TEKHNIK DASAR MENDAYUNG ROWING

dokumen-dokumen yang mirip
TEKNIK ROWING. Kegiatan Belajar 2:

TEACHING METHODOLOGY

RIGGING Oleh: Dede Rohmat Nurjaya 1. PENDAHULUAN 2. Alat-alat Bantu Pengukuran

GENERAL FITNESS TRAINING

TRAINING METHODOLOGY

: Pelatihan Cabang Olahraga Dayung (teori dan praktek) KODE MATA KULIAH : PL 418

TAHAPAN PEMBINAAN ATLET DAYUNG JANGKA PANJANG. Oleh: Dede Rohmat Nurjaya

BAB I PENDAHULUAN. Dayung merupakan salah satu jenis cabang olahraga aerobic. Air sebagai

2014 METODE SET SYSTEM DAN METODE SUPER SET SYSTEM KAITANNYA DENGAN PENINGKATAN DAYA TAHAN OTOT:

TAHAPAN PEMBINAAN ATLET JANGKA PANJANG

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Zaid Muksin, 2014

GENERAL FITNESS TRAINING

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENDAHULUAN Dayung adalah satu cabang olahraga yang membutuhkan kondisi tubuh prima agar dapat tampil sebaik mungkin pada saat latihan maupun ketika p

BAB I PENDAHULUAN. Olahraga dayung di Indonesia dari tahun ke tahun semakin berkembang

BAB I PENDAHULUAN JENIS SCULLING SWEEP ROWING KAYAK CANOE CANOE POLO

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Pesta Olahraga Negara-Negara Asia Tenggara (juga dikenal sebagai Sea

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakan Penelitian

HUBUNGAN DAYA TAHAN DAN KEKUATAN OTOT LENGAN DENGAN PRESTASI DAYUNG 1000 METER PUTRA

TAHAPAN LATIHAN JANGKA PANJANG 25/04/2010 1

Bagaimana Sebuah Pesawat Bisa Terbang? - Fisika

I. PENDAHULUAN. Pendidikan Jasmani merupakan pendidikan yang mengaktulisasikan potensipotensi

BAB 1 PENDAHULUAN. kesehatan seseorang. Pembinaan dan pengembangan olahraga adalah satu bagian

BAB I PENDAHULUAN BAB II A. LATAR BELAKANG

KEKUATAN OTOT LENGAN ATLET ATLETIK PPLP (PUSAT PENDIDIKAN LATIHAN PELAJAR ) DKI JAKARTA. Fatah Nurdin 1, Aisyah Kemala 2

DINAMIKA 1. Fisika Dasar / Fisika Terapan Program Studi Teknik Sipil Salmani, ST., MT., MS.

BAB 1 PENDAHULUAN. melalui olahraga. Budaya olahraga harus terus di kembangkan guna

Fisika Umum (MA-301) Getaran dan Gelombang Bunyi

BAB I PENDAHULUAN. Renang merupakan salah satu cabang olahraga yang banyak disukai dan

BAB I PENDAHULUAN. adalah satu kesatuan utuh dari komponen-komponen yang tidak dapat

II. TINJAUAN PUSTAKA. maupun untuk putri. Unsur fisik yang diperlukan dalam nomor tolak ini adalah

BAB 3 DINAMIKA. Tujuan Pembelajaran. Bab 3 Dinamika

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. 1. Nilai rata-rata kayuhan atlet renang gaya dada 50 meter KU II putera adalah

RUNNING SKILLS. Skill highlights

TOLAK PELURU A. SEJARAH TOLAK PELURUH

Teori & Soal GGB Getaran - Set 08

SISTEM PEREKRUTAN ATLET DAYUNG PUSAT LATIHAN DAERAH JAWA TIMUR

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Renang merupakan suatu aktivitas yang membutuhkan gerakan yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Olahraga mempunyai banyak fungsi, yaitu untuk latihan, alat pendidikan,

Fisika Umum (MA-301) Topik hari ini: Getaran dan Gelombang Bunyi

BAB I PENDAHULUAN. Olahraga telah berkembang menjadi suatu fenomena yang meliputi seluruh

DINAMIKA. Rudi Susanto, M.Si

Oleh: Agus Supriyanto

METODE MENYUSUN PERIODISASI

Antiremed Kelas 10 FISIKA

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Data dalam penelitian ini, yaitu kemampuan renang gaya crawl untuk

ALTERNATIF DESAIN MEKANISME PENGENDALI

BAB II KAJIAN PUSTAKA

LATIHAN SOAL MENJELANG UJIAN TENGAH SEMESTER STAF PENGAJAR FISIKA TPB

BAB III. Universitas Sumatera Utara MULAI PENGISIAN MINYAK PELUMAS PENGUJIAN SELESAI STUDI LITERATUR MINYAK PELUMAS SAEE 20 / 0 SAE 15W/40 TIDAK

Materi Pendidikan Wasit Senam Artistik Putra

BAB I PENDAHULUAN. permainan, perlombaan dan kegiatan intensif dalam rangka memperoleh

BAB 7 ANALISA GAYA DINAMIS

RINGKASAN BAB 2 GAYA, MASSA, DAN BERAT BENDA

SOAL SELEKSI OLIMPIADE SAINS TINGKAT KABUPATEN/KOTA 2014 CALON TIM OLIMPIADE FISIKA INDONESIA 2015

Analisa Perilaku Arah Kendaraan dengan Variasi Posisi Titik Berat, Sudut Belok dan Kecepatan Pada Mobil Formula Sapuangin Speed 3

Gambar 12.2 a. Melukis Penjumlahan Gaya

LOMPAT JANGKIT. Dalam lompat jangkit ada 3 tahapan yang harus dilaksanakan yaitu : 1. Tahapan Hop ( Jingkat ) Design by R2 Bramistra

HUBUNGAN DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI TERHADAP KEMAMPUAN LOMPAT JAUH GAYA BERJALAN DIUDARA PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 11 BANDA ACEH.

PENGARUH LATIHAN NAIK TURUN BANGKU TERHADAP JAUH LOMPATAN PADA OLAHRAGA ATLETIK NOMOR LOMPAT JAUH SISWA KELAS X SMK PGRI WLINGI KAB.

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB I PENDAHULUAN. prestasi dan juga sebagai alat pendidikan. Olahraga memiliki peranan penting dalam

Soal SBMPTN Fisika - Kode Soal 121

SMP kelas 8 - FISIKA BAB 3. ENERGI DAN USAHALatihan Soal 3.2

SEMINAR NASIONAL PENINGKATAN KUALITAS PENULISAN KARYA ILMIAH STOK BINA GUNA, SABTU 16 SEPTEMBER 2017 PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN SIDE SHUFFLE

3. (4 poin) Seutas tali homogen (massa M, panjang 4L) diikat pada ujung sebuah pegas

1. Sebuah benda diam ditarik oleh 3 gaya seperti gambar.

PERIODISASI THEORY AND METHODOLOGY OF TRAINING TUDOR O BOMPA RINGKASAN OLEH DRS. OCTAVIANUS MATAKUPAN

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM

KONTRIBUSI TINGGI BADAN, BERAT BADAN, DAN PANJANG TUNGKAI TERHADAP KECEPATAN LARI CEPAT ( SPRINT

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. merupakan kegiatan manusia sehari-hari seperti jalan, lari, lompat, dan lempar

NARASI KEGIATAN PROGRAM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT COACHING CLINICS ATHLETICS

2015 PROFIL BANTINGAN LENGAN, BANTINGAN KEPALA DAN TARIKAN LENGAN PADA GAYA ROMAWI- YUNANI CABANG OLAHRAGA GULAT

Abdul Mahfudin Alim, M.Pd Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta

TEORI DAN METODOLOGI LATIHAN OLEH: YUNYUN YUDIANA

Benda B menumbuk benda A yang sedang diam seperti gambar. Jika setelah tumbukan A dan B menyatu, maka kecepatan benda A dan B

NARASI KEGIATAN PROGRAM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT. Pengimbasan Model Pembelajaran Atletik di Kabupaten Bantul

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Journal of Physical Education, Sport, Health and Recreations

BAB 3 DINAMIKA GERAK LURUS

2015 PENGARUH LATIHAN WEIGHT TRAINING TERHADAP DAYA TAHAN OTOT LENGAN DAN PRESTASI MEMANAH JARAK 30 METER PADA CABANG OLAHRAGA PANAHAN

Edisi Juni 2011 Volume V No. 1-2 ISSN PEMASANGAN SENSOR GELOMBANG ULTRASONIK UNTUK APLIKASI ROBOT ANTI-BENTUR

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan zaman saat ini, ilmu pengetahuan dan

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN. yaitu Athlon yang berarti memiliki makna bertanding atau berlomba (Yudha

LAPORAN PRAKTIKUM GERAK PADA BIDANG MIRING. (Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Tugas Fisika Dasar I) Dosen Pengampu : Drs.Suyoso, M.Si.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Angkat Berat merupakan salah satu cabang olahraga di bawah naungan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

Analisis Perolehan Angka dalam Permainan Olahraga Sepaktakraw. Abdul Aziz Hakim*

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan sehari-hari. Setiap orang tentunya mempunyai tujuan yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Jenis dan Sifat Gelombang

BAB I PENDAHULUAN. penting, karena olahraga dapat memberi manfaat yang sebesar-besarnya dalam

DINAMIKA 1. Fisika Dasar / Fisika Terapan Program Studi Teknik Sipil Salmani, ST., MS., MT.

BAB I PENDAHULUAN. dimainkan oleh berbagai kelompok umur, dari anak-anak, pemula, remaja, dewasa

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Transkripsi:

TEKHNIK DASAR MENDAYUNG ROWING Oleh: Dede Rohmat Nurjaya (Disampaikan pada acara Penataran Pelatih Cabang Olahraga Dayung pada Pengda (Pengurus Daerah), PPLP (Pusat Pembinaan dan Latihan Olahraga Pelajar), PPLM (Pusat Pembinaan dan Latihan Olahraga Mahasiswa) dan Perguruan Tinggi Se- Indonesia, Surabaya 24-27 Mei 2009). 1. PENDAHULUAN Kombinasi antara kemampuan teknis dan kapasitas fisik yang baik dapat meningkatkan prestasi seorang atlet. Kemampuan teknis memang penting pada semua cabang olahraga tetapi untuk olahraga dayung hal ini lebih penting lagi agar dapat mencapai prestasi yang baik. Banyak factor yang harus dikuasai pada olahraga dayung, tetapi yang paling mendasar adalah mengerti dan menguasai ketrampilan teknis agar seorang atlet dapat menyerap manfaat yang sebesar-besarnya dari kegiatan latihan. Sekalipun teknik sculling dan sweep rowing pada dasarnya adalah sama, tapi untuk pemula dianjurkan untuk memulai dengan gerakan simetris sculling. Dasar-dasar teknik dayung pada program pengembangan pelatihan FISA menyajikan penjelasan dasar mengenai teknik sculling. Ada banyak cara yang bisa dipakai untuk menjelaskan suatu teknik dayung, yang akan dibahas disini adalah yang paling umum dipakai di banyak negara di seluruh dunia. 2. KENAPA TEKNIK Latihan untuk meningkatkan kekuatan, daya tahan dan aspek-aspek fisiologis lainnya tidak banyak berguna kalau seorang atlet tidak dapat meningkatkan kecepatan perahu. Seperti telah diuraikan pada Pendahuluan, manfaat latihan untuk meningkatkan kecepatan perahu baru akan dapat dilakukan kalau atlet sudah memahami dan bisa mempraktekkan teknik dayung yang efektif. 3. HUKUM-HUKUM FISIKA Pada saat mengamati dan menganalisa olahraga dayung, kita akan mengerti bahwa gerakan-gerakan atlet dan perahu sepenuhnya berdasarkan pada hukum-hukum fisika

yang menjadi landasan bagi teknik dayung. Tujuan dari olahraga dayung adalah agar atlet dengan kekuatannya dapat meluncurkan perahu di atas air. Pada perahu jenis lain, sumber tenaga gerak dapat berupa layar atau motor, Dengan cara memutar baling-baling atau meniup layar. Pada perahu dayung, tenaga gerak ditentukan oleh kapasitas fisik seorang atlet dan tingkat penguasaan teknisnya. Pada perahu dayung, gaya dorong diterapkan secara terputus-putus (intermittent) karena posisi papan dayungnya juga bergantian, sekali di air dan sekali di udara. Pada saat sedang mengayuh, seorang atlet bergerak maju dan mundur pada dudukan yang bisa digeser-geser sehingga menciptakan gaya positif dan negative. Gaya positif menyebabkan perahu bergerak ke depan dan gaya negative menyebabkan gerak maju perahu jadi terganggu (gambar 1). Hal ini mendorong kita untuk memusatkan perhatian pada upaya untuk meningkatkan gaya positif dan sedapat mungkin mengurangi pengaruh dari gaya negative. Gabar 1. Arah-arah gaya pada olahraga dayung 4. DINAMIKA MENDAYUNG Agar dapat memahami bagaimana gaya-gaya ini bekerja, kita dapat mempelajari diagram 1 untuk mengamati perubahan kecepatan sebuah perahu dalam pertandingan ketika dayung sedang dikayuh. Kurva ini adalah hasil dari study yang dilakukan oleh Wenzel Joesten di Berlin yang menganalisa sebuah film yang merekam gerakan perahu dan teknik yang dipakai seorang atlet.

Diagram 1. Analisa perahu dayung yang sedang lomba Yang paling menarik adalah kurva kecepatan yang memperlihatkan perubahan kecepatan perahu dalam satu kali kayuhan dibandingkan dengan kecepatan rata-rata. Kita akan menggunakan kurva ini untuk menganalisa teknik yang benar dan yang salah yang dilakukan oleh seorang atlet atau team. Gerakan dayung yang baik mestinya tidak menghasilkan terlalu banyak variasi kecepatan dibanding dengan kecepatan rata-rata, sehingga karakteristik kurva juga tidak terlalu banyak variasi. Kurva akselerasi (kurva B) memperlihatkan percepatan (acceleration) dari perahu. Perahu mencapai percepatan tertinggi pada saat dikayuh dan percepatan terendah

pada saat pemulihan (recovery). Garis yang tergambar di bawah kurva B memperlihatkan posisi atlet pada saat kayuhan yang merupakan fungsi waktu (dalam detik). Kurva C (pitching curve) menunjukkan osilasi atau getaran longitudinal dari perahu. Ada dua kurva, yang satu menunjukkan gerakan busur (bow) dan yang satu lagi gerakan buritan (stern). 5. MASSA + GERAKAN = GAYA Analisa kita akan difokuskan pada kurva A, yaitu kurva yang menunjukkan variasi kecepatan dan hubungannya dengan gerakan atlet pada saat mengayuh dayung, kedua gambar ini terdapat pada diagram 1. Seperti yang bisa dilihat pada diagram, kecepatan maksimum dicapai segera setelah papan dayung ditarik dari air dan kecepatan minimum tercapai setelah papan dayung masuk ke dalam air. Untuk menjelaskan hasil pengamatan mengenai kecepatan maksimum dan minimum, kita harus memperhatikan gerakan atlet mulai dari saat papan dayung keluar dari air sampai masuk ke air ketika sedang mendayung. Pada saat ini titik berat tubuh atlet bergeser dari busur (bow) ke buritan (stern), lihat gambar 2. Contohnya pada perahu dengan 8 dayung, jika berat rata-rata atlet 85kg maka akan menghasilkan 680kg massa yang bergerak dinamis. Kalau kita perhatikan rumus Massa + Gerakan = Gaya, maka pertanyaannya adalah, kemana gaya ini pergi? Pada saat kayuhan baru dimulai, massa yang bergerak ke arah buritan harus berhenti dan mengubah arah, dan pada saat inilah sejumlah gaya dihasilkan yang arahnya berlawanan dengan arah gerakan perahu. Gaya negative ini ditransmisikan ke perahu melalui footstretcher (Lihat A gambar 2). Ketika dilepaskan maka hal yang berlawanan terjadi, massa dari tubuh atlet dimiringkan ke arah busur (bow) sehingga memungkinkan perahu bergerak bebas dengan hambatan minimal.

Gambar 2. Points of contacts Satu-satunya cara untuk mengurangi pengaruh gaya negative adalah memasukkan papan dayung ke dalam air dengan cara yang benar. (Lihat B gambar 2). Ingatlah bahwa tujuan dari teknik mendayung yang baik adalah mengurangi pengaruh gaya negative seminimal mungkin. Disini kita bisa melihat perbedaaan antara atlet yang baik dan yang buruk. Tidak berlebihan kiranya untuk menyatakan bahwa titik paling penting dari dayung adalah ketika memasukkan papan dayung ke dalam air. Dengan cara memasukkan yang benar (papan dayung harus masuk ke dalam air sebelum semua gaya terpakai untuk menekan footstretcher), maka kita bisa mengurangi gaya negative dengan mentransfer gaya tersebut pada bagian papan dayung yang pipih (blade). Akan tetapi betapapun baiknya teknik mendayung, gaya negative akan selalu ada, dan kecepatan akan menurun pada titik terendah segera setelah papan dayung masuk ke air. Tujuan kita meningkatkan teknik adalah untuk mengurangi variasi perubahan kecepatan. Efek dari interaksi antara gaya positif dan gaya negative akan terulang antara 220 dan 250 kali untuk jarak 2000m. Kehilangan kecepatan sedikit saja dalam setiap kayuhan akan membuat kecepatan rata-rata berkurang sehingga jarak tempuh setiap kayuhan juga menjadi lebih pendek. Contohnya pengurangan jarak tempuh 5cm setiap kayuhan

kalau dikalikan dengan jumlah kayuhan maka jarak tempuh yang hilang adalah 12.5m untuk setiap 2000m. 6. FASE-FASE DARI KAYUHAN Sekarang kita akan mempelajari satu demi satu fase-fase dari kayuhan dan menyediakan penjelasan teknis mengenai macam-macam gerakan yang mungkin dilakukan. Ada macam-macam teknik yang bisa dipakai, yang akan dibahas disini adalah penjelasan mengenai gerakan-gerakan yang relatif mudah untuk dipahami. 6.1 Persiapan Seorang atlet dayung hendaknya dapat memanfaatkan tinggi badannya dengan cara yang sealamiah mungkin atau sewajar mungkin, jangan mendorong pundaknya terlalu jauh ke depan sehingga terkesan dibuat-buat. Sudut yang dibentuk tubuh atlet (kirakira 45 derajat) adalah tingkat kemiringan yang ideal untuk mentransmisikan gaya dari kaki menuju kayuhan (gambar 3). Gambar 3. Persiapan 6.2 Awal dan paruh pertama dari kayuhan Pada awal kayuhan, berat tubuh atlet ditransmisikan kepada footstretcher melalui kaki; secara khusus hal ini bisa diamati pada fase pertama dari kayuhan. Pada saat yang sama, atlet secara aktif menggunakan otot-otot badan lainnya untuk menghasilkan tenaga yang cukup di air (Gambar 4).

Gambar 4. Awal dan paruh pertama dari kayuhan 6.3 Akhir kayuhan Dalam kaitannya dengan gaya-gaya otot, paruh pertama dari kayuhan lebih mengandalkan pada otot-otot kaki. Selanjutnya, otot-otot belakang mulai beraksi dan pada akhir kayuhan yang berperan adalah otot-otot pundak dan tangan. Berat badan atlet harus digunakan dengan optimalselama mengayuh dan tenaga ditransmisikan sepenuhnya kepada papan dayung (gambar 5). Gambar 5. Akhir kayuhan

6.4.Akhir dari kayuhan dan Pelepasan (Release) Seperti dijelaskan pada gambar 5, otot-otot pundak dan tangan berperan pada saat mengakhiri kayuhan. Pada bagian ini titik berat badan harus selalu dijaga agar tetap berada di belakang dayung untuk mendapatkan efek maksimal pada akhir kayuhan (gambar 6) Gambar 6. Akhir dari kayuhan 6.5 Paruh pertama dari fase pemulihan (Recovery) Pada saat pemulihan, tangan mengarahkan gerakan dengan cepat dan secara lentur mendorong papan dayung menjauhi badan setelah dilepaskan. Gambar 7 menunjukkan gerakan yang yang terjadi pada saat tangan dipanjangkan maksimal. Gambar 7. Paruh pertama dari pemulihan

6.6 Paruh kedua dari pemulihan Sementara tangan dipanjangkan terus ke depan, bagian atas tubuh atlet mulai dimiringkan ke depan hingga mencapai sudut kemiringan 45 derajat (fase awal kayuhan). Ketika tangan dikembangkan dan bagian atas tubuh berada pada posisi awal, maka atlet mulai menggerakkan dudukan maju ke depan untuk memulai kayuhan baru (gambar 8). Gambar 8.Paruh kedua dari fase pemulihan Pada gerakan sculling, FISA CDP merekomendasikan posisi tangan standar yaitu tangan kiri di depan tangan kanan pada saat kayuhan dan pemulihan (recovery). 7. RINGKASAN Analisa ini bersifat teknis, pada kenyataannya, semua gerakan harus dilakukan berurutan dengan mulus dan berkelanjutan. Yang sangat penting untuk diperhatikan adalah bagian atas tubuh harus dipersiapkan dengan benar untuk kayuhan berikutnya sebelum dudukan mulai digerakkan maju ke depan. Seperti telah dinyatakan pada bagian pendahuluan, teknik sculling dan sweep rowing pada dasarnya sama, hanya saja gerakan asimetris dari sweep rowing mengharuskan tubuh atlet untuk beradaptasi dengan gerakan papan dayung tunggal.

Sumber: FISA, (1999). Junior Rowing Guide. FISA Youth Commission. FISA. Coaching Development Program Level I. Hand Book, (1987). FISA Development Program. FISA. Coaching Development Program Level II. Hand Book, (1987). FISA Development Program. FISA. Coaching Development Program Level III. Hand Book, (1987). FISA Development Program. FISA, (2000). World Rowing Guide. FISA. L Davenport Michael, Editor (2000). Candidate s Manual Level III. USRowing s Coaching Education Program. Nolte Volker (2005). Rowing Faster, Training, Rigging, Technique, Racing. Human Kinetics Publishers, INC, Champaign, Illinois. Thompson Paul, (2005). Sculling, Training, Technique & Performance. The Crowood Press Ltd, Ramsbury, Marlborough.