Data Mining. Tidak. Mulai. Data transaksi. Pembersihan data. Seleksi data. Transformasi data. Pemberian nilai minimum support

dokumen-dokumen yang mirip
PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENENTUAN POLA SEKUENSIAL DATA TRANSAKSI PEMBELIAN MENGGUNAKAN ALGORITME SPADE RIFERSON SIJABAT

4 BAB 4 IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN

BAB IV METEDOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Pengembangan Aplikasi Market Basket Analysis Menggunakan Algoritma Generalized Sequential Pattern pada Supermarket

BAB IV IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN SISTEM

Penentuan Pola Sekuensial pada Data Transaksi Perpustakaan IPB Menggunakan Algoritma Graph Search Techniques

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB 3 METODE PENELITIAN. dalam melakukan penelitian untuk memudahkan penyusun dalam

BAB 4 PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI PROGRAM. Oriented Programming) atau secara procedural.

BAB 3. METODE PENELITIAN. Desain penelitian adalah tahapan atau gambaran yang akan dilakukan

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Desain penelitian untuk Sistem Optimalisasi Produksi ini menggunakan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. ini dilaksanakan dari bulan Agustus Oktober 2016.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Desain penelitian adalah tahapan atau gambaran yang akan dilakukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pengetahuan di dalam database. Data mining adalah proses yang menggunakan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Pendahuluan. 1.2 Latar Belakang Masalah

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

UKDW BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI SISTEM. penyelesaian produksi dengan menggunakan metode Earliest Due Date (EDD) ini

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN. tangan dengan menggunakan metode Support Vector Machine (SVM).

PERSYARATAN PRODUK. 1.1 Pendahuluan Latar Belakang Tujuan

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN

BAB V IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN SISTEM

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN Pengantar

BAB I PENDAHULUAN. baik. Maka para pengelola harus mencermati pola-pola pembelian yang dilakukan

BAB I PENDAHULUAN. banyak transaksi maka akan memerlukan banyak media penyimpanan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

HASIL DAN PEMBAHASAN. Data

UKDW BAB I PENDAHULUAN


UKDW BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB III METODE PENELITIAN. yang didapatkan dari hasil analisis. Berikut adalah tahapan desain penelitian yang

BAB III MET PEN METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1.2. Rumusan Masalah

PENGEMBANGAN APLIKASI FUZZY TEMPORAL ASSOCIATION RULE MINING (STUDI KASUS : DATA TRANSAKSI PASAR SWALAYAN ) HANDAYANI RETNO SUMINAR

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. calon seleksi alih golongan (SAG) dengan menggunakan metode SMART (Simple

BAB IV HASIL DAN UJI COBA

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. semakin pesat berkembangnya terutama mengenai sistem informasinya. Ini

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian merupakan suatu prosedur beserta tahapan-tahapan yang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Bab III METODOLOGI PENELITIAN. Pada penelitian ini menggunakan ala penelitian berupa perangkat keras

Gambar 4.50 Halaman Pivot Product Report per Kuartal

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN Pengantar

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 1. Spesifikasi komputer yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai. Processor INTEL Pentium Dual Core T4300

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI SISTEM. perangkat keras maupun perangkat lunak komputer. Penjelasan hardware/software

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN

METODE PENELITIAN. Gambar 2 Tahapan penelitian. Praproses Data

BAB I P E N D A H U L U A N UKDW

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN UKDW

HASIL DAN PEMBAHASAN. Setiap tahapan di dalam penelitian ini akan ditunjukkan di dalam Tabel 2.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Desain penelitian ini mengacu pada tahapan proses yang ada pada sistem

BAB III ANALISA PEMBAHASAN MASALAH

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN

BAB III METODE PENELITIAN. desaign dan coding program. Dibutuhkan waktu selama kurang lebih 8 bulan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB V IMPLEMENTASI SISTEM

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI. yang akan diteliti. Pemanfaatan algoritma apriori sudah cukup banyak digunakan, antara lain

BAB I PENDAHULUAN. satunya adalah dibidang keuangan, laporan-laporan yang diperlukan perusahaan

Aplikasi Data Mining untuk meneliti Asosiasi Pembelian Item Barang di Supermaket dengan Metode Market Basket Analysis

Rancang Bangun Fitur Rekomendasi Buku Menggunakan Algoritma PrefixSpan pada Sistem Peminjaman Buku Berbasis Web di Perpustakaan Universitas Ciputra

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. bangun aplikasi pengelolaan catering pada Tems catering. Diawali dengan

Lingkungan Implementasi Clustering Menggunakan SOM HASIL DAN PEMBAHASAN Pengumpulan Data Perkembangan Anak Validasi Cluster Menggunakan

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

Transkripsi:

6 Representasi Pengetahuan Tahap ini merupakan tahap akhir dari proses KDD. Sederetan aturan atau rule disajikan kepada pengguna dengan menggunakan algoritme Rule Generation. Mulai Data transaksi Pembersihan data Seleksi data Transformasi data Pemberian nilai minimum support Penentuan frequent 1-sequences Pembentukan frequent sequences Apakah terdapat K+1 sequences? Output Evaluasi Pola Representasi Pengetahuan Selesai Tidak Data Mining Ya Gambar 3 Diagram alur metode penelitian. Lingkungan Pengembangan Sistem Spesifikasi perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan dalam pengembangan sistem adalah sebagai berikut : a. Perangkat keras dengan spesifikasi : Processor : Intel(R) Core(TM) 2 Duo Memory : 1 GB Harddisk : 160 GB Monitor 14 dengan resolusi 1024 x 768 pixel Alat input : mouse dan keyboard b. Perangkat lunak yang digunakan : Sistem Operasi : Microsoft Windows 7 Professional Microsoft Excel 2007 sebagai lembar kerja (worksheet) dalam pengolahan data Microsoft Visual Studio 2010 sebagai IDE pembangunan sistem. C++ dan C# sebagai bahasa pemrograman HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini, data yang digunakan adalah data transaksi pembelian Sinar Mart Swalayan selama periode waktu 1 Maret hingga 31 Maret 2004. Data transaksi pembelian yang didapat memiliki tiga atribut yaitu, customer id (sid), waktu transaksi (eid), dan barang yang dibeli (items). Data didapat dalam format Microsoft Excel (transaksi_maret2004.xlsx). Deskripsi sampel data transaksi pembelian Sinar Mart Swalayan dapat dilihat pada Lampiran 3. Sebelum dilakukan proses mining, data harus melewati tahap praproses (preprocessing) terlebih dahulu yang meliputi pembersihan data, seleksi data, dan transformasi data. Tahapan praproses dilakukan agar data benar-benar lengkap, valid, dan sesuai dengan masukan yang dibutuhkan algoritme. Pembersihan Data Pembersihan data dilakukan untuk menghilangkan noise. Sebagai contoh, apabila pembelian barang yang sama pada waktu yang sama tercatat dua kali, maka pembelian barang tersebut dianggap hanya satu kali dan apabila terdapat data yang tidak sesuai dengan data yang ada di Sinar Mart Swalayan maka data tersebut akan dibuang. Pembersihan data pada penelitian ini tidak dilakukan karena data yang didapatkan sudah tidak memiliki noise dan sesuai dengan kebutuhan algoritme. Seleksi Data Proses seleksi data merupakan proses pengambilan data yang relevan dengan proses analisis yang dilakukan. Pada tahap ini, akan dipilih atribut yang sesuai dengan kebutuhan algoritme. Seleksi data pada penelitian ini tidak dilakukan karena atribut yang terdapat pada data transaksi pembelian, yaitu sid, eid, dan items sudah sesuai dengan yang dibutuhkan. 7

Transformasi Data Pada tahap ini dilakukan beberapa proses transformasi data, yaitu : 1. Konversi waktu transaksi (eid) ke dalam bentuk numerik. Waktu transaksi (eid) yang semula berformat date diubah menjadi numerik dengan mengganti format date menjadi number yang terdapat pada Microsoft Excel. 2. Konversi items ke dalam bentuk numerik. Items yang dibeli oleh pembeli diubah ke dalam bentuk numerik dengan memberikan kode yang dimulai dari 1 hingga 35. Mie instan dikodekan dengan 1, minyak goreng dikodekan dengan 2, demikian halnya dengan jenis barang lain. Format items yang dikonversi ke dalam bentuk numerik dapat dilihat pada Lampiran 4. Data hasil konversi terdiri atas 11.866 baris, 308 pembeli yang berbeda dan 35 items yang berbeda. Sampel data transaksi pembelian setelah praproses dapat dilihat pada Lampiran 5. 3. Data yang memiliki format Microsoft Excel (transaksi_maret2004.xlsx) kemudian diubah ke dalam format text (transaksi_maret2004.txt) sebagai masukan bagi algoritme SPADE. Data Mining Tahapan data mining diterapkan dengan menggunakan algoritme SPADE (Zaki 2001). Secara garis besar, proses ini dibagi menjadi 2 bagian besar, yaitu melakukan proses komputasi untuk mendapatkan frequent 1-sequences dengan nilai support lebih besar atau sama dengan minimum support. Frequent 1- sequences yang dihasilkan akan bertindak sebagai parent class pada proses pembentukan frequent sequences. Kedua, melakukan proses pembentukan frequent sequences berukuran k yang didapatkan dari kombinasi frequent sequences berukuran k-1 dengan menerapkan fungsi Enumerate Frequent sequences. Proses ini akan berhenti jika tidak memungkinkan lagi untuk melakukan proses pembentukan (k+1)-sequences. Percobaan dilakukan terhadap data transaksi pembelian Sinar Mart Swalayan yang telah melewati tahap praproses sebanyak 11.866 record. a Pemberian minimum support Sebagai syarat awal berjalannya algoritme, pengguna harus terlebih dahulu memberikan nilai minimum support. Nilai minimum support digunakan untuk menyaring nilai support bagi masing-masing frequent sequences setelah dilakukan proses komputasi menggunakan algoritme SPADE. Nilai support yang lebih kecil dari nilai minimum support yang diberikan tidak akan diperhitungkan. 2004. Pada awalnya, nilai minimum support yang diberikan pada percobaan ini dimulai dari 10% hingga batas maksimum minimum support yang masih bisa membangkitkan frequent sequences dengan penambahan minimum support sebesar 1%. Namun, proses pembentukan frequent sequences dengan menggunakan nilai minimum support yang dimulai dari 10% hingga minimum support yang lebih kecil dari 45% membutuhkan waktu eksekusi yang sangat lama sehingga pemberian nilai minimum support yang dimulai dari 45% hingga batas maksimum yang masih bisa membangkitkan frequent sequences merupakan pemberian minimum support yang paling ideal untuk penelitian ini. Pembentukan frequent sequences dengan pemberian nilai minimum support mulai dari 10% hingga nilai minimum support yang lebih kecil dari 45% membutuhkan waktu eksekusi yang lama. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan spesifikasi perangkat keras yang digunakan dalam penelitian ini. b Penentuan frequent 1-sequences Penentuan frequent 1-sequences merupakan langkah pertama dalam tahapan algoritme SPADE setelah pemberian minimum support. Semua item yang memiliki support lebih besar atau sama dengan nilai minimum support yang diberikan merupakan frequent items yang disebut juga frequent 1-sequences. Perhitungan support dari item didasarkan pada jumlah sid yang berbeda yang terdapat pada pasangan (sid, eid) atau yang disebut juga sebagai id-list dari item tersebut. Untuk tahap selanjutnya, semua item yang merupakan frequent 1-sequences akan menjadi parent class dalam pembentukan frequent k-sequences. Dalam proses pembentukan frequent k- sequences, semua frequent sequences yang terbentuk disebut juga sebagai frequent atoms. 2004 dengan memberikan nilai minimum support mulai dari 45% hingga batas maksimum yang masih bisa membangkitkan frequent sequences yaitu 89%. Semua frequent 1-sequences yang terbentuk untuk masing- 8

masing nilai minimum support tidak langsung ditampilkan karena masih digunakan pada proses pembentukan frequent k-sequences untuk mendapatkan semua frequent sequences. c Pembentukan frequent sequences Pada tahap ini, metode sequential pattern mining diterapkan untuk membangkitkan semua kemungkinan frequent sequence dengan menggunakan fungsi Enumerate-Frequent- Sequences yang terdapat pada algoritme SPADE. Sebuah sequence berukuran k merupakan kombinasi dari sequences berukuran k-1 2004. Percobaan dilakukan dengan memberikan nilai minimum support mulai dari 45% atau sekitar 138 transaksi yang dilakukan pembeli yang berbeda hingga batas maksimum yang masih bisa membentuk frequent sequences dengan penambahan nilai minimum support sebesar 1%. Dari data hasil percobaan diperoleh bahwa jumlah frequent sequences yang terbentuk bervariasi. Data percobaan dengan nilai minimum support 45% menghasilkan frequent sequences sebanyak 1.902 frequent sequences. Nilai minimum support tertinggi hingga masih terbentuk frequent sequences adalah 89% dengan jumlah frequent sequnces sebanyak satu. Hasil lengkap pembentukan frequent sequences yang terbentuk dari data transaksi pembelian Sinar Mart Swalayan periode Maret 2004 dapat dilihat pada Lampiran 6. Pada beberapa minimum support yang digunakan pada saat percobaan, ternyata frequent sequence tidak terbentuk. Hal ini disebabkan karena tidak adanya frequent 1- sequences yang terbentuk. Tidak terbentuknya frequent 1-sequences disebabkan oleh tidak ada satu pun item atau barang yang memiliki support yang lebih besar atau sama dengan minimum support yang diberikan. Berdasarkan data hasil percobaan pada Lampiran 6, dapat dilihat bahwa semakin besar nilai minimum support yang diberikan maka akan semakin sedikit jumlah frequent sequences yang terbentuk. Waktu eksekusi yang diperlukan untuk membentuk frequent sequence sangat dipengaruhi minimum support yang digunakan. Perbandingan waktu eksekusi yang diperlukan untuk membentuk frequent sequences dari seluruh percobaan yang telah dilakukan dapat dilihat pada Gambar 4. Waktu Eksekusi (milidetik) 9000 8000 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 Gambar 4 Grafik waktu eksekusi. Berdasarkan Gambar 4, semakin tinggi nilai minimum support yang diberikan maka semakin cepat waktu yang diperlukan untuk membentuk frequent sequences. Hal ini disebabkan semakin besar nilai minimum support maka akan semakin sedikit sequences yang membentuk frequent sequences sehingga waktu komputasinya akan semakin cepat. Evaluasi Pola 45 50 55 60 65 70 75 80 85 89 Minimum Support (%) Seluruh frequent sequences yang dihasilkan pada tahap data mining kemudian dievaluasi untuk mendapatkan pola sekuensial. Evaluasi dilakukan dengan mencari maximal frequent sequences dari seluruh frequent sequences yang ada. Suatu pola sekuensial dikatakan maksimal apabila pola sekuensial tersebut tidak termuat pada pola sekuensial lainnya. Dari seluruh pola sekuensial yang terbentuk diambil pola sekuensial dengan jumlah k- sequences maksimal pada nilai minimum support tertinggi yang dilakukan selama tahap percobaan. Suatu pola sekuensial dikatakan sering terjadi apabila pola sekuensial tersebut memiliki nilai support yang tinggi. Daftar pola sekuensial yang sering terjadi dari seluruh percobaan yang yang telah dilakukan pada data transaksi 2004 dapat dilihat pada Tabel 2. Dari evaluasi pola yang terdapat pada Tabel 2, diperoleh informasi sebagai berikut: Nilai minimum support tertinggi yang masih bisa membentuk maximal frequent sequences adalah 89% dengan panjang sequences adalah 1-sequence. Item yang paling sering dibeli oleh pembeli Sinar Mart Swalayan adalah snack (8) dengan support sebesar 89%. 9

Tabel 2 Daftar pola sekuensial yang sering terjadi Minimum Support Panjang Sequence (%) maksimal Contoh Sequence 45-47 7-sequence <8><8><8><8><8><7><8> 48-54 6-sequence <8><8><8><8><8><8> 55-59 5-sequence <8><8><8><8><8> 60-62 4-sequence <8><8><7><8> 63-65 3-sequence <8><3><8> 66-73 2-sequence <3,8> 74-89 1-sequence <8> Representasi Pengetahuan Representasi pengetahuan dari pola sekuensial yang dihasilkan diperlukan agar pola yang ada mudah dimengerti dan diinterpretasikan. Berdasarkan hasil presentasi diharapkan dapat diperoleh pengetahuan yang berharga dari koleksi data yang telah dilakukan proses mining. Tahap representasi pengetahuan dilakukan dengan membentuk rule menggunakan algoritme Rule Generation. 2004. Percobaan dilakukan dengan mencari kemungkinan minimum confidence maksimal untuk setiap minimum support dimulai dari 45% hingga batas maksimal minimum confidence yang masih bisa membangkitkan rule. Dari data hasil percobaan diperoleh bahwa banyaknya rule yang terbentuk dari berbagai kombinasi nilai minimum support dengan nilai minimum confidence bervariasi. Hasil pembentukan rule dapat dilihat pada Tabel 3. Data hasil percobaan yang terdapat pada Tabel 3 menunjukkan bahwa: Nilai minimum confidence tertinggi yang masih bisa membentuk rule adalah 96% dengan nilai maksimal minimum support nya sebesar 56%. Nilai minimum support tertinggi yang masih bisa membentuk rule adalah 73% dengan nilai maksimal minimum confidence sebesar 89% dan jumlah rule yang terbentuk sebanyak satu buah yaitu (susu) ==> (susu, snack). Rule (susu) ==> (susu, snack) yang memiliki confidence sebesar 89% mengandung arti bahwa apabila pembeli Sinar Mart Swalayan membeli susu maka peluang snack juga dibeli oleh pembeli tersebut adalah sebesar 89%. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa saran bagi pengelola Sinar Mart Swalayan, yaitu : Menempatkan susu dan snack secara berdekatan pada rak yang sama sehingga pembeli dapat dengan mudah menjangkau kedua produk tersebut. Memperbanyak variasi susu dan snack sehingga dapat menarik perhatian pembeli. Sebagai upaya untuk meningkatkan penjualan barang yang kurang laku, pihak pengelola Sinar Mart Swalayan juga dapat menerapkan modus setiap pembelian beberapa barang yang kurang laku, pembeli akan mendapatkan bonus snack atau susu. Hal ini akan sangat menarik minat pembeli karena disamping mendapatkan suatu barang, keinginan mereka untuk menikmati snack dan susu juga terpuaskan tanpa harus membeli. 10

Tabel 3 Hasil pembentukan rule Minimum Confidence Jumlah rule Support (%) Tertinggi (%) yang terbentuk Contoh rule 45-49 96 1 <8><8><7><1> ==> <8><8><7><8><1> 50-51 95 2 <7,8><7><8> ==> <7,8><8><7><8> <6><7><7> ==> <6><8><7><7> 52-56 96 1 <8><7><8><8> ==> <8><8><7><8><8> 57-62 95 3 <8><8><8> ==> <8><8><8><8> <8><7><8> ==> <8><8><7><8> <8><8><7> ==> <8><8><7><8> 63 94 1 <3><7> ==> <3><7><8> 64-65 93 3 <8><3> ==> <8><3><8> <7><8> ==> <8><7><8> <3><8> ==> <8><3><8> 66-73 89 1 <3> ==> <3,8> Untuk melakukan proses pembentukan frequent sequences dan juga pembentukan rule, telah dibangun sebuah aplikasi sederhana dengan menggunakan C++ dan C# sebagai bahasa pemrograman dan Visual Studio 2010 sebagai IDE pembangunan aplikasi. Salah antarmuka grafis dari aplikasi tersebut dapat dilihat pada Gambar 5. Gambar 7 Antarmuka grafis aplikasi utama. Kesimpulan KESIMPULAN DAN SARAN Dari hasil percobaan dengan penerapan algoritme SPADE yang dilakukan terhadap data transaksi pembelian di Sinar Mart Swalayan diperoleh kesimpulan bahwa nilai minimum support tertinggi hingga masih terbentuk frequent sequence terjadi pada nilai minimum support 89% dengan frequent sequence yang terbentuk sebanyak satu buah yang sekaligus merupakan maximal frequent sequences. Maximal frequent sequences yang terbentuk ketika minimum support yang diberikan sebesar 89% adalah sequence yang panjang sequence nya 1 (frequent 1-sequences) yaitu (<8>) atau (<snack>). Frequent sequences yang hanya memiliki satu item menandakan bahwa item tersebut merupakan item yang paling sering dibeli oleh pembeli. Dari hasil percobaan juga diperoleh bahwa nilai minimum confidence tertinggi hingga masih bisa membentuk rule adalah 96% dengan nilai maksimal minimum support sebesar 56%. Nilai minimum support tertinggi yang masih bisa membentuk rule adalah 73% dengan nilai maksimal minimum confidence sebesar 89% dengan jumlah rule yang terbentuk sebanyak satu buah yaitu (susu) ==> (susu, snack). Hal ini menunjukkan bahwa susu dan snack merupakan barang yang paling sering dibeli oleh pembeli Sinar Mart Swalayan. Untuk meningkatkan penjualan, pihak pengelola Sinar Mart Swalayan sebaiknya menempatkan susu dan snack berdekatan sehingga pembeli dapat dengan mudah menjangkau kedua barang tersebut. Selain itu, pihak pengelola Sinar Mart Swalayan juga dapat meningkatkan penjualan dengan cara memperbanyak variasi susu dan snack. Sebagai upaya untuk meningkatkan penjualan barang yang kurang laku, pihak pengelola Sinar Mart Swalayan juga dapat menerapkan modus setiap pembelian beberapa barang yang kurang laku tersebut, pembeli akan mendapatkan bonus snack atau susu. Hal ini akan sangat menarik minat pembeli karena disamping mendapatkan 11