BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP SISTEM BAGI HASIL USAHA WARUNG KOPI DI DESA PABEAN KECAMATAN SEDATI KABUPATEN SIDOARJO

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV ANALISA DATA. Daar Al-Fikri, 1989), h Pundi Akara, 2006), h Wahbah Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuha, (Damaskus:

BAB I PENDAHULUAN. kelangsungan hidupnya termasuk masalah ekonomi yang berbudaya. Kehidupan

BAB III SISTEM PENGELOLAAN DAN BAGI HASIL WARUNG KOPI DI DESA PABEAN KECAMATAN SEDATI KABUPATEN SIDOARJO

BAB IV SUMUR DENGAN SISTEM BORONGAN DI DESA KEMANTREN KECAMATAN PACIRAN KABUPATEN LAMONGAN

ija>rah merupakan salah satu kegiatan muamalah dalam memenuhi

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP OPERASIONALISASI DANA DEPOSITO DI BNI SYARI AH CAB. SURABAYA

BAB II SISTEM SYIRKAH MENURUT HUKUM ISLAM

JURNAL EKONOMI Volume 21, Nomor 3 September 2013 KERJA SAMA (SYIRKAH) DALAM EKONOMI ISLAM. Deny Setiawan

BAB II SISTEM SYIRKAH MENURUT HUKUM ISLAM

BAB III. Koperasi (Syirkah Ta awuniyah) bersal dari perkataan Co dan Operation yang mengandung arti kerja sama untuk

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PENYELESAIAN RESIKO SENGKETA PADA KEMITRAAN TERNAK AYAM DI DESA NONGKOSAWIT KECAMATAN GUNUNGPATI KOTA SEMARANG

BAB II KERJASAMA USAHA MENURUT PRESPEKTIF FIQH MUAMALAH. Secara bahasa al-syirkah berarti al-ikhtilath (bercampur), yakni

BAB II KONSEP UMUM TENTANG SYIRKAH. A. Pengertian dan Landasan Hukum Syirkah. atau lebih, sehingga masing-masing sulit dibedakan, misalnya persekutuan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam kehidupan manusia sehari-hari sebagai subjek hukum ataupun

BAB IV ANALISIS DATA. A. Analisis Pelaksanaan Syirkah Antara Pemilik Kapal Dengan Nelayan Di Kelurahan Kotakarang Kecamatan Teluk Betung Timur

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTEK JUAL BELI EMAS DI TOKO EMAS ARJUNA SEMARANG

BAB IV ANALISIS JUAL BELI MESIN RUSAK DENGAN SISTEM BORONGAN DI PASAR LOAK DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN

BAB IV ANALISIS DATA

BAB IV ANALISIS MENURUT EMPAT MAZHAB TERHADAP JUAL BELI CABE DENGAN SISTEM UANG MUKA DI DESA SUMBEREJO KECAMATAN BANYUPUTIH KABUPATEN SITUBONDO

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN

BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PENERAPAN SISTEM MUD{A>RABAH MUSYA>RAKAH PADA PT. ASURANSI TAKAFUL KELUARGA SURABAYA

BAB 1V REASURANSI PADA TABUNGAN INVESTASI DI BANK SYARIAH BUKOPIN SIDOARJO DITINJAU DARI HUKUM ISLAM

BAB II LANDASAN TEORI MENGENAI KONSEP SYIRKAH

BAB II. kegiatan pengelolahan suatu usaha. Pengelolahan yang terjadi antara dua. pihak atau lebih sebagian hasil yang keluar untuk mencapai tujuan dan

BAB IV REKSADANA EXCHANGE TRADED FUND DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTEK SEWA TANAH TEGALAN YANG DI KELOLA KELOMPOK TANI DI DESA PUTAT KECAMATAN TANGGULANGIN KABUPATEN SIDOARJO

BAB I PENDAHULUAN. alat-alat kebutuhan jasmaniyah dengan cara yang sebaik-baiknya. 1. yang bersifat universal dan komprehensif. 2

BAB I PENDAHULUAN. tidak mau seorang manusia haruslah berinteraksi dengan yang lain. Agar kebutuhan

Perbankan Syariah. Transaksi Musyarakah. Agus Herta Sumarto, S.P., M.Si. Modul ke: Fakultas EKONOMI DAN BISNIS. Program Studi Manajemen

BAB II KERJASAMA DALAM PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM

BAB IV STOCK INDEX FUTURE TRADING DI CENTRAL CAPITAL FUTURES DALAM PERSPEKTIF MADZHAB SYAFI I

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PENERAPAN TARIF JUAL BELI AIR PDAM DI PONDOK BENOWO INDAH KECAMATAN PAKAL SURABAYA

BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG PENARIKAN KEMBALI HIBAH OLEH AHLI WARIS DI DESA SUMOKEMBANGSRI KECAMATAN BALONGBENDO KABUPATEN SIDOARJO

BAB IV ANALISIS APLIKASI PEMBERIAN UPAH TANPA KONTRAK DI UD. SAMUDERA PRATAMA SURABAYA

BAB I PENDAHULUAN. melepaskan dirinya dari kesempitan dan dapat memenuhi hajat hidupnya. menujukkan jalan dengan bermu amalat.

BAB IV ANALISIS TENTANG AKAD QIRAD}{ DI GERAI DINAR SURABAYA

BAB I PENDAHULUAN. hidup dalam masyarakat dan saling membutuhkan satu sama lain. 2 Firman

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM DAN UU NO 7 TAHUN 2004 TERHADAP JUAL BELI AIR IRIGASI DI DESA REJOSARI KECAMATAN DEKET KABUPATEN LAMONGAN

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK JUAL BELI HEWAN KURBAN DI KAMPOENG TERNAK NUSANTARA DOMPET DHUAFA WILAYAH JAWA TIMUR

BAB IV ANALISIS PRAKTIK BAGI HASIL HIBAH SAPI DI DESA MOJOMALANG KECAMATAN PARENGAN KABUPATEN TUBAN

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP KENAIKAN DENGAN SISTEM BON DI WARKOP CAHYO JAGIR SURABAYA

BAB II KONSEPSI DASAR TENTANG JUAL BELI DALAM ISLAM.. yang berarti jual atau menjual. 1. Sedangkan kata beli berasal dari terjemahan Bahasa Arab

BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PENGELOLAAN REKSA DANA MELATI US DOLLAR

BAB I PENDAHULUAN. jalan penggantian berdasarkan ketentuan yang ditetapkan Allah SWT agar

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TENTANG JUAL BELI SUKU CADANG MOTOR HONDA DI DEALER HONDA CV. SINARJAYA KECAMATAN BUDURAN KABUPATEN SIDOARJO

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kaitan ini, Islam datang dengan dasar-dasar dan prinsip-prinsip. manusia dalam kehidupan sosial mereka.

BAB II MUD}A<RABAH DALAM HUKUM ISLAM. pihak sesuai dengan kesepakatan. Didalam pembiayaan mud{a>rabah pemilik

BAB II KERJA SAMA (SYIRKAH) DAN JUAL BELI. atau percampuran. Maksud percampuran disini ialah seseorang. berbeda pendapat sebagai berikut:

BAB IV ANALISIS DATA

Nisbah ini mencerminkan imbalan yang berhak diterima oleh

BAB II LANDASAN TEORITIS. " artinya menggadaikan atau merungguhkan. 1 Gadai juga diartikan

BAB I PENDAHULUAN. salah satunya adalah dalam bidang muamalah seperti tukar menukar. barang atau sesuatu yang bermanfaat dengan cara-cara ekonomi yang

BAB III UNSUR-UNSUR AKAD SYIRKAH MAZHAB HANAFI DAN MALIKI DALAM KOMPILASI HUKUM EKONOMI SYARIAH

BAB II DASAR HUKUM DALAM MENETAPKAN HARTA BERSAMA DALAM HUKUM ISLAM. A. Harta Bersama Dalam Pandangan Hukum Islam

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP APLIKASI DIRHAM SHIELD DALAM PEMBIAYAAN DIRHAM CARD DI BANK DANAMON SYARIAH

BAB II LANDASAN TEORI. Secara etimologi, al mal berasal dari kata mala yang berarti condong atau

BAB III LANDASAN TEORI. suku bangsa, sejak dahulu sampai sekarang 1. Sebelum kita membahas apa itu

BAB VI ANALISIS DATA. PELAKSANAAN EKSEKUSI HARTA BERSAMA DALAM PERKARA PERDATA NO 0444/Pdt.G/2012/PA.Tnk

BAB IV. pembiayaan-pembiayaan pada nasabah. Prinsip-prinsip tersebut diperlukan

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PERSEPSI NASABAH TENTANG APLIKASI MURA<BAH}AH DI BMS FAKULTAS SYARIAH

BAB IV ANALISIS SADD AL-DH>ARI< AH TERHADAP JUAL BELI PESANAN MAKANAN DENGAN SISTEM NGEBON OLEH PARA NELAYAN DI DESA BRONDONG GANG 6 LAMONGAN

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP AKAD JASA PENGETIKAN SKRIPSI DENGAN SISTEM PAKET DI RENTAL BIECOMP

BAB IV LAPORAN HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA. wawancara kepada para responden dan informan, maka diperoleh 4 (empat) kasus

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK PEMESANAN PRODUK PAKET AQIQAH DI MITRA AQIQAH MANDIRI KATERING JAMBANGAN SURABAYA

BAB I PENDAHULUAN. mendatangkan penghasilan. Setiap usaha tidak dapat dilakukan sendiri tanpa

BAB II LANDASAN TEORI. Adapun landasan teori yang akan diuraikan adalah teori-teori yang

BAB I PENDAHULUAN. Pada tahun 1966 di sebuah desa yang kecil, yang tepatnya berada di

BAB IV ANALISIS ETIKA ISLAM DALAM PENGELOLAAN BISNIS PENGEMBANG PERUMAHAN DI PT. SYSSMART SEJAHTERA SURABAYA

BAB I PENDAHULUAN. Para ahli hukum Islam memberikan pengertian harta ( al-maal ) adalah. disimpan lama dan dapat dipergunakan waktu diperlukan.

SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP) FIQH MU AMALAH Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Mata Kuliah : Fiqh Mu amalah

BAB 1 PENDAHULUAN. mengatur hubungan manusia dan pencipta (hablu min allah) dan hubungan

BAB I PENDAHULUAN. di dalamnya juga mencakup berbagai aspek kehidupan, bahkan cakupannya

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK PENGULANGAN PEKERJAAN BORONGAN PEMBUATAN TAS DI DESA KRIKILAN KECAMATAN DRIYOREJO KECAMATAN GRESIK

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM DAN PASAL 106 KOMPILASI HUKUM ISLAM TENTANG JUAL BELI TANAH MILIK ANAK YANG DILAKUKAN OLEH WALINYA

BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP UPAH CATONAN DI DESA CIEURIH KEC. MAJA KAB. MAJALENGKA

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP JUAL BELI IKAN TANGKAPAN NELAYAN OLEH PEMILIK PERAHU DI DESA SEGORO TAMBAK KECAMATAN SEDATI KABUPATEN SIDOARJO

BAB IV ANALISIS TENTANG ARISAN TEMBAK DI DESA SENAYANG KECAMATAN SENAYANG KABUPATEN LINGGA PROVINSI KEPULAUAN RIAU

BAB II MUDARABAH. fiqh disebut dengan Mudarabah, yang oleh ulama fiqh Hijaz disebut qirad. 1

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP UPAH BORONGAN PADA BURUH PABRIK PT INTEGRA INDOCABINET BETRO SEDATI SIDOARJO

BAB II LANDASAN TEORI. yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip. Menurut pendapat lain, Wadi ah adalah akad penitipan

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP TRANSAKSI QARD} UNTUK USAHA TAMBAK IKAN DI DESA SEGORO TAMBAK KECAMATAN SEDATI KABUPATEN SIDOARJO

MURA>BAH}AH DAN FATWA DSN-MUI

BAB I PENDAHULUAN. alat analisis. Hal ini disebabkan karena di masa datang penuh dengan

BAB IV ANALISIS PELAKSANAAN PEMBIAYAAN TALANGAN HAJI DI BANK SYARIAH MANDIRI SEMARANG

BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP TRANSAKSI PEMBAYARAN DENGAN CEK LEBIH PADA TOKO SEPATU UD RIZKI JAYA

Sebagaimana yang telah diriwayatkan Ibnu Umar ra :

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP JAMINAN HUTANG BERUPA AKTA KELAHIRAN ANAK DI DESA WARUREJO KECAMATAN BALEREJO KABUPATEN MADIUN

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP IMPLEMENTASI PENETAPAN TARIF JASA ANGKUTAN UMUM BIS ANTAR KOTA/PROVINSI SURABAYA-SEMARANG

BAB IV ANALISIS HUKUM BISNIS ISLAM TENTANG PERILAKU JUAL BELI MOTOR DI UD. RABBANI MOTOR SURABAYA

BAB I PENDAHULUAN. mereka melakukan perseroan dalam pekerjaan yang mereka lakukan dengan tangantangan

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan termasuk masalah jual beli dan sewa menyewa. Islam selalu

BAB IV. A. Mekanisme Penundaan Waktu Penyerahan Barang Dengan Akad Jual Beli. beli pesanan di beberapa toko di DTC Wonokromo Surabaya dikarenakan

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP UTANG PIUTANG SISTEM IJO (NGIJO) DI DESA SEBAYI KECAMATAN GEMARANG KABUPATEN MADIUN

BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN POTONGAN TABUNGAN BERHADIAH DI TPA AL- IKHLAS WONOREJO KECAMATAN TEGALSARI SURABAYA

BAB 5 PENUTUP. Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, baik kebutuhan

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP HUTANG PIUTANG PUPUK DALAM KELOMPOK TANI DI DESA KALIGAMBIR KECAMATAN PANGGUNGREJO KABUPATEN BLITAR

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP TRANSAKSI JUAL BELI ALAT TERAPI DI PASAR BABAT KECAMATAN BABAT KABUPATEN LAMONGAN.

18.05 Wib. 5 Wawancara dengan Penanggung Jawab Pertambangan, Bpk. Syamsul Hidayat, tanggal 24 september 2014, pukul.

Transkripsi:

BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP SISTEM BAGI HASIL USAHA WARUNG KOPI DI DESA PABEAN KECAMATAN SEDATI KABUPATEN SIDOARJO A. Analisis Praktik Bagi Hasil Usaha di Warung Kopi Desa Pabean Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo. Suatu usaha yang dilakukan oleh dua orang atau lebih diperlukan adanya perjanjian usaha, dimana akan memudahkan jika nantinya terdapat kesalahankesalahan yang terjadi dalam perjanjian tersebut. Penghormatan terhadap perjanjian menurut hukum Islam hukumnya wajib, melihat pengaruhnya yang positif dan perannya yang besar dalam memelihara perdamaian dan melihat urgensinya dalam mengatasi kemusyrikan, menyeleaikan perselisian dan menciptakan kerukunan. Dalam melakukan kerjasama dalam suatu usaha, diperlukan modal yang cukup untuk mendirikannya. Begitu juga dengan warung kopi ini yang membutuhkan modal sebesar Rp. 24.000.000,00, dengan rincian sebagai berikut: Modal yang digunakan untuk mendirikan warung kopi ini adalah modal iuran antara Khusni 26 Tahun Rp. 8.000.000.-, Wahyudin 28 Tahun Rp. 8.000.000.-, dan Saiful 27 Tahun Rp. 8.000.000.-, jadi total iuran mereka Rp. 60

61 24.000.000.-,dengan rincian bayar tempat kontrakan selama 2 Tahun Rp. 16.000.000.-, pembelian perlengkapan warung Rp 2.500.000, belanja kebutuhan warung (gula, kopi, dll) Rp 1.500.000, pembuatan meja Rp 3.000.000, dan sisanya Rp 1.000.000 dimasukkan kas untuk keperluan yang lain-lain. Keuntungan yang diperoleh dari anggotanya relative, artinya jika kondisinya dalam keadaan ramai maka keuntungan yang diperoleh bisa besar. Sedangkan kondisinya lagi sepi maka keuntungan yang diperoleh kecil atau menyusut. 1. Analisis Pembagian Keuntungan Ibnu Taimiyah menekankan keharusan adanya keadilan dalam kerjasama dan menetapkan pembagian (yang adil pula) dari kedua belah pihak atas keuntungan adalah suatu pendapatan tambahan dari penghunaan tenaga seseorang dan pihak lain atas modal. 1 Pembagian keuntungan dalam warung kopi adalah sesuai dengan pembagian sip mengelola anggota warung kopi dalam waktu yang telah ditentukan selama 1 bulan per anggota. Penghasilan yang didapatkan dalam 1 bulan pengelolaan warung kopi tersebut langsung masuk penghasilan anggota masing-masing tanpa dibagi kepada anggota yang lain. Sedangkan dalam Bab III, telah dijelaskan bahwa pembagian antara satu anggota dengan anggota yang lainnya itu tidak sama, karena pembagian 1 A. A. Islahi, Konsepsi Ekonomi Ibnu Taimiyah, (Surabaya: Bima Ilmu, 1997), 196.

62 keuntungannya mereka lewat sip menggelola warung kopi tersebut. Mengenai pembagian keuntungan ini terjadi perbedaan pendapat diantara fuqaha, secara garis besar terbagi menjadi 3 (tiga) golongan. Imam Hanafi, bahwa dia sepakat keuntungan itu mengikuti kepada modalnya, yakni apabila modal serikat itu keduanya sama besarnya maka keduanya membagi keuntungan separuh-separuh. 2 Pendapat Imam Malik dan Imam Syafi i, bahwa apabila ada dua orang atau lebih melakukan investasi dalam suatu usaha berdasarkan syirkah, maka keuntungan harus dalam proporsi atas jumlah modal yang ditanamkan pada mitra usaha tidak punya pilihan untuk menentukan ratio atas pembagian keuntungan sesuai dengan jumlah yang ditanamkan. 3 Pendapat Taqyuddin an-nabhani, bahwa pembagian keuntungan itu tergantung kepada kesepakatan mereka, dan boleh membagi keuntungan secara merata (fifty-fifty), dan boleh tidak sama. Bedasarkan Ali ra. Laba itu tergantung pada apa yang mereka sepakati besama. 4 Dari situ dapat difahami, bahwa pembagian keuntungan yang dilakukan warung kopi bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum islam, karena tidak 2 Ibnu Rusdy, Bidayatul Al-Mujtahid. Alih Bahasa. Imam Ghazali Said, Bidayatul Mujtahid. Jilid 4, (Jakarta: Pustaka Amani, 1995), 304. 3 M. Nejatullah Siddiqi, Kemitraan Usaha dan Bagi Hasil Dalam Hukum Islam, (Jakarta: Dhana Bakti Prima Yasa, 1996), 20-21. 4 Taqyuddin an-nabhani, an-nidlam al-istishadi Fil Islam. Alih bahas. Drs. Moh. Magfur Wachid, Membangun Sitem Ekonomi at-ternatif Perspektif Islam, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), 157.

63 sesuai dengan pendapat para ulama empat madzhab dalam melakukan syirkah. B. Analisis Hukum Islam Terhadap Praktek Bagi Hasil Usaha Warung Kopi di Desa Pabean Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo. Perjanjian dalam kerjasama akan mendapatkan manfaat yang besar bagi kedua belah pihak, baik dari segi pendapatan dan pengeluaran dari warung. Sedangkan, pelaksanaan perjanjian di warung kopi itu terdiri dari: syarat-syarat menjadi anggota warung, penanaman modal dan pembagian keuntungan. 1. Analisis Tentang Syarat-Syarat Menjadi Anggota Dalam Bab III telah dijelaskan bahwa syarat-syarat menjadi anggota warung kopi, diantaranya adalah modal, wewenang dan agama harus sama pula. Hukum Islam juga menjelaskan bahwa syarat untuk melakukan kerjasama (syirkah) yaitu semua anggota perseroan harus dewasa dan kehendak sendiri tanpa dipaksa orang lain. Modal adalah merupakan syarat yang harus dipnuhi untuk menjadi anggota warung kopi. Dan anggota warung kopi harus menyetujui tehadap modal yang harus ditanamkan yakni sebesar @Rp 8.000.000,00 yang disetorkann di awal perjanjian. Modal yang disetorkan dengan sejumlah uang

64 yang diberikan diawal perjanjian, hal ini sesuai dengan syarat syirkah, yang telah ditetapkan oleh para ulama bahwa modal itu dicampur sebelum perjanjian syirkah. Sehingga salah satu tidak bisa dibedakan lagi. 5 Setelah semua syarat menjadi anggota warung kopi sudah terpenuhi. Dengan demikian semua anggota warung kopi sudah mengetahui seluruh hak dan kewajiban menjadi anggota warung kopi serta konsekwensinya terhadap perjanjian yang telah disetujui. Syarat menjadi anggota warung kopi secara umum sudah sesuai dengan syariat islam dan juga telah disepakati oleh para ulama, karena itu keanggotaan dalam warung kopi dapat dinyatakan tidak bertentangan dengan hukum Islam dan sesuai dengan syarat-syarat syirkah dalam Islam. 2. Analisis Penanaman Modal Bab III telah dijelaskan bahwa penanaman modal merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh anggota syirkah setelah melakukan perjanjian, yakni dengan cara memasukkan uang kedalam persekutuannya. Dengan uang atau modal tersebut akan digunakan sebagai modal sesuai dengan perjanjian kerja yang telah disetujui dan modal semacam ini dalam warung kopi dinamakan dengan sebutan modal patungan. 5 AbdurRahman Al-Jaziri, Khitabul Fiqh Ala Madzahibul Arba ah. Alih Bahasa. Drs. H. Moh.Zuhri, Dapl. Tafl, Dkk. Fiqh Empat Madzhab. Jilid 4, (Semarang: Adhi Grafindo, 1994), 150.

65 Islam menegaskan bahwa penanaman modal dari anggota syirkah merupakan unsur terpenting, sehingga dimasukkan sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi. Karena tujuan syirkah adalah untuk mencapai keuntungan, sedangkan keuntungan tidak akan diperoleh tanpa adanya modal, oleh karena itu modal adalah inti dari syarat syirkah. Menurut Imam Malik, bahwa syarat syirkah yaitu harus satu jenis. Seperti seorang anggota mengeluarkan modal berupa mata uang emas dan yang lain juga harus mengeluarkan modal berupa mata uang emas semisalnya, jadi tidak sah bila modal itu berbeda. 6 Imam Hanafi berpendapat bahwa modal boleh berbeda asalkan bernilai sama. Dan membolehkan semua bentuk syirkah apabila syarat-syarat terpenuhi. Imam Syafi i berpendapat bahwa modal yang dikeluarkan oleh masing-masing anggota itu harus satu jenis. 7 Mengenai modal di warung kopi ini adalah menghunakan uang yang diberikan secara tunai dimaksudkan agar ketika akad berlangsung, modal yang dimasukan oleh para sekutu itu sudah ada dalam kekuasaannya. Oleh karena itu, tidak sah mengadakan persekutuan dengan modal yang tidak ada dalam kekuasaannya. Karena hal itu menyebabkan tidak tercapainya maksud dan tujuan diadakannya syirkah. 6 Abdurrahman al-jaziri, Khitabul Fiqh..., 146. 7 Ibid., 151.

66 Bila diperhatikan cara penanaman modal yang diterapkan di warung kopi, kemudian dibandingkan dengan konsep yang diberikan oleh islam, dapat dikatakan bahwa penanaman modal yang diterapkan d warung kopi ini sesuai dengan ajaran islam dan sesuai dengan syarat-syarat syirkah. 3. Analisa Implementasi Syirkah di Warung Kopi Warung kopi adalah benuk usaha yang tidak berbadan hukum. Warung kopi hanyalah tempat jualan minuman dan juga tempat nongkrongnya anak-anak muda maupun tua. Hal ini tidak bertentangan dengan syariat Islam, karena bertujuan untuk berdagang dan menyediakan kopi serta minuman-minuman yang lainnya. Mengenai bentuk syirkah yang diterapkan di warung kopi ini adalah sebuah bentuk muamalah yang bisa juga disebut dengan istilah syirkah. Pengertian syirkah itu sendiri adalah perserikatan antara dua orang atau lebih untuk melakukan usaha dengan tujuan mencari keuntungan. Tetapi dalam syirkah ini ditemukan kejanggalan dalam pembagian hasilnya. Dimana perolehan hasil sip mengelola langsunng menjadi milik sendiri tanpa adanya pembagian kepada anggota yang lainnya. Pembagian hasil inilah menyebabkan dalam syirkah ini tidak diperbolehkan, karena tidak sesuai dengan syarat-syarat syirkah menurut pendapat para ulama empat madzhab. Ulama fiqh membagi syirkah menjadi 2 bentuk, yaitu: a. Syirkah Amlak

67 Syirkah dalam bentuk ini, menurut ulama fiqh adalah dua orang atau lebih terhadap suatu barang dengan tidak didahului oleh akad syirkah. Syirkah dalam kategori ini dibagi menjadi dua macam, yaitu: 1) Syirkah ikhtiyar, yaitu terhimpunnya dua orang di dalam memiliki suatu benda dengan kesadaran mereka. Seperti mereka mencampurkan hartanya secara kesadaran atau mereka membeli barang secara berserikat, atau dengan diberi wasiat oleh seseorang kemudian mereka menerimanya. 8 2) Syirkah jabr, yaitu sesuatu yang berstatus sebagai milik lebih dari satu orang, karena mau tidak mau harus demikian. Artinya tanpa adanya usaha mereka dalam proses pemilikan barang tersebut, misalnya harta warisan, karena syirkah berlaku untuk harta warisan, tanpa adanya usaha dari pemilik, barang menjadi milik bersama. 9 Kedua bentuk syirkah amlak tersebut, menurut para ulama fiqh, bahwa status harta dari masing-masing yang berserikat, sesuai dengan hak masing-masing yang bersifat berdiri sendiri. Apabila masing-masing oihak ingginn bertindak secara hukum terhadap harta serikatnya, harus ada izin dari mitranya, karena seseorang tidak memiliki kekuasaan atas bagian harta orang yang menjadi mitra serikatnya. 10 8 AbdurRahman al-jaziri, Khitabul Fiqh.., 117. 9 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, Jilid XII, (Bandung: PT. Al-Ma arif, 1988), 175. 10 Nasrun Haroen, Fiqh Mamalah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2000), 167-168.

68 b. Syirkah Uqud Syirkah dalam bentuk ini adalah persekutuan antara dua orang atau lebih yang timbul dengan adanya perjanjian. 11 Dari paparan di atas dapat diketahui bahwa warung kopi ini merupakan bentuk kerjasama yang dilakukan antara dua orang atau lebih dan mereka mengadakan perjanjian dengan mengunakan modal, dari modal tersebut akan dikelola dan dikembangkan yang akan menghasilkan keuntungan. Dalam hal ini adalah sesuai dengan syirkah ukud, karena dalam syirkah ukud mempunyai kesamaan dengan aturan yang terdapat di warung kopi ini. Oleh karena itu, secara garis besar menurut fuqaha amsar membagi syirkah ukud mnjadi 4 (empat) macam, yaitu: 1) Syirkah abdan 2) Syirkah inan 3) Syirkah mufawadah 4) Syirkah wujuh Dari penjelasan Bab II yang sesuai dengan aturan dan perjanjian dalam warung kopi adalah tidak ada yang sesuai dengan salah saatu bentuk dan syarat syirkah ukud ini, karena dalam kerjasama warung kopi 1987), 52. 11 A. Azhar Basyir, Hukum Islam Tentang Wakaf, Ijarah dan Syirkah, (Bandung: al-ma arif,

69 ini dalam pembagian keuntungannya diambil dari waktu giliran sip menggelola warung anggotanya masing-masing. Bentuk kerjasama yang semacam ini, tidak termasuk dalam unnsur gharar, karena ketidakpastian dalam gharar akan menyentuh kemungkinan hanya untung bagi satu pihak dan rugi bagi pihak lain. Menurut Wahbah al-zuhayli mengatakan bahwa gharar adalah al-khida (penipuan), yaitu suatu tindakan yang didalamnya diperkirakan tidak ada unsur kerelaan. 12 Sedangkan dalam kerjasama warung kopi ini tidak ada salah satu pihak yang merasa dirugikan dan mereka dalam membangun kerjasama seperti ini sama-sama rela dalam perolehan setiap bulannya berbeda-beda. Dengan demikian kerjasama di warung kopi ini diperbolehkan, karena dalam pembagian hasil tidak ada salah satu pihak yang merasa ditipu atau dirugikan. 12 Sirajul Arifin, Tsaqofah Jurnal Peradaban Islam, Vol 6, 2010, 324-325.