Kata Kunci: Merokok, Kepadatan Hunian, Ventilai, TB Paru

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis atau sering disebut dengan istilah TBC merupakan penyakit

* Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado

I. PENDAHULUAN. Mycobacterium tuberculosis. Menurut World Health Organization (WHO)

FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS (TBC) PADA KELOMPOK USIA PRODUKTIF DI KECAMATAN KARANGANYAR, DEMAK

BAB I PENDAHULUAN. Menurut laporan World Health Organitation tahun 2014, kasus penularan

Sri Marisya Setiarni, Adi Heru Sutomo, Widodo Hariyono Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta

BAB I PENDAHULUAN. masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. (laki-laki, perempuan, tua, muda, miskin, kaya, dan sebagainya) (Misnadiarly,

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

SKRIPSI. Penelitian Keperawatan Komunitas

BAB 1 PENDAHULUAN. bertambah, sedangkan insiden penyakit menular masih tinggi. Salah satu penyakit

ANALISA DETERMINAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYAKIT TUBERKULOSIS (TBC) DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO

BAB I PENDAHULUAN. di kenal oleh masyarakat. Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium

BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium Tuberculosis dan paling sering menginfeksi bagian paru-paru.

BAB I PENDAHULUAN. Asam) positif yang sangat berpotensi menularkan penyakit ini (Depkes RI, Laporan tahunan WHO (World Health Organitation) tahun 2003

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. karena penularannya mudah dan cepat, juga membutuhkan waktu yang lama

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. World. Health Organization (WHO) dalam Annual report on global TB

BAB 1 PENDAHULUAN. Tuberkulosis atau TB merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh

KARAKTERISTIK PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS TUMINTING MANADO

ESTIMATE OF RISK FACTORS AND THE PHYSICAL ENVIRONMENT TO THE BEHAVIORS OF TUBERCULOSIS INCIDENCE IN THE WORKING AREA OF SIDRAP

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi

BAB 1 PENDAHULUAN. oleh Mycobacterium tuberculosis dan bagaimana infeksi tuberkulosis (TB)

BAB I PENDAHULUAN. mencanangkan TB sebagai kegawatan dunia (Global Emergency), terutama

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat di dunia walaupun upaya pengendalian dengan strategi Directly

BAB I PENDAHULUAN. penyakit di seluruh dunia, setelah Human Immunodeficiency Virus (HIV). negatif dan 0,3 juta TB-HIV Positif) (WHO, 2013)

SKRIPSI ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PADA ANAK DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA

ANALISA FAKTOR RISIKO LINGKUNGAN TERHADAP KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU Dhilah Harfadhilah* Nur Nasry Noor** I Nyoman Sunarka***

BAB I PENDAHULUAN. oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (Alsagaff,H, 2006). Penyakit ini juga

BAB 1 PENDAHULUAN. Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular yang menjadi masalah

BAB 1 : PENDAHULUAN. tertinggi di antara negara-negara di Asia. HIV dinyatakan sebagai epidemik

FAKTOR RISIKO KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TUMINTING Lindy Agraini Patiro*, Wulan P.J Kaunang*, Nancy S.

BAB 1 : PENDAHULUAN. tahun 2013 terjadi kenaikan jumlah kasus terinfeksi kuman TB sebesar 0,6 % pada tahun

BAB 1 PENDAHULUAN. Tuberkulosis atau TB (singkatan yang sekarang ditinggalkan adalah TBC)

BAB I PENDAHULUAN. penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Penyakit ini

HUBUNGAN ANTARA KONDISI RUMAH DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS KISMANTORO KABUPATEN WONOGIRI PUBLIKASI ILMIAH

Kata kunci: Status Tempat Tinggal, Tempat Perindukkan Nyamuk, DBD, Kota Manado

BAB I PENDAHULUAN.

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit TB paru merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado. Kata kunci: Tingkat Pendidikan, Kontak Serumah, Kejadian Tuberkulosis Paru

BAB 1 PENDAHULUAN. nasional dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan serta ditujukan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 : PENDAHULUAN. satu di dunia. Data World Health Organization (WHO) tahun 2014 menunjukkan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular langsung yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Berdasarkan laporan WHO (World Health Organisation) pada tahun 2014,

BAB I PENDAHULUAN UKDW. bakteri Mycobacterium Tuberculosis atau tubercel bacillus dan dapat

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado. Kata kunci: Status Tempat Tinggal, Tempat Perindukkan Nyamuk, DBD

Kata Kunci : Kelambu, Anti Nyamuk, Kebiasaan Keluar Malam, Malaria

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR RISIKO KEJADIAN TUBERKULOSIS MULTIDRUG RESISTANT

BAB I PENDAHULUAN. infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia. Tuberculosis menyebabkan 5000 kematian perhari atau hampir 2 juta

HUBUNGAN ANTARA KELEMBABAN, PENCAHAYAAN, DAN KEPADATAN HUNIAN DALAM RUMAH DENGAN KEJADIAN TB PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TIKALA BARU KOTA MANADO

BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium tuberculosis, dengan gejala klinis seperti batuk 2

ANALISIS FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYAKIT TUBERKULOSIS PADA PASIEN DENGAN REGRESI LOGISTIK MULTINOMIAL

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

BAB I PENDAHULUAN. (Thomas, 2004). Ada beberapa klasifikasi utama patogen yang dapat

BAB I PENDAHULUAN. perhatian khusus di kalangan masyarakat. Menurut World Health Organization

HUBUNGAN PERILAKU DAN KONDISI LINGKUNGAN FISIK RUMAH DENGAN KEJADIAN TB PARU DI KOTA BIMA PROVINSI NTB

BAB I PENDAHULUAN. ditemukannya kuman penyebab tuberkulosis oleh Robert Koch tahun 1882

BAB 1 PENDAHULUAN. tergantung pada potensi biologinya. Tingkat tercapainya potensi biologi seorang

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Pneumonia adalah penyakit batuk pilek disertai nafas sesak atau nafas cepat,

BAB I PENDAHULUAN UKDW. kesehatan masyarakat yang penting di dunia ini. Pada tahun 1992 World Health

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Indonesia saat ini berada pada ranking kelima negara

DELI LILIA Dosen Program Studi S.1 Kesehatan Masyarakat STIKES Al-Ma arif Baturaja ABSTRAK

BAB 1 PENDAHULUAN. disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini sering

HUBUNGAN ANTARA RIWAYAT KONTAK, KELEMBABAN, PENCAHAYAAN, DAN KEPADATAN HUNIAN DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU PADA ANAK DI KABUPATEN SUKOHARJO

HUBUNGAN PERILAKU DENGAN KEJADIAN PENYAKIT TB PARU DIDESA WORI KECAMATAN WORI KABUPATEN MINAHASA UTARA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


BAB III METODE PENELITIAN

BAB 1 : PENDAHULUAN. dalam kehidupannya. Millenium Development Goal Indicators merupakan upaya

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh

GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PENDERITA TENTANG PENULARAN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS TANRUTEDONG KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG

BAB I PENDAHULUAN. TB (Mycobacterium Tuberculosis) (Depkes RI, 2011). Mycobacrterium tuberculosis

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi kronis yang masih menjadi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. berobat dan putus berobat selama 2 bulan atau lebih dengan BTA positif.

HUBUNGAN KARAKTERISTIK RUMAH DENGAN KEJADIAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS SIMPANG KIRI KOTA SUBULUSSALAM TAHUN 2012

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit paling mematikan di

Kata kunci : Malaria, penggunaan anti nyamuk, penggunaan kelambu, kebiasaan keluar malam

HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN MEROKOK ANGGOTA KELUARGA DAN PENGGUNAAN ANTI NYAMUK BAKAR DENGAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI PUSKESMAS KOLONGAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Faktor risiko..., Helda Suarni, FKM UI, 2009 Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. paru yang disebabkan oleh basil TBC. Penyakit paru paru ini sangat

SUMMARY GAMBARAN KARAKTERISTIK PENDERITA TBC PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PAGIMANA KECAMATAN PAGIMANA KABUPATEN BANGGAI TAHUN 2012

BAB I PENDAHULUAN. batang (basil) yang dikenal dengan nama Mycobacterium tuberculosis, yang sebagian besar

BAB 1 PENDAHULUAN. yang dikategorikan high burden countries. Kasus baru Tuberkulosis di dunia

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. dunia. Menurut data World Health Organization (WHO) bahwa kurang lebih 3

I. PENDAHULUAN. secara global masih menjadi isu kesehatan global di semua Negara (Dave et al, 2009).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Mycobacterium tuberculosis. Penyakit menular Tuberkulosis masih menjadi

Jurnal Keperawatan, Volume XII, No. 1, April 2016 ISSN HUBUNGAN LINGKUNGAN KERJA PENDERITA TB PARU TERHADAP KEJADIAN PENYAKIT TB PARU

FAKTOR RISIKO KONDISI HUNIAN TERHADAP KEJADIAN PENYAKIT KUSTA DI KOTA MAKASSAR

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Pneumonia adalah penyakit batuk pilek disertai nafas sesak atau nafas cepat,

BAB I PENDAHULUAN. jumlah kasus yang terus meningkat, terutama negara-negara yang

HUBUNGAN ANTARA KONDISI FISIK RUMAH DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TUMINTING KOTA MANADO

meningkat sampai sekurang-kurangnya mencapai usia 60 tahun. Begitu pula menurut Smith (1994) yang menyatakan bahwa di Nepal dan secara umum di

PEMETAAN KASUS TUBERKULOSIS PARU DI KECAMATAN TUMINTING TAHUN 2013

melebihi 40-70%, pencahayaan rumah secara alami atau buatan tidak dapat menerangi seluruh ruangan dan menyebabkan bakteri muncul dengan intensitas

Transkripsi:

ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN TB PARU DI RSUD MERAUKE Maria Grizella Aldehaids Malelak*, Afnal Asrifuddin*, Grace. D. Kandou* *Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi ABSTRAK Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini biasanya menyerang paru (pulmonary TBC) sehingga dikenal sebagai TBC paru. Akan tetapi basil ini dapat menyerang bagian lain selain paru paru atau disebut TBC ekstraparu. Tuberkolosis merupakan masalah kesehatan global utama yang menyebabkan kesakitan pada jutaan penduduk tiap tahunnya dan dikenal sebagai salah satu penyakit menular penyebab kematian yang menempati urutan kedua di dunia setelah HIV. Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik dengan rancangan case control bulan Maret Juli 2017. Jumlah sampel yang digunakan yaitu 50 kasus dan 50 kontrol. Nilai OR merokok yang didapat yaitu OR= 10,21 dimana nilai OR > 1 yang berarti bahwa merokok merupakan faktor risiko dari kejadian TB Paru. Dimana responden yang mempunyai kebiasaan merokok berisiko 10,12 kali terkena TB Paru dibandingkan responden yang tidak merokok. Nilai CI = 3,647-28,119 dimana nilai CI tidak mencakup nilai 1 maka secara statistik nilai CI bermakna. Nilai kepadatan hunian yang didapat yaitu OR = 4,69 dimana nilai OR > 1 yang berarti bahwa kepadatan hunian merupakan faktor risiko kejadian TB Paru. Dimana responden yang memiliki kepadatan hunian yang padat mempunyai risiko 4,69 kali terkena TB Paru dibandingkan dengan responden yang kepadatan huniannya tidak padat. Nilai CI = 1,931 11,418 dimana nilai CI tidak mencakup nilai 1 maka secara statistik nilai CI bermakna. Nilai ventilasi yang didapat yaitu OR = 1,385 dimana OR > 1 ini berarti ventilasi merupakan faktor risiko terhadap kejadian TB Paru. Dimana responden yang memiliki ventilasi yang tidak memenuhi syarat mempunyai risiko 1,385 kali terkena TB Paru dibandingkan dengan responden yang ventilasinya memenuhi syarat.nilai CI = 0,627 3,058 maka nilai CI mencakup nilai 1 secara statistik nilai CI tidak bermakna. Kebiasaan merokok merupakan faktor risiko dari kejadian TB Paru. Kepadatan hunian merupakan faktor risiko kejadian TB Paru. Dan ventilasi merupakan faktor protektif terhadap kejadian TB Paru. Kata Kunci: Merokok, Kepadatan Hunian, Ventilai, TB Paru ABSTRAK Tuberculosis is an infectious can cause by bacteria mycobacterium tuberculosis. These bacteria usually attack the lung s (pulmonary TBC) so usually knowas the lung s TBC. However basil can attack the another lung s, or we can sayekstraparu TBC. Tubercolosis is the problem of the global healthy, are deemed to cause pain on millions of people every year and is now as one of the infectious disease cause of death was second in the world after HIV. This research is a research survey analitic withthe case control in March July months. The number of the samples used that is 50 case and 50 control. The OR to smoke in a boy that is OR = 10,21 bwhere the value of OR > 1 it is mean that smoking is a contributing factor to the risk of pulmonary tubercolosis where s respondets who have a habit of smoking are at risk of 10,21, times of pulmonary tubercolosis compareol with respondents who do not smoke. The number CI = 3,647 28,119 where is the value of CI not include the value of 1 and then the statistics of the CI. The number ventilasi that have is OR = 1,385 Where the factor risk to TB lung s where s respondents who have the vent is not qualified have a risk 1,385 time of pulmonary tubercolosis in comparing whith of respondent s qualified. The number CI = 0,627-3,058 than the CI is meaningless. Smoking is a risk factor of pulmonary tubercolosis that density of the risk pulmonary TB, and vent the protective of the incidence of pulmonary tubercolosis. Where the number CI not include to the value one that s mean the number CI have meaning. The number ventilasi that have is OR = 1,385 wher the OR > 1 that s mean ventilasi it s the factor risk to TB lung s. Where s respondent who have the vent is not qualified have a risk 1,385 time of pilmonary tubercolosis in comparing with of respondent qualified. The density of in a box that is OR = 4,69, where the value of OR > 1 who means that the density of the risk factors of pulmonary tubercolosis. Where s respondent who has a dencity of occupancy a soud has the risk of 4,69 times of pulmonary tubercolosis is comparring with respondent the density of it aren t solid. The number CI = 1,931 11,418 the vent is not qualified have a risk 1,385 time of pulmonary tubercolosis in comparing with of respondent s qualified. The number CI = 0,627 3,058 then the CI include the value of 1 in the statistics of the CI is meaningless. Smoking is a risk factor of pulmonary tubercolosis. The density of the risk of pulmonary tubercolosis and ventilation is a risk factor of pulmonary tubercolosis. Kata Kunci: Smoking, the density, Ventilation Tubercolosis Lung 1

PENDAHULUAN Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit infeksi akibat dari bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini cenderung menyerang paru (pulmonary TBC), kita mengenalnya dengan sebutan TBC paru. Meski begitu bakteri ini juga dapat menyerang bagian lain selain paruparu atau sering disebut TBC ekstraparu (extrapulmonary TBC). Tuberkolosis merupakan masalah kesehatan di dunia yang dapat menyebabkan kesakitan pada jutaan penduduk setiap tahunnya. TBC masuk di dalam urutan kedua di dunia setelah HIV sebagai penyakit menular yang dapat menyebabkan kematian. WHO mencatat pada tahun 2014 terdapat 9,6 juta kasus TBC baru dan 1,5 juta kematian akibat TBC. Hal ini sama artinya dengan terdapat 174 kasus TB per 100.000 populasi. Terjadi peningkatan angka estimasi prevalensi kasus TBC jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang memiliki angka estimasi sebasar 126 kasus TBC per 100.000 penduduk. Lebih dari setengah (58%) kasus tuberkulosis secara global berada di Benua Asia utamanya Asia Tenggara dan Pasifik Barat (WHO, 2014). Indonesia merupakan negara pertama di negara-negara dengan beban TB yang tinggi di wilayah Asia Tenggara yang berhasil mencapai target Millenium Development Goals (MDGs) untuk TB pada tahun 2006, yaitu 70% penemuan kasus baru BTA positif dan 85% kesembuhan. Saat ini Indonesia telah turun dari urutan ketiga menjadi urutan kelima negara dengan beban TB tertinggi di dunia. Indonesia sekarang berada pada ranking kelima negara dengan beban TB tertinggi di dunia. Estimasi prevalensi TB semua kasus adalah sebesar 660,000, dan estimasi insidensi berjumlah 430,000 kasus baru per tahun. Jumlah kematian akibat TB diperkirakan 61,000 kematian per tahunnya (Kemenkes RI, 2011). Menurut data profil Dinas Kesehatan Kota Merauke Tahun 2015, RSUD Merauke merupakan salah satu RSUD yang memiliki penanganan penyakit Tuberkulosis Paru terbesar dengan jumlah kasus baru 405 kasus dari jumlah penduduk 246.852 penduduk, dan pada tahun 2016 mengalami peningkatan yaitu sebesar 587 kasus. Angka kejadian Tuberkulosis ini berada pada urutan pertama dari 3 Rumah Sakit di Kota Merauke (Dinkes Merauke 2015). Berdasarkan data Rumah Sakit Umum Merauke di tahun 2015, terdapat 405 kasus Tuberkulosis Paru pada bulan Januari 2015 sampai dengan bulan Desember 2015. Pada bulan Januari 2016 sampai dengan bulan Desember 2016 terdapat 587 kasus Tuberkulosis Paru, dimana pada triwulan I terdapat 202 kasus, triwulan II terdapat 122 kasus, triwulan III 150 kasus, dan triwulan IV terdapat 113 kasus (RSUD Merauke, 2015). 2

METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik dengan rancangan case control, yaitu suatu penelitian (survei) analitik yang menyangkut bagaimana faktor risiko dipelajari dengan menggunakan pendekatan retrospective, dimana efek didentifikasi saat ini, kemudian faktor risiko diidentifikasi ada pada waktu yang lalu (Notoatmodjo, 2012). Penelitian ini dilaksanakan di RSUD Merauke pada bulan Maret Juli 2017. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh pasien TB paru yang berkunjung ke RSUD Merauke. Sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampel (total sampling) dan kemudian dibagi menjadi 2 bagian: 1. Sampel Kasus Pasien TB Paru BTA (+) yang berkunjung ke RSUD Merauke sebanyak 50 orang dengan matching umur. 2. Sampel Kontrol Pasien yang tidak menderita TB Paru dan tidak ada riwayat pernah didiagnosis tertular kuman tuberkolosis, berkunjung ke RSUD Merauke sebanyak 50 orang dengan matching umur. Pada penelitian ini menggunakan perhitungan Odds Rasio (OR) yaitu penilaian yang digunakan untuk melihat seberapa sering terdapat paparan kasus dibandingkan dengan kelompok kontrol. Pengambilan sampel berdasarkan kriteria inklusi dan eklusi. Analisis data pada penelitian ini yaitu analisis univariat yang merupakan analisis deskriptif yang digunakan untuk satu variable guna mendapatkan gambaran tentang frekuensi variable penelitian. Variabel penelitian ini meliputi merokok kepadatan hunian, ventilasi. Analisis bivariat yaitu digunakan untuk menjelaskan besar risiko dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Analisis bivariat pada penelitian ini dengan menggunakan perhitungan Odds Rasio (OR) yaitu penilaian yang digunakan untuk melihat seberapa sering terdapat pada paparan kasus dibandingkan dengan kelompok kontrol. OR menunjukan besarnya peran faktor resiko yang diteliti dengan kejadian penyakit. HASIL PENELITIAN Dari hasil penelitian yang didapat, responden kelompok kasus berdasarkan umur dengan kelompok umur terbanyak 15-30 tahun, yaitu 31 orang (62%) dan 19 orang (38% ) pada kelompok usia 31-65 tahun, Sedangkan distribusi kelompok kontrol berdasarkan umur dimana terdapat 17 orang (34%) pada kelompok umur 15-30 tahun dan 33 orang (66%) pada kelompok umur 31-65 tahun. Responden kelompok kasus berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 30 orang (60%) dan paling responden berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 20 orang (40%), sedangkan pada kelompok kontrol menunjukkan bahwa paling banyak responden berjenis kelamin perempuan 3

yaitu sebanyak 28 orang (56% ) dan paling sedikit responden berjenis kelamin lakilaki yaitu sebanyak 22 orang (44%). Responden kelompok kasus memiliki status pendidikan SMA yaitu sebanyak 18 responden (36% ) dan paling sedikit responden memiliki status pendidikan Perguruan Tinggi yaitu sebanyak 8 responden (16%), sedangkan responden kelompok kontrol memiliki status pendidikan SMA yaitu sebanyak 30 responden (60%) dan paling sedikit responden memiliki status pendidikan SD yaitu sebanyak 4 responden (8% ). Responden kelompok kasus yang memiliki status pekerjaan Tidak Bekerja yaitu sebanyak 18 responden (36% ) dan paling sedikit responden yang bekerja sebagai Buruh yaitu sebanyak 3 responden (6%), sedangkan responden kelompok kontrol yang memiliki status pekerjaan PNS/TNI/POLRI yaitu sebanyak 20 responden (40%) dan paling sedikit responden yang bekerja sebagai Swasta dan Buruh yaitu sebanyak 1 responden (2%). Berdasarkan hasil karakteristik subjek penelitian dilihat dari kebiasaan merokok, hasilnya dapat dilihat dari tabel 1. Tabel 1. Hasil distribusi berdasarkan kebiasaan merokok Merokok Kasus Kontrol n % n % Ya 43 86 21 42 Tidak 6 12 29 58 Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa responden kelompok kasus yang merokok yaitu sebanyak 43 responden (86%) dan paling sedikit responden yang tidak merokok yaitu sebanyak 12 responden (6%), sedangkan responden kelompok kontrol yang tidak merokok yaitu sebanyak 29 responden (58%) dan paling sedikit responden yang merokok yaitu sebanyak 21 responden (42%). Berdasarkan hasil karakteristik subjek penelitian dilihat dari kepadatan hunian, hasilnya dapat dilihat dari tabel 2. Tabel 2. Hasil distribusi berdasarkan kepadatan hunian Kepadatan Kasus Kontrol Hunian n % n % Padat 27 54 10 20 Tidak 23 46 40 80 Berdasarkan tabel 2, menunjukan kepadatan hunian pada kelompok kasus yang padat yaitu sebanyak 27 responden (54%) dan paling sedikit kepadatan hunian yg tidak padat yaitu sebanyak 23 responden (56%), sedangkan pada kelompok kontrol kepadatan hunian yang tidak padat paling yaitu sebanyak 40 responden (80%) dan paling sedikit kepadatan hunian yang padat yaitu sebanyak 13 responden (26%). Berdasarkan hasil karakteristik subjek penelitian dilihat dari ventilasi, hasilnya dapat dilihat dari tabel 3. 4

Tabel 3. Hasil distribusi berdasarkan ventilasi Ventilasi Kasus Kontrol n % n % Tidak 24 48 20 40 Memenuhi 26 52 30 60 Dari tabel 3 di atas, menunjukan bahwa pada responden kelompok kasus ventilasi yang tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 24 responden (48% ) dan paling sedikit memenuhi syarat yaitu sebanyak Kepadatan Hunian Padat TB Paru Kasus 26 responden (52%), sedangkan pada responden kelompok kontrol menunjukan bahwa paling banyak memenuhi syarat yaitu sebanyak 30 responden (60%) dan paling sedikit tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 20 responden (40%). Berdasarkan hasil penelitian tentang faktor resiko kebiasaan merokok dengan kejadian tuberkolosis paru, hasilnya dapat dilihat pada tabel 4. Kontrol n % n % 27 54 10 20 Tidak 23 46 40 80 OR 4,69 Tabel 4. Faktor resiko kebiasaan merokok dengan kejadian tuberkolosis paru 95% CI 1,931-11,418 Berdasarkan tabel 4, hasilnya menunjukan bahwa pada kelompok kasus yang merokok ada sebanyak 43 responden dan yang tidak merokok sebanyak 6 responden, sedangkan pada kelompok kontrol yang merokok sebanyak 21 responden dan yang tidak merokok sebanyak 29 reponden. Nilai OR = 10,21 dimana nilai OR > 1 yang berarti bahwa merokok merupakan faktor risiko dari kejadian TB Paru. Dimana responden yang mempunyai kebiasaan merokok berisiko 10,12 kali terkena TB Paru dibandingkan responden yang tidak merokok. Nilai CI = 3,647-28,119 dimana nilai CI tidak mencakup nilai 1 maka secara statistik nilai CI bermakna. Berdasarkan hasil penelitian tentang faktor resiko kepadatan hunian dengan kejadian tuberkolosis paru, hasilnya dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5. Faktor resiko kepadatan hunian dengan kejadian tuberkolosis paru Berdasarkan tabel 5, hasil di atas menunjukan bahwa pada kelompok kasus responden yang mempunyai kepadatan hunian yang padat sebesar 27 responden (54%) dan responden yang kepadatan hunian yang tidak padat sebesar 23 Merokok TB Paru Kasus Kontrol n % N % OR Ya 43 86 21 42 10,21 Tidak 6 12 29 58 95%CI 3,647-28,119 responden (46%),sedangkan pada kelompok kontrol responden yang mempunyai kepadatan hunian yang padat sebanyak 10 responden (20%) dan responden yang kepadatan hunian yang tidak padat sebanyak 40 responden (80%). Nilai OR = 4,69 dimana nilai OR > 1 yang 5

berarti bahwa kepadatan hunian merupakan faktor risiko kejadian TB Paru. Dimana responden yang memiliki kepadatan hunian yang padat mempunyai risiko 4,69 kali terkena TB Paru dibandingkan dengan responden yang kepadatan huniannya tidak padat. Nilai CI = 1,931 11,418 dimana nilai CI tidak mencakup nilai 1 maka secara statistik nilai CI bermakna. Berdasarkan hasil penelitian tentang faktor resiko ventilasi dengan kejadian tuberkolosis paru, hasilnya dapat dilihat pada tabel 6. Tabel 6. Faktor resiko ventilasi dengan kejadian tuberkolosis paru Berdasarkan tabel 6, hasi di atas menunjukan bahwa pada kelompok kelompok kasus responden yang ventilasinya tidak memenuhi syarat sebanyak 24 responden (48%) dan responden yang ventilasinya memenuhi syarat sebanyak 26 responden (52%), sedangkan pada kelompok kontrol responden yang ventilasi tidak memenuhi memenuhi syarat sebanyak 20 responden (40%) dan responden yang ventilasinya memenuhi syarat sebanyak 30 responden (60%). Nilai OR = 1,385 dimana OR > 1 ini berarti ventilasi merupakan faktor risiko terhadap kejadian TB Paru. Dimana responden yang memiliki ventilasi yang tidak memenuhi syarat mempunyai risiko 1,385 kali terkena TB Paru dibandingkan dengan responden yang ventilasinya memenuhi syarat..nilai CI = 0,627 3,058 maka nilai CI mencakup nilai 1 secara statistik nilai CI tidak bermakna. PEMBAHASAN A. Faktor Risiko Merokok Dengan Kejadian Tuberkolosis Paru Hasil analisis besar risiko merokok terhadap kejadian TB Paru di peroleh OR sebesar 10,12 artinya responden yang merokok mempunyai risiko terkena TB Paru 10,12 kali lebih besar di bandingkan responden yang tidak merokok. Karena rentang nilai pada tingkat kepercayaan (CI) = 95% dengan lower limit (batas bawah) = Ventilasi 3,64 dan upper limit (batas atas) = 28,11 dengan demikian merokok merupakan faktor risiko kejadian TB Paru di wilayah RSUD Merauke. TB Paru Kasus Kontrol n % n % Tidak 24 48 20 40 Memenuhi 26 52 30 60 OR 1,385 95% CI 0,627-3,058 Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wuaten 2010 dalam tubuh seseorang perokok yang memiliki frekuensi merokok setiap hari toksin dari kandungan asap rokok lebih cepat menumpuk dibandingkan dengan perokok yang kadang-kadang. Kebiasaan merokok juga meningkatkan risiko untuk terkena Tb paru sebanyak 2,2 kali. Dalam penelitian ini risk estimate atau OR dapat dilihat seseorang dengan kebiasaan 6

merokok berpeluang 12 kali terkena TB Paru dari pada seseorang yang tidak merokok, kandungan racun yang terdapat pada asap rokok yang di hisap setiap hari akan tertimbun dan tubuh sama sekali dalam jumlah sekecil apapun. B. Faktor Risiko Kepadatan Hunian Dengan Kejadian Tuberkolosis Paru Berdasarkan hasil yang ditemukan di lapangan ada responden yang memiliki kepadatan hunian yang tidak padat tetapi terkena TB Paru ini disebabkan karena sanitasi yang buruk sehingga terkena TB Paru. Hasil besar risiko kepadatan hunian terhadap kejadian TB Paru diperoleh nilai OR sebesar 4,69 artinya responden yang memiliki kepadatan hunian tidak memenuhi syarat atau padat mempunyai risiko terkena TB Paru 4,69 kali lebih besar dibandingkan dengan responden yang kepadatan huniannya memenuhi syarat atau tidak padat. Karena rentang nilai pada kepercayaan (CI) = 95% dengan lower limit (batas bawah) = 1,93 dan upper limit (batas atas) = 11,41 sehingga dapat disimpulakan bahwa besar risiko tersebut bermakna. Dengan demikian kepadatan hunian merupakan faktor risiko kejadian TB Paru di wilayah kerja RSUD Merauke. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Putra 2011 kondisi kepadatan hunian rumah yang tidak memenu syarat berisiko 5,95 kali tertular dari pada yang memenuhi syarat. Kepadatan hunian akan memudahkan terjadinya penularan penyakit TB Paru di dalam rumah tangga. Bila dalam satu rumah tangga terdapat satu orang penderita TB Paru aktif dan tidak diobati secara benar maka akan menginfeksi anggota keluarga terutama kelompok yang rentan seperti bayi dan balita, semakin padat hunian suatu rumah tangga maka semakin besar risiko penularan. C. Faktor Risiko Ventilasi Dengan Kejadian Paru Berdasarkan hasil yang ditemukan di lapangan ada responden yang ventilasinya memenuhi syarat tetapi terkena TB Paru ini sebabkan karena responden kontak langsung dengan penderita TB Paru misalnya responden tidur dengan penderita TB Paru. Nilai OR ventilasi yang didapatkan 1,385 ini berarti ventilasi merupakan faktor risiko terhadap kejadian TB Paru dan nilai CI = 0,627 3,058 secara statistik bermakna. Penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Bachtiar, Ibrahim, dkk (2012) di Kota Bima Propinsi NTB bahwa hubungan variabel ventilasi dengan kejadian tuberkulosis paru secara statistik tidak bermakna (p = 0,4). 7

KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Merokok merupakan faktor risiko kejadian TB Paru di wilayah RSUD Merauke. 2. Kepdatan Hunian merupakan faktor risiko kejadian TB Paru di RSUD Merauke 3. Ventilasi merupakan faktor risiko kejadian TB Paru di RSUD Merauke. SARAN 1. Bagi RSUD Merauke Disarankan kepada seluruh petugas kesehatan yang ada di RSUD Merauke khususnya dibagian promosi kesehatan dan poli TB Paru agar dapat melaksanakan tindakan promosi serta melihat kembali riwayat kontak pasien sebagai tindakan pencegahan bagi masyarakat diseluruh wilayah kerja RSUD Merauke. 2. Bagi Masyarakat Untuk masyarakat agar dapat mengurangi kebiasaan merokok untuk menjaga kesehatan paru-paru dan agar terhindar dari tuberkulosis paru. Juga agar masyarakat mengikuti program pemerintah yaitu menyelesaikan wajib belajar 12 tahun untuk meningkatkan pendidikan yang akan menambah pengetahuan dan untuk memperbaiki status sosial. 3. Bagi Institusi Menjadi penelitian pembanding apabila ingin melakukan penelitian yang sama dengan variabel atau lokasi yang berbeda dan dapat menjadi landasan penelitian untuk melakukan penelitian lanjutan. DAFTAR PUSTAKA Bachtiar, Ibrahim, dkk. 2010 Hubungan perilaku dan kondisi lingkungan fisik rumah dengan kejadian TB Paru di Kota Bima Provinsi NTB. Kesehatan Lingkungan FKM Unhas Dinas Kesehatan Kota Merauke 2015. Profil Kesehatan Kota Merauke Tahun 2015. Merauke: Dinkes Merauke Kementerian Kesehatan RI, 2011. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberku losis. Jakarta: Kemenkes RI. Putra, R, N. Hubungan Perilaku Dan Kondisi Sanitasi Rumah Dengan Kejadian Tb Paru Di Kota Solok Tahun 2011. Skripsi. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang. Rumah Sakit Umum Daerah 2015. Merauke. Data Jumlah Penyakit TB Paru di Merauke World Health Organization (WHO). 2014. Global Tuberculosis Report 2014. Switzerland. World Health Organization (WHO). 2015. Global Tuberculosis Report 2015. Switzerland. Wuaten. G. 2010 Hubungan kebiasaan merokok dengan penyakit TB Paru. 8

9