KEKUASAAN DALAM ORGANISASI

dokumen-dokumen yang mirip
KEKUASAAN DALAM ORGANISASI

PENGENALAN PANDANGAN ORGANISASI

Komunikasi Politik & Rekrutmen Politik. Pertemuan 11-12

Sejarah Komunikasi Politik

KOMUNIKASI PEMASARAN POLITIK

BAB I PENDAHULUAN. dapat saling bertukar informasi dengan antar sesama, baik di dalam keluarga

2015 HUBUNGAN ANTARA SIKAP TERHADAP KAMPANYE DI MEDIA MASSA DENGAN PARTISIPASI POLITIK PADA MAHASISWA DI UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BAB 6 KESIMPULAN, REFLEKSI, DAN REKOMENDASI. Bab ini akan mendiskusikan kesimpulan atas temuan, refleksi, dan juga

KAPITA SELEKTA KOMUNIKASI : OPINI PUBLIK. Pengantar

BAB I PENGANTAR KHAZANAH ANALISIS WACANA. Deskripsi Singkat Perkuliahan ini membelajarkan mahasiwa tentang menerapkan kajian analisis wacana.

BAB I PENDAHULUAN. Setiap manusia tidak dapat tidak berkomunikasi (we cannot not

Modul Standar untuk digunakan dalam Perkuliahan di Universitas Mercu Buana MODUL PERKULIAHAN MATA KULIAH OPINI PUBLIK BIDANG STUDI PUBLIC RELATIONS

PR POLITIK & MARKETING POLITIK. Oleh: Adiyana Slamet, S.IP., M.Si

BAB V ANALISIS DATA. dapat diperoleh temuan-temuan mengenai: 1. Pola Komunikasi elit NU Cabang Istimewa Malaysia dalam. nahdliyin di Malaysia.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Secara umum dapat dikatakan bahwa Partai Politik merupakan sesuatu

PENDAHULUAN Latar Belakang Beras sangat penting dalam memelihara stabilitas ekonomi, politik dan keamanan nasional, karena beras merupakan bahan

MODUL DELAPAN KOMUNIKASI POLITIK DAN OPINI PUBLIK

BAB I PENDAHULUAN. Simbol manifestasi negara demokrasi adalah gagasan demokrasi dari

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 5 KESIMPULAN. kebutuhan untuk menghasilkan rekomendasi yang lebih spesifik bagi para aktor

PENDAHULUAN Latar Belakang

Bahan ajar handout Komunikasi Politik (pertemuan 4 ) STUDI KOMUNIKASI POLITIK 1 Oleh: Kamaruddin Hasan 2

BAB I PENDAHULUAN. Keberhasilan capres dan cawapres dalam meraih suara tak lepas dari

BAB I PENDAHULUAN. Peran Berita Politik Dalam Surat Kabar Pikiran Rakyat Terhadap Pengetahuan Politik Mahasiswa Ilmu Sosial se-kota Bandung

Pengantar Ilmu Komunikasi

BAB VII KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan. 1. Persepsi Mahasiswa Penyandang Disabilitas Tentang Aksesibilitas Pemilu

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Oka Nazulah Saleh, 2013

MANAJEMEN KRISIS KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI

BAB I PENDAHULUAN. Kebebasan Pers. Seperti yang sering dikemukakan, bahwa kebebasan bukanlah semata-mata

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Warga negara sangat berperan dalam menentukan masa depan negara.

BAB I PENDAHULUAN. editing, dan skenario yang ada sehingga membuat penonton terpesona. 1

BAB I PENDAHULUAN. Dalam masyarakat yang semakin maju dan berkembang, informasi

memberikan kepada peradaban manusia hidup berdampingan dengan

BAB I PENDAHULUAN. yang bersifat terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi. Dalam

TEORI KOMUNIKASI. Konteks-Konteks Komunikasi. SUGIHANTORO, S.Sos, M.IKom. Modul ke: Fakultas ILMU KOMUNIKASI

KODE ETIK DOSEN STIKOM DINAMIKA BANGSA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Dalam penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme. Menurut

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi menduduki suatu tempat yang utama dalam tatanan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Apriyanti Rahayu FAuziah, 2013

Oleh Dra. Hj. Siti Masrifah, MA (Ketua Umum DPP Perempuan Bangsa) Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PKB 1

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian. Reformasi telah memberikan posisi tawar yang jauh lebih dominan kepada

SOSIOLOGI KOMUNIKASI

PERAN SERTA INDIVIDU DAN KELOMPOK DALAM KOMUNIKASI ORGANISASI

KEJELASAN KOMUNIKASI BERDASARKAN UNSUR KOMUNIKASI

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian mengenai Implementasi Pendidikan Politik

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Desa merupakan objek yang dijadikan pemerintah dalam usaha

SOSIOLOGI KOMUNIKASI

BAB I PENDAHULUAN. Pemilihan umum sebagai sarana demokrasi telah digunakan di sebagian besar

BAB I PENDAHULUAN. Seluruh kegiatan politik berlangsung dalam suatu sistem. Politik, salah

Bentuk-Bentuk Komunikasi Karyawan dalam Rapat Internal. Mingguan di Divisi Marketing Nasmoco Janti Yogyakarta

BAB I PENDAHULUAN. komunikasi agar membawa dampak optimal untuk organisasi, publik, maupun kepentingan bisnis menuju ke arah yang lebih baik.

BAB II KAJIAN TEORITIS. memengaruhi tersebut. Berdasarkan pengertian diatas dan dikaitkan dengan kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kedudukan negara Indonesia yang terdiri dari banyak pulau dan Daerah

I. PENDAHULUAN. menentukan keberhasilan pencapaian suatu tujuan pendidikan. Oleh sebab itu,

ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI

BAB I PENDAHULUAN. orang lain, yang mengakibatkan adanya hubungan timbal balik. Dalam interaksi

Seminar Pendidikan Matematika

2014 PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE KUIS TIM UNTUK ENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN MATEMATIS DAN SELF-CONFIDENCE SISWA SMP

KOMUNIKASI EFEKTIF DISAMPAIKAN PADA MATA KULIAH ETIK UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKARTA Asrori,MA. Modul ke: Fakultas FASILKOM

DAYA DUKUNG KOMUNIKASI POLITIK ANTAR FRAKSI DALAM PENCAPAIAN EFEKTIVITAS DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sudah semakin menjamur dan sepertinya hukum di Indonesia tidak

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat untuk mengaktualisasikan kepentingannya guna menjawab kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Konteks Masalah

SKRIPSI. Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Jurusan Pendidikan Akuntansi. Disusun Oleh:

PROFESSIONAL IMAGE. Modul ke: Fakultas FIKOM. Program Studi Public Relations.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. sendiri. Dengan sendirinya perkembangan usaha penerbitan pers mulai

PRIJANTO: TANGAN KEDUA YANG SETIA DAN BISA DIANDALKAN. Oleh: Niniek L. Karim, Bagus Takwin, Dicky Pelupessy, Nurlyta Hafiyah

KOMUNIKASI DOKTER PADA PASIEN GANGGUAN JIWA (Studi Deskriptif Kualitatif pada Pasien Gangguan Jiwa Di RSJ.Prof.Dr.Hb.

BAB I PENDAHULUAN. penting bagi kehidupan manusia. Sebab tanpa adanya komunikasi tidak mungkin

II TINJAUAN PUSTAKA. kinerja atau keberhasilan organisasi. Pokok kepemimpinan adalah cara untuk

MODUL PERKULIAHAN Kapita Selekta Ilmu Sosial Sistem Sosial

BAB I PENDAHULUAN. yang menyanjung-nyanjung kekuatan sebagaimana pada masa Orde Baru, tetapi secara

URGENSI ETIKA DALAM KOMUNIKASI POLITIK

MUKADIMAH. Untuk mewujudkan keluhuran profesi dosen maka diperlukan suatu pedoman yang berupa Kode Etik Dosen seperti dirumuskan berikut ini.

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Severin & Takard (2001:295) menyatakan bahwa media massa menjadi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, setiap individu terkait

Hubungan Terpaan Informasi Politik Partai NasDem di Televisi dan Komunikasi di dalam Kelompok Referensi Terhadap Preferensi Memilih Partai NasDem

BAB IV ANALISIS DATA. Analisis data merupakan proses pengaturan data penelitian, yakni

2 keberadaannya, secara umum Public Relations adalah semua bentuk komunikasi yang terencana, baik itu kedalam maupun keluar, antara suatu organisasi d

BAB I PENDAHULUAN. dikaruniai berbagai kelebihan dibandingkan dengan ciptaan lainnya. Karunia itu

BAB I PENDAHULUAN. Kognisi adalah Pengetahuan manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH PALEMBANG FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI Jln. Prof. KH. Zainal Abidin Fikry KM 3,5 Palembang

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis yang dilakukan orang-orang

PARTAI POLITIK OLEH: ADIYANA SLAMET. Disampaikan Pada Kuliah Pengantar Ilmu Politik Pertemuan Ke-15 (IK-1,3,4,5)

Hubungan antara Asertivitas Komunikasi Manajer dan Iklim Komunikasi Organisasi dengan Tingkat Kedisiplinan Kerja Karyawan di CV Merapi

KOMUNIKASI POLITIK DALAM MEDIA MASSA

1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan sehari-hari seseorang melakukan komunikasi, baik

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dalam kehidupan sehari hari, kita mengenal berbagai jenis organisasi

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Mencermati hasil analisis data dan pembahasan mengenai profesionalisme wartawan / jurnalis pada stasiun televisi lokal

BAB I PENDAHULUAN. negara tersebut ( Dalam prakteknya secara teknis yang

Psikologi Konseling. Psikologi Konseling. Psikologi Psikologi

BAB 1 PENDAHULUAN. Kebebasan pers Indonesia ditandai dengan datangnya era reformasi dimulai

Transkripsi:

MODUL PERKULIAHAN KEKUASAAN DALAM ORGANISASI Pokok Bahasan 1. Perspektif Kekuasaan Dalam Organisasi 2. Dinamika Kelompok 3. Politik Organisasi Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Ilmu Komunikasi Public Relations 15 42008 Abstrak Modul ini menjelaskan tentang kekuasaan dalam sebuah organisasi Kompetensi Mampu memahami kekuasaan yang ada dalam sebuah organisasi

Pembahasan Pemimpin adalah orang yang membantu orang lain untuk memperoleh hasil-hasil yang dinginkan atau tujuan organisasi. Kepemimpinan diwujudkan melalui gaya kerja (operating style) atau cara bekerja sama dengan orang lain secara konsisten. Pemimpin memegang kendali kuasa dalam komunikasi. Komunikasi yang berujung pada kekuasaan seringkali diartikan sebagai sebuah strategi politik. Mengapa Politik? Karena politik berujung pada power atau kekuasaan. Komunikasi dan politik merupakan dua subjek kajian ilmu sosial yang seringkali pemaknaan dua kata ini dipisahkan dan digabungkan. Ketika kedua kata ini berdiri sendiri akan memiliki makna yang berbeda dan tersendiri, begitu juga ketika kedua kata ini disatukan menimbulkan makna baru yang lebih spesifik. Komunikasi dan politik dalam wacana ilmu pengetahuan manusia merupakan dua wilayah pencarian yang masing-masing dapat dikatakan relatif berdiri sendiri, namun memiliki kesamaan karena objek materi yang sama yakni manusia. Akibatnya kedua disiplin ilmu ini tidak dapat menghindari adanya pertemuan bidang kajian. Hal ini disebabkan karena masing-masing memiliki sifat interdisipliner, yakni sifat yang memungkinkan setiap disiplin ilmu membuka isolasinya dan mengembangkan kajian kontekstualnya. Komunikasi mengembangkan kajiannya yang beririsan dengan disiplin ilmu lainnya seperti sosiologi, psikologi, dan hal yang sama berlaku juga pada ilmu politik. Secara singkat Dan Nimmo mendeskripsikan bahwa politik adalah pembicaran atau kegiatan politik adalah seni berbicara. Politik pada hakikatnya merupakan kegiatan orang secara kolektif yang mengatur perbuatan mereka di dalam kondisi konflik sosial. Bila orang mengamati konflik, mereka menurunkan makna perselisihan melalui komunikasi. Bila orang menyelesaikan perselisihan mereka, penyelesaian itu adalah hal-hal yang diamati, diintrepretasikan dan dipertkarkan melalui komunikasi. Menurut Dahlan, komunikasi politik adalah sebuah proses pengoperasian lambanglambang atau simbol-simbol komunikasi yang berisi pesan-pesan politik dari seseorang atau kelompok kepada orang lain dengan tujuan untuk membuka wawasan atau cara berfikir, serta mempengaruhi sikap dan tingkah laku khalayak yang menjadi target politik. Sejalan dengan pemaparan Dahlan, Galnoor menyebutkan bahwa komunikasi politik merupakan infrastruktur politik, yakni suatu kombinasi dari berbagai interaksi sosial dimana 2

informasi yang berkaitan dengan usaha berkaitan dengan usaha bersama dan hubungan kekuasan masuk ke dalam peredaran. Dapat kita simpulkan bahwa hakekat komunikasi politik adalah upaya kelompok manusia yang mempunyai orientasi pemikiran politik atau ideologi tertentu dengan tujuan untuk menguasai, memperoleh kekuasaan dengan kekuatan sehingga tujuan pemikiran politik dan ideologi tertentu dapat terwujud. Sementara itu, Harold Lasswell memandang orientasi komunikasi politik sebagai berikut: pertama, komunikasi politik selalu berorientasi pada nilai atau usaha mencapai tujuan, nilai-nilai dan tujuan itu sendiri yang dibentuk di dalam dan oleh proses perilaku yang sesungguhnya merupakan suatua bagian; dan kedua, bahwa komunikasi poltitik bertujuan menjangkau masa depan dan bersifat mengantisipasi serta berhubungan dengan masa lampau dan senantiasa memperhatikan kejadian masa lalu. Dalam dunia politik, komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik dan aktor-aktor politik, atau berkaitan dengan kekuasaan, pemerintahan, dan kebijakan pemerintah disebut dengan komunikasi politik. Dengan pengertian ini, sebagai sebuah ilmu terapan, komunikasi politik bukanlah hal yang baru. Komunikasi politik juga bisa dipahami sebagai komunikasi antara yang memerintah dan yang diperintah. Selain itu komunikasi politik juga merupakan suatu proses pengoperasian lambang atau simbol komunikasi yang berisi pesan politik dari seseorang atau kelompok kepada orang lain dengan tujuan untuk membuka wawasan atau cara berpikir, serta memengaruhi sikap dan tingkah laku khalayak yg menjadi target politik. Kecenderungan kekuasaan dan kepentingan politik lebih melihat pada kalkulasi keuntungan yang didapat sesuai prinsip politk power tends to corrupt and absolute power corrupt absolutely. Yaitu, manusia yang memiliki kekuasaan/jabatan politik cenderung untuk menyalah gunakan kekuasaan, dan manusia yang memiliki kekuasaan yang tidak berbatas pasti akan menyalahgunakannya. Faktor-faktor dari proses komunikasi politik meliputi sebagai berikut: Komunikator Politik Komunikator politik adalah Partisipan yang dapat menyampaikan atau memberikan informasi tentang hal-hal yang mengandung makna atau bobot politik. Pesan Politik Pesan politik adalah pernyataan yang disampaikan, baik secara tertulis maupun tidak tertulis, baik secara verbal maupun non-verbal, tersembunyi maupun terangterangan, baik yang disadari maupun tidak disadari yang isinya mengandung bobok 3

politik. Yaitu bagaimana agar setiap pesan politik yang disampaikan dapat dimengerti oleh setiap anggota ataupun masyarakat. Saluran atau Media politik Saluran atau media Politik adalah alat atau sarana yang dipergunakan oleh para komunikator politik dalam menyampaikan pesan politik nya. Dimana setiap kegiatan ataupun pesan yang ingin disampaikan oleh partai politik di tampilkan disetiap media politik. Sasaran atau Target Politik Sasaran atau target politik adalah anggota masyarakat yang diharapkan dapat memberi dukungan dalam bentuk pemberian suara (vote) kepada partai atau kandidat dalam Pemilihan Legislatif. Pengaruh atau Efek Komunikasi Politik Efek komunikasi politik yang diharapkan adalah terciptanya pemahaman terhadap sistem pemerintahan dan partai-partai politik, dimana nuansanya akan bermuara pada pemberian suara dalam pemilihan umum. Sebagai disiplin ilmu, komunikasi politik memiliki lima fungsi dasar dalam melaksanakan strategi komunikasi politiknya, yakni : Bagaimana memberikan informasi kepada masyarakat mengenai apa yang terjadi disekitarnya. Disini media komunikasi memiliki fungsi pengamatan dan juga fungsi monitoring apa yang terjadi dalam masyarakat. Indikatornya adalah: a) Adanya penyampaian program-program yang bersentuhan terhadap kalangan bawah melalui berbagai media cetak atau elektronik. b) Pendekatan-pendekatan kepada masyarakat melalui berbagai program yang dapat mengundang partisipasi para konstituen. Bagaimana mendidik masyarakat terhadap arti dan signifikansi fakta yang ada. Disini para jurnalis diharapkan melihat fakta yang ada sehingga berusaha membuat liputan yang objektif (objective reporting) yang bisa mendidik masyarakat atas realitas fakta tersebut. Indikatornya adalah: a) Informasi sebenar-benarnya mengenai janji kepala daerah kepada masyarakat. b) Adanya upaya pembuktian janji. 4

Bagaimana menyediakan diri sebagai platform untuk menampung masalahmasalah politik sehingga bisa menjadi wacana dalam membentuk opini publik, dan mengembalikan hasil opini itu kepada masyarakat. Dengan cara demikian, bisa memberi arti dan nilai pada usaha penegakan demokrasi. Indikatornya: a) Bagaimana cara partai/kepala daerah dalam menampung aspirasi masyarakat. b) Meyakinkan masyarakat bahwa mereka bisa menjadi penampung aspirasi masyarakat maupun aspirasi politik Bagaimana membuat publikasi yang ditujukan kepada pemerintah dan lembagalembaga politik. Indikatornya adalah setiap program kerja yang ada dapat diketahui oleh pemerintah dan pihak lainnya seperti masyarakat maupun lembaga-lembaga politik lainnya. Dalam masyarakat yang demokratis, media politik berfungsi sebagai saluran advokasi yang bisa membantu agar kebijakan dan programprogram lembaga politik dapat disalurkan kepada media massa. TEORI -TEORI DINAMIKA KELOMPOK Teori Fungsional Teori-teori fungsional dari komunikasi kelompok memandang komunikasi sebagai sebuah alat melalui mana kelompok membuat keputusan, dan menekankan pada hubungan antara kualitas komunikasi dan kualitas hasil kelompok. Komunikasi melakukan beberapa hal atau fungsi-fungsi (functions) dengan beberapa cara untuk menentukan hasil kelompok. Ini yang disebut sebagai cara berbagi informasi, yaitu cara anggota kelompok mengeksplorasi, mengidentifikasi kesalahan serta sebuah alat untuk persuasi. Fungsionalisme dalam teori komunikasi kelompok sangat dipengaruhi oleh pragmatis dari pengajaran diskusi kelompok kecil, didasari karya filsuf John Dewey yang dipublikasikan dari How We Think di tahun 1910. Hingga abad ke 20 pemikiran pragmatis ini masih tetap berpengaruh. Versi Dewey pada proses pemecahan masalah memiliki 6 tahap, yaitu (1) mengungkapkan sebuah kesulitan, (2) mendefiniskan masalah, (3) analisa masalah, (4) mengusulkan solusi, (5) membandingkan alternatif dan mengujinya pada serangkaian tujuan atau kriteria dan (6) implementasi solusi terbaik. Teori Fungsional Umum 5

Randy Hirokawa dan kawan-kawan, adalah para pemuka pada tradisi fungsi ini. Karya mereka melihat berbagai kesalahan yang dibuat oleh kelompok dan bertujuan untuk mengidentifikasi hal-hal yang harus dipertimbangkan untuk menjadi lebih efektif. Teori versi Hirokawa pada proses pengambilan keputusan ini terlihat serupa dengan urutan penyelesaian masalah milik Dewey. Pada umumnya, kelompok mulai dengan mengidentifikasi dan memperhitungkan masalah serta akan timbul beberapa pertanyaan: Apa yang terjadi? Mengapa? Siapa yang terlibat? Apa kerugian yang timbul? Siapa yang terluka? Selanjutnya kelompok berkumpul dan mengevaluasi informasi. Kemudian kelompok membangun berbagai proposal alternatif untuk menangani masalah dan mendiskusikan tujuan yang ingin dicapai. Alternatif dan tujuan ini kemudian dievaluasi untuk mencapai konsensus. Faktor-faktor yang berpengaruh pada diambilnya keputusan yang salah dapat disimpulkan dengan mudah dari proses pengambilan keputusan tersebut, yaitu : (1) perhitungan yang tidak tepat terkait masalah, yang berasal dari analisis situasi yang tidak akurat atau tidak memadai, (2) tujuan organisasi yang kurang tepat, (3) perhitungan yang kurang tepat pada hasil positif dan negatif, (4) kemungkinan kelompok mengembangkan basis informasi yang tidak memadai, (5) kelompok mungkin salah-akibat pemikiran yang keliru dari basis informasi yang minim. Mengapa kelompok dapat masuk perangkap seperti ini? Hirokawa berpendapat bahwa kesalahan-kesalahan tersebut dikarenakan pengaruh anggota tertentu yang tanpa sengaja telah salah mengarahkan kelompok. Teori Berpikir Kelompok Dari Janis Hipotesis berpikir kelompok dari Irving Janis menekankan pada pemikiran kritis yang menunjukkan bagaimana kondisi tertentu dapat mengarah kepada kepuasan kelompok yang tinggi dengan hasil yang tidak efektif. Berpikir kelompok merupakan hasil langsung dari kekompakan di dalam kelompok. Kekompakan (cohesiveness) adalah suatu akibat dari sejauhmana semua anggota memandang bahwa tujuan para anggota dapat dicapai di dalam kelompok. Keadaan ini tidak menuntut para anggota untuk memiliki sikap yang sama tetapi para anggota tersebut saling bergantung dan mengandalkan satu sama lain untuk mencapai tujuan tertentu yang diinginkan bersama. Semakin kompak suatu kelompok, semakin besar tekanan atas anggota-anggotanya. 6

Menurut Janis, kekompakan selain mengandung nilai positif juga membahayakan. Kelompok yang sangat kompak mungkin menginvestasikan terlalu banyak energi untuk memelihara niat baik di dalam kelompok, sehingga mengorbankan pengambilan keputusan. Ada enam hasil negatif yang timbul dari cara berpikir kelompok, yaitu: Kelompok membatasi diskusinya hanya pada sedikit alternatif, dan tidak banyak melakukan penelusuran terhadap pemikiran yang lain. Kelompok tidak begitu kritis dalam meneliti penyimpangan-penyimpangan dari solusi yang dipilih. Pendapat-pendapat yang minoritas dengan cepat diabaikan, tidak hanya oleh mayoritas tetapi juga oleh mereka yang awalnya mendukung. Pendapat ahli tidak dicari. Kelompok puas dengan keputusannya sendiri, dan mungkin merasa terancam oleh pendapat pihak luar. Kelompok sangat selektif dalam mengumpulkan dan memperhatikan informasi yang tersedia. Kelompok merasa sangat yakin akan alternatif pilihannya, sehingga kelompok tidak mempertimbangkan rencana kemungkinan lain. Lebih lanjut, Janis menegaskan bahwa berpikir kelompok ditandai beberapa gejala, yaitu: (1) ilusi ketidakrentanan, yang menimbulkan suasana optimis yang berlebihan, (2) terbentuknya upaya bersama untuk merasionalkan tindakan yang sudah diputuskan, (3) mempertahankan sebuah keyakinan yang tidak perlu dipertanyakan dalam moralitas yang tertanam, dengan menganggap diri termotivasi kuat untuk bekerja mencapai hasil terbaik. Hal ini mengarahkan kelompok pada konsekuensi moral dan etis yang lemah. (4) Para pemimpin out-group distereotipekan sebagai jahat, atau tolol, (5) tekanan langsung pada anggota untuk tidak mengekspresikan pertentangan pendapat, (6) penyensoran diri dari ketidaksepakatan, (7) adanya ilusi kesepakatan bersama didalam kelompok, dan terakhir berpikir kelompok melibatkan munculnya pengawal pikiran yang ditunjuk untuk melindungi kelompok, dan pemimpin dari opini buruk dan informasi yang tidak dikehendaki. Politik Organisasi berdasarkan U-Theory Otto Scharmer Esensi kepemimpinan menurut Otto Scharmer dalam bukunya U-Theory: Leading from the Future as It Emerges, adalah kemampuan memfasilitasi perubahan sisi dalam seseorang atau organisasi untuk menangkap masa depan dan mengeksplorasi dengan penuh kreativitas. Dalam menggambarkan Teori U, Scharmer meletakkan pondasi bahwa seseorang haruslah berani untuk menerima dan menjawab situasi tidak hanya dengan 7

cara mengunduh, namun juga melihat sepenuhnya (open mind), mengerti sepenuhnya (open heart), dan menerima sepenuhnya (open will), untuk kemudian mengembangkan keputusan berdasarkan hasil penerimaan itu. Scharmer melihat bahwa konstruksi systems thinking konvensional telah berhasil mengajak orang untuk open mind (lewat pemahaman atas events, patterns, dan structure) dan open heart (lewat pemahaman atas mental model), namun belum sepenuhnya mengeksplorasi bagaimana sumber terdalam di diri mampu melihat dan menerima situasi tersebut dengan jernih melalui open will. Adapun uraian dari konsep U-Theory Otto Schamer adalah sebagai berikut: Co-initiating (memulai bersama): membangun niat/itikad. Berhenti dan mulai mendengarkan orang lain serta panggilan kehidupan apa yang harus anda lakukan. Co-sensing (merasakan bersama): mengamati, mengamati, mengamati. Pergi ke tempat yang paling potensial dan dengarkan dengan pikiran dan hati yang terbuka lebar. Faktor pembatas perubahan transformasional bukan karena kurangnya visi atau gagasan, tetapi ketidakmampuan untuk merasakan. Yaitu, melihat secara mendalam, tajam, dan kolektif. Ketika anggota kelompok melihat bersama-sama dengan kedalaman dan kejelasan, mereka menjadi sadar akan potensi kolektif mereka. Presencing: terhubung ke sumber inspirasi dan kehendak bersama. Pergi ke tempat keheningan dan biarkan pengetahuan sisi dalam muncul. Presencing berasal dari gabungan dua kata presence (kehadiran) dan sensing (penginderaan). Presencing ditandai dengan keadaan kesadaran tingkat tinggi yang memungkinkan individu dan organisasi mengubah inner place (sisi dalam) keberadaannya. Ketika perubahan ini terjadi, seseorang atau organisasi mampu menghadirkan ruang masa depan melalui penginderaan yang tajam tersebut. Inti dari presencing adalah pengalaman pada hal baru dan perubahan terhadap hal yang lama. Setelah grup melintasi batas ini, tidak ada yang tetap sama. Anggota individu dan kelompok sebagai keseluruhan mulai beroperasi dengan tingkat energi tinggi dan rasa kemungkinan masa depan. Seringkali mereka kemudian mulai berfungsi sebagai kendaraan yang disengaja untuk masa depan yang mereka rasa akan terjadi. Co-creating (mencipta bersama): membentuk dasar (prototipe) hal baru dalam contoh nyata untuk mengeksplor masa depan dengan bertindak. Prototipe adalah bagian dari proses penginderaan dan penemuan di mana individu mengeksplorasi masa depan dengan bertindak bukan dengan berpikir dan merefleksikan. Ini adalah 8

seperti titik sederhana dimana individu telah menemukan bahwa proses inovasi dari banyak organisasi berhenti di sana, di metode analisis lama tentang "kelumpuhan analisis". Gerakan co-creation dari perjalanan U menghasilkan satu set contoh kehidupan kecil yang mengeksplorasi masa depan dengan bertindak. Ini juga menghasilkan jaringan pencipta perubahan yang bersemangat dan dengan cepat berkembang dan meningkatkan pembelajaran di seluruh prototipe yang saling membantu dalam menghadapi tantangan inovasi apapun yang dihadapi. Co-evolving (berkembang bersama): mewujudkan hal baru dalam ekosistem yang memfasilitasi penglihatan dan tindakan dari keseluruhan. Setelah mengembangkan beberapa prototipe dan mikrokosmos yang baru, langkah selanjutnya adalah meninjau apa yang telah dipelajari - apa yang bekerja dan tidak, dan kemudian menentukan prototipe mana yang memiliki dampak tertinggi pada sistem atau situasi yang ada. Datang dengan penilaian suara pada tahap ini seringkali memerlukan keterlibatan pemangku kepentingan dari lembaga dan sektor lain. Hasil gerakan coevolving di ekosistem inovasi menghubungkan inisiatif prototipe tinggi dengan institusi dan pelaku yang dapat membantu membawa ke tingkat berikutnya dalam uji coba dan penilaian. 9

Daftar Pustaka Arni Muhammad. Arni. 2002.. Jakarta: Bumi Aksara. Cangara, Hafied. 2008. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Nimmo, Dan. 2005. Komunikasi Politik. Komunikator, Pesan, dan Media.(Edisi terjemahan). Bandung: Remaja Rosdakarya. Pace, Wayne., Faules, Don.F. 2005.. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 10