I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
KARAKTERISTIK KABUPATEN PERBATASAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN EKONOMINYA AAN HARTONO

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PERBATASAN

LAMPIRAN I : PERATURAN BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN TENTANG RENCANA AKSI PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR

2017, No Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 127, Tamb

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2010 TENTANG TUNJANGAN OPERASI PENGAMANAN BAGI

I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

SENGKETA-SENGKETA PERBATASAN DI WILAYAH DARAT INDONESIA. Muthia Septarina. Abstrak

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

2008, No hukum dan kejelasan kepada warga negara mengenai wilayah negara; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a,

RENCANA KERJA BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN TAHUN 2011

BAB I PENDAHULUAN. maka membutuhkan pembangunan. Manusia ataupun masyarakat adalah kekayaan

BAB I PENDAHULUAN. Oleh karena itu, pembangunan merupakan syarat mutlak bagi suatu negara.

BAB I PENDAHULUAN. untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakatnya. Pembangunan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Kebijakan pembangunan pada era 1950-an hanya berfokus pada bagaimana

RENCANA AKSI PENGELOLAAN BATAS WILAYAH NEGARA DAN KAWASAN PERBATASAN TAHUN 2011

POLICY BRIEF ANALISIS PERAN MODAL SOSIAL DALAM MENDUKUNG PEMBANGUNAN PERTANIAN DI KAWASAN PERBATASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan

IV. GAMBARAN UMUM DAN DINAMIKA PEMBANGUNAN MANUSIA WILAYAH PERBATASAN DARAT INDONESIA Kondisi Geografis dan Wilayah Administrasi

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PENYUSUNAN KEBIJAKAN NASIONAL PENGELOLAAN KAWASAN PERBATASAN INDONESIA

PENGERTIAN, LINGKUP & KEBIJAKAN PERENCANAAN WILAYAH PERBATASAN (MKP 3) aris SUBAGIYO

BAB I PENDAHULUAN. dan masih belum berkembang secara mantap, kritis dan rawan dalam ketertiban

DIREKTORAT PERENCANAAN PEMBANGUNAN KAWASAN PERDESAAN

DIREKTORAT PERENCANAAN PEMBANGUNAN KAWASAN PERDESAAN

KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7/DPD RI/I/ TENTANG PANDANGAN DAN PENDAPAT

BAB I PENDAHULUAN. perbandingan kebijakan pemerintah Indonesia dan pemerintah Malaysia dalam

No b. pemanfaatan bumi, air, dan udara serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat; c. desentralis

I. PENDAHULUAN. Reformasi yang terjadi di Indonesia menyebabkan terjadinya pergeseran

Lampiran : Keputusan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Nomor : 339/KEP/M-PDT/XII/2012

Visi, Misi Dan Strategi KALTIM BANGKIT

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah

RENCANA AKSI PENGELOLAAN BATAS WILAYAH NEGARA DAN KAWASAN PERBATASAN TAHUN 2011

BAB I PENDAHULUAN. perbedaan karakteristik alam, ekonomi, sosial dan budaya. Wilayah-wilayah dengan

4. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

DAFTAR DAERAH TERTINGGAL

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH

Daftar Daerah Tertinggal

BAB I PENDAHULUAN. produktivitas (Irawan dan Suparmoko 2002: 5). pusat. Pemanfaatan sumber daya sendiri perlu dioptimalkan agar dapat

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2002 TENTANG DEWAN PENGEMBANGAN KAWASAN TIMUR INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. Manusia adalah kekayaan bangsa yang sesungguhnya. Tujuan utama dari

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 131 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN DAERAH TERTINGGAL TAHUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DAFTAR ISI BUKU III RPJMN TAHUN PEMBANGUNAN BERDIMENSI KEWILAYAHAN : MEMPERKUAT SINERGI ANTARA PUSAT-DAERAH DAN ANTARDAERAH

BAB IV GAMBARAN UMUM

SAMBUTAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PADA WORKSHOP DAU & DAK DAERAH PERBATASAN. Pontianak, 26 Juni 2008

BAB IV KONDISI SOSIAL EKONOMI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Kepulauan Riau STUDI KASUS PENGELOLAAN WILAYAH PERBATASAN PADA PROVINSI KEPULAUAN RIAU

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

SAMBUTAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PADA ACARA KUNJUNGAN PASIS SESKOAU

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi

4 GAMBARAN UMUM. No Jenis Penerimaan

BAB I PENDAHULUAN. membutuhkan pembangunan. Pembangunan pada dasarnya adalah suatu proses

II. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV GAMBARAN UMUM. 15 Lintang Selatan dan antara Bujur Timur dan dilalui oleh

Buku Informasi Statistik Pekerjaan Umum 2014

MASALAH PERBATASAN NKRI

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG PERCEPATAN PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL

BAB I PENDAHULUAN. Pendekatan pembangunan manusia telah menjadi tolak ukur pembangunan. pembangunan, yaitu United Nations Development Programme (UNDP)

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia, yaitu upaya peningkatan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju. kepada tercapainya kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.

SOAL ULANGAN HARIAN. : - Memahami perkembangan wilayah Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. berkesinambungan dengan tujuan mencapai kehidupan yang lebih baik dari

BAB I PENDAHULUAN. 2 menurut kecamatan menunjukan bahwa Kecamatan Serasan menempati urutan

2017, No Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2015 tentang Organisasi Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 8)

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 93 TAHUN 2017 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 19 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PARIWISATA

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV GAMBARAN UMUM DAN OBYEK PENELITIAN

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Transkripsi:

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perbatasan negara merupakan manifestasi utama kedaulatan wilayah suatu negara yang memiliki perananan penting baik dalam penentuan batas wilayah kedaulatan, pemanfaatan sumber daya alam, pertahanan keamanan dan kedaulatan ekonomi sebuah negara. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika banyak negara di berbagai benua dengan sekuat tenaga berusaha mempertahankan setiap jengkal wilayah perbatasannya dengan berbagai cara baik melalui pendekatan militer maupun pendekatan ekonomi. Pendekatan militer dilakukan melalui pembangunan pos keamanan dan penempatan personil militer di garis batas negara, sedangkan pendekatan ekonomi dilakukan melalui upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat daerah perbatasan sehingga dapat sejajar dengan negara tetangga. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan perbatasan merupakan bagian intergral yang tidak terpisahkan dalam pelaksanaan pembangunan suatu negara serta memiliki arti strategis tanpa memandang apakah wilayah tersebut memiliki potensi secara ekonomi ataupun tidak. Negara Indonesia yang terdiri atas beribu pulau secara geografis berbatasan dengan beberapa negara tetangga baik di darat maupun laut. Di wilayah laut panjang garis batas mencapai 108.000 km, dimana Indonesia berbatasan dengan 10 negara yaitu India, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Palau, Papua New Guinea, Australia dan Timor Leste. Sedangkan di darat panjang garis perbatasan mencapai 29.141 km, dimana Indonesia berbatasan dengan tiga negara yaitu Malaysia, Papua New Guinea dan Timor Leste. Daerah-daerah yang berbatasan darat dengan negara tetangga antara lain Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur berbatasan dengan Malaysia, Nusa Tenggara Timur berbatasan dengan Timor Leste dan Papua berbatasan dengan Papua New Guinea. Kawasan Perbatasan, menurut Undang-Undang Nomor 26/2007 mengenai Penataan Ruang Nasional telah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional di bidang pertahanan dan keamanan. Hal ini bukan berarti kawasan perbatasan tidak 1

boleh dikembangkan secara sosial-ekonomi. Justru sebaliknya, sebagai bagian tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia maka peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pengembangan ekonomi wilayah merupakan pendekatan yang komplementer dengan pendekatan pertahanan dan keamanan dalam rangka menjamin kedaulatan wilayah. Dengan demikian tujuan pembangunan kawasan perbatasan sesungguhnya sangatlah kompleks karena harus memenuhi beberapa tujuan sekaligus, yakni menciptakan pemerataan pembangunan serta menjamin kedaulatan wilayah. Akan tetapi sampai saat ini pembangunan di wilayah perbatasan masih sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan daerah perkotaan maupun pembangunan di wilayah negara tetangga. Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di daerah ini umumnya jauh lebih rendah dibandingkan dengan kondisi sosial ekonomi warga perkotaan maupun negara tetangga. Gambar 1 di bawah ini memperlihatkan kondisi salah satu desa perbatasan di Kabupaten Nunukan Provinsi Kalimantan Timur. Gambar 1 Kondisi Salah Satu Desa Perbatasan di Kabupaten Nunukan Propinsi Kalimantan Timur. 2

Pada tahun 2005, Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia melalui Keputusan Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia Nomor 001/Kep/M-PDT/I/2005 Tentang Strategi Nasional Pembangunan Daerah Tertinggal melansir 199 kabupaten tertinggal di Indonesia yang tersebar pada hampir seluruh propinsi di Indonesia kecuali dua propinsi yaitu DKI Jakarta dan Banten. Dari 199 kabupaten tersebut, 26 diantaranya adalah kabupaten perbatasan dengan negara tetangga yang terbagi atas 16 kabupaten yang berbatasan di darat dan 10 kabupaten berbatasan di laut. Data ini menunjukkan bahwa seluruh kabupaten perbatasan di darat merupakan daerah tertinggal. Gambar 2 di bawah ini menunjukan betapa sulitnya akses transportasi menuju daerah perbatasan di Kabupaten Malinau Provinsi Kalimantan Timur. Gambar 2 Sarana Transportasi Menuju Daerah Perbatasan di Kabupaten Malinau Propinsi Kalimantan Timur. Pada tahun 2007, angka indeks pembangunan manusia kabupaten perbatasan di Kalimantan Timur yaitu Kabupaten Malinau sebesar 72,71, Kabupaten Nunukan sebesar 73,54 dan Kabupaten Kutai Barat sebesar 73,35. Indeks pembangunan manusia ketiga kabupaten tersebut masih jauh tertinggal 3

dibandingkan angka Propinsi Kalimantan Timur yaitu sebesar 74,83, padahal Propinsi Kalimantan Timur merupakan daerah kaya dengan nilai PDRB tertinggi di kawasan timur Indonesia yaitu sebesar Rp. 212 Triliun pada tahun 2007. Sementara untuk kabupaten perbatasan di Propinsi Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur dan Papua indeks pembangunan manusianya lebih rendah lagi yaitu di bawah angka 70. Tabel 1 Perbandingan Indikator Kinerja Pembangunan Manusia Kabupaten/Kota Perbatasan dengan Nasional Tahun 2007 No Daerah Angka Harapan Hidup (Thn) Angka Melek Huruf (%) Purchasing Power Parity (Ribu Rp) (1) (2) (3) (4) (5) (6) IPM 1. Indonesia 68,70 91,87 624,37 70,59 Prop.Kalbar 66,10 89,40 617,90 67,53 1. Sambas 60,48 89,50 607,20 63,01 2. Bengkayang 68,40 88,69 594,10 66,32 3. Sanggau 67,61 89,92 609,80 67,64 4. Sintang 67,68 90,41 599,60 66,89 5. Kapuas Hulu 66,28 92,55 626,31 69,26 Prop.Kaltim 70.60 95.70 623.57 73.77 1. Kutai Barat 69,50 95,49 618,50 73,35 2. Malinau 68,00 92,33 640,82 71,54 3. Nunukan 70,80 93,30 626,00 72,61 Prop.NTT 66,70 87,25 621,76 65,36 1. Kupang 64,77 88,72 585,66 64,57 2. Timor Tengah Utara 67,27 87,19 596,44 65,84 3. Belu 64,72 82,79 599,52 62,82 Prop.Papua 67,90 75,40 593,40 63,40 1. Merauke 62,00 87,10 591,40 64,00 2. Boven Digoel 66,20 31,70 574,40 48,70 3. Pegunungan Bintang 65,20 31,60 573,10 47,40 4. Keerom 66,60 31,60 573,10 68,00 5. Kota Jayapura 68,20 98,40 620,00 73,80 Sumber : Badan Pusat Statistik, 2009. 4

Capaian kinerja pembangunan manusia yang masih memprihatinkan memunculkan kondisi keterbelakangan yang apabila dibiarkan berlarut-larut dapat meningkatkan timbulnya berbagai kegiatan ilegal di daerah perbatasan yang selama ini masih terus berlangsung. Kegiatan illegal yang terjadi di daerah perbatasan didorong oleh potensi sumber daya alamnya yang sangat melimpah seperti potensi hasil hutan dan potensi bahan tambang yang belum tergali. Kondisi ini apabila tidak ditindaklanjuti maka dikhawatirkan dalam jangka panjang dapat menimbulkan berbagai kerawanan sosial. Gambar 3. Masyarakat Dusun Aruk Propinsi Kalimantan Barat Berbelanja Sembako ke Malaysia. Semakin terkikisnya rasa nasionalisme warga perbatasan karena interaksi masyarakat selama ini lebih banyak dilakukan dengan negara tetangga juga merupakan masalah serius yang harus segera ditangani agar harga diri bangsa Indonesia di mata internasional tetap terjaga dengan baik. Kompas, 15 Juli 2009 mewartakan seluruh warga Dusun Aruk yang berjumlah 237 kepala keluarga harus bolak-balik ke kawasan Biawak Malaysia untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Gambar 3 di atas memperlihatkan kondisi Dusun Aruk yang merupakan satu dari tiga dusun di Desa Sebunga yang persis terletak di tapal batas RI-Malaysia yang berjarak sekitar 375 Km dari Pontianak. Begitu pula yang 5

terjadi di Kecamatan Kayan Hulu dan Kayan Selatan Kabupaten Malinau dan Kecamatan Sebatik Kabupaten Nunukan Propinsi Kalimantan Timur, mayoritas kebutuhan hidupnya berasal dari Negeri Jiran Malaysia. Bahkan siaran televisi yang disaksikan warga desa di perbatasan pada daerah tersebut berasal dari stasiun televisi Malaysia. Intensnya interaksi ekonomi warga Indonesia di daerah perbatasan RI-Malaysia dipicu oleh harga komoditi dalam negeri yang lebih mahal dibanding komoditi dari Malaysia karena faktor jarak distribusi yang berdampak pada perbedaan harga yang sangat mencolok. Tabel 2 Perbandingan Harga Beberapa Komoditi di Daerah Perbatasan RI- Malaysia di Kabupaten Malinau Propinsi Kalimantan Timur dengan Ibukota Propinsi Tahun 2008 No Komoditi Harga di Malinau (Rp) Harga di Samarinda (Rp) (1) (2) (3) (4) 1. Beras (kg) 15.000 6.000 2. Gula (kg) 25.000 7.000 3. Garam (bks) 10.000 1.000 4. Indomie (bks) 5.000 1.200 5. Kopi (bks) 15.000 9.450 6. Susu Kental Manis (kaleng) 23.000 7.500 7. Bensin (liter) 30.000 4.500 8. Minyak Tanah (liter) 30.000 4.000 9. Minyak Goreng (liter) 40.000 12.500 10. Semen (sak) 1.500.000 55.000 Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Malinau, 2009. Berbagai permasalahan yang terakumulasi tersebut harus segera diselesaikan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah mengingat kondisi keterbelakangan yang dialami oleh warga Indonesia di daerah perbatasan baik di Propinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur maupun Papua telah berlangsung bertahun-tahun sehingga membutuhkan penanganan yang serius dan komprehensif serta berkelanjutan. 6

1.2 Perumusan Masalah Mengapa pembangunan kawasan perbatasan negara menjadi isu yang sangat penting? letak kawasan ini yang berhadapan secara langsung dengan negara lain menyebabkan kawasan ini rawan terhadap intervensi dari negara lain baik dalam aspek ekonomi, politik, sosio kultural, maupun keamanan. Di sisi lain, kawasan ini memiliki potensi sumberdaya alam yang sangat besar. Dengan demikian, selain memiliki fungsi strategis dalam bidang ekonomi, daerah perbatasan juga memiliki fungsi strategis dalam menjamin kedaulatan wilayah negara. Akan tetapi peran strategis tersebut tidak diimbangi dengan kondisi kabupaten perbatasan yang masih jauh tertinggal dibandingkan dengan daerah lainnya. Keterbelakangan tersebut dipicu oleh paradigma pembangunan masa lalu yang memandang daerah perbatasan hanya dari sisi pertahanan dan kemanan (security approach), padahal pendekatan kesejahteraan masyarakat (prosperity approach) melalui pembangunan perekonomiannya merupakan bagian tak terpisahkan dalam upaya peningkatan kemakmuran masyarakat. Pelaksanaan otonomi daerah yang efektif berjalan sejak 1 Januari 2001 memberikan energi baru bagi pembangunan daerah khususnya kabupaten perbatasan. Pelimpahan kewenangan yang semakin luas kepada daerah otonom yang diikuti dengan pelimpahan sumber daya manusia pendukung dan pendanaan yang cukup besar mendorong pemerintah daerah untuk lebih berperan dalam memajukan daerahnya. Selain kebijakan pelimpahan kewenangan dan pendanaan kepada daerah, pemerintah juga mengeluarkan kebijakan pemekaran daerah yang direspon positif oleh daerah sehingga memunculkan euforia pemekaran yang luas tak terkecuali bagi daerah perbatasan. Mayoritas daerah perbatasan mengalami pemekaran sejak disahkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 Tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Kabupaten Bengkayang di Propinsi Kalimantan Barat adalah daerah perbatasan yang merupakan daerah pemekaran baru yang lahir seiring dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999. Begitu pula Kabupaten Kutai Barat, Malinau dan Nunukan di Propinsi Kalimantan Timur merupakan 7

daerah perbatasan yang juga terbentuk pada tahun yang sama sedangkan Kabupaten Keerom, Boven Digoel dan Pegunungan Bintang merupakan daerah perbatasan di Propinsi Papua yang terbentuk pada tahun 2002. Pemekaran daerah perbatasan tentunya memberikan harapan besar bagi seluruh masyarakat daerah tersebut untuk dapat hidup lebih baik dan sejajar dengan daerah lainnya khusunya di perkotaan. Berdasarkan hal di atas maka permasalahan dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimanakah perkembangan karakteristik kabupaten perbatasan secara umum di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Papua dan Nusa Tenggara Timur sejak digulirkannya otonomi daerah hingga saat ini. 2. Sektor-sektor apa sajakah yang selama ini menjadi basis perekonomian pada masing-masing daerah perbatasan tersebut. 3. Seberapa besar ketimpangan pembangunan kabupaten perbatasan dengan bukan perbatasan di propinsi penelitian. 4. Bagaimana pola dan struktur pertumbuhan ekonomi kabupaten perbatasan. 5. Bagaimana pergeseran dan peranan perekonomian kabupaten perbatasan. 6. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi kabupaten perbatasan. 7. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi PDRB perkapita kabupaten perbatasan 1.3 Tujuan Penelitian : Tujuan dari penelitian yang dilakukan antara lain : 1. Menganalisis kondisi sosial ekonomi daerah perbatasan di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Papua dan Nusa Tenggara Timur. 2. Menganalisis sektor-sektor basis di daerah perbatasan. 3. Menganalisis ketimpangan pembangunan kabupaten perbatasan dan bukan perbatasan di propinsi penelitian. 4. Menganalisis pola dan struktur pertumbuhan ekonomi kabupaten perbatasan. 8

5. Menganalisis pergeseran dan peranan perekonomian kabupaten perbatasan. 6. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi kabupaten perbatasan. 7. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi PDRB perkapita kabupaten perbatasan. 1.4 Manfaat penelitian : Adapun manfaat yang diharapkan diperoleh dari penelitian ini antara lain : 1. Memberikan informasi pada pembaca mengenai kondisi terkini daerah perbatasan. 2. Memperkaya khasanah penelitian dan ilmu pengetahuan khususnya berkaitan dengan daerah perbatasan. 3. Sebagai bahan masukan dalam merumuskan kebijakan oleh instansi terkait baik pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten dalam rangka pembangunan daerah perbatasan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya yang berada di daerah perbatasan. 1.5 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian dilakukan pada periode 2002-2008 yang mencakup seluruh kabupaten perbatasan darat yang berjumlah 16 kabupaten yang tersebar pada 4 propinsi yaitu : 1. Kalimantan Barat sebanyak 5 kabupaten yaitu Kabupaten Sambas, Sintang, Sanggau, Bengkayang dan Kapuas Hulu. 2. Kalimantan Timur sebanyak 3 kabupaten yaitu Kabupaten Nunukan, Malinau dan Kutai Barat. 3. Nusa Tenggara Timur sebanyak 3 kabupaten yaitu Kabupaten Kupang, Belu dan Timor Tengah Utara. 4. Papua sebanyak 1 kota dan 4 kabupaten yaitu Kota Jayapura, Kabupaten Keerom, Merauke, Pegunungan Bintang dan Boven Digoel. 9

Kabupaten perbatasan darat menjadi fokus penelitian dengan pertimbangan bahwa interaksi ekonomi dengan negara tetangga berlangsung lebih cepat dan intens dibanding perbatasan laut. Selain itu seluruh kabupaten perbatasan darat juga merupakan daerah tertinggal sebagaimana tercantum dalam Surat Keputusan Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia Nomor 001/Kep/M-PDT/I/2005 Tahun 2005 Tentang Strategi Nasional Pembangunan Daerah Tertinggal. 10