BAB I PENDAHULUAN. berobat dan putus berobat selama 2 bulan atau lebih dengan BTA positif.

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. di negara berkembang. Badan kesehatan dunia, World Health Organitation

BAB I PENDAHULUAN UKDW. kesehatan masyarakat yang penting di dunia ini. Pada tahun 1992 World Health

I. PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu masalah kesehatan utama yang

BAB I PENDAHULUAN. prevalensinya paling tinggi di dunia. Berdasarkan laporan World Health

BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium tuberculosis complex (Depkes RI, 2008). Tingginya angka

BAB 1 PENDAHULUAN. TB sudah dilakukan dengan menggunakan strategi DOTS (Directly Observed

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan terutama di Negara berkembang seperti di Indonesia. Penyebaran

BAB I PENDAHULUAN. oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (Alsagaff,H, 2006). Penyakit ini juga

SKRIPSI. Penelitian Keperawatan Komunitas

BAB 1 PENDAHULUAN. seluruh dunia. Jumlah kasus TB pada tahun 2014 sebagian besar terjadi di Asia

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB

BAB 1 PENDAHULUAN. infeksi di seluruh dunia setelah HIV. Pada tahun 2014, WHO melaporkan bahwa

BAB 1 PENDAHULUAN. oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.bakteri ini berbentuk batang dan bersifat

BAB I PENDAHULUAN. Menurut World Health Organization (WHO) Tahun 2011, kesehatan adalah suatu

BAB I PENDAHULUAN 1.1 latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular langsung yang. disebabkan oleh kuman TB yaitu Mycobacterium Tuberculosis yang pada

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. TB Paru merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. bahwa penyakit tuberkulosis merupakan suatu kedaruratan dunia (global

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Tuberkulosis atau TB (singkatan yang sekarang ditinggalkan adalah TBC)

BAB I PENDAHULUAN. berkualitas. Salah satu upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk

BAB 1 PENDAHULUAN. kehidupan manusia. Melalui pembangunan kesehatan diharapkan akan tercapai

I. PENDAHULUAN. Angka kematian dan kesakitan akibat kuman Mycobacterium tuberculosis masih

2016 GAMBARAN MOTIVASI KLIEN TB PARU DALAM MINUM OBAT ANTI TUBERCULOSIS DI POLIKLINIK PARU RUMAH SAKIT DUSTIRA KOTA CIMAHI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. yang disebabkan oleh (Mycobacterium tuberculosis). Penyakit ini juga dapat

BAB I PENDAHULUAN. di kenal oleh masyarakat. Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium

BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium tuberculosis. Penyakit TB dapat disembuhkan dengan pengobatan

BAB I. PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. kematian terbesar kedua di dunia setelah Human Immunodeviciency Virus

BAB I PENDAHULUAN. bakterituberkulosis tersebut (Kemenkes RI,2012). Jumlah prevalensi TB di

BAB I PENDAHULUAN. menular (dengan Bakteri Asam positif) (WHO), 2010). Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan global utama dengan tingkat

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) paru yaitu salah satu penyakit menular yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Tuberkulosis atau TB merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Prevalensi TB Paru di Indonesia dan negara negara sedang berkembang lainnya

SAFII, 2015 GAMBARAN KEPATUHAN PASIEN TUBERKULOSIS PARU TERHADAP REGIMEN TERAPEUTIK DI PUSKESMAS PADASUKA KECAMATAN CIBEUNYING KIDUL KOTA BANDUNG

BAB 1 PENDAHULUAN. Millenium Development Goals (MDGs) merupakan agenda serius untuk

SKRIPSI ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PADA ANAK DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. ini tidak lepas terkait dengan status gizi ataupun kesehatan setiap. individu. Indikator yang digunakan salah satunya adalah Indeks

HUBUNGAN DUKUNGAN PASANGAN PENDERITA TB DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITA TB PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PEKAUMAN BANJARMASIN TAHUN 2016

BAB 1 PENDAHULUAN. karena penularannya mudah dan cepat, juga membutuhkan waktu yang lama

BAB I PENDAHULUAN. bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit TB dapat menyebar melalui droplet

BAB I PENDAHULUAN. menyerang paru dan dapat juga menyerang organ tubuh lain (Laban, 2008).

1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. World. Health Organization (WHO) dalam Annual report on global TB

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. tanah lembab dan tidak adanya sinar matahari (Corwin, 2009).

BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium tuberculosis, dengan gejala klinis seperti batuk 2

BAB I PENDAHULUAN. batang (basil) yang dikenal dengan nama Mycobacterium tuberculosis, yang sebagian besar

BAB I PENDAHULUAN. perhatian khusus di kalangan masyarakat. Menurut World Health Organization

BAB I PENDAHULUAN. dari golongan penyakit infeksi. Pemutusan rantai penularan dilakukan. masa pengobatan dalam rangka mengurangi bahkan kalau dapat


BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. secara global masih menjadi isu kesehatan global di semua Negara (Dave et al, 2009).

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat di dunia, terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. paru yang disebabkan oleh basil TBC. Penyakit paru paru ini sangat

BAB 1 PENDAHULUAN. disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis. Penyakit ini tergolong

BAB 1 PENDAHULUAN. kadang-kadang juga berhenti minum obat sebelum masa pengobatan selesai,

Identifikasi Faktor Resiko 1

BAB 1 PENDAHULUAN. untuk mencapai kualitas hidup seluruh penduduk yang lebih baik. Oleh banyak

BAB 1 PENDAHULUAN. menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya (World

I. PENDAHULUAN. Penyakit Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang sudah ada sejak zaman purbakala. Hal ini terbukti dari penemuan-penemuan kuno seperti sisa-sisa tulang belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. yang terbaru (2010), masih menempatkan Indonesia sebagai negara dengan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat di dunia walaupun upaya pengendalian dengan strategi Directly

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh

UKDW BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian. Tuberkulosis paru adalah suatu infeksi kronik disebabkan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. penyakit di seluruh dunia, setelah Human Immunodeficiency Virus (HIV). negatif dan 0,3 juta TB-HIV Positif) (WHO, 2013)

BAB I PENDAHULUAN. tersebut terdapat di negara-negara berkembang dan 75% penderita TB Paru adalah

BAB I PENDAHULUAN. sering ditemukan pada usia muda atau usia produktif yaitu tahun,

BAB I PENDAHULUAN. global.tuberkulosis sebagai peringkat kedua yang menyebabkan kematian dari

I. PENDAHULUAN. Mycobacterium tuberculosis. Menurut World Health Organization (WHO)

BAB I PENDAHULUAN. penyakit yang disebabkan oleh sejenis mikroba atau jasad renik. Mikroba ini

PENGARUH KOINSIDENSI DIABETES MELITUS TERHADAP LAMA PENGOBATAN PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan dapat menyerang berbagai organ

BAB I PENDAHULUAN UKDW. bakteri Mycobacterium Tuberculosis atau tubercel bacillus dan dapat

BAB I PENDAHULUAN. infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat menyebar. dan HIV/AIDS, Tuberkulosis menjadi salah satu penyakit yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan penting di masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium Tuberculosis, sejenis bakteri berbentuk batang (basil) tahan asam

BAB I PENDAHULUAN. infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia. Tuberculosis menyebabkan 5000 kematian perhari atau hampir 2 juta

BAB I PENDAHULUAN. setelah melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan. kepada orang lain (Adnani & Mahastuti, 2006).

BAB 1 PENDAHULUAN. Kegiatan penanggulangan Tuberkulosis (TB), khususnya TB Paru di

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB 1 PENDAHULUAN. Millenium Development Goals (MDGs) merupakan agenda serius untuk

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan di seluruh dunia. Sampai tahun 2011 tercatat 9 juta kasus baru

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan kesehatan yang baik dan berkeadilan, sebagaimana diatur dalam Undang-undang

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh bakteri dari

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penghentian pengobatan sebelum waktunya (drop out) di Indonesia merupakan faktor terbesar dalam kegagalan pengobatan penderita tuberkulosis yang besarnya 50%. Drop out adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat selama 2 bulan atau lebih dengan BTA positif. Masalah yang timbul oleh drop out tuberkulosis adalah penyakit akan sulit disembuhkan, kuman tuberkulosis mengalami kekebalan sehingga berdampak pada pengobatan yang lebih lama dan mahal tentunya, karena butuh obat yang lebih kuat dosisnya dari biasanya, Penderita juga beresiko menularkan pada orang lain yang belum terinfeksi (Kusumo, 2010). Pasien tuberkulosis dapat mengalami resistensi obat hal ini disebabkan karena pengobatan tidak sempurna, putus berobat, atau karena kombinasi obat anti tuberkulosis yang tidak adekuat (Mukhsin, 2006). Tuberkulosis paru (TB Paru) adalah suatu penyakit infeksi kronik yang sudah sangat lama dikenal pada manusia, dibuktikan dengan adanya penemuan kerusakan tulang veterbra torak yang khas dari kerangka yang di gali Heidelberg dari kuburan zaman neolitikum. Fosil tulang tersebut menunjukan adanya Pott s disease / abses paru yang berasal dari tuberkulosis. begitu juga penemuan yang berasal dari mumi dan ukiran dinding piramid di mesir kuno pada tahun 2000-4000 SM, terdapatnya

2 lukisan orang-orang dengan bongkok tulang belakang karena sakit spondilitis TB. Baru dalam tahun 1882 Robert Koch menemukan kuman penyebab TB, semacam bakteri berbentuk batang dan dari sinilah diagnosis secara mikrobiologis dimulai dan penatalaksanaanya lebih terarah. Apalagi pada tahun 1896 Rontgen menemukan sinar X sebagai alat bantu menegakan diagnosis lebih tepat (Sudoyo dkk, 2009). World Health Organization (WHO) Menyatakan tuberkulosis sebagai global health emergency. Tuberkulosis dianggap sebagai masalah kesehatan dunia yang penting karena kurang lebih 1/3 penduduk dunia terinfeksi oleh mycobacterium tuberculosis dan diperkirakan ada 9 Juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB di seluruh dunia. Diperkirakan 95% Kasus TB dan 98% Kematian akibat TB di dunia, terjadi pada negara-negara berkembang (Sudoyo dkk, 2009). Pada tahun 2011, diperkirakan terdapat 8,7 juta kasus insiden TB secara global, setara dengan 125 kasus per 100.000 penduduk. Sebagian besar dari perkiraan jumlah kasus pada tahun 2011 terjadi di Asia (59%) dan Afrika (26%). Proporsi kecil dari kasus terjadi di wilayah Mediterania Timur (7,7%), wilayah Eropa (4,3%) dan daerah Amerika (3%) (Anonim, 2012). Tuberkulosis paru adalah penyakit yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis (Tabrani, 2010). Target dari millenium development goals pada tahun 2015 salah satunya adalah menghentikan penyebaran penyakit tuberkulosis di 22 negara dengan angka kejadian

3 penyakit tuberkulosis yang tinggi dan Indonesia merupakan salah satu negara yang masuk dalam 22 negara tersebut (Anonim, 2012). Frekuensi penyakit TB paru di Indonesia masih tinggi Indonesia menduduki urutan ke-3 di dunia setelah India dan Cina. Diperkirakan jumlah pasien TB paru di Indonesia sekitar 10 % dari total jumlah pasien TB paru di dunia (Icksan dan Luhur, 2008) Kondisi saat ini jumlah kasus TB Per 100.000 penduduk adalah 235 kasus (Kemenkes RI, 2011). Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2010). Memaparkan bahwa ada 28 propinsi yang belum dapat mencapai angka (CDR). Beberapa propinsi yang diantaranya mempunyai angka prevalensi di atas angka Nasional yaitu propinsi : Nangro aceh darusalam, Sumatra Barat, Riau, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, Banten, Gorontalo, NTB, NTT, Papua Barat. Jawa Tengah termasuk propinsi yang masih tinggi kasus tuberkulosinya. Data dari buku profil kesehatan Banyumas (Dinkes Banyumas, 2013) Pada tahun 2013 kasus tuberkulosis paru di Banyumas mencapai 3.131 jumlah ini meningkat dibandingkan kasus tahun 2012 sebanyak 1249, jumlah tersebut adalah data dari Puskesmas dan Rumah Sakit di Banyumas, Prevalensi TB paru tahun 2013 di Banyumas mencapai 160 per 100.000 penduduk, prevalensi ini meningkat di bandingkan tahun 2012 yang hanya 64 per 100.000 penduduk.

4 Drop out pada penderita tuberkulosis paru merupakan permasalahan yang cukup serius karena memiliki dampak negatif terhadap individu, masyarakat. Memang angka drop out tidak di munculkan dalam buku profil tahunan dinas kesehatan Banyumas, angka drop out hanya bisa di temukan langsung di tempat pelayanan baik di Puskesmas, Rumah sakit, maupun Klinik penanganan TB paru. Hampir 98% puskesmas di Indonesia terlibat dalam penanggulangan tuberkulosis paru di tingkat Kecamatan. hal ini menunjukan bahwa tingkat keberhasilan pengobatan tuberkulosis paru akan sangat dipengaruhi oleh Puskesmas. Menurut data profil kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota Banyumas tahun 2013, Puskesmas Jatilawang termasuk wilayah dengan jumlah pasien TB Paru terbanyak setelah Puskesmas Kembaran II Hasil survey pendahuluan pada 27 Oktober 2014 terhadap petugas penanggulangan TB di Puskesmas Jatilawang diperoleh data bahwa ada 32 orang yang drop out atau sekitar 43,83 % selama tahun 2013-2014. Angka drop out tidak boleh lebih dari 3% dari angka yang di tetapkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Hasil wawancara dan observasi dengan pengambilan sampel sebanyak 6 pasien TB paru di desa Gunungwetan Kecamatan Jatilawang Kabupaten Banyumas. Bahwa pasien TB paru 3 (50%) diantaranya kurang pengetahuan tentang penyakit TB paru dan mereka mengaku bahwa TB paru adalah penyakit biasa, 3 (50%) diantaranya mereka mengalami efek samping obat, mereka mengaku kalau habis minum obat tubuh menjadi

5 gatal dan kulit terlihat kemerahan, bahkan ada yang pusing kemudian mual dan muntah. Berdasarkan masalah tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi berhentinya pengobatan (drop out) pada penderita tuberkulosis paru di puskesmas Jatilawang Kabupaten Banyumas. B. Rumusan Masalah Melihat uraian di atas, maka dapat di rumuskan masalah pada penelitian ini yaitu : Apa sajakah faktor-faktor yang mempengaruhi berhentinya pengobatan (drop out) pada penderita tuberkulosis paru di puskesmas Jatilawang kabupaten Banyumas. C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum: Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi berhentinya pengobatan (drop out) pada penderita tuberkulosis paru di puskesmas Jatilawang kabupaten Banyumas. 2. Tujuan Khusus: a) Mengetahui gambaran karakteristik responden. b) Mengetahui gambaran pengetahuan penderita tentang penyakit TB c) Mengetahui gambaran keberadaan PMO terhadap kejadian drop out. d) Mengetahui gambaran efek samping obat terhadap kejadian drop out.

6 e) Mengetahui gambaran biaya ke puskesmas terhadap kejadian drop out. f) Mengetahui gambaran tingkat pendidikan pasien terhadap kejadian drop out. g) Mengetahui gambaran jarak ke tempat pelayanan kesehatan terhadap kejadian drop out D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti Dapat menambah wawasan, pengetahuan, serta pemahaman tentang ketrampilan menulis karya ilmiah, serta menganalisis permasalahan dan memecahkan masalah tentang faktor-faktor yang mepengaruhi drop out pada penderita tuberkulosis paru. 2. Bagi Responden Hasil penelitiaan ini di harapkan bisa menjadi masukan dan informasi yang benar tentang tuberkulosis dan faktor-faktor drop out, terutama bagi penderita supaya mereka tidak drop out dari pengobatan. 3. Bagi Institusi Pendidikan Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan bacaan dan kajian pustaka yang lebih mendalam untuk penelitian selanjutnya.

7 E. Penelitian terkait 1. Randy (2013) dengan judul : Studi kualitatif faktor yang melatar belakangi drop out pengobatan tuberkulosis paru di balai pengobatan penyakit paru-paru (BP4) Tegal, Variabel bebas penelitian randy adalah Motivasi, dukungan keluarga, presepsi penderita jika melakukan pengobatan, lama pengobatan melatarbelakangi drop out, Perbedaan penelitian ini adalah pada pendekatan desainya, Penelitian Randy menggunakan pendekatan kualitatif adapun penelitian ini menggunakan desain kuantitatif. Desain penelitian randy exploratory research, sedangkang desain penelitian ini adalah deskriptif. 2. Sholikhah, Listyorini (2011) melakukan penelitian dengan judul Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Mutu Pelayanan Kesehatan Terhadap Kepatuhan Minum Obat Penderita Tuberkulosis Paru di Puskesmas Gatak. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian survey analitik dengan menghubungkan antara mutu pelayanan kesehatan terhadap kepatuhan minum obat dengan rancangan cross sectional. Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel probability sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini 40 responden. Analisis menggunakan Uji Kolmogorov Smirnov. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan terhadap kepatuhan minum obat penderita TB Paru di Puskesmas Gatak (p value=0,000<0,05). Tidak ada hubungan antara mutu pelayanan kesehatan terhadap kepatuhan minum obat penderita

8 TB Paru di Puskesmas Gatak (p value=0,498>0,05). Perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian ini menggunakan teknik Total sampling yaitu mengambil sejumlah 32 penderita TB Paru yang drop out dan tidak menghubungkan antar variabel hanyya mencari gambaranya saja. 3. Erawatyningsih (2009) dengan judul : Faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan berobat pada penderita tuberkulosis paru, pada penelitian Erni menggunakan case control sebagai pendekatanya, variabel yang diambil adalah pengetahuan tingkat pendidikan dan kualitas pelayanan, Adapun penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif. Faktor dominan penyebab drop out dalam penelitian Erni adalah faktor tingkat pendidikan P<0.05 untuk itu peneliti ingin mengetahui gambaran hasil ini dengan memasukan pendidikan sebagai salah satu faktor drop out tuberkulosis.