II. KAJIAN PUSTAKA. menjadi tahu merupakan hasil dari proses belajar. Belajar merupakan

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Strategi Pembelajaran Aktif Tipe Index Card Match. dapat mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Bahri (2006: 5) secara

guna mencapai tujuan dari pembelajaran yang diharapkan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. sadar berusaha mengatur lingkungan belajar agar bergairah bagi anak

BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Pembelajara Tematik Terpadu dan Pendekatan Scientific. 1. Pengertian Pembelajaran Tematik Terpadu

BAB I PENDAHULUAN. yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Pendidikan adalah investasi masa

BAB I PENDAHULUAN. serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur

BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran tematik merupakan kegiatan pembelajaran dengan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. digunakan oleh guru untuk mencapai keberhasilan. sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Arends (dalam Trianto,

I. PENDAHULUAN. meningkatkan mutu pendidikan antara lain dengan perbaikan mutu belajarmengajar

BAB II KAJIAN PUSTAKA. pembelajaran. Istilah-istilah tersebut dalam kegiatan pembelajaran digunakan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Sementara itu, Forrest W. Parkay dan Beverly Hardeastle Stanford dalam

BAB II KAJIAN PUSTAKA. suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar - mengajar. pendidikan beserta staf pengajarnya.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah

hidup, baik secara formal, maupun non-formal.

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Seseorang dapat dikatakan belajar apabila terjadi suatu proses yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang Masalah. Pendidikan berperan dalam menghasilkan sumber daya manusia yang

BAB I PENDAHULUAN. diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 1. belajar yang menunjukkan bahwa siswa telah melakukan perbuatan belajar, yang

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS. baik dari segi kognitif, psikomotorik maupun afektif.

BAB I PENDAHULUAN. kritis, kreatif dan mampu bersaing menghadapi tantangan di era globalisasi nantinya.

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah salah satu upaya untuk menciptakan manusia- manusia

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan tidak hanya berlangsung pada satu tahap perkembangan saja

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembelajaran yang diterapkan dalam kurikulum 2013 tiap mata

BAB I PENDAHULUAN. memberi dukungan dan perubahan untuk perkembangan masyarakat, bangsa,

BAB II KAJIAN PUSTAKA. pendekatan ilmiah atau scientific approach. Dalam implementasi kurikulum

BAB II KAJIAN TEORI. ini sejalan dengan pendapat yang mengatakan bahwa: dengan menggunakan kartu yang dipasangkan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dalam arti belajar. Perubahan yang terjadi dalam aspek-aspek kematangan, pertumbuhan dan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dalam kehidupan, pendidikan memegang peranan penting karena

BAB I PENDAHULUAN. merupakan mata pelajaran yang membosankan. Tidak heran jika sampai

I. PENDAHULUAN. berpengaruh dalam kemajuan suatu bangsa. Pendidikan juga awal dari. terbentuknya karakter bangsa. Salah satu karakteristik bangsa yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Model Cooperative Learning

BAB II KAJIAN PUSTAKA

PENERAPAN GROUP INVESTIGATION UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA JURNAL. Oleh NI KOMANG MEGASARI SARENGAT MUNCARNO

BAB I PENDAHULUAN. membentuk sikap serta ketrampilan yang berguna baginya dalam menyikapi

BAB II. Pada umumnya belajar adalah suatu kegiatan mengumpulkan sejumlah. pengetahuan. Pengetahuan tersebut diperoleh dari seseorang yang lebih tahu

BAB II KAJIAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. sepanjang hayat (long life education). Hal ini sesuai dengan prinsip

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB II HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN MENGHITUNG LUAS PERSEGI DAN PERSEGI PANJANG DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 1. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial

BAB I PENDAHULUAN. sehingga mampu menghadapi persaingan global. Persaingan global menuntut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB II KAJIAN PUSTAKA. akan menentukan pengetahuan baru walaupun membutuhkan waktu yang. dilakukan secara sadar dan bersifat menetap.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan salah metode yang sering

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan pada saat ini telah menjadi kebutuhan yang sangat penting dalam

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan bagi peranannya dimasa

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah menimbang: kurikulum sekaligus yaitu KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Istilah belajar sebenarnya telah lama dikenal. Namun sebenarnya apa belajar itu,

BAB. I PENDAHULUAN. Hilman Latief,2014 PENGARUH PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL TERHADAP HASIL BELAJAR Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.

BAB I PENDAHULUAN. Dampak globalisasi yang bersifat multidimensional dapat mendorong

BAB I PENDAHULUAN. penunjang roda pemerintahan, guna mewujudkan cita cita bangsa yang makmur dan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KERANGKA TEORITIS. 1. Belajar dan Pembelajaran Matematika. memenuhi kebutuhan hidupnya. Menurut Slameto (2003:

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembelajaran dapat dikatakan sebagai hasil dari memori, kognisi, dan metakognisi yang berpengaruh terhadap

BAB I PENDAHULUAN. Geografi merupakan satu dari sekian banyak disiplin ilmu yang dipelajari,

BAB I PENDAHULUAN. yang terpenting dalam meningkatkan kualitas maupun kompetensi manusia, agar

PENGGUNAAN METODE INDEX CARD MATCH PADA MATA PELAJARAN IPS POKOK BAHASAN MENGENAL SEJARAH UANG

BAB II KAJIAN PUSTAKA. dengan tujuan dan bahan acuan interaksi. Di dalamnya dikembangkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan. semua pihak dapat memperoleh informasi dengan melimpah, cepat, dan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang. memungkinkan berfungsi untuk memenuhi dalam kehidupan, masyarakat,

BAB I PENDAHULUAN. (Depdiknas, 2003). Dalam memajukan sains guru di tuntut lebih kretatif. dalam penyelenggaraan pembelajaran.

BAB I PENDAHULUAN. Dalam Undang-Undang RI No.20 tahun 2003 pasal 3. (2005:56) tentang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuh

BAB I PENDAHULUAN. pertama dan utama adalah pendidikan. Pendidikan merupakan pondasi yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Guru merupakan salah satu unsur dalam proses belajar mengajar yang bertanggung jawab

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan senantiasa menjadi topik yang menarik pada saat ini.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan proses dimana seseorang memperoleh

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. maka dari itu perlu dilakukan peningkatan mutu pendidikan. Negara Kesatuan

III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang istilah dalam bahasa Inggrisnya adalah Classroom

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. potensi siswa dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi antara peserta didik

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. manusia untuk selalu berfikir dan mencari hal-hal yang baru. Pendidikan tidak

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Kegiatan belajar mengajar pada lembaga pendidikan formal merupakan kegiatan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. dilakukan sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satunya adalah

2 Penerapan pembelajaran IPA pada kenyataannya di lapangan masih banyak menggunakan pembelajaran konvensional yaitu pembelajaran yang berpusat pada gu

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Pendidikan membekali manusia akan ilmu pengetahuan,

Transkripsi:

II. KAJIAN PUSTAKA A. Belajar, Aktivitas Belajar, dan Hasil Belajar 1. Pengertian Belajar Belajar adalah sebuah proses yang akan terus dialami oleh manusia sepanjang hidupnya. Perubahan seseorang yang asalnya tidak tahu menjadi tahu merupakan hasil dari proses belajar. Belajar merupakan perubahan perilaku yang dilakukan secara sadar dan bersifat menetap, yang meliputi perubahan dalam hal kognitif, afektif dan psikomotor (Hernawan, dkk., 2007: 2). Belajar juga bisa disebut sebuah proses perubahan di dalam kepribadian manusia yang ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku, seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan,sikap, kebiasaan, pemahaman, ketrampilan, daya pikir, dan kemampuan-kemampuan yang lain. Belajar menurut Gagne dalam Hernawan, dkk. (2007: 62), adalah perubahan tingkah laku manusia atau kemampuan yang dapat dipelihara yang bukan berasal dari proses pertumbuhan. Hal itu ditunjukkan dalam suatu perubahan tingkahlaku yang dapat diamati yang terjadi berdasarkan syarat-syarat tertentu yang dapat diamati pula. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan tingkah lakunya.

10 Menurut Thorndike dalam Budiningsih (2005: 21), belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Sedangkan Yaefudin Sa ud (2006: 3) menyatakan belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang sebagai hasil dari pengalaman dan latihan. Perubahan sebagai hasil belajar dapat ditimbulkan dalam berbagai bentuk seperti berubahnya pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, kecakapan serta kemampuan. Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, maka penulis menyimpulkan bahwa belajar merupakan proses perubahan tingkah laku, dengan belajar setiap individu akan mampu menngembangkan kemampuannya dibidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. 2. Pengertian Aktivitas Belajar Proses pembelajaran tidak akan terlepas dari aktivitas belajar, baik aktivitas yang bersifat positif maupun aktivitas yang bersifat negatif. Belajar yang berhasil harus melalui berbagai macam aktivitas, baik aktivitas fisik maupun psikis. Aktivitas fisik adalah peserta didik giat aktif dengan dengan anggota badan, membuat sesuatu, bermain ataupun bekerja, ia tidak hanya duduk dan mendengarkan, melihat dan pasif.

11 Peserta didik yang memiliki aktivitas pasif (kejiwaan) adalah jika daya jiwanya bekerja sebanyak-banyaknya atau banyak berfungsi dalam rangka pengajaran. Seluruh peranan dan kemauan dikerahkan supaya daya ingat tetap aktif untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal sekaligus mengikuti proses pengajaran secara aktif. Ia mendengar, mengamati, menyelidiki, mengingat, menguraikan, mengasosiasikan ketentuan satu dengan lainnya, dan sebagainya. Kegiatan/keaktifan jasmani fisik sebagai kegiatan yang tampak yaitu saat peserta didik melakukan percobaan, membuat konstruksi model, dan lain-lain. Sedangkan kegiatan psikis tampak bila ia sedang mengamati dengan teliti, memecahkan dengan persoalan, mengambil keputusan dan sebagainya (Rohani, 2006: 6). Kunandar (2010: 277) menjelaskan bahwa aktivitas siswa dalam belajar adalah keterlibatan siswa dalam bentuk sikap, pikiran, perhatian dan aktivitas dalam kegiatan pembelajaran guna menunjang keberhasilan proses belajar mengajar dan memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut. Proses aktivitas pembelajaran harus melibatkan seluruh aspek psikofisis peserta didik, baik jasmani maupun rohani sehingga akselerasi perubahan prilakunya dapat terjadi secara cepat, tepat, mudah, dan benar, baik berkaitan dengan aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor. Berdasarkan beberapa teori di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan aktivitas belajar adalah segala bentuk kegiatan yang dilakukan oleh seorang siswa dalam proses pembelajaran, baik aktivitas fisik maupun aktivitas psikis.

12 3. Pengertian Hasil Belajar Interaksi yang dihasilkan akibat dari stimulus dan respon dalam proses belajar adalah hasil belajar. Menurut Susanto (2013: 5) hasil belajar yaitu perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar. Secara sederhana, yang dimaksud dengan hasil belajar siswa adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Menurut Kunandar (2013: 62) hasil belajar adalah kompetensi atau kemampuan tertentu baik kognitif, afektif maupun psikomotorik yang dicapai atau dikuasai peserta didik setelah mengikuti proses belajar mengajar. Sedangkan menurut Suprijono (2009: 5) hasil belajar adalah pola-pola perubahan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, penulis mengambil kesimpulan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh siswa melalui kegiatan pembelajaran sehingga terjadi perubahan baik di bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. B. Strategi Pembelajaran Aktif 1. Pengertian Strategi Pembelajaran Belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan peserta didik. Interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar

13 yang dilakukan diarahkan untuk mencapai tujuan. Guru dengan sadar merencanakan kegiatan pembelajaran secara sistematis. Dalam mengajar guru harus pandai memilih dan menggunakan strategi pembelajaran sehingga tercipta situasi dan kondisi serta hasil belajar yang diharapkan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Sehingga mengajarkan siswa bagai mana belajar merupakan suatu tujuan pendidikan yang sangat penting dan menjadi tujuan utama. Dikatakan bahwa pentingnya mengajarkan siswa bagaimana belajar atau disebut strategi pembelajaran berlandaskan pada dalil bahwa keberhasilan siswa sebagian besar bergantung pada kemahiran untuk belajar secara mandiri dan memonitor belajar mereka sehingga strategi belajar mutlak diajarkan kepada mereka. Menurut Kemp (dalam Jamil, 2013: 56) menjelaskan strategi pembelajaranadalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.titik tekan strategi pembelajaran adalah pada operasionalnya (action), sedangkan model menekankan pada pola (pattern).menurut Jamil (2013: 56) strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai rancangan prosedural yang memuat tindakan yang harus dilakukan guru dalam proses pembelajaran untuk mencapai sebuah tujuan. Menurut Asril (2010: 13) mengemukakan bahwa konsep umum strategi pembelajaran dapat berarti suatu garis besar haluan pembelajaran untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan. Jika dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi dapat diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan

14 umum guru dalam membina peserta didik melalui kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang digariskan. Sedangkan menurut Hamruni (2011: 3) strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya dalam pembelajaran. Berdasarkan uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang digunakan oleh guru untuk menentukan kegiatan belajar mengajar yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik sehingga diharapkan dapat tercapai tujuan pembelajaran yang telah digariskan. 2. Pengertian Pembelajaran Aktif Aktivitas dan hasil belajar siswa dapat meningkat apabila di dalam proses pembelajaran siswa aktif. Oleh karena itu, seorang guru dituntut untuk mampu menerapkan pembelajaran aktif agar siswa aktif dalam proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Betapa pentingnya srategi pembelajaran aktif dalam suatu pembelajaran.strategi pembelajaran aktif itu diadakan guna membuat suasana belajar lebih hidup, atau bisa disebut pembelajaran yang menekankan pada siswa agar aktif. Strategi pembelajaran merupakan suatu serangkaian rencana kegiatan yang termasuk didalamnya penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam suatu pembelajaran.strategi pembelajaran disusun untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Strategi

15 pembelajaran di dalamnya mencakup pendekatan, model, metode dan teknik pembelajaran secara spesifik (Dedi: 2006). Apabila dalam kegiatan belajar mengajar guru menerapkan strategi aktif maka akan berpengaruh terhadap keaktifan dan hasil belajar siswa, yaitu siswa akan lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran dan hasil belajar siswa akan meningkat. Gambar bagan penerapan strategi pembelajaran aktif adalah sebagai berikut. Kegiatan Belajar Mengajar Guru Peserta Didik Tujuan Pembelajaran Proses Pembelajaran Metode Konvensional Berpusat pada guru, proses pembelajaran monoton, siswa pasif. Solusi Menggunakan strategi pembelajaran aktif Hasil Belajar Siswa Aktif Gambar 1. Penerapan strategi pembelajaran aktif

16 Dalam aktive learning setiap materi pelajaran yang baru harus dikaitkan dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ada sebelumnya. Materi pelajaran yang baru disediakan secara aktif dengan pengetahuan yang sudah ada. Agar siswa dapat belajar secara aktif guru perlu menciptakan strategi yang tepat, sehingga siswa mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar (Mulyasa, 2004: 241) Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran aktif merupakan suatu pembelajaran yang di dalam proses pembelajarannya mengajak/ mendorong siswa untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat dan tercapai tujuan pembelajaran sesuai yang diharapkan. 3. Macam-macam Strategi Pembelajaran Aktif Strategi pembelajaran aktif memiliki macam-macam strategi yang dapat diterapkan oleh guru dalam proses pembelajaran agar tercapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Menurut Hamruni (2011: 160) mengemukakan bahwa dalam strategi pembelajaran aktif terdapat berbagai macam tipe strategi yang dapat diterapkan di kelas diantaranya tipe the power of two, reading guide, info search, index card match, everyone is a teacher here, giving questions getting answer, active knowledge sharing, dan questions student have. Menurut Silberman (2006: 289) banyak jenis strategi pembelajaran aktif yang disesuaikan dengan tipe-tipe strateginya antara lain: 1) Strategi pembentukan tim yaitu group resume dan team gateway.

17 2) Strategi penilaian sederhana yaitu instant assessment, representative sample, dan class concerns. 3) Strategi keterlibatan belajar langsung yaitu active knowledge sharing dan exchange viewpoint. 4) Strategi stimulus diskusi kelas yaitu active debate reading aloud. 5) Strategi belajar bersama yaitu thestudy group, information research dan the power of two. 6) Strategi pengembangan keterampilan yaitu triple role playing, active observation and feedback dan thefiring line. 7) Strategi peninjauan kembali yaitu index card match dan slide review. 8) Strategi penilaian sendiri yaitu phisycal self assessment dan reconsidering. Dalam penerapan strategi pembelajaran aktif di kelas guru dituntut untuk mampu menerapkan berbagai macam tipe dari strategi pembelajaran aktif, salah satunya yaitu strategi pembelajaran aktif tipe index card match. Skenario pembelajaran dengan menerapkan strategi pembelajaran aktif tipe index card match tertuang dalam prosedur penelitian dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Secara garis besar langkah-langkahnya yaitu kegiatan pembuka, pelaksanaan (penerapan strategi pembelajaran aktif tipe index card match, evaluasi dan penutup. Kegiatan pembuka Pelaksanaan (penerapan strategi pembelajaran aktif tipe index card match) Evaluasi dan Penutup Gambar 2. Bagan langkah-langkah pembelajaran dengan penerapan strategi pembelajaran aktif tipe index card match

18 Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran aktif memiliki banyak sekali tipe strategi yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran tematik. Dari berbagai macam tipe strategi di atas, penulis memilih satu tipe strategi yaitu strategi index card match. Strategi index card matchini diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. C. Strategi Pembelajaran Aktif Tipe Index Card Match 1. Pengertian Strategi Pembelajaran Aktif Tipe Index Card Match Salah satu strategi pembelajaran aktif yang dapat digunakan oleh seorang guru adalah strategi pembelajaran aktif tipe index card match. Suprijono (2013: 120) menjelaskan index card match (mencari pasangan kartu) adalah suatu strategi yang cukup menyenangkan digunakan untuk memantapkan pengetahuan siswa terhadap materi yang dipelajari. Index card match merupakan salah satu strategi yang menyenangkan yang akan mengajak siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran. Index card match adalah salah satu teknik instruksional dari belajar aktif yang termasuk dalam berbagai reviewing strategis (strategi pengulangan). Tipe index card match ini berhubungan dengan cara-cara belajar agar siswa lebih lama mengingat materi pelajaran yang dipelajari dengan teknik mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban atau soal sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana menyenangkan (Silberman, 2006: 250)

19 Strategi ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpasangan dan memainkan kuis kepada teman sekelas.menurut Hamruni (2011: 162) menyatakan bahwa index card match adalah cara menyenangkan lagi aktif untuk meninjau ulang materi pelajaran. Berdasarkan pendapat di atas dapat penulis simpulkan bahwa strategi pembelajaran aktif tipe index card match adalah strategi untuk mengingat kembali apa yang telah mereka pelajari dan menguji pengetahuan serta kemampuan mereka dengan teknik mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban atau soal sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana menyenangkan. 2. Langkah-langkah Strategi Pembelajaran Aktif Tipe Index Card Match Menurut Suprijono (2013: 120) metode mencari pasangan kartu atau index card match cukup menyenangkan digunakan untuk mengulangi materi pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya. Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut. a. Buatlah potongan kertas sebanyak jumlah siswa yang ada di dalam kelas dan bagilah kertas-kertas tersebut menjadi dua bagian yang sama. b. Pada separuh bagian, tulis pertanyaan tentang materi yang akan di belajarkan. Setiap kertas berisi satu pertanyaan. c. Pada separuh kertas yang lain, tulis jawaban dari pertanyaanpertanyaan yang telah dibuat.kemudian kocoklah semua kertas sehingga akan tercampur antara soal dan jawaban. d. Setiap siswa diberi satu kertas. Jelaskan bahwa ini adalah aktivitas yang dilakukan yang dilakukan berpasangan. Separuh siswa akan mendapatkan soal dan separuh yang lain akan mendapatkan jawaban. e. Mintalah kepada siswa untuk menemukan pasangan mereka. Jika ada yang sudah menemukan pasangan, mintalah kepada mereka untuk duduk berdekatan. Jelaskan juga agar mereka tidak memberi tahu materi yang mereka dapatkan kepada teman yang lain. f. Setelah semua siswa menemukan pasangan dan duduk berdekatan, mintalah kepada setiap pasangan secara bergantian untuk membacakan

20 soal yang diperoleh dengan keras kepada teman-temannya yang lain. Selanjutnya soal-soal tersebut dijawab oleh pasangannya. g. Akhiri proses ini dengan membuat klarifikasi dan kesimpulan. Siberman (2006:250) menyatakan langkah-langkah strategi index card matchyaitu sebagai berikut: a. Pada kartu indeks yang terpisah, tulislah pertanyaan tentang apapun yang diajarkan di kelas. Buatlah kartu pertanyaan dengan jumlah yang sama dengan stengah jumlah siswa. b. Pada kartu yang terpisah, tulislah jawaban atas masing-masing pertanyaan itu. c. Campurkan dua kumpulan kartu itu dan kocoklah beberapa kali agar benar-benar tercampuraduk. d. Berikan satu kartu untuk satu siswa. Jelaskan bahwa ini merupakan latihan pencocokan. Sebagian siswa mendapat pertanyaan tinjauan dan sebagian lain mendapat kartu jawabannya. e. Perintahkan siswa untuk mencari kartu pasangan mereka. Yaitu kartu yang berupa soal dengan kartu yang cocok atau yang merupakan jawaban dari kartu soal tersebut. f. Bila semua pasangan yang cocok telah duduk bersama, perintahkan tiap pasangan untuk memberikan kuis kepada siswa lain dengan membacakan keras-keras pertanyaan mereka dan menantang siswa lain untuk memberikan jawabannya. 3. Kelebihan dan Kekurangan Strategi Pembelajaran Aktif Tipe Index Card Match 3.1 Kelebihan Strategi Pembelajaran Aktif Tipe Index Card Match Setiap strategi pembelajaran, model pembelajaran, ataupun metode pembelajaran pasti memiliki kelebihan dan kelemahan termasuk strategi pembelajaran aktif tipe index card match. Menurut Marwan (2012)menyatakan bahwa kelebihan index card match adalah sebagai berikut. 1. Menumbuhkan kegembiraan dalam kegiatan belajar mengajar. 2. Materi pelajaran yang disampaikan lebih menarik perhatian siswa.

21 3. Mampu menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenagkan. 4. Mampu meningkatkan hasil belajar siswa mencapai taraf ketuntasan belajar. Marwan (dalam Sanjaya, 2008: 163) menyatakan bahwa terdapat kelebihan dari index card match yaitu sebagai berikut. a. Menumbuhkan kegembiraan dalam kegiatan belajar mengajar. b. Materi pelajaran yang disampaikan lebih menarik perhatian siswa. c. Mampu menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenagkan. d. Mampu meningkatkan hasil belajar siswa mencapai taraf ketuntasan belajar. e. Penilaian dilakukan bersama pengamat dan pemain. 3.2 Kekurangan Strategi Pembelajaran Aktif Tipe Index Card Match Menurut Marwan (2012) Menyatakan bahwa kekuranganindex card match adalah sebagai berikut. 1. Guru harus meluangkan waktu yang lebih. 2. Lama untuk membuat persiapan. 3. Guru harus memiliki jiwa demokratis dan keterampilan yang memadai dalam hal pengelolaan kelas. Marwan (dalam Sanjaya, 2008: 163) menyatakan bahwa terdapat kekurangan index card match yaitu sebagai berikut. a. membutuhkan waktu yang lama bagi siswa untuk menyelesaikan tugas dan prestasi. b. guruharus meluangkan waktu yang lebih lama untuk membuat persiapan. c. Menuntut sifat tertentu dari siswa atau kecenderungan untuk bekerja sama dalam menyelesaikan masalah. D. Pembelajaran Tematik 1. Pengertian Pembelajaran Tematik Pembelajaran tematik berasal dari kata integrated teaching and learning atau integrated curriculum approach yang konsepnya telah lama dikemukakan oleh Jhon dewey sebagai usaha mengintegrasikan

22 perkembangan dan pertumbuhan siswa dan kemampuan perkembangannya (Udin Sa ud dkk: 2013). Menurut Kemendikbud (2013: 193) pembelajaran tematik dilaksanakandengan menggunakan prinsip pembelajaran terpadu. Pembelajaran terpadu menggunakan tema sebagai pemersatu kegiatan pembelajaran yang memadukan beberapa mata pelajaran sekaligus dalam satu kali tatap muka, untuk memberikan pengalaman yang bermakna bagi peserta didik. Karena peserta didik dalam memahami sebuah konsep yang mereka pelajari selalu melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dikuasainya. Menurut Suryosubroto, (2009: 133) pembelajaran tematik dapat diartikan suatu kegiatan pembelajaran dengan mengintegrasikan materi beberapa mata pelajaran dalam satu tema atau topik tertentu. Lebih lanjut Sungkono (dalam Suryosubroto, 2006: 132) mengungkapkan pembelajaran tematik secara singkat diuraikan meliputi prinsip-prinsip, ciri-cirinya, pemilihan tema, dan contoh implikasinya di sekolah. Menurut Trianto (2011: 139) pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna kepada peserta didik. Sedangkan menurut Mamat (dalam Andi, 2013: 125) pembelajaran tematik sebagai pembelajaran terpadu, dengan mengelola pembelajaran yang

23 mengintegrasikan materi dari beberapa mata pelajaran dalam satu topik pembicaraan yang disebut tema. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, penulis menyimpulkan bahwa pembelajaran tematik yaitu pembelajaran yang mengintegrasikan materi dari beberapa mata pelajaran dalam satu topik pembicaraan yang disebut tema sehingga dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna kepada peserta didik. 2. Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Tematik Pembelajaran tematik memiliki beberapa kelebihan dan juga kelemahan. Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Trianto 2011: 159), pembelajaran tematik memiliki kelebihan antara lain: a. Pengalaman dan kegiatan belajar anak relevan dengan tingkat perkembangannya. b. Kegiatan yang dipilih sesuai dengan minat dan kebutuhan anak. c. Kegiatan belajar bermakna bagi anak, sehingga hasilnya dapat bertahan lama. d. Keterampilan berfikir anak berkembang dalam proses pembelajaran terpadu. e. Kegiatan belajar mengajar bersifat pramagtis sesuai lingkungan anak. f. Keterampilan sosial anak berkembang dalam proses pembelajaran terpadu. Keterampilan sosial ini antara lain: kerja sama, komunikasi, dan mau mendengar pendapat orang lain. Kelemahan pembelajaran tematik menurut Udin Sa ud dkk (2006: 18) kelemahan-kelemahannya sebagai berikut : a. Dilihat dari aspek guru, pembelajaran tematik menuntut tersedianya peran guru yang memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas, kreatifitas tinggi,ketrampilan metodologik yang handal, kepercayaan diri dan etos akademik yang tinggi, dan berani untuk mengemas dan mengembangkan materi.

24 Tanpa adanya kemampuan diatas, pelaksanaan pembelajaran tematik sulit diwujudkan. b. Dilihat dari aspek siswa, pembelajaran tematik termasuk memiliki peluang untuk mengembangkan kreatifitas akademik yang menuntut kemampuan belajar siswa yang relatif baik baik dalam aspek intelegensi maupun kreatifitasnya. Hal tersebut karena model pembelajaran tematik menekankan pada pengembangan kemampuan analitik(menjiwai), kemampuan asosiatif (menghubung-hubungkan) dan kamampuan eksploratif dan elaboratif (menemukan dan menggali). Bila kondisi diatas tidak dimiliki siswa, maka maka pelaksanaan model tersebut sulit diterapkan. c. Dilihat dari aspek sarana dan sumber pembelajaran, pembelajaran tematik memerlukan bahan bacaan atau sumber informasi yang cukup banyak dan berguna seperti yang dapat menunjang dan memperkaya serta mempermudah pengembangan wawasan dan pengetahuan yang diperlukan.misalnya perpustakaan, bila hal ini tidak dipenuhi maka akan sulit menerapkan model pembelajaran tersebut. d. Dilihat dari aspek kurikulum, pembelajaran tematik memerlukan jenis kurikulum yang terbuka untuk pengembangannya. e. Dilihat dari system penilaian dan pengukurannya, pembelajaran tematik membutuhkan system penilaian dan pengukuran (objek, indikator, dan prosedur) yang terpadu. f. Dilihat dari suasana penekanan proses pembelajaran, pembelajaran tematik cenderung mengakibatkan penghilangan pengutamaan salah satu atau lebih mata pelajaran. Salah satu pendekatan pembelajaran yang harus digunakan dalam implementasi kurikulum 2013 yaitu pendekatan scientific (pendekatan ilmiah). Perubahan yang sangat nyata dalam kurikulum 2013 adalah model pendekatan yang digunakan dan penerapan penilaian autentik (autentic assesment). Penulis akan mengulas tentang apa itu pendekatan scientific dan penilaian autentik serta bagaimana penerapannya dalam pembelajaran tematik di tingkat sekolah dasar.

25 3. Pendekatan Scientific (Scientific Approach) Pendekatan merupakan konsep dasar yang mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari pemikiran tentang bagaimana metode pembelajaran diterapkan berdasarkan teori tertentu (Hendi 2013). Pendekatan ilmiah merupakan konsep dasar yang menginspirasi atau melatarbelakangi perumusan metode mengajar dengan menerapkan karakteristik yang ilmiah. Pendekatan pembelajaran ilmiah merupakan bagian dari pendekatan pedagogis pada pelaksanaan pembelajaran dalam kelas yang melandasi penerapan metode ilmiah. Menurut Kemendikbud (2013: 209) pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam pembelajaran semua mata pelajaran meliputi menggali informasi melalui pengamatan, bertanya, percobaan, kemudian mengolah data atau informasi, menganalisis, menalar, kemudian mnyimpulkan, dan mencipta. Langkah-langkah pendekatan scientific menurut Kemendikbud (2013: 227) yaitu: 1) mengamati; 2) menanya; 3) menalar; 4) mencoba; 5) mengolah; 6) menyajikan; 7) menyimpulkan; dan 8) mengkomunikasikan. Pendekatan Scientific (Scientific Approach) berisikan materi pembelajaran berbasis fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu. Pendekatan scientific atau sering disebut dengan pendekatan ilmiah ini mendorong dan menginspirasi siswa untuk berpikir kritis, analitis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami,memecahkan masalah dan mengaplikasikan materi pembelajaran. Hal tersebut relevan dengan Permendikbud No. 67 tahun

26 2013 tentang kerangka dasar dan struktur kurikulum sekolah dasar,yaitu kurikulum 2013 dikembangkan melalui penyempurnaan pola pikir pembelajaran pasif menjadi pembelajaran aktif-mencari (pembelajaran siswa aktif mencari semakin diperkuat dengan model pembelajaran pendekatan sains/ilmiah). Proses pembelajaran pada pendekatan ini meliputi tiga ranah yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Hasil belajar melahirkan siswa yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terpadu. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan scientific adalah pendekatan dimana siswa dituntut lebih aktif dalam proses pembelajaran, pendekatan ini lebih menekankan pada pembelajaran secara ilmiah meliputi mengamati, menanya, menalar, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. 4. Penilaian Autentik Penilaian autentik sebagai suatu penilaian belajar yang merujuk pada situasi atau konteks dunia nyata,yang memerlukan berbagai macam pendekatan untuk memecahkan masalah dengan alternatif jawaban yang bermacam-macam. Dengan kata lain penilaian autentik memonitor dan mengukur semua aspek hasil belajar yang mencakup kognitif, sikap, serta keterampilan. Baik yang tampak sebagai hasil

27 akhir maupun berupa perubahan dan perkembangan aktivitas dan perolehan selama proses pembelajaran (Komalasari,2011:148). Menurut Kemendikbud (2013: 41) penilaian autentik (authenticassesment) adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar siswa untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Secara konseptual penilaian autentik lebih bermakna secara signifikan dibandingkan dengan tes pilihan jamak terstandar sekalipun. Sedangkan menurut Muller (dalam Nurgiyantoro,2011:23) penilaian autentik adalah suatu bentuk tugas yang menghendaki pembelajar untuk menunjukan kinerja di dunia nyata secara bermakna yang merupakan penerapan esensi pengetahuan dan keterampilan. Penilaian autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum 2013. Hal ini sesuai dengan Permendikbud No.66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan pada Bab II dijelaskan Penilaian autentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input), proses,dan keluaran (output) pembelajaran. Penilaian tersebut mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar siswa baik dalam rangka mengobservasi, menalar, mencoba, mengkomunikasikan, membuat jejaring dll. Selain itu, penilaian ini juga relevan dengan pendekatan tematik terpadu dalam pembelajaran khususnya jenjang SD. Berdasarkan beberapa pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa penilaian autentik adalah penilaian yang dilakukan selama

28 proses pembelajaran yang menuntut siswa untuk menunjukkan kemampuan dan keterampilannya dalam memecahkan masalah yang dengan pengetahuan yang dimiliki. Dapat disimpulkan juga bahwa penilaian autentik memonitor dan mengukur semua aspek hasil belajar yang mencakup kognitif, sikap, serta keterampilan. E. Hipotesis Tindakan Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan hipotesis penelitian tindakan kelas ialah Apabila dalam pembalajaran tematik guru menerapkan strategi pembelajaran aktif tipe index card match (ICM) dengan memperhatikan langkah-langkahnya secara tepat, maka dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV B SD Negeri 07 Metro Pusat tahun pelajaran 2013/2014