BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Seiring dengan meningkatnya perkembangan teknologi transportasi yang

P3 TESIS ME HYBRID (BATERAI DIESEL ELEKTRIK) MERAK-BAKAUHENI

Hybrid electric-petroleum vehicles. Mobil hybrid adalah mobil yang berjalan dengan dua sumber tenaga, yaitu ICE dan motor listrik.

I. PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi otomotif saat ini semakin pesat, hal ini didasari atas

BAB III PERANCANGAN SISTEM PROPULSI HYBRID UNTUK UAV

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN TUGAS HALAMAN PERSEMBAHAN HALAMAN MOTTO KATA PENGANTAR

BAB 1 PENDAHULUAN. Analisis Penggunaan Venturi..., Muhammad Iqbal Ilhamdani, FT UI, Universitas Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Indonesia

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PENGENDALI SWITCHING PADA KENDARAAN HYBRID RODA DUA

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN

ANALISIS PENGARUH PENGGUNAAN SISTEM HYBRID TERHADAP EFISIENSI DAN TINGKAT EMISI GAS BUANG PADA MOTOR BAKAR DIESEL SKRIPSI

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PENGENDALI SWITCHING PADA KENDARAAN HYBRID RODA DUA

BAB I PENDAHULUAN. panas yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar menjadi energi mekanik, dan

DC TRACTION. MK. Transportasi Elektrik. Fakultas Teknologi Industri Universitas Katolik Soegijapranata Semarang 1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu bagian penting dari sistem tenaga listrik adalah operasi sistem

BAB 1 PENDAHULUAN. mengeluarkannya dalam bentuk energi listrik. Baterai terdiri dari sel elektrokimia

Apakah ada setup yang berbeda untuk hibrida hidrolik? Baca terus untuk mencari tahu. Paralel dan seri hidrolik hibrida

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

diharapkan dapat membantu pemerintah dalam mengatasi ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan bahan bakar minyak yang ketersediaannya semakin

RANCANG BANGUN POWERPLAN PADA KENDARAAN HYBRID RODA TIGA SAPUJAGAD

Optimasi Pengaktifan Motor Penggerak pada Prototipe Sepeda Motor Hibrid untuk Menurunkan Konsumsi Bahan Bakar

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Perkembangan teknologi pesawat terbang tidak hanya mengarah pada

Studi Eksperimental Kinerja Mesin Kompresi Udara Satu Langkah Dengan Variasi Sudut Pembukaan Selenoid

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

MODUL V-C PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS UAP (PLTGU)

Studi Eksperimen Kinerja Traksi Kendaraan Hybrid Sapujagad

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN. 125 pada tahun 2005 untuk menggantikan Honda Karisma. Honda Supra X

BAB I. bergantung pada energi listrik. Sebagaimana telah diketahui untuk memperoleh energi listrik

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan akan alat transportasi seperti kendaraan bermotor kian hari kian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

DESAIN KONTROL PID UNTUK MENGATUR KECEPATAN MOTOR DC PADA ELECTRICAL CONTINUOUSLY VARIABLE TRANSMISSION (ECVT)

PEMBUATAN SEPEDA LISTRIK BERTENAGA SURYA SEBAGAI ALAT TRANSPORTASI ALTERNATIF MASYARAKAT

SISTEM KONTROL PADA KENDARAAN RODA DUA BERPENGGERAK HIBRIDA

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan energi listrik tersebut terus dikembangkan. Kepala Satuan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

STUDI KARAKTERISTIK TEKANAN INJEKSI DAN WAKTU INJEKSI PADA TWO STROKE GASOLINE DIRECT INJECTION ENGINE

KAJIAN AWAL HIBRIDISASI TOYOTA SOLUNA DENGAN KONFIGURASI PARALLEL HEV

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 2, (2012) ISSN:

STUDI EKSPERIMEN PENGARUH PERUBAHAN DESAIN FLYWHEEL TERHADAP WAKTU PENGOSONGAN ENERGI KINETIK MODEL KERS

KARAKTERISASI UNJUK KERJA SISTEM DUAL FUEL GASIFIER DOWNDRAFT SERBUK KAYU DAN DIESEL ENGINE GENERATOR SET 3 KW

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENGARUH PENAMBAHAN GENERATOR HHO TERHADAP UNJUK KERJA MESIN DIESEL OTOMOTIF KAPASITAS BESAR. Tugas Akhir Konversi Energi TEKNIK MESIN FTI-ITS

PENGARUH JENIS BAHAN BAKAR TERHADAP UNJUK KERJA SEPEDA MOTOR SISTEM INJEKSI DAN KARBURATOR

Cara Kerja Mobil Hybrid

I. PENDAHULUAN. Akhmad (2000) diartikan sebagai adanya bahan-bahan atau zat zat asing

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. signifikan tiap tahunnya (Dirjen, 2014). Transportasi ini sebagian besar terdiri dari

BAB I PENDAHULUAN. hidup manusia karena hampir semua aktivitas kehidupan manusia sangat tergantung

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

PEMBAHASAN. 1. Mean Effective Pressure. 2. Torque And Power. 3. Dynamometers. 5. Specific Fuel Consumption. 6. Engine Effeciencies

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

RANCANG BANGUN PENGEREMAN REGENERATIVE (KERS) PADA MOBIL LISTRIK UNIVERSITAS JEMBER

BAB I PENDAHULUAN. Suatu masalah terbesar yang dihadapi oleh negara-negara di dunia

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Motor bensin dan diesel merupakan sumber utama polusi udara di perkotaan. Gas

PERENCANAAN SISTEM TENAGA LISTRIK. Oleh : Bambang Trisno, MSIE

KARAKTERISASI PERFORMA MESIN DIESEL DUAL FUEL SOLAR-CNG TIPE LPIG DENGAN PENGATURAN START OF INJECTION DAN DURASI INJEKSI

BAB I PENDAHULUAN. dalam bidang sarana transportasi.sektor transportasi merupakan salah satu sektor

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

MAKALAH DASAR-DASAR mesin

OPTIMASI DAYA MELALUI VARIASI BAHAN BAKAR BIODIESEL MESIN DIESEL 2500 CCKENDERAAN RODA EMPAT

PENGARUH FILTER UDARA PADA KARBURATOR TERHADAP UNJUK KERJA MESIN SEPEDA MOTOR

Analisis Perbandingan Emisi Gas Buang Mesin Diesel Menggunakan Bahan Bakar Solar dan CNG Berbasis Pada Simulasi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejarah pulse jet engine

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

RANCANG BANGUN PENGEREMAN REGENERATIVE (KERS) PADA MOBIL LISTRIK UNIVERSITAS JEMBER

EFISIENSI GAS ENGINE PADA BERBAGAI PUTARAN: STUDI EKSPERIMEN PADA JES GAS ENGINE J208GS

PENGARUH JARAK ANTAR CELL ELEKTRODA TERHADAP PERFORMA GENERATOR HHO TIPE DRY CELL

Memahami sistem pembangkitan tenaga listrik sesuai dengan sumber energi yang tersedia

Mesin Kompresi Udara Untuk Aplikasi Alat Transportasi Ramah Lingkungan Bebas Polusi

BAB II TINJAUAN LITERATUR

PERENCANAAN MOTOR BAKAR DIESEL PENGGERAK POMPA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. PLTU adalah jenis pembangkit listrik tenaga termal yang banyak digunakan

PENGARUH PERUBAHAN NA DAN VOOR ONSTEKING TERHADAP KERJA MESIN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

ANALISA PENGARUH PEMANASAN AWAL BAHAN BAKAR SOLAR TERHADAP PERFORMA DAN KONSUMSI BAHAN BAKAR PADA MESIN MOTOR DIESEL SATU SILINDER

Pengaruh modifikasi diameter venturi dan pemasangan turbo cyclone terhadap daya mesin pada sepeda motor FIZR 2003

BAB 1 PENDAHULUAN. dunia industri diperhadapkan pada suatu persaingan (kompetisi). Kompetisi dapat

I. PENDAHULUAN. (induction chamber) yang salah satunya dikenal sebagai tabung YEIS. Yamaha pada produknya RX King yang memiliki siklus pembakaran 2

PENGARUH PENGGUNAAN BLOWER ELEKTRIK TERHADAP PERFORMA MESIN SEPEDA MOTOR SISTEM INJEKSI

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan manusia saat ini, dimana hampir semua aktivitas manusia berhubungan

STUDI EKSPERIMEN OUTPUT DAYA PADA MOTOR STIRLING TD 295 TIPE GAMMA DENGAN MENGGUNAKAN STIRLING ENGINE CONTROL V

BAB II KONSEP RANCANGAN SISTEM PROPULSI HYBRID

Seminar Nasional (PNES II), Semarang, 12 Nopember 2014

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi yang semakin cepat mendorong manusia untuk

Pengembangan Model Regenerative Brake pada Sepeda Listrik untuk Menambah Jarak Tempuh

Karakteristik Emisi Gas Buang Kendaraan Berbahan Bakar LPG untuk Mesin Bensin Single Piston

DESAIN DAN IMPLEMENTASI KONTROLER OPTIMAL BERBASIS NEURO FUZZY UNTUK PENGENDALIAN SIMULATOR HYBRID ELECTRIC VEHICLE

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN Pada Bab Pendahuluan ini akan dipaparkan mengenai latar belakang permasalahan, rumusan masalah, tujuan dari pelaksanaan Tugas Akhir, batasan masalah, metodologi yang digunakan, dan sistematika penulisan Tugas Akhir ini. 1.1 Latar Belakang Tingkat kebutuhan tehadap ketersediaan wahana transportasi pada saat ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini didasarkan atas pertumbuhan populasi serta peningkatan mobilitas perpindahan manusia, terutama pada lingkungan sentral aktivitas manusia (perkotaan). Fakta ini menimbulkan dampak langsung maupun tak langsung terhadap usaha pelestarian lingkungan. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa seiring dengan bertambahnya jumlah wahana transportasi maka persediaan sumber daya alam untuk bahan bakar, terutama bahan bakar cair (gasoline and liquid gas), akan semakin menipis. Di lain pihak, potensi akan dampak negatif akibat emisi gas buangan terhadap lingkungan akan semakin merugikan baik bagi manusia maupun terhadap kondisi atmosfir bumi. Berdasarkan dua butir di atas, diperlukan suatu penelitian ilmiah yang mampu meminimalisir dampak negatif dan menghasilkan solusi dari permasalahan yang bisa ditimbulkan oleh bertambahnya jumlah wahana transportasi tersebut, tentunya dengan tidak mengesampingkan aspek kenyamanan konsumen dalam berkendara serta peningkatan performa wahana transportasi tersebut. Salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan memanfaatkan teknologi hybrid dalam sistem propulsi wahana terbang. Berkembangnya penelitian terhadap wahana terbang Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dewasa ini juga merupakan salah satu aspek yang menjadi bahan pertimbangan bagi penulis dalam menyusun Tugas Akhir ini, dimana penggunaan serta kebutuhan spesifikasi dari UAV semakin meningkat dari masa ke masa. Usaha peningkatan performa UAV dipandang dari aspek sistem propulsinya dengan penerapan teknologi hybrid merupakan suatu bahasan yang akan coba diulas oleh penulis dalam Tugas Akhir 1

ini. Definisi dan hal-hal lain yang menyangkut penjabaran teknologi ini yang berkaitan dengan Tugas Akhir ini akan dijelaskan pada sub-bab selanjutnya. 1.2 Sistem Propulsi Hybrid Sistem propulsi adalah nyawa dari semua wahana transportasi. Sistem Hybrid (hybrid system) adalah salah satu terobosan inovasi terbaru dalam bidang industri otomotif, lebih spesifiknya dalam sistem propulsi otomotif. Dalam definisinya sebagai kombinasi dari dua jenis perangkat yang memiliki perbedaan mekanisme kerja dalam suatu sistem tunggal untuk menghasilkan suatu keluaran yang diinginkan (desireable output) yang pada dasarnya sejenis dan atau memiliki fungsi yang sama (ref. [4]). Teknologi ini memiliki kemampuan untuk dapat di implementasikan pada sistem kereta daya penggerak (powertrain) bagi kendaraan. Sebagai penunjang sekaligus back-up system dari mesin motor bakar internal (Internal Combustion Engine) yang memanfaatkan bahan bakar cair (misalnya gasoline) sebagai sumber energi pada kereta daya utama penggerak kendaraan, konsep sistem hybrid ini diaplikasikan dalam bentuk kombinasinya dengan motor listrik dengan energi kimia dari baterai sebagai sumber energinya. Pada dasarnya, motor listrik ini juga memiliki kemampuan untuk menjadi kereta daya penggerak tunggal untuk menghasilkan gaya dorong yang dibutuhkan oleh kendaraan dimana sumber energinya dari motor listrik tersebut. Tidak seperti mesin motor bakar internal, tenaga dari motor listrik ini dapat disimpan dan juga diperbaharui atau diisi ulang (recharge) langsung di dalam sistem tersebut yang merupakan satu kesatuan pada sistem propulsi kendaraan tersebut. Konversi energi, proses transmisi dan sistem penyimpanan energi (energy storage) adalah beberapa hal utama yang mutlak mendapat perhatian khusus dalam konsep rancangan sistem mesin hybrid ini. Pada prinsipnya, terdapat dua tipe desain arsitektur dari sistem hybrid, yaitu: paralel dan seri. Kedua tipe ini memiliki perbedaan yang nyata pada konfigurasi mekaniknya. Pada parallel hybrid system, mesin motor bakar internal menghasilkan tenaga mekanik untuk putaran yang secara paralel juga menghasilkan suplai daya untuk membangkitkan tenaga listrik pada motor. Pada series hybrid system, mesin motor bakar internal pertama-tama harus meng-

generate elektrisitas yang kemudian dikonversikan menjadi tenaga putaran melalui motor listrik. 1.1.1 Parallel Hybrid System Pada parallel hybrid system, propulsi kendaraan dihasilkan oleh mesin maupun baterai, atau oleh keduanya pada saat yang bersamaan. Generator mesin (enginegenerator) meng-kombinasikan kerja secara paralel dengan baterai dan juga menyediakan tenaga listrik agar baterai tetap dalam keadaan terisi (charged). Selama start-up dan akselerasi, transmisi elektrik meng-akselerasikan kendaraan, sedangkan ketika kendaraan mencapai kecepatan cruise, sistem paralel menggabungkan tenaga dari mesin motor bakar internal dan motor listrik untuk mempertahankan kecepatan. Pada kecepatan jalan raya (highway speed), mesin diesel menghasilkan tenaga dan juga menyediakan suplai tenaga untuk mengisi (charging) sistem penyimpanan tenaga. (ref. [9]). Parallel hybrid system menggunakan transmisi variabel berlanjut (continuously variable transmission/cvt). Baterai-baterai penyimpanan energi terbuat dari bahan nickel metal hydride (NiMH), dimana baterai jenis ini tidak memerlukan perawatan baterai sepanjang malam. Sistem ini dapat mencapai kecepatan maksimum sampai 105 km/jam pada aplikasinya pada kendaraan otomotif. Sistem paralel ini tidak dapat dikonversikan untuk kebutuhan mesin lainnya, seperti turbin atau fuel cells. Sistem paralel ini memerlukan mesin motor bakar internal yang lebih besar daripada yang dibutuhkan pada series hybrid system. Gambar 1. Parallel hybrid system (ref. [9])

1.1.2 Series Hybrid System Pada aplikasi sistem hybrid seri, propulsi disediakan oleh motor elektrik. Elektrisitas yang dibutuhkan motor dibangkitkan oleh mesin motor bakar internal kecil dan baterai. Sistem seri ini adalah yang paling efisien untuk lingkungan kerja dengan frekwensi stop dan go yang tinggi karena motor elektrik memiliki torsi yang tinggi pada kecepatan rendah, mulus, dan akselerasi yang cepat. Sistem propulsi untuk aplikasi sistem hybrid seri cukup sederhana secara mekanik, dengan sejumlah kecil komponen yang bergerak, dan sebuah komponen reduksi roda gigi yang tetap (single fixed gear reduction). Sistem ini tidak menggunakan komponen transmisi tradisional/konvensional (ref. [9]). Series hybrid system juga dapat dikonversikan menjadi fungsi kereta/mesin penggerak (powertrain) lainnya, seperti turbin atau fuel cell. Sistem-sistem mesin penggerak lain ini akan lebih dapat diandalkan dan lebih ekonomis nantinya sehingga proses konversi di kemudian hari merupakan kelebihan dari sistem ini. Mesin motor bakar internal pada sistem hybrid seri memiliki ukuran yang lebih kecil daripada yang digunakan pada sistem paralel, konsekuensinya adalah pada konsumsi bahan bakar (fuel consumption) yang lebih efisien serta emisi gas sisa yang lebih kecil daripada sistem hybrid paralel. Namun sistem seri ini tidak dapat menghasilkan tenaga (power) sebesar tenaga yang dapat dihasilkan oleh sistem paralel sehingga tidak dapat diaplikasikan pada kendaraan berat dan atau besar (misalnya Bus) karena berarti tarikan daya dari baterai- baterai yang diperlukan akan lebih besar. Gambar 2. Series hybrid system (ref. [9])

Gambar 1 menunjukan skema salah satu tipe dari parallel hybrid system. Gambar 2 menunjukkan skema dari series hybrid system. Kedua gambar menunjukkan sistem elektrik lengkap dengan variasi sistem kontrol tempel (embedded control systems). Dapat dilihat dari kedua gambar diatas, dibutuhkan sejumlah sistem kendali tempel agar suatu kendaraan hybrid dapat beroperasi dengan baik. Seluruh kendali-kendali ini biasanya saling berhubungan satu sama lain melalui suatu high-speed controller area network (CAN) bus. Pusat kendali di setiap sistem penggerak ini berfungsi mengendalikan setiap bagian/komponen di sistem mereka dan juga berkoordinasi dengan sistem kendali-kendali lain secara real time. Hal ini memerlukan penelaahan desain yang sangat luas serta pembangunan algoritma kendali dan software baru, walaupun untuk sistem kendali yang sudah cukup memadai, seperti sistem kendali mesin, transmisi, dan antilock braking systems. Aerospace engineering adalah suatu bidang ilmu pengetahuan yang memiliki hubungan yang cukup erat dengan mechanical engineering, terutama dalam sistem propulsi yang tidak lain merupakan sistem vital pada kendaraan (vehicle), baik itu kendaraan bermotor maupun wahana terbang. Beberapa kesamaan yang dimiliki oleh kedua bidang tersebut dalam sistem propulsinya memungkinkan dilakukannya adopsi teknologi (technology adoption) antar keduanya untuk meningkatkan performa maupun meminimalisir kelemahan dalam sistem propulsi masing-masing bidang (otomotif-aerospace). Teknologi sistem hybrid pada sistem propulsi ini telah lama diteliti dan juga mulai di-eksperimenkan bahkan diproduksi dalam bidang otomotif semenjak dua dekade terakhir. Ini menjadi tantangan bagi para peneliti dan aerospace engineers untuk mampu menerapkan konsep yang sama bagi sistem propulsi untuk pesawat udara ataupun aerospace vehicle lainnya (rocket, sattelite, helicopter, missile, etc.). Bukan hanya sematamata untuk bersaing dengan perkembangan teknologi pada bidang otomotif, namun sistem mesin hybrid ini memiliki potensi yang tinggi untuk membawa beragam manfaat dalam bentuk peningkatan performa produk secara keseluruhan dan juga bagi penggunanya, baik dalam aplikasinya pada bidang otomotif maupun bidang aerospace.

Beberapa kelebihan yang dapat ditawarkan oleh aplikasi sistem propulsi hybrid dalam bidang aerospace engineering antara lain adalah : Power yang tersedia lebih besar. Efisiensi mesin/energi yang lebih tinggi. Efisiensi bahan bakar yang lebih tinggi. Penyetelan mesin/gaya dorong yang lebih mudah. Peningkatan prestasi. Sumber energi alternatif. Mengurangi emisi gas buang/polusi udara. 1.3 Rumusan Masalah Masalah yang menjadi inti dari Tugas Akhir ini adalah pengembangan konsep rancangan sistem propulsi wahana udara yang merupakan penerapan dari teknologi sistem hybrid. 1.4 Tujuan Tujuan dari tema yang diangkat pada Tugas Akhir ini adalah melakukan analisa terhadap kemungkinan penerapan sistem propulsi hybrid ini pada wahana transportasi udara berikut hambatan serta keuntungan yang dihasilkan dari penerapan sistem hybrid ini khususnya dari aspek konsumsi bahan bakar dan performa wahana keseluruhan dibandingkan dengan sistem-sistem propulsi konvensional yang telah digunakan sebelumnya.. Pada Tugas Akhir ini, wahana yang digunakan diwakili oleh wahana terbang Unmanned Aerial Vehicles (UAV). Hasil analisis yang akan diharapkan akan didapatkan mengacu pada kombinasi perhitungan suplai daya dari mesin bakar internal (sistem propulsi konvensional) dan dari motor listrik. Selain itu, pemilihan konsep konfigurasi sistem yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam proses eksperimental bagi sistem hybrid untuk wahana terbang di kemudian hari.

1.5 Batasan Masalah Sebagai tahap awal dari suatu proses perancangan, sistem propulsi hybrid yang akan coba diuraikan pada Tugas Akhir ini hanya pada sebatas konsep rancangan. Konsep rancangan yang akan coba dibuat hanya mengacu pada kondisi terbang jelajah (cruise) dengan menggunakan beberapa parameter konfigurasi wahana terbang UAV yang diasumsikan melalui studi literasi beberapa data UAV yang ada sebagai wahana yang dipilih untuk objek pengaplikasian sistem propulsi ini. 1.6 Metodologi Metedologi yang digunakan pada penulisan Tugas Akhir ini adalah suatu studi data referensi yang didapat penulis mengenai dasar-dasar dari sistem propulsi mesin piston dan dasar-sistem hybrid didapat dari internet. Penulis juga melakukan suatu studi komparasi melalui penelitian selama beberapa waktu di PT. Toyota-Astra Motor sebagai salah satu industri otomotif yang telah menerapkan sistem propulsi hybrid melalui salah satu produknya yaitu Toyota Prius. Metode perhitungan dilakukan berdasarkan persamaan-persamaan yang korelatif dengan persamaan-persamaan yang ada untuk menghitung performa dari sistem propulsi pada wahana terbang. Persamaan-persamaan kelistrikan didapatkan dari sumber-sumber referensi yang telah terbukti untuk menghitung pengaruh dari penerapan sistem motor listrik pada sitem propulsi keseluruhan. 1.7 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan Laporan Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut : BAB I Pendahuluan Pada bagian ini berisi tentang uraian dan gambaran singkat Tugas Akhir ini. BAB II Konsep Rancangan Sistem Propulsi Hybrid Pada bagian ini berisi tentang pengenalan teori dasar dari sistem propulsi hybrid dan lagkah-langkah konsep desain serta Design Requirements and Objectives dari sistem propulsi yang akan dibuat. BAB III Perancangan Sistem Propulsi Hybrid Pada bagian ini berisi tentang perancangan sistem propulsi hybrid yang diterapkan

pada sistem propulsi UAV. BAB IV Analisis Hasil Rancangan Pada bagian ini berisi tentang analisis pengaruh dari konsep rancangan terhadap prestasi sistem propulsi keseluruhan. BAB V Penutup Pada bagian ini berisi saran penulis serta kesimpulan dari seluruh bagian pelaksanaan Tugas Akhir ini.