstil pada tanah lunak dengan tiga metode dapat menurunkan lendutan sebesar 12,52%, 1,35%, dan 16,92%. Perbandingan jenis tanah granuler dan tanah lunak dengan tiga metode dapat menurunkan sebesar 41,97%, 33,47%, dan 53,09%. Kata kunci : metode elemen hingga, tanah dasar, limestone, lendutan. PENDAHULUAN Perancanaan dalam struktur perkerasan jalan harus diperhitungkan dengan baik. Oglesby dan Hicks (1982) dalam Basuki dan Aprianto (2001) menyebutkan bahwa perencanaan perkerasan adalah memilih kombinasi material dan tebal lapisan yang memenuhi syarat pelayanan dengan biaya termurah dan dalam jangka panjang. Aji (2016) menyebutkan bahwa batu kapur (limestone) dapat digunakan sebagai material pada lapisan pondasi dan perkuatan geotekstil untuk tanah lunak sebagai peningkatan daya dukung tanah dasar. Menurut Nuskara (2016), batu kapur (limestone) dari Desa Soko, Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen dapat digunakan sebagai bahan subbase pada kondisi tanah granuler sebagai tanah dasar. Analisa dari sistem perkerasan jalan tersebut dapat menggunakan metode elemen hingga dengan bantuan program. Taufik, dkk. dalam Raharjo (2005) menyebutkan bahwa penelitian tentang konstruksi jalan pada tanah lunak di Indonesia dengan metode elemen hingga menggunakan program Plaxis 8.2. Setiawan (2015) meneliti sistem CAM dengan pelat beton dimodelkan sebagai elemen frame e-jurnal MATRIKS TEKNIK SIPIL/September 2017/831

2D, sedangkan tanah di bawah pelat dimodelkan dengan tumpuan elastik berupa elemen spring dengan pembebanan yang diwakili oleh midsurface pada slab beton. LANDASAN TEORI Perkerasan Kaku Perkerasan kaku menggunakan slab beton sebagai penahan beban pada lapisan penutup atas (wearing course). Daya dukung perkerasan pada perkerasan kaku diperoleh dari pelat beton. Sifat, daya dukung dan keseragaman tanah dasar sangat mempengaruhi keawetan dan perkerasan beton semen. Perkerasan kaku dapat dikelompokkan kedalam: a. Perkerasan beton semen yaitu perkerasan kaku dengan beton sebagai lapisan aus, terdapat 4 jenis perkerasan beton semen b. Perkerasan komposit yaitu perkerasan kaku dengan pelat beton semen sebagai lapisan pondasi dan aspal beton sebagai lapis permukaan. Dasar dasar atau subgrade merupakan permukaan terbawah suatu konstruksi perkerasan jalan raya atau landasan pacu pesawat terbang. dasar dapat berupa tanah asli yang dapat dipadatkan jika tanah aslinya baik, tanah yang didatangkan dari tempat lain kemudian dipadatkan, atau tanah yang distabilisasi dengan bahan tambah (addictive). Persoalan tanah dasar yang sering ditemui antara lain : a. perubahan bentuk tetap (deformasi permanen) akibat beban lalu lintas, b. daya dukung tanah tidak merata, c. lendutan dan lendutan balik selama dan sesudah pembebanan lalu-lintas untuk jenis tanah tertentu, d. tambahan pemadatan akibat pembebanan lalu lintas dan penurunan yang diakibatkannya. Lapis Pondasi (Base course) Lapis pondasi atas merupakan lapisan yang terletak langsung di bawah lapisan permukaan perkerasan jalan. Bahan lapis ini dapat berupa bahan berbutir, beton giling padat, dan campuran beton kurus. Bahan-bahan untuk lapis pondasi harus cukup kuat dan awet sehingga dapat menahan beban-beban roda. Sebelum menentukan suatu bahan untuk digunakan sebagai bahan pondasi, hendaknya dilakukan penyelidikan dan pertimbangan sebaikbaiknya sehubungan dengan persyaratan teknik. Fungsi lapis pondasi atas antara lain: a. sebagai bagian konstruksi perkerasan yang menahan beban roda, b. sebagai perletakan terhadap lapis permukaan. Geotekstil Geotekstil adalah suatu produk buatan pabrik dari bahan polymer yang digunakan dalam sistem atau struktur yang berhubungan dengan tanah, batuan, atau bahan rekayasa geoteknik lainnya. Fungsi geotekstil pada strutur perkerasan jalan adalah sebagai berikut: a. penyaring (filter), b. media pemisah (separation), c. perkuatan (reinforcement). Beban Gandar Beban gandar adalah beban total yang diberikan kendaraan terhadap struktur perkerasan jalan. Beban tersebut dipengaruhi oleh muatan sumbu terberat (MST) suatu kendaraan yang merupakan jumlah tekanan maksimum roda terhadap jalan. Muatan Sumbu Terberat (Mst) di Indonesia berdasarkan PP No. 43 Th. 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan. MST > 10 Ton : Untuk Jalan Kelas I MST = 10 Ton : Untuk Jalan Kelas II MST = 8 Ton : Untuk Jalan Kelas IIIA, IIIB, IIIC Reaksi Dasar Pembebanan yang terjadi pada struktur perkerasan, menimbulkan reaksi pada lapisan tanah dasar yang dapat berupa nilai koefisien subgrade tanah (k v) dan modulus elastisitas (Es). Pengertian koefisien rekasi subgrade arah vertikal tanah menurut Mardiyanto (2010) adalah nilai perbandingan tekanan tanah dengan penurunan yang e-jurnal MATRIKS TEKNIK SIPIL/September 2017/832

terjadi. Hardiyatmo, dkk. (2000) menggunakan perhitungan nilai koefisien subgrade tanah (k v) untuk pelat kaku. Modulus elastisitas adalah perbandingan antara tegangan yang terjadi terhadap regangan. Nilai modulus elastisitas (Es) dapat ditentukan melalui korelasi dengan nilai california bearing ratio (CBR) menggunakan rumus NAASRA (1950). Metode Elemen Hingga Metode elemen hingga adalah cara pendekatan solusi analisis struktur secara numerik dimana struktur kontinum dengan derajat kebebasan tak hingga disederhanakan dengan diskretasi kontinum dalam elemen-elemen kecil yang umumnya memiliki geometri lebih sederhana dengan derajat kebebasan tertentu (berhingga), sehingga lebih mudah dianalisis (Sinaga dan Tambunan, 2008). Penggunaan metode elemen hingga dapat menggunakan bantuan program SAP 2000 dan Plaxis v.8.2. Lendutan Lendutan () merupakan perilaku yang terjadi pada suatu objek berupa perubahan bentuk yang merupakan reaksi dari objek tersebut menerima beban. Perhitungan lendutan pada pelat menurut Yanto (2015) dapat dilakukan dengan menganggap pelat sebagai balok lurus yang didukung oleh media elastik di seluruh bentangnya. Menurut Hetenyi (1974) dalam Hardiyatmo (2009), untuk menghitung pelat dengan panjang terbatas yang dibebani beban terpusat di sembarang titik, digunakan persamaan dari teori balok pada pondasi elastik untuk mengetahui perilaku lendutan. METODE PENELITIAN Data Metode pengumpulan data pada penelitian ini terdiri dari pengumpulan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh berdasarkan hasil uji di Laboratorium Mekanika (Berat volume kering, berat volume basah, nilai kohesi dan sudut geser untuk tanah lunak dan tanah granuler) dan Laboratorium Bahan Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta {Parameter batu kapur (limestone)}. Data sekunder berupa beban, parameter material beton, parameter geotekstil, nilai California Bearing Ratio (CBR) dan modulus koefisien tanah dasar vertikal (k v) untuk parameter variasi penilitian. Variasi Penilitian Penilitian ini menggunakan variasi yang mengacu kepada penilitan Aji (2016) dan Nuskara (2016) berupa jenis tanah dasar (tanah lunak, tanah lunak dengan geotekstil, dan tanah granuler), ketebalan lapisan pondasi batu kapur (limestone) sebesar 5, 10, 15, dan 20 cm. Variasi ketebalan tersebut juga diwakili dengan nilai modulus elastisitas dari nilai CBR untuk pemodelan Plaxis v.8.2, nilai k v untuk pemodelan SAP 2000 dan rumus Hetenyi (1974). Variasi penilitian ditampilkan pada Tabel 1 dan Tabel 2 berikut: Tabel 1. Variasi ketebalan lapisan pondasi batu kapur (limestone) dan jenis tanah dasar (Aji, 2016 dan Nuskara, 2016) Tebal Lapisan Nilai CBR Nilai k Jenis Dasar Batu Kapur (Limestone) v (%) (kn/m (cm) 2.m -1 ) 5 2,87 23.696,68 10 2,97 26.455,03 Lunak 15 3,82 32.679,74 Lunak dengan Perkuatan Geosintetik Granuler 20 4,11 34.482,76 5 3,26 28.901,73 10 3,82 32.679,74 15 4,95 38.759,69 20 9,42 52.631,58 5 25,99 80.645,161 10 30,13 87.719,298 15 41,80 121.951,220 20 43,20 128.205,128 e-jurnal MATRIKS TEKNIK SIPIL/September 2017/833

Pembebanan Struktur perkerasan jalan diasumsikan kedalam Jalan Kelas III dengan MST sebesar 8 ton di atas pelat beton dengan 24 m x 6 m x 0,15 m dan mutu K350 ; f c sebesar 35 MPa. Pembebanan pada program SAP 2000 dan Plaxis v.8.2 berada ditengah-tengah bentang pelat beton dengan panjang bidang kontak beban area sebesar 40 cm. Beban pada Plaxis v.8.2 menggunakan beban merata dan pada SAP 2000 menggunakan beban area dengan bidang kontak diameter 40 cm. Slab beton akan menyalurkan beban dan diwakili oleh midsurface, dan luasan kontak akan membesar. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Perhitungan SAP 2000 Perhitungan SAP 2000 menggunakan beban kontak area dengan diameter 40 cm, elemen shell sebagai pelat beton, dan elemen spring sebagai kombinasi lapisan pondasi batu kapur (limestone) dengan tanah dasar. Nilai lendutan hasil perhitungan dengan bantuan program SAP 2000 ditampilkan pada Gambar 1 berikut: Gambar 1. Lendutan maksimum pelat dengan program SAP 2000 Hasil Perhitungan Plaxis v.8.2 Perhitungan Plaxis 8.2 menggunakan model plainstrain dengan bentang 6 m. Pemodelan menggunakan material mohr-coloumb sebgai tanah dan batu kapur (limestone), linier-elastic sebagai beton, dan tipe geogrid sebagai geotekstil. Nilai lendutan hasil perhitungan dengan bantuan program Plaxis v.8.2 ditampilkan pada Gambar 2 berikut: Gambar 2. Lendutan maksimum pelat dengan program Plaxis v.8.2 e-jurnal MATRIKS TEKNIK SIPIL/September 2017/834

Hasil Perhitungan dengan Rumus Hetenyi (1974) Metode rumus Hetenyi (1974) mengasumsikan lapisan pondasi batu kapur limestone dan tanah dasar sebagai satu lapisan dengan parameter kekuatan berupa koefisien reaksi tanah dasar vertikal (k v). Nilai lendutan berdasarkan perhitungan dengan metode Hetenyi (1974) ditampilkan dalam Gambar 3 berikut: Gambar 3. Lendutan maksimum pelat dengan rumus Hetenyi (1974) Perbandingan Hasil Analisis Perbandingan nilai lendutan () dari metode perhitungan dengan SAP 2000, Plaxis v.8.2, dan rumus Hetenyi (1974) ditampilkan dalam Tabel 2 berikut: Tabel 2. Perbandingan nilai lendutan () Jenis Dasar Lunak Tebal Lapis Pondasi (cm) SAP 2000 (mm) Penurunan SAP 2000 (%) Plaxis v.8.2 (mm) Penurunan Plaxis v.8.2 (%) Hetenyi (1974) (mm) Penurunan Hetenyi (1974) (%) 5 0,878-0,8157-1,5748-10 0,827 5,81 0,8026 1,61 1,4500 7,92 15 0,738 10,76 0,7827 2,48 1,2375 14,66 20 0,717 2,85 0,7692 1,72 1,1886 3,95 Lunak dengan Perkuatan Geotekstil 5 0,789-0,8058-1,3569-10 0,738 6,46 0,7982 0,94 1,2375 8,80 15 0,673 8,81 0,7638 4,31 1,0888 12,02 20 0,571 15,16 0,7597 0,54 0,8656 20,50 5 0,454-0,5371-0,6285 - Granuler 10 0,434 4,41 0,5270 1,88 0,5901 6,11 15 0,363 16,36 0,5149 2,30 0,4609 21,89 20 0,353 2,75 0,5015 2,60 0,4439 3,69 e-jurnal MATRIKS TEKNIK SIPIL/September 2017/835

(a) lunak (b) lunak dengan geotekstil (c) granuler Gambar 4. Perbandingan nilai lendutan dari tiga jenis meotde perhitungan Pembahasan Hasil dari tiga metode analisis menunjukan perilaku yang sama, yaitu penambahan ketebalan lapisan pondasi batu kapur (limestone) dapat mengurangi nilai lendutan pada perkerasan jalan dan lendutan pada kondisi tanah granuler sebagai tanah dasar lebih kecil dibandingkan dengan tanah lunak dengan geotekstil dan tanah lunak. Hasil perhitungan dengan program SAP 2000 menunjukan penurunan rata-rata nilai lendutan pada kondisi tanah lunak, tanah lunak dengan geotekstil, dan tanah granuler sebgai tanah dasar berturut-turut dengan nilai sebesar 6,47%, 10,14%, dan 7,84%. Penambahan geotekstil pada tanah lunak menurunkan nilai rata-rata lendutan sebesar 12,52%, dan selisih penurunan pada kondisi tanah granuler sebagai tanah dasar dengan tanah lunak & tanah lunak dengan geotekstil berturut-turut dengan nilai sensar 41,97% dan 50,74%. Hasil perhitungan dengan program Plaxis v.8.2 menunjukan penurunan rata-rata nilai lendutan pada kondisi tanah lunak, tanah lunak dengan geotekstil, dan tanah granuler sebgai tanah dasar berturut-turut dengan nilai sebesar 1,94%, 1,93%, dan 2,26%. Penambahan geotekstil pada tanah lunak menurunkan nilai rata-rata lendutan sebesar 1,35%, dan selisih penurunan pada kondisi tanah granuler sebagai tanah dasar dengan tanah lunak & tanah lunak dengan geotekstil berturut-turut dengan nilai sensar 33,47% dan 34,49%. Hasil perhitungan dengan rumus Hetenyi (1974) menunjukan penurunan rata-rata nilai lendutan pada kondisi tanah lunak, tanah lunak dengan geotekstil, dan tanah granuler sebgai tanah dasar berturut-turut dengan nilai sebesar 8,84%, 13,77%, dan 10,56%. Penambahan geotekstil pada tanah lunak menurunkan nilai rata-rata lendutan sebesar 16,92%, dan selisih penurunan pada kondisi tanah granuler sebagai tanah dasar dengan tanah lunak & tanah lunak dengan geotekstil berturut-turut dengan nilai sensar 53,09% dan 63,74%. Perbandingan hasil perhitungan ketiga metode menunjukan selisih sebesar 13,07% untuk hasil dari program SAP 2000 dan Plaxis v.8.2, sedangakan selisih hasil rumus Hetenyi (1974) dengan hasil program SAP 2000 dan Plaxis v.8.2 berturut-turut sebesar 34,80% dan 27,52%. e-jurnal MATRIKS TEKNIK SIPIL/September 2017/836

KESIMPULAN 1. Pertambahan lapisan pondasi batu kapur (limestone) mampu mereduksi lendutan yang dihasilkan oleh pembebanan dengan rata-rata penurunan sebesar 8,15% hasil SAP 2000, 2,04% hasil Plaxis v.8.2, dan 11,06% hasil rumus Hetenyi (1974), 2. Pertambahan geotekstil pada tanah lunak mampu mereduksi lendutan yang dihasilkan oleh pembebanan dengan rata-rata penurunan sebesar 12,52% hasil SAP 2000, 1,35% hasil Plaxis v.8.2, dan 16,92% hasil rumus Hetenyi (1974), 3. granuler memiliki daya dukung yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanah lunak dan tanah lunak dengan geotekstil dengan selisih rata-rata 46,36% hasil SAP 2000, 33,98% hasil Plaxis v.8.2, dan 58,28% hasil rumus Hetenyi (1974), 4. Perhitungan dengan metode elemen hingga dengan bantuan program SAP 2000 dan Plaxis v.8.2 memiliki nilai yang mirip dengan selisih 13,07%. Rumus Hetenyi (1974) menghasilkan selisih 34,80% dengan program SAP 2000 dan 27,52% dengan program Plaxis v.8.2. REFERENSI Aji. E.W., 2016, Penggunaan Material Batu Kapur sebagai Lapisan Subbase Course Perkerasan Jalan pada Subgrade Lunak dengan Perkuatan Plastik dan Geosintetik, Surakarta: Universitas Negeri Sebelas Maret. Anonim, 1993, Prasarana dan Lalu Lintas Jalan. Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah. Bahtiar, S., 2012, Pengaruh Ketebalan Subbase Course dengan Material Utama Dolomite (limestone) serta Penggunaan Geosintetik terhadap Nilai CBR dan k v Struktur Perkerasan Jalan, Surakarta: Universitas Negeri Sebelas Maret. Basuki. I.; Eko. A., 2009, Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan dengan Microsoft Visual Basic 6.0, Yogyakarta: Universitas Atma Jaya. Hardiyatmo. H.C, 2009, Metode Hitungan Lendutan Pelat dengan Menggunakan Modulus Reaksi Tnaah Dasar Ekivalen untuk Struktur Pelat Fleksibel, Dinamika Teknik Sipil, Volume 9 Nomor 2, Yogyakarta. Mardiyanto. B., 2010, Studi Perilaku Pelat Beton di Atas dengan Metode Elemen Hingga (SAP 2000 v.11.0.0) ditinjau pada Variasi Modulus Reaksi Subgrade (k v) dan Mutu Pelat Beton, Surakarta: Universitas Negeri Sebelas Maret. Nuskara. L., 2016, Penggunaan Material Batu Kapur sebagai Lapisan Subbase Course Pererasan Jalan pada Subgrade Granuler, Surakarta: Universitas Negeri Sebelas Maret. Setiawan. B., 2015, Perilaku Sistem Cakar Ayam Modifikasi pada Ekspansif, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Sinaga. H. dan Tambunan. F., 2008, Analisis Stabilitas dan Penurunan Timbunan pada Lunak dengan Vertical Drain, Perkuatan Bambu dan Perkuatan Geotextile, Bandung: Institut Teknologi Bandung. Yanto. F.H., 2015, Analisis LendutanPerkerasan Kaku pada Lunak dengan Perkuatan Kolom Soil Cement,Surakarta: Universitas Sebelas Maret. e-jurnal MATRIKS TEKNIK SIPIL/September 2017/837