BAB II. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
Usulan Penelitian Untuk Skripsi S-1 Program Studi Geografi DISUSUN OLEH : DYDIK SETYAWAN E

III. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Evaluasi Rehabilitasi Merak Hijau (Pavo muticus) Dari Hasil Sitaan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di Seksi Karangtekok

BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

POTENSI EDUWISATA KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL BALURAN. Ambar Kristiyanto NIM

Laporan Kegiatan Pengendali Ekosistem Hutan. Ujicoba Pembibitan Ceriops tagal

III. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

SMA/MA IPS kelas 10 - BAHASA INDONESIA IPS BAB 8. TEKS NEGOSIASILatihan Soal 8.2

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Secara Geografis Pantai Sari Ringgung (PSR) terletak di posisi LS dan

BAB I PENDAHULUAN. asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN. Kawasan Tahura WAR mencakup luas areal ,31 ha secara geografis

BAB I PENDAHULUAN. Alam Hayati dan Ekosistemnya pengertian Taman Nasional adalah kawasan pelestarian

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Negara kepulauan dengan garis pantai sepanjang

BAB I PENDAHULUAN. berfungsi sebagai ecosystem engineer (Keller & Gordon, 2009) atau juga soil

SURVEY POTENSI SUMBER BIBIT / BENIH JENIS RUMPUT PAKAN SATWA DI SEKSI KONSERVASI WILAYAH III KARANGTEKOK

BAB I PENDAHULUAN. batas pasang surut air disebut tumbuhan mangrove.

IV. KONDISI UMUM KAWASAN

4. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN. Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Model Rajabasa didasarkan pada

Laporan Kegiatan Pengendali Ekosistem Hutan. Ujicoba Teknik Pembakaran Terkendali Dalam Upaya Pemeliharaan Savana Bekol

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB III KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

PENGUMPULAN DATA DAN INFORMASI PRODUKTIFITAS SAVANA BEKOL PADA MUSIM KEMARAU TAMAN NASIONAL BALURAN

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM. Gebernur Provinsi DKI Jakarta Nomor: 202 tahun Hutan Kota

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Timur Provinsi Lampung. Desa ini memiliki luas hektar. Desa yang terdiri

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hutan mangrove desa Margasari memiliki luas 700 ha dengan ketebalan hutan

Balai Penelitian Kehutanan Palembang Jl. Kol. H. Burlian Km. 6,5 Punti Kayu PO. BOX. 179 Telp./Fax Palembang

III. GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

Laporan Kegiatan Pengendali Ekosistem Hutan. Pengamatan Kondisi Sumber Air Tempat Minum Satwa Di Taman Nasional Baluran. Oleh :

IV. KONDISI UMUM LOKASI

SERI BUKU INFORMASI DAN POTENSI MANGROVE TAMAN NASIONAL ALAS PURWO. Penyunting : Rudijanta Tjahja Nugraha. Penyusun : Dian Sulastini

III. KONDISI UMUM LOKASI

IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN. No. 408/Kpts-II/1993. Hutan Pendidikan merupakan hasil dari Perjanjian

BAB I PENDAHULUAN. wilayah perbatasan antara daratan dan laut, oleh karena itu wilayah ini

TINJAUAN UMUM WILAYAH PANGANDARAN DAN SEKITARNYA

Tanah dapat diartikan sebagai lapisan kulit bumi bagian luar yang merupakan hasil pelapukan dan pengendapan batuan. Di dala

IDENTIFIKASI FLORA DAN FAUNA MANGROVE NUSA LEMBONGAN DAN NUSA CENINGAN

BAB I PENDAHULUAN. II/1999 seluas ha yang meliputi ,30 ha kawasan perairan dan

Gambar 9. Peta Batas Administrasi

IV KONDISI UMUM 4.1 Letak dan Luas Areal

IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Administrasi

1. Pengantar A. Latar Belakang

KARAKTERISTIK WILAYAH

III. KONDISI UMUM LOKASI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. berlangsungnya kehidupan yang mencerminkan hubungan timbal balik antara

Bab III Karakteristik Desa Dabung

LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI REGIONAL INDONESIA (GPW 0101) ACARA V: PEMAHAMAN FENOMENA BIOSFER

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. khas, tumbuh di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang

BALAI TAMAN NASIONAL BALURAN 2004

Beberapa fakta dari letak astronomis Indonesia:

INVENTARISASI HUTAN (PASCA KEBAKARAN) PADA KAWASAN HUTAN PENDIDIKAN / SEBAGIAN HUTAN WISATA BUKIT SOEHARTO, PROPINSI KALIMANTAN TIMUR

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA. kestabilan pantai, penyerap polutan, habitat burung (Bismark, 1986). Kemampuan mangrove untuk mengembangkan wilayahnya ke arah laut

III. KEADAAN UMUM LOKASI

BAB II LANDASAN TEORI. komunikasi massa audio visual yang dibuat berdasarkan asas

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Letak Geografis. 08º00'27" Lintang Selatan dan 110º12'34" - 110º31'08" Bujur Timur. Di

LAMPIRAN. Hari ke Total

Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang. berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur. Komunitas vegetasi ini

LINGKUNGAN KEHIDUPAN DI MUKA BUMI

Laporan Kegiatan Pengendali Ekosistem Hutan

BAB I PENDAHULUAN. pantai sekitar Km, memiliki sumberdaya pesisir yang sangat potensial.

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

VI. SIMPULAN DAN SARAN

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 19/Menhut-II/2010 TENTANG PENGGOLONGAN DAN TATA CARA PENETAPAN JUMLAH SATWA BURU

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Sejarah terbentuknya Kabupaten Lampung Selatan erat kaitannya dengan dasar

SERI BUKU INFORMASI DAN POTENSI OBYEK DAN DAYA TARIK WISATA TAMAN NASIONAL ALAS PURWO

KONDISI W I L A Y A H

PEMBENTUKAN TANAH DAN PERSEBARAN JENIS TANAH. A.Pembentukan Tanah

TINJAUAN PUSTAKA. Kata mangrove diduga berasal dari bahasa Melayu manggi-manggi, yaitu

Pegunungan-Pegunungan di Indonesia : Pegunungan Jaya Wijaya di Irian Jaya. Pegunungan Bukit Barisan di Sumatra. Dataran tinggi di Indonesia :

Analisis Habitat Banteng (Bos javanicus) di Taman Nasional Baluran

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Populasi Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI

METODE PENELITIAN. Lokasi Dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Bagan Serdang Kecamatan Pantai

BAB I PENDAHULUAN. Taman Nasional Komodo memiliki kawasan darat dan perairan laut seluas

BAB I PENDAHULUAN. seumur. Namun, di dalam hutan tanaman terdapat faktor yang sering dilupakan,

2 KONDISI UMUM 2.1 Letak dan Luas 2.2 Kondisi Fisik Geologi dan Tanah

d. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Boyolali (Jateng)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I KONDISI FISIK. Gambar 1.1 Peta Administrasi Kabupaten Lombok Tengah PETA ADMINISTRASI

IV. GAMBARAN UMUM. A. Sejarah Taman Agro Satwa Wisata Bumi Kedaton. Keberadaan Taman Agro Satwa dan Wisata Bumi Kedaton Resort di Kota

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Kecamatan Padang Cermin merupakan bagian dari Kabupaten Pesawaran, Secara

28 antara 20º C 36,2º C, serta kecepatan angin rata-rata 5,5 knot. Persentase penyinaran matahari berkisar antara 21% - 89%. Berdasarkan data yang tec

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB II TINJAUAN UMUM

LEMBAR KERJA SISWA. No Jenis Tanah Jenis tanaman Pemanfaatannya

E. Kondisi Alam Indonesia

BAB VI. EKOLOGI PERILAKU MERAK HIJAU JAWA

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi

Transkripsi:

BAB II. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Penelitian dilakukan di dua Taman Nasional (TN) yaitu TN Baluran (TNB) dan TN Alas Purwo (TNAP). Kedua lokasi tersebut merupakan wilayah penyebaran merak hijau jawa paling timur dan pada lokasi tersebut juga memiliki berbagai macam tipe habitat merak hijau jawa seperti habitat hutan hujan tropik dataran rendah, hutan pantai, hutan musim, savana, hutan jati, dan ekotone antara tipe habitat tersebut dengan tempat terbuka. 2.1 Keadaan Umum Taman Nasional Baluran 2.1.1 Letak dan Aksesibilitas Taman Nasional Baluran (TNB) terletak pada ujung Timur Laut Pulau Jawa (114 0 29' 10 " - 114 0 39 ' 10 " Bujur Timur dan 7 0 29 ' 10 " - 7 0 55 ' 55 ") Lintang Selatan. Jarak terdekat dari Bali sekitar 34 km dan terhubungkan oleh jalan propinsi dari Surabaya ke Banyuwangi. TNB memiliki luas areal sekitar 25 000 ha yang dibatasi sebelah Utara oleh Selat Madura dan sebelah Timur oleh selat Bali. Sebelah Selatan dan Barat dari taman nasional ini dibatasi oleh Sungai Bajulmati dan sungai Kelokoran. Di sebelah Barat Laut dari TNB dibatasi oleh desa Sumberanyar dan di sebelah Tenggarannya dibatasi oleh desa Sumberejo. 2.1.2 Geologi, Topografi dan Tanah Kondisi geologi dari TNB merupakan endapan gunung berapi kecil pada zaman pliopleistocene. Lava dan guguran abu yang poros melapisi areal ini dari strato gunung berapi baluran. Gunung Baluran dengan ketinggian 1 247 m terletak hampir di tengah taman nasional. Sebagian besar dari taman nasional Baluran tergolong bertopografi datar, kecuali dekat dengan gunung Baluran, Gunung Priok, Gunung Klosot dan Gunung Glengseran berbukit dan bergelombang. Dua golongan besar tipe tanah di TNB yaitu tanah berasal dari endapan dari volkanik dan dari asal laut. Sangat penting berkaitan dengan tanah tersebut adalah yang berasal dari endapan volkanik yang berasal dari pelapukan basal, abu volkanik dan batuan intermediate dari volkanik. Tanah ini kaya akan mineral tepai miskin bahan

II- 2 organic. Tanah tersebut memiliki kesuburan kimiawi yang tinggi namun miskin secara fisik, karena sangat poros tidak dapat menyimpan air secara baik. Tanah hitam monmorilonit meliputi lebih dari setengan areal taman nasional termasuk pada hutan musim dan savana di Baluran. Tanah podsolik di daerah Glengseran memiliki hutan musim yang lebih rapat vegetasinya dibandingkan hutan musim di tanah hitam. Tanah hitam sangat lengket di musim penghujan, tetapi retak dan belah dimusim kemarau. Tanah alluvial meliputi daerah tenggara taman nasional. Pada tanah ini pada musim hujan sering tergenang air seperti berawa, sedangkan tanah berpasir terbatas bagian yang berbatasan dengan laut (BTNB, 2007). 2.1.3 Iklim Baluran merupakan daerah yang beriklim kering dan bermusim kemarau cukup panjang. Iklim pada daerah ini sangat dipengaruhi oleh angin tenggara (pasat) selama bulan April hingga Oktober dengan sangat sedikit hujan. Rata-rata lamanya musim kemarau/kering 7-8 bulan setiap tahunnya. Curah hujan rata-rata tiap tahun berkisar antara 900 1 600 mm/tahun. Musim hujan umumnya terjadi pada bulan Desember hingga Maret (BTNB, 2007). Oleh karena musim kering yang cukup panjang di Baluran, air merupakan faktor pembatas yang penting di taman nasional ini. Penyebaran lokal satwaliar di taman nasional Baluran sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air. Selama musim kemarau satwaliar mudah dijumpai di sekitar sumber air, tetapi pada musim penghujan satwaliar lebih tersebar. 2.1.4 Flora dan Fauna Menurut Partomihardja (1989), di Taman Nasional Baluran terdapat 6 tipe vegetasi yang berkembang di areal tersebut yaitu hutan payau, hutan pantai, hutan musim atau hutan daun lebar gugur daun, hutan awet hijau, hutan pegunungan dan tipe vegetasi di daerah berawa. Tipe vegetasi sangat berkaitan dengan jenis satwaliar yang dapat ditemukan di areal tersebut seperti burung, mamalia dan reptilia. Hutan Payau (mangrove). Semenanjung dan daerah berkarang kecil dapat ditemukan mangrove di Bilik, Lempuyangan, Mesigit, Tanjung Sedano dan Bama. Vegetasi mangrove yang tumbuh agak intensif pada daerah berlumpur di Kelor dan Bilik.

II- 3 Vegetasi di mangrove agak khas dengan keanekaragaman jenis tumbuhan yang rendah. Jenis tumbuhan mangrove yang terdapat di TN Baluran antara lain Avicennia alba, Sonneratia alba, S. caseolaris, Ceriops tagal, Rhizophora apiculata, R. stylosa, Bruguiera gymnorrizha dan Lumnitzera racemosa. Daerah mangrove medukung kehidupan jenis satwaliar seperti burung raja udang (Alcedo caerulescens), cangak (Ardea spp.) dan kuntul (Egretta spp.). Jenis mamalia yang dapat ditemukan di daerah mangrove adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kucing bakau (Felis veverrina) dan biawak (Varanus salvator). Hutan Pantai. Hutan pantai terdapat antara Pandean dan Candibang serta beberapa tempat seperti Labuan Merak, Bama, dan sebelah Timur dari Gatal. Tipe vegetasi ini umumnya didominasi oleh Barringtonia racemosa, Terminalia cattapa, Pandanus sp. serta Svzygium spp. Jenis burung yang dapat dijumpai diderah ini seperti kangkareng (Anthrococeros albirostris), pergam (Ducula aenea), elang laut (Pandion haliaeetus), sedangkan jenis mamalia yang sering ke areal ini antara lain rusa (Cervus timorensis), monyet (Macaca fascicularis), lutung (Trachypithecus auratus), babi hutan (Sus scrofa) dan kadang banteng (Bos javanicus) pada musim kemarau sering satwliar minum di sumber air di hutan ini. Jenis reptile yang sering ditemukan di hutan ini adalah biawak (Varanus salvator). Savana. Areal savana yang merupakan ciri khas taman nasional di Jawa ini dengan vegetasi klimak api sangat dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Jenis rumput yang umumnya dominan di areal savanna antara lain Dichantium coricosum, Bracharia mutica, dan Sorgum nitidum, sedangkan jenis semaknya adalah Eupatoriun odoratum dan Lantana camara. Jenis pohon yang tumbuh di tipe vegetasi ini adalah jenis yang berduri seperti Acacia leucophloea, serta jenis lain seperti Corypha utan dan Zizyphus rotundifolius. Sekarang savanna di TN ini banyak diinvasi oleh Acacia nilotica. Banyak jenis satwaliar yang hidup di tipe vegetasi ini antara lain berbagai jenis burung seperti ayam hutan (Gallus varius dan Gallus gallus), tekukur (Steptopelia chinensis), kutilang (Pycnonotus aurigaster), trucuk (Pycnonotus goiavier), cabak (Caprimulgus affinis) serta merak hijau (Pavo muticus). Jenis mamalia yang dapat ditemukan di savana adalah rusa (Cervus timorensis), kijang (Muntiacus muntjak), dan ajag (Cuon alpinus) serta rase (Viverrina malacensis).

II- 4 Hutan Musim atau Hutan Gugur Daun. Vegetasi pada tipe hutan ini secara umum dipengaruhi oleh ketersediaan air yaitu apabila musim kemarau banyak tumbuhan yang menggugurkan daunnya. Jenis tumbuhan yang terdapat pada tipe hutan ini antara lain Acacia tomentosa, Grewia eriocarpa, Cordia obligua, Flacourtia indica, Tamarindus indica, Schoutenia ovata, Bombax valetoni, dan Schleichera oleosa. Banyak jenis burung yang dapat dijumpai di tipe vegetasi ini antara lain merak hijau (Pavo muticus), ayam hutan (Gallus varius dan Gallus gallus), punai (Treron spp) dan kutilang (Pycnonotus aurigaster). Jenis mamalia yang sering ditemukan di hutan ini adalah kijang (Muntiacus muntjak) Hutan Pegunungan dan Hutan Awet Hijau. Jenis tumbuhan yang umum dijumpai pada tipe hutan ini termasuk Homalium foetidum, Emblica officinale, Aleurites moluccana, dan Mallotus philippinensis. Jenis tumbuhan pada hutan ini tidak menggugurkan daun pada musim kemarau, karena cukup ketersediaan air di dalam tanah untuk tumbuhan tersebut. Jenis burung di hutan gunung antara lain rangkong badak (Buceros rhinoceros) dan kecembang gadung (Irena puella), sedangkan di hutan awet hijau dapat ditemukan pelatuk kijang (Dryocopus javensis). Hutan Tanaman Jati. Sekitar 5 600 ha sepanjang bagian Barat dari taman nasional ditanami dengan jenis jati (Tectona grandis). Selain jati pada hutan tanaman ini juga terdapat Schleichera oleosa, Erythrina fusca, Acacia leucophloea, Tamarindus indica, Azadirachta indica dan Schoutenia ovata. Jenis hutan ini sebenarnya tipenya mirip dengan hutan musim. Jenis satwaliar yang dapat ditemukan antara lain Muntiacus muntjak, Macaca fascularis, Gallus varius, Gallus gallus dan Pavo muticus. Areal yang berawa. Jenis tumbuhan yang berada pada areal berair ini kebanyakan jenis rerumputan. Tipe vegetasi ini terdapat di TNB di bagian Tenggara. Ketersedian air di areal ini cukup penting bagi satwaliar di Baluran pada musim kemarau, sehingga pada waktu tersebut banyak dikunjungi oleh satwaliar berbagai jenis. Taman Nasional Baluran memiliki berbagai jenis satwaliar, tetapi sangat sedikit informasi yang tersedia mengenai amphibia dan reptilia serta serangga dan ikan. Jenis mamalia yang hidup di TN ini sekitar 24 jenis mewakili 20 % dari total jenis mamalia di Jawa. Sedangkan jenis burung yang terdapat di TN Baluran sekitar 150 jenis hamper 33 % jumlah jenis burung di Jawa 455 jenis (Departemen Kehutanan, 2008).

II- 5 Gambar II-1. Peta lokasi penelitian di Taman Nasional Baluran Gambar II-2. Peta Taman Nasional Baluran 2.2 Keadaan Umum Taman Nasional Alas Purwo 2.2.1 Letak dan Aksesibilitas Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) terletak pada ujung Tenggara P. Jawa (114 0 20 ' 16 " - 114 0 36 ' 00 " Bujur Timur dan 8 0 26 ' 45 " - 8 0 47 ' 00 ") Lintang Selatan. Dari Banyuwangi berjarak sekitar 60 km yang dapat ditempuh oleh kendaran roda empat. TN AP memiliki luas areal sekitar 43 420 ha yang dibatasi sebelah Timur oleh Selat Bali dan sebelah Selatan oleh Samudra Hindia. Sebelah Barat dari taman nasional ini dibatasi

II- 6 oleh Teluk Grajagan dan hutan produksi KPH Banyuwangi Selatan.Di sebelah Utara dari taman nasional alas Purwo dibatasi oleh teluk Pangpang, Desa Sumber Beras, Kedungrejo, Kedungsari, Purwosari, Purwoharjo Grajagan dan desa Saneporejo. Menuju TNAP dari Kota Banyuwangi berjarak sekitar 60 km ke arah Selatan yang dihubungkan dengan jalan darat (BTNAP, 2007). 2.2.2 Geologi, Topografi dan Tanah Formasi geologi dari Taman Nasional Alas Purwo terdiri atas batuan sedimen alluvium dan miose facies batuan gamping yang tersebar cukup luas di kawasan taman nasional. Batuan miosen meliputi Semenanjung Purwo bagian Timur, Selatan, Barat, Tanjung Sembulungan dan areal lainnya merupakan endapan alluvium. Topografi TNAP datar (0-8%) seluas 10 554 ha, sampai landai (8-15%) seluas 19 474 ha di bagian Barat, Bagian Selatan kawasan bergelombang (15-25%) seluas 11 091 ha mulai dari Tanjung Sembulungan sampai Watu Pecah, sedangkan yang berbukit (25-40%) seluas 2 301 ha di sekitar Linggamanis. Ketinggian TNAP berkisar antara 0 322 m dpl dengan Gunung Linggamanis (322 m dpl) merupakan bagain yang tertinggi. Terdapat empat golongan tanah di Taman Nasional Alas Purwo yaitu tanah mediteran coklat dan litosol dengan bahan induk endapan kapur seluas 2 106 ha dengan penyebaran di Semenanjung Purwo, Regosol dengan bahan induk endapan pasir seluas 6 238 ha tersebar di sepanjang pantai Kayuaking sampai Segara Anakan, Grumusol kelabu dengan bahan induk liat seluas 379 ha meliputi areal Rawa Jalak, Rawa Sarig, Rawa Turunan Ajag dan Rawa Terusan serta tanah Alluvial hidromorf dengan bahan induk liat seluas 34 697 ha yang tersebar luas di kawasan taman nasional Pola jaringan sungai berbentuk radial, sungai yang terdapat di kawasan Taman Nasional Alas Purwo berupa sungai kecil dengan lebar < 10 m dan panjangnya kurang dari 5 Km. Jumlah sungai kecil tersebut cukup banyak (73 buah) 2.2.3 Iklim Berdasarkan klasifikasi tipe curah hujan Schmidt & Ferguson, kawasan Taman Nasional Alas Purwo tergolong ke dalam tipe curah hujan C dan D dengan curah hujan berkisar antara 1000 1600 mm/tahun. Musim kering/kemarau terjadi umumnya pada bulan Mei hingga Oktober, sedangkan musim penghujan pada bulan Nopember hingga April (BTNAP, 2007).

II- 7 Musim kering di taman nasional ini berpengaruh terhadap pergerakan satwaliar. Air merupakan faktor pembatas yang penting di taman nasional ini. Selama musim kemarau satwaliar bergerak di sekitar sumber air, tetapi pada musim penghujan satwaliar tersebar ke berbagai tempat 2.2.4 Flora dan Fauna Di taman nasional Alas Purwo terdapat berbagai formasi hutan yang berkembang di areal tersebut yaitu hutan payau, hutan pantai, hutan bambu, hutan hujan dataran rendah, padang perumputan serta hutan tanaman. Tipe vegetasi yang terdapat pada formasi tersebut sangat berkaitan dengan jenis satwaliar yang dapat ditemukan seperti burung, mamalia dan reptilia (Departemen Kehutanan, 2008). Hutan Payau (mangrove). Formasi mangrove terdapat sekitar teluk Grajagan (Segara Anak) dengan luas sekitar 1 000 ha. Vegetasi di mangrove agak khas dengan keanekaragaman jenis tumbuhan yang rendah. Jenis tumbuhan mangrove yang terdapat di TN Alas Purwo antara lain Avicennia marina, A alba, Sonneratia alba, S. caseolaris, Rhizophora apiculata, R. mucronata, Bruguiera gymnorrizha, Bruguiera sexangula dan Xylocarpus granatum serta Heritiera littoralis. Daerah mangrove mendukung kehidupan jenis satwaliar seperti burung kuntul (Egretta spp.) bangau tong-tong (Leptoptilos javanicus), sedanglawe (Ciconia episcopus). Jenis mamalia yang dapat ditemukan di daerah mangrove adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kucing bakau (Felis veverrina) dan biawak (Varanus salvator). Pada musim tertentu Segara Anak didatangi beberapa jenis burung pantai migrant seperti gegajahan (Numenius spp.), dan Trinil (Tringa spp.) Hutan Pantai. Hutan pantai terdapat di bagian Selatan membentang dari Segara Anak (Grajagan) sampai dengan Plengkung, dari Plengkung hingga Tanjung Slakah. Di bagian Utara dari Tanjung Sembulungan hingga Tanjung Slakah. Lebar hutan pantai berkisar 250 300 m Tipe vegetasi yang umum pada formasi ini adalah Barringtonia racemosa, Terminalia cattapa, Hibiscus tilliaceus serta Callophyllum inophyllum. Jenis burung yang dapat dijumpai di daerah ini seperti kangkareng (Anthrococeros albirostris), pergam (Ducula aenea), elang laut (Haliaetus leucogaster), sedangkan jenis mamalia yang sering ke areal ini antara lain monyet (Macaca fascicularis), lutung (Trachypithecus auratus) dan babi hutan (Sus scrofa). Jenis reptilia yang sering ditemukan di hutan ini

II- 8 adalah biawak (Varanus salvator). Selain itu beberapa jenis penyu bertelur di pasiran pantai taman nasional ini seperti penyu abu (Lepidochelys olivacea), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu belimbing (Dermochelys coriaceae). Padang Perumputan. Areal padang perumputan terdapat di Sadengan yang merupakan merupakan padang rumput buatan, yang aslinya adalah tipe hutan hujan dataran rendah. Jenis rumput yang umumnya dominan di areal padang rumput tersebut antara lain Dichantium coricosum, Bracharia mutica, dan Sorgum nitidum, sedangkan jenis semaknya adalah Eupatoriun odoratum dan Lantana camara.. Banyak jenis satwaliar yang menggunakan padang rumput terserbut antara lain berbagai jenis burung seperti kutilang (Pycnonots aurigaster), trucuk (Pycnonotus goiavier), jalak putih (Sturnus melanopterus), gagak (Corvus enca), srigunting (Dicrurus macrocercus) serta merak hijau (Pavo muticus). Jenis mamalia yang dapat ditemukan di padang rumput ini adalah rusa (Cervus timorensis), banteng (Bos javanicus), babi hutan (Sus scrofa) dan kadang ajag (Cuon alpinus) Hutan dataran rendah. Hutan alam dataran rendah ini merupakan formasi vegetasi yang paling luas di kawasan TN Alas Purwo. Jenis vegetasi yang umum dijumpai pada tipe hutan ini termasuk Dracontomelon mangiferum, Tetrameles nudiflora, Sterculia campanulata, Artocarpus elastica, Pterospermum javanicum, Dysoxylum amooroides, Alstonia scholaris, dan Dryopetes ovalis. Jenis burung di hutan gunung antara lain rangkong badak (Buceros rhinoceros), julang emas (Aceros undulatus), kangkareng (Anthracoceros albirostris), beo (Gracula religiosa) dan kecembang gadung (Irena puella), sedangkan jenis mamalia yang dapat ditemukan di hutan ini adalah banteng (Bos javanicus), rusa (Cervus timorensis), lutung (Trachypithecus auratus), kijang (Muntiacus muntjak), jelarang (Ratufa bicolor), ajag (Cuon alpinus) serta macan tutul (Panthera pardus) Formasi Bambu. Formasi bambu di TN ini memiliki penyebaran bergerombol sporadik tetapi tersebar cukup luas terutama di hutan alam dataran rendah. Terdapat 13 jenis bambu yang tumbuh di areal ini. Jenis-jenis bambu tersebut antara lain Bambusa vulgaris, Schizostrachyum blumei, Gigantochloa apus, Gigantopchloa verticulata, Phyllostachys aurea dan Dendrocalamus asper.

II- 9 Hutan tanaman. Hutan tanaman merupakan hutan milik perhutani KPH Banyuwangi Selatan yang berbatasan dengan kawasan TNAP. Jenis pohon yang ditanam adalah jati (Tectona grandis) dan mahoni (Swietenia macrophylla) Taman Nasional Alas Purwo memiliki keanekargaman jenis satwaliar yang cukup tinggi baik dari klas mamalia, burung maupun reptilia. Tercatat 21 jenis mamalia, 215 jenis burung, dan beberapa jenis reptilia. Gambar II-3. Peta lokasi penelitian di Taman Nasional Alas Purwo Gambar II- 4. Peta Taman Nasional Alas Purwo

II- 10 DAFTAR PUSTAKA [BTNAP] Balai Taman Nasional Alas Purwo. 2007. Taman Nasional Alas Purwo http://www.alaspurwo.com (20 September 2010) [BTNB] Balai Taman Nasional Baluran. 2007. Taman Nasional Baluran http://www.dephut.go.id (20 September 2010) Departemen Kehutanan, 2008. Buku Informasi 50 Taman Nasional di Indonesia. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam. Departemen Kehutanan. PT Insan Graphika. Bogor Partomihardja, T. 1989. Check-list of plant species in the Baluran national park, East Java. Paper Unpublished..