BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN. anemia pada masa kehamilan. (Tarwoto dan Wasnidar, 2007)

BAB I PENDAHULUAN. Kehamilan merupakan permulaan suatu kehidupan baru. pertumbuhan janin pada seorang ibu. Ibu hamil merupakan salah satu

BAB 1 : PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI) tahun 2010 menyebutkan

BAB 1 PENDAHULUAN. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) masih merupakan masalah di bidang

BAB I PENDAHULUAN UKDW. kejadian kematian ke dua (16%) di kawasan Asia (WHO, 2015).

BAB 1 PENDAHULUAN. kapasitas/kemampuan atau produktifitas kerja. Penyebab paling umum dari anemia

BAB I PENDAHULUAN. Dalam rangka mencapai Indonesia Sehat dilakukan. pembangunan di bidang kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan

BAB I PENDAHULUAN. Kehamilan merupakan suatu keadaan fisiologis yang menjadi dambaan setiap

Hubungan Antara Anemia Pada Ibu Hamil Dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah Di RS Pendidikan Panembahan Senopati Bantul

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Pembangunan kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. (Suharno, 1993). Berdasarkan hasil penelitian WHO tahun 2008, diketahui bahwa

BAB I PENDAHULUAN. Ketidak cukupan asupan makanan, misalnya karena mual dan muntah atau kurang

BAB 1 PENDAHULUAN. Angka Kematian Bayi (AKB). AKB menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. dan Afrika. Menurut World Health Organization (dalam Briawan, 2013), anemia

BAB I PENDAHULUAN. konsepsi, fertilisasi, nidasi, dan implantasi. Selama masa kehamilan, gizi ibu dan

BAB I PENDAHULUAN. berlangsung dengan baik, bayi tumbuh sehat sesuai yang diharapkan dan

BAB I PENDAHULUAN. sangat besar terhadap kualitas sumber daya manusia. Menurut Manuaba (2010),

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan kesehatan ibu merupakan salah satu tujuan Millenium Development

BAB I PENDAHULUAN. mewujudkan Indonesia sehat 2010 adalah menerapkan pembangunan nasional

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. hingga kelahiran dan pertumbuhan bayi selanjutnya. (Depkes RI, 2009)

BAB I PENDAHULUAN. spermatozoa dan ovum kemudian dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Upaya untuk memperbaiki kesehatan ibu, bayi baru lahir, dan anak telah

BAB I PENDAHULUAN. merupakan salah satu indikator keberhasilan layanan kesehatan di suatu

BAB I PENDAHULUAN. Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi salah satu indikator penting. dalam menentukan derajat kesehatan masyatakat.

BAB 1 : PENDAHULUAN. SDKI tahun 2007 yaitu 228 kematian per kelahiran hidup. (1)

BAB I PENDAHULUAN. Kehamilan merupakan salah satu masa penting di dalam kehidupan. seorang wanita, selama kehamilan akan terjadi proses alamiah berupa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat adalah Angka Kematian Bayi (AKB). Menurut data World

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. tahun Konsep pembangunan nasional harus berwawasan kesehatan, yaitu

BAB I PENDAHULUAN. dunia mengalami preeklampsia (Cunningham, 2010). Salah satu penyulit dalam

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Intra Uterine Fetal Death (IUFD)

BAB I PENDAHULUAN. vitamin B12, yang kesemuanya berasal pada asupan yang tidak adekuat. Dari

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. Anemia adalah suatu kondisi ketika kadar hemoglobin (Hb) dalam darah lebih rendah dari batas normal kelompok orang yang

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Penelitian. Anemia defisiensi besi (ADB) masih menjadi. permasalahan kesehatan saat ini dan merupakan jenis

BAB 1 PENDAHULUAN. terjadinya gangguan gizi antara lain anemia. Anemia pada kehamilan merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit malaria merupakan salah satu penyakit parasit yang tersebar

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan mempunyai arti yang sangat penting bagi manusia, karena

Bab 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I. sel darah normal pada kehamilan. (Varney,2007,p.623) sampai 89% dengan menetapkan kadar Hb 11gr% sebagai dasarnya.

BAB 1 PENDAHULUAN. masa kehamilan. Anemia fisiologis merupakan istilah yang sering. walaupun massa eritrosit sendiri meningkat sekitar 25%, ini tetap

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Salah satu penentu kualitas sumber daya manusia adalah gizi seimbang. Kekurangan

BAB I PENDAHULUAN. (BBLR) adalah salah satu dari penyebab utama kematian pada neonates

22,02%, 23,48% dan 22,45% (Sarminto, 2011). Kejadian anemia di Provinsi DIY pada tahun 2011 menurun menjadi 18,90%. Berbeda dengan provinsi, kejadian

BAB I PENDAHULUAN. defisiensi vitamin A, dan defisiensi yodium (Depkes RI, 2003).

BAB I PENDAHULUAN. defisiensi besi, etiologi anemia defisiensi besi pada kehamilan yaitu hemodilusi. 1

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), khususnya bayi kurang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Masalah yang terjadi di dunia saat ini adalah menyangkut kemiskinan,

BAB I PENDAHULUAN. sering ditemukan dan merupakan masalah gizi utama di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. kehamilan. Dalam periode kehamilan ini ibu membutuhkan asupan makanan sumber energi

BAB 1 PENDAHULUAN. Angka Kematian Ibu (AKI) mengacu pada jumlah kematian ibu yang terkait

BAB I PENDAHULUAN. diperlukan dalam sintesa hemoglobin. Mengkonsumsi tablet Fe sangat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB. I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. sangat besar terhadap kualitas sumber daya manusia. Anemia pada ibu hamil

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Kekurangan gizi akan menyebabkan gagalnya pertumbuhan,

TINJAUAN PUSTAKA Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Definisi Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah

BAB I PENDAHULUAN. Anemia adalah suatu kondisi medis dimana kadar hemoglobin kurang dari

BAB I PENDAHULUAN. bayi berat lahir rendah (BBLR), dan infeksi (Depkes RI, 2011). mampu menurunkan angka kematian anak (Depkes RI, 2011).

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai tolak ukur keberhasilan kesehatan ibu maka salah satu indikator

STATUS GIZI IBU HAMIL SERTA PENGARUHNYA TERHADAP BAYI YANG DILAHIRKAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Kehamilan (konsepsi) adalah pertemuan antara sel telur dengan sel

Kehamilan : - Usia ibu - Umur kehamilan - Jarak Kelahiran - Gravida. Sosial Ekonomi - Pendapatan - Pendidikan - Pengetahuan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya. manusia. Kekurangan gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan

HUBUNGAN KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI RUMAH SAKIT UMUM Dr. SOEDIRAN WONOGIRI SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. penentu status kesejahteraan negara. Hal tersebut dikarenakan Angka Kematian

BAB I PENDAHULUAN. perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat. makin besar dengan adanya anemia 51%, nifas 45%.

BAB I PENDAHULUAN. atau konsentrasi hemoglobin dibawah nilai batas normal, akibatnya dapat

BAB I PENDAHULUAN. sampai usia lanjut (Depkes RI, 2001). mineral. Menurut Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VI 1998

2. Sebagai bahan masukan kepada pihak rumah sakit sehingga dapat melakukan. 3. Sebagai bahan masukan atau sebagai sumber informasi yang berguna bagi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. paling kritis karena dapat menyebabkan kesakitan dan kematian bayi. Kematian

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah gizi di Indonesia masih didominasi oleh masalah Kurang Energi

BAB I PENDAHULUAN. tinggi, menurut World Health Organization (WHO) (2013), prevalensi anemia

BAB 1 PENDAHULUAN. penurunan angka kematian ibu (AKI) dan bayi sampai pada batas angka

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kehamilan merupakan suatu keadaan fisiologis yang diharapkan setiap pasangan

BAB I PENDAHULUAN. awal minggu gestasi ke-20 sampai akhir minggu gestasi ke-37 (Varney,

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. sel darah merah lebih rendah dari nilai normal, sebagai akibat dari defisiensi salah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Masa Kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Angka kematian bayi (AKB) merupakan salah satu indikator untuk

BAB I PENDAHULUAN. Kematian Bayi (AKB) menjadi indikator pertama dalam menentukan derajat

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan di bidang kesehatan berkaitan erat dengan mewujudkan kesehatan anak sejak dini, sejak masih dalam kandungan. Untuk itulah upaya kesehatan ibu sebaiknya dipersiapkan sebelum dan selama kehamilan untuk melahirkan bayi yang sehat. Bila terjadi gangguan kesehatan selama kehamilan akan mempengaruhi kesehatan janin dalam kandungan sampai kelahiran dan pertumbuhan bayi selanjutnya (Depkes RI., 2010). Masih tingginya angka kematian ibu dan bayi banyak berhubungan dengan kehamilan, persalinan dan pasca persalinan pada ibu yang berisiko. Di Indonesia kematian bayi sebanyak 46,2% meninggal pada masa neonatus (usia di bawah 1 bulan). Penyebab kematian neonatus karena gangguan pernafasan/asfiksia (35,9%) dan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) (32,4%) (Kemenkes, 2012). Bayi berat lahir rendah adalah bayi yang mempunyai berat lahir < 2500 gram yang ditimbang pada saat lahir sampai dengan 24 jam pertama setelah lahir. Bayi berat lahir rendah merupakan salah satu dampak tidak sempurnanya tumbuh kembang janin selama di dalam rahim ibu (Depkes RI., 2010). Bayi berat lahir normal (BBLN) (usia gestasi 37-42 minggu) adalah 2500-4000 gram. Berat bayi lahir normal menjadi suatu hal yang penting karena akan menentukan kemampuan bayi untuk dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan hidup yang baru sehingga tumbuh kembang bayi akan berlangsung secara normal dan sebaliknya akan berdampak negatif bagi bayi berat lahir rendah (BBLR) (Kosim, 2010). Berdasarkan data dari Kemenkes (2012) dan SDKI (2012), Angka Kematian Ibu (AKI) pada saat ini masih tetap tinggi dan tertinggi di antara negara-negara ASEAN, dimana Angka Kematian Ibu di Indonesia mengalami kenaikan dari data sebelumnya, 288 menjadi 359 per 100.000 KH (kelahiran hidup). Angka Kematian Bayi (AKB), mengalami penurunan yang tidak signifikan dari 34 menjadi 32 per 1000 KH, meskipun terjadi perubahan pada AKB, target MDGs 2015 untuk mencapai angka 23 per 1000 KH tidak tercapai. Data RISKESDAS (2013), angka BBLR di Provinsi Yogyakarta sebanyak 9%, dengan jumlah tertinggi di Provinsi 1

2 Sulawesi Tenggara sebesar 17% dan terendah di Provinsi Sumatera Utara sebesar 7%. Angka bayi lahir pendek di Provinsi Yogyakarta menempati posisi kedua sebesar 28,6%. Kejadian BBLR berkaitan erat dengan status gizi. Status gizi ibu hamil baik sebelum maupun selama hamil, dapat menggambarkan ketersediaan zat gizi dalam tubuh ibu untuk mendukung pertumbuhan janin. Status gizi janin ditentukan oleh status gizi ibu waktu melahirkan dan ini dipengaruhi oleh status gizi ibu waktu konsepsi. Status gizi waktu konsepsi dan melahirkan ditentukan oleh keadaan ekonomi dan sosial waktu hamil, derajat pekerjaan fisik, asupan pangan dan pernah tidaknya terjangkit penyakit infeksi (Arisman, 2010). Salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi selama kehamilan adalah anemia gizi besi, dimana terjadi penurunan kadar zat besi (Fe). Selama kehamilan terjadi peningkatan kebutuhan zat besi tiga kali lipat untuk pertumbuhan janin dan keperluan ibu hamil (Pantiawati, 2010). Diperkirakan 1,6 miliar orang di seluruh dunia mengalami anemia, dan anemia adalah umum selama kehamilan. Sekitar 50% ibu hamil mengalami anemia dengan kondisi ekonomi lemah dan 12-25 % dengan kondisi ekonomi maju (Finkelstein et al., 2011). Penduduk Indonesia umumnya mengonsumsi Fe yang berasal dari sumber nabati, yang mempunyai daya serap rendah dibanding sumber hewani. Kebutuhan janin akan Fe terakumulasi pada trimester terakhir sehingga diperlukan penambahan suplemen Fe. Keadaan kurang Fe dapat menimbulkan gangguan pada pertumbuhan janin, baik sel tubuh maupun sel otak (Proverawati et al., 2010). Terjadi peningkatan kebutuhan zat besi tubuh pada saat kehamilan dan infeksi parasit, seperti cacing tambang dan malaria akan memperparah kekurangan zat besi. Apabila kebutuhan tubuh tidak terpenuhi, akan terjadi anemia defisiensi besi (Iron Deficiency Anemia/IDA) (Larocque et al., 2005). Anemia defisiensi besi (ADB) adalah anemia yang timbul akibat berkurangnya penyediaan besi untuk eritrosit karena cadangan besi kosong (depleted iron store) yang pada akhirnya mengakibatkan pembentukan hemoglobin berkurang. Anemia defisiensi besi ditandai dengan anemia hipokromik mikrositer dan hasil laboratorium yang menunjukkan cadangan besi kosong (Tarwoto dan Wasnidar, 2009). Hasil

3 persalinan pada ibu hamil yang menderita anemia defisiensi besi adalah 12-28 % meningkatkan angka kematian janin, 30% perinatal, dan 7-10 % angka kematian neonatal (Riswan, 2003). Anemia pada ibu hamil dapat bersifat multifaktor, dari yang murni defisiensi besi, folat, B12, dan dapat juga disebabkan penyakit malaria atau hemolitik atau penyakit sickle cell. Anemia dalam kehamilan dipengaruhi oleh kemiskinan, sehingga asupan gizi sangat kurang dan dapat disebabkan karena ketimpangan gender, serta adanya ketidaktahuan tentang pola makan yang benar (Proverawati, 2011). Ibu hamil dengan anemia dan malaria, berisiko meningkatkan anemia atau anemia berat, demam, hipoglikemia, malaria serebral, edema paru dan sepsis. Komplikasi pada janin yang dikandung, dapat menyebabkan bayi berat lahir rendah (BBLR), abortus, kelahiran prematur, Intra Uterin Fetal Death (IUFD)/ janin mati di dalam kandungan), Parasitemia Plasenta, Malaria Kongenital dan Intra Uterin Growth Retardation (IUGR / pertumbuhan janin yang terbelakang (Harijanto, et al., 2012). Malaria ditemukan lebih dari 90 negara atau hampir setengah dari jumlah negara dunia, terutama di negara-negara yang beriklim tropis dan sub-tropis. Penduduk yang berisiko terkena malaria berjumlah sekitar 2,3 milliar (41%) dari jumlah penduduk dunia. Di dunia diperkirakan kasusnya berjumlah sekitar 300-500 juta kasus dan mengakibatkan 1,5-2,7 juta kematian setiap tahun, terutama di negaranegara Benua Afrika (Harijanto, 2000 cit., Solikhah, 2012). Hampir separuh populasi penduduk Indonesia atau lebih dari 90 juta orang bermukim di daerah dengan endemisitas malaria (Yawan, 2006). Ibu hamil yang tinggal di daerah endemisitas malaria sangat mudah terinfeksi malaria, sehingga berdampak anemia pada kehamilan. Anemia yang disebabkan oleh infeksi malaria terjadi akibat proses penghancuran eritrosit dan penurunan proses pembentukan eritrosit (eritropoesis), sehingga menyebabkan kadar hemoglobin (Hb) di dalam darah menjadi rendah (Harijanto, et al., 2012). Berdasarkan data Departemen Kesehatan RI (2008), pada tahun 2007 jumlah populasi berisiko terjangkit malaria diperkirakan sebanyak 116 juta orang, dengan jumlah kasus malaria klinis dilaporkan 1.775.845 kasus (Annual Malaria Incidence

4 (AMI) = 15,3 per 1000 penduduk). Jumlah kasus malaria klinis yang dilaporkan sebanyak 930.000 diantaranya terjangkau pemeriksaan darah (cakupan pemeriksaan darah 52,4%), dan jumlah kasus positif malaria sebanyak 311.790 kasus (Annual Parasite Incidence (API) = 2,6 per 1000 penduduk) (Solikhah, 2012). Menurut Shulman et al. (1998) yang dikutip oleh Harijanto et al. (2012), di daerah endemis, banyak ibu hamil dengan parasit malaria dalam darahnya tidak memiliki gejala-gejala malaria. Meskipun seorang wanita hamil tidak merasa sakit, infeksi malaria tetap dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan bayi yang dikandung. Data yang diambil dari Profil Kesehatan Kabupaten Kulon Progo Tahun 2014, menyebutkan bahwa AKB mengalami kenaikan dari 12,1 per 1000 KH di tahun 2012 menjadi 18,23 per 1000 KH. Penyebabnya adalah asfiksia, BBLR, kelainan bawaan, sepsis dan diare. Untuk AKI juga mengalami kenaikan yang tajam dari tahun 2012 sebanyak tiga orang per 100.000 KH menjadi tujuh orang per 100.000 KH. Kejadian malaria di wilayah ini mengalami penurunan menjadi 134 kasus di tahun 2013 dari sebelumnya terdapat 237 kasus di tahun 2012. Meski jumlah kasus menurun, namun masih tergolong sebagai masalah kesehatan masyarakat. Angka BBLR sebanyak 322 bayi dari 5.322 kelahiran atau sebesar 6,05% untuk seluruh wilayah Kabupaten Kulon Progo. Sedangkan angka BBLR di Puskesmas Samigaluh II menempati urutan ke tujuh dengan jumlah 7,2%, dengan angka tertinggi sebanyak 10,5% di Puskesmas Girimulyo I (Profil Kesehatan Kabupaten Kulon Progo, 2014). Angka kejadian malaria tertinggi berada di Kecamatan Samigaluh, dengan jumlah 25 kasus di Puskesmas Samigaluh I dan 60 kasus di Puskesmas Samigaluh II. Dan hanya di Kabupaten Kulon Progo yang masih terjadi penyebaran penyakit malaria dibandingkan dengan empat kabupaten/kota di Provinsi DIY. Keadaan ini yang memicu adanya percanangan program Kulon Progo Eliminasi Malaria 2017. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Baingana et al., tahun 2014, menunjukkan hasil, ibu hamil dengan malaria memiliki kemungkinan anemia delapan kali lebih tinggi. Selain itu keberadaan cacing tambang turut berperan besar pada kejadian anemia defisiensi besi. Penelitian yang dilakukan oleh Flora et al., tahun 2013, memberikan hasil, ibu hamil yang tidak terinfeksi malaria tetapi mempunyai riwayat malaria, 90,5% mengalami anemia, 41,5% mengalami

5 penurunan kadar Total Iron Binding Capacity (TIBC) dan 17% mengalami penurunan kadar Fe serum. Perbedaan dengan jenis penelitian yang akan dilakukan ini, peneliti menambahkan variabel bayi berat lahir rendah. Peneliti akan mengikuti dari kehamilan trimester III sampai persalinan untuk mengetahui berat bayi lahir, apakah ditemukan masalah kesehatan yang berhubungan sebagai akibat kondisi ibu hamil yang memiliki anemia defisiensi besi dan riwayat malaria. Setelah penelitian pendahuluan pada bulan Mei 2015 di Puskesmas Samigaluh II, ditemukan 33 ibu hamil trimester III dengan jumlah yang mengalami ADB sebanyak lima orang (15,15%) (hasil uji laboratorium dengan pengukuran kadar feritin), dengan riwayat malaria sebanyak 15 orang (45,48%), kejadian BBLR sebanyak tujuh bayi (21,21%), bayi dengan berat lahir cukup (2500-2999 gram) sebanyak 18 bayi (54,55%), dan bayi berat lahir normal (3000-4000 gram) sebanyak delapan bayi (24,24%). Data berat bayi lahir diterima dari bidan di Puskesmas Samigaluh II, Samigaluh, Kulon Progo, Yogyakarta. Berdasarkan latar belakang, peneliti merasa perlu untuk meneliti, Hubungan Anemia Defisiensi Besi dan Riwayat Malaria pada Kehamilan Trimester III dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah di Samigaluh, Kulon Progo, Tahun 2016. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan, permasalahan yang diajukan adalah: Apakah ada hubungan anemia defisiensi besi dan riwayat malaria pada ibu hamil trimester III dengan kejadian BBLR? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Menganalisis hubungan anemia defisiensi besi dan riwayat malaria pada kehamilan trimester III dengan kejadian bayi berat lahir rendah. 2. Tujuan Khusus a. Menganalisis hubungan anemia defisiensi besi pada kehamilan trimester III dengan kejadian bayi berat lahir rendah?

6 b. Menganalisis hubungan riwayat malaria pada kehamilan trimester III dengan kejadian bayi berat lahir rendah? D. Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari kegiatan penelitian adalah: 1. Manfaat Teoris Diharapkan dapat memberikan bukti empirik tentang adanya hubungan anemia defisiensi besi dengan riwayat malaria pada kehamilan trimester III dengan kejadian bayi berat lahir rendah. 2. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dan masukan dalam penanggulangan masalah gizi ibu, malaria, dan bayi berat lahir rendah.