ANALISA PENGARUH CLEARANCE

dokumen-dokumen yang mirip
Mengenal Proses Deep Drawing

TUGAS AKHIR. Tugas Akhir ini Disusun Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta

TUGAS AKHIR MODELING PROSES DEEP DRAWING DENGAN PERANGKAT LUNAK BERBASIS METODE ELEMEN HINGGA

BAB II LANDASAN TEORI

ANALISYS TITIK KRITIS DESAIN DIE FENDER DEPAN BAGIAN LUAR MOBIL MINITRUCK ESEMKA NASKAH PUBLIKASI

PREDIKSI SPRINGBACK PADA PROSES DEEP DRAWING DENGAN PELAT JENIS TAILORED BLANK MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK BERBASIS METODE ELEMEN HINGGA

BAB I PENDAHULUAN. dalam peningkatan hasil produksi yang berkualitas dalam dunia industri,

Kualitas produk deep drawing sangat tergantung dari penentuan yang tepat dari variabelvariabel

BAB I PENDAHULUAN. sangatlah pesat. Salah satu proses yang terpenting dalam bidang

PENGARUH SIFAT PLASTISITAS BAHAN TERHADAP KUALITAS PRODUK PROSES DEEP DRAWING

Mesh Generation untuk Permukaan Die dan Punch dengan Program Fortran

SIMULASI PROSES DEEP DRAWING STAINLESS STEEL DENGAN SOFTWARE ABAQUS

SIFAT MAMPU BENTUK LEMBARAN PLAT BAJA KARBON RENDAH PADA PROSES TARIK DALAM

PENGARUH BENDING RADIUS PADA LIGHTENING HOLES PROCESS TERHADAP KERETAKAN AL 2024 T3 SHEET

Proses Lengkung (Bend Process)

SIMULASI PROSES DEEP DRAWING CUP (BASKOM) PELAT JENIS STAINLESS STEEL 304 DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE ABAQUS 6.9-3

ANALISIS MASALAH KERUTAN (WRINKLE) PADA PRODUK ALAS KALENG UKURAN 681 GRAM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pengaruh Tebal Blank dan Viskositas Pelumas Terhadap Nilai Stretchability dan Kekerasan Dinding Kubah Baja DDQ SPCE- SD

SIMULASI PROSES DEEP DRAWING DENGAN PELAT JENIS TAILORED BLANK

STUDI SPRINGBACK PADA KASUS PLAT TEKUK DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE BERBASIS METODE ELEMEN HINGGA

BAB I PENDAHULUAN. dalam menghasilkan produk produk yang berkualitas agar merebut. pasar, baik pasar dalam negeri maupun luar negeri.

ANALISYS TITIK KRITIS DESAIN DIE FENDER DEPAN BAGIAN LUAR MOBIL MINITRUCK ESEMKA

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia. Pengaruh titanium..., Caing, FMIPA UI., 2009.

Proses Pembentukan Logam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERBANDINGAN DIMENSI LEBAR DIE (CETAKAN) DENGAN PRODUK (HASIL BENDING) DARI PROSES BENDING CHASSIS MOBIL ESEMKA

SIMULASI CUP DRAWING UNTUK MENGHINDARI CACAT WRINKLING DAN THINNING DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE AUTOFORM R2

BAB II PERTIMBANGAN DESAIN

BAB III METODOLOGI. sebagian besar digambarkan dalam diagram alir, agar mempermudah proses

Simulasi Proses Active Hydro-Mechanical Drawing dengan Menggunakan Metode Elemen Hingga pada Material Aluminium AlMg 3

DESAIN DIES CHASIS LONG MEMBER MENGUNAKAN SPRING DAN PAD PADA MINI TRUCK ESEMKA SANG SURYA

BAB I PENDAHULUAN. bentuk suatu benda kerja dengan menggunakan sepasang alat. perencanaan peralatan, diameter yang akan dipotong, material alat

II. TINJAUAN PUSTAKA

MEKANISME PEMBENTUKAN KERUTAN PADA PROSES PENEKUKAN PIPA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISA MAMPU BENTUK ALUMINIUM KOMERSIAL TERHADAP EFEK PERBEDAAN KETEBALAN MATERIAL PADA PROSES SPINNING

STUDI EKSPERIMENTAL SPRINGBACK PADA KASUS PLAT TEKUK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGARUH BLANK HOLDER FORCE (BHF) TERHADAP CACAT WRINKLING DAN KOEFISIEN GESEK PADA PROSES CUP DRAWING

TINJAUAN KUAT LENTUR BALOK BETON BERTULANG DENGAN PENAMBAHAN KAWAT YANG DIPASANG LONGITUDINAL DI BAGIAN TULANGAN TARIK.

Jurnal Flywheel, Volume 1, Nomor 2, Desember 2008 ISSN :

Beberapa sifat mekanis lembaran baja yang mcliputi : pengerasan. regang, anisotropi dan keuletan merupakan parameter-parameter penting

ANALISIS HASIL PEMOTONGAN PRESS TOOL PEMOTONG STRIP PLAT PADA MESIN TEKUK HIDROLIK PROMECAM DI LABORATORIUM PEMESINAN

BAB I PENDAHULUAN. Ekstrusi merupakan salah satu proses yang banyak digunakan dalam

RANCANG ULANG PUNCH-DIES UNTUK PEMBUATAN OUTLET PIPE I DI PT. IONUDA SURABAYA

PENGARUH VARIASI TEMPERATUR TERHADAP KEKERASAN, STRUKTUR MIKRO, DAN KETANGGUHAN DENGAN PROSES HEAT TREATMENT PADA BAJA KARBON AISI 4140H

SIMULASI CUP DRAWING UNTUK MENGHINDARI CACAT WRINKLING DAN THINNING DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE AUTOFORM R2

ANALISA TEGANGAN PADA PEMBENTUKAN KOMPONENGROMMET GASKET EXHAUST SEPEDA MOTOR MELALUI DEEP DRAWING

PENGARUH JENIS SAMBUNGAN PELAT TERHADAP TERJADINYA CACAT KERUT PADA PROSES CUP DRAWING

OPTIMISASI DESAIN DIES PADA PROSES EKSTRUSI UNTUK MENGHINDARI TERJADINYA CACAT RONGGA

Program Studi Teknik Mesin S1

BAB II LANDASAN TEORI

PENGUJIAN CUP DRAWING PADA PLAT TIPIS DENGAN SAMBUNGAN LAS TITIK, TEKUK, DAN TANPA SAMBUNGAN

BAB I PENDAHULUAN. tipis dan mengalami tegangan tekan akan mengalami masalah. instabiltas tekuk atau buckling. Buckling merupakan suatu proses

LAPORAN PENELITIAN PENGARUH SIFAT PLASTISITAS MATERIAL TERHADAP KUALITAS PRODUK HASIL PROSES DEEP DRAWING

Gambar 1.1. Contoh Peralatan Micro-Manufacturing (Qin, 2006)

MODUL 6 PROSES PEMBENTUKAN LOGAM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2. KERJA PLAT Tujuan 3.1 Teori Kerja Plat Pemotongan Plat

REDESAIN CUTTING BIT DIES TUTUP BOTOL KECAP

PERBANDINGAN DIMENSI LEBAR DIE (CETAKAN) DENGAN PRODUK (HASIL BENDING) DARI PROSES BENDING CHASSIS MOBIL ESEMKA

DEFINISI SPRINGBACK COLD WORKING PROCESS The advantages of cold working process : The disadvantages of cold working process :

TEORI SAMBUNGAN SUSUT

TINJAUAN MOMEN LENTUR BALOK BETON BERTULANG DENGAN PENAMBAHAN KAWAT YANG DIPASANG MENYILANG PADA TULANGAN GESER. Naskah Publikasi

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. terbuat dari beton, baja atau keduanya tidak lepas dari elemenelemen. pelat, kolom maupun balok kolom. Masing-masing elemen

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Perkembangan pada setiap bidang kehidupan pada era globalisasi saat ini

TINJAUAN KUAT LENTUR BALOK BETON BERTULANG BAJA DENGAN PENAMBAHAN KAWAT YANG DIPASANG DIAGONAL DI TENGAH TULANGAN SENGKANG.

DESAIN DAN SIMULASI PEMBENTUKAN PILAR-B BENCHMARK MODEL III NUMISHEET 2008

TUGAS AKHIR. Study Pengaruh Sifat Plastisitas Material Terhadap Kualitas Produk Deep Drawing Cylinder Cup

MODIFIKASI DESAIN MODEL DIE CUSHION PADA MESIN PRESS CERLEI MENGGUNAKAN METODE VDI 2221 DI PT.XXX

Edi Sutoyo 1, Setya Permana Sutisna 2

DENGAN VARIASI KETEBALAN PLAT

DESIGN UNTUK KEKUATAN LELAH

PEMANFAATAN KAWAT GALVANIS DIPASANG SECARA MENYILANG PADA TULANGAN BEGEL BALOK BETON UNTUK MENINGKATKAN KUAT LENTUR BALOK BETON BERTULANG

BAB I PENDAHULUAN. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. mendorong terciptanya suatu produk dan memiliki kualitas yang baik.

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN MESIN PENGADUK ADONAN ROTI TAWAR (BAGIAN STATIS) LAPORAN PROYEK AKHIR. Oleh :

BAB I PENDAHULUAN. terciptanya suatu sistem pemipaan yang memiliki kualitas yang baik. dan efisien. Pada industri yang menggunakan pipa sebagai bagian

BAB I PENDAHULUAN. efisiensi waktu pada proyek konstruksi. Selain memiliki kelebihan baja juga

MECHANICAL FAILURE (KERUSAKAN MEKANIS) #2

Presentasi Tugas Akhir

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

TINJAUAN KUAT LENTUR PELAT BETON BERTULANG BAJA DENGAN PENAMBAHAN KAWAT YANG DIPASANG MENYILANG NASKAH PUBLIKASI

viii DAFTAR GAMBAR viii

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

I. PENDAHULUAN. untuk diperkirakan kapan terjadinya, dan tidak dapat dilihat secara kasat mata

TUGAS AKHIR. Tugas Akhir ini Disusun Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III RANCANGAN MODIFIKASI KONSTRUKSI

BAB 2. PENGUJIAN TARIK

PERANCANGAN PRESS TOOL

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB I PENDAHULUAN. Istimewa Yogyakarta pada khususnya semakin meningkat. Populasi penduduk

PENGARUH FEED RATE TERHADAP STRUKTUR MIKRO, KEKERASAN DAN KEKUATAN BENDING PADA PENGELASAN FRICTION STIR WELDING ALUMINIUM 5052

PENGARUH BLANK HOLDER FORCE (BHF) DAN KOEFISIEN GESEK TERHADAP CACAT WRINKLING PADA PROSES CUP DRAWING

TUGAS AKHIR DESAIN DAN SIMULASI PEMBENTUKAN PILAR-B BENCHMARK MODEL III NUMISHEET 2008

Transkripsi:

ANALISA PENGARUH CLEARANCE PADA PUNCH, BLANK HOLDER DAN DIES TERHADAP KERUSAKAN PRODUK PADA MESIN DRAWING Eko Edy Susanto Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Nasional Malang ekoedys@yahoo.co.id ABSTRAK Proses drawing untuk proses pembentukan dengan penekanan plat sebagai benda kerja dan pembentukan terjadi karena perenggangan mengikuti betuk dies dan punch. Tujuan yang ingin didapat dari analisa ini yaitu mengetahui kegagalan hasil mesin deep drawing untuk plat dengan ketebalan 0,3mm; 0,4mm; 0,5mm; dan 0,6mm untuk bahan aluminum, galvanis dan kuningan. Sehingga dapat diketahui hasil mesin deep drawing yang presisi dengan clearance antara dies dan punch tetap dan perubahan dies dan punch karena ketebalan plat yang berbeda. Secara umum, analisa kepresisian hasil mesin deep drawing menunjukkan bagian yang paling besar meregangnya adalah pada bagian dinding. Pada bagian dinding; berdasarkan hasil pengujian memberikan keterangan bahwa pada pelat tipis terjadi cacat wrinkling. Sedangkan pada plat yang tebal tidak terjadi. Hal ini terjadi karena pada plat yang tipis terdapat celah (clearance) antara punch, blank holder, dan dies sehingga terjadi regangan positif (tarik) dan regangan negatif (tekan) yang mengakibatkan cacat kerut pada dinding. Pada bagian flans masih terdapat cacat wrinkling. Hal ini terjadi karena gaya tekan dari blank holder kurang kuat, sehingga blank holder tidak mampu menjepit blank dengan baik. Kata-kata kunci: Deep drawing, Bahan plat, Tebal plat, Toleransi dies, Cacat produk 8

PENDAHULUAN Proses drawing dilakukan dengan menekan material benda kerja yang berupa lembaran logam yang disebut dengan blank sehingga terjadi peregangan mengikuti bentuk dies, bentuk akhir ditentukan oleh punch sebagai penekan dan die sebagai penahan benda kerja saat di tekan oleh punch. Pada proses deep drawing banyak kegagalan terjadi dalam proses manufakturnya seperti halnya plat sobek, cacat kerut (wrinkling), adanya gaya springback yang dapat menjadikan draw piece tidak sesuai dengan dimensi yang diinginkan. Dalam proses deep drawing sangat identik dengan terjadinya hasil benda kerja tidak presisi, maka perumusan masalah pada penelitian ini adalah mengidentifikasi jenis material dan ketebalan plat agar menghasilkan benda kerja yang presisi pada proses deep drawing. Kelonggoran atau cleaerence adalah celah antara punch dan die untuk memudahkan gerakan lembaran logam saat proses drawing berlangsung, besar clearence tersebut 7 % - 20 % lebih besar dari tebal lembaran logam, bila celah die terlalu kecil atau kurang dari tebal lembaran logam, lembaran logam dapat mengalami penipisan ( ironing) dan bila besar clearence melebihi toleransi 20 % dapat mengakibatkan terjadinya kerutan. Kecepatan gerak punch dapat menyebabkan retak bahkan sobek pada material, masing masing jenis material mempunyai karateristik berbeda sehingga kecepatan maksimal masing masing material juga berbeda. Kegagalan yang paling sering terjadi adalah pemisahan dasar pada daerah yang mengalami penipisan yang paling besar yaitu didekat lengkukngan punch. Cacat ini dapat diminimumkan dengan cara mengurangi penipisan dengan punch yang jari-jarinya lebih besar atau memperkecil beban punch pada saat dilakukan penarikan. Jika terjadi retakan radial diflens atau pada pinggiran benda uji, maka hal ini berarti bahwa logam ini tidak cukup ulet untuk menahan pengkerutan melingkar yang besar yang diperlukan di daerah tersebut. Pengkerutan flens atau pinggiran mangkuk merupakan akibat dari penekukan lembaran yang disebabkan oleh tegangan tekan melingkar yang tinggi. Pada analisis tipe kegagalan ini, setiap elemen pada lembaran dapat dianggap sebagai kolom yang diberi beban tekan. Jika diameter bahan baku terlalu besar, beban pons akan sangat menigkat nilainya, dan dapat melampaui beban penekukan kritis kolom. Karena stabilitas kolom turun dengan meningkatnya perbandingan kerampingan, maka beban penekukan kritis akan dicapai pada beban yang lebih rendah untuk lembaran tipis. Untuk mencegah cacat ini, diperlukan pemakaian tekanan penekanan yang cukup agar penekukan hilang. Cacat keriput jeruk terjadi pada logam lembaran berbutir agak kasar. Cacat ini hasil dari deformasi yang cenderung untuk terdeformasi secara tersendiri, dan karena itu butiran mencuat dipermukaan. Cara terbaik untuk mengatasi hal ini, adalah menggunakan lembaran logam berbutir halus, sehingga deformasinya lebih seragam dan masing-masing butir sulit dibedakan dengan mata telanjang. Cacat permukaan yang lain yang sering terdapat pada lembaran baja karbon rendah adalah adanya regangan perentang atau cacat cacing (worm). Cacat nini tampak sebagai pola yang mirip lidah api dibagian yang rendah pada permukaan. Penurunan bagian permukaan maksimum dan dengan meningkatnya deformasi cacat menghasilkan permukaan kasar yang seragam. Cacat cacing ini berkaitan langsung dengan titik luluh pada kurva tegangan-regangan dan deformasi tak seragam yang terjadi akibat regangan titik luluh. METODOLOGI. Mesin Drawing merupakan alat untuk proses pengepresan, yaitu sebagai pemegang die, punch, dan blank holder. 9

Pandangan Atas Blank holder, Die, dan Punch Mesin drawing tersebut mempunyai ukuran: Diameter Die = 180,30 mm Diameter Punch = 179,75 mm Clearance = 0,55 mm Material Benda Uji Bahan Tebal Ø (mm) (mm) Plat Aluminium Plat Galvanis Plat Kuningan 0,3 32 0,4 32 0,5 32 0,6 32 0,3 32 0,4 32 0,5 32 0,6 32 0,3 32 0,4 32 0,5 32 0,6 32 Pengujian Deep Drawing pada plat Aluminium Pandangan Samping Tebal plat aluminium 0,4 mm Plat aluminium dengan ketebalan 0,4 mm ini dapat dibentuk tetapi terjadi cacat pecah pada bagian dasar tangki dan cacat keriput pada flans. Cacat pecah pada tangki hal ini disebabkan tekanan bending yang sangat besar, sedangkan cacat keriput pada flans disebabkan blank holder tidak mampu menjepit blank dengan baik. Pandangan Atas Pandangan Samping Tebal plat aluminium 0,5 mm Tebal plat aluminium 0,3 mm Pengerjaan drawing pada plat aluminium dengan ketebalan 0,5 mm ini sudah mampu dibentuk tangki kompor, tetapi masih terjadi cacat pecah pada bagian dasar tangki. Hal ini disebabkan tekanan bending yang sangat besar. Plat aluminium dengan ketebalan 0,3 mm, tidak cukup ulet untuk menahan tegangan tekan melingkar yang besar. Pandangan Atas 10

Pandangan Samping Tebal plat aluminium 0,6 mm Pengerjaan drawing pada plat aluminium dengan ketebalan 0,6 mm ini sudah mampu dibentuk tangki kompor dan tidak terdapat cacat-cacat karena plat aluminium ketebalan 0,6 mm tersebut ulet dan mampu menerima tekanan yang melingkar sehingga plat tersebut mampu dibentuk.. Tebal plat galvanis 0,5 mm Pengujian Deep Drawing pada Galvanis Tebal plat galvanis 0,3 mm plat Pembentukan drawing pada plat galvanis dengan ketebalan 0,3 mm tersebut mampu dibentuk tangki, tatapi plat tersebut masih terdapat cacat keriput cacing pasa dinding dan cacat pecah pada permukan tangki. Hal ini terjadi karena bagian yang paling besar meregangnya adalah pada bagian pinggir yang tidak bersentuhan dengan dies Tebal plat galvanis 0,6 mm Pembentukan drawing pada plat galvanis dengan ketebalan 0,5 dan 0,6 mm sudah mampu dibentuk. Hal ini disebabkan plat galvanis dengan ketebalan 0,6 mm tersebut ulet dan mampu menerima tekanan yang melingkar sehingga plat tersebut mampu dibentuk dengan baik. Pengujian Deep Drawing pada Kuningan Pandangan Atas plat Tebal plat galvanis 0,4 mm Pembentukan drawing pada plat galvanis dengan ketebalan 0,4 mm tersebut mampu dibentuk tangki, tatapi plat tersebut masih terdapat cacat keriput cacing pasa dinding. Hal ini terjadi karena bagian yang paling besar meregangnya adalah pada bagian pinggir yang tidak bersentuhan dengan dies. Pada bagian ini pelat akan mengalami penipisan atau ironing. Pembentukan drawing pada plat kuningan dengan ketebalan 0,3, 0,4, 0,5, 0,6 mm sudah mampu dibentuk tangki kompor. Hal ini disebabkan plat galvanis dengan 0,3, 0,4, 0,5, 0,6 mm tersebut ulet dan mampu menerima tekanan sehingga plat tersebut mampu dibentuk dengan baik. PEMBAHASAN Secara umum, deep drawing adalah proses dimana pelat (blank) dipaksa mengalir 11

melalui sebuah dies dengan beban punch sehingga membentuk komponen silindris. Material akan mengalami regangan yang cukup besar sepanjang diameternya. Pada awalnya semua bagian pelat mempunyai ketebalan yang sama, namun pada akhir hasil proses ketebalan pelat akan bervariasi. Bagian yang paling besar mendapat tekanan dari pelat adalah pada bagian flange karena adanya tegangan yang cukup besar di sini baik dari beban penekan maupun dari gesekan dengan blank holder dan dies. Selama proses deep drawing, pelat ditekan dengan gaya penekan yang berasal dari mesin penekan sampai mencapai nilai maksimumnya dan akan turun kembali. Material akan mengalami regangan yang cukup besar sepanjang diameternya. Bagian yang paling besar meregangnya adalah pada bagian pinggir yang tidak bersentuhan dengan dies. Pada bagian ini pelat akan mengalami penipisan atau ironing. Penipisan dapat menjadikan pelat mengalami retak dan kemudian pecah setelah mencapai kekuatan tarik maksimum pelat. Bagian yang paling kritis dimana sering terjadi pecah adalah pada bagian bawah yang bersentuhan dengan jari-jari punch. Pada bagian ini sering terjadi pecah karena tekanan bending yang sangat besar tergantung dari jari-jari punch. Perubahan Ketebalan 1 Penentuan Titik Pengukuran Titik 1 : Penentuan pengukuran bagian atas Titik 2 : Penentuan pengukuran bagian tengah Titik 3 : Penentuan pengukuran bagian bawah ketebalan plat 0,5 mm pengukuran ketebalan pada titik (1) diameternya lebih besar dan pada titik (2) dan titik (3) diameternya semakin kecil, hal ini terjadi karena terjadi penipisan pada plat. Dari hasil pengukuran diameter pada plat aluminium dengan ketebalan 0,6 mm terjadi pertambahan tebal yang tidak merata hal ini terjadi karena pada benda kerja terjadi regangan tekan dan regangan tarik yang menyebabkan pertambahan tebal yang tidak kontinyu sejalan dengan pergerakan logam pada saat mendapat perlakuan tekan dan geser. Dari hasil pengukuran pada pengujian plat galvanis dengan ketebalan 0,3 mm ini terjadi perubahan tebal yang tidak merata hal ini terjadi karena pada benda kerja terjadi regangan tekan dan regangan tarik yang menyebabkan pertambahan tebal yang tidak kontinyu sejalan dengan pergerakan logam pada saat mendapat perlakuan tekan dan geser. Pada titik pengukuran bahan galvanis tebal 0,4, 0,5 dan 0,6 mm pada titik (1) diameternya lebih besar dan pada titik (2), titik (3) diameter nya semakin kecil, hal ini terjadi karena terjadi penipisan pada plat. Terjadi ketebalan yang tidak merata karena pada benda kerja terjadi regangan tekan dan regangan tarik yang menyebabkan pertambahan tebal yang kontinyu sejalan dengan pergerakan logam pada saat mendapat perlakuan tekan dan geser. Dari hasil pengukuran ketebalan untuk bahan kuningan dengan tebal 0,3:0,4: 0,5 dan 0,6 mm pada titik (1) diameternya lebih besar dan pada titik (2), titik (3) diameternya semakin kecil, hal ini terjadi karena terjadi penipisan pada plat. Terjadi ketebalan yang tidak merata karena pada benda kerja terjadi regangan tekan dan regangan tarik yang menyebabkan pertambahan tebal yang kontinyu sejalan dengan pergerakan logam pada saat mendapat perlakuan tekan dan geser. Penyebaran ketebalan setelah proses drawing untuk bahan aluminium: Tebal plat 0.3 dan 0,4 mm benda kerja rusak. Pada 12

KESIMPULAN 1. Pada proses drawing untuk pelat tipis terjadi cacat wrinkling pada dinding. Sedangkan pada plat yang tebal tidak terjadi. Hal ini terjadi karena pada plat yang tipis terdapat celah (clearance) antara punch, blank, dan dies yang mengakibatkan cacat kerut pada dinding. 2. Pada bagian flens terjadi keriput karena blank holder tidak mampu menjepit blank dengan baik. 3. Pada plat aluminium dengan ketebalan 0,3 mm 0,4 mm, 0,5 mm 0,6 mm tidak cukup ulet untuk proses deep drawing maka cacat-cacat pada produk akan terjadi. 4. Plat galvanis dengan ketebalan 0,5 mm dan 0,6 mm adalah plat yang cukup ulet untuk menerima penekukan lembaran yang disebabkan oleh tegangan tekan melingkar yang tinggi. Begitupula pada plat kuningan dengan ketebalan 0,4 mm 0,5 mmdan 0,6 mm. 5. Perencanaan celah (clearance) antara punch dan dies masimal sama dengan ketebalan pelat DAFTAR PUSTAKA 1. Ahmad Hasnan. S., 2006. Mengenal Proses Deep Drawing. Jakarta 3. Eaton Vickers Hydraulic Pneumatic System Catalog. 1995. Troy, Michigan. U.S.A 4. Erlangga Hendrawan Alfatih Muhammad, 2009. Analisis Kerusakan Padaproses Manufaktur Produk Otomotif Tutup Shock Absorber Dengan Menggunakan Simulasi Abaqus 65-3 Se. Tugas Akhir S-1, Universitas Muhammadiyah Surakarta,. Surakarta. 5. Shofiyanto Yusa Mohamad, 2009. Simulasi Proses Deep Drawing Dengan Pelat Jenis Tailored Blank. Tugas Akhir S-1, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta. 13