RINGKASAN PERMOHONAN Perkara Nomor 44/PUU-XIII/2015 Objek Praperadilan I. PEMOHON 1. Damian Agatha Yuvens 2. Rangga Sujud Widigda 3. Anbar Jayadi 4. Luthfi Sahputra 5. Ryand, selanjutnya disebut Para Pemohon. II. III. OBJEK PERMOHONAN Pengujian Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana. (UU 8/1981) KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI Para Pemohon menjelaskan, bahwa ketentuan yang mengatur kewenangan Mahkamah Konstitusi untuk menguji Undang-Undang adalah: 1. Pasal 24 ayat (2) UUD 1945: Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha Negara dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi ; 2. Pasal 24C ayat (1) UUD 1945: Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus pembubaran partai politik dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum ; 3. Pasal 10 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi: Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk: a. menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 4. Bahwa penegasan serupa juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang menyatakan: Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk, antara lain: menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Sementara ketentuan Pasal 9 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan menyatakan Dalam hal suatu Undang-Undang diduga bertentangan dengan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pengujiannya dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi ; 5. Bahwa sebagai pelindung konstitusi, Mahkamah Konstitusi juga berhak memberikan penafsiran terhadap sebuah ketentuan pasal-pasal undangundang agar berkesesuaian dengan nilai-nilai konstitusi. Tafsir Mahkamah Konstitusi terhadap konstitusionalitas pasal-pasal undang-undang tersebut merupakan tafsir satu-satunya (the sole interpreter of constitution) yang memiliki kekuatan hukum. Sehingga terhadap pasal-pasal yang memiliki makna ambigu, tidak jelas, dan/atau multi tafsir dapat pula dimintakan penafsirannya kepada Mahkamah Konstitusi. IV. KEDUDUKAN HUKUM (LEGAL STANDING) PEMOHON Para Pemohon adalah perorangan warga Negara Indonesia yang menghendaki adana pemajuan hak asasi manusia dalam hal ini mengajukan pengujian materiil yang didalamnya memuat usulan penambahan norma dalam ketentuan Pasal 1 angka 10 dan Pasal 77 huruf a Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. V. NORMA-NORMA YANG DIAJUKAN UNTUK DI UJI A. NORMA MATERIIL - Pasal 1 angka 10 UU 8/1981 Praperadilan adalah wewenang pengadilan negeri untuk memeriksa dan (a) sah atau tidaknya suatu penangkapan dan atau penahanan atas tersangka. - Pasal 77 huruf a UU 8/1981 Pengadilan negeri berwenang untuk memeriksa dan memutus, sesuai (a) sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan. B. NORMA UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 Norma yang dijadikan sebagai dasar pengujian, yaitu : - Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 Negara Indonesia adalah negara hukum. - Pasal 28D ayat (1) UUD 1945 Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum. - Pasal 28G ayat (1) UUD 1945 Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya,
serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. - Pasal 28H ayat (4) UUD 1945 Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapapun. - Pasal 28I ayat (4) dan ayat (5) UUD 1945 (4) Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara terutama pemerintah. (5) Untuk menegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan VI. ALASAN-ALASAN PEMOHON UNDANG-UNDANG A QUO BERTENTANGAN DENGAN UUD 1945 1. Praperadilan merupakan salah satu sistem peradilan pidana yang menempatkan saksi, tersangka atau terdakwa bukan sebagai objek pemeriksaan namun sebagai subjek, yaitu sebagai manusia yang mempunyai harkat, martabat, dan kedudukan yang sama di hadapan hukum. Praperadilan merupakan sebagai salah satu mekanisme kontrol terhadap kemungkinan tindakan sewenang-wenang dari penyidik atau penuntut umum dalam melakukan penegakan hukum; 2. Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 10 dan Pasal 77 KUHAP tersebut di atas, dapat dilihat yang menjadi objek praperadilan adalah sah atau tidaknya penangkapan, sah atau tidaknya penahanan, sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penuntutan, dan permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi; 3. Bentuk pengakuan, penjaminan, perlindungan terhadap adanya perlakuan yang adil selama proses peradilan adalah dengan adanya mekanisme untuk menguji apakah tindakan penyelidik/penyidik telah sesuai dengan KUHAP dan dengan tetap memperhatikan perlidungan hak asasi tersangka atau terdakwa; 4. Namun tidak sedikit ada orang ditetapkan menjadi tersangka namun tidak terbukti melakukan kejahatan yang disangkakan kepadanya. Namun karena tidak adanya mekanisme untuk menguji apakah penetapan menjadi tersangka tersebut telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku, maka ketiadaan mekanisme tersebut hanya menjadi ruang untuk untuk terjadinya pelanggaran hak asasi seseorang; 5. Konsep praperadilan yang diatur dalam KUHAP saat ini belum memberikan perlindungan secara memadai terhadap hak asasi manusia yang berpotensi terlanggar dengan masuknya seseorang ke dalam sistem peradilan pidana, khususnya hak atas peradilan yang adil dan tidak memihak, hak atas perlindungan atas hak milik pribadi, hak atas privasi dan hak atas rasa aman, karena materi pengujian praperadilan dalam status quo tidak mencakup penetapan tersangka, penyitaan, penggeledahan badan atau penggeledahan pakaian, penggeledahan rumah dan pemeriksaan surat. Dengan demikian, tidak ada mekanisme yang dapat menjamin terpenuhinya keadilan bagi mereka yang masuk ke dalam sistem peradilan pidana jika
terjadi penetapan tersangka, penyitaan, penggeledahan badan atau penggeledahan pakaian, penggeledahan rumah dan/atau pemeriksaan surat; 6. Bahwa maksud Para Pemohon bukan untuk membuat aparat penegak hukum tidak bisa melakukan penyitaan terhadap pihak yang terlibat dalam perkara tindak pidana karena pemohon paham hal tersebut akan mempersulit proses penegakan hukum yang ada di Indonesia. Para Pemohon menginginkan adanya proses pertanggungjawaban yang selayaknya dimiliki oleh pihak aparat penegak hukum di dalam proses penyidikan suatu tindak pidana. Para Pemohon menginginkan agar aparat penegak hukum tidak melakukan kesewenang-wenangan dengan berlindung dibalik tidak adanya mekanisme hukum bagi setiap orang yang disita barangnya di dalam proses penyidikan tindak pidana; 7. Berdasarkan pada uraian di atas, maka Pasal 1 angka 10 huruf a dan Pasal 77 huruf a KUHAP harus dinyatakan inkonstitusional secara bersyarat (conditionally unconstitutional), karena telah secara nyata bertentangan dengan Pasal 1 ayat (3) dan Pasal 28D ayat (1) UUD NRI 1945, dan untuk selanjutnya perlu dilakukan penambahan norma...sah atau tidaknya penetapan tersangka, penangkapan, penahanan, penggeledahan, penyitaan, pemeriksaan surat.... VII. PETITUM 1. Mengabulkan uji materiil terhadap ketentuan Pasal 1 angka 10 huruf a dan Pasal 77 huruf a Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209) yang diajukan oleh Para Pemohon untuk seluruhnya; 2. Menyatakan Pasal 1 angka 10 huruf a dan Pasal 77 huruf a Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1981 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209) bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sepanjang tidak dimaknai sebagai berikut: Pasal 1 angka 10 huruf a KUHAP: Praperadilan adalah wewenang pengadilan negeri untuk memeriksa dan b. sah atau tidaknya suatu penetapan tersangka, penangkapan, penahanan, penggeledahan, penyitaan dan atau pemeriksaan surat atas tersangka; Pasal 77 huruf a KUHAP: Pengadilan negeri berwenang untuk memeriksa dan memutus, sesuai b. sah atau tidaknya penetapan tersangka, penangkapan, penahanan,penggeledahan, penyitaan, pemeriksaan surat, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan; 3. Menyatakan Pasal 1 angka 10 huruf a dan Pasal 77 huruf a Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1981 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3209) tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat sepanjang tidak dimaknai sebagai berikut: Pasal 1 angka 10 huruf a KUHAP: Praperadilan adalah wewenang pengadilan negeri untuk memeriksa dan a. sah atau tidaknya suatu penetapan tersangka, penangkapan, penahanan, penggeledahan, penyitaan dan atau pemeriksaan surat atas tersangka; Pasal 77 huruf a KUHAP: Pengadilan negeri berwenang untuk memeriksa dan memutus, sesuai a. sah atau tidaknya penetapan tersangka, penangkapan, penahanan,penggeledahan, penyitaan, pemeriksaan surat, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan; 4. Memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya. atau apabila Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (Ex Aequo Et Bono).