INTERELASI RTR DENGAN SISTRAN

dokumen-dokumen yang mirip
GUBERNUR SULAWESI BARAT,

Lokasi Sumber Dana Instansi Pelaksana. APBD Prov. APBD Kab.

GUBERNUR GORONTALO PERATURAN DAERAH PROVINSI GORONTALO NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI GORONTALO TAHUN

Rangkuman tentang Muatan. Rencana Rinci

KETENTUAN TEKNIS MUATAN RENCANA DETAIL PEMBANGUNAN DPP, KSPP DAN KPPP

MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL

FORMAT SURAT KEPUTUSAN MENTERI, KEPUTUSAN GUBERNUR, DAN KEPUTUSAN BUPATI/WALIKOTA TENTANG PENETAPAN PELAKSANAAN PENINJAUAN KEMBALI

BAB III METODE PENELITIAN

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 15/PRT/M/2009 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI

STRATEGI UMUM DAN STRATEGI IMPLEMENTASI PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG

ARAHAN PENGEMBANGAN WILAYAH NASIONAL KSN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BINTAN NOMOR : 2 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BINTAN TAHUN

JUMLAH PUSKESMAS MENURUT KABUPATEN/KOTA (KEADAAN 31 DESEMBER 2013)

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATARAN TRANSPORTASI WILAYAH PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG KETELITIAN PETA RENCANA TATA RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Badan Litbang Perhubungan telah menyusun kegiatan penelitian yang dibiayai dari anggaran pembangunan tahun 2010 sebagai berikut.

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 16/PRT/M/2009 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 16/PRT/M/2009 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONDOWOSO NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BONDOWOSO TAHUN

INDIKASI PROGRAM UTAMA LIMA TAHUNAN RTRW PROVINSI GORONTALO

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banyuasin

BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI BANTEN

Contoh Tabel Pemeriksaan Mandiri Materi Muatan Rancangan Perda Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi

Departemen Perhubungan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat

DATA DASAR PUSKESMAS PROVINSI SULAWESI BARAT

DATA DASAR PUSKESMAS PROVINSI SULAWESI BARAT

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG TINGKAT KETELITIAN PETA RENCANA TATA RUANG BADAN KOORDINASI SURVEI DAN PEMETAAN NASIONAL

Perkembangan Jumlah Penelitian Tahun

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA)

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI

KAJIAN JARINGAN TRAYEK ANGKUTAN LAUT NASIONAL UNTUK MUATAN PETIKEMAS DALAM MENUNJANG KONEKTIVITAS NASIONAL

BELAWAN INTERNATIONAL PORT PASSANGER TERMINAL 2012 BAB I. PENDAHULUAN

PERKEMBANGAN PERHOTELAN/AKOMODASI LAINNYA DAN TRANSPORTASI PROVINSI GORONTALO FEBRUARI 2012 A. PERKEMBANGAN PERHOTELAN/AKOMODASI LAINNYA

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : TENTANG

KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI. dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya;

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2001 TENTANG KEPELABUHANAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS NOMOR 03 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS TAHUN

Bab II. Tujuan, Kebijakan, dan Strategi 2.1 TUJUAN PENATAAN RUANG Tinjauan Penataan Ruang Nasional

MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Peran dan Karakteristik Angkutan Kereta Api Nasional

LAMPIRAN VII PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SLEMAN TAHUN

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN

Pesawat Polonia

Studi Pengembangan Kapasitas dan Fasilitas Pelabuhan Dalam Mendukung MP3EI Koridor Sulawesi KATA PENGANTAR. Final Report

PERKEMBANGAN PERHOTELAN/AKOMODASI LAINNYA DAN TRANSPORTASI PROVINSI GORONTALO OKTOBER 2016

KEBUTUHAN PENGEMBANGAN FASILITAS PELABUHAN KOLAKA UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN WILAYAH KABUPATEN KOLAKA

BAB I PENDAHULUAN. Kota Semarang terletak LS dan BT, dengan. sebelah selatan : Kabupaten Semarang

BAB 4 SUBSTANSI DATA DAN ANALISIS PENYUSUNAN RTRW KABUPATEN

STRUKTUR RUANG DAN POLA RUANG RTR KEPULAUAN MALUKU DAN RTR PULAU PAPUA

2017, No Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran

Dasar Legalitas : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 1996 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BUPATI MAMASA PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAMASA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN MAMASA TAHUN

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PENATAAN RUANG

GAMBARAN UMUM PROPINSI KALIMANTAN TIMUR. 119º00 Bujur Timur serta diantara 4º24 Lintang Utara dan 2º25 Lintang

BAB. 2 TINJAUAN PUSTAKA

INDIKASI PROGRAM UTAMA LIMA TAHUNAN

PEDOMAN PENATAAN RUANG, TOOLS PERCEPATAN PENYELESAIAN RTRW Penulis: * Ir. Cut Safana, CES dan ** Abrilianty Octaria N, ST

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PEMERINTAH KABUPATEN TRENGGALEK PERATURAN DAERAH NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN TRENGGALEK

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Sistematika Rancangan Peraturan Presiden tentang RencanaTata Ruang Pulau/Kepulauan dan RencanaTata Ruang Kawasan Strategis Nasional

Dasar Legalitas : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG

Rencana Strategis Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Lingga

II. TINJAUAN PUSTAKA. Konsep transportasi didasarkan pada adanya perjalanan ( trip) antara asal ( origin) dan tujuan

Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 1996 Tentang : Kepelabuhanan

BAHAN KULIAH 13 SOSIOLOGI PEMBANGUNAN

LAMPIRAN I CONTOH PETA RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH KABUPATEN L - 1

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TUBAN NOMOR 09 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN TUBAN TAHUN

BUPATI PEMALANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN PEMALANG NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN PEMALANG TAHUN

KATA PENGANTAR. DR.Ir. SUDIRMAN HABIBIE, M.Sc

PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANTEN,

No. Program Sasaran Program Instansi Penanggung Jawab Pagu (Juta Rupiah)

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR TAHUN 2010 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SURABAYA TAHUN

KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL. Dr. Ir. Oswar Mungkasa, MURP Direktur Tata Ruang dan Pertanahan

KATA PENGANTAR. Meureudu, 28 Mei 2013 Bupati Pidie Jaya AIYUB ABBAS

SETDIJEN PERHUBUNGAN DARAT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Peran dan Karakteristik Moda Transportasi Kereta Api Nasional

OLEH : BAPPEDA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

Transkripsi:

INTERELASI RTR DENGAN SISTRAN AY

Kaitan RTRW dalam Sistem Perenc Pemb RPJPN (20 th) RPJPD-P (20 th) RPJPD KAB/KOTA (20 th) NSPK bidang PR RTRWN(20 th) RRTRN RTRWP (20 th) RRTRP RTRW KAB/KOTA (20 th) RRTR KAB/KOTA RPJM-N (5 th) RENSTRA-KL RKP (1 th) RENJA-KL RPJMD-P (5 th ) RENSTRA-SKPD-P RKPD-P (1 th) RENJA SKPD PROVINSI RPJMD-KAB/KOTA (5 th) RENSTRA-SKPD KAB/KOTA (5 th) RKPD-KAB/KOTA (1 th) RENJA-SKPD KAB/KOTA LGSP ASPI Surabaya 080827 2

RENBANG RTR UMUM RTR RINCI Kedudukan RTR dan RP Nasional, Provinsi, Kabupaten dankota

Rencana Struktur Ruang Wilayah Rencana struktur ruang wilayah merupakan rencana kerangka tata ruang wilayah yang dibangun oleh konstelasi pusat-pusat kegiatan (sistem perkotaan) yang berhirarki satu sama lain dan dihubungkan oleh sistem jaringan prasarana wilayah terutama jaringan transportasi Sistem jaringan prasarana wilayah provinsi meliputi sistem jaringan transportasi, energi, telekomunikasi, dan sumber daya air yang mengintegrasikan dan memberikan layanan bagi pusat-pusat kegiatan yang ada di wilayah

Pusat-Pusat Kegiatan Sekaligus Pembangkit Lalulintas PKN yang berada di wilayah provinsi; PKW yang berada di wilayah provinsi; PKSN yang berada di wilayah provinsi; dan PKL yang ditetapkan oleh pemerintah daerah provinsi. PPK PPL

Fungsi Rencana Struktur RW 1. Sebagai pembentuk sistem pusat kegiatan wilayah yang memberikan layanan bagi subwilayah yang berada dalam wilayah; dan 2. Sebagai acuan perletakan sistem jaringan prasarana antarwilayah yang juga menunjang keterkaitan pusat-pusat kegiatan dalam suatu wilayah.

1. CBD 2. TRANSITION 3. WORKING MEN S HOME 4. BETTER RESIDENCES 5. COMMUTERS (desentralisasi permukiman akibat kemajuan teknologi transportasi) Model Zone Konsentris Burgess E.W.1925 Yunus H.S. 1999 AY-Dec '03 7

B' Residential A' Offices Residential Residential 0 Retailing Retailing Offices, Warehouse A Residential B Residential Commercial core Mixed zone Inner residential zone AB = Distance Decay Principle A B = Height Decay Principle Teori Ketinggian Bangunan, Bergel 1955 Dikembangan dari bahasan Yunus H.S. 1999 AY-Dec '03 8

Teori Sektor Homer Hoyt, 1939 Yunus H.S. 1999 Dasar teori Sektor dari identifikasi pola sewa tempat tinggal di kota-kota AS yang cenderung berbentuk pattern of sectors yang tidak mengikuti distance decay principle, tetapi megikuti sektor2 tertentu dan kekhasan masing2; Kunci lokasi sektor terpengaruh oleh high quality areas berdasarkan opini penduduk dalam pemilihan hunian yang nyaman baik dari aspek kemudahan fasum dan fasosek, kondisi alami maupun non alami lingkungan, prestise, dsb; AY-Dec '03 9

10 Faktor penentu perkembangan High Rent Residential Area (HRRA) = Nilai Ruang: 1. Cenderung mendekati daerah sepanjang jalur transportasi dan komunikasi serta kawasan perdagangan dan perbelanjaan; 2. Daerah bebas banjir, bebas polusi, pemandangannya indah seperti tepi laut, tepi teluk, tepi danau, tepi sungai, bukit; 3. Daerahnya terbuka (open country) untuk pengembangan lebih lanjut; 4. Dekat tempat tinggal pemuka-pemuka masyarakat; 5. Dekat kompleks bangunan perkantoran, bank, pertokoan yang tertata rapi; 6. Daerah sepanjang atau aksesibiltas tinggi ke jalur transportasi cepat; 7. Cenderung berkembang pada arah yang sama dlm waktu lama; 8. Berkembang di dekat pusat2 kegiatan pada daerah permukiman lama (gejala gentrifikasi) 9. Berkembang ke arah inisiatif promotor real estator 10.Tidak berkembang secara acak, tetapi mengikuti jalur2 tertentu pada salah satu atau beberapa sektor dalam kota. AY-Dec '03 10

Prinsip2 Dasar SisTran 1. Lancar (cepat, tepat waktu), terjangkau (OD, murah, divable), aman (lakalintas, kriminalitas, penularan penyakit), nyaman (kursi ergonomis, sejuk, bersih), respek (sopan santun petugas, pengemudi), ramah lingkungan (polusi zat kimia, debu, suara, terjaga kualitas LH), terpadu (intermoda, TGR)

Prinsip2 Dasar SisTran 2. FUNGSIONAL, jaringan transpo dikelompokkan dalam berbagai tatanan yang masing2 mempunyai fungsi yang berbeda (operasional rute tertentu, jadwal tertentu, rute bebas, kendaraan penumpang, kendaraan barang, kendaraan cepat, kendaraan lambat, pedestrian, dsb).

Prinsip2 Dasar SisTran 3. INTERMODA, masing2 moda mempunyai kelebihan dan kekurangan perlu diatur agar saling mengisi kekurangannya dalam pelayanan perangkutan orang maupun barang. 4. STRUKTURAL, masing- masing tatanan diatur secara sistematis, terpadu, efisien dan efektif.

2 3 3 2 3 1 3 3 3 4 4 5 Terjadi filtering process yang didukung oleh private housing market; Filtering process tidak relevan lagi apabila public housing market berperan besar. Z1 = CBD; Z2 = wholesale light manufacturing; Z3 = permukim kls rendah; Z4 = permukim kls menengah; Z5 = permukim kls tinggi. Model Teori Sektor Homer Hoyt, 1939 Dalam Yunus H.S. 1999 AY-Dec '03 14

A B 1 2 3 4 5 C Z1 = CBD; Z2 = transition; Z3 = low status; Z4 = middle status; Z5 = high status Z Faktor pengaruh internal penduduk: taste, preference (keinginan), life style A = proses desentralisasi permukiman secara sentrifugal flow mengakibatkan pemborosan praswil dan transportasi B = urban renewal di Z2 mengembalikan proses sentralisasi permukiman di dekat CBD C = urban renewal melebar ke Z3 mewujudkan desentralisasi dari Z2 ke Z3 di samping sentralisasi dari pinggir kota ke tengah (realisasi invasi). Teori Historis Alonso W. 1964 Yunus H.S. 1999 AY-Dec '03 15

5 4 3 2 A 1 B C Z1 = CBD; Z2 = transition; Z3 = low status; Z4 = middle status; Z5 = high status Z A = Z2 mengalami deteriosasi lingkungan yang buruk akibat invasi dan infiltrasi fungsi2 Z1, menimbulkan proses perpindahan penduduk secara centrifugal; B = Urban renewal di Z2 menimbulkan fenomena perpindahan penduduk, terutama yang masih sering berpindah-pindah yang biasanya bujangan atau keluarga baru, secara sentripetal dari fringe areas ke pusat kota; C = usaha pemenuhan kebutuhan perumahan yang semakin banyak menimbulkan fenomena pembangunan kompleks2 permukiman rusun dengan fasum dan fasosek. Model Teori Struktural Alonso W. 1964 Yunus H.S. 1999 AY-Dec '03 16

Konsep dasar Garden City Ebenezer Howard 1898 AY-Dec '03 17

Pola tata ruang pusat-pusat perkotaan berdasarkan efisiensi dan efektifitas sistem transportasi AY-Dec '03 18

Pola metropolitan Canberra AY-Dec '03 19

Pola jalan kombinasi grid dan diagonal sebagai dasar tata ruang Kota Washinton DC AY-Dec '03 20

Struktur ruang PROVINSI GORONTALO

STRUKTUR RUANG Rencana struktur ruang wilayah provinsi meliputi : 1. Rencana sistem perkotaan; 2. Rencana sistem jaringan transportasi; 3. Rencana sistem jaringan energi; 4. rencana sistem jaringan telekomunikasi dan informasi; dan 5. Rencana sistem jaringan sumber daya air.

Sistem Perkotaan 1. PKN Kota Gorontalo yang potensiil dikembangkan menjadi kawasan perdagangan, pelayanan jasa, dan simpul transportasi laut; 2. PKW Isimu yang potensiil dikembangkan menjadi pusat kegiatan agroindustri, pergudangan, dan simpul intermoda transportasi udara, darat dan kereta api; 3. PKW Kwandang yang potensiil dikembangkan menjadi minapolitan, agroindustri dan agrobisnis komoditi perkebunan dan kehutanan, serta wisata bahari Laut Sulawesi; 4. PKW Tilamuta yang potensiil dikembangkan menjadi pusat kegiatan agroindustri dan agrobisnis komoditi pertanian dan perkebunan; 5. PKWp Marisa yang potensiil dikembangkan menjadi pusat kegiatan perdagangan hasil pertambangan dan pariwisata Teluk Tomini.

Sistem Perkotaan 1. PKL Limboto potensiil dikembangkan menjadi pusat perdagangan dan pelayanan kabupaten, serta wisata Tirta D. Limboto; 2. PKL Suwawa potensiil dikembangkan menjadi pusat perdagangan dan pelayanan kabupaten, serta pusat kegiatan pendidikan, kampus-kampus perguruan tinggi dan lambaga riset (GIMIC); 3. PKL Paguyaman potensiil dikembangkan menjadi pusat kegiatan agroindustri dan agrobisnis pertanian pangan; 4. PKL Paguat potensiil dikembangkan menjadi Minapolitan; 5. PKL Papoyato potensiil dikembangkan menjadi pusat perdagangan dan pelayanan kabupaten, serta kegiatan pertambangan;

SISTEM JARINGAN TRANSPORTASI 1. Meningkatkan kualitas jaringan prasarana transportasi dan mewujudkan keterpaduan pelayanan transportasi darat, laut dan udara; 2. Sistem jaringan transportasi meliputi jaringan jalan, jaringan jalur Kereta Api dan jaringan transportasi sungai, danau, dan penyeberangan. 3. Sistem jaringan transportasi laut meliputi tatanan kepelabuhanan dan alur pelayaran. 4. Sistem jaringan transportasi udara meliputi tatanan kebandarudaraan dan ruang

Sistem Jaringan Jalan» Sistem jaringan jalan yang terkait dengan wilayah provinsi adalah jaringan jalan primer yang peruntukannya untuk jalan antar kota yang tidak terputus walaupun masuk kota, dan sistem jalan sekunder yang peruntukannya untuk jalan di dalam kota di luar sistem jalan primer;

» Jaringan jalan arteri primer meliputi perbatasan Prov Sulteng Popayato Marisa Paguat Tilamuta Paguyaman Isimu Limboto Gorontalo; Isimu Kwandang perbatasan Prov Sulut; jalur Selatan Gorontalo Isimu.» Jaringan jalan kolektor primer meliputi Gorontalo Suwawa; Kwandang Anggrek Paguyaman.

Rencana pengembangan Jalur KA Nasional Lintas Utama di Provinsi Gorontalo dari perbatasan Prov Sulteng Popayato Marisa Paguat Tilamuta Paguyaman Isimu Limboto Gorontalo; Isimu Kwandang perbatasan Prov Sulut; jalur Selatan Gorontalo Isimu

Jalur penyeberangan dalam sistem SDP direncanakan meliputi jalur Fery yaitu Marisa - Wakai Ampana, Gorontalo Pagimana, Gorontalo Wakai Ampana, Likupang Kwandang Tolitoli Tarakan, dan Gorontalo Molibagu Bitung

Sistem Kepelabuhanan Pelabuhan pengumpul meliputi Pel Gorontalo di Kota Gorontalo, Pel Anggrek dan Pel Kawandang di Kab Gorut; Pel Anggrek berfungsi untuk bongkar muat kargo dan peti kemas termasuk ekspor jagung ke Brunei Darusalam, Malaysia dan Philipina, serta pelabuhan batubara sebagai bahan baku PLTU; Pelabuhan-pelabuhan pengumpan antar pulau meliputi: Pel Kwandang di Kab Gorut, Pel Marisa dan Pel Bumbulan di Kab Pohuwato, dan Pel Tilamuta di Kab Boalemo.

Sistem Kebandarudaraan Sistem tatanan kebandarudaraan di Prov Gorontalo meliputi Bandara pengumpul sekunder Jalaludin yang merupakan bandara nasional (domestik) di Kab Gorontalo, dan bandara pengumpan di Kab Pohuwato yang merupakan bandara provinsi.

Struktur ruang PROVINSI SULBAR

STRUKTUR RUANG Rencana struktur ruang wilayah provinsi meliputi : 1. Rencana sistem perkotaan; 2. Rencana sistem jaringan transportasi; 3. Rencana sistem jaringan energi; 4. rencana sistem jaringan telekomunikasi dan informasi; 5. Rencana sistem jaringan sumber daya air; dan 6. Rencana sistem prasarana persampahan dan sanitasi.

Sistem Perkotaan 1. PKNp Matabe meliputi Mamuju, Tampapadang dan Belang-Belang yang potensiil dikembangkan menjadi kawasan terpadu kegiatan industri, perdagangan, pergudangan, petikemas, dan simpul intermoda transportasi laut, udara, darat dan kereta api; 2. PKW PKW; Majene, ibukota Kabupaten Majene, sebagai kota pendidikan, dan Pasangkayu, ibukota Kabupaten Mamuju Utara, sebagai kota agropolitan;

Sistem Perkotaan 3. PKWp Polewali, ibukota Kabupaten PolMan yang berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa serta berpotensi sebagai simpul transportasi yang melayani beberapa kabupaten; 4. PKL-PKL ; Mamasa (ibukota Kabupaten Mamasa) sebagai pusat pariwisata budaya dan alam, Wonomulyo sebagai sentra lumbung beras, dan Topoyo yang dikembangkan sebagai Kota Terpadu Mandiri (KTM).

SISTEM JARINGAN TRANSPORTASI 1. Meningkatkan kualitas jaringan prasarana transportasi dan mewujudkan keterpaduan pelayanan transportasi darat, laut dan udara; 2. Sistem jaringan transportasi meliputi jaringan jalan, jaringan jalur Kereta Api dan jaringan transportasi sungai, danau, dan penyeberangan. 3. Sistem jaringan transportasi laut meliputi tatanan kepelabuhanan dan alur pelayaran. 4. Sistem jaringan transportasi udara eliputi tatanan kebandarudaraan dan jalur

Sistem Jaringan Jalan» Sistem jaringan jalan yang terkait dengan wilayah Provinsi adalah jaringan jalan primer yang peruntukannya untuk jalan antar kota yang tidak terputus walaupun masuk kota, dan sistem jalan sekunder yang peruntukannya untuk jalan di dalam kota di luar sistem jalan primer;» Jaringan jalan arteri primer di Provinsi Sulbar meliputi: Mamuju Bandara Tampapadang Pelabuhan Belang- Belang; Tapallang Barat Sumare Rangas Mamuju; Batas Sulsel Polewali - Majene - Mamuju.» Jaringan jalan kolektor primer di Provinsi Sulbar meliputi: Belang-Belang Pasangkayu Batas Sulteng; Kaluku Salubatu Arale Mambi - Mamasa Batas Tator.

Jaringan jalan arteri primer di Provinsi Sulbar meliputi: Batas Sulsel Polewali Majene Tapallang Sumare Rangas Mamuju Bandara Tampapadang Pelabuhan Belang-Belang. Jaringan jalan kolektor primer di Provinsi Sulbar meliputi: Belang-Belang Pasangkayu Batas Sulteng; Kaluku Salubatu Arale Mambi - Mamasa Batas Tator

» Rencana pengembangan jalan kolektor primer yang menghubungkan antar ibukota Kabupaten meliputi: Kalukku Bonehau Kalumpang - Batuisi Batas Luwu Utara; Batuisi - batas Tana Toraja; Polewali Tabone Malabo Mamasa Tabang (batas Tana Toraja); Salubatu Tabulahang Mambi Malabo; Tikke - Batas Sulteng.» Rencana pengembangan jalan kolektor primer yang menghubungkan antar ibukota ibukota Kecamatan meliputi: Mapili Matangnga SP. Mambi. Salutambung Ulumanda Urekang - Mambi.

Rencana pengembangan Jalur KA Nasional Lintas Utama di Provinsi Sulbar yang melewati pantai Barat dari perbatasan Kabupaten Pinrang Provinsi Sulawesi Selatan Polewali Wonomulyo -- Majene Mamuju Belangbelang Topoyo - Pasangkayu perbatasan Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah

SISTEM TRANSPORTASI SUNGAI, DANAU & PENYEBERANGAN Sistem jaringan transportasi sungai lintas kabupaten/ kecamatan yaitu mengembangkan jaringan transportasi sungai Babana, Sungai Tarailu. Sungai Karama masing-masing di Kabupaten Mamuju dan Sungai Mapilli di Kabupaten Polewali Mandar. Sistem jaringan penyeberangan yang meliputi rute Fery Pelabuhan Simboro Balikpapan (Kaltim), Majene Batulicin (Kalimantan Selatan), Pasangkayu Samarinda (Kaltim).

SISTEM KEPELABUHAN Sistem tatanan kepelabuhanan Nasional di Provinsi Sulbar meliputi Pelabuhan-Pelabuhan Pengumpul Belang Belang, Pelabuhan Mamuju, Pelabuhan Pasangkayu, dan Pelabuhan Tanjung Silopo Sistem tatanan kepelabuhanan Provinsi Sulbar berupa pelabuhan pengumpan primer meliputi: Campalagian (Kabupaten Polman), Palipi (Kabupaten Majene), Majene (Kab. Majene), Budong Budong (Kab. Mamuju), dan Bambaloka (Kab. Mamuju Utara).

SISTEM KEBANDARUDARAAN Kebandarudaraan di wilayah provinsi Sulbar berupa Bandara pengumpul sekunder Tampapadang yang merupakan bandara domestik di Kabupaten Mamuju, dan rencana bandara pengumpan meliputi Bandara Somarorong di Kabupaten Mamasa, Bandara Campalagian di Kabupaten Polewali Mandar, dan Bandara Pedongga di Kabupaten Mamuju Utara;

Struktur ruang PROVINSI TANA TORAJA