BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
Bisnis Warung Kelontong Modal Kecil

BAB I PENDAHULUAN. pembelian dan mengkonsumsi. Untuk memenuhi ketiga aktivitas tersebut, terjangkau terutama bagi masyarakat berpenghasilan sedang.

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. seperti Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Hal ini tentunya membuat jumlah

BAB I PENDAHULUAN. dahulu keinginan dan kebutuhan, konsumen pada saat ini dan yang akan datang.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. tidak dapat dipungkiri. Selama ini masyarakat memenuhi berbagai kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan. Sedangkan ritel modern adalah sebaliknya, menawarkan tempat

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Usaha atau bisnis ritel di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1-1

BAB I PENDAHUALAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Kemajuan dibidang perekonomian selama ini telah banyak

BAB II MINIMARKET DAN WARUNG KELONTONG

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan pasar modern di Indonesia saat ini menunjukkan angka yang

BAB I PENDAHULUAN. Bisnis ritel di Indonesia terus berkembang dari tahun ke tahun. Berdasarkan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan bisnis ritel di Indonesia pada saat ini semakin cepat salah

BAB 1 PENDAHULUAN. hal itu, Ghanimata (2012) mengatakan para pemasar harus menerapkan. ujung tombak keberhasilan pemasaran.

Judul : Analisis Pendapatan Usaha Warung Tradisional Dengan Munculnya Minimarket Di Kota Denpasar Nama : Ida Ayu Sima Ratika Dewi NIM :

I. PENDAHULUAN. Lapangan Usaha * 2011** Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan

BAB I PENDAHULUAN. Amir (2011) kepuasan konsumen didefinisikan sejauh mana manfaat sebuah

BAB I PENDAHULUAN. peritel tetap agresif melakukan ekspansi yang memperbaiki distribusi dan juga

BAB I PENDAHULUAN. Carrefour, Hero, Superindo, Hypermart, dan lainnya. Dengan adanya berbagai

BAB I PENDAHULUAN UKDW. ritel modern seperti minimarket daripada pasar tradisional. strategis serta promosi yang menarik minat beli.

BAB I PENDAHULUAN. menjadi bisnis modern maupun munculnya bisnis ritel modern yang baru seperti

BAB I PENDAHULUAN. terhadap pemenuhan kebutuhan pelanggan yang cukup besar. Hingga saat ini

BAB I PENDAHULUAN. Secara umum bidang usaha ritel atau pengecer modern di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. tertentu. Keberadaan perusahaan ritel yang bermunculan di dalam negeri

BAB I PENDAHULUAN UKDW. menjadi pasar yang sangat berpotensial bagi perusahaan-perusahaan untuk

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. beberapa temuan untuk dijadikan kesimpulan. Kesimpulan berdasrkan pada hasil

I. PENDAHULUAN. banyak sumber daya dengan meningkatkan efesiensi penggunaan sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. Perdagangan bisnis retail (perdagangan eceran) di Indonesia pada akhirakhir

BAB I PENDAHULUAN. Di Indonesia saat ini banyak bisnis baru bermunculan, hal ini dapat dilihat

BAB I PENDAHULUAN. dibedakan menjadi dua bagian yaitu kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder.

BAB I PENDAHULUAN. yang bergerak dibidang perdagangan eceran (retail) yang berbentuk toko,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat seiring

VI ANALISIS KEPUASAN KONSUMEN PRIMA FRESH MART

BAB I PENDAHULUAN. penjual. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 53/M-DAG/PER/12/2008

PENDAHULUAN. peranan penting dalam rangkaian pemasaran dan merupakan penghubung atau

BAB 1 PENDAHULUAN. dibidang perdagangan eceran yang berbentuk toko, minimarket, departement

BAB I PENDAHULUAN. Akhir-akhir ini dampak kehadiran pasar modern terhadap keberadaan

BAB I PENDAHULUAN. mengikuti pertumbuhan jumlah penduduk. Kelangsungan usaha eceran sangat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. bermunculan perusahaan dagang yang bergerak pada bidang perdagangan barang

BAB I PENDAHULUAN. permintaan barang kehidupan sehari-hari. akan kenyamanan berbelanja, kepraktisan dan penghematan waktu.

BAB V PENUTUP. Penelitian yang diadakan pada dua tempat ritel baru yang akan diteliti,

BAB I PENDAHULUAN UKDW. banyak bermunculan perusahaan dagang yang bergerak dibidang

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Beberapa Jenis Barang di Usaha Dagang Berutu

BAB I PENDAHULUAN. mereka memanfaatkan peluang-peluang bisnis yang ada dan berusaha untuk

BAB I PENDAHULUAN. membuat sebagian besar rakyat Indonesia terjun ke bisnis ritel. Bisnis ritel

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENGARUH TATA LETAK PRODUK DAN KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN PADA MINIMARKET ALFAMART A. YANI WONOGIRI TAHUN 2009/2010

BAB 1 PENDAHULUAN. semakin banyaknya bisnis ritel tradisional yang mulai membenahi diri menjadi bisnis ritel

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

satu yang bisa disebut sukses adalah Hero Supermarket. Dengan jumlah cabang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. dilihat dari banyaknya ragam bisnis restoran yang mulai bermunculan yang tersebar di Jawa

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang maju dan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. Termasuk dalam bidang ritel yang saat ini tumbuh dan berkembang pesat seiring

BAB I PENDAHULUAN. mengalami perubahan dari profit orientied kepada satisfied oriented agar mampu

MOTIVASI KONSUMEN MEMBELI PADA TOKO RITEL MODERN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. ritel yang telah mengglobalisasi pada operasi-operasi ritel. Pengertian ritel secara

Bab 5. Jual Beli. Peta Konsep. Kata Kunci. Jual Beli Penjual Pembeli. Jual Beli. Pasar. Meliputi. Memahami Kegiatan Jual Beli di Lingkungan Rumah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Memiliki pelanggan yang loyal adalah tujuan akhir dari semua bisnis

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB IV STRATEGI ADAPTASI PEDAGANG KECIL DI PASAR KOGA KELURAHAN SIDODADI KECAMATAN KEDATON BANDAR LAMPUNG

BAB I PENDAHULUAN. Pada saat kita berbelanja di supermarket, hypermarket maupun minimarket,

BAB I PENDAHULUAN. membuat para pelaku bisnis harus mampu bersaing. Persaingan yang terjadi tidak

BAB I PENDAHULUAN. adanya pertumbuhan dan kemajuan ekonomi. Seiring dengan majunya

BAB I PENDAHULUAN. memberikan keuntungan dan menghidupi banyak orang. Pada saat krisis UKDW

BAB I LATAR BELAKANG. Pada bab ini akan dijelaskan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Loyalitas pelanggan merupakan bagian penting bagi suatu perusahaan

ANALISIS FAKTOR HARGA, LOKASI, PELAYANAN, PROMOSI TERHADAP LOYALITAS KONSUMEN PADA SUPERMARKET LESTARI GEMOLONG SRAGEN 2008/2009 SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. Di tengah krisis ekonomi yang berkepanjangan, membuat setiap masyarakat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. minimarket Indomaret, Alfamart, dan toko-toko tidak berjejaring lainnya.

JURNAL EKONOMI Volume 22, Nomor 1 Maret 2014 ANALISIS SUMBER MODAL PEDAGANG PASAR TRADISIONAL DI KOTA PEKANBARU. Toti Indrawati dan Indri Yovita

BAB 1 PENDAHULUAN. Perdagangan eceran atau sekarang kerap disebut perdagangan ritel, bahkan

BAB V PENUTUP. hubungan antara variable Lokasi Toko dan Keragaman Produk terhadap Keputusan. Pembelian Konsumen pada Minimarket Basko-T Bukittinggi.

BAB I PENDAHULUAN. yang lain (Kotler dan Amstrong, 2008:5). Dalam definisi manajerial, banyak

I. PENDAHULUAN. Dewasa ini perkembangan dunia bisnis semakin pesat, ditandai dengan makin

Transkripsi:

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN Persaingan tidak sempurna yang terjadi pada Alfamart dan ritel tradisional tentu sangat berpengaruh terhadap pendapatannya dari ritel-ritel tradisional. Dan ini akan membawa dampak yang luar biasa terhadap masa depan toko-toko kecil. Untuk melihat dari dampak didirikannya Alfamart tersebut, dapat dilihat melalui pembahasan berikut ini. Tabel 4.1 Produk Umum Yang Dibeli Konsumen Toko menjadi Sampel yang Perlengkapan mandi Produk Snack Rokok Sembako Total Toko Radius 100 m 1 1 3 5 Toko Radius 300 m 2 2 1 5 Toko Radius 500 m 1 2 2 5 Sumber: Data Primer 2014 diolah 1

Produk Umum Yang Dibeli 20% 13% Perlengkapan mandi Snack 33% 34% Rokok Sembako Gambar 1. Produk Umum Yang Dibeli Konsumen Berdasarkan hasil perhitungan, mengenai jenis produk yang banyak dibeli konsumen di warung atau toko kelontong di sekitar Alfamart adalah snack yaitu sebesar 34%. Snack berupa makanan kecil atau permen sejenisnya. Kemudian diikuti rokok sebesar 33%, baik berupa rokok eceran maupun dalam kemasan. 20% nya adalah sembako, yang terdiri dari beras, minyak, gula, garam dan lain-lain. Dan produk yang terendah adalah perlengkapan mandi seperti sabun, shampoo dan pasta gigi sebesar 13%. 2

Tabel 4.2 Pengaruh Alfamart tehadap Kelangsungan Usaha Ritel Tradisional Toko yang Pengaruh terhadap kelangsungan usaha Total menjadi Sampel Berpengaruh Tidak Berpengaruh Toko Radius 100 m 4 1 5 Toko Radius 300 m 3 2 5 Toko Radius 500 m 1 4 5 Sumber: Data Primer 2014 diolah Gambar 2. Pengaruh Alfamart Terhadap Kelangsungan Usaha Ritel Tradisional Dari penelitian ini diharapkan dapat diketahui besarnya pengaruh Alfamart 3

atau dampaknya bagi kelangsungan pedagang tradisional sebesar 53%. Dari tabel di atas, bisa kita lihat pula, pedagang yang lebih dekat (100m) merasa kehadiran Alfamart membawa dampak secara langsung terhadap kelangsungan usahanya. Kemudian pedagang yang berjarak 100 m sampai 300 m, sebagian menyatakan berpengaruh terhadap kelangsungan usahanya dan sebagian lagi menyatakan tidak berpengaruh terhadap kelangsungan usaha. Dan pedagang yang berada dalam radius 500 m, 1 pedagang menyatakan berpengaruh dan 4 pedagang menyatakan tidak berpengaruh terhadap kelangsungan usahanya. Untuk lebih rincinya lagi, maka kita lihat terhadap jumlah pembelinya. Gambar 3. Rata-rata Jumlah Pembeli Sebelum Adanya Alfamart 4

Gambar 4. Rata-rata Jumlah Pembeli Sesudah Adanya Alfamart Diagram di atas menunjukkan dampak yang dialami oleh ritel tradisional dalam hal jumlah pembeli. Sebelum Alfamart berdiri, pedagang yang mempunyai jumlah pembeli di atas 20 orang sebanyak 60% dari total sampel. Namun setelah Alfamart berdiri, pedagang yang mempunyai jumlah pembeli di atas 20 orang menurun menjadi 40% dari total sampel. Penurunan jumlah pembeli tersebut, menjadi 10-20 orang setiap harinya. Hal ini terlihat dari diagram, di mana jumlah pembeli 10-20 orang yang semula 40% meningkat menjadi 73%. Kemudian sebelum adanya Alfamart, tidak ada pedagang yang mempunyai jumlah pembeli di bawah 10 orang, namun setelah adanya Alfamart sebanyak 7% pedagang mempunyai jumlah pembeli di bawah 10 orang. Hal ini menunjukkan dampak adanya Alfamart sangat dirasakan oleh pedagang-pedagang tradisional. 5

Pelanggan Baru Setelah Adanya Alfamart 60% 40% Masih ada Berkurang Gambar 5. Adanya Pelanggan Baru Setelah Adanya Alfamart Konsumen merupakan penentu omset penjualan, yang artinya banyak atau sedikitnya konsumen akan mempengaruhi besar penghasilan yang diterima oleh setiap pedagang. Konsumen yang ada harusnya semakin bertambah dari ke hari dan jangan sampai lari atau berkurang. Tetapi menurut diagram di atas, konsumen baru yang datang ke warung tradisional tersebut semakin berkurang. 60% pedangan menyatakakan pelanggan baru mereka menjadi berkurang, akibat didirikannya Alfamart. Pelanggan baru yang datang ke toko tersebut menjadi berkurang karena lebih memilih berbelanja di Alfamart sekitar. 6

Keragaman Barang Setelah Adanya Alfamart 27% Masih tetap Lebih lengkap 73% Gambar 6. Keragaman Barang Setelah Adanya Alfamart Semakin banyaknya Alfamart di sekitar daerah mereka, memunculkan niat pedagang untuk lebih membenahi usahanya. Dengan menurunnya jumlah pembeli, berkurangnya pelanggan baru membuat pedagang ritel menambah jenis atau varian produk di toko mereka. Hal ini dilakukan agar konsumen bisa tetap berbelanja di toko mereka. 73% pedagang mengaku menambah lagi keragaman barang dagangannya setelah adanya Alfamart, namun 27% pedagang mengaku jenis produk yang ditawarkan masih sama. 7

Tabel 4.3 Besarnya Omset Penjualan/ hari Sebelum adanya Alfamart Toko yang menjadi Sampel Omset Penjualan (Rp) < 300 300 riburibu 500 ribu > 500 ribu Total Toko Radius 100 m 2 3 5 Toko Radius 300 m 1 2 2 5 Toko Radius 500 m 1 4 5 Sumber: Data Primer 2014 diolah Gambar 7. Besarnya Omset Penjualan Per Hari Sebelum Adanya Alfamart 8

Data di atas menunjukkan data omset penjualan, sebelum adanya Alfamart. Bahwa toko atau ritel yang mempunyai penghasilan kurang dari 300 ribu adalah 27% dari total sampel penelitian. 33% pedagang berpenghasilan 300 ribu sampai dengan 500 ribu dan sebanyak 40% pedagang berpenghasilan lebih dari 500 ribu. Tabel 4.4 Besarnya Omset Penjualan/ hari Setelah adanya Alfamart Toko yang menjadi Sampel Omset Penjualan (Rp) 300 ribu- < 300 ribu 500 ribu > 500 ribu Total Toko Radius 100 m 5 5 Toko Radius 300 m 3 2 5 Toko Radius 500 m 1 4 5 Sumber: Data Primer 2014 diolah 9

Gambar 8. Besarnya Omset Penjualan Per Hari Setelah Adanya Alfamart Gambar 9. Besarnya Omset Penjualan Per Hari Setelah Adanya Alfamart Data di atas menunjukkan data omset penjualan, setelah adanya Alfamart. Bahwa 10

toko atau ritel yang mempunyai penghasilan kurang dari 300 ribu adalah 60% dari total sampel penelitian. 0% atau tidak ada pedagang yang berpenghasilan 300 ribu sampai dengan 500 ribu dan sebanyak 40% pedagang berpenghasilan lebih dari 500 ribu. Tabel 4.5 Selisih Omset Penjualan Sebelum dan Sesudah Adanya Alfamart Omset Penjualan (Rp) Keterangan < 300 ribu 300 ribu- 500 ribu > 500 ribu Total Sebelum adanya Alfamart 4 5 6 15 Sesudah adanya Alfamart 9 0 6 15 Sumber: Data Primer 2014 diolah Kenaikan ( Penurunan ) Omset Penjualan Setelah Adanya Alfamart 0% < 300 ribu 45% 300 ribu-500 ribu 55% < 500 ribu Gambar 10. Kenaikan (Penurunan) Omset Penjualan Setelah Adanya Alfamart Berdasarkan perhitungan di atas, terlihat perbandingan omset penjualan sebelum 11

dan sesudah adanya Alfamart. Sebelum adanya Alfamart, pedagang yang mempunyai penghasilan kurang dari 300 ribu adalah 4 orang. Namun setelah adanya Alfamart jumlah pedagang tersebut bertambah menjadi 9 orang. Sedangkan pedagang yang berpenghasilan antara 300 ribu sampai dengan 500 ribu, sebelum ada Alfamart berjumlah 5 orang. Setelah adanya Alfamart, tidak ada lagi pedagang yang memiliki omset sebesar 300 ribu- 500 ribu. Pedagang ini mengalami penurunan omset menjadi di bawah 300 ribu. Pedagang-pedagang yang berpenghasilan 300 ribu-500 ribu sebulan, setelah adanya Alfamart bergeser ke kelompok penghasilan di bawah 300 ribu. Kemudian pedagang yang berpenghasilan di atas 500 ribu memiliki omset yang relatif stabil atau tetap, baik sebelum atau setelah adanya Alfamart. Menurut data yang diperoleh mengenai omset penjualan, mayoritas pemilik warung atau toko kelontong yang berada di radius 100m sampai dengan 300 m menyatakan mengalami penurunan omzet penjualan sebesar 20 sampai dengan 30% dari omset penjualan sebelumnya. Dari 15 toko sebanyak 50% lebih para pedagang mengalami penurunan omset dikarenakan telah berdirinya Alfamart di sekitar mereka. Hal ini menunjukkan cukup tingginya persaingan usaha sejenis di lokasi tersebut. Beberapa penyebab menurunnya jumlah pelanggan menurut pendapat pengusaha adalah meningkatnya jumlah usaha minimarket sehingga menyebabkan pelanggan berpindah. Di lain pihak pemilik warung atau toko kelontong yang berada di radius 500 m dari Alfamart menyatakan omzet penjualan mereka masih stabil. Pemilik 12

menyatakan jumlah pelanggan mereka tidak terpengaruh oleh semakin banyaknya Alfamart yang didirikan di Kecamatan Pati tersebut. Tabel 4.6 Upaya Peningkatan Omset Penjualan yang Dilakukan Ritel Tradisional Upaya peningkatan omset penjualan 100 m 300-500 m 500 m Total Prosentase Mengutamakan pelanggan 13% 0% 7% 3 20% Memberikan promo menarik 7% 7% 0% 2 13% Menjaga kualitas barang 7% 7% 0% 2 13% Servis dan kenyamanan tempat. 7% 0% 0% 1 7% Harga yang tidak terlalu mahal 0% 20% 7% 4 27% Tidak ada upaya 0% 0% 13% 2 13% Sistem hutang piutang 0% 0% 7% 1 7% Total 33% 33% 33% 15 100,00% Sumber: Data Primer 2014 diolah 13

Dari tabel di atas, kita bisa melihat upaya-upaya yang dilakukan oleh pedagang baik yang berada di jarak 100 m, 300 m dan 500 m untuk meningkatkan omset penjualannya. 27% pedagang meningkatkan penjualan dengan cara menawarkan harga yang tidak terlalu mahal (20% pedagang yang berjarak 300m dan 7% bagi pedagang yang berjarak 500m), 20% pedagang berusaha mengutamakan pelayanan konsumen (13% pedagang yang berjarak 100m dan 7% bagi pedagang yang berjarak 500m). 13% pedagang cenderung memberikan promo menarik (6.5% pedagang yang berjarak 100m dan 6.5% bagi pedagang yang berjarak 300m), serta 13% lainnya menjaga kualitas barang (6.5% pedagang yang berjarak 100m dan 6.5% bagi pedagang yang berjarak 300m). 7% pedagang yang berjarak 100m lebih kepada memberi servis dan kenyamanan tempat berbelanja. 7% pedagang yang berjarak 500m lain memberikan sistem hutang piutang. Kemudian sisanya mengaku tidak ada upaya khusus untuk meningkatkan omset penjualan Dampak positif setelah adanya Alfamart di sekitar ritel tradisonal Selain dampak negatif yang di rasakan oleh pedagang, dampak positif yang dirasakan pedagang adalah keuntungan yang di ambil biasa lebih tinggi. Hal ini bias kita lihat sebagai berikut: 14

Tabel 4.7 Keuntungan Satu Jenis Produk Toko yang menjadi Sampel Keuntungan satu jenis produk (Rp) < 500 500-1000 > 1000 Total Toko Radius 100 m 1 1 3 5 Toko Radius 300 m 1 2 2 5 Toko Radius 500 m 2 1 2 5 Sumber: Data Primer 2014 diolah Keuntungan untuk satu jenis produk 27% < 500 46% 500-1000 27% > 1000 Gambar 11. Keuntungan Satu Jenis Produk Menurut data yang diperoleh, pemilik warung atau toko kelontong mengambil keuntungan satu jenis produk sebesar Rp 500 yaitu sebanyak 27% dari total responden. 27% responden mengambil keuntungan Rp 1000 untuk satu jenis produk. Kemudian 46% responden mengaku mengambil keuntungan lebih dari Rp 1000. Para pedagang mengakui bahwa mereka tidak mengambil keuntungan yang banyak untuk satu jenis produk. Hal ini merupakan upaya dan strategi mereka 15

untuk menjaga loyalitas pelanggan agar tidak berpindah ke pesaingnya. Menurut Yenli, dengan adanya ritel modern menyebabkan minat beli konsumen terhadap ritel tradisional mulai menurun. Perubahan tersebut memang bisa kita lihat seperti di atas. Menurunnya omset penjualan, menurunnya jumlah pembeli dll Menurut Yenli, hal ini dilihat dari keuntungan yang dimiliki ritel modern yaitu barang-barang yang dijual lebih lengkap dan berkualitas, memiiki tempat yang nyaman dan strategis sehingga konsumen lebih tertarik untuk berbelanja pada ritel modern. Sedangkan pada ritel tradisional hanya menyediakan bahan kebutuhan pokok sehingga bahan yang tersedia terbatas dan tidak lengkap. Hal ini menyebabkan konsumen tidak puas dan kecewa apabila barang yang dicari tidak tersedia pada ritel tradisional. Dengan demikian konsumen lebih memilih untuk berbelanja di ritel modern. Kita bisa melihat bahwa produk-produk yang umum dijual di ritel tradisonal di atas mempunyai barang cukup lengkap. Rata-rata pedagang tersebut menjual produk harian, perlengkapan masak, serta sembako. Kemudian mereka juga bisa menjual secara eceran maupun dalam jumlah yang banyak. Hal ini merupakan implikasi teori, yaitu kenyataan yang tidak sesuai dengan teori Yenli, karena pada umumnya konsumen lebih memilih tempat yang dekat serta barang yang mempunyai harga yang relatif murah 16

Tabel 4.8 Strategi Yang Dilakukan Ritel Tradisional Untuk Menghadapi Keberadaan Ritel Modern Sering menyediakan produk baru 100 m 300-500 m 500 m Total Prosentase Ya 13% 13% 7% 6 40% Tidak 13% 7% 7% 4 27% Kadang-kadang 7% 13% 20% 5 33% Total 33% 33% 33% 15 100% Sumber: Data Primer 2014 diolah Dalam bisnis, produk adalah barang atau jasa yang dapat diperjualbelikan. Produk bisa ditawarkan ke sebuah pasar dan bisa memuaskan sebuah keinginan atau kebutuhan. Jadi ada tuntutan bagi pedagang untuk selalu menyediakan suatu produk baru terhadap konsumen. Menurut data di atas, kita bisa melihat apakah pedagang-pedagang yang dijadikan sampel selalu menyediakan produk baru secara cepat atau tidak. 40% pedagang mengaku selalu menyediakan produk apabila produk tersebut ada di pasar (13% pedagang yang berjarak 100m, 13% pedagang yang berjarak 300m dan 7% pedagang yang berjarak 500m). Kemudian 33% pedagang tersebut kadang-kadang menyediakan suatu produk baru di tempat dagangannya. (7% pedagang yang 17

berjarak 100m, 13% pedagang yang berjarak 300m dan 20% pedagang yang berjarak 500m). Dan 27% pedagang tidak sering menyediakan produk baru di tempat ia berjualan. (13% pedagang yang berjarak 100m, 7% pedagang yang berjarak 300m dan 7% pedagang yang berjarak 500m) Gambar 12. Upaya Peningkatan Pembeli Dari diagram di atas tampak strategi-strategi yang dilakukan oleh ritel tradisional untuk menghadapi keberadaan ritel modern. 34% pedagang lebih memfokuskan kepada penawaran harga yang lebih rendah dibandingkan ritel modern. Agar pembeli lebih memilih membeli di tempatnya daripada di ritel modern. 20% pedagang membenahi tempat dagangannya, seperti penataan produk, layout barang yang lebih rapi dll. 20% lainnya menyatakan meningkatkan kualitas barang, seperti menambah jumlah produk dagangannya, menyediakan barang yang tidak dijual di ritel modern. 13% pedagang menyatakan lebih mengutamkan pelayanan konsumen, dalam hal keramahan, memberikan pelayanan sebaik mungkin. 18

Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Malikin di atas, bahwa upaya untuk menghadapi persaingan usaha dimana memanfaatkan kelemahan pesaing sebagai peluang untuk memenangkan persaingan pasar. Sebab dengan menawarkan apa yang tidak dimiliki pesaing, pembeli tetap mempertahankan untuk berbelanja di toko tersebut. Beberapa sampel yang mempunyai omset stabil, rata-rata menjual produk yang sebagian tidak dijual di Alfamart, produk tersebut misalnya sembako. Pembeli akan tetap berbelanja di warung tradisonal tersebut, karena produk tersebut tidak dijual atau disediakan oleh Alfamart. Begitu pula dengan harga, dari sampel yang ada presentase paling tinggi untuk memenangkan persaingan adalah menawarkan harga yang lebih rendah dibandingkan ritel modern. Hal ini akan mendorong konsumen untuk berbelanja di warung tersebut, karena harga yang ditawarkan lebih rendah. Terlebih lagi jika konsumen tersebut membeli dalam jumlah yang banyak serta rutin. Alternatif ini bisa dipilih konsumen karena harga yang ditawarkan jauh lebih rendah. Misalnya mie instan yang dijual secara eceran dengan harga Rp 2.000 per buah, apabila dibeli berjumlah 3 buah, maka penjual akan memberikan potongan harga. Mie instan yang seharusnya Rp 10.000 (5buah @Rp 2.000), menjadi Rp 9.500. Potongan harga sebesar 5% ini merupakan langkah dari penjual untuk menarik konsumen agar membeli di warungnya dibandingkan di toko modern. Kemudian menurut Malikin, untuk memenuhi harapan konsumen cara yang digunakan adalah memberikan pelayanan yang lebih memuaskan daripada yang dilakukan oleh pesaing. Rata-rata pedagang tradisional tersebut menyatakan melayani konsumen sebaik mungkin untuk startegi dalam memenangkan 19

persaingan usaha. Hal ini bisa dilakukan misalnya dalam hal keramahan. Jadi pelayanan konsumen yang baik merupakan salah satu cara dalam memenangkan persaingan usaha. Menurut Malikin beberapa upaya yang bisa dilakukan pedagang untuk memenangkan persaingan usaha, sama dengan hal yang dilakukan oleh pedagang ritel tradisional tersebut. 20