BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. masalah penelitian yang berisikan pentingnya keterampilan menulis bagi siswa

UPAYA PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBUAT KALIMAT MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD PADA SISWA KELAS V SD NEGERI I ALAFAN KABUPATEN SIMEULUE

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

I. PENDAHULUAN. Matematika merupakan salah satu bidang studi yang menduduki peranan penting

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. orang lain, memengaruhi atau dipengaruhi orang lain. Melalui bahasa, orang dapat

BAB I PENDAHULUAN. menulis (St. Y. Slamet, 2008: 57). Keterampilan menulis dan membaca

BAB I PENDAHULUAN. penting dalam perkembangan kognitif dan sosial anak. Dengan kata lain, guru memegang peranan yang strategis dalam

BAB I PENDAHULUAN. bernalar serta kemampuan memperluas wawasan. Menurut Tarigan (2008:1) ada

PENERAPAN MODEL STUDENT TEAMS-ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) DALAM PEMBELAJARAN MENULIS SURAT UNTUK TEMAN SEBAYA PADA KELAS IV SEKOLAH DASAR

KEMAMPUAN MENULIS TEKS PROSEDUR SISWA KELAS VII D SMP NEGERI 11 KOTA JAMBI. Nia Budianti, Herman Budiyono, Imam Suwardi FKIP Universitas Jambi ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. dan meningkatnya kemampuan siswa, kondisi lingkungan yang ada di. dan proaktif dalam melaksanakan tugas pembelajaran.

BAB 1. Pembelajaran Bahasa Indonesia adalah pembelajaran yang memiliki. beberapa aspek keterampilan berbahasa yang harus dicapai oleh siswa.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. siswa memahami konsep-konsep yang sulit dalam pemecahan masalah.

BAB I PENDAHULUAN. dari kehidupan sehari-hari. Tidak terlalu berlebihan jika dikatakan sejak bangun tidur

SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS. kearah yang lebih baik. Menurut Hamalik (2004:37) belajar merupakan

BAB I PENDAHULUAN. ide serta gagasan yang terdapat pada materi atau bahasa simakan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR SERI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MENULIS KARANGAN NARASI

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pengalaman dan latihan terjadi melalui interaksi antara individual dan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. Efektivitas dapat dinyatakan sebagai tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan dan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. yang tepat dan terencana dengan strategi pembelajaran yang efektif.

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan makhluk sosial yang perlu berinteraksi dengan yang lainnya.

BAB I PENDAHULUAN. dalam merangkai kata. Akan tetapi, dalam penerapannya banyak orang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Video sebenarnya berasal dari bahasa Latin, video-visual yang artinya melihat

II. TINJAUAN PUSTAKA. untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari

BAB I PENDAHULUAN. Kemampuan menulis merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia di sekolah memegang peranan penting dalam mengupayakan dan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. oleh peneliti sebelumnya yang berkaitan dengan karangan argumentasi sebagai

Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 4 No. 4 ISSN X. Maspupah SDN Inpres 1 Birobuli, Sulawesi Tengah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

MODEL PEMBELAJARAN MENULIS KARANGAN PERSUASI DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS V

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Sebelum dilaksanakan proses pembelajaran siklus I, melalui pembelajaran

KEMAMPUAN MEMPRODUKSI TEKS ANEKDOT SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 BONGOMEME

Jurnal Ilmiah Guru COPE, No. 02/Tahun XVIII/November 2014

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. penelitian ini yaitu siswa kelas X-2 dengan jumlah siswa 25 orang terdiri dari 10

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. menentukan kualitas kemampuan menulis seseorang, termasuk dalam menyusun paragraf

7,0 dengan ketuntasan klasikal 85%. Persentase siswa yang mencapai kategori terampil pada setiap aspek. psikomotor meningkat setiap siklus.

BAB I PENDAHULUAN. berbahasa yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN. sekarang ini di kenal dua macam cara berkomunikasi, yaitu komunikasi

A. Latar Belakang Masalah

BAB IV HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. individu lainnya. Menurut Wibowo (Hidayatullah, 2009), bahasa adalah sistem

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Hamalik (2001, 37) belajar adalah memperoleh. pengetahuan melalui alat indra yang disampaikan dalam bentuk perangsang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Siswa pada Mata Pelajaran IPA Kelas IV Melalui Model Pembelajaran Student

BAB I PENDAHULUAN. menerima segala pengetahuan, berita, pesan-pesan melalui bahasa.

KAJIAN PUSTAKA. Dalam kegiatan belajar mengajar siswa melakukan aktivitas. Pengajaran yang

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. mendapatkan ilmu pengetahuan dari guru dalam proses belajar-mengajar. membimbing dan memfasilitasi siswa dalam kegiatan belajar.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

2015 PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DALAM PEMBELAJARAN MENULIS TEKS EKSPLANASI KOMPLEKS

I. PENDAHULUAN. Pendidikan bagi setiap bangsa merupakan kebutuhan mutlak yang harus

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS NARASI EKSPOSITORIS DENGAN TEKNIK BRAINWRITING PADA SISWA KELAS X SMK MA ARIF 4 KEBUMEN

BAB I PENDAHULUAN. kita dapat memperoleh ilmu pengetahuan yang dapat menjamin kelangsungan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Bahasa Indonesia merupakan salah satu hasil kebudayaan yang harus. dipelajari dan diajarkan. Pengajaran bahasa Indonesia pada hakikatnya merupakan

BAB I PENDAHULUAN. dilakukan dengan baik secara lisan maupun tulisan. Pembelajaran bahasa,

I. PENDAHULUAN. sekolah. Dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia ada empat komponen

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pembelajaran bahasa pada hakikatnya adalah belajar berkomunikasi,

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri I Tulang Bawang Tengah Kecamatan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk

Sebelum pelaksanaan penelitian dengan Pendekatan Kooperatif Learning. NO Indikator Keterangan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan di SDN 1 Madajaya kelas IV

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembelajaran bahasa Indonesia memiliki peran sentral dalam

2.1.2 Pembelajaran Kooperatif

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia terdapat empat aspek keterampilan

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari karena

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang

BAB II KAJIAN PUSTAKA. aktivitas merupakan prinsip yang sangat penting di dalam interaksi belajar. aktivitas tersebut. Beberapa diantaranya ialah:

Matematika 1. Melakukan operasi hitung bilangan sampai tiga angka 2. Menggunakan pengukuran waktu, panjang dan berat dalam memecahkan masalah

Kelompok Materi : Materi Pokok

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR

BAB I PENDAHULUAN. dua, yaitu bahasa lisan dan bahasa tulis. Kedua bahasa tersebut mempunyai. hubungan yang erat satu dengan lainnya.

BAB III METODE PENELITIAN

Lia Agustin. Mahasiswa Program Guru Dalam Jabatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako ABSTRAK

Nama Sekolah :... I. STANDAR KOMPETENSI I. PKn 1. Mengamalkan makna Sumpah Pemuda

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembelajaran bahasa Indonesia pada dasarnya merupakan upaya untuk

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pengajaran dimana para siswa bekerja

BAB II KAJIAN TEORI. 2.1 Kajian Teori Model Pembelajaran Kooperatif

BAB II KAJIAN TEORITIK. 1. Pengertian Kemampuan Pemahaman Konsep. konsep. Menurut Sudjiono (2013) pemahaman atau comprehension dapat

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

Transkripsi:

7 BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN 2.1 Hakikat Kemampuan Kemampuan dapat diartikan sebagai kesanggupan seseorang dalam melakukan kegiatan. Setiap melakukan kegiatan pasti diperlukan suatu kemampuan, namun apa arti kemampuan itu sendiri sering tidak diketahui. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S. Poerwadarminta yang diolah kembali oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2007: 742) kemampuan diartikan kesanggupan, kecakapan, atau kekuatan. Menurut Nurkhasanah dan Didik Tumianto (2007: 423) kemampuan diartikan kesanggupan, kecakapan, atau kekuatan. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kemampuan adalah kesanggupan seseorang dalam melakukan suatu kegiatan atau tindakan sebagai hasil dari pembawaaan dan latihan. Suatu kegiatan dan tindakan yang dapat dilakukan oleh seseorang dari pembawaan dan latihan anatara lain adalah kemampuan menulis. Kemampuan menulis merupakan salah satu kegiatan yang dapat dilakukan oleh seseorang ketika dia sudah dapat berinteraksi dengan orang lain, dan sudah dapat meniru kegiatan orang lain. Di samping itu seseorang sudah terdorong untuk menulis sebelum masuk sekolah. Mereka sering kelihatan memegang alat tulis dan sibuk menulis. Mereka menulis dengan cara mereka sendiri.

8 2.1.1 Pengertian Menulis Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Keterampilan menulis tidak akan datang secara otomatis, melainkan harus melalui latihan dan praktek. Menurut Resmini, dkk (2006: 12), menulis adalah aktivitas seseorang dalam menuangkan ide-ide, pikiran, dan perasaan secara logis dan sistematis dalam bentuk tertulis sehingga pesan tersebut dapat dipahami oleh para pembaca. Pendapat lain mengemukakan bahwa menulis merupakan suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau media (St.Y. Slamet (2008: 104). Pesan disini yaitu berupa isi atau muatan yang terkandung dalam suatu tulisan, sedangkan tulisan merupakan sebuah simbol atau lambang bahwa yang dapat dilihat dan disepakati pemakainya. Menulis merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif, sehingga penulis harus mampu memanfaatkan kemampuan dalam menggunakan tata tulis, struktur bahasa, dan kosakata. Mengacu kepada pemikiran tersebut, jelaslah bahwa menulis bukan hanya sekedar menuliskan apa yang diucapkan (membahasa tuliskan bahasa lisan), tetapi merupakan suatu kegiatan yang terorganisir sedemikian rupa sehingga terjadi suatu tindak komunikasi (antara penulis dengan pembaca). Bila apa yang dimaksudkan oleh penulis sama dengan

9 yang diamaksudkan oleh pembaca, maka seseorang dapat dikatakan telah terampil menulis. Berdasarkan pengertian menulis yang telah disampaikan oleh para pendapat, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa menulis adalah suatu kegiatan penyampaian pesan atau gagasan yang melukiskan lambanglambang berupa huruf-huruf dan angka-angka yang menggambarkan suatu bahasa dari suatu pengekspresian ide, gagasan, perasaan, dan pikiran secara logis dan sistematis yang dapat dibaca dan dipahami oleh orang lain. Dengan demikian menulis bukanlah sekedar membuat huruf-huruf ataupun angka pada selembar kertas dengan menggunakan berbagai alternatif media, melainkan merupakan upaya untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran yang ada pada diri individu. 2.1.2. Hakikat Menulis Percakapan Dengan Menggunakan Kalimat Sederhana Bagi orang yang sudah terbiasa membuat percakapan, mungkin kaidah yang berlaku dalam membuat percakapan telah tertanam dalam benaknya. Meski demikian, tentulah perlu diberikan beberapa patokan sebagai pegangan dalam membuat percakapan terutama bagi mereka yang baru mulai atau belum pernah membuat percakapan (internet). Berikut ini beberapa pegangan yang dipergunakan untuk membuat percakapan yang baik dan teratur.

10 1) Membaca Naskah Asli Bacalah naskah asli sekali atau dua kali, kalau perlu berulang kali agar Anda mengetahui tentang percakapan tersebut secara menyeluruh. Penulis percakapan juga perlu mengetahui maksud dan Menyeleksi serta mengetahui topik pembicaraan penulis naskah asli. Untuk pencapaianya, penulis perlu mengetahui tujuan khusus pembicaraan dengan memperhatikan penggunaan kata-kata yang ditulis sehingga menjadi percakapan yang menggunakan kalimat sederhana. Siswa pun dapat mempraktikkan naskah percakapan yang asli dengan teman sebangku agar dapat memudahkan siswa dalam mengingat penggunaan percakapan dengan menggunakan kalimat sederhana. 2) Mencatat Kerangka Pembicaraan Jika Anda sudah menangkap maksud, Menganalisis bacaan percakapan dan situasi, Memilih topik pembicaraan, silakan memperdalam dan mengonkritkan semua hal itu. Dalam pembuatan percakapan kita pun perlu mengaitkan Kemampuan menulis percakapan dengan kalimat sederhana di SD adalah suatu jenis kemampuan menulis disehelai kertas atau lebih yang di dalamnya dituliskan sebuah percakapan. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menulis percakapan adalah (1) sesuai dengan topik yang di bacakan, (2) cara penulisannya sesuai dengan EYD, (3) penggunaan tanda baca harus sesuai, dan (4) penggunaan huruf kapital.

11 2.1.3 Tujuan Menulis Agar tujuan menulis dapat tercapai dengan baik, maka diperlukan latihan yang memadai dan secara terus-menerus. Selain itu, siswa pun harus dibekali dengan pengetahuan dan pengalaman yang akan ditulisnya, karena pada hakikatnya menulis adalah menuangkan sesuatu yang telah ada dalam pikirannya. Namun demikian, hal yang tidak dapat diabaikan dalam pengajaran menulis adalah siswa harus mempunyai modal pengetahuan yang cukup tentang ejaan, kosakata, dan pengetahuan tentang menulis itu sendiri. Kemampuan menulis merupakan kemampuan berbahasa yang bersifat produktif; artinya kemampuan menulis itu merupakan kemampuan yang menghasilkan dalam hal ini menghasilkan tulisan. Menulis disini merupakan kegiatan yang memerlukan kemampuan yang bersifat kompleks. Kemampuan yang diperlukan antara lain kemampuan berpikir secara teratur dan logis, kemampuan mengungkapkan pikiran atau gagasan secara jelas, dengan menggunakan bahasa yang efektif. Setiap penulis dituntut bagaimana mengekspresikan serta mengungkapkan ilmu pengetahuan, pengalaman hidup, ide-imaji, dan lain-lain yang telah mereka peroleh dalam bentuk tulisan kepada orang lain agar dipahami. Pendapat lain mengungkapkan bahwa secara umum tujuan orang menulis adalah: a) untuk menceritakan sesuatu, b) untuk memberikan petunjuk atau pengarahan, c) untuk menjelaskan sesuatu, d) untuk menyakinkan, e) untuk merangkum (M. Atar Semi, 2007: 14-21).

12 Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dengan menentukan tujuan dalam menulis, maka penulis akan dapat mengetahui apa yang harus dilakukan dalam proses penulisannya, bahan apa yang hendak diperlukan, bentuk ragam karangan macam apa yang hendak dipilih, dan mungkin sudut pandang penulisan yang seperti apa yang akan ditetapkan. Singkatnya, dengan kalimat kunci berupa rumusan tujuan penulisan, maka penulis bisa menentukan pijakan dari mana tulisan itu akan disusun dan dimulai. 2.1.4 Manfaat Menulis Manfaat menulis adalah dapat membantu untuk mengungkapkan kemampuan menulis, mengembangkan daya imajinatif dan kreatif, dan menulis sangat membantu penulis menjadi terbiasa berpikir sistematis serta berbahasa secara tertib dan teratur. 2.1.5 Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Round Table Model pembelajaran kooperatif tipe Round Table merupakan pendekatan yang menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotifasi dan saling membantu dalam menguasai materi pembelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Model pembelajaran kooperatif tipe Round Table adalah salah satu metode belajar kooperatif yang paling sederhana. Sehingga model belajar tersebut dapat digunakan guru-guru yang baru mulai menggunakan metode belajar kooperatif. Round table merupakan salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam tim yang

13 beranggotakan 4 atau 5 orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran, kemudian siswa bekerja di dalam tim untuk memastikan bahwa semua anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Selanjutnya, semua siswa mengerjakan kuis mengenai materi secara sendiri-sendiri, di mana saat itu mereka tidak diperbolehkan untuk saling bantu. Skor kuis para siswa dibandingkan dengan rata-rata pencapaian mereka sebelumnya, dan kepada masing-masing tim akan diberikan poin berdasarkan tingkat kemajuan yang diraih siswa dibandingkan hasil yang mereka capai sebelumnya. Poin ini kemudisn dijumlahkan untuk memperoleh skor tim, dan tim yang berhasil memenuhi kriteria tertentu akan mendapat sertifikasi atau penghargaan lainnya. 2.1.6 Komponen-Komponen Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Round Table Komponen Round Table adalah sebagai berikut : a. Presentasi kelas Presentasi kelas dalam Round Table berbeda dari cara pengajaran yang biasa. kelompok mempresentasikan hasil tulisan yang telah meraka buat. Siswa harus betul-betul memperhatikan presentasi ini karena dalam presentasi terdapat materi yang dapat membantu untuk mengerjakan kuis yang diadakan setelah pembelajaran. b. Belajar dalam tim

14 Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, tiap kelompok terdiri dari 4-5 orang dimana mereka mengerjakan tugas yang diberikan. 2.1.7 Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe Round Table Langkah-langkah penerapan pembelajaran kooperatif tipe Round Table www.ptk.blongspirit.com.4februari2012 adalah sebagai berikut : a. Guru menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai. Guru dapat menggunakan berbagai pilihan dalam menyampaikan materi pembelajaran ini kepada siswa. Misal, antara lain dengan metode penemuan terbimbing atau metode ceramah. Langkah ini tidak harus dilakukan dalam satu kali pertemuan, tetapi dapat lebih dari satu. b. Guru memperlihatkan beberapa topik yang akan dipilih oleh masingmasing anggota kelompok c. Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 anggota, dimana anggota kelompok mempunyai kemampuan akademik yang berbeda-beda. d. setiap anggota kelompok memilih sebuah topik yang menarik untuk membuat percakapan secara berkelompok misalnya gempa bumi atau banjir di suatu daerah, bermain di sungai, pengalaman pertama bekemah dan lain-lain. e. Guru memberikan tugas kepada kelompok berkaitan dengan materi yang telah diberikan, Tujuan utamanya adalah memastikan bahwa setiap kelompok dapat menguasai konsep dan materi. Topik bahasan

15 untuk kelompok dipersiapkan oleh guru agar kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai. f. Setiap anggota kelompok menulis judul percakapan yang mereka pilih serta tiga kalimat pertama untuk mengawali cerita. g. Kelompok berbagi tulisan dan memeilih salah satu topik percakapan untuk dibacakan di kelompok. h. Guru memfasilitasi siswa dalam membuat anggota-anggota kelompok memperbaiki salah satu topik percakapan tersebut untuk meningkatkan kualitas tulisan. i. Guru memberi penghargaan kepada kelompok yang dapat membuat percakapan dengan menggunakan kalimat sederhana. 2.1.8 Tahap-Tahap Pelaksanaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Round Table a. Persiapan materi dan penerapan siswa dalam kelompok, sebelum menyajikan guru harus mempersiapkan lembar kegiatan dan topik yang akan dipelajari siswa dalam kelompok-kelompok kooperatif. Kemudian menetapkan siswa dalam kelompok heterogen dengan jumlah maksimal 4-5 orang. b. Penyajian materi pelajaran, ditekankan pada hal-hal berikut : 1.) Pendahuluan. Disini perlu ditentukan apa yang akan dipelajari siswa dalam kelompok dan menginformasikan hal yang penting untuk memotivasi rasa ingin tahu siswa tentang konsep-konsep yang akan mereka pelajari.

16 2.) Pengembangan dilakukan pengembangan materi yang sesuai yang akan mempelajari siswa dalam kelompok. Di sini siswa belajar untuk memahami makna. 3.) Praktek terkendali dilakukan dalam menyajikan materi c. Kegiatan kelompok Guru membagikan LKS kepada setiap kelompok sebagai bahan yang akan dipelajari siswa. Isi dari LKS selain materi pelajaran juga digunakan untuk melatih kooperatif. Guru memberi bantuan dengan memperjelas perintah, dan mengulang konsep. d. Evaluasi Dilakukan selama 45-60 menit secara mandiri untuk menunjukan apa yang telah siswa pelajari selama bekerja dalam kelompok. Hasil evaluasi digunakan sebagai nilai perkembangan individu dan disumbangkan sebagai nilai perkembangan kelompok. e. Penghargaan kelompok Dari hasil nilai perkembangan, maka penghargaan pada prestasi kelompok diberikan dalam tingkatan penghargaan seperti kelompok baik, hebat dan super. 2.1.9 Karateristik Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Round Table Karakteristik model pembelajaran kooperatif tipe Round Table antara lain sebagai berikut : 1) Menyampaikan materi pelajaran

17 2) Membagi siswa dalam kelompok kooperatif yang beranggotakan 4 atau 5 siswa 3) Menjelaskan langkah-langkah kerja kelompok 4) Membimbing siswa dalam kerja kelompok 5) Menugasi siswa melaporkan hasil kerja kelompok 6) Membimbing siswa menyimpulkan pembelajaran 2.1.10 Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Round Table 1. Kelebihan dalam penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Round Table sebagai berikut: a. Mengembangkan serta menggunakan keterampilan berpikir kritis dan kerjasama kelompok. b. Menyuburkan hubungan antar pribadi yang positif diantara siswa. c. Menciptakan lingkungan yang menghargai nilai-nilai ilmiah. 2. Kelemahan dalam penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Round Table adalah sebagai berikut: a. Sejumlah siswa mungkin bingung karena belum terbiasa dengan perlakuan seperti ini. b. Guru pada permulaan akan membuat kesalahan-kesalahan dalam pengelolaan kelas. Akan tetapi usaha sungguh-sungguh yang terus menerus akan dapat terampil menerapkan model ini.

18 2.1.11 Penerapan Model Round Table Pada Pembelajaran Menulis Percakapan Dengan Menggunakan Kalimat Sederhana Siswa dikelompokkan dalam kelompok belajar yang beranggotakan empat atau lima orang siswa yang merupakan campuran dari kemampuan akademik yang berbeda. Pada model kooperatif tipe Round Table siswa dikelompokkan ssecara heterogen, kemudian siswa yang pandai menjelaskan kepada anggota yang lain sampai mengerti. Model Round table adalah salah satu model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, sehingga model ini banyak digunakan oleh guru-guru yang baru memulai menggunakan metode belajar kooperatif. Model Round Table menurut Asma (2006: 51) siswa ditempatkan dalam kelompok belajar beranggotakan empat sampai lima orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerja dan jenis kelamin. Pembelajaran diawali dengan penyajian materi oleh guru yang kemudian dilanjutkan dengan setiap anggota kelompok memilih sebuah topik yang menarik untuk membuat percakapan dengan menggunakan kalimat sederhana secara berkelompok. Setiap anggota kelompok menulis cerita yang mereka pilih serta tiga kalimat pertama untuk mengawali percakapan. Anggota kelompok memutar kertas mereka ke arah kiri mereka. Setiap anggota memiliki waktu dua menit untuk membaca dan menulis. Kertas diputar hingga beberapa kali putaran dan pada akhirnya setiap anggota mendapatkan kembali kertasnya. Jika sudah selesai,

19 kelompok berbagi cerita dalam bentuk percakapan dan memilih salah satu percakapan untuk di praktekan oleh kelompok. Kemudian, anggotaanggota kelompok memperbaiki percakapan tersebut untuk meningkatkan kualitas percakapan dengan menggunakan kalimat sederhana. (Internet) Round Table merupakan pendekatan kooperatif yang paling sederhana. Guru yang menggunakan Round Table, juga mengacu kepada belajar kelompok siswa dimana setiap minggu guru menggunakan persentasi verbal atau teks. Siswa dalam suatu kelas tertentu dipecah menjadi kelompok dengan anggota 4-5 orang, setiap kelompok haruslah heterogen, terdiri dari laki-laki dan perempuan. Anggota tim menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran kuis. Secara individual setiap minggu atau setiap dua minggu siswa diberi kuis. Kuis itu diskor dan tiap siswa diberi skor perkembangan. Pengetesan pembelajaran kooperatif model Round table, guru meminta siswa menjawab kuis tentang bahan pelajaran. Butir-butir tes pada kuis ini harus merupakan suatu jenis tes obyektif tertulis (paper and pencil), sehingga butir-butir itu dapat diskor dikelas atau segera setelah tes itu diberikan. Laporan atau presensi kelompok dapat digunakan sebagai salah satu dasar evaluasi dan siswa hendaknya diberi penghargaan perannya secara individual dan hasil kolektif.

20 2.2 Kajian Penelitian Yang Relevan Guru memiliki peran signifikan dalam menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Namun demikian data di lapangan menunjukkan masih banyaknya permasalahan yang dihadapi dalam Meningkatkan Kemampuan Siswa Dalam Menulis Percakapan Dengan Menggunakan Kalimat Sederhana Di Kelas III Sekolah Dasar. Hasil penelitian yang relevan tentang meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis percakapan oleh Sri Yuningsih (2010) dengan judul Meningkatkan Kemampuan Siswa Dalam Percakapan Melalui Metode Bercerita Pasangan Di Kelas III SD. Hasil penelitiannnya mengungkapakan bahwa (1) Sebagian Siswa Yang Bertanya / Mengajukan Pertanyaan sebelum tindakan, (2) Sebagian Pula Siswa Mengemukakan pendapat sebelum tindakan, (3) Sebagian Besar Siswa Menjawab pertanyaan sebelum tindakan. Dalam uraian tersebut penerapan metode pada siswa masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan temuan di atas tampak bahwa kemampuan Siswa Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia khususnya materi percakapan di Kelas III dengan berbagai macam strategi termasuk Melalui Metode Bercerita Pasangan masih dihadapkan pada berbagai kendala. Berbagai upaya tersebut perlu dievaluasi untuk dapat diketemukan sebab musababnya serta solusi efektif dalam Meningkatkan Kemampuan Siswa Dalam Menulis Percakapan Dengan Menggunakan Kalimat sederhana.

21 2.3 Hipotesis Tindakan Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah jika menggunakan model Round Table maka kemampuan menulis ringkasan cerita siswa kelas III SDN 2 Tenilo Kecamatan Limboto Kabupaten Gorontalo dapat meningkat. 2.4 Indikator Kinerja Yang menjadi indikator keberhasilan pada penelitian ini adalah apabila anak yang menjadi subjek penelitian, kemampuan menulis ringkasan cerita dapat ditingkatkan melalui model Round table, hingga mengalami peningkatan dari 30% hingga mencapai 85% dalam kategori baik sesuai dengan aspek yang diamati melalui proses pembelajaran.