Prosiding Farmasi ISSN:

dokumen-dokumen yang mirip
INTISARI. UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL RIMPANG TEMU GIRING (Curcuma Heyneana Val) TERHADAP PERTUMBUHAN Shigella Dysentriae SECARA IN VITRO

I. PENDAHULUAN. Bentuk jeruk purut bulat dengan tonjolan-tonjolan, permukaan kulitnya kasar

BAB I PENDAHULUAN. (Uta, 2003). Jerawat terjadi ketika pori-pori kulit dipenuhi oleh minyak, sel kulit

NILA PENGEMBANGAN FORMULA KRIM PROPOLIS DAN MINYAK LAVENDER SERTA UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI TERHADAP PROPIONIBACTERIUM ACNES

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL BIJI BUAH PEPAYA (Carica papaya L.) TERHADAP Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus

ABSTRAK. AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK KULIT MANGGIS (Garcinia mangostana L.) TERHADAP BAKTERI PENYEBAB JERAWAT SECARA IN VITRO

BAB I PENDAHULUAN. pada infeksi yang disebabkan oleh bakteri seperti mycobacterium, staphylococcus,

Prosiding Farmasi ISSN:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. folikel rambut dan pori-pori kulit sehingga terjadi peradangan pada kulit.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 : PENDAHULUAN. jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingle) memiliki aktivitas antibakteri dengan

JFL Jurnal Farmasi Lampung Vol. 6. No. 2 Desember 2017

AKTIVITAS ANTIBAKTERI SARI BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi Linn.) TERHADAP BAKTERI PSEUDOMONAS AERUGINOSA DAN STAPHYLOCOCCUS EPIDERMIDIS

BAB 1 PENDAHULUAN. Akne vulgaris (AV) atau jerawat merupakan suatu penyakit. keradangan kronis dari folikel pilosebasea yang ditandai dengan

BAB VI PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. Untuk mengetahui efek pemberian ekstrak mengkudu terhadap daya

Prosiding Farmasi ISSN:

Prosiding Farmasi ISSN:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Prosiding Farmasi ISSN:

SKRINING AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI EKSTRAK ETANOL BIJI DAN EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH ANGGUR HITAM

Prosiding Seminar Nasional Kefarmasian Ke-1

I. PENDAHULUAN. antara lain: disebabkan oleh penyakit infeksi (28,1 %), penyakit vaskuler

BAB I. A. Latar Belakang Masalah. baik bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan maupun pedesaan. Tanaman obat

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya dengan tumbuhan berkhasiat, sehingga banyak dimanfaatkan dalam bidang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

ABSTRAK. EFEK ANTIMIKROBA EKSTRAK ETANOL BAWANG PUTIH (Allium sativum Linn.) TERHADAP Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli SECARA IN VITRO

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL BUNGA, DAUN, BATANG DAN AKAR ECHINACEA PURPUREA TERHADAP STAPHYLOCOCCUS AUREUS

BAB I PENDAHULUAN. adalah bakteri. Penyakit karena bakteri sering terjadi di lingkungan sekitar, salah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Identifikasi Tanaman Manggis (Garcinia mangostana)

pertumbuhan dengan Escherichia coli dan Staphylococcus aureus yang tampak pada Rf = 0, 67 dengan konsentrasi mulai 3% untuk Escherichia coli dan 2%

Prosiding Farmasi ISSN:

BAB I PENDAHULUAN. serta pemulihan kesehatan. Hal ini disebabkan karena tanaman banyak

BAB I PENDAHULUAN. virus, bakteri, dan lain-lain yang bersifat normal maupun patogen. Di dalam

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan negara yang memiliki ribuan jenis tumbuhan

BAB I PENDAHULUAN UKDW. S.Thypi. Diperkirakan angka kejadian ini adalah kasus per

BAB I PENDAHULUAN. Rongga mulut manusia tidak terlepas dari berbagai macam bakteri, diantaranya

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Prosiding Farmasi ISSN:

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit periodontal adalah penyakit yang umum terjadi dan dapat ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. ekstrak kulit nanas (Ananas comosus) terhadap bakteri Porphyromonas. Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Mikroorganisme dapat menyebabkan infeksi terhadap manusia. Infeksi

ABSTRAK. PENGARUH EKSTRAK ETANOL DAUN KEMANGI (Ocimum americanum) TERHADAP PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli SECARA IN VITRO

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN UKDW. untuk meningkat setiap tahun (Moehario, 2001). tifoid dibandingkan dengan anak perempuan (Musnelina et al., 2004).

APPLICATION OF STAR ANISE

UJI EKSTRAK DAUN BELUNTAS

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

ABSTRAK. EFEK ANTIMIKROBA EKSTRAK ETANOL DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) TERHADAP Escherichia coli DAN Bacillus subtilis SECARA IN VITRO

BAB I PENDAHULUAN. berbagai masalah kesehatan. Hal ini cukup menguntungkan karena bahan

Uji In Vitro Efek Ekstrak Etanol Biji Kakao (Theobroma cacao) sebagai Antibakteri terhadap Propionibacterium acnes

BAB I PENDAHULUAN. Penggunaan obat-obatan tradisional khususnya tumbuh-tumbuhan untuk

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga BAB I PENDAHULUAN. lumut. Tumbuhan lumut merupakan sekelompok tumbuhan non vascular yang

BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini pemanfaatan obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan berkembang dengan

EFEK KOMBINASI EKSTRAK ETANOL DAUN SIRIH (Piper betle L) DENGAN AMOKSISILIN TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus

FELISIA ANITA NUHAN

OKTAVIANA FRANCISKA IMAKULADA GUSMAO

BAB I PENDAHULUAN. Minyak atsiri adalah minyak eteris (essential oils) atau minyak terbang

ABSTRAK. Pembimbing I : Widura, dr., MS. Pembimbing II : Yenni Limyati, dr., Sp.KFR., S.Sn., M.Kes. Selly Saiya, 2016;

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan yang optimal dan untuk mengatasi berbagai penyakit secara alami.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Prosiding Farmasi ISSN:

Prosiding Penelitian SPeSIA Unisba 2015 ISSN

I. PENDAHULUAN. alam. Sebagai salah satu negara yang memiliki wilayah pantai terpanjang dan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

mampu menghambat pertumbuhan bakteri.

Efek Pasca Antibiotik Ciprofloxacin terhadap Staphylococcus aureus ATCC dan Escherichia coli ATCC 25922

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak kulit buah dan

dan jarang ditemukan di Indonesia (RISTEK, 2007).

ABSTRAK. EFEK ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL BUNGA ROSELLA (Hibiscus sabdariffa Linn) TERHADAP Staphylococcus aureus SECARA IN VITRO

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN ANTIOKSIDAN EKSTRAK KULIT BUAH LANGSAT (Lansium domesticum var. langsat)

PERBEDAAN DAYA HAMBAT EKSTRAK ETANOL BIJI ALPUKAT (Persea americana Mill.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Escherichia coli DENGAN Staphylococcus.

BAB I PENDAHULUAN. Propionibacterium acnes adalah bakteri anaerob Gram positif yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Dari catatan sejarah dapat diketahui bahwa fitoterapi atau terapi menggunakan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. juta penduduk setiap tahun, penyebab utamanaya adalah Vibrio cholera 01,

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai uji klinis dan di pergunakan untuk pengobatan yang berdasarkan

Prosiding Farmasi ISSN:

I. PENDAHULUAN II. METODE PENELITIAN

KATA PENGANTAR Perbandingan Aktivitas Antibakteri antara Ekstrak Metanol, Etanol dan Etil Asetat dari Kulit Buah Manggis ( Garcinia mangostana

Transkripsi:

Prosiding Farmasi ISSN: 2460-6472 Potensi Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Buah Ketumbar (Coriandrum sativum L.) terhadap Propionibacterium acnes Potensi Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Buah Ketumbar (Coriandrum sativum L.) terhadap Propionibacterium acnes 1 Ruri Ayudya Hapsari, 2 Suwendar, 3 Siti Hazar 1,2,3 Prodi Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Islam Bandung, Jl. Tamansari No.1 Bandung 40116 email: 1 ruriayudya99@gmail.com, 2 suwendarroenni@yahoo.com, 3 sitihazar1009@gmail.com Abstract. This research was conducted to determine the potency of antibacterial activity of ethanol extract of coriander (Coriandrum sativum L.) against acne-causes bacteria by agar diffusion method by using perforated agar. Antibacterial activity was demonstrated with a diameter of inhibition formed around the perforated agar. Acne is a skin infection caused by Propionibacterium acnes.the results of study showed at concentrations of 1, 2, 4, 6, 8, 10% ethanol extract of coriander has antibacterial activity.the ethanol extract of coriander does not give diameter inhibition against P.acnes at a concentration of 1% so that is determined by Minimum Inhibitory Concentration (MIC) in the range of 1-2%. The results of MIC determination of P.acnes present at a concentration of 1,8% with a inhibition diameter of 1,214 cm. Equality of antibacterial activity of ethanol extract of coriander to clindamycin provides resistor diameter are used for the manufacture of clindamycin standard curve that it can be determined the comparative value. Comparative value obtained in P.acnes that 1 mg of ethanol extract of coriander equivalent to 2,44 10-3 mg. Keywords: Activity test, Antibacterial, Ethanol extract of coriander, P.acnes. Abstrak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi aktivitas antibakteri ekstrak etanol buah ketumbar (Coriandrum sativum L.) terhadap Propionibacterium acnes dengan metode difusi agar menggunakan sumuran. Aktivitas antibakteri ditunjukkan dengan diameter hambat yang terbentuk di sekitar lubang sumuran. Jerawat merupakan penyakit infeksi kulit yang disebabkan oleh P.acnes. Hasil penelitian pada konsentrasi 1,2,4,6,8,10% menunjukkan ekstrak etanol buah ketumbar memiliki aktivitas antibakteri. Ekstrak etanol buah ketumbar tidak memberikan diameter hambat terhadap P.acnes pada konsentrasi 1% maka ditentukan konsentrasi hambat minimum (KHM) pada rentang 1-2%. Hasil penentuan KHM P.acnes terdapat pada konsentrasi 1,8% dengan diameter hambat adalah 1,214 cm. Kesetaraan aktivitas antibakteri ekstrak etanol buah ketumbar terhadap klindamisin memberikan diameter hambat yang digunakan untuk pembuatan kurva standar klindamisin sehingga dapat ditentukan nilai banding. Nilai banding yang diperoleh pada P.acnes bahwa 1 mg ekstrak etanol buah ketumbar setara dengan 2,44 10-3 mg. Kata Kunci: Uji aktivitas, Antibakteri, Ekstrak etanol buah ketumbar, P.acnes. 788

Potensi Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Buah Ketumbar 789 A. Pendahuluan Penyakit kulit di Indonesia pada umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur,parasit dan penyakit alergi. Infeksi bakteri merupakan salah satu penyebab penyakit pada kulit seperti jerawat (Acne vulgaris) yang menyerang lebih dari 85% kalangan remaja di seluruh dunia (Radji, 2010: 205). Prevalensi jerawat menunjukkan bahwa tingkat keparahan jerawat semakin menurun seiring bertambahnya usia (Collier et al., 2008: 56-59). Salah satu solusi mengatasi jerawat antara lain dengan penggunaan obat-obat antijerawat. Namun, semakin tinggi penggunaan antibiotik dalam waktu yang cukup lama maka semakin tinggi pula mikroorganisme yang bersifat resisten (Pratiwi, 2008: 165). Adanya perkembangan resistensi antibiotik maka penggunaan antibiotik tersebut harus dibatasi. Salah satu cara alternatif yang dapat ditempuh adalah dengan memanfaatkan antibakteri alami yang berpotensi untuk menghambat atau membunuh bakteri yang resisten terhadap antibiotik tertentu, diantaranya adalah tanaman ketumbar (Coriandrum sativum L.). Berdasarkan hasil penelitian minyak atsiri dalam buah ketumbar berpotensi menghambat aktivitas terhadap bakteri Gram positif yaitu Staphylococcus aureus dan streptococcus pneumonia serta Gram negatif yaitu Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella typhi (Lalitha et al., 2011: 3038). Oleh sebab itu dalam penelitian ini akan diujikan aktivitas antibakteri terhadap bakteri penyebab jerawat yaitu Propionibacterium acnes dengan cara mengekstrak buah ketumbar dalam pelarut organik tertentu agar diperoleh pengobatan yang lebih aman dan efektif terhadap kulit berjerawat. Berdasarkan uraian di atas maka perumusan masalah dalam penelitian ini meliputi apakah terdapat aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol buah ketumbar terhadap P.acnes, berapakah nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak etanol buah ketumbar terhadap P.acnes, dan berapakah nilai kesetaraan aktivitas antibakteri ekstrak etanol buah ketumbar terhadap antibiotik pembanding. B. Landasan Teori Menurut Cronquist, (1981: 837-849) taksonomi tanaman ketumbar dapat diklasifikasi sebagai berikut : Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Sub kelas : Rosidae Ordo : Apiales Famili : Apiaceae Genus : Coriandrum Spesies : Coriandrum sativum Linn. Tanaman ketumbar berupa semak semusim (terna), dengan tinggi 20-100 cm yang terdiri akar, batang, daun, bunga dan buah. Buahnya berbentuk bulat yang berwarna kuning kecoklatan. Buah ketumbar ini mengandung beberapa komponen minyak atsiri, salah satu senyawa aktifnya berasal dari senyawa monoterpen asiklik yaitu linalool yang berjumlah sekitar 60-75% (Lehrstuhl et al., 2004: 150). Buah ketumbar ini berkhasiat untuk pengobatan diare, nyeri perut akibat kembung, nyeri saat haid, gangguan lambung, serta diketahui memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif (Lalitha et al., 2011: 3038). Farmasi, Gelombang 2, Tahun Akademik 2015-2016

790 Ruri Ayudya Hapsari, et al. Aktivitas antibakteri yang dimiliki tanaman obat tradisional dapat dimanfaatkan untuk pengobatan infeksi pada kulit termasuk jerawat. Jerawat (Acne vulgaris) adalah penyakit folikel rambut (kelenjar pilosebasea) pada kulit yang timbul karena androgen yang merangsang produksi sebum yang berlebihan, hiperkeratinasi abnormal pada folikel, hiperkeratinosit, kolonisasi bakteri Propionibacterium acnes yang merangsang timbulnya peradangan pada kulit (Radji, 2010: 205-206). Adanya produksi sebum yang meningkat menyebabkan penyumbatan aliran sebum ke permukaan kulit sehingga terjadi akumulasi sebum pada folikel rambut. Akumulasi sebum tersebut akan memicu Propionibacterium acnes menghasilkan lipase sehingga sebum trigliserida terhidrolisis menjadi asam lemak bebas. Komponen sebum ini akan membentuk komedo yang semakin membesar sehingga merangsang timbulnya peradangan pada kulit (Jawetz et al., 2012: 288; Price, 2005: 1423-1424). Infeksi kulit tersebut dapat diberikan terapi antibiotik yang dapat menghambat pertumbuhan P.acnes yaitu klindamisin yang biasa digunakan untuk pengobatan jerawat. Klindamisin merupakan turunan linkomisin dengan mekanisme kerja berikatan pada subunit 50S ribosom bakteri dan menekan sintesis protein (Brunton, 2010: 735). C. Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk menguji aktivitas antibakteri ekstrak buah ketumbar (Coriandrum sativum L.) terhadap bakteri penyebab jerawat yaitu Propionibacterium acnes dengan metode difusi agar menggunakan sumuran. Tahapan penelitian ini meliputi pengumpulan buah ketumbar, determinasi, pengolahan simplisia, penetapan karakteristik pendahuluan simplisia, pembuatan ekstrak dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol, penetapan karakteristik pendahuluan ekstrak, pengujian potensi aktivitas antibakteri ekstrak etanol buah ketumbar yang ditunjukkan adanya diameter hambat, penentuan konsentrasi hambat minimum (KHM) dan penentuan kesetaraan aktivitas antibakteri ekstrak etanol buah ketumbar dengan antibiotik pembanding hingga diperoleh nilai banding antibakteri uji yang setara dengan klindamisin dari persamaan garis kurva standar klindamisin. Pada uji ini digunakan dimethylsuphoxide (DMSO) sebagai kontrol dan klindamisin sebagai pembanding. Untuk media pertumbuhan bakteri uji digunakan Tryptic Soy Agar (TSA). D. Hasil Penelitian dan Pembahasan Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Buah Ketumbar dan Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) Aktivitas ekstrak etanol buah ketumbar terhadap Propionibacterium acnes dilakukan dengan metode difusi agar yang ditunjukkan dengan terbentuknya diameter hambat di sekitar lubang sumuran yang berisi ekstrak uji pada konsentrasi 1% ; 2% ; 4% ; 6% ; 8% ; 10%. Dari hasil pengujian diperoleh bahwa ekstrak etanol buah ketumbar memberikan aktivitas antibakteri terhadap P.acnes yang ditunjukkan adanya diameter hambat yang terbentuk pada konsentrasi tertentu seperti yang dapat dilihat pada Tabel 1. Volume 2, No.2, Tahun 2016

Potensi Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Buah Ketumbar 791 Tabel 1. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol buah ketumbar terhadap P.acnes Konsentrasi Ekstrak (%) Rata-rata Diameter Hambat (cm) ± SD 10 1,146 ± 0,96 8 1,126 ± 0,97 6 1,116 ± 0,85 4 1,083 ± 0,41 2 1,066 ± 1,09 1 0 Klindamisin 2,697 ± 1,39 DMSO 0 Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri terhadap P.acnes pada konsentrasi tertinggi 10% menghasilkan diameter hambat sebesar 1,146 cm dan pada konsentrasi 2% dengan diameter hambat sebesar 1,066 cm. Sedangkan pada konsentrasi 1% tidak terbentuknya dimeter hambat, dikarenakan pada konsentrasi tersebut ekstrak uji tidak dapat menghambat pertumbuhan P.acnes secara maksimal. Selanjutnya dilakukan penentuan KHM yang lebih tepat untuk mengetahui konsentrasi terendah yang masih menghambat pertumbuhan P.acnes pada konsentrasi 1%-2%, maka dapat diperoleh nilai KHM pada konsentrasi 1,8% dengan diameter sebesar 1,214 cm yang dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak etanol buah ketumbar terhadap P.acnes Konsentrasi Ekstrak (%) Rata-rata Diameter Hambat (cm) ± SD 2 1,026 ± 0,79 *1,8 1,214 ± 0,85 1,6 0 1,4 0 1,2 0 1 0 Klindamisin 3,32 ± 0,24 DMSO 0 Keterangan: * = KHM ekstrak uji terhadap P.acnes Salah satu senyawa yang diduga memiliki aktivitas antibakteri diantaranya flavonoid, alkaloid, polifenolat dan monoterpen termasuk aktivitas antibakteri dari kandungan minyak atsiri. Senyawa antibakteri tersebut mampu menghambat pertumbuhan Propionibacterium acnes yang merupakan bakteri Gram positif. Bakteri Gram positif merupakan sel prokariot yang memiliki dinding sel yang terdiri atas beberapa lapisan peptidoglikan yang bersifat polar yang selanjutnya masuk ke dalam sel melalui protein pembawa. Protein pembawa merupakan protein yang menembus lapisan ganda fosfolipid yang menunjukkan bagian hidrofil yang polar, sehingga senyawa yang polar dalam ekstrak uji mudah menembus membran sel (Purwoko, 2009: 19-24). Farmasi, Gelombang 2, Tahun Akademik 2015-2016

Diameter Hambat (cm) 792 Ruri Ayudya Hapsari, et al. Uji Kesetaraan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Buah Ketumbar terhadap Klindamisin Setelah diperoleh nilai KHM ekstrak uji maka dilakukan pengujian kesetaraan aktivitas ekstrak etanol buah ketumbar terhadap antibakteri pembanding yaitu klindamisin dengan seri konsentrasi yaitu 1800; 2000 ; 4000 ; 6000 ; 8000 ; 10000; 12000 ppm yang dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil uji kesetaraan aktivitas antibakteri ekstrak etanol buah ketumbar terhadap Klindamisin Konsentrasi klindamisin (ppm) Log C Rata-rata Diameter Hambat (cm) ± SD 1800 3,255 1,997 ± 1,33 2000 3,301 2,473± 0,55 4000 3,602 2,597± 0,61 6000 3,778 2,947± 0,66 8000 3,903 2,967± 1,36 10000 4 3,417± 1,30 12000 4,079 3,483± 0,32 Berdasarkan hasil diameter hambat pada Tabel 3 kemudian dibuat kurva standar klindamisin antara log konsentrasi pada sumbu x terhadap diameter hambat pada sumbu y. Setelah diperoleh persamaan garis linear maka penentuan potensi klindamisin dilakukan dengan cara memplotkan diameter hambat ekstrak uji yang diperoleh dari nilai KHM ke dalam persamaan garis linear. Hasil pengujian diperoleh bahwa persamaan garis kurva standar klindamisin adalah y = 1,5382x 2,8551. Dari persamaan garis tersebut menunjukkan bahwa untuk mencapai diameter hambat 1,214 cm terhadap P.acnes maka nilai banding 1 mg ekstrak etanol buah ketumbar setara dengan 2,44 10-3 mg klindamisin yang dapat ditunjukkan Gambar 1. 4 3.5 3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 0 1 2 3 4 5 Log Konsentrasi (ppm) y = 1.5382x - 2.8551 R² = 0.9131 P.acnes Linear (P.acnes) Gambar 1. Kurva Diameter Hambat Klindamisin terhadap Propionibacterium acnes Volume 2, No.2, Tahun 2016

Potensi Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Buah Ketumbar 793 E. Kesimpulan Dari hasil pengujian aktivitas antibakteri dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol buah ketumbar memberikan diameter hambat terhadap Propionibacterium acnes hingga diperoleh nilai KHM yang terdapat pada konsentrasi uji 1,8% dengan diameter hambat sebesar 1,214 cm. Pada pengujian kesetaraan aktivitas ekstrak etanol buah ketumbar terhadap klindamisin diperoleh nilai banding 1 mg ekstrak uji setara dengan dengan 2,44 10-3 mg klindamisin. Daftar Pustaka Brunton, L., K. Parker., D. Blumenthal., I. Buxton. (2010). Goodman & Gilman Manual Farmakologi dan Terapi. EGC, Jakarta. Collier, C.N., Harper, J.C., Cantrell, W.C., Wang, W., Foster, W., and Elewski, B.E. (2008). Prevalence of Acne in Adults 20 years and older. Journal Of The American Academy of Dermatology, Vol. 58, No. 1. Cronquist, A. (1981). An Integrated System Of Clasification Of Flowering Plants. Columbia University, New York. Jawetz, M.A. (2012). Mikrobiologi Kedokteran Edisi 25. EGC, Jakarta. Lalitha,V,. Kiran, B., Raveesha, B. (2011). Antifungal and Antibacterial Potentiality of Six Essential Oils Extracted from Plant Source. International Journal of Engineering Science and Technology (IJEST), Vol. 3, No. 4. Lehrstuhl, Franz., D. Frohne., H.R., K. Hiller. (2004). PDR for Herbal Medicines 4 rd Edition. Medpharm GmbH Scientific Publishers, Germany. Pratiwi, Sylvia T. (2008). Mikrobiologi Farmasi. Erlangga, Jakarta. Price, Sylvia, A., Lerraine, M.W. (2005). Patofisilogi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. EGC, Jakarta. Purwoko, Tjahjadi. (2009). Fisiologi Mikroba Edisi 1. Bumi Aksara, Jakarta. Radji, M. (2010). Buku Ajar Mikrobiologi: Panduan Mahasiswa Farmasi dan Kedokteran. EGC, Jakarta. Farmasi, Gelombang 2, Tahun Akademik 2015-2016