TANGGUNG JAWAB SOSIAL MAHASISWA

dokumen-dokumen yang mirip
KEPERCAYAAN VERSUS PENGETAHUAN

MASALAH PEMBARUAN PEMIKIRAN DALAM ISLAM

TANTANGAN UMAT BERAGAMA PADA ABAD MODERN

BAB I PENDAHULUAN. bertujuan mengantar manusia menuju kesempurnaan. Menurut pendapat Muzayyin (2005) Tugas dan fungsi

PRANATA KEISLAMAN Oleh Nurcholish Madjid

I. PENDAHULUAN. Kemajuan suatu bangsa tergantung pada kemajuan sumber daya manusianya.

PROPORSI HUBUNGAN ANTARA KEILMUAN DAN KEAGAMAAN

BAB I PENDAHULUAN. memandang latar belakang maupun kondisi yang ada pada mereka. Meskipun

BAB I PENDAHULUAN. matang baik secara mental maupun secara finansial. mulai booming di kalangan anak muda perkotaan. Hal ini terjadi di

BAB I PENDAHULUAN. insan yang memiliki berbagai dimensi yaitu sebagai bagian dari civitas akademika

PENDAHULUAN Latar Belakang

Oleh Ratna Novita Punggeti

KELUARGA ADALAH MINIATUR PERILAKU BUDAYA. Mata Kuliah : Ilmu Budaya Dasar Dosen : Muhammad Burhan Amin

I. PENDAHULUAN. Nasional RI No. 20 Tahun 2003 adalah sebagai berikut :

II. TINJAUAN PUSTAKA. Efektivitas pembelajaran yaitu terlaksana tidaknya suatu perencanaan

SEKOLAH AGAMA Oleh Nurcholish Madjid

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Andriyana, 2015

BAB V KESIMPULAN IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

BAB I PENDAHULUAN. Secara etimologis kata kesusastraan berasal dari kata su dan sastra. Su berarti

BAB I PENDAHULUAN. Simbol manifestasi negara demokrasi adalah gagasan demokrasi dari

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan. Indonesia sebagai suatu bangsa yang sedang giat-giatnya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan sebuah proses belajar yang tiada henti dalam

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Arisan adalah kelompok orang yang mengumpul uang secara teratur

BAB I PENDAHULUAN. Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, yang isinya disebutkan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. menjunjung tinggi nilai pendidikan dan dengan pendidikan manusia menjadi lebih

EMPAT BELAS ABAD PELAKSANAAN CETAK-BIRU TUHAN

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting bagi. tinggi dan berbagai keterampilan khusus yang dimiliki oleh peserta didik

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Mahasiswa merupakan aset nasional jangka panjang, sehingga perlu

STRATEGI PELAYANAN PRIMA

Sekolah Inklusif: Dasar Pemikiran dan Gagasan Baru untuk Menginklusikan Pendidikan Anak Penyandang Kebutuhan Khusus Di Sekolah Reguler

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan salah satu pilar dalam kemajuan bangsa, dan

BAB I PENDAHULUAN. Banyaknya para pencari kerja di Indonesia tidak di imbangi dengan

I. PENDAHULUAN. Pendidikan sebagai sebuah upaya sadar yang dikerjakan oleh manusia untuk

ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN DI AS

PANCASILA SEBAGAI SISTEM NILAI DISUSUN OLEH: GUSPI AKHBAR PUTRA RIZKI SAHPUTRA M. FAJAR MAULANA RYAN ANDRYAN PUTRA RANGGA FERNANDO

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengadaan Proyek

BAB I PENDAHULUAN. PT Rineka Cipta, 2010), hlm Fuad Ihsan, Dasar-dasar Kependidikan Komponen MKDK, (Jakarta:

Kepemimpinan: MENGENALI POTENSI DIRI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. mengubah keadaan tertentu menjadi kondisi yang lebih baik. Perubahan itu harus

MAKALAH MENINGKATKAN KINERJA GURU

TEORI PENDIDIKAN Abdur Rohim/

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan upaya mewujudkan cita-cita

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian. Dengan adanya kemajuan teknologi dan fenomena global village yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. jiwa, kepribadian serta mental yang sehat dan kuat. Selayaknya pula seorang

Masih Spiritualitas Bisnis

I. PENDAHULUAN. untuk membawa bangsa ini keluar dari krisis menuju kemajuan. kemampuan mental, pikir (rasio, intelektual) dan kepribadian manusia

PERAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DALAM MENGATASI GERAKAN RADIKALISME. Oleh: Didik Siswanto, M.Pd 1

I. PENDAHULUAN. selalu berhubungan dengan tema tema kemanusiaan, artinya pendidikan

I. PENDAHULUAN. Pola hidup mengacu pada cara-cara bagaimana menjalani hidup dengan cara yang baik dan

BAB I PENDAHULUAN. aktivitasnya berada di luar lingkup universitas atau perguruan tinggi. Organisasi

BAB I PENDAHULUAN. pentingnya kesehatan, maka kebugaran jasmani sangat perlu dipelihara dan

ANALISIS TUJUAN MATA PELAJARAN Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam. Ranah Kompetensi K A P

I. PENDAHULUAN. teratur, dan berencana yang berfungsi untuk mengubah atau mengembangkan

BAB II LANDASAN TEORI

PENDAHULUAN Latar Belakang

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 200 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. potensi dirinya melalui proses pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan diakui

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sumber daya manusia yang bermutu tinggi karena maju mundurnya sebuah negara

PEMBENAHAN KINERJA APARATUR PEMERINTAH

DALAM PERUBAHAN GLOBAL

SOSIOLOGI SASTRA SEBAGAI PENDEKATAN DALAM PENELITIAN SASTRA (Metode Penelitian Sastra)

2. Teoretisasi Gender

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Tujuan pendidikan nasional yang diamanatkan dalam pembukaan undangundangdasar

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. Beberapa kesimpulan menjawab rumusan masalah tentang pemahaman nilai

BAB IV PEMBAHASAN TEMUAN HASIL PENELITIAN. kompetensi profesional guru Pendidikan Agama Islam dalam menumbuhkan

A. LATAR BELAKANG PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. Bagian pertama ini membahas beberapa hal mengenai latar belakang masalah,

Kesalahan Umum Penulisan Disertasi. (Sebuah Pengalaman Empirik)

BAB 1 PENGANTAR Latar Belakang. demokrasi sangat tergantung pada hidup dan berkembangnya partai politik. Partai politik

BAB I PENDAHULUAN. individu dengan individu yang lain merupakan usaha manusia dalam

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

HUBUNGAN ANTARA KEBUTUHAN BERAKTUALISASI DIRI DAN KONFLIK PERAN DENGAN CITRA DIRI. Skripsi

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Mahasiswa merupakan salah satu bagian dari sumber daya manusia

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

2015 PEMBELAJARAN TARI MELALUI STIMULUS GERAK BURUNG UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KINESTETIK PADA ANAK TUNAGRAHITA SEDANG DI SLB YPLAB LEMBANG

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Perempuan adalah tiang penyangga dalam rumah tangga. Istilah tersebut

Syafrizal Helmi Staff Ahli Rektor USU bidang Kemahasiswaan

KONFERENSI CABANG KE IX HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM (HMI)

BAB II KAJIAN TEORITIS. 2.1.Hakikat Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. (2011: 67) bahwa pendidikan jasmani memperlakukan anak sebagai sebuah

RAMADAN Oleh Nurcholish Madjid

melalui Tridharma, dan; 3) mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan memperhatikan nilai Humaniora.

BAB I PENDAHULUAN. bertujuan agar siswa memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemampuan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat menentukan bagi. dan negara. Kemajuan suatu kebudayaan bergantung kepada cara kebudayaan

BAB V PENUTUP. A. Simpulan

Transkripsi:

TANGGUNG JAWAB SOSIAL MAHASISWA Oleh Nurcholish Madjid Ketika masih menjabat selaku Menteri P dan K, Mashuri dalam briefing-briefing-nya biasanya tidak melupakan pengungkapan tentang adanya kepincangan yang parah dalam dunia pendidikan kita. Kepincangan-kepincangan itu sering kali ia gambarkan dengan pertolongan suatu histogram yang membentuk sebuah bangunan tiang bendera dengan tangga penunjang dan platform yang mengalasinya. Menurut Mashuri, tiang bendera yang menjulang ke atas merupakan kolom statistik yang mewakili mahasiswa perguruan tinggi. Tangga penunjang mewakili siswa-siswa sekolah menengah; dan platform yang menyebar itu mewakili murid-murid sekolah dasar. Histogram itu, menurut Mashuri, menunjukkan betapa struktur pendidikan kita tidak membentuk suatu susunan segitiga yang harmonis: jumlah mahasiswa dibandingkan dengan jumlah siswa, dan jumlah siswa dibandingkan dengan jumlah murid berada dalam keadaan yang tidak proporsional secara mencolok. Terlepas dari persoalan apakah histogram itu telah secara tepat menggambarkan kenyataan yang ada, tetapi bahwa keadaan dunia pendidikan kita khususnya berkenaan dengan perbandingan jumlah mereka yang dapat menikmatinya dari satu jenjang ke jenjang lainnya adalah memang tidak seimbang. Dari histogram tersebut dapat dilihat bahwa mahasiswa merupakan suatu lapisan tersendiri dalam masyarakat yang dapat dikatakan sebagai lapisan elite atau atasan. Dan sebagaimana diketahui, 1

NURCHOLISH MADJID setiap lapisan elite akan selalu membawa serta atau nggembol (bahasa Jawa) sejumlah hak-hak istimewa atau privilise-privilise. Privilise-privilise inilah yang menjadi sumber beberapa kualitas pada dunia mahasiswa, sehingga kehidupan kemahasiswaan senantiasa ditandai oleh kedinamisan dan semangat inovatif. Sedangkan privilise-privilise itu sendiri sesungguhnya merupakan kelanjutan wajar dari beberapa kualitas. Kualitas-kualitas itulah yang memungkinkan seseorang menjadi mahasiswa atau partisipan lain dalam kegiatan-kegiatan intelektual dengan kadar kebebasan secukupnya: Pertama, tingkat IQ relatif lebih tinggi daripada masyarakat umum. Hampir dapat dipastikan bahwa seorang mahasiswa, baik karena faktor pembawaan dari lahir ataupun karena proses pendidikan sebelumnya, mempunyai tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Tak perlu dikatakan bahwa seseorang dengan tingkat IQ yang rendah akan sulit atau malah barangkali mustahil menjadi mahasiswa. Kedua, karena bagaimanapun juga menikmati pendidikan tinggi adalah memerlukan ongkos, maka dapatlah dikatakan bahwa pada umumnya mahasiswa berasal dari kalangan keluarga dengan tingkat ekonomi (dan sosial juga) yang relatif lebih tinggi daripada lainnya. Sudah tentu keadaan ini membawa implikasi-implikasinya tersendiri dalam kehidupan dunia kemahasiswaan. Ketiga, begitu pula kondisi fisik-organisnya. Mahasiswa memiliki tingkatan yang pasti tidak terlalu buruk atau rendah. Jargon lama men sana in corpore sano menerangkan sendiri bagaimana seharusnya kondisi jasmani seorang mahasiswa. Keempat, satu lagi kualitas yang amat penting tentang kehidupan mahasiswa ialah adanya kebebasan relatifnya dari ikatan-ikatan kepentingan yang tertanam (vested interest). Hal ini ialah karena umumnya mahasiswa masih belum termasuk susunan mapan (establishment) masyarakat. Dengan adanya kebebasan relatif ini, mahasiswa dimungkinkan untuk melakukan tindakan-tindakan, 2

mengeluarkan gagasan-gagasan dan mengadakan penilaian yang tidak memihak. Maka tidak mengherankan jika dari sudut pandang tertentu, khususnya sosiologis, mahasiswa sering disebut sebagai bahan manusia yang terbaik dalam suatu bangsa (the best human material of a nation). Dan kedudukannya dalam pola-pola sosial menempatkannya pada posisi selaku elite strategis. Atas pertimbangan ini maka logis jika banyak orang dan kelompok dari susunan mapan yang selalu mencoba merebut hati mahasiswa dan menguasainya. Mereka sebagai alat sosial-politik sering menampilkan diri dengan tingkat keefektifan yang menakjubkan. Ingat saja beberapa contoh, seperti peranan mahasiswa dalam ikut menumbangkan Orde Lama di Indonesia, penyingkiran kekuasaan diktator Rhee di Korea Selatan, dan penggantian pemerintahan militer dengan pemerintahan sipil yang lebih demokratis di Muangthai. Jadi terang bahwa mahasiswa mempunyai sifat-sifat yang tidak sembarangan. Tidak perlu komplimen ini mengundang perasaan bangga-diri atau kecongkakan. Meskipun dalam kenyataan sosialnya memang banyak mahasiswa yang tidak tahan terhadap godaan untuk menjadi angkuh, sok pandai, dan mengidap arogansi intelektual di lingkungan keluarga dan masyarakat terdekatnya. Lebih baik cacat-cacat psikologis ini kita bendung cukup dini agar tidak merayapi keseluruhan cara berpikir dan sikap mental kita yang akhirnya akan hanya menghambat pertumbuhan peranan sosial kita sendiri. Walaupun begitu jelas bahwa mahasiswa harus menyadari kualitas-kualitas diri dan kelompoknya, serta kualitas keseluruhan lingkungan civitas akademika dan kehidupan ilmiah atau intelektual. Kualitas-kualitas itu menempatkan mahasiswa tidak lagi pada kedudukan yang setingkat dengan golongan awam, tetapi mereka termasuk golongan khawâsh jika kita dibenarkan menggu na kan istilah-istilah pinjaman dari dunia keagamaan ini. Sebagai golongan khawâsh ; mereka dituntut untuk memiliki kemampuankemampuan lebih daripada rata-rata masyarakat dalam memandang 3

NURCHOLISH MADJID persoalan-persoalan sosial dan tindakan-tindakannya. Dari sinilah dimulai adanya tanggung jawab sosial mahasiswa. Bayangkan betapa seorang mahasiswa menyalahi kodratnya sendiri jika seandainya ia hanya mampu berpikir dan bertindak setingkat dengan keawaman dengan segala ketidakdewasaan dan kecupetannya (relatif, tentu!). Meteran yang dipakai untuk mengukur sampai di mana mahasiswa dan intelektual telah atau belum memenuhi kodratnya ialah rasionalitas. Inilah aspek universal kehidupan mereka. Perguruan tinggi yang seringkali disifatkan sebagai sumbu perputaran roda peradaban di mana mahasiswa merupakan salah satu elemennya yang utama menerangkan sendiri gambaran diri atau image apa yang seharusnya dimiliki olehnya. Berhubung dengan itu, tindakan nyata apa yang diharapkan dari seorang mahasiswa? Secara ringkas, dengan banyak menyederhanakan persoalan-persoalannya, mahasiswa dapat memenuhi tanggung jawab sosial dengan melakukan: Pertama, berusaha agar sukses dalam studi. Bagaimanapun, dalam analisis terakhir, inilah tujuan pokok seseorang yang pergi ke perguruan tinggi. Mengingkarinya adalah berarti mengingkari atributnya yang elementer. Hanya saja di sini, dalam konteks tanggung jawab sosial ini, sukses dalam studi diusahakan dalam liputan semangat kesadaran sosial yang setinggi-tingginya, melalui keyakinan bahwa disiplin ilmu yang dipilihnya tidak saja berguna, tetapi itulah jalan yang terbaik baginya untuk mewujudkan sumbangan dan darmanya kepada masyarakat. Kegunaan yang menyertainya berupa janji kerja dan status sosial pribadi harus dipandang sebagai sesuatu yang merupakan hasil sampingan. Sedangkan hasil utama ialah kebaikan bersama, baik dalam konteks umat, bangsa, maupun kemanusiaan universal. Kedua, selalu berusaha memiliki kepekaan sosial yang semakin meningkat. Yang dimaksudkan ialah kemampuan untuk mengenali problem-problem dalam masyarakat dan adanya ikatan jiwa atau komitmen: untuk mencari jalan pemecahannya. Kepekaan dan komitmen itu tidak selamanya harus dimanifestasikan dalam bentuk 4

tindakan-tindakan dissenting, seperti kritik, protes, penentangan (challenge) atau mungkin penghindaran diri. Metode-metode itu efektif hanya jika dikenakan dalam konteks ruang dan waktu yang tepat, yang biasanya tidak mudah didapati. Kesembronoan dalam hal ini, yang melahirkan sikap-sikap obral dan boros dalam kegiatan dissenting, ternyata tidak ekonomis dan banyak mengisap energi. Kesejatian dalam komitmen ternyata akan lebih banyak berbuah jika dinyatakan dalam sikap-sikap ikut berkepentingan atau concern yang positif. Sekaligus hal ini, jika dikerjakan dengan cukup kesung guhan hati dan motivasi, akan merupakan latihan nyata untuk mempersiapkan diri terjun dalam dunia dewasa atau dunia yang mapan kelak. (Kita katakan terjun dalam dunia yang mapan, sebab meskipun idealisme kaum muda selalu menekankan sikap-sikap anti kemapanan, tetapi dalam kehidupan yang nyata suatu perenggangan diri atau self disengagement total dari kemapanan tidak pernah terjadi). Terakhir, perlu rasanya dikatakan bahwa atribut-atribut sampingan dunia kemahasiswaan, seperti apa yang biasa dinamakan kegenitan intelektual, tidak perlu seluruhnya ditiadakan. Hal itu justru merupakan variasi yang menyegarkan. [ ] 5