111. KEADAAN UMUM DAERAH PEWELITIAN 1. Letak dan Luas Daerah Aliran Sungai Bila Walanae merupakan gabungan antara Daerah Aliran Sungai Bila dan Daerah Aliran Sungai Walanae yang merupakan satu kesatuan pengelolaan dan terletak di bagian tengah Propinsi Sulawesi Selatan. Secara geografis terletak antara 119' 41' 24" sampai 120' 20' Bujur Timur dan 3' 25' sampai 5' 5' 30'' Lintang Selatan. Luas Daerah Aliran Sungai Bila Walanae adalah 800.395 hektar yang secara administratif berada di dalam Kabupaten Bone, Soppeng, Sidrap, Wajo, Maros dan Enrekang. Luas ke enam kabupaten tersebut adalah 1.384.538 hektar, dengan demikian luas DAS Bila Walanae 58 % dari luas keseluruhan enam kabupaten tersebut. Pada bagian sebelah Timur DAS Bila Walanae dibatasi oleh Kabupaten Bone dan Wajo bagian Timur, sebelah Barat oleh Kabupaten Barru dan Pangkep, sebelah Selatan dibatasi oleh Kabupaten Maros, Gowa dan Sinjai, sedangkan di bagian Utara dibatasi oleh Kabupaten Pinrang dan Enrekang bagian Tengah. Luas kawasan yang termasuk dalam DAS Bila Walanae pada tiap kabupaten adalah sebagai berikut : (a) Kabupaten Bone seluas 181.253 ha = 22,6 % (b) Kabupaten Soppeng seluas 147.753 ha = 18,5 % (c) Kabupaten Sidrap seluas 188.000 ha = 23,5 % (d) Kabupaten Wajo seluas 182.828 ha = 22,8 %
(e) Kabupaten Maros seluas 41.251 ha = 592 % ( f) Kabupaten Enrekang seluas 58,200 ha = 7,3 % Jumlah : 800.395 ha = 100,O % 2. Topografi Secara makro keadaan topografi Daerah Aliran Sungai Bila Walanae bervariasi dari datar, berombak, bergelombang, berbukit sampai bergunung dan kemiringannya antara datar di bagian tengah sampai curam/terjal d5. batas DAS. Keadaan bentuk lapangan dapat diklasifikaslkan sebagai berikut : (a) Datar ( 0 5 $1 seluas 87.055 ha (b) Berombak ( 5 - LO %) seluas 178.006 ha (c) Bergelombang (10-30 %) seluas 228.564 ha (d) Berbukit (30-50 $1 seluas 232.042 ha (e) Bergunung (50 % keatas) seluas 74.728 ha Jumlah : 800.395 ha Ditinjau dari pembagian per kabupaten keadaan bentuk lapangan, daerah gang termasuk dalam DAS Bila Walanae ada- lah seperti dalam Tabel 1 berikut ini.
rl cu Tabel 1. Keadaan Topografi Lapangan Konfigurasi Lapangan Kabupaten Datar Berombak Bergelombang Berbukit Bergunung Jumlah 0-5% 5-10% 10-30% 30-50% >50 % (ha) (ha) (ha) (ha) (ha) (ha) Bone - 19.375 100.487 57.016 4.375 181.253 Sidrap 32.146 57. 442 5.060 93.352-188.000 Wajo 43.498 62.022 48 715 21.845 6.748 182.828 Maros - - 19 875 21.376-41.251 Juml ah 86.055 178.006 228.464 232.042 74.728 800.395 Sumber : Kantor P3RPDAS Bila Walanae.
3. Iklim Sekitar DAS Bila Walanae bulan basah atau bulan hujan sangat bervariasi menurut letak geografisnya. Variasi ini dipengaruhi oleh adanya angin Barat dan angin Timur yang berhembus dari Laut Jawa, dari Timur dan Tenggara. Dari 19 stasion pengamat curah hujan yang terdapat di dalam DAS Bila Walanae menunjukan bahwa berdasarkan klasifikasi iklim menurut Schmidt & Ferguson, daerah dalam DAS Bila Walanae bervariasi antara tipe B sampai E dengan cu- rah hujan rata-rata 1.783 mm/tahun. Di bagian Utara curah hujan terbesar jatuh pada bulan Januari sampai dengan Peb- ruari, sedangkan bulan Juli sampai Desember merupakan bu- lan-bulan dengan curah hujan terkecil. M bagian Selatan curah hujan terbesar sekitar bulan Mei sampai Juni, sedang- kmcurah hujan terkecil jatuh pada bulan September sampai Januari. Di daerah Enrekang hujan jatuh pada bulan Januari sam- pai Mei. Di daerah Sidrap yang berbatasan dengan daerah Enrekang musim hujan jatuh sekitar bulan September sampai Mei. Di daerah Soppeng Utara musim hujan jatuh pada bulan Januari sampai Juli, Soppeng Tengah jatuh pada bulan April Maret. Daerah Wajo, Bone Timur dan Utara serta Soppeng Ba- rat musim hujan jatuh antara bulan Maret sampai Juni, ka- dang-kadang aampai bulan Agustus. Di daerah Maros Utara, Bone Barat dan Soppeng Timur musim hujan antara bulan No- pember sampai Pebruari, kadang-kadang sampai bulan April.
Tabel 2. Curah Hujan dan Klasifikasi Iklim menurut Schmidt & Ferguson No. Stasion Pengamat Curah hujan rata-rata Klasifikasi Iklim menurut Schddt & (mm/th) Ferguson 1. Manurang Salo 1.100 2. Lalange 1.655 3. Watan Soppeng 1.526 E 4. Cabenge 1.450 E 5. Takalala 6. Lalabata 7. Bengo 8. Lamuru 1.426 E 9. Ulaweng 10. Salomekko 11. Ponre 12. Libureng 13. Laparia ja 14. Camba 1.588 E 16. Bila 1.525 17. Baruku 1.300 18. Lolonga 2.575 19. Salo Karaja 1.400 Sumber : P3RPDAS Bila Walanae.
4. Jenis dan Penggunaan Tanah 4.1. Jenis Tanah Jenis tanah yang terdapat di DAS Bila Walanae terdiri dari Alluvial dengan batuan induk endapan liat dan pasir yang terdapat pada daerah datar dan berombak. Grumosol dengan batuan induk gamping dan tufa vulkan pada daerah yang berbukit bergelombang. Regosol dengan batuan induk tufa vulkan alkali pada daerah berbukit bergelombang. Mediteran dengan batuan induk serpih dan tufa vulkan pada daerah berombak dan bergelombang. Podsolik dengan endapan liat bertufa pada topografi berombak. Komplek Mediteran/Litosol/ Regosol dengan batuan induk tufa dan vulkan alkali pada daerah berbukit. Jenis tanah pada masing-masing sub DAS yang ada dalam DAS Bila Walanae adalah sebagai berikut : (a) Sub DAS Bila ; terdiri dari tanah jenis Alluvial, Grumosol, Podsolik, Mediteran dan Regosol. (b) Sub DAS Gilireng ; terdiri dari tanah jenis Alluvial, Mediteran, Podsolik dan Regosol. (c) Sub DAS Paddangeng/Lawo ; terdiri dari tanah jenis Alluvial, Mediteran dan Orurnosol. (d) Sub DAS Sanrego ; terdiri dari tanah jenis Latosol, Grumosol dan Mediteran. (e) Sub DAS Mario ; terdiri dari tanah jenis Alluvial, Grumosol dan Mediteran.
(f) Sub DAS Sempatu/Camba ; terdiri dari tanah jenis Alluvial, Latosol, Podsolik, Mediteran dan Komplek Mediteran/Regusol/Latosol. (g) Sub DAS Tinco ; terdiri dari tanah jenis Latosol, Grumosol dan Mediteran. 4.2. Penggunaan Tanah Pada daerah bagian hulu DAS Bila Walanae kehidupan para petani masih tergantung pada pertanian tanah kering berupa tegalan, peladangan dan peternakan dengan penggembalaan liar serta sedikit persawahan dengan pengairan non tekhnis, Pada daerah bagian hilir terutama pada bagian gang topografinya datar, walaupun keadaan iklim sebagian bertipe D dan E para petani cenderung mengusahakan lahan mereka dengan jenis tanaman padi dan palawija dengan pengolahan tanah secara semi mekanik dan mekanik. Tanah-tanah tegalan umumnya ditanami. jagung, tembakau, ubi kayu, ubi jalar, kacang-kacangan dan lain-lain. Pada daerah peladangan jenis tanaman yang banyak ditanam terutama padi gogo dan jagung yang hasilnya kebanyakan untuk dikonsumsi sendiri. Perkebunan rakyat terutama terdiri dari tanaman kemiri dan kelapa. Belakangan ini mulai dikembangkan tanaman jambu mente, Penggembalaan ternak milik rakyat yang memanfaatkan daerah padang alang-alang yang luasnya 58.165 hektar masih
belum ada penataan dari pemerintah, kecuali di Kabupaten Sidrap sudah ada peruntukan daerah penggembalaan seluas 4.233 hektar, selebihnya masih bersifat penggembalaan liar. Secar umum pola penggunaan tanah di DAS Bila Walanae adalah seperti dalam Tabel 3 berikut ini. Tabel 3. Jenis dan Luas Penggunaan Tanah di DAS Bfla Walanae No. Jeni.8 Penggunaan Tanah Luas (ha) % 1. Sawah 2. Tegalan 3. Perkebunan rakyat 25.702 3 ~ 2 4. Perkebunan besar 2.605 093 5. Pet ernakan 20.242 295 6. Perikanan darat 10.776 1,4 7. Kehutanan 221.381 3795 8. Lain-lain 289.402 3693 Jumlah 800.395 100,O 5. Keadaan Sosial Ekonomi 5.1. Penduduk Daerah Aliran Sungai Bila Walanae meliputi 6 kabupaten dan terdiri dari 28 kecamatan. Delapan kecamatan di Kabu- paten Bone, lima kecamatan di Kabupaten Soppeng, tujuh
kecamatan di Kabupaten Sidrap, enam kecamatan di Kabupaten - Wajo, satu kecamatan di Kabupaten Maros dan satu kecamatan di Kabupaten Enrekang. lam DAS Bila Walanae sebanyak 1,225.579 Jumlah penduduk yang berada di da- dari 582.894 laki-laki dan 642.685 wanita. duduk rata-rata 155 jiwa/km. jiwa yang terdiri Kepadatan pen- Penduduk terpadat terdapat di Kecamatan Baranti Kabupaten Sidrap dengan kepadatan 527 jiwa/km. Sedangkan kecamatan dengan penduduk jarang ter- dapat di Kecamatan Maiwa Kabupaten Enrekang dengan kepadat- an 35 jiwa/km dan di Kecamatan Bontocani Kabupaten Bone de- ngan kepadatan 36 jiwa/km. Juldlah angkatan kerja sebanyak 674.034 orang yang terdiri dari 306.038 laki-laki dan 365.999 wanita. 5.2. Mata Pencaharian Penduduk yang berada di DAS Bila Walanae sebagian besar mempunyai mata pencaharian sebagai petani, lainnya sebagai pedagang, nelayan, buruh, pegawai negeri dan lainlain. Gambaran mengenai mata pencaharian penduduk di DAS Bila Walanae adalah sebagai berikut. (a) Petani = 62,O % (b) Nelayan = 17,O % (c) Pegawai = 3,o % (d) Pedagang = 2,4 % (e) Buruh = L94 % (f) Kerajinan/industri = 1,O %
(g Lain-lain = 13,2 % Mata pencaharian sebagai petani dalam ha1 ini meliputi petani sawah, petani kebun, petani ladang. Nelayan terdiri dari nelayan perikanan darat yang banyak terdapat di sekitar Danau Tempe dan nelayan perikanan laut yang terdapat di daerah pantai nmur Kebupaten Wajo. 6. Pelaksanaan Reboasasi dan Penghijauan 6.1. Struktur Organisasi Proyek Reboasasi dan Penghi jauan Kegiatan reboasasi dan penghijauan yang dilaksanakan selama ini adalah berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 8 tahun 1976. Struktur organisasi dan komponen yang terlibat serta tanggung jawab masing-masing komponen dalam kegiatan proyek reboasasi dan penghijauan yang dilaksanakan selama ini adalah sebagai berikut. (1) Struktur Organisasi Proyek Penghijauan Struktur Organisasi dan komponen yang terlibat dalam proyek penghijauan adalah seperti pada Gambar 2. Dalam pe- laksanaan proyek penghijauan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I bertanggung jawab terhadap pembinaan dan pengawasan semua kegiatan, baik dari segi penggunaan dana, pengadaan bibit, pelaksanaan maupun pengamanan dan pemeliharaan hasil peng-. hi jauan Bupati Kepala Daerah Tingkat I1 merupakan Pimpinan
Proyek Penghijauan di tingkat kabupaten yang dimgkat oleh Gubernur dan bertanggung jawab atas pelaksanaan penghijau- an di daerahnya, pengamanan dan pemeliharaan hasil kegiat- an penghijauan serta bimbingan kepada masyarakat. Bimbing- an ini dimaksudkan agar masyarakat dapat ikut memikul tang- gung javab dalam pemeliharaan dan pengamanan hasil penghij auan. 29 BUPATI - I PKP Staf Kabupaten Gambar 2. Bagan Organisasi Proyek Penghijauan Daerah Tingkat 1 Sulaweei Selatan
Pimpinan proyek penghijauan dalam ha1 ini Bupati mengangkat seorang Pembantu Khusus Pimpinan Proyek (PKP) penghijauan yang memenuhi syarat dan telah mendapat pendidikan dan latihan dibidang pekerjaannya. Pembantu Khusus Pimpinan Proyek penghijauan membantu Pimpinan Proyek penghijauan dalam melaksanakan kesekretariatan dan pengendalian proyek penghijauan di Daerah Tingkat I1 yang bersangkutan. Camat dalam ha1 ini peranannya sebagai Pimpinan Pelaksana proyek penghijauan ditingkat kecamatan yang diangkat oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat I1 dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan penghijauan di wilayah kecamatannya. Bendaharawan Proyek adalah Pejabat Pemerintah Daerah nngkat I1 yang ditunjuk berdasarkan SK Gubernur dan bertugas membantu Pimpinan Proyek di bidang keuangan. Bendaharawan Pembantu adalah Pejabat Tingkat Kecamatan yang ditetapkan oleh Pimpinan Proyek sebagai Bendaharawan Pembantu proyek penghijauan di tingkat kecamatan yang bertugas membantu Pimpinan Pelaksana Proyek Penghijauan di bidang keuangan. Petugas Lapangan Penghijauan (PLP) diangkat berdasarkan SK Menteri Kehutanan dan penugasannya di masing-masing kecamatan diatur oleh Pimpinan Proyek Penghijauan dalam ha1 ini adalah Bupati. Petugas Lapangan Penghijauan bertugas memberikan bimbingan teknis kepada petani, memberikan saran-saran yang bersifat teknis kepada Pirnpinan Pelaksana Proyek dan membantu ddam penyusunan Rencana
@ p -~-- Operasional (Ro ) penghi jauan. BAPPEDA dan P3RPDAS mempunyai tugas dan tanggung jawab membantu Gubernur dalam meneliti Rencana Operasional (RO) penghijauan. (2) Struktur Organisasi Proy ek Reboasasi F GUBERNUR Pimvinan Proyek Reboas / Kepala - Dinas KehutanJsi 1 ~ - Prouinsi I I Bendaharawan Proyek Reboaeasi :;:?&; 1 p Bendaharawan Gambar 3. Bagan Organisasi Proyek Reboaeasi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan
Gubernur selaku penanggung jawab proyek menetapkan Kepala Mnas Kehutanan Propinsi sebagai Pimpinan Proyek Reboasasi di tingkat propinsi dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan reboasasi di wilayahnya. Dalam pelaksanaan tugasnya Pimpinan Proyek Reboasasi mengangkat seorang staf Mnas Kehutanan Propinsi sebagai Pembantu Pimpinan di bidang reboasasi atas persetujuan Gubernur. Pelaksanaan reboasasi dapat ditempuh melalui dua jalur yaitu jalur swakelola dan jalur diborongkan. Melalui. jalur swakelola Pimpinan Proyek Reboasasi mengangkat Kepala Kehutanan Daerah (KKD) sebagai Pimpinan Pelaksana Proyek reboasasi di tingkat kabupaten. Pimpinan Pelaksana Proyek Reboasasi bertanggung jawab terhadap pelaksanaan dan pemeliharaan reboasasi yang dilaksanakan secara swakelola. Selain itu juga bertugas melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan reboasasi yang dilaksanslkan oleh pihak ketiga (Pemborong). Bendaharawan Proyek adalah Pejabat Dinas Kehutanan Propinsi yang ditetapkan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I sebagai Bendaharawan Proyek Reboasaei dengan tugas membantu Pimpinan Proyek dalam bidang keuangan. Bendaharawan Pembantu adalah Pejabat Kehutanan Daerah Tingkat I1 yang diangkat oleh Pimpinan Proyek dengan tugas membantu Pimpinan Pelaksana Proyek Reboasasi di bidang keuangan bilamana proyek dil&sanakan secara swakelola.
Petugas Lapangan Reboasasi (PLB) diangkat berdasarkan S K Menteri Kehutanan dan penempatannya diatur oleh Pimpinan Pelaksana Proyek yang bertugas sebagai pelaksana teknis sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Sedangkan pelaksanaan reboasasi melalui jalur diborongkan, Pemborong bertanggung jawab sepenuhnya atas pelaksanaan reboasasi kepada Pimpinan Proyek Reboasasi yaitu kepada Kepala Dinas Kehutanan Propinsi. 6.2. Luas Areal Reboasasi dan Penghijauan u Reboasasi dan penghijauan di DAS Bila Walanae sudah dilaksanakan sejak tahun 1974 sebelum adanya Instruksi Presiden Nomor 8 tahun 1976 tentang pelaksanaan Proyek Beboasasi dan Penghijauan. Sejak terbitnya Inpres No.8 tersebut, mulai tahun anggaran 1976/1977 sampai tahun anggaran 1981/l982 telah direalisasi pelaksanaan penghijauan di DAS Bila Walanae seluas 167.934,s hektar yang lebih dipusatkart di daerah Kabupaten Bone, yaitu 71,9 % dari luas keseluruhan. Perincian realisasi pelaksanaan penghijauan di DAS Bila Walanae dapat dilihat pada Tabel 4. Jenis tanaman yang digunakan untulc penghijauan di DAS Bila Walanae adalah Akasia (Acacig guriculiformig), Lamtoro (Leucaena leucocephala), Kaliandra, Kapok, Kemiri dan Jambu mente.
Tabel 4. Realisasi Penghijauan Tahun 1976/1977 Sampai Tahun 1981/1982 Di DBS Bila Walane Kabupat en Realismi Penghi j auan T a d 76/77 77/78 78/79 79/80 80/81 81/82 Jnmlah (ha) (ha) (ha) (ha) (ha) (ha) (ha) Bone 15.528 16.058 18.619 31.194 18.610 20.812 120.812 Soppew 800 3.800 5.000 2.317 165 47 12.129 Sidrap 800 2.268 3.700 4.276 2.490-13.534 Wajo - - 3.000 2.635 1.105,5-6.740,5 Maros 1.600 1.900 1.800 4.500 3.000 1.500 14.300 Enrekang - - - - - 470 470 Sumber : Kantor P3RPDAS Bila Walanae.
Realisasi pelaksanaan reboasasi sejak tahun anggaran 1976/1977 sarnpai tahun anggaran 1981/1982 di DAS Bila Wa- lanae secara keseluruhan berjumlah 41.214 hektar dan sasar- an terbesar adalah di Kabupaten Bone yaitu 47,05 % dari jumlah keseluruhan. ten dapat dilihat pada Tabel 5. Realisasi reboasasi untuk tiap Kabupa- Jenis tanaman yang digunakan untuk reboasasi di DAS Bila Walanae adalah Pinus ( merkusi&) dan Eukaliptus (Eucalsptus denlu~ta) sebagai tanaman utama dan Akasia (~cacia auriculiformis) sebagai tanaman sela.
Tabel 5. Realisasi Reboasasi Tahun 1976/1977 Sampai Tahun 1981/1982 di DAS Bila Walanae Kabupaten Redisasi Reboasasi Tahun 76/77 77/78 78/79 79/80 80/81 81/82 Jumlah (ha) (ha) (ha) (ha) (ha) (ha) (ha) Bone 2.650 3.875 3.168 4.975 2.475 2.250 19.393 SoPPeng 845 2.045 2.675 2.725 85 85 8.460 Sidrap - 2.000 - - 315 850 3.165 Yiajo - - - 786 650-1.436 Maros 1.000 1.800 5.060-900 - 8.760 Enrekang - - - - - - - Jumlah 4.495 9.720 10.903 8,486 4.425 3.185 41.214 Sumber : Kantor P3RPDAS Bila Walanae.