KEBUTUHAN MOBILITAS FISIK

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN. kecacatan yang lain sebagai akibat gangguan fungsi otak (Muttaqin, 2008).

BAB I PENDAHULUAN. kulit agar senantiasa terjaga dan utuh adalah salah satu aspek penting di

BAB I PENDAHULUAN. bertambahnya jumlah pengendara kendaraan bermotor dan pengguna jalan

Pada sistem kardiovaskuler dan respirasi terjadi perubahan yaitu penurunan kekuatan otot otot pernafasan, menurunnya aktivitas silia, menurunnya

- Seluruh perilaku, gerak dan aktivitas kita dikontrol oleh otak, yang terdiri dari bermilyard-milyard sel otak.

BAB 1 PENDAHULUAN. adalah mempertahankan integritas kulit. Hal ini dapat tercapai dengan

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN MOBILITAS

BAB 1 PENDAHULUAN. Sistem saraf manusia mempunyai struktur yang kompleks dengan berbagai

BAB 1 PENDAHULUAN. perdarahan atau non perdarahan (Junaidi Iskandar, 2002: 4).

22/03/2016 MASYKUR KHAIR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Keperawatan pasca operasi merupakan periode akhir dari keperawatan

dan komplikasinya (Kuratif), upaya pengembalian fungsi tubuh

BAB I KONSEP DASAR. dapat dilewati (Sabiston, 1997: 228). Sedangkan pengertian hernia

BAB I PENDAHULUAN. aktifitas ini berkepanjangan akan mengakibatkan luka. regangan dan gesekan (Potter dan Perry, 2005; Hidayat, 2006).

- Nyeri dapat menyebabkan shock. (nyeri) berhubungan. - Kaji keadaan nyeri yang meliputi : - Untuk mengistirahatkan sendi yang fragmen tulang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. tangan atau alat terhadap jaringan tubuh yang lunak. Massage bertujuan

MONITORING DAN ASUHAN KEPERAWATANA PASIEN POST OPERASI

BAB I PENDAHULUAN. UU R.I Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, Pasal 62 tentang. peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit menyatakan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan masyarakat tentang kesehatan juga mulai berkembang.

SATUAN ACARA PENYULUHAN DETEKSI DINI PADA CA MAMAE

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. atau kondisi nyata, dengan cara memberi dorongan terhadap pengarahan diri (self

Latihan Aktif Dan Pasif / Range Of Motion (ROM) Pada Pasien. Stroke Non Hemoragik

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN. Setiawan, S.Kp., MNS

Munro, dkk (1987), older elderly: tahun -.85 tahun M. Alwi Dahlan : -. > 60 tahun Gerontologi ilmu yang mempelajari tetang proses penuaan.

Menurut Depkes RI (1995), berdasarkan luas dan garis traktur meliputi:

BAB I KONSEP DASAR. sepanjang saluran usus (Price, 1997 : 502). Obstruksi usus atau illeus adalah obstruksi saluran cerna tinggi artinya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pasal 1 dinyatakan bahwa seorang dikatakan lansia setelah mencapai umur 50

BAB I PENDAHULUAN. Dekubitus adalah kerusakan struktur anatomis dan fungsi kulit normal

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. sangat strategis yaitu dikelilingi oleh wilayah Kabupaten Magelang dan

Daftar Diagnosis Keperawatan Berdasarkan Standar Diagnosasis Keperawatan Indonesia (SDKI)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. hemoragik di Jawa Tengah adalah 0,03%. Sedangkan untuk stroke non

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN AKTIVITAS DAN LATIHAN Di Ruang Dahlia 2 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

BAB I PENDAHULUAN. Cedera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang

BAB I PENDAHULUAN. penduduknya. Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat perkembangan yang

LAPORAN PENDAHULUAN. PADA PASIEN DENGAN KASUS CKR (Cedera Kepala Ringan) DI RUANG ICU 3 RSUD Dr. ISKAK TULUNGAGUNG

PENGARUH POSISI LATERAL INKLIN 30 0 TERHADAP KEJADIAN DEKUBITUS PADA PASIEN STROKE DI BANGSAL ANGGREK I RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. MOEWARDI SURAKARTA

Konsep Asuhan Keperawatan Pasien Usia Lanjut. Margaretha Teli, SKep,Ns, MSc

BAB I KONSEP DASAR. berhubungan dengan asetabulum menbentuk kepala sendi yang disebut kaput

BAB I PENDAHULUAN. angka tersebut 54 tahun untuk wanita dan laki-laki 50,9 tahun. Pada tahun 1985

BAB I PENDAHULUAN. Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang (Helmi,2012). Klasifikasi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. untuk bereaksi terhadap insulin dapat menurun, dan pankreas dapat menghentikan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Rahmad Santoso, 2014

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI DI RS ROEMANI RUANG AYUB 3 : ANDHIKA ARIYANTO :G3A014095

Penyakit pada Lansia. Gaya Hidup Aktif dan Proses Penuaan dr. Imas Damayanti, M.Kes FPOK-UPI

DISUSUN OLEH : 1. ISABELLA 2. NURAIDAR 3. SEPTIAN 4. WAHYU NINGSIH LASE 5. YUTIVA IRNANDA 6. ELYANI SEMBIRING. FKep USU 1

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Gagal jantung kongestif (CHF) adalah keadaan patofisiologis berupa

BAB I PENDAHULUAN. perubahan fisiologis tubuh dan mempengaruhi organ tubuh lainnya.

BAB 1 PENDAHULUAN. Ambulasi adalah aktifitas berjalan (Kozier, 1995 dalam Asmadi, 2008).

Kekurangan volume cairan b.d kehilangan gaster berlebihan, diare dan penurunan masukan

BAB I PENDAHULUAN. tindakan perbaikan kemudian akan diakhiri dengan penutupan dengan cara. penjahitan luka (Sjamsuhidajat & De Jong, 2013).

BAB I PENDAHULUAN. pada macam pembedahan dan jenis penyakit penyerta.

Diabetes tipe 2 Pelajari gejalanya

SPORT MASSAGE SURYA ADHITYA

Nutrisi untuk Mendukung Tenaga Kerja yang Sehat dan Produktif. dr. Yulia Megawati

BAB II PENGELOLAAN KASUS

Efektivitas Pengobatan Obat Herbal Untuk Diabetes Kering Pada Luka Kaki Penggunaan Obat Herbal Untuk Diabetes Kering

HIPOKALSEMIA DAN HIPERKALSEMIA. PENYEBAB Konsentrasi kalsium darah bisa menurun sebagai akibat dari berbagai masalah.

CATATAN PERKEMBANGAN. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan No. Hari/tanggal Pukul Tindakan Keperawatan Evaluasi. 2. Mengkaji tandatanda

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADIA PASIEN GANGGUAN KEBUTUHAN SUHU TUBUH (HIPERTERMI)

MOBILISASI DAN IMMOBILISASI Hanny Handiyani, SKp, M.Kep.

A. DEFINISI Luka adalah rusaknya kesatuan/komponen jaringan, dimana secara spesifik terdapat substansi jaringan yang rusakatau hilang. Ketika luka tim

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. merupakan proses perubahan biologis secara terus- menerus, dan terjadi. suatu kemunduran atau penurunan (Suardiman, 2011)

PENGANTAR KESEHATAN. DR.dr.BM.Wara K,MS Klinik Terapi Fisik FIK UNY. Ilmu Kesehatan pada dasarnya mempelajari cara memelihara dan

THALASEMIA A. DEFINISI. NUCLEUS PRECISE NEWS LETTER # Oktober 2010

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. pengumpulan data kuesioner yang telah disebar tentang Pemenuhan

LAPORAN PENDAHULUAN (KONTRAKTUR)

OLEH : KELOMPOK 5 WASLIFOUR GLORYA DAELI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. mempertahankan kesehatan, baik secara fisik maupun psikologis (Alimul, 2006).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. adalah persalinan sectio caesarea. Persalinan sectio caesarea adalah melahirkan janin

BAB I PENDAHULUAN. lain. Elektrolit terdiri dari kation dan anion. Kation ekstraseluler utama adalah natrium (Na + ), sedangkan kation

BAB 1 PENDAHULUAN. Serikat. American Hearth Association tahun 2013 melaporkan sekitar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Gangguan Neuromuskular

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kehamilan merupakan proses fertilisasi atau penyatuan spermatozoa dan

Dr. Ade Susanti, SpAn Bagian anestesiologi RSD Raden Mattaher JAMBI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Gambaran Umum Rumah Sakit RSUD dr. Moewardi. 1. Rumah Sakit Umum Daerah dr. Moewardi

BAB 1 PENDAHULUAN. Stroke atau gangguan peredaran darah otak (GPDO) merupakan penyakit

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. umum dan untuk mencapai tujuan tersebut bangsa Indonesia melakukan

disebabkan internal atau eksternal trauma, penyakit atau cedera. 1 tergantung bagian neurogenik yang terkena. Spincter urinarius mungkin terpengaruhi,

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu indikator keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia

Manifestasi Klinis a. b. c. d. Asuhan Keperawatan Pengkajian

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan tangan terentang. Sebagian besar fraktur tersebut ditangani dalam unit

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Tulang dan sendi merupakan kerangka tubuh yang menyebabkan tubuh dapat berdiri tegak,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dari sekian banyak kasus penyakit jantung, Congestive Heart Failure

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

FORMAT PENGKAJIAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA AKADEMI KEPERAWATAN PANTI WALUYA MALANG

Program Fase I Tujuan : Mampu melaksanakan aktifitas awal dlm rangka persiapan ADL di rumah Lama latihan : 7-14 hari Beban latihan ; 2-3 Mets Sesegera

BAB I PENDAHULUAN. seorang ahli anestesi. Suatu studi yang dilakukan oleh Pogatzki dkk, 2003

SIROSIS HEPATIS R E J O

BAB 1 PENDAHULUAN. masalah kesehatan yang serius dan berdampak pada disfungsi motorik dan

BAB I PENDAHULUAN. lalu lintas yang cukup tinggi. Data Kepolisian RI tahun 2009 menyebutkan

BAB I PENDAHULUAN. mana jika kesehatan terganggu maka akan dapat mempengaruhi. kemampuan seseorang dalam melakukan aktifitas sehari-hari.

Transkripsi:

KEBUTUHAN MOBILITAS FISIK

PENGERTIAN MOBILISASI Adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas, mudah, teratur dan mempunyai tujuan dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup sehat. Semua manusia yang normal memerlukan kemampuan untuk dapat bergerak. Kehilangan kemampuan untuk bergerak menyebabkan ketergantungan dan tindakan keperawatan. Mobilisasi diperlukan dalam rangka untuk:kemandirian diri, meningkatkan kesehatan, memperlambat penyakit khususunya penyakit degeneratif, untuk aktualisasi (harga diri dan bodi image).

FACTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOBILISASI 1. Gaya hidup 2. Ketidakmampuan Kelemahn fisik dan mental akan menghalangi seseorang untuk melaksanakan aktifitas kehidupan. Ketidakmampuan ada dua macam, ketidakmampuan primer dan sekunder. Ketidakmampuan primer : disebabkan oleh penyakit atau trauma, contoh : penderita paralisi oleh karena gangguan pada spinal cord akibat injury. Ketidakmampuan sekunder : terjadi dampak akibat ketidakmampuan secara primer, misal kelemahan otot dan bedrest.penyakit-penyakit tertentu dan cidera berpengaruh terhadap mobilitas.

LANJUTAN. 3. Tingkat energi Energi dibutuhkan salah satunya adalah untuk mobilisasi, tiap individu mempunyai energi yang bervariasi dan ada kecenderungan seseorang menghindar dari stressor dalam rangka mempertahankan kesehatn fisik dan psikologis. 4. Usia Usia berpengaruh terhadap kemampuan melakukan mobilisasi, pada orang tua secara fisiologis ada penurunan pada aktifitas dan mobilisasi dikaitkan dengan tingkat tumbuh kembang orang sejak lahir sampai menjelang usia lanjut.

IMMOBILITAS Pengertian Pembatasan gerak yang sifatnya untuk pengobatan atau terapi, seperti pada penderita tindakan pembedahan, penderita injury pada tungkai dan lengan.. Keharusan (tidak dapat dihindari) karena ketidakmampuan primer, seperti penderita paralysis. Pembatasan secara otomatis samapai dengan gaya hidup

MACAM2 IMMOBILITAS 1. Imobilitas fisik Yaitu suatu keadaan dimana seseorang mengalami pembatasan fisik yang disebabkan oleh factor lingkungan maupun keadaan orang tersebut. 2. Imobilitas intelektual Dapat disebabkan kurangnya pengetahuan untuk dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Pada kasus kerusakan otak. 3. Imobilitas emotional Dapat terjadi akibat pembedahan atau kehilangan seseorang yang dicintai.

LANJUTAN 4. Imobilitas sosial Dapat menyebabkan perubahan interaksi sosial yang sering terjadi akibat penyakit.

DAMPAK ATAU RESPON BAIK FISIK MAUPUN PSIKOLOGIS AKIBAT IMOBILISASI 1. Sistem musculoskeletal Pada sisitem ini dapat terjadi osteoporosis (tulang menjadi rapuh dan mudah rusak atau fraktur) karena otot tidak dipergunakan dalam waktu lama menyebabkan atropi otot, kontraktur sering mengenai jaringan lunak : sendi, tendon dan ligament. Selain itu dapat menyebabkan ulkus dekubitus akibat sirkulasi pada area tertentu tidak baik disertai dengan adanya penekanan secara terus menerus yang menyebabkan kerusakan pada kulit, gangguan koordinasi pada ekstrimitas atas dan bawah. Upaya penceghan : membatasi kemmapuan klien melaksanakan aktifitas sehari-hari, membatu keseimbangan dan kemmapuan klien untuk berdiri dan berjalan.

PROSES ULKUS DEKUBITUS Imobilisasi Mengakibatkan penekanan pada daerah yang menonjol Tanda yang terlihat : kemerahan, luka pada kulit di ats tulang prominence Penekanan mengakibatkan terhambatnya sirkulasi darah ke jaringan sehingga menyebabkan iskemic lokal Jaringan akan mati dan anoxia selanjutnya menimbulkanlperlukaan.

2. Eleminasi urine Menyebabkan stasis urin karena posisi berbaring tidak dapat mengosongkan kandung kemih drcara sempurna, pembentukan batu akibat stagnasi urin disertai peningkatan mineral dan inkontinensia urin akibat kurang aktivitas dan pengontrolan urinasi menurun, resiko terjadi renal calculi akibat kenaikan tingkat kalsium dalam urin

3. Metabolisme gastrointestinal Mempengaruhi tiga fungsi sistem gastrointestinal yaitu pada fungsi ingesti, digesti dan eleminasi yang meyebabkan anoreksia, diare atau konstipasi. Anoreksia adanya gangguan katabolisme yang meyebabkan ketidakseimbangan nitrogen, kontipasi akibat kelemahan otot serta kemunduran reflek defekasi

4. RESPIRASI Penurunan gerakan pernafasan akibat pembatasan gerak, kehilangan kordinasi otot atau mungkin akibat otot kurang digunakn, dapat juga akibat obatobat tertentu misal obat sedative dan analgesic. Ketidakseimbangan oksigen dan karbondioksida akibat penurunan gerakan pernafasan sehingga pemasukan O 2 dan pengeluaran CO 2 menurun, sekresi mucus lebih kental dan menempel sepanjang tractus rerspiratorius, kelemahn otot thorax, ketidakmampuan inhalasi maksimal, gerakan cilliary menurun sehingga mekanisme batuk terganggu lalu mokus menjadi statis dan ini mengakibatkan berkembangnya bakteri pada tractus respiratori bagian bawah.

5. KARDIOVASKULER Dapat terjadi hipotensi orthostatic karena sistem saraf otonom tidak dapat menjaga keseimbangan suplai darah ke tubuh sewaktu seseorang berdiri dari tempat berbaring dalam waktu yang lama. Formasi thrombus (massa padat darah yang terbentuk di jantung atau pembuluh darah), hal ini terjadi karena pendorongan darah ke vena dimana darah tersebut tidak aktif dan mempunyai vikositas tinggi akibat dehidrai atau tekanan dari luar pada vena.

6.METABOLISME DAN NUTRISI Basa metabolisme rate menjadi turun : sehingga kebutuhan energi dari tubuh, motilitas gastrointestinal dan sekresi kelenjar digestive menjadi menurun, ketidakseimbangan proses anabolisme dan katabolisme sehinggga menyebabkan nitrogen diekskresikan secara berlebihan dan selanjutnya terjadi negative nitrogen balance, anoreksi terjadi akibat intake kalori protein rendah dalam jangka waktu yang lama dapat berakibat malnutrisi

7.SISTEM INTEGUMEN Elastisitas kulit menjadi turun, ischemic dan nekrosis jaringan superficial : mengakibatkan ulkus dekubitus yang tersering.

8.SISTEM NEUROSENSORY Ketidakmampuan merubah posisi menyebabkan hambatan dalam input sensori, perasaan lelah, irritable, persepsi tidak realistic dan mudah bingung.

TINGKATAN IMOBILISASI 1. Imobilitas komplit Dilakukan pada penderita yang mengalami gangguan tingkat kesadaran. 2. Imobilitas parsial Pada klien dengan gangguan fraktur, misal fraktur pada ekstrimitas bawah (kaki). 3. Imobilitas alasan pengobatan Hal ini dilakukan pada penderita yang dengan gangguan pernafasan seperti sesak nafas tidak boleh naik turun tangga, atau pada penderita penyakit jantung.

Pada bedrest total : klien tidak boleh bergerak dari tempat tidur dan tidak boleh bergerak ke kamar mandi atau duduk di kursi, namun apabila bedrest bukan total klien istirahat ditempat tidur boleh bergerak dari tempat tidur dan boleh bergerak ke kamar mandi atau duduk di kursi. Keuntungan bedrest : (a) mengurangi kebutuhan sel dalam tubuh terhadap oksigen, (2) menyalurkan sumber energi untuk proses penyembuhan dan (3) dapat mengurangi respon nyeri.

KLIEN DENGAN RESIKO TERHADAP MASALAH SAMPAI DENGAN DILAKUKAN IMOBILITAS Ada riwayat imobilitas masa lalu Penderita lanjut usia Penderita dengan nyeri atau spasme otot. Penderita mengalami penurunan sensitivitas terhadap temperature, nyeri dan tekanan. Penderita dengan masalah nutrisi Penderita dengan masalah satu sisi tubuh dalam waktu yang lama.

SEKIAN DAN TERIMA KASIH