III. METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
3 METODE PENELITIAN. # Lokasi Penelitian

III. METODE PENELITIAN. Proses produksi kopi luwak adalah suatu proses perubahan berbagai faktor

3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Penelitian 3.4 Metode Pengambilan Responden 3.5 Metode Pengumpulan Data

METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Penelitian 3.4 Metode Pengumpulan Data

C E =... 8 FPI =... 9 P

III. METODE PENELITIAN. A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Variabel. Konsep dasar dan definisi operasional variabel adalah pengertian yang

BAB IV METODE PENELITIAN. dan data yang diperoleh. Penelitian ini disusun sebagai penelitian induktif yaitu

III. METODE PENELITIAN Definisi Operasional, dan Pengukuran Variabel

III. METODE PENELITIAN

Gambar 3. Kerangka pemikiran kajian

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN

TOTAL BIAYA. 1. Keuntungan bersih R/C 2, PP 1, ROI 0, BEP

III. METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN. menganalisis data yang berhubungan dengan penelitian atau mencakup. yang berhubungan dengan tujuan penelitian.

III. METODE KAJIAN A. Lokasi dan Waktu B. Metode Kerja 1. Pengumpulan data

EVALUASI USAHA PERIKANAN TANGKAP DI PROVINSI RIAU. Oleh. T Ersti Yulika Sari ABSTRAK

III. METODOLOGI. Tahap Pengumpulan Data dan Informasi

III. METODE KAJIAN 3.1 Lokasi dan Waktu 3.2 Pengumpulan Data

BAB III METODE PENELITIAN. Rantauprapat Kabupaten Labuhanbatu Propinsi Sumatera Utara. Pemilihan lokasi

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai dengan Desember 2014.

6 ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SURIMI

IV. METODE PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data 4.3 Metode Penentuan Narasumber

III. METODE PENELITIAN

III. PELAKSANAAN TUGAS AKHIR

III. METODE PENELITIAN. Tanaman kehutanan adalah tanaman yang tumbuh di hutan yang berumur

3 METODE PENELITIAN. Gambar 10 Lokasi penelitian.

IV. METODOLOGI PENELITIAN. Pengambilan data di lapangan dilakukan pada bulan April Mei 2011.

METODE PENELITIAN. ini yang dianalisis adalah biaya, benefit, serta kelayakan usahatani lada putih yang

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Metode Pengambilan Responden 4.3. Desain Penelitian

IV. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

III. METODOLOGI PENELITIAN

MATERI 7 ASPEK EKONOMI FINANSIAL

III. METODE PENELITIAN. tentang istilah-istilah dalam penelitian ini, maka dibuat definisi operasional

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN

VIII. ANALISIS FINANSIAL

3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3.2 Peralatan Penelitian 3.3 Metode Penelitian 3.4 Pengumpulan Data

METODOLOGI PENELITIAN. (Purposive) dengan alasan daerah ini cukup representatif untuk penelitian yang

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN. Menurut Kadariah (2001), tujuan dari analisis proyek adalah :

BAB III LANDASAN TEORI

3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3.2 Alat Penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Industri (HTI) sebagai solusi untuk memenuhi suplai bahan baku kayu. Menurut

STUDI KELAYAKAN BISNIS. Julian Adam Ridjal PS Agribisnis UNEJ

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN

BAB III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Wilayah Kabupaten Lampung Barat pada bulan Januari

II. BAHAN DAN METODE

IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. baik agar penambangan yang dilakukan tidak menimbulkan kerugian baik. dari segi materi maupun waktu. Maka dari itu, dengan adanya

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang

II. BAHAN DAN METODE

A. Kerangka Pemikiran

VIII. ANALISIS FINANSIAL

III. METODOLOGI PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Petani buah naga adalah semua petani yang menanam dan mengelola buah. naga dengan tujuan memperoleh keuntungan maksimum.

KERANGKA PEMIKIRAN. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang

III. METODE KAJIAN. B. Pengolahan dan Analisis Data

METODOLOGI PENELITIAN

VII. RENCANA KEUANGAN

1 PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang

III. METODE KAJIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Kajian

ANALISIS FINANSIAL UNIT PENANGKAPAN JARING INSANG HANYUT DI DESA SUNGAI LUMPUR KABUPATEN OKI PROVINSI SUMATERA SELATAN

BAB III METODE PENELITIAN

MODUL 13 PPENGANTAR USAHATANI: KELAYAKAN USAHATANI 1. PENDAHULUAN SELF-PROPAGATING ENTREPRENEURIAL EDUCATION DEVELOPMENT

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan batasan operasional ini meliputi pengertian yang digunakan

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data

Pendekatan Perhitungan Biaya, Pendapatan & Analisis Kelayakan Usahatani

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Data dan Instrumentasi 4.3. Metode Pengumpulan Data

BAB V ANALISIS BIAYA PENGERINGAN GABAH MENGUNAKAN PENGERING RESIRKULASI

IV. METODE PENELITIAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN

BAB VIII ANALISIS KELAYAKAN PENGUSAHAAN PEPAYA CALIFORNIA BERDASARKAN SPO DAN NON SPO

3. METODOLOGI. Gambar 5 Peta lokasi penelitian di kabupaten Sukabumi.

A. Kerangka Pemikiran

III. METODOLOGI PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data

Analisis usaha alat tangkap gillnet di pandan Kabupaten Tapanuli 28. Tengah Sumatera Utara

METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ABSTRAK. Kata Kunci : Strategi penanganan, risiko biaya kontrak, SWOT. iii

BAB II LANDASAN TEORI

3.2 METODE PERBANDINGAN EKSPONENSIAL

METODE PENELITIAN. A. Konsep Dasar dan Batasan Operasional Penelitian. menganalisis data yang berhubungan dengan penelitian.

METODE PENELITIAN. yang dikeluarkan selama produksi, input-input yang digunakan, dan benefit

ANALISIS KELAYAKAN BUDIDAYA APEL (MALUS SYLVESTRIS MILL) DI DESA BULUKERTO,KECAMATAN BUMIAJI, KOTA BATU

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PERIKANAN LAUT KABUPATEN KENDAL. Feasibility Study to Fisheries Bussiness in District of Kendal

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Asahan, untuk melihat kajian secara

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sayangan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta.

IV. METODOLOGI PENELITIAN. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan

BAB III METODE PENELITIAN

Transkripsi:

III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian pengembangan perikanan pelagis di Kabupaten Bangka Selatan dilakukan selama 6 bulan dari Bulan Oktober 2009 hingga Maret 2010. Pengambilan data dilakukan di wilayah Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung selama satu bulan. Secara rinci peta lokasi penelitian disajikan pada Gambar 4. Gambar 4 Peta lokasi penelitian 3.2 Jenis dan Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini dikelompokkan atas data primer dan sekunder. Data primer bersumber dari anggota rumah tangga nelayan yang terlibat melaut, meliputi: karakteristik rumah tangga nelayan, kepemilikan aset usaha perikanan, input produksi, pemeliharaan kapal dan alat tangkap ikan, hasil tangkapan, musim dan daerah penangkapan, jumlah trip, tenaga kerja nelayan, permodalan, harga ikan dan pemasaran hasil tangkapan. Pengumpulan data primer dilakukan dengan metode interview secara terstruktur menggunakan kuesioner dan ditunjang dengan observasi langsung terhadap kegiatan nelayan dalam melakukan aktivitas penangkapan. Wawancara juga dilakukan terhadap

stakeholders perikanan di wilayah Kabupaten Bangka Selatan untuk mengetahui kebijakan dan strategi pengembangan perikanan pelagis yang diterapkan. Data sekunder diperoleh dari Dinas Kelautan dan Perikanan, Kantor Kecamatan dan Biro Pusat Statistik (BPS). Data yang dikumpulkan mencakup kondisi geografi dan administrasi wilayah, keadaan penduduk, pemasaran, keadaan sarana dan prasarana penunjang perikanan, kebijakan pemerintah di sektor perikanan (kebijakan penyediaan input, informasi harga, investasi dan ekspor), data hasil dan upaya pemanfaatan sumberdaya perikanan 5 tahun terakhir. 3.3 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode survei. Penentuan lokasi dan besarnya contoh responden nelayan dilakukan secara purposive sampling (sengaja). Secara administrasi, Kabupaten Bangka Selatan terbagi atas 7 kecamatan dan 5 kecamatan di antaranya berada di wilayah pesisir. Pusat-pusat pendaratan ikan yang terdapat di kelima kecamatan tersebut dijadikan tempat pengambilan contoh karena merupakan sentra pelayanan nelayan dalam melakukan aktifitasnya menangkap ikan, sehingga akan lebih mudah untuk melakukan observasi dan pengumpulan data primer. Jumlah contoh nelayan untuk setiap jenis unit penangkapan ikan (UPI) ditentukan secara proposional, jika jumlah populasi jenis UPI banyak maka jumlah contoh nelayan akan lebih banyak dibandingkan jumlah contoh nelayan yang memiliki populasi yang lebih sedikit. Pemilihan sampel nelayan dilakukan secara acak. Banyaknya contoh nelayan ditentukan dengan mempertimbangan status nelayan pemilik, perbedaan jenis alat tangkap dan kendala (waktu, tenaga dan biaya). 3.4 Analisis Data Analisis data yang dilakukan pada penelitian ini dirangkum pada Tabel 3. Analisa data terkait tujuan penelitian yaitu (1) Seleksi unit penangkapan ikan pelagis kecil berdasarkan aspek biologi, sosial, teknik dan ekonomi dengan metoda Multi Criteria Analysis, (2) Alokasi unit penangkapan ikan pelagis di

perairan Kabupaten Bangka Selatan dilakukan dengan menggunakan analisis linier goal programming dan (3) Strategi pengembangan unit penangkapan ikan pelagis dilakukan dengan analisis SWOT. 3.4.1 Identifikasi unit penangkapan ikan 3.4.1.1 Aspek biologi Analisis terhadap aspek biologi dilakukan untuk melihat apakah jenis alat tangkap yang digunakan untuk memanfaatkan ikan pelagis di Kabupaten Bangka Selatan termasuk unit penangkapan yang ramah lingkungan atau tidak. Penilaian aspek biologi unit penangkapan ikan pelagis dititikberatkan pada tiga kriteria yaitu jumlah trip, komposisi hasil tangkapan, dan ukuran ikan pelagis yang tertangkap untuk masing-masing alat tangkap. Masing-masing aspek biologi (jumlah trip penangkapan, komposisi hasil tangkapan, dan ukuran ikan yang tertangkap) kemudian diurutkan nilai prioritasnya sehingga pada masing-masing aspek diperoleh urutan prioritasnya. Penilaian prioritas kriteria jumlah trip penangkapan dilakukan dengan membandingkan lamanya trip dalam operasi penangkapan. Semakin sedikit jumlah trip penangkapan maka nilai prioritasnya semakin menurun. Hal ini disebabkan jika suatu unit penangkapan memiliki trip yang lebih sedikit dalam setahun dapat dikatakan bahwa sekali trip akan jauh lebih lama bila dibandingkan dengan alat tangkap yang tripnya lebih banyak dalam setahun. Kondisi ini akan mempengaruhi hasil tangkapan, jika trip semakin lama maka kemungkinan hasil tangkapan rusak juga semakin tinggi, oleh karena itu jika trip semakin sedikit maka nilai prioritasnya semakin menurun. Penilaian prioritas pada kriteria komposisi hasil tangkapan dihitung dengan memperhatikan jumlah spesies yang tertangkap oleh suatu alat tangkap, jika semakin banyak spesies yang tertangkap maka nilai prioritasnya semakin menurun (jelek), demikian sebaliknya. Penilaian terakhir dari aspek biologi adalah kriteria ukuran hasil tangkapan, Ukuran hasil tangkapan suatu alat tangkap dilakukan dengan metode skoring sebagai berikut: 1) untuk kecil, 2) cukup kecil, 3) untuk sedang, 4) untuk

besar dan 5) untuk besar sekali. Kemudian untuk menilai prioritas unit penangkapan terbaik dilakukan dengan melihat ukuran ikan yang tertangkap, jika semakin besar jenis ikan yang dapat ditangkap maka nilai prioritasnya semakin baik, karena secara biologi unit penangkapan tersebut selektif. Sedangkan unit penangkapan yang diunggulkan dari aspek biologi secara berturut-turut ditentukan dari nilai rata-rata hasil standardisasi semua kriteria biologi, dengan ketentuan nilai prioritas berbanding lurus dengan nilai rata-rata standarisasi. Jika nilai standarisasi tinggi maka prioritasnya juga tinggi. 3.4.1.2 Aspek teknis Analisis ini dilakukan untuk mengetahui tingkat efektivitas alat tangkap yang digunakan di Perairan Bangka Selatan (bagan tancap, bagan perahu, jaring kembung, jaring millenium dan pancing). Kriteria teknis yang digunakan meliputi metode pengoperasian alat tangkap, daya jangkau operasi, selektivitas alat dan penggunaan teknologi. Penilaian dilakukan dengan cara skoring untuk semua kriteria kecuali daya jangkau operasi. Pemberian skor untuk tiga kriteria yaitu metode pengoperasian alat tangkap, selektivitas, dan penggunaan teknologi dilakukan dengan menggunakan skala 1-5 dengan rician seperti pada Tabel 3. Nilai prioritas untuk masing-masing kriteria pada Tabel 3 dilakukan dengan melihat nilai skor yang dimiliki oleh alat tangkap, jika nilainya semakin tinggi maka prioritasnya juga semakin tinggi. Tabel 3 Rincian skor kriteria teknis seleksi unit penangkapan ikan pelagis di Kabupaten Bangka Selatan Skor Keterangan 1 Jelek 2 Cukup 3 Sedang 4 Baik 5 Baik sekali Khusus untuk kriteria daya jangkau operasi ditentukan berdasarkan kemampuan kapal dalam mencapai daerah penangkapan. Jika hasil wawancara

menunjukkan bahwa daya jangkau kapal semakin jauh, maka nilai prioritas suatu unit penangkapan semakin tinggi. Usulan unit penangkapan unggulan secara teknis secara berturut-turut ditentukan dari nilai rata-rata hasil standardisasi semua kriteria teknis, dengan ketentuan bahwa nilai prioritas berbanding lurus dengan nilai rata-rata standarisasi, jadi jika nilai standarisasi tinggi maka prioritasnya juga tinggi. 2.6.1.1 Aspek ekonomi Analisis aspek ekonomi untuk menyeleksi unit penangkapan ikan pelagis kecil unggulan meliputi : (1) nilai investasi, (2) biaya usaha, (3) kuntungan usaha, (4) nilai perbandingan penerimaan dan biaya (R/C), dan (5) Payback Periode (PP), (6) Net Present Value (NVP), (7) Internal Rate of Return (IRR), (8) Net B/C. yang dibandingkan dari 5 jenis unit penangkapan ikan pelagis kecil di Bangka Selatan. 1) Nilai Investasi Investasi merupakan biaya yang dikeluarkan oleh investor untuk membeli barang-barang yang diperlukan dalam melaksanakan suatu unit usaha. Modal investasi yang diperlukan untuk melaksanakan usaha penangkapan ikan pelagis kecil di Bangka Selatan dengan menggunakan 5 jenis alat tangkap (bagan tancap, jaring kembung, jaring millennium, bagan perahu, dan pancing) memiliki nilai yang berbeda. Penentuan prioritas unit penangkapan berdasarkan nilai investasi dilakukan dengan melihat jumlah investasi yang dikeluarkan untuk usaha penangkapan, jika nilai investasi semakin tinggi maka nilai prioritasnya semakin rendah. 2) Biaya Usaha Biaya usaha merupakan pengeluaran usaha yang digunakan untuk keperluan kegiatan penangkapan ikan, umumnya dihitung selama satu tahun. Biaya ini terbagi menjadi dua yaitu biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya tetap tidak tergantung pada perubahan tingkat kegiatan dalam menghasilkan produk dalam interval waktu tertentu. Biaya tersebut harus tetap dikeluarkan sekalipun kegiatan operasi penangkapan tidak

dilakukan. Sedangkan biaya variabel adalah biaya yang jumlahnya mengalami perubahan sesuai dengan tingkat produksi yang dilakukan (Soeharto 1999). Penentuan prioritas suatu unit penangkapan berdasarkan nilai biaya usaha dilakukan dengan melihat jumlah biaya yang dikeluarkan dalam setahun, jika biayanya semakin tinggi maka nilai prioritasnya semakin rendah. 3) Keuntungan Penentuan prioritas pada kriteria keuntungan usaha dilakukan dengan melihat jumlah penerimaan bersih yang diterima oleh pemilik usaha penangkapan selama satu tahun, jika nilai keuntungan kegiatan usaha suatu alat tangkap semakin besar maka prioritas alat tangkap tersebut juga semakin tinggi. 4) Revenue and Cost Rasio (R/C) R/C digunakan untuk mengetahui sejauh mana hasil usaha penangkapan dalam periode waktu tertentu cukup menguntungkan atau tidak. nilai R/C diperoleh dengan cara membandingkan penerimaan yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan dalam waktu satu tahun, usaha dikatakan untung apabila nilai R/C >1 (Soeharto 1999). Prioritas suatu alat tangkap dengan menggunakan parameter nilai R/C ditentukan berdasarkan besaran nilai R/C, jika nilai R/C semakin besar maka prioritas pengembangan unit penangkapan semakin tinggi. 5) Payback Periode (PP) Merupakan periode waktu yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran biaya investasi dengan menggunakan aliran kas dalam satu bulan atau satu tahun. Rumus yang digunakan untuk menghitung PP adalah sebagai berikut (Soeharto 1999): PeriodePen gembalian Cf / A... (3.1) Keterangan : Cf = Biaya pertama A = Aliran kas bersih (netto) per tahun Nilai payback periode perikanan pelagis kecil di Bangka Selatan berbeda setiap alat tangkap, kemudian unit penangkapan yang diprioritaskan berdasarkan kriteria payback periode adalah unit penangkapan yang memiliki nilai payback

periode terkecil. Jadi semakin kecil nilai payback periode suatu unit penangkapan maka semakin besar prioritas unit penangkapan tersebut. 6) Net Present Value (NPV) Kriteria ini digunakan untuk menilai manfaat investasi yang merupakan jumlah nilai sekarang (present value) dari manfaat bersih dan dinyatakan dalam satuan rupiah. Rumus persamaan NPV adalah (Soeharto 1999): nbck t t t NPV t... (3.3) (1 i) t1 Nilai NPV merupakan nilai tambah yang diperoleh di akhir tahun proyek pada suku bunga tertentu. Semakin besar nilai NPV suatu usaha mengindikasikan besarnya nilai manfaat yang didapatkan oleh unit usaha tersebut. Nilai prioritas pada kriteria Net Present Value (NVP) ditentukan berdasarkan nilai NVP tertinggi, artinya jika semakin tinggi nilai NVP suatu alat tangkap, maka nilai prioritas suatu alat tangkap semakin tinggi juga. 7) Internal Rate of Return (IRR) Kriteria investasi ini merupakan suku bunga maksimal untuk sampai kepada nilai NPV bernilai sama dengan nol, jadi dalam keadaan batas untung rugi. Oleh karena itu kriteria ini sering dianggap sebagai tingkat keuntungan atas investasi bersih dalam suatu proyek. Pernyataan ini memuat suatu implikasi bahwa setiap manfaat yang diwujudkan secara otomatis ditanam kembali pada tahun berikutnya dan mendapatkan tingkat keuntungan yang sama dan diberi bunga selama sisa umur proyek. Dengan demikian IRR dapat dirumuskan sebagai berikut (Soeharto 1999): ' ' NVP ' IRR i ii '... (3.5) ' " NPV NVP keterangan: i` = discount rate ketika NVP positif

I = discount rate ketika NVP negatif NPV = nilai NVP positif NPV = nilai NVP negatif Proyek dikatakan layak bila IRR lebih besar dari tingkat bunga yang berlaku. Sehingga bila IRR sama dengan tingkat bunga yang berlaku maka NPV dari proyek tersebut sama dengan nol. Sebaliknya, bila IRR lebih kecil dari tingkat bunga yang berlaku, maka nilai NPV lebih kecil dari nol dan berarti proyek tersebut tidak layak. Semakin tinggi nilai IRR dari suatu unit penangkapan ikan maka kondisi usaha tersebut semakin baik. Dengan memperhatikan uraian diatas, maka nilai prioritas pada kriteria Internal Rate of Return (IRR) ditentukan dengan melihat nilai IRR yang tinggi, dengan kata lain bila suatu unit penangkapan memiliki nilai IRR tinggi, maka nilai prioritas alat tangkap tersebut semakin tinggi juga. 8) Analisis Rasio Biaya dan Manfaat (B/C Ratio) Analisis Rasio Biaya dan Manfaat merupakan salah satu analisis untuk menilai kelayakan sebuah investasi yang ditanamkan baik secara ekonomi maupun secara finansial. Rasio Biaya dan Manfaat merupakan perbandingan di mana pembilang terdiri dari nilai manfaat total yang sudah didiskon dengan tingkat diskon (discount rate) tertentu, sedangkan sebagai penyebut adalah total biaya yang sudah didiskon. Persamaan rasio B/C tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut (Soeharto 1999): n t Bt (1i) B/C = t... (3.4) Ct (1i) t1 keterangan : B = Benefit (Manfaat), C = Cost (Biaya), t = Periode proyek i = Discount rate Dari persamaan tersebut di atas, dapat disusun kriteria kelayakan investasi di mana apabila nilai B/C memberikan nilai lebih besar dari 1 maka dikatakan investasi tersebut layak untuk diteruskan. Sebaliknya,

apabila nilai B/C tersebut kurang dari 1 maka dikatakan investasi tersebut tidak layak untuk diteruskan. Nilai prioritas berdasarkan kriteria B/C dilakukan dengan memperhatikan nilai B/C untuk masing-masing alat tangkap, jika hasil perhitungan memberikan nilai yang tinggi maka perioritas unit penangkapan tersebut juga semakin tinggi. 9) Back Event Point (BEP) Merupakan titik dimana usaha mengalami titik impas (tidak untung atau rugi). Dengan asumsi bahwa harga penjualan per unit produksi adalah konstan maka jumlah unit pada titik impas dihitung sebagai berikut (Soeharto 1999): FC Qi... (3.2) P VC Keterangan : Qi = Jumlah unit (volume) yang dihasilkan dan terjual pada titik impas FC = Biaya tetap P = Harga penjualan per unit VC = Biaya tidak tetap per unit Asumsi yang akan digunakan dalam analisis kriteria investasi usaha penangkapan ikan pelagis di Bangka Selatan adalah: 4) Unit usaha merupakan yang dijalankan di Perairan Bangka dianggap sebagai usaha baru. 5) Umur proyek ditentukan berdasarkan pada penggunaan investasi kapal. 6) Tahun pertama proyek dimulai tahun 2009 dengan penilaian investasi dimulai dari tahun tersebut. Penggantian investasi berikutnya menggunakan barang baru dan harga baru. 7) Sumber modal yang digunakan yaitu modal sendiri. 8) Jumlah penerimaan selama umur proyek tetap. 9) Discount factor sebesar 13% suku bunga usaha yang dikeluarkan bank di Provinsi Bangka Belitung.

Secara keseluruhan unit penangkapan yang diunggulan secara ekonomi ditentukan dengan memperhatikan keunggulan pada semua semua tersebut diatas. Keunggulan tersebut dapat dilihat pada nilai rata-rata hasil standardisasi semua kriteria ekonomi, dengan ketentuan bahwa nilai prioritas berbanding lurus dengan nilai rata-rata standarisasi, jadi prioritas akan tinggi jika nilai rata-rata standardisasinya tinggi. 3.4.1.4 Aspek sosial Analisis sosial ditinjau dari penilaian dan penerimaan masyarakat terhadap alat tangkap yang digunakan, apakah unit penangkapan tersebut dapat memberikan kesempatan kerja dan pendapatan yang memadai bagi nelayan setempat atau tidak. Kondisi ini dapat dilihat dari jumlah tenaga kerja yang diserap serta upah yang diterima oleh nelayan dari kegiatan usaha penangkapan. Oleh karena itu, analisis terhadap aspek sosial dilakukan terhadap dua kriteria yaitu jumlah tenaga kerja dan tingkat pendapatan nelayan untuk masing-masing unit penangkapan yang diusahakan oleh nelayan Kabupaten Bangka Selatan. Penilaian terhadap kriteria penyerapan tenaga kerja dilakukan dengan melihat jumlah nelayan yang dipekerjakan dalam suatu unit usaha penangkapan ikan. Jika unit usaha penangkapan memiliki jumlah pekerja lebih banyak dibandingkan dengan unit penangkapan lainnya, maka prioritas unit penangkapan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan alat tangkap lainnya. Penilaian prioritas kriteria kedua dari aspek sosial, yaitu tingkat pendapatan nelayan dilakukan dengan membandingkan rata-rata pendapatan yang diterima oleh nelayan suatu unit penangkapan ikan. Jika pendapatan yang diterima oleh nelayan tinggi, maka prioritas pengembangan unit penangkapan juga tinggi. Kemudian usulan prioritas pengembangan unit penangkapan ikan pelagis di Kabupaten Bangka Selatan dari aspek sosial dilakukan dengan mempertimbangkan keunggulan jumlah nelayan yang diserap serta jumlah pendapatan yang diperoleh nelayan selama bekerja dalam suatu unit usaha penangkapan ikan. Oleh karena itu, penentuan prioritas aspek ekonomi dilakukan dengan melihat nilai rata-rata hasil standardisasi dua kriteria diatas,

dengan ketentuan bahwa nilai prioritas berbanding lurus dengan nilai rata-rata standarisasi, jadi prioritas akan tinggi jika nilai rata-rata standardisasinya tinggi. 3.4.1.5 Analisis gabungan Analisis gabungan dilakukan untuk menilai tingkat keunggulan unit penangkapan sumberdaya ikan pelagis di Kabupaten Bangka Selatan dari sisi biologi, teknis, ekonomi dan sosial. Penilaian gabungan dilakukan untuk memperhitungkan semua kriteria pada empat aspek diatas sehingga pada akhirnya dapat diperoleh urutan prioritas unit penangkapan ikan pelagis yang diunggulkan di Kabupaten Bangka Selatan berdasarkan aspek biologi, teknis, ekonomi dan sosial. Urutan prioritas pengembangan unit penangkapan pelagis di Kabupaten Bangka Selatan dari tertinggi hingga terendah dapat dilihat dari hasil perhitungan nilai rata-rata standardisasi semua kriteria dalam empat aspek diatas, dimana priotas terbaik diperoleh dari nilai rata-rata standardisasi tertinggi.

Tabel 4 Ringkasan analisis data No Tujuan Data yang Dikumpulkan (Input) Cara Pengumpulan Data Metoda Analisis Hasil (Output) 1 Seleksi unit penangkapan - Proporsi hasil Wawancara Multiple Criteria Analysis-MCA Identifikasi Alat Tangkap ikan tangkapan/spesies/alat/bulan berdasarkan aspek biologiteknis-sosialekonomi Kuesioner - Biologi - CPUE - Komposisi hasil hasil tangkapan - Jumlah trip - Ukuran ikan - Metode operasi/alat Wawancara Multiple Criteria Analysis-MCA - Teknis - Daya jangkau/kapal Kuesioner - Metode operasi - Pengaruh lingkungan/alat - Daya jangkau - Selektivitas alat - Pengaruh lingkungan - Penggunaan teknologi/alat - Selektivitas alat - Penggunaan teknologi - Biaya operasional/alat Kuesioner Analisis Usaha - Ekonomi - Rasio B/C - Payback Period - Break event point - Net Present Value (NPV) - Benefit Cost Ratio (BCR) Return on Investment (ROI) - Modal investasi - Biaya usaha - Penerimaan usaha - Kriteria financial - Kriteria investasi Jumlah tenaga kerja/alat Upah rata-rata tenaga kerja/alat Wawancara Kuesioner Survei Multiple Criteria Analysis- MCA Multiple Criteria Analysis- MCA - Sosial - Membandingkan jumlah tenaga kerja - Membandingkan upah tenaga kerja Prioritas Pengembangan Unit Penangkapan Pelagis Unggulan

No Tujuan Data yang Dikumpulkan (Input) Cara Pengumpulan Data 2 Alokasi unit Nilai potensi sumber - Return on penangkapan ikan daya pelagis, Investment pelagis kecil di produktivitas alat (ROI) Perairan tangkap, jumlah tenaga Kuesioner Bangka Selatan kerja, jumlah pemakaian Survei bahan bakar, dan jumlah retribusi yang dikenakan. Metoda Analisis Linear Goal Programming (LP) 1. Pendekatan input kegiatan penangkapan 2. Pendekatan produksi hasil tangkapan Hasil (Output) Alokasi Unit Penangkapan Pelagis yang Optimum 3 Formulasi strategi pengembangan perikanan pelagis di perairan Bangka Selatan Faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi perikanan pelagis di Kabupaten Bangka Selatan Wawancara SWOT dan Deskriptif Strategi Pengembangan Perikanan Kuesioner Pelagis Survei 33

ANALISIS UNIT PENANGKAPAN PELAGIS Teknis Biologi Ekonom i Sosial Kriteria Kriteria Kriteria Kriteria Metode pengoperasian UPI Daya jangkau operasi Pengaruh lingkungan fisik DPI Selektivitas UPI penggunaan teknologi CPUE Jumlah trip penangkapan Komposisi hasil tangkapan Ukuran ikan yang tertangkap Biaya investasi Biaya usaha Payback periode NPV B/C Ratio IRR Jumlah tenaga kerja Tingkat pendapatan nelayan MULTI CRITERIA ANALYSIS (MCA) UNIT PENANGKAPAN PELAGIS UNGGULAN ALOKASI OPTIMUM UNIT PENANGKAPAN LINIER GOLD PROGRAMMING PENGEMBANGAN UNIT PENANGKAPAN Gambar 5 Diagram alir pengembangan perikanan pelagis di Kabupaten Bangka Selatan

3.4.2 Alokasi unit penangkapan pelagis 3.4.2.1 Fungsi tujuan Penetapan tujuan optimasi pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis dinyatakan sebagai suatu target yang direpresentasikan secara numerik dan dicoba untuk dicapai. Solusi yang ingin dicapai adalah memaksimalkan produksi hasil tangkapan unit penangkapan ikan pelagis kecil di Kabupaten Bangka Selatan. Fungsi tujuan yang akan digunakan dalam menyelesaikan analisis alokasi unit penangkapan pelagis adalah sebagai berikut : MAX P P......(3.1) 1 1 2 p n Keterangan MAX : Fungsi tujuan maksimum P 1 : Produksi alat tangkap 1 P 2 : Produksi alat tangkap 2 P n : Produksi alat tangkap n 3.4.2.2 Penetapan kendala fungsional Kendala fungsional yaitu kendala yang menjadi pembatas dalam upaya pencapaian tujuan pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap, beberapa fungsi kendala yang akan ditemui dalam pengembangan perikanan pelagis adalah : 1) Kendala ketersediaan BBM di wilayah penelitian akan digambarkan dengan menggunakan model persamaan sebagai berikut : mt1 X1 mt2 X 2... mtn X n SB...(3.2) keterangan : mt 1 = BBM yang dipakai pada pengoperasian alat tangkap 1 (liter/unit) mt 2 = BBM yang dipakai pada pengoperasian alat tangkap 2 (liter/unit) mt n = BBM yang dipakai pada pengoperasian alat tangkap n (liter/unit) SB = BBM yang tersedia bagi nelayan (liter)

2) Kendala ketersediaan es balok akan disajikan dengan menggunakan model persamaan sebagai berikut : es1 X1 es2 X 2... esn X n ES...(3.3) keterangan : es 1 = es balok yang dipakai pada pengoperasian alat tangkap 1 (balok/unit) es 2 = es balok yang dipakai pada pengoperasian alat tangkap 2 (balok/unit) es n = es balok yang dipakai pada pengoperasian alat tangkap n (balok/unit) Es = es balok yang tersedia bagi nelayan (balok) 3) Kendala penyerapan tenaga kerja yang tersedia bagi usaha perikanan tangkap (orang). Model persamaannya dapat dirumuskan : h X h X 1 1 2 2. hn X n H...(3.4) keterangan: h 1 = h 2 = h n = H = jumlah tenaga kerja untuk alat tangkap 1 (orang/unit) jumlah tenaga kerja untuk alat tangkap 2 (orang/unit) jumlah tenaga kerja untuk alat tangkap n (orang/unit) jumlah tenaga kerja yang dapat terserap (orang) 3.4.3 Analisis strategi pengembangan perikanan pelagis Perencanaan strategi pengembangan perikanan pelagis di Kabupaten Bangka Selatan akan didekati dengan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats). Berdasarkan hasil kajian aspek biologi, teknis, sosial, ekonomi dan kelembagaan, kemudian menyusun faktor strategi internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor strategi eksternal (peluang dan ancaman). Faktorfaktor tersebut kemudian diberikan bobot dan rating. Pembobotan didasarkan pada persentase jumlah responden yang memberikan bobot dan rating pada

masing-masing faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman). Kriteria penilaian mulai dari tidak penting sampai dengan sangat penting. Sedangkan rating didasarkan pada pengaruh faktor-faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman) terhadap pengembangan perikanan pelagis di Kabupaten Bangka Selatan apakah memberikan dampak positif atau negatif. Dampak positif nilainya lebih besar sedang dampak negatif nilainya lebih kecil, skala yang diberikan yaitu 1-4. Setelah pemberian nilai pada bobot dan rating, selanjutnya ditentukan nilai skor dengan mengalikan antara bobot dengan rating. Hasil dari total skor menunjukkan informasi sebagai berikut: Matrik IFAS a. Total skor 1 : situasi internal masyarakat Bangka Selatan dalam pengembangan perikanan pelagis sangat buruk b. Total skor 2-3 : situasi internal masyarakat Bangka Selatan dalam pengembangan perikanan pelagis rata-rata c. Total skor 4 : masyarakat Bangka Selatan dalam pengembangan perikanan pelagis sangat baik Matrik EFAS a. Total skor 1 : masyarakat Bangka Selatan tidak mampu memanfaatkan peluang untuk menghindari ancaman dalam pengembangan perikanan pelagis b. Total skor 2-3 : masyarakat Bangka Selatan mampu memanfaatkan peluang untuk menghindari ancaman dalam pengembangan perikanan pelagis secara rata-rata c. Total skor 4 : masyarakat Bangka Selatan sangat baik dalam memanfaatkan peluang untuk menghindari ancaman dalam pengembangan perikanan pelagis

Responden yang diwawancarai yaitu Staf Dinas Perikanan dan Kelautan Bangka Selatan, Staf TPI, tokoh masyarakat, kelompok nelayan, dan Perguruan Tinggi, yang berjumlah 20 orang responden. Tabel 5 Matriks IFAS dan EFAS dalam analisis SWOT Faktor-Faktor Internal Kek uata n Bobot Rating Skor S1 Sn Kele mah an Bobot Rating Skor W1 Wn Faktor-Faktor Eksternal Pelu ang Bobot Rating Skor O1 On Anc ama n Bobot Rating Skor T1 Tn Setelah memperoleh skor pembobotan, masing-masing faktor strategi dirangking dan dihubungkan keterkaitannya untuk memperoleh beberapa alternatif strategi dengan menggunakan matrik analisis SWOT (Tabel 5)

Tabel 6 Matrik SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) Faktor Internal STRENGTHS WEAKNESSES Faktor (S) (W) Eksternal Strategi SO Strategi WO OPPORTUNITIES (O) Meciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang Menciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang THREATS (T) Strategi ST Menciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman. Strategi WT Menciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman.