POLA MAKAN, KECUKUPAN GIZI DAN STATUS GIZI BALITA PADA KELUARGA MISKIN DI PERUMNAS MANDALA, KELURAHAN KENANGAN BARU

dokumen-dokumen yang mirip
KUESIONER POLA MAKAN, KECUKUPAN GIZI DAN STATUS GIZI BALITA PADA KELUARGA MISKIN DI PERUMNAS MANDALA, KELURAHAN KENANGAN BARU

POLA MAKAN DAN KERAGAMAN MENU ANAK BALITA PADA KELUARGA MISKIN DI KECAMATAN MEDAN TUNTUNGAN TAHUN 2005

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. hidup anak sangat tergantung pada orang tuanya (Sediaoetama, 2008).

Adequacy Levels of Energy and Protein with Nutritional Status in Infants of Poor Households in The Subdistrict of Blambangan Umpu District of Waykanan

HUBUNGAN KETAHANAN PANGAN KELUARGA DAN POLA KONSUMSI DENGAN STATUS GIZI BALITA KELUARGA PETANI (Studi di Desa Jurug Kabupaten Boyolali Tahun 2017)

TINGKAT PENGETAHUAN TERHADAP POLA MAKAN DAN STATUS GIZI ANAK BALITA DI TAMAN KANAK KANAK DENPASAR SELATAN

KUESIONER PENELITIAN

POLA MAKAN DAN STATUS GIZI BALITA DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) DAN DAERAH TRANDAS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SINGKIL

ABSTRACT. Keywords : mother behavior, early marriage, under five years old nutrition

BAB I PENDAHULUAN. 18 tahun. Di Indonesia BPS (2008) mencatat bahwa sekitar 34,5% anak perempuan

HUBUNGAN POLA KONSUMSI MAKANAN DAN KONSUMSI SUSU DENGAN TINGGI BADAN ANAK USIA 6-12 TAHUN DI SDN BALIGE

GAMBARAN KONSUMSI PANGAN DAN STATUS GIZI ANAK JALANAN DI KOTA MEDAN TAHUN 2014 ABSTRACT

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DAN POLA KONSUMSI DENGAN STATUS GIZI BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SAMIGALUH I

GAMBARAN POLA KONSUMSI ANAK STUNTING DI SDN KELURAHAN TANAH ENAM RATUS KECAMATAN MEDAN MARELAN

Lampiran 1 Kuesioner Penelitian Kode Responden:

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

GIZIDO Volume 7 No. 1 Mei 2015Pola Makan, Asupan Zat Gizi Rivolta W, dkk

ABSTRAK. Annisa Denada Rochman, Pembimbing I : Dani dr., M.Kes. Pembimbing II : Budi Widyarto Lana dr., MH.

KUESIONER PENELITIAN PERILAKU DIET IBU NIFAS DI DESA TANJUNG SARI KECAMATAN BATANG KUIS KABUPATEN DELI SERDANG. 1. Nomor Responden :...

HUBUNGAN PENGELUARAN, SKOR POLA PANGAN HARAPAN (PPH) KELUARGA, DAN TINGKAT KONSUMSI ENERGI-PROTEIN DENGAN STATUS GIZI BALITA USIA 2-5 TAHUN

ABSTRAK GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU DALAM PENERAPAN KELUARGA SADAR GIZI DI PUSKESMAS BABAKAN SARI KELURAHAN SUKAPURA BANDUNG 2011

Beberapa Faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Balita Stunting

ABSTRAK SHERLY RACHMAWATI HERIYAWAN

GAMBARAN PENYEDIAAN PANGAN DAN STATUS GIZI BALITA PADA KELUARGA PETANI DI DESA HUTAPUNGKUT KECAMATAN KOTANOPAN KABUPATEN MANDAILING NATAL TAHUN 2011

HUBUNGAN PERILAKU KONSUMSI MAKANAN DENGAN STATUS GIZI PNS BAPPEDA KABUPATEN LANGKAT TAHUN 2015

BAB I PENDAHULUAN. sumber daya manusia (SDM) ke arah peningkatan kecerdasan dan produktivitas kerja.

GAMBARAN KELUARGA SADAR GIZI (KADARZI) DAN STATUS GIZI ANAK BALITA DI KABUPATEN BULUKUMBA; STUDI ANALISIS DATA SURVEI KADARZI DAN PSG SULSEL 2009

Mona Sylvia J. Manullang¹, Albiner Siagian², Arifin Siregar²

I. PENDAHULUAN. suatu bangsa. Untuk mencapai ketahanan pangan diperlukan ketersediaan. terjangkau dan aman dikonsumsi bagi setiap warga untuk menopang

HUBUNGAN ANTARA ASUPAN ENERGI DENGAN STATUS GIZI PADA PELAJAR SMP NEGERI 10 KOTA MANADO.

PROFIL STATUS GIZI ANAK BATITA (DI BAWAH 3 TAHUN) DITINJAU DARI BERAT BADAN/TINGGI BADAN DI KELURAHAN PADANG BESI KOTA PADANG

HUBUNGAN ANTARA RIWAYAT PENYAKIT INFEKSI DENGAN STATUS GIZI PADA ANAK BATITA DI DESA MOPUSI KECAMATAN LOLAYAN KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW

THE FACTORS ASSOCIATED WITH POOR NUTRITION STATUS ON TODDLERS IN THE PUSKESMAS PLERET BANTUL REGENCY YEARS Rini Rupida 2, Indriani 3 ABSTRACK

Maria Kareri Hara. Abstract

POLA MAKAN DAN STATUS GIZI PADA ANAK ETNIS CINA DI SD SUTOMO 2 DAN ANAK ETNIS BATAK TOBA DI SD ANTONIUS MEDAN TAHUN 2014

GAMBARAN KONSUMSI BUAH, SAYUR DAN KECUKUPAN SERAT PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI SD NEGERI MEDAN SKRIPSI. Oleh ANGGI RARA NIM.

NASKAH PUBLIKASI HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP ANAK SEKOLAH DENGAN KONSUMSI SAYUR DAN BUAH PADA ANAK SEKOLAH DASAR NEGERI GODEAN 1 KABUPATEN SLEMAN

SMP/Mts PT (Sarjana) 3. Jenis Kelamin Balita : Laki laki Perempuan 4. Umur Balita :

POLA KONSUMSI SARAPAN PAGI MURID SEKOLAH DASAR DI SDN KECAMATAN MEDAN SUNGGAL TAHUN 2015 ABSTRACT

BAB I PENDAHULUAN. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Indonesia sangat dipengaruhi oleh rendahnya

BAB I PENDAHULUAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Anak balita merupakan kelompok yang menunjukkan pertumbuhan yang

HUBUNGAN ASUPAN ENERGY DAN PROTEIN DENGAN STATUS GIZI BALITA DI KELURAHAN TAMAMAUNG

HUBUNGAN PERILAKU IBU DALAM PEMBERIAN ASI DAN MP-ASI DENGAN PERTUMBUHAN BADUTA USIA 6-24 BULAN (Studi di Kelurahan Kestalan Kota Surakarta)


GAMBARAN PERILAKU SADAR GIZI PADA KELUARGA YANG MEMILIKI BALITA GIZI KURANG DAN GIZI BURUK YANG ADA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DESA LALANG TAHUN 2014

BAB I PENDAHULUAN. seutuhnya dan pembangunan masyarakat seluruhnya. Untuk menciptakan sumber daya

LAMPIRAN 1 FORMULIR FOOD RECALL 24 JAM

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kesempatan Indonesia untuk memperoleh bonus demografi semakin terbuka dan bisa

METODE HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Gambaran Umum Desa Trans Pirnak Marenu Kecamatan Aek Nabara Barumun Kabupaten Padang Lawas

NETTY RAPHITA MAICHEL SITOMPUL NIM

Hubungan Antara Tingkat Konsumsi Energi, Protein dan Daya Beli Makanan dengan Status Gizi pada Remaja di SMP Negeri 2 Banjarbaru

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Status gizi adalah suatu keadaan tubuh yang diakibatkan oleh

KUESIONER PENELITIAN

Secara umum seluruh keluarga contoh termasuk keluarga miskin dengan pengeluaran dibawah Garis Kemiskinan Kota Bogor yaitu Rp. 256.

METODE PENELITIAN Desain, Waktu dan Tempat Cara Pemilihan Contoh

BAB I PENDAHULUAN. Masalah gizi kurang sering terjadi pada anak balita, karena anak. balita mengalami pertumbuhan badan yang cukup pesat sehingga

FORMAT PERSETUJUAN RESPONDEN

HUBUNGAN PENGETAHUAN GIZI DAN POLA MAKAN PADA REMAJA PUTRI DENGAN KEJADIAN ANEMIA DI SMP NEGERI 2 KOTAPINANG KABUPATEN LABUHAN BATU SELATAN TAHUN 2014

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Anak balita merupakan kelompok usia yang rawan masalah gizi dan penyakit.

HUBUNGAN PERILAKU KONSUMSI MAKANAN DENGAN STATUS GIZI PNS BAPPEDA KABUPATEN LANGKAT TAHUN 2015

BAB 1 PENDAHULUAN. yang berkualitas. Dukungan gizi yang memenuhi kebutuhan sangat berarti

KONSUMSI PANGAN, PENYAKIT INFEKSI, DAN STATUS GIZI ANAK BALITA PASCA PERAWATAN GIZI BURUK

BAB I PENDAHULUAN. usia dini sangat berdampak pada kehidupan anak di masa mendatang. Mengingat

PENGETAHUAN IBU DALAM PEMENUHAN GIZI TERHADAP TUMBUH KEMBANG BALITA DI PUSKESMAS LAK-LAK KUTACANE ACEH TENGGARA

HUBUNGAN ANTARA ASUPAN ENERGI DENGAN STATUS GIZI BATITA UMUR 1-3 TAHUN DI DESA MOPUSI KECAMATAN BOLAANG MONGONDOW INDUK SULAWESI UTARA 2014

PERILAKU KONSUMSI GIZI SEIMBANG DAN STATUS GIZI PADA REMAJA PUTRI DI SMAN 1 TARUTUNG TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan anak di periode selanjutnya. Masa tumbuh kembang di usia ini

HUBUNGAN PERSEPSI BODY IMAGE DAN KEBIASAAN MAKAN DENGAN STATUS GIZI ATLET SENAM DAN ATLET RENANG DI SEKOLAH ATLET RAGUNAN JAKARTA

Jurnal Keperawatan, Volume XII, No. 2, Oktober 2016 ISSN

BAB II TINJAUAN TEORI. dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi,

Lampiran 1: Kuesioner Penelitian KUESIONER A. DATA RESPONDEN

BAB I PENDAHULUAN. Konsumsi yang berkualitas dapat diwujudkan apabila makanan yang. kesadaran terhadap pangan beragam, bergizi, seimbang dan aman.

KUESIONER HUBUNGAN PENGETAHUAN, POLA MAKAN, DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KEJADIAN GIZI LEBIH PADA MAHASISWA FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT USU TAHUN 2015

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Karakteristik sosial-ekonomi keluarga: Pendidikan Pekerjaan Pendapatan Besarnya keluarga. Pengetahuan, sikap, dan praktik ibu contoh.

BAB I PENDAHULUAN. 24 bulan merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat,

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG KADARZI DENGAN ASUPAN ENERGI DAN STATUS GIZI ANAK BALITA DI DESA JAGAN KECAMATAN BENDOSARI KABUPATEN SUKOHARJO

Lampiran 1 KUESIONER PENELITIAN. Ketersediaan Pangan Berdasarkan Karakteristik Keluarga di Lingkungan XIII Kelurahan Tanjung Rejo Medan Tahun 2013

CHMK NURSING SCIENTIFIC JOURNAL Volume 1. No 2 OKTOBER Joni Periade a,b*, Nurul Khairani b, Santoso Ujang Efendi b

PERUBAHAN POLA KONSUMSI DAN STATUS GIZI MAHASISWA PUTRA DAN PUTRI TPB IPB TAHUN 2005/2006 PESERTA FEEDING PROGRAM

ABSTRAK. Kata kunci : Balita, Status gizi, Energi, Protein PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

METODE PENELITIAN. n1 = = 35. n2 = = 32. n3 =

BAB I PENDAHULUAN. perkotaan dan pedesaan berdasarkan kriteria klasifikasi wilayah. desa/kelurahan (Badan Pusat Statistik {BPS}, 2010).

ASUPAN GIZI MAKRO, PENYAKIT INFEKSI DAN STATUS PERTUMBUHAN ANAK USIA 6-7 TAHUN DI KAWASAN PEMBUANGAN AKHIR MAKASSAR

HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang

Meiti Mahar Resy 1, Yulia Wahyuni, S.Kep, M.Gizi 2, Dudung Angkasa, S.Gz, M.Gizi 2

METODE. PAUD Cikal Mandiri. PAUD Dukuh. Gambar 2 Kerangka pemilihan contoh. Kls B 1 :25. Kls A:20. Kls B 2 :30. Kls B:25. Kls A:11

BAB I PENDAHULUAN. mewujudkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing, maka

BAB 1 PENDAHULUAN. lingkungan sosial yang ada di masyarakat umum di luar rumah. Seorang anak TK

KATA PENGANTAR. Lampiran 1. Angket Penelitian

METODOLOGI Desain, Tempat dan Waktu Penelitian Jumlah dan Teknik Penarikan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data

GAMBARAN POLA KONSUMSI PANGAN DENGAN PENDEKATAN POLA PANGAN HARAPAN PADA KELUARGA PEROKOK DI KECAMATAN BERASTAGI

TINJAUAN PUSTAKA Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)

POLA PEbfBERIAN MAKAN DAM PREFERENSI MAKANAN YAfdBAHAS WHAK DB BiWAEI UMIBW DUA TAMUN Dl DESA DAN Dl KOTA

BAB 1 PENDAHULUAN. (SDM) yang berkualitas, sehat, cerdas, dan produktif (Hadi, 2005). bangsa bagi pembangunan yang berkesinambungan (sustainable

POLA MAKAN ANAK DENGAN STATUS GIZI ANAK USIA 6-8 TAHUN DI SD WILAYAH KELURAHAN CEMPAKA

GAMBARAN KEJADIAN GIZI BURUK PADA BALITA DI PUSKESMAS CARINGIN BANDUNG PERIODE SEPTEMBER 2012 SEPTEMBER 2013

Transkripsi:

1 POLA MAKAN, KECUKUPAN GIZI DAN STATUS GIZI BALITA PADA KELUARGA MISKIN DI PERUMNAS MANDALA, KELURAHAN KENANGAN BARU Chintya Nurul Aidina¹, Zulhaida Lubis², Fitri Ardiani² ¹Mahasiswi Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat FKM USU ²Dosen Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat FKM USU Jl. Universitas 1 Kampus USU Medan, 155 Email: aidinachintyanurul@gmail.com ABSTRACT Food patterns of under five years old in poor families consume staple food such as rice, side dishes, vegetables and fruits are very limited. This study aimed to determine food patterns, nutrition adequacy and nutritional status of children in poor families. The research was a descriptive survey, cross-sectional design. Sample in this study consisted of 65 children taken from 196 children. Respondents in this study were mothers of children under five. Collecting data on family characteristics obtained through interviews using a questionnaire, toddler food consumption data obtained through food recall and food frequency data using scales weight toddlers underfoot and data using microtoise toddler height. The results showed that the diet of children under five according to the type of food consumed staple is rice, side dishes are consumed eggs, and tempeh, vegetables are often consumed are spinach, and fruits consumed is papaya. Generally good level of energy consumption by 5,8%, good protein consumption level of 1%, and the rate of consumption of good fats 46,%. Nutritional status (BB/U) are good at 9,%, nutritional status (TB/U) are normal at 66,% and nutritional status (BB/TB) are normal at 9,%. Suggestions of this study was to local health officials are expected to focus more on education, especially for mothers of children under five in improving nutrition in particular on the provision of food within the household level which is very important to support improved nutrition of children under five. Keywords: poor families food pattern, nutrition adequacy, nutritional status, children under five years old, PENDAHULUAN Pola makan balita secara umum hampir sama dengan pola makan keluarga. Hanya saja pola makan yang baik untuk anak yaitu dengan memperhatikan kebutuhan gizi anak dan sesuai dengan jadwal usianya. Pada usia balita (1-5 tahun), sudah dapat dikenalkan dengan makanan rumah atau makanan keluarga dengan variasi makanan yang lebih beragam dengan mengolah makanan yang memenuhi standar gizi seimbang dengan pilihan menu yang bervariasi sehingga anak tidak cepat bosan (Adriani, 14). Ditinjau dari sudut pendistribusian makanan, sebagian rumah tangga cenderung untuk memprioritaskan suami daripada anggota rumah tangga lainnya. Suami biasanya dianggap yang paling berkuasa maka dari itu diberikan keistimewaan dalam banyak hal, termasuk hal khusus untuk mendapat bagian makanan yang paling baik dan paling banyak. Menurut Sediaoetama (8) anak-anak, terutama balita harus diberikan jatah utama dalam distribusi makanan rumah tangga karena anak-anak sedang dalam proses pertumbuhan yang sangat pesat sehingga memerlukan zat-zat makanan yang relatif lebih banyak dengan kualitas yang lebih baik. Berdasarkan hasil penelitian Realita (1) mengenai hubungan antara pola makan

dengan pertumbuhan balita yang menjelaskan bahwa konsumsi makanan atau dalam pola pemberian makan yang baik berpengaruh terhadap status gizi dan pertumbuhan balita. Status gizi baik bila tubuh memperoleh asupan gizi yang baik, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik dan kesehatan secara umum pada keadaan umum sebaik mungkin. Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan zat gizi. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 1 menunjukkan bahwa prevalensi kurus dan sangat kurus (wasting) berdasarkan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) pada anak balita berjumlah 1,1% menurun dari 1,% pada tahun Angka kejadian gizi buruk pada tahun 8 yang mendapat perawatan sebanyak 464 kasus, dan pada tahun 9 sebanyak 56.941 kasus. Prevalensi anak pendek secara nasional tahun 1 adalah 7,% meningkat dibandingkan tahun 1 yang berjumlah 5,6% dan 7 berjumlah 6,8%. Prevalensi tersebut terdiri dari 18,% sangat pendek dan 19,% pendek. Secara nasional, prevalensi gizi kurang pada balita mengalami perubahan yang fluktuatif dari tahun 7 sampai dengan tahun 1 yaitu jumlah gizi kurang dan gizi buruk mencapai 18,4% kemudian mengalami kenaikan menjadi 19,6% (Riskesdas 1). Berdasarkan hasil survei pendahuluan, pola makan balita pada keluarga miskin hanya mengonsumsi makanan pokok berupa nasi dengan lauk pauk. Lauk pauk yang biasa dikonsumsi adalah tahu, tempe, ikan, dan telur. Sementara itu, daging sangat jarang dikonsumsi karena harganya relatif mahal. Konsumsi sayur dan buah juga masih sangat terbatas. Frekuensi makan balita tersebut hanya kali dalam sehari. Kelurahan Kenangan Baru di Perumnas Mandala adalah salah satu kelurahan dengan penduduk miskin. Mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai pedagang, yaitu membuka kedai kecil, sebagai supir angkot dan tukang becak dengan rentang penghasilan antara Rp 5. - Rp 8. untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Penghasilan yang rendah dikhawatirkan dapat mempengaruhi ketersediaan pangan anak sehingga memungkinkan konsumsi pangan dan gizi anak rendah. Tingkat penghasilan juga menentukan jenis pangan yang akan dibeli. Indikator dari keluarga miskin di Kelurahan Kenangan Baru Perumnas Mandala adalah keluarga tersebut mendapat bantuan seperti beras miskin (raskin), dan keluarga miskin yang memiliki balita diberikan bantuan dari Puskesmas yaitu Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berupa biskuit, susu dan beras jimpitan. Berdasarkan data dari Kelurahan Kenangan Baru tahun 14 di Perumnas Mandala menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin sebanyak.64 orang dan sebesar 196 orang (5,%) diantara penduduk miskin tersebut memiliki balita. Masalah gizi kurang berdasarkan BB/U juga terdapat di Perumnas Mandala, Kelurahan Kenangan Baru sebanyak orang. METODE Jenis penelitian ini adalah penelitian survei yang bersifat deskriptif. Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah crossectional. Lokasi penelitian ini di Perumnas Mandala, Kelurahan Kenangan Baru, dilakukan pada bulan Januari 15 sampai dengan bulan Agustus 15. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita dari keluarga miskin di Perumnas Mandala, Kelurahan Kenangan Baru. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian dari populasi yaitu sebanyak 65 balita. Pengolahan data meliputi analisis deskriptif kemudian disajikan dalam bentuk tabel tabulasi silang dan tabel distribusi frekuensi. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Kelurahan Kenangan Baru Berdasarkan hasil pengumpulan data menggunakan kuesioner, gambaran umum Kelurahan Kenangan Baru di Perumnas Mandala menurut karakteristik keluarga ditampilkan pada tabel 1 sebagai berikut:

Tabel.. 4. 5. Distribusi Karakteristik Keluarga di Kelurahan Kenangan Baru Karakteristik Ayah Ibu Keluarga n % n % Umur 1-5 tahun 6 9,. 6- tahun 5,4 6 55,4. 1-5 tahun 46, 18 7,7 4. 6-4 tahun 1 18,5 5 7,7 65 65 Anggota Keluarga -4 orang 4 61,5 4 61,5. 5-6 orang 5,4 5,4. 7 orang,1,1 65 65 Agama Islam 4 64,6 4 64,6. Protestan,8,8. Khatolik 4,6 4,6 65 65 Pendidikan SD 4,6 16 4,6. SMP 6 4, 8 4,1. SMA 9 44,6 1, 4. D/S1 7 1,8 65 65 Pekerjaan Pedagang 4 64,6,1. Tukang Becak 7 1,8. Supir Angkot 14 1,5 4. Buruh,1 7 1,8 5. IRT 56 86, 65 65 Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa sebagian besar umur ayah pada 1 5 tahun sebesar 46,%, dan ibu pada umur 6 tahun sebesar 55,4%. anggota keluarga terbanyak yaitu antara 4 orang sebesar 61,5%. Mayoritas agama yang dianut yaitu agama islam sebesar 64,6%. Tingkat pendidikan terakhir ayah sebagian besar pada pendidikan SMA sebesar 44,6%, dan tingkat pendidikan terakhir ibu sebagian besar pada pendidikan SMP sebesar 4,1%. Mayoritas pekerjaan ayah adalah sebagai pedagang sebesar 64,6%, dan pekerjaan ibu sebagian besar adalah sebagai ibu rumah tangga sebesar 86,%. Tabel.. Distribusi Karakteristik Balita di Kelurahan Kenangan Baru Karakteristik Balita n % Umur Balita 4 6 bulan 46,. 7 6 bulan 5 5,8 65 Jenis Kelamin Laki Laki 46,. Perempuan 5 5,8 65 Berdasarkan tabel dapat dilihat bahwa umur balita pada 4 6 bulan sebesar 46,% dan umur balita pada 7 6 bulan adalah 5,8%. Jenis kelamin laki-laki sebesar 46,% dan jenis kelamin perempuan sebesar 5,8%.. Pola Makan Balita Pola makan yang baik mengandung makanan pokok, lauk-pauk, buah-buahan dan sayur-sayuran serta dimakan dalam jumlah cukup sesuai dengan kebutuhan. Tabel. Distribusi Pola Makan Balita di Kelurahan Kenangan Baru Pola Makan n % Lengkap 8 4,1. Tidak Lengkap 7 56,9 65 Berdasarkan tabel dapat dilihat bahwa pola makan lengkap sebesar 4,1% dan pola makan tidak lengkap sebesar 56,9%.

4 Tabel 4. Distribusi Jenis dan Frekuensi Bahan Makanan Balita di Kelurahan Kenangan Baru Frekuensi Jenis Makanan 1- x/hr 4-6 x/mgg 1- x/mgg 1 x/bulan n % n % N % n % n % Makanan Sumber Energi Nasi 65 1 65 1 Makanan Sumber Protein Ikan 6 9, 4 5, 5 8,46 65 1 Daging Ayam 5 7,69 4 6,9 8 4,7 8 1, 65 1 Daging Sapi 5 7,69 18 7,69 4 64,61 65 1 Telur 8 1, 48 7,84 9 1,84 65 1 Tahu 5 7,69 6 55,8 4 6,9 65 1 Tempe 7 1,76 4 64,61 16 4,61 65 1 Sayur-Sayuran Bayam 1 15,8 17 6,15 8 58,46 65 1 Tauge 4 6,15 5,8 8 58,46 65 1 Kol/Wortel/Buncis 4,61 8 4,7 9 44,61 5 7,69 65 1 Kentang 4,61 5,8 1 47,69 8 1, 65 1 Kacang Panjang 4 6,15 7 41,5 1 47,69 4,61 65 1 Daun Ubi 7 1,76,84 5,76 4,61 65 1 Kangkung 1 15,8 16 4,61 8 58,46 1 1,5 65 1 Buah-Buahan Pisang 4 6,15 6 55,8 5 8,46 65 1 Pepaya 5 7,69,84 5,8 15,7 65 1 Jeruk 1 1,5 8 1, 18 7,69 8 58,46 65 1 Rambutan 5 7,69 9 44,61 1 47,69 65 1 Buah-buahan lain 4,61 1 18,46 8 4,7,84 65 1 Susu 49, 1, 1 18,46 65 1 Jajanan Kerupuk,7 9 1,84 4 61,5 14 1,5 65 1 Biskuit/Roti 5 16,9 15,7 46,15 15 1,5 65 1 Chiki dan lain-lain 4 6,15 15,7 8 58,46 8 1, 65 1 Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat bahwa sebagian besar pangan sumber karbohidrat yang dikonsumsi balita adalah nasi dengan frekuensi 1-x/hari sebesar 1%. Konsumsi sumber protein dari pangan hewani balita pada umumnya adalah telur dengan frekuensi 4-6x/mgg sebesar 7,84%, dan sebagian kecil balita mengonsumsi daging sapi sebesar 64,61% dengan frekuensi 1x/bulan. Hal ini diasumsikan karena mahalnya harga daging sehingga keluarga kurang mampu untuk membeli daging. Konsumsi sumber vitamin dari sayursayuran yang sering dikonsumsi balita yaitu bayam, tauge dan kangkung sebesar 58,46% dengan frekuensi 1-x/mgg. Konsumsi sumber vitamin dari buahbuahan yang sering dikonsumsi yaitu pepaya sebesar 7,69% dengan frekuensi 1-x/hari. Konsumsi makanan selingan balita sebagian besar mengonsumsi makanan ringan seperti biskuit/roti sebesar 16,9% dengan frekuensi 1-x/hari. Tabel 5. Distribusi Kecukupan Energi di Kelurahan Kenangan Baru Kecukupan Zat Gizi n % Kecukupan Energi 5 5,8 5 8,5 5 7,7 65. Kecukupan Protein Baik 65 65. Kecukupan Lemak 4. Defisit 46, 46, 4,6,1 65 Berdasarkan tabel 5 dapat dilihat bahwa kecukupan energi baik sebesar 5,8%, kecukupan protein baik sebesar 1%, dan kecukupan lemak baik sebesar 46,%.

5. Status Gizi Balita Dari hasil penelitian diperoleh status gizi anak balita berdasarkan indeks berat badan menurut umur (BB/U), tinggi/panjang badan menurut umur (TB/U) dan berat badan menurut tinggi/panjang badan (BB/TB). Tabel 6. Distribusi Status Gizi Balita di Kelurahan Kenangan Baru Status Gizi n % BB/U Kurang 5 7,7. Baik 6 9, 65 TB/U. Pendek,8. Normal 4 66, 65 BB/TB. Kurus 5 7,7. Normal 6 9, 65 Hasil penelitian mengenai gambaran status gizi (BB/U), dapat dilihat bahwa status gizi kurang sebesar 7,7%. Gambaran status gizi (TB/U), dapat dilihat status gizi pendek sebesar,8%. Gambaran status gizi (BB/TB), dapat dilihat status gizi kurus sebesar 7,7%, dan status gizi normal adalah sebesar 9,%, hal ini dikarenakan bahwa ibu kurang memperhatikan dalam hal pemberian makanan yang bergizi pada balita sehingga balita mengalami masalah gizi pada awal pertumbuhannya. Balita yang mengalami status gizi kurang, pendek dan kurus di Kelurahan Kenangan Baru merupakan keluarga besar yang jumlah anggota keluarga yaitu sebanyak 6 sampai dengan 7 orang. Hal ini sesuai dengan pendapat Harper (1), keluarga miskin dengan jumlah anak yang banyak akan lebih sulit untuk memenuhi kebutuhan pangannya, jika dibandingkan keluarga dengan jumlah anak sedikit. Hal ini diikuti pendapat Suhardjo () yang menyatakan bahwa jumlah anggota keluarga juga mempunyai pengaruh terhadap timbulnya masalah gizi. 4. Pola Makan dan Kecukupan Gizi Balita Berdasarkan Status Gizi Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Status gizi baik terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat gizi yang digunakan secara efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. Tabel 7. Distribusi Status Gizi (BB/U) Berdasarkan Pola Makan di Kelurahan Kenangan Baru Status Gizi (BB/U) Pola Makan Kurang Baik Lengkap 8 8. Tidak Lengkap 5 1,5 86,5 7 Berdasarkan tabel 7 dapat dilihat bahwa sebagian besar balita pada status gizi baik memiliki pola makan lengkap sebesar 1%. Balita pada status gizi kurang memiliki pola makan tidak lengkap sebesar 1,5%. Balita yang memiliki pola makan yang tidak lengkap ditemukan pada ibu dengan tingkat pendidikan terakhir SD dan SMP sehingga diasumsikan ibu kurang mengetahui pola pemberian makanan yang seharusnya diberikan kepada balitanya. Kartika () menjelaskan bahwa perilaku pemberian makanan berhubungan secara bermakna dengan tingkat pendidikan ibu dan status gizi anak.

6 Tabel 8. Distribusi Status Gizi (TB/U) Berdasarkan Pola Makan di Kelurahan Kenangan Baru Status Gizi (TB/U) Pola Makan Pendek Normal Lengkap 8 8. Tidak Lengkap 59,5 15 4,5 7 Berdasarkan tabel 8 dapat dilihat bahwa sebagian besar balita pada status gizi normal memiliki pola makan lengkap sebesar 1%. Balita pada status gizi pendek memiliki pola makan tidak lengkap sebesar 59,5%. Pola makan pada balita sangat berperan penting dalam proses pertumbuhan pada balita, karena dalam makanan banyak mengandung gizi. Gizi menjadi bagian yang sangat penting dalam pertumbuhan. Gizi di dalamnya memiliki keterkaitan yang sangat erat hubungannya dengan kesehatan dan kecerdasan. Jika pola makan tidak tercapai dengan baik pada balita maka pertumbuhan balita akan terganggu, tubuh kurus, pendek bahkan bisa terjadi gizi buruk pada balita (Realita, 1). Tabel 9. Distribusi Status Gizi (BB/TB) Berdasarkan Pola Makan di Kelurahan Kenangan Baru Status Gizi (BB/TB) Pola Makan Kurus Normal Lengkap 8 8. Tidak Lengkap 5 1,5 86,5 7 Berdasarkan tabel 9 dapat dilihat bahwa sebagian besar balita pada status gizi normal memiliki pola makan lengkap sebesar 1%. Balita pada status gizi kurus memiliki pola makan tidak lengkap sebesar 1,5%. Berdasarkan hasil penelitian Wello (8), yang mengatakan bahwa ada hubungan antara pola makan dengan status gizi pada balita di Semarang. Semakin baik pola makan yang diterapkan orang tua pada anak maka semakin meningkat status gizi anak tersebut. Sebaliknya, status gizi berkurang apabila orang tua menerapkan pola makan yang salah pada anak. Tabel Distribusi Status Gizi (BB/U) Berdasarkan Tingkat Konsumsi Zat Gizi Konsumsi Zat Gizi Konsumsi Energi Status Gizi (BB/U) Kurang Baik 5 5 5 5 5 5. Konsumsi Protein Baik 5 7,7 6 9, 65. Konsumsi Lemak 4. Defisit Dalam hal status gizi (BB/U) berdasarkan tingkat konsumsi zat gizi, diperoleh bahwa sebagian besar balita memiliki status gizi baik pada tingkat

7 konsumsi energi baik sebesar 1%, tingkat konsumsi protein baik sebesar 9,% dan tingkat konsumsi lemak baik sebesar 1%. Menurut Hardinsyah (1), bahwa tingkat konsumsi secara tidak langsung dapat sebagai indikator keadaan gizi seseorang, masalah gizi pada anak balita sering terjadi oleh karena tidak tersedianya zat-zat gizi dalam jumlah dan kualitas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan zat gizinya. Tabel 1 Distribusi Status Gizi (TB/U) Berdasarkan Tingkat Konsumsi Zat Gizi Konsumsi Zat Gizi Konsumsi Energi Status Gizi (TB/U) Pendek Normal 5 5 17 68, 8, 5 5 5. Konsumsi Protein Baik,8 4 66, 65. Konsumsi Lemak 4. Defisit 17 56,7 1 4, Dalam hal status gizi (TB/U) berdasarkan tingkat konsumsi zat gizi, diperoleh bahwa sebagian besar balita memiliki status gizi normal pada tingkat konsumsi energi baik sebesar 1%, tingkat konsumsi protein baik sebesar 66,%, dan tingkat konsumsi lemak baik sebesar 1%. Tabel Distribusi Status Gizi (BB/TB) Berdasarkan Tingkat Konsumsi Zat Gizi Konsumsi Zat Gizi Konsumsi Energi Status Gizi (BB/TB) Kurus Normal 5 5 5 5 5 5. Konsumsi Protein Baik 5 7,7 6 9, 65. Konsumsi Lemak 4. Defisit Dalam hal status gizi (BB/TB) berdasarkan tingkat konsumsi zat gizi, diperoleh bahwa sebagian besar balita memiliki status gizi normal pada tingkat konsumsi energi baik sebesar 1%, tingkat konsumsi protein baik sebesar 9,%, dan tingkat konsumsi lemak baik sebesar 1%. Berdasarkan penelitian Fauziah (9) tentang hubungan antara tingkat konsumsi pangan dengan status gizi balita menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat kecukupan energi dan protein dengan status gizi anak balita, baik indeks BB/U, TB/U maupun BB/TB. Hal ini dikarenakan metode food recall yang digunakan untuk menentukan tingkat kecukupan pangan tidak cukup menggambarkan status gizi anak balita, karena hanya dilakukan selama dua hari. Selain itu, status gizi tidak hanya berhubungan oleh konsumsi pangan tapi juga dengan infeksi yang diderita anak balita.

8 KESIMPULAN Pola makan anak balita pada keluarga miskin di Kelurahan Kenangan Baru, Perumnas Mandala sebagian besar kurang bervariasi, hanya mengonsumsi makanan pokok berupa nasi dengan lauk pauk, konsumsi sayur dan buah juga masih sangat terbatas.. Pola makan yang tidak lengkap dan konsumsi zat gizi pada kategori kurang sebagian besar pada kelompok umur 7-6 bulan.. Status gizi pada kategori kurang sebagian besar terdapat pada kelompok umur 7-6 bulan. 4. Status gizi baik memiliki pola makan yang lengkap dan konsumsi zat gizi pada kategori baik sedangkan status gizi kurang memiliki pola makan yang tidak lengkap dan konsumsi zat gizi pada kategori kurang. SARAN Kepada petugas kesehatan setempat diharapkan lebih memfokuskan penyuluhan terutama bagi ibu yang memiliki anak balita dalam upaya peningkatan gizi khususnya tentang penyediaan makanan dalam tingkat rumah tangga yang sangat penting untuk mendukung perbaikan gizi anak balita. DAFTAR PUSTAKA Hardinsyah., Kecukupan Energi, Lemak, Protein dan Karbohidrat. IPB Press : Bogor. Harper LJ, BJ Deaton., Pangan, Gizi dan Pertanian. Universitas Indonesia Press : Jakarta. Kartika V.,. Pola Pemberian Makan Anak (6-18 Bulan) dan Hubungannya Dengan Pertumbuhan dan Perkembangan Anak pada Keluarga Miskin dan Tidak Miskin. IPB Press : Bogor. Riset Kesehatan Dasar., Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI : Jakarta. Realita., Hubungan Antara Pola Makan dengan Perubahan Berat Badan. STIKES Kendal : Kendal. Sediaoetama A.D., 8. Ilmu Gizi. PT. Dian Rakyat : Jakarta. Suhardjo.,. Perencanaan Pangan dan Gizi. Bumi Aksara : Jakarta. Wello., 8. Hubungan Pola Makan Dengan Status Gizi Balita Di Kelurahan Pedalangan Kecamatan Banyumanik Kota Semarang. Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran : Semarang. Adriani M, Wirjatmadi B., 14. Gizi dan Kesehatan Balita. Cetakan pertama, Kencana Prenada Media Group : Jakarta. Fauziah D., 9. Pola Konsumsi Pangan dan Status Gizi Anak Balita Yang Tinggal Di Daerah Rawan Pangan Di Kabupaten Banjar Negara, Jawa Tengah. IPB Press : Bogor.