BAB II LANDASAN TEORI. layanan jasa telekomunikasi melalui satu interface serbaguna yang berlaku di

dokumen-dokumen yang mirip
Frequency Division Multiplexing

MULTIPLEXING. Jajang Kusnendar/Komdat Halaman 1 3/25/2010

KOMUNIKASI DATA SUSMINI INDRIANI LESTARININGATI, M.T

TUGAS AKHIR ANALISIS KINERJA MULTIPLEXER PADA ISDN (INTEGRATED SERVICE DIGITAL NETWORK) Oleh MAISARAH HARAHAP

Teknik MULTIPLEXING. Rijal Fadilah S.Si Program Studi Teknik Informatika STMIK Balikpapan Semester Genap 2010/2011

Jaringan Komputer Multiplexing

MULTIPLEXING. Frequency-division Multiplexing (FDM)

Modul 3 Teknik Switching dan Multiplexing

TUGAS AKHIR ANALISIS KINERJA MULTIPLEXER PADA ISDN (INTEGRATED SERVICE DIGITAL NETWORK) DENGAN BERBAGAI LAJU KANAL

MULTIPLEXING. Ir. Roedi Goernida, MT. Program Studi Sistem Informasi Fakultas Rekayasa Industri Institut Teknologi Telkom Bandung

BAB II WIDE AREA NETWORK

MODUL 5 MULTIPLEXING

Komputer host hanya butuh satu port I/O untuk banyak terminal Hanya satu line transmisi yang dibutuhkan.

BAB VI MULTIPLEXING. frequency-division multiplexing (FDM), paling umum dipakai untuk radion atau TV

ANALISIS KINERJA BASIC RATE ACCESS (BRA) DAN PRIMARY RATE ACCESS (PRA) PADA JARINGAN ISDN

Aplikasi Multiplexer -8-

BAB II INTEGRATED SERVICE DIGITAL NETWORK (ISDN) Evolusi di dalam jaringan telekomunikasi eksisting telah terjadi dan terus

Multiplexing. Meningkatkan effisiensi penggunaan bandwidth / kapasitas saluran transmisi dengan cara berbagi akses bersama.

MAKALAH MULTIPLEXER DAN DEMULTIPLEXER

Pengertian Multiplexing

1. Adanya pertumbuhan permintaan komunikasi suara, data dan gambar. 2. Perlunya kesederhanaan, fleksibilitas dan biaya yang

TEKNIK DAN MODEL KOMUNIKASI

~ By : Aprilia Sulistyohati, S.Kom ~

MULTIPLEXING DE MULTIPLEXING

Sistem Transmisi Telekomunikasi Kuliah 2 Penjamakan Digital

B A B II PERANGKAT KERAS KOMUNIKASI DATA

Komputer, terminal, telephone, dsb

BAB III SIRKIT SEWA DIGITAL DAN FRAME RELAY

Sistem Transmisi Modulasi & Multiplexing

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA. Oleh : Nila Feby Puspitasari

MULTIPLEXING Komunikasi Data. Muhammad Zen Samsono Hadi, ST. MSc. Lab. Telefoni Gedung D4 Lt. 1

Rangkuman Chapter 8. Faisal Afid H ( ) Fatah Amrullah ( ) Dhiya Akmal Firdaus ( ) Imanu

Rijal Fadilah. Transmisi & Modulasi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ISDN. (Integrated Services Digital Network)

DTG2F3. Sistem Komunikasi. Siskom Digital ADC, SOURCE CODING, MULTIPLEXING. By : Dwi Andi Nurmantris

MULTIPLEKS VI.1 PENGERTIAN UMUM

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA. Oleh : Nila Feby Puspitasari

BAB 3 REBALANCING GPRS TIME SLOT (GTS) TRAFFIC DATA GSM 900 MHZ

MULTIPLEX PDH ( PLESIOCHRONOUS DIGITAL HIERARCHY) ISSUED

ISDN. (Integrated Service Digital Network) -Overview - Prima K - PENS Jaringan Teleponi 1 1

KONSEP DASAR TELEKOMUNIKASI DASAR TEKNIK TELEKOMUNIKASI (DTG1E3)

BAB II JARINGAN INTERKONEKSI BANYAK TINGKAT. Komponen utama dari sistem switching atau sentral adalah seperangkat sirkuit

WIDE AREA NETWORK & ROUTER. Budhi Irawan, S.Si, M.T, IPP

Integrated Sevices Digital Network (ISDN)

BAB I PROTOKOL KOMUNIKASI

Jaringan Switching. Untuk transmisi data yang melampaui area lokal. Simpul switching tidak berkaitan dengan isi data.

BAB II TEKNIK PENGKODEAN

Agus Setiadi BAB II DASAR TEORI

WAN. Karakteristik dari WAN: 1. Terhubung ke peralatan yang tersebar ke area geografik yang luas

Layer ini berhubungan dengan transmisi dari aliran bit yang tidak terstruktur melalui medium fisik; berhubungan

A I S Y A T U L K A R I M A

Politeknik Elektronika Negeri Surabaya PENS DIGITAL SUBSCRIBER LINE (DSL) Modul 6 Jaringan Teleponi. Prima Kristalina PENS (Desember 2014)

BAB I PENDAHULUAN. maka antara satu BTS dengan BTS yang lain frekuensinya akan saling

JARINGAN DAN LAYANAN KOMUNIKASI. Program Studi Teknik Telekomunikasi Jurusan Teknik Elektro Sekolah Tinggi Teknologi Telkom 2006

Rijal Fadilah. Transmisi Data

PRODI D3 TEKNIK TELEKOMUNIKASI 2012 Yuyun Siti Rohmah, ST., MT

UNIVERSITAS GUNADARMA

Memahami proses switching dalam sistem telepon Memahami rangkaian switching yang digunakan dalam sistem komunikasi telepon Menjelaskan aplikasi dan

MAKALAH KOMUNIKASI DATA

Bluetooth. Pertemuan III

Bab 9. Circuit Switching

1.2 Rumusan Masalah Permasalahan-permasalahan yang perlu dirumuskan untuk akhirnya dapat

DAHLAN ABDULLAH

BAB XII INTEGRATED SERVICES DIGITAL NETWORK ( ISDN )

Latihan Soal dan Pembahasan SOAL A

BAB III PERANCANGAN SFN

Teknik Sistem Komunikasi 1 BAB I PENDAHULUAN

SOAL-SOAL UTS JARINGAN KOMPUTER

KOMUNIKASI DATA. 1. Pendahuluan

Pengantar Komunikasi Data. Muhammad Zen Samsono Hadi, ST. MSc. Lab. Telefoni Gedung D4 Lt. 1

Bab 2. Tinjauan Pustaka

TEE 843 Sistem Telekomunikasi. Review and Summary. Muhammad Daud Nurdin Jurusan Teknik Elektro FT-Unimal Lhokseumawe, 2016

BAB II TEORI PENUNJANG

BABII TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

Setelah mempelajari bagian ini diharapkan dapat: Memahami prinsip switching mekanik pada telepon Memahami prinsip switching elektronik pada telepon

1. Percakapan antar individu(manusia) 2. Mengirim dan atau menerima surat 3. Percakapan melalui telepon 3. Menonton Televisi 4. Mendengarkan radio

Teknik Telekomunikasi

BAB III TEORI PENDUDUKUNG

BAHASA PEMROGRAMAN C

Tipe Data dan Operator

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Proses Pengolahan Sinyal untuk Ditransmisikan

Modulasi adalah proses modifikasi sinyal carrier terhadap sinyal input Sinyal informasi (suara, gambar, data), agar dapat dikirim ke tempat lain, siny

BAB II SISTEM KOMUNIKASI

Sejarah C. Dirancang oleh Denis M. Ritchie tahun 1972 di Bell Labs.

BAB II DASAR TEORI. Dasar teori yang mendukung untuk tugas akhir ini adalah teori tentang device atau

Internet kabel menggunakan media kabel koaksial sebagai media aksesnya. Asalnya kabel koaksial ini hanya digunakan untuk

Tipe Data, Variabel, Input/Output

VDSL (Very High bit-rate DSL)

Pokok Bahasan dan TIU Sub Pokok Bahasan dan TIK Teknik Pembelajaran

DASAR TELEKOMUNIKASI ARJUNI BP JPTE-FPTK UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA. Arjuni Budi P. Jurusan Pendidikan Teknik Elektro FPTK-UPI

BAB 4 MODULASI DAN DEMODULASI. Mahasiswa mampu memahami, menjelaskan mengenai sistem modulasi-demodulasi

TUGAS AKHIR SIMULASI SISTEM ANTRIAN PADA STATISTICAL TIME DIVISION MULTIPLEXING DENGAN BAHASA PEMROGRAMAN VISUAL C++ 6.0

Pertemuan 3 Dedy hermanto/jaringan Komputer/2010

Bahasa C-M6 By Jamilah, Skom 1

6.2. Time Division Multiple Access (TDMA)

BAB III JARINGAN AKSES SERAT OPTIK DI PT TELKOM STO JATINEGARA SERTA APLIKASI SDH DAN MODUL SDT1

Pertemuan 2 DASAR-DASAR SISTEM KOMUNIKASI

BAB III INTERFERENSI RADIO FM DAN SISTEM INTERMEDIATE DATA RATE (IDR)

BAB IV SINYAL DAN MODULASI

Transkripsi:

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Integrated Service Digital Network (ISDN) ISDN adalah Jaringan Digital yang mampu memberikan berbagai macam layanan jasa telekomunikasi melalui satu interface serbaguna yang berlaku di seluruh dunia. Sebelum adanya ISDN, layanan jasa telekomunikasi dilakukan melalui berbagai jaringan khusus yang masing-masing hanya mampu menyediakan sekelompok jasa telekomunikasi tertentu. ISDN merupakan pengembangan dari jaringan telepon IDN (Integrated Digital Netwok) yang menyediakan hubungan digital dari ujung satu pelanggan ke ujung pelanggan lain secara digital untuk proses transformasi informasi dalam bentuk suara dan data [3]. Keuntungan ISDN meliputi [4]: 1. ISDN menawarkan kecepatan dan kualitas tinggi dalam pengiriman data. 2. Dalam satu saluran saja dapat mengirim berbagai jenis layanan seperti gambar, suara dan video sehingga efisien dalam pemanfaatan waktu. 3. Lebih fleksibel karena single interface untuk terminal bervariasi. 4. Hemat biaya. 2.2 Prinsip kerja ISDN Prinsip kerja ISDN meliputi [3]: 1. Mendukung berbagai aplikasi voice dan nonvoice ISDN mendukung berbagai jenis layanan yang berkaitan dengan komunikasi suara dan komunikasi non-suara (data dan gambar). 6

2. Mendukung aplikasi switched dan non-switched ISDN mendukung circuit-switching dan packet-switching. Selain itu, ISDN juga mendukung layanan non-switched dalam bentuk jalur yang disediakan. 3. Ketergantungan terhadap koneksi 64 kbps ISDN menampilkan koneksi circuit-switching dan packet-switching pada 64 kbps. Ini merupakan pembangunan blok ISDN yang mendasar. Kecepatan ini dipilih karena pada saat itu kecepatan 64 kbps merupakan kecepatan standar untuk suara digital, dan oleh sebab itu dimasukkan ke dalam upaya pengembangan IDN. Pengembangan selanjutnya dalam hal ISDN memungkinkan fleksibilitas yang lebih luas lagi. 4. Memiliki kecerdasan dalam jaringan ISDN diharapkan mampu menyediakan layanan terbaru dan memberikan kemampuan manajemen dan pemeliharaan jaringan yang lebih baik. 5. Arsitektur protokol yang berlapis Protokol-protokol bagi pemakai untuk mengakses ISDN melampirkan arsitektur berlapis dan dapat dipetakan menjadi model OSI. 6. Konfigurasi yang beragam Lebih dari satu konfigurasi fisik yang bisa dipergunakan untuk mengimplementasikan ISDN. Ini memungkinkan adanya perbedaan dalam kebijakan nasional, dalam hal status teknologi, serta dalam hal kebutuhan dan peralatan dasar konsumen. 7

2.3 Struktur kanal ISDN ISDN terdiri dari beberapa kanal logika untuk keperluan saluran pensinyalan dan saluran data informasi. Berdasarkan fungsi dan kecepatannya terdapat 3 tipe dasar kanal yaitu [3]: 1. Kanal B Fungsi utama kanal B adalah untuk membawa sinyal informasi dari user ke jaringan dalam bentuk suara, data atau video. Kecepatan kanal B adalah 64 kbps yaitu kecepatan yang dibutuhkan untuk aplikasi data digital. Kanal B juga dapat digunakan untuk menyalurkan suara (voice) hi-fi band lebar (7 khz atau 15 khz) yang diproses menjadi 64 kbps. Bisa juga dengan menggunakan multiplex untuk dua sinyal kecepatan 32 kbps menjadi satu sinyal 64 kbps. 2. Kanal D Fungsi utama kanal D adalah untuk membawa pesan pensinyalan dari suatu terminal ISDN ke jaringan melalui konektor fisik (physical connector) dan sistem pesan pensinyalan (signaling message) standar. Kanal D mempunyai kapasitas yang sangat tinggi dan selalu tetap tersedia. Selain kanal D bisa dipergunakan sebagai packet-switched atau hubungan jarak jauh berkecepatan rendah (100 bps) pada saat tidak ada informasi pensinyalan yang menunggu. 3. Kanal H Kanal H tersedia bagi informasi pemakai pada bit rate yang lebih tinggi yaitu pada kecepatan diatas 64 kbps. Contoh aplikasi meliputi faximili cepat, video, data berkecepatan tinggi, audio bermutu tinggi, serta aliran-aliran informasi multiple pada kecepatan data yang lebih rendah. 8

2.4 Tipe Akses ISDN Untuk mengakses ISDN, ITU-T telah menetapkan 2 jenis tipe akses yaitu Basic Rate Access (BRA) untuk jalur akses individu dan Primary Rate Access (PRA) untuk jalur akses PABX [3]. 2.4.1 Basic Access Terdiri dari dua kanal B-64 kbps full duplex dan sebuah kanal D-16 kbps full duplex. Total rate bit menurut aritmetika sederhana adalah 144 kbps. frame untuk akses ini ditunjukkan pada Gambar 2.1. Masing-masing 48 bit mencakup 16 bit dari kanal B dan 4 bit dari kanal D. Gambar 2.1 Struktur Frame Basic Access [3] Layanan dasar (Basic Access) dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan sebagian pemakai individu, termasuk pemakai perumahan dan kantor-kantor dalam jumlah kecil. Hal ini memungkinkan pemakaian suara dan beberapa aplikasi data seperti akses packet-switched, jalur menuju layanan alarm sentral, faksimili, videotext, dan seterusnya secara simultan. 2.4.2 Primary Access Primary Access ditujukan untuk pemakai dengan persyaratan kapasitas yang lebih besar, misalnya seperti perkantoran dengan PABX digital atau jaringan lokal. 9

Struktur kanal Primary Access adalah 30 B + D (untuk PCM-30), 23 B + D (untuk PCM 24) dimana kanal B maupun D sebesar 64 kbps. Struktur frame untuk akses primer (Primary Access) ditunjukkan pada Gambar 2.2. Gambar 2.2 Struktur Frame Primary Access [3] Ada beberapa tipe akses pada Primary interface (PRA) yaitu [3]: a. Multi Access: Akses dengan multiple kanal B dan satu kanal D (nb +D). b. High Speed Access: Untuk pengiriman high speed data. c. Combine Access: Akses dengan multiple kanal H. 2.5 Multiplexing Multiplexing adalah suatu teknik mengirimkan lebih dari satu informasi melalui satu saluran. Tujuan utamanya adalah menghemat jumlah saluran fisik. Gambar 2.3 menunjukkan prinsip dasar multiplexing [2]. Gambar 2.3 Prinsip Dasar Multiplexing [2] 10

Multiplexer menggabungkan data dari jalur input n dan mentransmisikan melalui jalur berkapasitas tinggi. Demultiplexer menerima aliran data yang sudah dijadikan multiplex kemudian memisahkan (melakukan demultiplexing) data berdasarkan kanal, lalu mengirimkannya ke saluran output yang tepat. Multiplexing memiliki keuntungan sebagai berikut [4]: a. Host hanya butuh satu port I/O untuk n terminal. b. Hanya satu line transmisi yang dibutuhkan. c. Menghemat biaya penggunaan saluran komunikasi. d. Menggunakan kapasitas saluran semaksimal mungkin. Dua bentuk yang paling umum dari multiplexing yaitu Frequency Division Multiplexing (FDM) dan Time Division Multiplexng (TDM) [4]. 2.5.1 Frequency Division Multiplexeing (FDM) FDM dimungkinkan bila lebar pita media transmisi yang digunakan melebihi lebar pita yang diperlukan sinyal yang ditransmisikan. Gambar 2.4 menggambarkan kasus umum FDM. Enam sumber sinyal dimasukkan ke multiplexer yang akan memodulasi setiap sinyal frekuensi yang berbeda-beda (f1,,f6). Masing-masing sinyal yang dimodulasi memerlukan lebar pita tertentu yang dipusatkan disekitar frekuensi pembawa yang disebut kanal (channel). Untuk mencegah timbulnya interferensi, kanal dipisahkan oleh band pelindung (guard band) yang merupakan bagian dari spectrum yang tidak digunakan [4]. 11

Gambar 2.4 Frequency Division Multiplexing [4] Sinyal campuran yang diransmisikan di sepanjang media merupakan sinyal analog. Dalam hal input digital, sinyal harus disalurkan melalui modem untuk diubah menjadi analog. 2.5.1.1 Proses Multiplexing pada FDM Pada Gambar 2.5 diilustrasikan proses FDM. Sejumlah sinyal analog dan digital [mi(t), i=1,n] di-multiplex ke media transmisi yang sama. Masing-masing sinyal mi(t) dimodulasikan ke frekuensi pembawa f1 seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.5(a), karena menggunakan frekuensi pembawa multiple masing-masing disebut subpembawa. Sinyal yang dimodulasi kemudian ditambahkan agar menghasilkan sinyal baseband campuran mb(t) seperti ditunjukkan pada Gambar 2.5 (b). F1 harus dipilih sehingga lebar pita dari berbagai sinyal tidak tumpang tindih secara signifikan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.5(c) [4]. (a) Transmiter 12

(b) Spektrum sinyal pemodulasi baseband campuran (c) Receiver Gambar 2.5 Gambaran umum proses FDM [4] 2.5.1.2 Proses Demultiplexing pada FDM Demultiplexing menggunakan filter sinyal multiplexing untuk mengembalikan sinyal ke bentuk semula. Setiap sinyal dimodulasi ke frekuensi sinyal awal sesuai tujuan kemana sinyal itu ditujukan. Gambar 2.6 menunjukkan proses demultiplexing. Contoh yang paling dikenal dari aplikasi FDM adalah siaran radio dan Televisi kabel [4]. Gambar 2.6 Proses Demultiplexing pada FDM [4] 13

2.5.2 Time Division Mutiplexing (TDM) TDM memungkinkan bila kecepatan data dari suatu media bisa sama atau melebihi kecepatan data dari sinyal-sinyal digital yang ditransmisikan. Sinyalsinyal digital multiple (sinyal analog yang memuat data digital) lambat laun bisa dibawa melalui jalur transmisi tunggal dan melakukan interleaving pada bagianbagian dari setiap sinyal. Interleaving bisa dilakukan pada level bit atau pada blokblok byte atau dalam jumlah yang besar. Pengiriman data dilakukan dengan mencampur data berdasarkan waktu sinyal data tersebut dikirimkan. Pemancar dan penerima harus sinkron agar masingmasing penerima menerima data yang ditujukan kepadanya. TDM hanya digunakan untuk komunikasi titik ke titik. TDM lebih efesien daripada FDM karena 1 saluran komunikasi telepon dapat dipakai sampai dengan 30 terminal sekaligus. Gambar 2.7 menunjukkan gambaran umum TDM [4]. Gambar 2.7 Time Division Multiplexing [4] Pada Synchronous Time Division Multiplexing, aliran data pada koneksi input dibagi menjadi beberapa unit dan setiap unit memiliki time slot. Setiap unit bisa satu bit, satu karakter atau satu blok data. Durasi input sama dengan durasi 14

output. Jika input time slot TS maka output time slot T/n s. Jika n adalah jumlah koneksi diasumsikan TDM sinkron dan ditunjukkan pada Gambar 2.8 [4]. (a) Konsep Dasar TDM Sinkron (b) Time Slot TDM Sinkron Gambar 2.8 Konsep dasar dan Time Slot TDM Sinkron [4] Pada Gambar 2.8 (b) dapat dilihat bahwa jika ada n koneksi dan frame maka akan dibagi menjadi n time slot dan setiap slot dialokasikan untuk setiap unit data pada satu saluran input. Jika durasi input unit adalah T, maka durasi setiap slot adalah T/n dan durasi setiap frame adalah T. 2.5.2.1 Proses Muliplexing pada Time Division Multiplexing Gambaran umum proses Multiplexing pada TDM sinkron disajikan dalam Gambar 2.9(a). Sejumlah sinyal [mi (t), i=1, n] di-multiplex pada media transmisi yang sama. Sinyal-sinyal tersebut membawa data digital serta sinyal digital. Data yang datang dari setiap sumber dengan cepat disangga. Setiap penyangga biasanya 15

memiliki panjang satu bit atau satu karakter. Penyangga secara berturut-turut discan agar membentuk deretan data digital campuran mc(t). Operasi scan ini berlangsung sangat cepat sehingga setiap penyangga sudah dikosongkan sebelum lebih banyak data yang datang. Kecepatan data mc (t) setidaknya harus sama dengan jumlah rate data mi (t). Data yang ditransmisikan memiliki format seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.9(b). Data disusun ke dalam frame. Masing-masing frame berisi siklus tergantung jatah waktu. Dari frame ke frame disebut kanal. Gambar 2.9(c) menunjukkan informasi yang telah didemultiplxer dan siap untuk dikirim ke tjuan masing-masing [3]. (a) Transmitter (b) Frame TDM (c) Receiver Gambar 2.9 Gambaran Umum Proses TDM [4] 16

Sistem pembawa jarak jauh yang tersedia di Amerika Serikat dan seluruh dunia dirancang sedemikian rupa agar dapat mentransmisikan sinyal suara di sepanjang jalur transmisi berkapasitas tinggi. Di Amerika Serikat, AT & T mengembangkan suatu hierarki struktur TDM dari berbagai kapasitas. Struktur ini dipergunkana di Kanada dan Jepang serta di Amerika Serikat sendiri. Hierarki yang dipergunakan di Internasional yang ditetapkan oleh ITU-T dapat dilihat pada Tabel 2.1 [6]. Tabel 2.1 Standar Frekuensi Pembawa TDM di Amerika dan Internasional [6] Tanda Kanal Suara Rate Data (Mbps) Level Kanal Suara Rate Data (Mbps) DS-1 24 1.544 1 30 2.048 DS-1C 48 3.152 2 120 8.448 DS-2 96 6.312 2 480 34.368 DS-3 672 44.736 3 1920 139.264 DS-4 4032 274.176 4 7680 565.148 2.6. Statistical Time Division Multiplexing Salah satu alternatif untuk menyinkronkan TDM adalah dengan TDM Statistikal. Multiplexer statistikal memanfaatkan sifat transmisi data yang umum dengan mengalokasikan jatah waktu secara dinamis sesuai permintaan. Karena TDM statistikal memiliki kelebihan yaitu perangkat yang terpasang tidak semuanya melakukan transmisi sepanjang waktu, maka kecepatan data pada saluran multiplex menjadi lebih kecil dibanding jumlah kecepatan data dan perangkat yang terpasang. Dengan demikian multiplexer Statistikal dapat menggunakan kecepatan data yang 17

lebih rendah untuk mendukung perangkat sebanyak-banyaknya seperti pada TDM sinkron. Perbandingan antar TDM Sinkron dengan TDM Statistikal dapat dilihat pada Gambar 2.10 [4]. Gambar 2.10 Perbandingan TDM Sinkron dan TDM Asinkron [4] Pada Gambar 2.10 diperlihatkan empat sumber data dan data yang dihasilkan dalam empat kali jatah waktu (t0, t1, t2, t3. Dalam multiplex sinkron, multiplexer memiliki kecepatan output efektif sebesar empat kali lipat dari kecepatan data pada perangkat input. Pada setiap peluang waktu, data dikumpulkan dari keempat sumber dan dikirim keluar [4]. Sebaliknya, multiplex statistik tidak akan mengirim peluang waktu yang kosong bila ada data yang dikirim. Jadi selama waktu pertama itu peluang hanya diberikan untuk A dan B saja yang dikirim. Posisi signifikan dan peluang menjadi hilang dalam skema ini. Tidak diketahui sebelumnya data mana dan sumber yang berada pada peluang tertentu. Karena data yang tiba dan didistribusi melalui saluran I/O tidak bisa diperkirakan, maka informasi alamat diperlukan untuk memastikan agar pengirimannya tepat. Jadi ada lebih banyak overhead per jatah waktu pada TDM statistikal karena masing-masing jatah membawa alamat sekaligus data. 18

2.6.1 Kinerja Satistical Time Division Multiplexing Kecepatan data dan output multiplexer statistikal kurang dari jumlah kecepatan data input. Ini terjadi karena sudah diantisipasi bahwa jumlah rata-rata input kurang dari kapasitas saluran yang di-multiplex. Kesulitan dengan pendeatan ini adalah sementara rata-rata jumlah input kurang dari kapasitas saluran yang dimultiplex, sehingga akan muncul periode puncak saat input melebihi kapasitas. Pemecahan untuk masalah ini adalah dengan memasukkan penyangga ke dalam multiplex untuk menahan kelebihan input sementara. Terdapat pertukaran di antara ukuran penyangga yang dipergunakan serta kecepatan data saluran [4]. Pada Gambar 2.11 diperlihatkan format frame pada TDM statistical. Gambar 2.11 Format Frame pada TDM Statistikal [4] 2.7 Time Division Switching Pada saat ini untuk menghubungkan antara customer yang satu dengan yang lain dibutuhkan suatu teknik penyambungan (switching). Adapun teknik penyambungan yang paling umum digunakan adalah teknik penyambungan dengan jenis time divison switching. Pada teknik penyambungan dengan time division switching, sinyal suara yang dikirimkan dapat berupa sinyal Pulse Amplitude Modulation (PAM) atau Pulse Code Modulation (PCM) [1]. Adapun prinsip kerja time division switching dapat dijelaskan sebagai berikut. Bila laju sampling 8 khz maka sebuah sampel suara akan muncul setiap 19

125 mikro detik. Di dalam domain digital sebuah nilai tersampel dapat dilewatkan dari sebuah inlet ke sebuah outlet dalam beberapa mikro detik atau kurang melalui sebuah elemen switching. Bila kecepatan switching tinggi maka elemen switching tersebut bisa tidak digunakan (menganggur) dalam waktu yang lama. Agar switch tidak lama menganggur dan agar tidak ada sampel suara yang hilang maka jumlah kanal suara atau percakapan simultan yang akan dilayani oleh switch haruslah diketahui terlebih dahulu sebelum menetapkan kecepatan switch yang dibutuhkan untuk memilih dan menghubungkan pasangan inlet-outlet. Jika ts adalah waktu dalam mikrodetik yang merupakan kecepatan switch maka ts adalah 125.10-6 dibagi dengan jumlah kanal suara yang akan disambungkan. Sebagai contoh bila terdapat 30 kanal maka kecepatan switch yang dibutuhkan untuk menyambungkan kanal - kanal tersebut (ts) adalah 125.10-6 dibagi 30 yaitu 3,9.10-6 detik. Dengan kecepatan sebesar ini switch akan kembali ke kanal yang sama tepat setiap 125 mikro detik atau tepat pada saat datangnya sampel suara berikutnya pada kanal yang sama sehingga tidak ada sampel suara yang hilang. Konstruksi dari time division switching dapat dilihat seperti pada [1]. Gambar 2.12 menunjukkan kontruksi dari TDM. Inlet A B Sentral Pengirim Paket C n Kedatangan Gambar 2.12 Konstruksi dari Time division switching [1] 20

2.8 kinerja Multiplexer Untuk menganalisis kinerja multiplexer, dibutuhkan suatu sistem antrian. Teori antrian yang digunakan adalah antrian M/M/1/N, dimana jumlah pelanggan N disesuaikan dengan jumlah kanal yang akan dianalisis. Misalnya jumlah kanal yang digunakan 30, maka jumlah pelanggan adalah 30. Untuk menjamin sistem menjadi stabil pada antrian dengan pelayanan tunggal maka dapat dilihat bahwa λ < µ. Maka akan didapat parameter ρ [6], yaitu: ρ = λ µ...(2.1) dimana: ρ = Utilisasi Sistem λ = Laju Kedatangan Frame (frame/detik) µ = Laju Pelayanan Frame (frame/detik) Parameter ρ ini sering disebut juga dengan utilisasi link atau intensitas trafik. Untuk antrian dengan pelayanan tunggal, jika nilai ρ mendekati dan melampaui satu, maka akan dijumpai keadaan kongesti yaitu keadaan dimana frame frame yang tiba diblok. Laju lalu lintas kedatangan frame merupakan rata-rata jumlah frame yang ditransmisikan per satuan waktu, parameter λ didapatkan dari Hukum Little [6]: N(k) = k=0 kp(k) = λt dimana: λ = N(k) T...(2.2) λ = Laju kedatangan frame (frame/detik) N(k) = Jumlah kedatangan frame (frame) T = Waktu total operasi (detik) 21

Pada sistem antrian M/M/1/N terdapat pelanggan sebanyak N. Jika sudah ada N pelanggan di dalam sistem, maka pelanggan yang tiba berikutnya diblok atau hilang. Laju kedatangan dan laju pelayanan dapat dinyatakan dengan, yaitu: λ (n) = λ n = 0, 1,2,... N -1 µ (n) = µ n = 1, 2, 3,... N Diagram transisi kondisinya dapat dinyatakan pada Gambar 2.13 sebagai berikut [5], yaitu: Gambar 2.13 Digram Transisi Kondisi Sistim Antrian M/M/1/N [5] Sehingga probabilitas kondisinya dapat dinyatakan persamaan berikut ini [6], yaitu: Maka didapatkan: p 0 = (1 ρ) (1 ρ N+1 ) N p n = 1 n=0... (2.3) p n = (1 ρ)ρn (1 ρ N+1 )...(2.4) p N = (1 ρ)ρn (1 ρ N+1... (2.5) ) 22

PN adalah Probabilitas bloking, dimana sistem antrian penuh. Rata-rata jumlah pelanggan yang diblok per detik adalah λpn. Dengan buffer berhingga, ratarata laju kedatangan frame/detik λ dapat lebih besar dari rata-rata laju pelayanan frame/detik µ karena kelebihan pelanggan akan ditolak. Hubungan antara throughput dan load ditunjukkan pada Gambar 2.14 [6]. Queue Gambar 2.14 Hubungan antara throughput dan load [6] Gambar 2.14 menunjukkan hubungan antara throughput dan load pada sistem antrian M//M/I/N. Sejumlah frame yang telah berhasil dilayani dan telah meninggalkan sistem didefiniskan sebagai throughput dapat dinyatakan dengan persamaan [6] yaitu: γ = λ(1 P N )...(2.6) dimana: γ = Throughput (frame) λ = Rata-rata laju kedatangan frame/detik PN = Probabilitas Blocking Waktu rata-rata pelanggan di dalam antrian dapat ditentukan dengan persamaan [6] yaitu: W q = λ µ(µ λ)...(2.7) Waktu rata-rata di dalam sistem dapat dihitung dengan persamaan [6] yaitu: W s = 1 µ λ...(2.8) 23

2.9 Proses Kedatangan pada Sistem Antrian M/M/1 Sinyal-sinyal yang dikirim ke dalam sistem antrian M/M/1 dalam bentuk PCM atau PAM. Adapun pada tugas akhir ini sinyal yang dikirim ke receiver dalam bentuk PCM. Proses yang terjadi pada sinyal dalam satu detik ketika pengiriman dalam bentuk PCM akan ditunjukkan seperti pada Gambar 2.15 [1]. Gambar 2.15 Proses sampling suatu sinyal dalam satu detik [1] Mengacu kepada prinsip pengkodean PCM, diketahui bahwa dalam satu kali proses sampling terdapat 8000 titik sampel. Satu titik sampel diwakili oleh 8 bit, mulai dari titik sampel yang terendah yaitu 2 0, sampai titik sampel yang paling tinggi yaitu 2 8. Sehingga diketahui bahwa bit rate dalam satu detik adalah 64 Kbps. Dari Gambar 2.16 dapat diketahui bahwa jarak antara satu titik sampel dengan titik sampel yang ada disebelahnya adalah 125 μs. Nilai ini didapat dari satu dibagi dengan 8000 titik sampel. Pada proses kuantisasi, adapun jumlah level 24

tegangan yang digunakan berjumlah 256 level yang didapat dari nilai tertinggi dari kemungkinan titik sampel yang telah disampling yaitu 2 8 = 256. Gambar 2.16 Jarak antar titik sampel dan jumlah level tegangan [1] Pada proses coding, setiap titik sampel diwakili oleh 8 bit. Hal ini dimaksudkan agar sinyal yang dikirim mendekati sinyal suara aslinya ketika diterima oleh penerima (receiver). Kemudian sinyal yang telah dikodekan tersebut dikirimkan ke dalam sistem. Sinyal yang dikirim dalam bentuk kode - kode biner inilah yang disebut dengan PCM [1]. 2.10 Dev C++ Dev C++ merupakan suatu software bahasa pemrograman dimana kumpulan perintah yang disusun logis dengan bahasa pemrograman untuk tujuan tertentu. Misalnya perhitungan, menampilkan keyword, dan sebagainya. Dev C++ dapat digunakan untuk: 1. Menulis naskah program. 2. Mengompilasi program. 25

3. Melakukan pengujian terhadap program. 4. Mengaitkan objek dan library ke program. 5. Menjalankan program. Gambar 2.17 Memperlihatkan tampilan Dev C++ saat dibuka. Dalam bahasa pemrograman C++, pustaka dasar adalah kumpulan class dan fungsi yang menjadi inti bahasa pemrograman C++. Gambar 2.17 Tampilan awal Dev C++ Pustaka dasar terdiri dari container umum dan fungsi untuk memanipulasinya, string dan stream. Beberapa pustaka dasar pada C++ ditampilkan pada Tabel 2.1. Tabel 2.1 Kata kunci pada Dev C++ 26

auto const double float int short struct unsigned break continue else for long signed switch Void case default enum goto register sizeof typedef Volatile char do extern if return static union While Kata kunci ini berfungsi untuk menyimpan suatu variable yang diperlukan. Kata kunci ini tersimpan pada tempat khusus di dalam memori komputer saat menginstal aplikasi Dev C++. 27