TUGAS MAKALAH SUBMERGED ARC WELDING (SAW)

dokumen-dokumen yang mirip
SUBMARGED ARC WELDING (SAW)

proses welding ( pengelasan )

DASAR TEKNOLOGI PENGELASAN

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

RANGKUMAN LAS TIG DAN MIG GUNA MEMENUHI TUGAS TEORI PENGELASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. RUANG LINGKUP Adapun rung lingkup dari penulisan praktikum ini adalah sebagai berikut: 1. Kerja las 2. Workshop produksi dan perancangan

MAKALAH PELATIHAN PROSES LAS BUSUR NYALA LISTRIK (SMAW)

BAB II PENGELASAN SECARA UMUM. Ditinjau dari aspek metalurgi proses pengelasan dapat dikelompokkan

Las busur listrik atau las listrik : Proses penyambungan logam dengan menggunakan tegangan listrik sebagai sumber panas.

TINJAUAN PUSTAKA. tersebut adalah dengan mendekatkan elektroda las ke benda kerja pada jarak beberapa

Penelitian Kekuatan Sambungan Las pada Plat untuk Dek Kapal Berbahan Plat Baja terhadap Sifat Fisis dan Mekanis dengan Metode Pengelasan MIG

Pengaruh variasi kampuh las dan arus listrik terhadap kekuatan tarik dan struktur mikro sambungan las TIG pada aluminium 5083

KARAKTERISTIK HASIL PENGELASAN PIPA DENGAN BEBERAPA VARIASI ARUS LAS BUSUR LISTRIK

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai peranan yang sangat penting dalam rekayasa serta reparasi

I. PENDAHULUAN. selain jenisnya bervariasi, kuat, dan dapat diolah atau dibentuk menjadi berbagai

PENGARUH BESAR ARUS LISTRIK DAN PANJANG BUSUR API TERHADAP HASIL PENGELASAN.

LAB LAS. Pengelasan SMAW

Gambar 2.1. Proses pengelasan Plug weld (Martin, 2007)

LAS BUSUR LISTRIK ELEKTRODE TERBUNGKUS (SHIELDED METAL ARC WELDING = SMAW)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 8. Materi las acetylene

BAB II KERANGKA TEORI

Pengaruh Kondisi Elektroda Terhadap Sifat Mekanik Hasil Pengelasan Baja Karbon Rendah

BAB I LAS BUSUR LISTRIK

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Mengetahui cara mengoperasian mesin las GMAW

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA dan LANDASAN TEORI. Berdasarkan definisi dari Deutche Industrie Normen (DIN), las adalah

I. PENDAHULUAN. sampah. Karena suhu yang diperoleh dengan pembakaran tadi sangat rendah maka

BAB 1 PROSES PENGELASAN

BAB I PENDAHULUAN. logam menjadi satu akibat adanya energi panas. Teknologi pengelasan. selain digunakan untuk memproduksi suatu alat, pengelasan

BAB I PENDAHULUAN. dimana logam menjadi satu akibat panas las, dengan atau tanpa. pengaruh tekanan, dan dengan atau tanpa logam pengisi.

BAB I PENDAHULUAN. proses pengelasan. Pada proses pengelasan terdapat berbagai jenis

PROSES DASAR PEMBENTUKAN LOGAM

II. TINJAUAN PUSTAKA. Seperti diketahui bahwa, di dalam baja karbon terdapat ferrite, pearlite, dan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pengembangan teknologi di bidang konstruksi yang semakin maju tidak

BAB III TEKNOLOGI PENGELASAN PIPA UNTUK PROSES SMAW. SMAW ( Shielded Metal Arc Welding ) salah satu jenis proses las busur

BAB I PENDAHULUAN. adalah karena sifat-sifat dari logam jenis ini yang bervariasi, yaitu bahwa

Persentasi Tugas Akhir

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sehingga membentuk suatu sambungan/kampuh. pateri dan mematri keras. Untuk mengelas yang baik dan benar terlebih

PENGELASAN Teknologi Pengelasan Pengelasan sebagai Kegiatan Komersial :

PENGARUH HASIL PENGELASAN GTAW DAN SMAW PADA PELAT BAJA SA 516 DENGAN KAMPUH V TUNGGAL

BAB II DASAR TEORI Tinjauan Pustaka

ANALISIS PENGARU ARUS PENGELASAN DENGAN METODE SMAW DENGAN ELEKTRODA E7018 TERHADAP KEKUATAN TARIK DAN KETANGGUHAN PADA BAJA KARBON RENDAH ABSTRAK

STUDI KARAKTERISTIK PENGELASAN SMAW PADA BAJA KARBON RENDAH ST 42 DENGAN ELEKTRODA E 7018

DASAR-DASAR PENGELASAN

II-1 BAB II DASAR TEORI

BAB I PENDAHULUAN. Banyak cara yang dapat dilakukan dalam teknik penyambungan logam misalnya

Pengaruh Jenis Elektroda Pada Pengelasan Dengan SMAW Terhadap Sifat Fisis dan Mekanis Pada Baja Profil IWF

BAB I PENDAHULUAN. atau non ferrous dengan memanaskan sampai suhu pengalasan, dengan atau tanpa menggunakan logam pengisi ( filler metal ).

JURNAL KAJIAN TEKNIK MESIN

Peralatan Las Busur Nyala Listrik

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sehingga membentuk suatu sambungan/kampuh. pateri dan mematri keras. Untuk mengelas yang baik dan benar terlebih

BAB II LANDASAN TEORI

PENGARUH KELEMBABAN FLUKS ELEKTRODA E 6013 LAS SMAW PADA KEKUATAN SAMBUNGAN TUMPUL BAJA PADUAN BERKEKUATAN TARIK TINGGI AISI 4340

BAB I PENDAHULUAN. untuk memenuhi permintaan konsumennya. Konsumen merupakan faktor yang

Frekuensi yang digunakan berkisar antara 10 hingga 500 khz, dan elektrode dikontakkan dengan benda kerja sehingga dihasilkan sambungan la

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA LATIHAN LAS LISTRIK (MEMBUAT RIGI-RIGI LAS) NO REVISI TANGGAL HALAMAN JST/TSP/ dari 9

FM-UII-AA-FKU-01/R0. Fakultas : Teknologi Industri Jumlah Halaman : 28 Jurusan / Program Studi : Teknik Industri Kode Praktikum ` MESIN GERGAJI & LAS

Teknologi Dan Rekayasa TUNGSTEN INERT GAS WELDING (TIG / GTAW)

Integrity, Professionalism, & Entrepreneurship. Mata Kuliah : Perancangan Struktur Baja Kode : CIV 303. Sambungan Las.

SKRIPSI / TUGAS AKHIR

BAB I PENDAHULUAN. adalah sebagai media atau alat pemotongan (Yustinus Edward, 2005). Kelebihan

BAB I PENDAHULUAN. bermanfaat bagi kebutuhan teknologi maupun kebutuhan rumah. berpengaruh pada penurunan kualitas barang produksi seperti

I. PENDAHULUAN. Dalam dunia konstruksi, pengelasan sering digunakan untuk perbaikan dan

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Indonesia. Pengaruh pengelasan..., RR. Reni Indraswari, FT UI, 2010.

BAB I PENDAHULUAN. Gambar. Skema pengelasan TIG(tungsten inert gas) [1]

PENGARUH HEAT TREATMENT

BAB IV PERUBAHAN BENTUK DALAM PENGELASAN. tambahan untuk cairan logam las diberikan oleh cairan flux atau slag yang terbentuk.

TUGAS AKHIR. PENGARUH JENIS ELEKTRODA PADA HASIL PENGELASAN PELAT BAJA St 32 DENGAN KAMPUH V TUNGGAL TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN KEKUATAN TARIKNYA

M O D U L T UT O R I A L

Pengaruh Variasi Arus terhadap Struktur Mikro, Kekerasan dan Kekuatan Sambungan pada Proses Pengelasan Alumunium dengan Metode MIG

Studi Karakteristik Hasil Pengelasan MIG Pada Material Aluminium 5083

BAB V. ELEKTRODA (filler atau bahan isi)

I. PENDAHULUAN. keling. Ruang lingkup penggunaan teknik pengelasan dalam konstruksi. transportasi, rel, pipa saluran dan lain sebagainya.

ANALISIS KEKUATAN TARIK BAJA ST37 PASCA PENGELASAN DENGAN VARIASI MEDIA PENDINGIN MENGGUNAKAN SMAW. Yassyir Maulana

BAB I PENDAHULUAN. Kekuatan tarik adalah sifat mekanik sebagai beban maksimum yang terusmenerus

PENGARUH FILLER DAN ARUS LISTRIK TERHADAP SIFAT FISIK-MEKANIK SAMBUNGAN LAS GMAW LOGAM TAK SEJENIS ANTARA BAJA KARBON DAN J4

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. logam dengan cara mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi

PENGARUH VARIASI KUAT ARUS PENGELASAN TUNGSTEN INERT GAS

Ir Naryono 1, Farid Rakhman 2

PENGARUH POSISI PENGELASAN TERHADAP KEKUATAN TAKIK DAN KEKERASAN PADA SAMBUNGAN LAS PIPA

MACAM-MACAM CACAT LAS

PENGARUH MEDIA PENDINGIN TERHADAP HASIL PENGELASAN TIG PADA BAJA KARBON RENDAH

Pengaruh Variasi Waktu dan Tebal Plat Pada Las Titik terhadap Sifat Fisis dan Mekanis Sambungan Las Baja Karbon Rendah

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Oleh: Agung Mustofa ( ) Muhammad Hisyam ( )

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan efisiensi penggunaan BBM. Penggantian bahan pada. sehingga dapat menurunkan konsumsi penggunaan BBM.

RANCANG BANGUN SPESIMEN UNTUK KEBUTUHAN ULTRASONIC TEST BERUPA SAMBUNGAN LAS BENTUK T JOINT PIPA BAJA. *

BAB III PENELITIAN DAN ANALISA

UJIAN NASIONAL Tahun Pelajaran 2011/2012 SOAL TEORI KEJURUAN

PENGARUH FILLER DAN ARUS LISTRIK TERHADAP SIFAT FISIK- MEKANIK SAMBUNGAN LAS GMAW LOGAM TAK SEJENIS ANTARA BAJA KARBON DAN J4

PERLAKUAN PEMANASAN AWAL ELEKTRODA TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN FISIK PADA DAERAH HAZ HASIL PENGELASAN BAJA KARBON ST 41

TUGAS PENYAMBUNGAN MATERIAL 5 RACHYANDI NURCAHYADI ( )

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

Pengaruh Variasi Temperatur Anneling Terhadap Kekerasan Sambungan Baja ST 37

PENGARUH ARUS, KANDUNGAN SULFUR, DAN GAS PELINDUNG TERHADAP MORFOLOGI LASAN PADA PENGELASAN GTAW DENGAN BUSUR DIAM.

Transkripsi:

TUGAS MAKALAH Mata Kuliah Inspeksi Las Oleh Kelompok : Libryan Qadhi R 4212100094 Alfian 4212100701 Haris Nur Fauzi 4213100019 Nur Aulia Rosyida 4213100040 Hafizh Kus Rizkytama 4213100073 Fath Radiya Y 4213105023 Wiwin Rohmawati 42141000 Alriga Julia Prahara 421410013 Gufron Herlambang 421410015 Fahmi Yunus 4210100094 JURUSAN TEKNIK SISTEM PERKAPALAN FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2015/201 DAFTAR ISI

1 BAB I PENDAHULUAN... 2 1.1. Latar Belakang... 2 1.2. Rumusan Masalah... 2 1.3. Tujuan Penulisan... 3 BAB II PEMBAHASAN... 4 2.1. Pengertian Pengelasan... 4 2.2. Jenis jenis Pengelasan... 4 2.3. SAW (Submerged Arc Welding)... 2.3.1 Pengertian... 2.3.2 Bagian Bagian SAW... 7 2.3.3 Penggunaan Elektroda Pada Pengelasan SAW...8 2.3.4 Macam-macam Flux Pada Pengelasan SAW...9 2.3.5 Prinsip Pengoperasian SAW...12 2.3. Metode operasional pengelasan SAW...13 2.3.7 Metode Pengelasan SAW...14 2.3.8 Perlindungan Proses Pengelasan...17 2.3.9 Kelebihan Dan Kekurangan SAW...17 DAFTAR PUSTAKA... 19

2 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengelasan (welding) adalah salah salah satu teknik penyambungan logam dengan cara mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa tekanan dan dengan atau tanpa logam penambah dan menghasilkan sambungan yang kontinyu. Pengelasan (welding) adalah salah salah satu teknik penyambungan logam dengan cara mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa tekanan dan dengan atau tanpa logam penambah dan menghasilkan sambungan yang continue. Pengelasan bukan tujuan utama dari kontruksi, tetapi hanya merupakan sarana untuk mencapai ekonomi pembuatan yang lebih baik. Karena itu rancangan las dan cara pengelasan harus betul-betul memperhatikan dan memperlihatkan kesesuaian antara sifat-sifat lasdengan kegunaan kontruksi serta kegunaan disekitarnya. Dewasa ini terdapat beberapa jenis pengelasan yang telah ditemukan dan diaplikasikan oleh orang orang. Salah satunya adalah jenis las SAW (Submerged Arc Welding). Las jenis ini merupakan las yang digunakan untuk proses penyambungan material yang berada di bawah laut. Submerged Arc Welding memiliki sifat dan prosedur yang harus dimengerti oleh tukang las agar hasil dari pekerjaannya dapat dikatakan baik. Prosedur las ini juga berkaitan dengan masalah keselamatan, serta pemilihan jenis electrode yang tepat untuk mengelas material yang berbeda di bawah air. Dikarenakan pentingnya pemahaman mengenai dunia pengelasan, khususnya pengelasan bawah air, maka penulis berinisiatif untuk menyusun makalah yang berisikan informasi mengenai Submerged Arc Welding. 1.2. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang melatar belakangi penulisan makalah ini adalah : 1 2 3 4 5 Apakah pengertian dari las? Apakah pengertian dari las saw? Apakah komponen penyusun las saw? Bagaimana proses pengelsan dengan menggunakan las saw? Apakah kekurangan dan kelebihan las saw?

3 1.3. Tujuan Penulisan Adapun Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk melengkapi tugas mata kuliah Inspeksi las, serta untuk menyusun bahan bacaan kepada pembaca, kususnya mahasiswa mengenai pengelasan saw.

4 BAB II PEMBAHASAN 2.1. Pengertian Pengelasan Las menurut dalam Kamu Besar Bahasa Indonesia (1994), "adalah penyambungan besi dengan cara membakar. Dalam referensi-referensi teknis, terdapat beberapa definisi dari Las, diantaranya berdasarkan defenisi dari Deutsche Industrie Normen (DIN) dalam Harsono dkk (1991:1), mendefinisikan bahwa "las adalah ikatan metalurgi pada sambungan logam paduan yang dilakukan dalam keadaan lumer atau cair". Sedangkan menurut maman suratman (2001:1) mengatakan tentang pengertian mengelas yaitu salah satu cara menyambung dua bagian logam secara permanen dengan menggunakan tenaga panas. Sedangkan Sriwidartho, Las adalah suatu cara untuk menyambung benda padat dengan dengan jalan mencairkannya melalui pemanasan. Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kerja las adalah menyambung dua bagian logam atau lebih dengan menggunkan energi panas. Gambar 1. Proses Pengelasan Sumber : https://anjhiflash14area.files.wordpress.com 2.2. Jenis jenis Pengelasan Terdapat beberapa jenis pengelasan yang telah digunakan oleh dunia industri untuk berbagai keperluannya. Beberapa jenis pengelasan tersebut diantaranya adalah. 1 SMAW (Shield Metal Arch Welding) SMAW (Shield Metal Arch Welding) adalah las busur nyala api listrik terlindung dengan mempergunagakan busur nyala listrik sebagai sumber panas pencair logam. Jenis ini paling banyak dipakai dimana mana untuk hampir semua keperluan pekerjaan pengelasaan.

5 Tegangan yang dipakai hanya 23 sampai dengan 45 Volt AC atau DC, sedangkan untuk pencairan pengelasan dibutuhkan arus hingga 500 Ampere. Namun secara umum yang dipakai berkisar 80 200 Ampere. 2 SAW (Submerged Arch Welding) SAW (Submerged Arch Welding) adalah las busur terbenam atau pengelasan dengan busur nyala api listrik. Untuk mecegah oksidasi cairan metal induk dan material tambahan, dipergunakan butiran butiran fluks / slag sehingga bususr nyala terpendam di dalam ukuran ukuran fluks tersebut. 3 ESW (Electro Slag Welding) ESW (Electro Slag Welding) adalah pengelasan busur terhenti, pengelasan sejenis SAW namun bedanya pada jenis ESW busurnya nyala mencairkan fluks, busur terhenti dan proses pencairan fluk berjalan terus dam menjadi bahan pengantar arus listrik (konduktif). Sehingga elektroda terhubungkan dengan benda yang dilas melalui konduktor tersebut 4 SW (Stud Welding) ESW (Electro Slag Welding) adalah las baut pondasi, gunanya untuk menyambung bagian satu konstruksi baja dengan bagian yang terdapat di dalam beton (baut angker) atau Shear Connector 5 ERW (Electric Resistant Welding) ERW (Electric Resistant Welding) adalah las tahanan listrik yaitu dengan tahanan yang besar panas yang dihasilkan oleh aliran listrik menjadi semakin tinggi sehingga mencairkan logam yang akan dilas. Contohnya adalah pada pembuatan pipa ERW, pengelasan plat plat dinding pesawat, atau pada pagar kawat EBW (Electron Beam Welding) EBW (Electron Beam Welding) adalah las dengan proses pemboman elektron, suatu pengelasan uang pencairannya disebabkan oleh panas yang 7 GMAW (Gas Metal Arch Welding) GMAW (Gas Metal Arch Welding) terdiri dari ; MIG (Metal Active Gas) dan MAG (Metal Inert Gas) adalah pengelasan dengan gas nyala yang dihasilkan berasal dari busur nyala listrik, yang dipakai sebagai pencair metal yang di las dan metal penambah. Sebagai pelindung oksidasi dipakai gas pelindung yang berupa gas kekal (inert) atau CO2 8 GTAW (Gas Tungsten Arch Welding) atau TIG (Tungsten Inert Gas)

GTAW (Gas Tungsten Arch Welding) atau TIG (Tungsten Inert Gas) adalah pengelasn dengan memakai busur nyala dengan tungsten/elektroda yang terbuat dari wolfram, sedangkan bahan penambahnyyadigunakan bahan yang sama atau sejenis dengan material induknya. Untuk mencegah oksidasi, dipakai gas kekal (inert) 99 % Argon (Ar) murni. 2.3. SAW (Submerged Arc Welding) 2.3.1 Pengertian Pengertian Las SAW merupakan salah satu jenis pengelasan busur listrik dimana proses pengelasan ini adalah memanaskan dan mencairkan benda kerja dan logam pengisi atau elektroda oleh busur listrik yang ada diantara logam induk dan elektroda (logam pengisi). Pengelasan SAW ini menggunakan fluks yang bentuknya seperti pasir untuk melindungi logam pengisi yang mencair saat proses pengelasan agar tidak terkontaminasi dari udara luar sehingga menghasilkan las - lasan yang baik. Gambar 2. Mesin Las SAW Sumber : https://1.bp.blogspot.com Proses pengelasan SAW ini tidak memerlukan tekanan. Logam pengisi (filler metal) dan flux akan dipasok secara mekanis terus menerus ke dalam busur lsitrik yang terbentuk diantara ujung filler elektroda dan metal induk yang ditimbun oleh flux selama proses pengelasan berlangsung.

7 Gambar 3. Skema Pengelasan SAW Sumber : https://3.bp.blogspot.com 2.3.2 Bagian Bagian SAW Gambar 4. Bagian bagian SAW Sumber : https://3.bp.blogspot.com Berikut aalah peralatan penyusun las SAW 1. Power supply 2. Electrode delivery system 3. Flux distribution system 4. Travel arrangement 5. Control system. Flux recovery (pemulung flux) sebagai pilihan 7. Positioning equipment (Alat pengarah) sebagai pilihan

8 2.3.3 Penggunaan Elektroda Pada Pengelasan SAW Pada Pengelasan SAW pakan elektrodanya mirip dengan semua proses pengelasan lainnya. Logam pengisi disediakan pada gulungan, gulungan, atau dalam drum massal. Sistem pakan terdiri dari variabel kecepatan penggerak motor, motor controller, dan rol drive. Rol Drive biasanya jenis V-groove knurled, meskipun kadang-kadang halus tipe V-groove rol yang digunakan. Logam pengisi diumpankan pada tingkat yang konstan untuk busur. Kekuatan las diberikan oleh arus busur kawat yang mencair pada tingkat yang cocok dan sesuai. Elektroda mencair dan ditransfer di busur untuk pekerjaan melalui cairan arc atau fluks. Fluks bereaksi dengan logam baik selama busur dan dalam arc cair. Weld pendinginan agak diperlambat oleh selimut penahan panas yang disebut slag. Jika laju pendinginan terlalu cepat dalam lasan besar, beberapa kotoran dapat terjebak di tengah las-lasan. Tingkat pendinginan dapat diperlambat jika pemanasan awal dan postheat digunakan. Gambar 5. Bagian bagian hasil pengelasan SAW Filler yang digunakan pada pengelasan SAW adalah filler yang tersedia di kedua kawat standar dan beberapa bentuk khusus. Kawat tersebut dalam ukuran dari 1, mm sampai mm.

9 Kawat bengkok digunakan untuk memberikan busur beberapa gerakan berosilasi kawat memasuki las, Ukuran filler dapat dilihat pada Tabel.1. Jalur elektroda digunakan untuk aplikasi permukaan. Strip yang tersedia sampai dengan lebar 7 mm dan di beberapa ketebalan. Tabel.1 SAW Diameter vs range ampere 2.3.4 Macam-macam Flux Pada Pengelasan SAW Hasil komposisi las dari kontribusi dari logam dasar meleleh dan elektroda, dimodifikasi oleh reaksi kimia dengan fluks, dan paduan ditambahkan melalui fluks. Fluks diklasifikasikan menurut sifat mekanik logam las disimpan. Sama fluks kimia terdiri dapat memiliki banyak klasifikasi yang berbeda, tergantung pada klasifikasi elektroda digunakan dengan dan kondisi perlakuan panas yang diberikan lasan untuk pengujian. Karena fluks dan kawat filler secara independen ditiadakan dalam proses ini, maka mungkin terjadi fleksibilitas yang besar dalam memperoleh properti weld. Adanya kotoran, minyak atau uap air dapat mencemari fluks, mengakibatkan retak. Beberapa fluks memerlukan wadah penyimpanan dipanaskan dan gerbong untuk memastikan bahwa fluks kering saat digunakan. Fluks meleleh masih bisa didaur ulang.

10 2.3.4.1 Jenis Fluks Fluks dikelompokkan menjadi tiga jenis menurut metode mereka pembuatan: menyatu, terikat, dan mekanis campuran. Fluks menyatu adalah campuran yang telah dipanaskan sampai mereka mencair ke dalam gelas metalik yang solid. Mereka kemudian didinginkan dan digiling menjadi berbagai ukuran butiran yang diinginkan. Fluks menyatu tidak dapat paduan karena mereka adalah bentuk kaca dan semua komponen dalam gelas yang pada dasarnya oksida. Mereka tidak akan larut logam tanpa bereaksi dengan mereka, sehingga mengurangi efektivitas mereka sebagai bahan paduan. Fluks berikat adalah campuran dari partikel halus dari agen peremaja, deoxidizers, elemen paduan, senyawa logam, dan bahan pengikat yang cocok yang memegang campuran bersama-sama di kecil, butiran keras. Setiap granul terdiri dari semua bahan dalam proporsi yang benar. Fluks mekanis campuran adalah campuran dari menyatu dan terikat fluks. Untuk mencegah kontaminasi dari las oleh hidrogen, fluks harus tetap kering dan bebas dari minyak atau hidrokarbon lainnya. Jika fluks menjadi lembab, harus di oven. Tingkat berlebihan hidrogen di beberapa baja dapat menyebabkan porositas. Dalam baja hardenable, bahkan sejumlah kecil hidrogen dapat menyebabkan retak underbead. Komersial pengering tersedia adalah metode terbaik fluks pengeringan. Fluks tidak kering dengan menggunakan api langsung. Ini mungkin sekering fluks bersama-sama; dan, pada saat yang sama, api menghasilkan air yang mungkin mengembun di fluks. 2.3.4.2 Klasifikasi Fluks & Elektroda klasifikasi elektroda diawali dengan huruf E, menunjuk sebuah elektroda. Huruf berikutnya L (low), M (medium), atau H (tinggi) mengacu pada berbagai mangan. Berikutnya satu atau dua digit menunjukkan titik karbon normal kawat. Satu titik karbon sama dengan 0,01% karbon. Huruf terakhir adalah K dan mungkin atau tidak dapat digunakan. Bila digunakan, artinya elektroda diambil dari baja silikon.

11 Gambar. Bagian bagian klasifikasi elektroda Gambar 7. Bagian bagian klasifikasi elektroda Klasifikasi fluks dasar diawali dengan huruf F, yang menunjuk sebagai fluks. Ini diikuti dengan satu angka, yang mewakili 10.000 psi (9 MPa) kekuatan minimum tarik lasan. Digit yang diikuti oleh huruf A atau P. A berarti lasan diuji dan diklasifikasikan dalam "kondisi as-dilas." P berarti lasan diuji dan diklasifikasikan setelah jumlah yang ditentukan dari perlakuan panas pasca-lasan. Item berikutnya dalam klasifikasi adalah satu digit atau huruf K. digit yang menunjukkan suhu terendah, di -10oF (-23oC) unit, bahwa logam las akan memenuhi atau melampaui diperlukan 20 kaki-pound (27 J) dampak uji kekuatan. Huruf K menunjukkan bahwa tidak ada tes kekuatan impak diperlukan.

12 Gambar 8. SAW Filler Metal Clasification System 2.3.5 Prinsip Pengoperasian SAW Gambar 9. Prinsip Pengoperasian SAW Sumber : https://3.bp.blogspot.com Prinsip pengoperasiannya dengan memasukkan ujung dari solid filler metal yang dipasok secara mekanis pada gundukan fluks pada daerah yang akan dilas. Penambahan flux berlangsung terus menerus di depan dan di sekitar ujung pasokan filler metal. Panas yang timbul mengembangkan sebagian fluks dan mencairkan ujung elektroda bahan pengisi dan permukaan metal induk berdekatan, hingga menghasilkan welding pool (kawah lasan) yang berada di bawah flux yang mencair. Dalam kawah lasan yang mencair terjadi arus kisar

13 (turbulensi) dan dengan pengaruh gravity, gelembung udara yang terbentuk tergusur ke arah permukaan dan fluks yang mencair mengapung ke atas kawah las yang mencair. Flux yang mencair dan akan membeku secara sempurna melindungi metal las dari udara luar. Terdapat lima faktor yang harus diperhatikan sebelum pengelasan SAW, diantaranya : 1. 2. 3. 4. 5. Komposisi kimia dan properti mekanikal lasan yang diharapkan Ketebalan material yang akan dilas Cara pengelasan Posisi pengelasan yang dibuat Frekuensi atau volume pengelasan yang diinginkan 2.3. Metode operasional pengelasan SAW Metode operasional pengelasan SAW Terdapat dua macam metode operasional pengelasan SAW, yaitu Otomatis (Weld Travel SAW) dan Konvensional (Handheld SAW). Otomatis (Weld Travel SAW) Pada metode ini, pengelasan dilakukan dengan bantuan sebuah motor yang menggerakkan ujung torch secara horizontal (traveling) dengan jarak dan kecepatan tertentu. Selain itu terdapat pula aplikasi dari metode ini yang menggunakan roller untuk menggerakkan workpiece berbentuk tabung untuk bergerak memutar ketika proses pengelasan. Pada metode ini menggunakan sistem computer control automation untuk menyesuaikan kebutuhan pengelasan. Gambar 10. Alat las SAW dengan roller Sumber : https://www.google.co.id

14 Gambar 11. Alat las SAW dengan gerakan transversal Sumber : https://www.google.co.id Konvensional (Hand-held SAW) Sesuai namanya, metode ini dilakukan dengan tenaga manual dari welder. Metode ini dilakukan untuk menjangkau posisi posisi sulit dan sempit yang tidak memungkinkan penggunaan mesin pengelasan SAW biasa. Gambar 12. Pengelasan SAW konvensional Sumber : https://www.google.co.id 2.3.7 Metode Pengelasan SAW Metode Single Wire Metode ini adalah metode SAW yang paling banyak digunakan. Sumber daya yang digunakan adalah DC, dengan menggunakan elektroda yang digunakan berdiameter 2-4 mm

15 Gambar 13. Single Wire Sumber : https://bramcreate.files.wordpress.com Metode Twin Wire o Pada metode ini menggunakan dua kawat terhubung pada power source yang sama (DC). o Memiliki tingkat deposisi 30% lebih tinggi. o Dapat digunakan pada arus dan kecepatan yang lebih tinggi. o Kecepatan pengelasan yang sangat tinggi dapat dicapai dalam filler pengelasan. Gambar 14. Twin Wire Sumber : https://bramcreate.files.wordpress.com Tandem o Dua kawat sub-busur yang sama masing - masing terhubung ke power source tersendiri. o Dapat menggunakan power source DC maupun AC. o Tingkat deposisi sekitar dua kali lipat dari satu kawat las.

1 Gambar 15. Tandem Sumber : https://bramcreate.files.wordpress.com Tandem Twin o Proses tandem-twin melibatkan dua kawat ganda yang ditempatkan secara bersamaan. o Dapat menggunakan power source DC maupun AC. o Tingkat deposisi hingga 38 kg/jam dapat dicapai. Gambar 1. Tandem Twin Sumber : https://bramcreate.files.wordpress.com Multi Wire o Sampai dengan kawat dapat digunakan secara bersama - sama, dengan power source tersendiri. o Kawat untuk power source biasanya DC + polaritas dengan kabel pada akhiran menjadi AC. o Kecepatan hingga 2,5 m/min, sehingga memiliki tingkat deposisi maksimum 90 kg /jam.

17 Gambar 17. Multi Wire Sumber : https://bramcreate.files.wordpress.com 2.3.8 Perlindungan Proses Pengelasan o Timbunan flux yang belum dan sedang mencair o Gas yang dihasilkan pada proses pengelasan o Terak / slag yang dihasilkan 2.3.9 Kelebihan Dan Kekurangan SAW Kelebihan o Sambungan dapat dipersiapkan dengan alur V yang dangkal, sehingga tidak terlalu banyak memerlukan logam pengisi, bahkan biasanya tidak diperlukan alur. o Karena proses terjadi di bawah timbunan flux, maka tidak ada percikan logam (spatter) dan sinar busur yang keluar. o Kecepatan pengelasan tinggi, sehingga baik untuk pengelasan pelat datar, silinder maupun pipa, bahkan baik sekali untuk pelapisan permukaan (surfacingng). o Alat pelindung diri sangat minim sehingga meningkatkan kenyamanan pekerja Kekurangan o Proses sedikit rumit, karena selain diperlukan flux dan penahan flux o Flux dapat mengkontaminasi, sehingga menyebabkan terjadinya ketidaksempurnaan pengelasan o Untuk dapat menghasilkan lasan yang baik, logam induk harus homogen dan bebas dari scale maupun kontaminan - kontaminan lainnya o Untuk pengelasan berlapis banyak, yang memerlukan pembersihan terak yang baik, sering mengalami kesulitan.

18 o Bahan induk dengan ketebalan kurang dari 5 mm sulit dilas dengan proses ini 2.3.10 Aplikasi DAFTAR PUSTAKA Anton, Hendra.. 29 Februari 201. http://sebronet.blogspot.co.id /2010/07/submerged-arc-welding-saw.html Faradis, Helly. Tipe Mesin Las, dan Sistem Pengelasan. 29 Februari 201. http://caramenulisbuku.com/

19 Miftahudin. PROSES PENGELASAN (WELDING). 29 Februari 201. https://miftahdejazzlab.wordpress.com/2009/07/05/casting-process/ Ridhoi, Mahfud. Pengelasan SAW dan Fcaw. 29 Februari 201. http://mahfudridoi.blogspot.co.id/2014/03/pengelasan-saw-dan-fcaw.html Sandy, Herman. SUBMERGED ARC WELDING. 29 Februaru 201. http://hermansandywi78.blogspot.co.id/2012/12/busur-listrik-terendam-saw-submerged.html