FRACTIONAL AIRCRAFT OWNERSHIP

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 3 METODOLOGI 3.1 LANGKAH PENYUSUNAN TUGAS AKHIR 3.2 PENGUMPULAN DATA

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA

BAB 4 ANALISIS 4.1 SKENARIO OPERASI PENERBANGAN

STUDI KELAYAKAN OPERASI PENERBANGAN DENGAN SISTEM FRACTIONAL AIRCRAFT OWNERSHIP DI INDONESIA

Bab 2. Regulasi Aircrew. 2.1 Peraturan Terbang Homebase Lisensi Pilot

2016, No udara niaga tidak berjadwal luar negeri dengan pesawat udara sipil asing ke dan dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia perlu

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

2 Ke Dan Dari Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan (Lembaran Negara Republi

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM 41 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN M E M U T U S K A N : NOMOR : KM 81 TAHUN 2004

Tanggung Jawab Pengangkut di Beberapa Moda Transportasi

MODEL SISTEM ANTRIAN PESAWAT TERBANG DI BANDAR UDARA INTERNASIONAL HUSEIN SASTRANEGARA

1. BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

C. Klasifikasi Ruang Udara dan Struktur Rute. D. Perencanaan Terbang/Flight Plans.

III ASPEK ORGANISASI, ISSUE-ISSUE DAN PERMASALAHAN DALAM INDUSTRI PENERBANGAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut PP RI NO 70 Tahun 2001 Tentang Kebandarudaraan Pasal 1

PENGENALAN ANALISIS OPERASI & EVALUASI SISTEM TRANSPORTASI SO324 - REKAYASA TRANSPORTASI UNIVERSITAS BINA NUSANTARA 2006

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan global diproyeksikan tumbuh sebesar 3,5 % pada

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM. 20 TAHUN 2008 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 707 TAHUN 2012

PEDOMAN PENGOPERASIAN, PERAWATAN, DAN PEMELIHARAAN PESAWAT TERBANG MICROLIGHT TRIKE

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. memperlancar perekonomian sebagai pendorong, penggerak kemajuan suatu wilayah.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 89 TAHUN 2015 TENTANG

Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 313 ayat 3

BAB I PENDAHULUAN. Angkutan umum merupakan sarana untuk memindahkan barang dan orang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PENETAPAN TARIF ANGKUTAN PENUMPANG. Adapun dasar hukum penetapan tarif angkutan penumpang yaitu:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bandar Udara dan Sistem Lapangan Terbang. Menurut Annex 14 dari ICAO (International Civil Aviation Organization):

-9- keliru. Personel AOC melakukan landing yang menyimpang dari prosedur

Sistem Pengendalian Managemen Southwest Airlines Corporation

BAB III LANDASAN TEORI. maskapai dengan sistem penerbangan full service carrier. kenyamanan dan pelayanan diberikan secara maksimal..

BAB I MAKSUD, TUJUAN DAN RUANG LINGKUP

BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH Model Rumusan Masalah dan Pengambilan Keputusan

BAB I PENDAHULUAN. yang baik. Saat ini aplikasi administratif semakin banyak digunakan untuk

HAK PENUMPANG JIKA PESAWAT DELAY

PAPARAN PUBLIK PT INDONESIA TRANSPORT & INFRASTRUCTURE TBK. JAKARTA, 26 APRIL 2018

BAB 2 GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. kita baru saja membenahi kondisi perekonomian yang cukup pelik,

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB II STUDI PUSTAKA 2.1. TARIF TOL

BAB I PENDAHULUAN. penerbangan salah satu yang unik yang disebut Airline Low Cost Carrier (LCC)

UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR

TINJAUAN PUSTAKA Transportasi. Transportasi adalah usaha memindahkan, menggerakkan, mengangkut,

2015, No Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

2017, No c. bahwa untuk mempercepat penyelenggaraan kewajiban pelayanan publik untuk angkutan barang di laut, darat, dan udara diperlukan progr

2015, No Tahun 2009 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4956); 2. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2012 tentang Pembangunan dan Pelestar

BAB IV DATA DAN ANALISIS. yang telah ditentukan Kementerian Perhubungan yang intinya dipengaruhi oleh

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI. Kata Pengantar... i Daftar Isi... ii

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut PP RI No.70 Tahun 2001 tentang Kebandar udaraan, Pasal 1 Ayat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bandara atau bandar udara yang juga populer disebut dengan istilah airport

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kepulauan yang bercirikan nusantara yang

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 611 TAHUN 2015 TENTANG

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PENYUSUNAN RENCANA INDUK BANDAR UDARA KABUPATEN BLITAR PENYUSUNAN RENCANA INDUK BANDAR UDARA KABUPATEN BLITAR

BAB V PENUTUP. 1. Implementasi Sistem Manajemen K3 pada PT.Merpati terbagi menjadi tiga

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

ANALISA INVESTASI PROYEK PERLUASAN APRON BANDAR UDARA INTERNASIONAL JUANDA

2017, No Udara; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 1, Tam

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Khusus bagi Indonesia sebagai negara kepulauan angkutan udara

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 072 TAHUN 2018 TENTANG

Tentang TANGGUNG JAWAB PENGANGKUT ANGKUTAN UDARA. Oktober 2011

BAHAN PAPARAN. Disampaikan pada : BIMBINGAN TEKNIS AUDIT

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN KEPALA BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PERHUBUNGAN NOMOR: PK.14/BPSDMP-2017 TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Terminal Darat, Laut, dan

2018, No Kerja Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara dan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 273/KMK.05/2017 tanggal 13 Maret

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA. Nomor : SKEP / 195 / IX / 2008 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERSETUJUAN TERBANG (FLIGHT APPROVAL)

ISS INDONESIA KEBIJAKAN PERJALANAN MUTASI DINAS KARYAWAN. Menetapkan : KEPUTUSAN MANAJEMEN TENTANG KEBIJAKAN PERJALANAN MUTASI DINAS KARYAWAN

BAB III LANDASAN TEORI. maupun taksi kosong (Tamin, 1997). Rumus untuk menghitung tingkat

BAB I PENDAHULUAN. Hairul Azhar, 2014 kajian kapasitas terminal penumpang dan apron bandar udara h.as. hanandjoeddintanjungpandan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. transportasi makro perlu dipecahkan menjadi sistem transportasi yang lebih kecil

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 1, Tambahan L

ANALISIS DATA. A. Pelaksanaan Tanggung Jawab PT. Trans Nusa Terhadap Penumpang. Prinsip tanggung jawab mutlak atau( strict liability) :

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA. Telepon : (Sentral)

PEMILIHAN TIPE PESAWAT TERBANG UNTUK RUTE YOGYAKARTA JAKARTA BERDASARKAN PERKIRAAN BIAYA OPERASIONAL

PENANGANAN PENUMPANG WCHR (WHEEL CHAIR) DI PT. GAPURA ANGKASA BANDARA SOEKARNO-HATTA CENGKARENG JAKARTA. Vidyana Mandrawaty STTKD Yogyakarta

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 66 TAHUN 2011 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK DINAS PERHUBUNGAN, INFORMASI DAN KOMUNIKASI PROVINSI BALI

Transkripsi:

BAB 2 FRACTIONAL AIRCRAFT OWNERSHIP Fractional Aircraft Ownership (FAO) adalah konsep kepemilikan pesawat di mana pengguna hanya perlu membeli sebagian kecil saham dari pesawat dibanding membeli keseluruhan untuk dapat mempergunakan pesawat sewaktu-waktu, sesuai dengan kebutuhan dan hak waktu terbang dalam jam pertahun dalam jadwal yang fleksibel. Terdapat beberapa hal yang terlibat dalam konsep kepemilikan pesawat bersama ini, yaitu Fractional Owner, Program Kepemilikan Fraksional, Fractional Management Company, Pengoperasian Pesawat Dalam FAO, dan Biaya yang terlibat dalam FAO. 2.1 Fractional Owner Fractional owner, yang biasa disebut sebagai pemilik fraksional adalah orang atau badan yang mempunyai kepemilikan saham fraksional dari suatu jenis pesawat dari perusahaan yang menggunakan konsep FAO sebagaimana tercantum dalam kontrak yang berlaku selama 5 tahun. Suatu pemilik fraksional akan membeli sebagian saham dari suatu jenis pesawat berdasarkan jumlah jam kebutuhan penerbangan per tahun. Untuk minimal satu unit pesawat, saham terkecil adalah dengan hak penggunaan pesawat 50 jam per tahun dan share terbesar adalah dengan hak penggunaan pesawat 400 jam per tahun. 4

Jenis saham dan hak jam penerbangan per tahun untuk masing-masing kepemilikan pesawat ditampilkan dalam tabel berikut ini. Jenis saham Hak jam terbang / tahun 1/16 50 1/8 100 3/16 150 1/4 200 5/16 250 3/8 300 7/16 350 1/2 400 Tabel 2.1 Konversi Jenis Saham Terhadap Hak Jam Penerbangan Per Tahun 2.2 Program Kepemilikan Fraksional Program kepemilikan fraksional adalah program yang digunakan oleh perusahaan penerbangan yang menggunakan konsep FAO, yang di dalamnya mengatur hubungan kerja sama antara pihak perusahaan dan pemilik fraksional dalam pengelolaan dan penggunaan pesawat. Konsep dari program ini adalah konsep kepemilikan pesawat dimana pemilik fraksional atau biasa disebut pemilik, sudah terjamin untuk menggunakan pesawat yang telah dibeli sebagian sahamnya kapanpun dan dimanapun dibutuhkan, dengan syarat pemilik masih memiliki sisa waktu penerbangan yang mencukupi waktu penerbangan untuk permintaan perjalanan yang diinginkan. 5

Program kepemilikan fraksional terdiri dari unsur-unsur berikut. 1. Fractional Management Company (FMC) yang merupakan perusahaan jasa penerbangan yang menggunakan konsep FAO dan bertugas memfasilitasi pemilik fraksional. 2. Satu atau lebih pesawat yang memenuhi persyaratan kelayakan udara. 3. Satu atau lebih pemilik fraksional. 4. Kepemilikan fraksional dalam satu atau lebih pesawat FAO (tipe pesawat termasuk dalam program FAO). 5. Perjanjian mencakup kepemilikan fraksional, program pelayanan manajemen, dan penyewaan penukaran pesawat untuk setiap pesawat. 2.3 Fractional Management Company (FMC) Fractional Management Company (FMC) adalah unit administratif jasa penerbangan yang menggunakan konsep FAO, yang bertanggung jawab untuk: 1. Pendirian dan pelaksanaan dalam pedoman keselamatan penerbangan. 2. Pemanfaatan atau kontrak pilot dan crew pesawat lainnya. 3. Pelatihan dan kualifikasi pilot dan crew pesawat lainnya. 4. Penjadwalan dan koordinasi dari pesawat dan crew pesawat. 5. Pemeliharaan pesawat. 6. Kepatuhan persyaratan dan dokumentasi teknis. Program FAO merupakan kebijakan yang dilakukan oleh FMC untuk mewakili pemilik dalam pengelolaan operasi pesawat. 6

2.4 Operasi Pesawat Dalam FAO Dalam mengoperasikan pesawat sesuai dengan permintaan pemilik, FMC memiliki beberapa peraturan mengenai peraturan penerbangan dan rute penerbangan yang memungkinkan. 2.4.1 Peraturan Penerbangan Operasi penerbangan selalu dimulai dan berakhir di suatu kota tertentu yang bertindak sebagai base. Bandara yang dipilih di suatu kota sebagai base hendaknya sebuah bandar udara dengan fasilitas pendukung yang lengkap, di samping landasan pacu untuk pesawat lepas landas dan mendarat, seperti hanggar pemeliharaan dan stasiun pengisian bahan bakar. Selain itu, bandara harus terletak di lokasi yang strategis, yaitu dekat ke pasar potensial, baik ibu kota atau pusat perdagangan dan bisnis. Jika owner yang hendak menggunakan pesawat tidak berada di kota yang bertindak sebagai base, maka akan terjadi deadhead. Deadhead adalah kondisi di mana tidak ada pemilik selama dilakukannya penerbangan. Jadi, rute penerbangan pertama yang dilakukan adalah untuk menjemput pemilik yang berada di kota lain untuk diangkut ke kota tujuan berikutnya. Dalam keadaan lain, deadhead juga dapat terjadi jika kota tujuan akhir dari pemilik tidak di kota yang bertindak sebagai base. Terdapat beberapa istilah waktu tempuh yang digunakan selama penerbangan, yaitu sebagai berikut. Flight Time (FT) Flight time adalah periode waktu saat pemilik berada di dalam pesawat bergerak untuk melakukan penerbangan sampai mendarat dan parkir di 7

bandara kota tujuan. Batasan flight time untuk setiap owners bergantung pada jenis saham yang dibelinya dari FMC. Deadhead Time (DH) Deadhead time adalah periode waktu saat pesawat melakukan penerbangan tanpa adanya pemilik di dalamnya. Waktu ini tidak dihitung ke dalam flight time yang dimiliki setiap pemilik. Deadhead terjadi jika lokasi keberangkatan owner tidak berada di kota Jakarta, dalam hal ini sebagai base. Total Time (TT) Total time adalah periode waktu yang dibutuhkan pesawat untuk melayani penerbangan pemilik sesuai rute penerbangan yang telah ditentukan. Waktu ini adalah penjumlahan dari flight time dan deadhead time. Sedangkan batasan total time per hari tergantung pada batas maksimum jam penerbangan jenis pesawat yang digunakan. Maintenance Time Maintenance time untuk setiap pesawat diasumsikan dilakukan setiap hari selama 2 jam pada sisa waktu dalam 1 hari. Misalkan, waktu terbang maksimum untuk setiap pesawat adalah 8 jam. Waktu tunggu maksimum selama melayani owner diperkirakan sebesar 8 jam. Maka, sisa waktu dalam 1 hari adalah sebesar 8 jam. 2.4.2 Rute Penerbangan Untuk memudahkan dalam memodelkan permasalahan, penerbangan yang dilakukan dibagi ke dalam beberapa kasus rute penerbangan yang terdiri dari penerbangan dengan adanya penumpang (atau biasa disebut pemilik) dan deadhead, yaitu penerbangan tanpa penumpang. Deadhead terjadi ketika 8

kota keberangkatan atau tujuan pemilik tidak sama dengan kota yang bertindak sebagai base. Setiap pemilik dalam satu kali rute penerbangan hanya dapat melakukan perjalanan sampai 2 kota tujuan. Beberapa kasus rute penerbangan umum yang dilakukan dan kemungkinan rute penerbangannya adalah sebagai berikut. Kasus 1. Base Tujuan Base (Tanpa Deadhead) Base = Lokasi keberadaan customer Kepulangan dengan customer Tujuan Customer Gambar 2.1 Rute Penerbangan Base - Tujuan - Base (Tanpa Deadhead) Penerbangan dengan rute di mana kota keberangkatan pemilik sama dengan kota yang bertindak sebagai base. Kemudian setelah melakukan satu kali perjalanan ke kota lain, pemilik kembali lagi ke kota asalnya, yaitu di base. Kasus 2. Base Tujuan Base (Dengan Deadhead) Base = Lokasi customer Dead Head Tujuan Customer Gambar 2.2 Rute Penerbangan Base - Tujuan - Base (Dengan Deadhead) Penerbangan dengan rute di mana kota keberangkatan pemilik sama dengan kota yang bertindak sebagai base. Kemudian setelah melakukan satu kali 9

perjalanan, pemilik tidak kembali lagi ke kota asalnya. Namun, karena pesawat tetap harus kembali ke base sehingga menyebabkan terjadinya deadhead. Kasus 3. Base Lokasi awal Tujuan 1 Tujuan 2 Base Gambar 2.3 Rute Penerbangan Base Lokasi awal - Tujuan 1 Lokasi awal - Base Penerbangan dengan rute di mana kota keberangkatan pemilik tidak sama dengan base sehingga pesawat harus melakukan perjalanan terlebih dahulu secara deadhead ke kota pemilik berada untuk menjemputnya. Pada rute penerbangan ini, owner melakukan dua kali perjalanan, di mana perjalanan kota tujuan terakhir sama dengan kota keberangkatannya. Pada rute penerbangan ini, terjadi dua kali deadhead, yaitu penjemputan pemilik dan kepulangan pesawat ke base. Kasus 4: Base Lokasi awal Tujuan 1 Tujuan 2(Base) Gambar 2.4 Rute Penerbangan Base Lokasi awal Tujuan Base 10

Penerbangan dengan rute di mana kota keberangkatan pemilik tidak sama dengan base sehingga pesawat harus melakukan perjalanan terlebih dahulu secara deadhead ke kota pemilik berada untuk menjemputnya. Pada rute penerbangan ini, pemilik melakukan dua kali perjalanan, di mana perjalanan kota tujuan terakhir sama dengan base. Kasus 5: Base Tujuan 1 Tujuan 2 Base Gambar 2.5 Rute Penerbangan Base Tujuan 1 - Tujuan 2 - Base Penerbangan dengan rute di mana kota keberangkatan pemilik sama dengan kota yang bertindak sebagai base. Pada rute penerbangan ini, pemilik melakukan dua kali perjalanan, di mana perjalanan kota tujuan terakhir tidak sama dengan base sehingga pesawat harus kembali ke base. 11

Kasus 6: Base Lokasi awal Tujuan 1 Tujuan 2 Base Dead head Base Dead Head Lokasi awal customer Tujuan II customer Tujuan I customer Gambar 2.6 Rute Penerbangan Base Lokasi awal - Tujuan 1 - Tujuan 2 - Base Penerbangan dengan rute di mana kota keberangkatan pemilik tidak sama dengan base sehingga pesawat harus melakukan perjalanan terlebih dahulu secara deadhead ke kota pemilik berada untuk menjemputnya. Pada rute penerbangan ini, pemilik melakukan dua kali perjalanan, di mana perjalanan kota terakhir tidak sama dengan base juga tidak sama dengan kota keberangkatannya. Pada rute penerbangan ini, terjadi dua kali deadhead. 2.5 Biaya yang terlibat dalam FAO 2.5.1 Biaya pemasukan (Revenue fee) Biaya pemasukan bagi FMC yang terdiri dari biaya investasi kepemilikan 1 unit pesawat, Management Monthly Fee, dan Occupied Hourly Fee, merupakan berbagai jenis biaya yang wajib dibayar oleh tiap pemilik fraksional dalam tiap periode, yaitu dalam hitungan tahun, bulan, dan jam. 12

Sebagai contoh, akan dipaparkan komponen-komponen biaya untuk pesawat jenis Piaggio Avanti 180. Jenis Share Biaya Investasi / tahun MMF / bulan OHF/jam 1/16 $387.187,50 $4.571,43 $871,11 1/8 $774.375,00 $9.142,86 $871,11 3/16 $1.161.562,50 $13.714,29 $871,11 1/4 $1.548.750,00 $18.285,72 $871,15 5/16 $1.935.937,50 $22.857,15 $871,16 3/8 $2.323.125,00 $27.428,58 $871,17 7/16 $2.710.312,50 $32.000,01 $871,18 1/2 $3.097.500,00 $36.571,44 $871,19 Tabel 2.2 Biaya Pemasukan Dengan Menggunakan Pesawat Avanti P180 Biaya Investasi Kepemilikan 1 unit Pesawat Biaya investasi untuk kepemilikan fraksional merupakan jenis biaya tetap yang wajib dibayar oleh tiap owner, yang besarnya bergantung pada jenis share yang dibeli oleh owner tersebut. Biaya ini berlaku untuk 1 tahun. Management Monthly Fee Management Monthly Fee (MMF) merupakan jenis biaya tetap yang wajib dibayar oleh pemilik fraksional setiap bulannya selama 1 tahun kepemilikan, yang mencakup biaya manajemen, perawatan, dan pemeliharaan pesawat. Tidak berbeda dengan biaya investasi pesawat, besar MMF per bulannya bergantung pada jenis share pesawat yang diinvestasikan. Occupied Hourly Fee Occupied Hourly Fee (OHF) merupakan jenis biaya yang wajib dibayar tiap pemilik fraksional yang bergantung pada jumlah jam pemilik fraksional tersebut berada di pesawat selama dilakukan penerbangan (pemenuhan 13

demand). Jumlah jam pemilik berada di pesawat diasumsikan sama dengan besar flight time, dan nilainya tidak bergantung pada jenis share pesawat yang diinvestasikan. Biaya dasar operasi penerbangan setiap jam, termasuk biaya bahan bakar, biaya rata-rata reposisi dan pendaratan pesawat di bandara. OHF yang harus dikeluarkan per owner apabila menggunakan pesawat Piaggio Avanti 180 adalah OHF per owner = Total flight time x $871,11. 2.5.2 Biaya Pengeluaran Biaya pengeluaran pada program FAO ini didapat dari biaya tetap berupa pemeliharan sejumlah pesawat dan biaya tidak tetap berupa biaya operasional penerbangan pesawat berdasarkan flight time dan deadhead time dari rute penerbangan yang diminta oleh owner. Berikut pemaparan mengenai masing-masing biaya-biaya tersebut. Biaya Tetap (Fixed Cost) Fixed Cost (FC) adalah adalah biaya tetap yang dikeluarkan oleh FMC untuk pemeliharaan sejumlah pesawat pribadi yang dimiliki, asuransi, hangar, gaji awak pesawat, gaji pilot. Besarnya FC untuk pesawat Piaggio Avanti P180 adalah $55.071,89 per tahun untuk satu pesawat. Misalkan, tersedia N pesawat pribadi. Maka, total FC yang harus dikeluarkan untuk jenis pesawat tersebut per tahun adalah Total FC = N x FC. Biaya Operasional (Operational Cost) Operational Cost (OC) merupakan biaya yang wajib dikeluarkan oleh FMC dalam menugaskan pesawat untuk tiap permintaan dari owner. Biaya operasional merupakan komponen utama penentu besar keuntungan 14

perusahaan dalam selang periode tertentu. Terdapat 2 jenis biaya OC, yaitu biaya OC bila menggunakan pesawat pribadi dan biaya OC bila menggunakan pesawat outsourcing. Biaya OC dengan menggunakan pesawat pribadi bergantung pada flight time dan deadhead time yang digunakan. Besarnya biaya OC pesawat pribadi yang dikeluarkan dengan menggunakan pesawat Avanti P180 adalah $855,61 per jam. Sedangkan besarnya biaya OC pesawat outsourcing adalah $2.000 per jam. 15