BAB I PENDAHULUAN. tempat kerja yang tersedia saat ini, sehingga banyak orang yang tidak

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. kehidupan setiap individu serta watak dan peradaban bangsa yang bermartabat

BAB I PENDAHULUAN. segala bidang khususnya di dunia usaha sangat begitu ketat dan diikuti dengan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. peradaban yang lebih sempurna. Sebagaimana Undang Undang Dasar Negara

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Jabaran UUD 1945 tentang pendidikan dituangkan dalam Undang-Undang

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan (Saiman, 2009:22). Masalah pengangguran telah menjadi momok

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang dinamis dan syarat akan perkembangan, oleh karena itu

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan harus dilaksanakan sebaik mungkin, sehingga akan diperoleh hasil

BAB I PENDAHULUAN. merupakan tugas Negara yang amat penting. pembukaan UUD Negara Kesatuan Republik Indonesia 1945, yaitu untuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. mengembangkan pola kehidupan bangsa yang lebih baik. berorientasi pada masyarakat Indonesia seutuhnya, menjadikan pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. bidang pendidikan, bidang sosial dan lain sebagainya, sehingga memberikan

BAB 1 PENDAHULUAN. menjalani hidup dan kehidupan, sebab pendidikan bertujuan untuk memberikan

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan setiap individu serta watak dan peradaban bangsa yang bermartabat

BAB I PENDAHULUAN. individu yang dipersiapkan untuk mampu mengikuti laju perkembangan ilmu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan teknologi yang sangat cepat pada saat ini

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat diera

BAB 1 PENDAHULUAN. berkembang mempunyai tantangan besar dibidang pembangunan mengingat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat

BAB I PENDAHULUAN. perubahan dan tuntutan baru dalam masyarakat. Perubahan tersebut. terlebih jika dunia kerja tersebut bersifat global.

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting untuk menjamin

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan salah satu unsur yang memiliki peran penting

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan nasional. Seiring dengan laju pembangunan saat ini telah banyak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kemajuan suatu Negara tidak terlepas dari sistem pendidikan, sebab

BAB I PENDAHULUAN. berkreasi serta melakukan inovasi secara optimal yaitu mewujudkan gagasangagasan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan bakat serta kepribadian mereka. Pendidikan membuat manusia

BAB. I PENDAHULUAN. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah salah satu wahana pendidikan

Oleh : Sri Admawati K BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. keterampilan menjadi memiliki keterampilan. Arismantoro yang dikutip oleh

BAB I PENDAHULUAN. teknologi diperlukan sumber daya manusia yang tangguh. Pendidikan merupakan

Oleh : Pengaruh kreatifitas siswa dan prestasi belajar mata diklat produktif terhadap

BAB I PENDAHULUAN. Teknologi yang terus berkembang dewasa ini, sangat membutuhkan

2014 FAKTOR-FAKTOR DETERMINAN YANG MEMENGARUHI PEMBENTUKAN JIWA WIRAUSAHA SISWA SMK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi siswa, sehingga yang

BAB I PENDAHULUAN. lulusan yang siap terjun secara profesional dan ikut bergerak di dunia usaha atau

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Permendikbud Nomor 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran pada

BAB I PENDAHULUAN. hidup yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan individu.

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan dalam kehidupan suatu negara memegang peranan yang. sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa.

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Masa depan suatu. negara dalam menyelenggarakan pendidikan nasional.

BAB I PENDAHULUAN. Tantangan pendidikan kejuruan adalah untuk menyiapkan tenaga kerja

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan sistem pendidikan di Indonesia dari waktu ke waktu selalu

BAB I PENDAHULUAN. produktif. Di sisi lain, pendidikan dipercayai sebagai wahana perluasan akses.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas. (SDM). Salah satu SDM yang diharapkan adalah

BAB I PENDAHULUAN. Triatno, (2009:53) menyatakan pendapatnya bahwa tujuan pendidikan

I. PENDAHULUAN. kerja dengan penawaran angkatan kerja yang tersedia. upaya menumbuhkembangkan kewiraswastaan kepada masyarakat luas

(PTK Pada Siswa Kelas VIII B SMP Muhammadiyah 10 Surakarta)

PROFIL PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK KOMPUTER DAN INFORMATIKA SMK PASUNDAN 1 KOTA BANDUNG TAHUN PELAJARAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Eka Purwanti Febriani, 2013

adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sekolah Menengah Kejuruan

BAB I PENDAHULUAN. karena belajar merupakan kunci untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Tanpa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pelaku pembangunan pendidikan berupaya untuk menaikkan derajat mutu

BAB I PENDAHULUAN. pada kemampuan bangsa itu sendiri dalam meningkatkan kualitas sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. kualitas sumber daya manusia dalam suatu Bangsa dan Negara. Sebagaimana

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. kualitas sumber daya manusia dalam suatu bangsa atau negara. Sebagaimana

BAB I PENDAHULUAN. kearah suatu tujuan yang dicita-citakan dan diharapkan perubahan tersebut

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam era informasi saat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan upaya yang terencana dalam proses

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan teknologi yang semakin cepat menuntut sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, yang dapat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan pondasi kemajuan suatu negara, maju tidaknya

BAB I PENDAHULUAN. Sesederhana apapun peradaban suatu masyarakat, di dalamnya terjadi atau

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan dihadapkan pada tantangan-tantangan yang berat khususnya dalam

BAB I PENDAHULUAN. Ketatnya persaingan dalam lapangan kerja menuntut lembaga pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. yang mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah secara

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan sangat berpengaruh untuk meningkatkan kemajuan suatu

BAB I PENDAHULUAN. menghadapi perkembangan ini dan harus berfikiran lebih maju. Ciri-ciri

BAB I PENDAHULUAN. kerja, dunia kerja yang semula menggunakan tenaga kerja manusia pada akhirnya

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Pada saat ini bangsa Indonesia sedang melaksanakan pembangunan di segala

BAB I PENDAHULUAN. mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia itu adalah pendidikan.

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan optimal sesuai dengan potensi pribadinya sehingga menjadi

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan teknologi, dibutuhkan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pendidikan sebagai upaya dasar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. Pengangguran masih menjadi masalah serius di Indonesia karena sampai

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembangunan Nasional merupakan pencerminan kehendak untuk

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan pembelajaran baik secara formal

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. atau anak didik sesuai dengan kebutuhan dan perkembangannya.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Gustini Yulianti, 2013

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan wadah untuk menghasilkan generasi yang

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan, dan fisik dalam kehidupan sosial; 3. Standar minimal pengetahuan dan keterampilan khusus dasar;

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan jaman yang semakin modern terutama pada era

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan umum program keahlian teknik kendaraan ringan 1) menghasilkan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. kerja pada umumnya relatif rendah dikarenakan rendahnya pendidikan dan latihan. setiap tahunnya tidak dapat terserap sepenuhnya.

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kemajuan suatu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan menengah kejuruan merupakan pendidikan vokasi yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat

Transkripsi:

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu masalah yang muncul dalam era globalisasi dan industrialisasi dewasa ini di Indonesia adalah menyempitnya lapangan pekerjaan. Orang yang mencari pekerjaan lebih banyak daripada orang yang dibutuhkan untuk bekerja di tempat kerja yang tersedia saat ini, sehingga banyak orang yang tidak mendapatkan kesempatan untuk bekerja. Bertambahnya jumlah lulusan setiap tahunnya juga akan menambah jumlah orang yang mencari pekerjaan, akibatnya jumlah pengangguran semakin besar yang berdampak pada kondisi perekonomian di indonesia. Belakangan ini juga semakin banyak perusahaan-perusahaan yang mengurangi jumlah pekerjanya sehingga pengangguran pun semakin bertambah. Apabila lulusan mempunyai minat untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri (berwirausaha) yaitu dengan bekerja sesuai keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki, maka tidak perlu mengandalkan untuk mendapatkan pekerjaan dari orang lain atau bekerja pada instansi pemerintah. Melihat kondisi bangsa Indonesia yang cukup kompleks seperti sekarang ini, maka sangatlah diperlukan kerjasama antar seluruh pihak dan keseriusan pemerintah dalam mencapai tujuan pembangunan bangsa ini ke depan. Permasalahan tenaga kerja dan kesiapan kerja adalah salah satu faktor penghambat tercapainya cita-cita bangsa Indonesia saat ini, dimana yang melatarbelakangi masalah ini adalah rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki oleh para tenaga kerja Indonesia. 1

2 Sumber daya manusia yang berkualitas adalah salah satu modal utama pemerintah dalam membangun suatu bangsa. Untuk itu perlu diadakan programprogram yang mendukung peningkatan sumber daya manusia serta sistem dan metode yang kreatif, efektif dan inovatif. Untuk menciptakan sistem pendidikan yang dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, maka pemerintah menetapkan tujuan pendidikan nasional sebagaimana dimuat dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, yaitu: untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Sesuai dengan tujuan pendidikan seperti diatas, maka salah satu lembaga pendidikan yang ikut serta dalam mendukung tujuan tersebut adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Hal ini dapat kita lihat dari tujuan SMK tersebut yaitu: untuk menghasilkan tenaga kerja kejuruan Siswa yang terampil dan dapat memenuhi persyaratan jabatan dalam bidang industri, perdagangan, jasa serta mampu berusaha sendiri dalam membuka dan memanajemen lapangan usaha baru guna meningkatkan produksi dan perluasan kesempatan kerja (Hadi Waratama 1989:214). Selanjutnya untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai lembaga pendidikan menengah yang mengelola pendidikan kejuruan juga mempunyai tujuan, yaitu:

3 a. Tujuan Umum 1. Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi warga negara yang berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis dan bertanggung jawab. b. Tujuan khusus 1. Menyiapkan peserta didik agar menjadi manusia produktif, mampu bekerja mandiri, mengisi lowongan pekerjaan yang ada di dunia usaha dan dunia industri sebagai tenaga kerja Tingkat menengah, sesuai dengan kompetensi dalam program yang dipilihnya. 2. Menyiapkan peserta didik agar mampu memilih karir, ulet dan gigih dalam berkompetensi, beradaptasi dilingkungan kerja dan mengembangkan sikap profesional dalam bidang keahlian yang diminatinya. Oleh sebab itu, lulusan SMK diharapkan memiliki keahlian dan keterampilan sehingga dapat memenuhi persyaratan jabatan dalam bidang industri, perdagangan dan jasa, serta mampu berusaha sendiri dalam membuka lapangan kerja baru guna meningkatkan produksi dan perluasan kesempatan kerja sehingga pendidikan kejuruan tidak bisa dipisahkan dari masalah aset pembuka lapangan kerja baru, masalah ketenaga-kerjaan khususnya dalam kebutuhan tenaga kerja dan lain-lain. Dalam upaya mewujudkan tujuan SMK ini, maka pemerintah secara terusmenerus meningkatkan kualitas para guru, serta memberikan bantuan-bantuan kepada sekolah-sekolah SMK, seperti:

4 1. Menciptakan pembaharuan program-program pendidikan yang kreatif, efektif dan inovatif. 2. Meningkatkan kualitas para guru dengan cara mengadakan penetaranpenataran, sertifikasi guru, up-grading dan juga membangun kerjasama dengan pihak industri, seperti diterapkannya pendidikan sistem ganda (PSG) 3. Penambahan sarana dan prasarana sekolah. 4. Memberikan bantuan dana kepada siswa yang kurang mampu yang diberikan melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Kualitas lulusan SMK dapat dikatakan baik apabila pengetahuan, keterampilan dan sikap para lulusannya berguna dan berdampak untuk pembangunan di masyarakat. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa SMK adalah salah satu lembaga pendidikan yang turut berperan serta dalam mensukseskan pembangunan nasional dengan menciptakan lulusan-luluan yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang handal sesuai dengan bakat Siswa serta memiliki mental yang tahan uji sehingga mampu menghasilkan wirausahawan-wirausahawan mandiri serta para tenaga kerja yang profesional dan siap kerja serta bertanggungjawab. Dari poin-poin diatas dapat dilihat bahwa titik berat sekolah menengah kejuruan adalah memberikan pengetahuan dan keterampilan guna kesiapan lulusannya bersaing memasuki dunia usaha/industry dan menciptakan lapangan kerja baru atau berwiraswasta. Namun pada kenyataannya bahwa lulusan SMK masih cukup banyak yang belum bekerja. Ini disebabkan oleh beberapa faktor yang antara lain karena sempitnya lowongan pekerjaan dan ketidaksiapan dari para lulusan SMK itu

5 sendiri. Kesiapan adalah keseluruhan kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberi respon / jawaban didalam cara tertentu terhadap suatu situasi (Slameto 2010 : 113). Maksud dari pendapat diatas adalah dengan adanya suatu kesiapan pada diri seseorang maka orang tersebut dapat memberi respon atau reaksi dengan cara-cara tertentu didalam menghadapi situasi apapun. Slameto juga mengungkapkan tiga aspek yang mencakup kesiapan 1) kondisi fisik, mental dan emosional; 2) kebutuhan kebutuhan, motivasi dan tujuan; 3) keterampilan, pengetahuan dan pengertian yang lain yang telah dipelajari (Slameto 2010 : 113) Para siswa lulusan SMK di Indonesia pada umumnya masih banyak mengharapkan pekerjaan yang bersifat halus, misalnya bekerja di kantor pemerintahan maupun swasta. Sebagai tenaga kerja mereka pada umumnya kurang memiliki minat dalam hal berwiraswasta dan cenderung takut mengambil resiko dalam bekerja. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan penulis, bahwa SMK-TI Swasta Budi Agung Medan, tercatat sebagian besar lulusan yang bekerja di perusahaan/industri dan kebanyakan menduduki posisi mekanik, administrasi, dan sebagai teknisi (sumber: arsip penelusuran tamatan SMK Teknologi Swasta Budi Agung Medan), dan informasi yang kmi dapatkan dari Pembantu Kepala Sekolah bidang Akademik (PKS I), Ketua Program Keahlian dan beberapa guru yang mengajar disekolah tersebut, para lulusan yang membuka usaha sendiri sangat minim dan memprihatinkan, itupun hanya karena mereka melanjutkan jejak orang tuanya. Dari kenyataan ini dapat kita lihat bahwa minat Siswa untuk berwiraswasta sangatlah rendah.

6 Dari uraian diatas dapat kita lihat bagaimana kesenjangan yang terjadi antara lulusan yang dihasilkan oleh SMK dengan apa yang diharapkan dari lulusan itu, banyak hal yang menyebabkan sehingga kesenjangan itu cukup tampak, yang mana salah satunya adalah rendahnya minat berwiraswasta dari lulusan SMK tersebut, dan hal ini bisa terjadi disebabkan oleh kurangnya penguasaan keterampilan dan minimnya pengetahuan siswa lulusan SMK tersebut tentang kompetensi Program Keahliannya. Zimmerer dan Scarborough (2004) menyatakan ada delapan faktor yang menjadi pendorong pertumbuhan minat kewirausahaan, yakni: (1) Pendapat bahwa wirausaha adalah seorang pahlawan; (2) Pendidikan kewirausahaan. (3) Faktor ekonomi dan kependudukan. (4) Pergeseran dari ekonomi industri ke ekonomi jasa. (5) Kemajuan teknologi. (6) Gaya hidup bebas. (7) E-Commerce dan The World Wide Web. (8) Terbukanya peluang bisnis internasional. Hisrich et al. (2008) menyatakan pendidikan sangatlah penting dalam perjalanan wirausaha. Pentingnya pendidikan tidak hanya tercermin dalam tingkat pendidikan yang dicapai, tetapi juga dalam kenyataan bahwa pendidikan memainkan peranan penting untuk membantu para wirausaha mengatasi masalahmasalah yang mereka hadapi. Studi di India oleh Sinha diacu oleh Indarti (2008) membuktikan bahwa latar belakang pendidikan menjadi salah satu penentu penting minat kewirausahaan dan kesuksesan usaha yang dijalankan. Situmorang (2007) menyatakan tujuan dari pendidikan kewirausahaan adalah mengembangkan masyarakat berkewirausahaan (enterprising people) dan menanamkan sikap percaya pada diri sendiri melalui proses belajar yang sesuai.

7 Pendidikan kewirausahaan dan program pendidikan dan pelatihan kewirausahaan bertujuan untuk mendirikan usaha kecil yang independen. Beberapa hal diatas akan berpengaruh terhadap minat para Siswa dalam menggali serta membangun potensi diri yang sebenarnya masih tertanam didalam diri Siswa tersebut. Maka untuk menjadi wirausaha mandiri haruslah dibarengi dengan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi, kemauan dan komitmen yang kuat, serta memiliki pandangan yang positif terhadap pekerjaan yang digelutinya. Wasty Soemanto (1992) mengemukakan bahwa ciri-ciri dari seorang wirausaha adalah : 1. Memiliki moral yang tinggi 2. Memiliki sikap mental wirausaha 3. Memiliki kepekaan terhadap arti lingkungan 4. Memiliki keterampilan wirausaha. Dari ciri-ciri yang telah dikemukakan di atas terdapat sifat-sifat utama, di antaranya adalah : 1. Manusia yang memiliki moral yang tinggi, setidak-tidaknya memiliki/menjalankan enam sifat utama : a. Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa b. Kemerdekaan batin c. Keutamaan d. Kasih sayang terhadap sesama manusia e. Loyalitas hukum f. Keadilan

8 2. Manusia yang memiliki sikap mental wirausaha, setidak-tidaknya memiliki enam kekuatan mental yang membangun kepribadian kuat : a. Kerkemauan keras b. Berkeyakinan kuat atas kekuatan pribadi, untuk itu diperlukan pengenalan diri, kepercayaan kepada diri sendiri, dan pemahaman tujuan dan kebutuhan c. Kejujuran dan tanggung jawab, untuk itu diperlukan adanya moral yang tinggi dan disiplin diri sendiri d. Ketahanan fisik dan mental, untuk itu diperlukan adanya kesehatan jasmani dan rohani, kesabaran, dan ketabahan e. Ketekunan dan keuletan untuk bekerja keras f. Pemikiran yang konstruktif dan kreatif. 3. Manusia wirausaha setidak-tidaknya harus memiliki empat hal agar dirinya peka/sensitif terhadap arti lingkungan bagi kehidupannya : a. Pengenalan terhadap arti lingkungan b. Rasa syukur atas segala yang diperoleh dan dimiliki c. Keinginan yang besar untuk menggali dan mendayagunakan sumbersumber ekonomi lingkungan setempat. d. Kepandaian untuk menghargai dan memanfaatkan waktu secara efektif. 4. Manusia wirausaha diperlukan beberapa keterampilan sebagai berikut : a. Keterampilan berpikir kreatif b. Keterampilan dalam pembuatan keputusan c. Keterampilan dalam kepemimpinan d. Keterampilan manajerial

9 e. Keterampilan dalam bergaul antar manusia. Dari masalah-masalah dan kesenjangan-kesenjangan yang terjadi seperti yang telah dijabarkan diatas, maka penulis mencoba melirik bidang usaha jasa pengelasan. Alasan pemilihan bidang usaha ini adalah karena jasa yang ditawarkan merupakan kebutuhan banyak kalangan, modal atau biaya yang dibutuhkan tidak terlalu besar, juga memiliki resiko pekerjaan yang relatif kecil dan keterampilan yang dibutuhkan juga ada didalam kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Melaksanakan prosedur pengelasan, pematrian, pemotongan dengan panas dan pemanasan merupakan salah satu mata diklat yang memberikan program pengajaran praktek kemampuan dasar. Dalam mata diklat ini terdapat praktek pengelasan, dimana pada praktek pengelasan ini Siswa diajarkan bagaimana cara mengelas dasar dan membuat suatu produk dengan teknik pengelasan. Namun berkualitas tidaknya hasil yang dikerjakan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti: kelengkapan fasilitas pengelasan, pemahaman dan keterampilan mengelas, minat dan bakat. Menurut Djoko Restyo Putra (2011:21), minat yang kuat akan menimbulkan usaha yang gigih, serius dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi tantangan. Namun demikian, minat tanpa adanya usaha yang baik maka sulit untuk berhasil. (Oemar Hamalik, 2010:33). Jika suatu kegiatan dilakukan dengan senang hati maka perhatian, kemampuan dan usahanya akan timbul untuk melakukan yang baik.

10 B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka masalah dapat diidentifikasikan sebagai berikut: 1. Apakah kurikulum SMK telah sesuai dengan kebutuhan siswa dan masyarakat?, 2. Apakah yang menyebabkan rendahnya Minat berwiraswasta siswa maupun lulusannya?, 3. Faktor-faktor apa saja yang dapat menghambat Kreativitas belajar siswa maupun lulusannya dalam hal Kemampuan pengelasan?, 4. Apakah yang akan terjadi di masyarakat dengan tingginya siswa pengangguran?, 5. Apakah yang menyebabkan rendahnya kualitas lulusan SMK?, 6. Apakah konsep pembelajaran SMK bisa menumbuh-kembangkan Minat berwiraswasta pada siswa?, 7. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi Minat berwiraswasta pada siswa?, 8. Bagaimana hubungan Kemampuan pengelasan dengan Minat berwiraswasta?, 9. Bagaimana hubungan Kreativitas belajar dengan Minat berwiraswasta?, 10. Bagaimana Hubungan Minat berwiraswasta dan Kreativitas belajar secara bersama-sama dengan Kemampuan pengelasan?. C. Pembatasan Masalah Demi efektivitas dan ketajaman pembahasan penelitan, maka sangatlah perlu membuat pembatasan masalah-masalah yang terkait dalam penelitian ini. Karena adanya keterbatasan waktu, dana, teori-teori, serta penelitian dapat

11 dilakukan lebih mendalam, maka tidak semua masalah yang teridentifikasi akan diteliti. Untuk itu maka penulis akan membatasi permasalahan tersebut diatas, dimana akan dilakukan penelitian pada variabel Minat berwiraswasta, Kreativitas belajar, Serta Kemampuan pengelasan siswa, serta bagaimana hubungan variabel yang satu terhadap variabel yang lain pada siswa Tingkat X Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan di SMK-TI Swasta Budi Agung Medan Tahun Ajaran 2012/2013. Minat berwiraswasta siswa dibatasi pada bidang pengelasan, Kreativitas belajar siswa dibatasi pada Kreativitas siswa dalam praktek dan penguasaan siswa terhadap mata diklat kerja las, sedangkan Kemampuan pengelasan dibatasi pada penguasaan siswa terhadap mata diklat kerja las. D. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah dan pembatasan masalah, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: 1. Apakah terdapat hubungan antara Minat berwiraswasta dengan Kemampuan pengelasan Siswa Tingkat X Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan di SMK TI Swasta Budi Agung Medan Tahun Ajaran 2012/2013?, 2. Apakah terdapat hubungan antara Kreativitas belajar dengan Kemampuan pengelasan Siswa Tingkat X Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan di SMK-TI Swasta Budi Agung Medan Tahun Ajaran 2012/2013?,

12 3. Apakah terdapat hubungan antara Minat berwiraswasta dan Kreativitas belajar dengan Kemampuan pengelasan Siswa Tingkat X Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan di SMK-TI Swasta Budi Agung Medan Tahun Ajaran 2012/2013?, E. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui besarnya hubungan antara Minat berwiraswasta dengan Kemampuan pengelasan Siswa Tingkat X Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan di SMK-TI Swasta Budi Agung Medan Tahun Ajaran 2012/2013. 2. Untuk mengetahui besarnya hubungan antara Kreativitas belajar dengan Kemampuan pengelasan Siswa Tingkat X Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan di SMK-TI Swasta Budi Agung Medan Tahun Ajaran 2012/2013. 3. Untuk mengetahui besarnya hubungan antara Minat berwiraswasta dan Kreativitas belajar dengan Kemampuan pengelasan Siswa Tingkat X Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan di SMK-TI Swasta Budi Agung Medan Tahun Ajaran 2012/2013.

13 F. Manfaat Penelitian Dari hasil penelitian yang akan diperoleh, diharapkan dapat bermanfaat untuk: 1. Memberikan informasi tentang hubungan Minat berwiraswasta dengan Kemampuan pengelasan Siswa Tingkat X Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan di SMK-TI Swasta Budi Agung Medan Tahun Ajaran 2012/2013. 2. Memberikan informasi tentang hubungan Kreativitas belajar dengan Kemampuan pengelasan Siswa Tingkat X Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan di SMK-TI Swasta Budi Agung Medan Tahun Ajaran 2012/2013. 3. Memberikan informasi tentang hubungan Minat berwiraswasta dan Kreativitas belajar dengan Kemampuan pengelasan Siswa Tingkat X Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan di SMK-TI Swasta Budi Agung Medan Tahun Ajaran 2012/2013dan kepada kepala sekolah/para guru agar lebih serius dalam menggali, membangun serta meningkatkan lagi Minat berwiraswasta siswa dari mata diklat diluar bidang pengelasan. 4. Memberikan informasi dan bahan masukan bagi pihak SMK-TI Swasta Budi Agung Medan (kepala sekolah maupun guru-guru) untuk terus memotivasi siswa menumbuh-kembangkan Minat berwiraswasta dan meningkatkan Kreativitas belajar, sehingga meningkatkan kemampuan siswa khususnya pada bidang pengelasan. 5. Sebagai bahan informasi pada penelitian-penelitian ada relevansinya untuk meningkatkan penguasaan keterampilan mengelas pada siswa di SMK.

14 6. Secara teoritis manfaat ini adalah untuk mengembangkan konsep-konsep dalam pendidikan dan dapat memberikan khasanah keilmuan, yang dalam hal ini adalah Kreativitas belajar Siswa dalam kaitannya dengan Kemampuan Pengelasan.