PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN BIOLOGI BERBASIS DISCOVERY INQUIRY PADA MATERI SISTEM REPRODUKSI UNTUK SISWA KELAS XI SMA

dokumen-dokumen yang mirip
PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS INKUIRI TERBIMBING (GUIDED INQUIRY) PADA POKOK BAHASAN REAKSI OKSIDASI REDUKSI UNTUK SISWA SMK KELAS X

PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN REMEDI MATERI SISTEM EKSKRESI PADA MANUSIA UNTUK SISWA KELAS VIII

E-journal Prodi Edisi 1

PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES LITERASI SAINTIFIK UNTUK SISWA KELAS XI MIA SMA/MA

PENGEMBANGAN MODUL KESETIMBANGAN KIMIA BERBASIS INKUIRI TERBIMBING (GUIDED INQUIRY) UNTUK SMK

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN APLIKASI BERBASIS WEB PADA MATERI BIOLOGI SEMESTER GENAP UNTUK SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 BATU

Arwinda Probowati 1, Amy Tenzer 2, dan Siti Imroatul Maslikah 3 Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Malang

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BERBASIS SCIENTIFIC APPROACH

BAB III METODE PENELITIAN. modul IPA ini menggunakan metode Research and Development. (R&D). Penelitian R&D menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2012:

PENGEMBANGAN MODUL TEKNIK LISTRIK PADA MATA PELAJARAN TEKNIK LISTRIK KELAS X TEKNIK AUDIO VIDEO DI SMK NEGERI 2 YOGYAKARTA

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MODEL PBL YANG DIPADU DENGAN TGT

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR DENGAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKDP) BERBASIS GUIDED INQUIRY UNTUK MENINGKATKAN PRACTICAL SKILLS DAN PEMAHAMAN KONSEP IPA PESERTA DIDIK SMP

PENGEMBANGAN HANDOUT BERGAMBAR DISERTAI PETA KONSEP PADA MATERI KINGDOM ANIMALIA UNTUK SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) Oleh:

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) BERBASIS PENEMUAN TERBIMBING PADA MATERI ARITMATIKA SOSIAL UNTUK SISWA KELAS VII SMP 1 BAYANG UTARA ABSTRACT

Abstrak PENDAHULUAN.

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BIOLOGI PADA MATERI JARINGAN TUMBUHAN UNTUK SMA. Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat

PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN BIOLOGI BERBASIS READING, QUESTIONING AND ANSWERING (RQA) UNTUK SISWA SMA KELAS XI PADA MATERI SISTEM EKSKRESI

PERANGKAT PEMBELAJARAN SISTEM PEREDARAN DARAH MODEL INKUIRI TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PROSES DAN HASIL BELAJAR

ARTIKEL ILMIAH OLEH: FITRIA DWITA A1C411031

JURNAL SAINS DAN INFORMATIKA Research of Science and Informatic

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) BERBASIS MASALAH PADA MATERI BENTUK ALJABAR UNTUK SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 SIJUNJUNG JURNAL

PENGEMBANGAN MODEL E-BOOK INTERAKTIF TERMODIFIKASI MAJALAH PADA MATERI STRUKTUR ATOM

PENGEMBANGAN MULTIMEDIA INTERAKTIF BERPENDAKATAN SCIENTIFIC PADA MATERI SISTEM EKSKRESI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR

Fuad Jaya Miharja Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang

PENGEMBANGAN HANDOUT BIOLOGI SMA BERBASIS KONTEKSTUAL DISERTAI GAMBAR BERWARNA PADA MATERI SISTEM EKSKRESI MANUSIA. Oleh:

Kata Kunci: Pengembangan perangkat, Problem Based Learning (PBL), kompetensi siswa.

PENGEMBANGAN MODUL DILENGKAPI MIND MAP DAN GLOSARIUM PADA MATERI PELAJARAN BIOLOGI UNTUK SISWA KELAS X SMAN 12 PADANG

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA GUIDED DISCOVERY UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS

PENGEMBANGAN LKPD IPA BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF PESERTA DIDIK KELAS VII

PENGEMBANGAN HANDOUT BERNUANSA KONTEKSTUAL PADA MATERI SISTEM REGULASI MANUSIA UNTUK SMA

PENGEMBANGAN MODUL PEMESINAN BUBUT PADA MATA PELAJARAN TEKNIK PEMESINAN BUBUT DI SMK MUHAMMADIYAH 1 SALAM

PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS MASALAH PADA MATERI PERSAMAAN DAN PERTIDAKSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL UNTUK SISWA KELAS VII MTsN I MATUR KABUPATEN AGAM

PENGEMBANGAN HANDOUT BERGAMBAR DILENGKAPI PETA KONSEP PADA MATERI PROTISTA UNTUK SISWA SMA/MAKELAS X ARTIKEL ILMIAH FIRMANA JUTIN NIM.

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BERBASIS KONTEKSTUAL PADA MATERISISTEM EKSKRESI UNTUK SMA

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) BERBASIS PENEMUAN TERBIMBING PADA MATERI KAIDAH PENCACAHAN UNTUK SISWA KELAS XI MIA SMAN 7 PADANG

PENGEMBANGAN HANDOUT BERBASIS KONTEKSTUAL PADA MATERI KERUSAKAN LINGKUNGAN UNTUK SISWA SMP E - JURNAL TESSA MUTIARA. T NIM.

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERUPA HANDOUT YANG DILENGKAPI GLOSARIUM PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI SISWA KELAS XI IPA SMAN 1 TIGO NAGARI KABUPATEN PASAMAN

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS KARAKTER DENGAN COOPERATIVE LEARNING

Abstrak. : Desi Hartinah, Dr. Insih Wilujeng, dan Purwanti Widhy H, M. Pd, FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) BERBASIS PENEMUAN TERBIMBING PADA MATERI PERBANDINGAN UNTUK SISWA KELAS VII SMP NEGERI 12 PADANG

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian pengembangan atau disebut juga Research and Development

PENGEMBANGAN MODUL IPA TERPADU TEMA PEMANASAN GLOBAL BERBASIS KOMIK DI SMPN 4 DELANGGU

Kata Kunci: mobile learning berbasis android, hasil belajar ranah kognitif, minat belajar

PENGEMBANGAN MODUL BIOLOGI DENGAN MODEL SIKLUS BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI SISWA KELAS X DI SMAN 2 BATU MENGENAI FILUM ARTHROPODA

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumatera Barat 2

KELAYAKAN MODUL PEMBELAJARAN BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING PADA MATERI EKOSISTEM UNTUK SISWA SMPN 1 KAYEN KIDUL

Novi Dwi Lestari 10, Hobri 11, Dinawati Trapsilasiwi 12

PENGEMBANGAN CHEMISTRY ELECTRONIC MODULE MATERI LARUTAN ASAM BASA KELAS XI SMA/MA

BAB III METODE PENELITIAN

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Fisika Universitas Negeri Yogyakarta 2)

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA BERBASIS PENDEKATAN PROBLEM SOLVING PADA MATERI SISTEM KOORDINASI MANUSIA UNTUK SMA ABSTRACT

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN KOMIK SISTEM SARAF BERPENDEKATAN SCIENTIFIC

Pengembangan Modul Fisika Berbasis Visual untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)

Dita Oktavia Yudhatami Fakultas Ekonomi, Unesa, Kampus Ketintang Surabaya ABSTRAK

PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA MATERI PENYAJIAN DATA STATISTIK UNTUK KELAS X SMA N 3 PADANG. Oleh

BAB III METODE PENELITIAN

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) BERBASIS PENEMUAN TERBIMBING PADA MATERI EKSPONEN DAN LOGARITMA UNTUK SISWA KELAS X SMA KARTIKA 1-5 PADANG

PENGEMBANGAN E-MODULE IPA BERBASIS SERVICE LEARNING DENGAN TEMA PENCEMARAN UDARA UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMP KELAS VII

PENGEMBANGAN MODUL BIOLOGI BERBASIS KONSTRUKTIVISME PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN PADA MANUSIA UNTUK SISWA KELAS VIII DI SMP NEGERI 16 KERINCI

Keyword: User guide experimental composting, Wet garbage household, Starter rotten pineapple extract.

PENGEMBANGAN HANDOUT DILENGKAPI DENGAN TEKA-TEKI SILANG PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI MATERI SISTEM EKSKRESI DI MAN 1 MUARA BUNGO

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumatera Barat 2

Ika Santia 1, Jatmiko 2 Pendidikan matematika, Universitas Nusantara PGRI Kediri 1 2.

PENGEMBANGAN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN SISTEM SARAF BERBASIS SISTEM OPERASI ANDROID UNTUK SISWA KELAS XI

PENYUSUNAN KAMUS ANIMALIA BERBASIS ANDROID SEBAGAI MEDIA BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS X SEMESTER II SMA/MA

PENGEMBANGAN MODUL YANG DILENGKAPI PETA KONSEP BERGAMBAR PADA MATERI KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP UNTUK SMP

PENGEMBANGAN MODUL MERAKIT KOMPUTER UNTUK SISWA KELAS X TEKNIK KOMPUTER DAN JARINGAN SMK NEGERI 1 JOGONALAN

Oleh : Ayu Rizqiana Ulfah, Yusman Wiyatmo

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) BERBASIS PENEMUAN TERBIMBING PADA MATERI PERSAMAAN LINIER SATU VARIABEL UNTUK SISWA KELAS VII

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BUKU TEKA-TEKI KIMIA UNTUK KELAS XI SMA. Development of Instructional Media Buku Teka-Teki Kimia for grade XI SMA

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR SISTEM GERAK MANUSIA BERBASIS PETA KONSEP DALAM MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP SISWA KELAS XI SMA DI KABUPATEN JEMBER

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA PRAKTIK PEMASANGAN DASAR INSTALASI LISTRIK SEBAGAI BAHAN AJAR

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA MATERI POLA BILANGAN

Reta Yuliani Fajrin 40, Jekti Prihatin 41, Pujiastuti 42

BAB III METODE PENELITIAN. Development). Penelitian ini berjudul Pengembangan LKPD IPA tema

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL SETTING KOOPERATIF TIPE TWO STAY TWO STRAY

Pengembangan Modul Dasar (Muhammad Firda Husain) 1

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. mengembangkan suatu produk (Paidi, 2010: 57). Produk R&D dalam

PENGEMBANGAN MODUL IPA BERBASIS KONSTRUKTIVISME MODEL LEARNING CYCLE 5E

Key Words: Developmental Research, Characteristics of deaf students, 4-D model.

BAB III METODE PENELITIAN. adalah Research and Development (R&D) sesuai dengan Thiagarajan, et. all.,

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA MODEL STUDENT FACILITATOR AND EXPLAINING SETTING CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING

PENGEMBANGAN MEDIA POP-UP PADA MATERI ORGANISASI KEHIDUPAN UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK SMP KELAS VII ARTIKEL SKRIPSI

PENGEMBANGAN MODUL MULTIMEDIA INTERAKTIF BERBASIS E-LEARNING PADA POKOK BAHASAN BESARAN DAN SATUAN DI SMA

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN FLIPBOOK FISIKA APLIKASI CORELDRAW X5 DENGAN SIMULASI VIDEO UNTUK SISWA SMA. Skripsi Oleh : Dwi Prihartanto K

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BIOLOGI BERBASIS GAMBAR PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN UNTUK SMA

PENGEMBANGAN MULTIMEDIA BERBASIS MACROMEDIA FLASH DENGAN TAMPILAN SLIDE POWERPOINT PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN UNTUK SISWA KELAS XI IPA SMA

PENGEMBANGAN KAMUS BERGAMBAR PERALATAN TATA HIDANG UNTUK SISWA JASA BOGA SMK NEGERI 6 YOGYAKARTA

PENGEMBANGAN MODUL SIMULASI DIGITAL PADA MATA PELAJARAN SIMULASI DIGITAL (SIMDIG) KELAS X TEKNIK AUDIO VIDEO DI SMK N 2 DEPOK

PENGEMBANGAN LKS DENGAN PENDEKATAN PMRI PADA SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL UNTUK SMP KELAS VIII

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) MATEMATIKA BERBASIS DISCOVERY LEARNING PADA MATERI TEOREMA PYTHAGORAS KELAS VIII MTsN LUBUK BUAYA PADANG

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR PROGRAM LINEAR BERBASIS KONTEKSTUAL DAN ICT

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA BERBASIS LEARNING CYCLE 5-E DILENGKAPI PETA KONSEP PADA MATERI KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP UNTUK SMP

PENGEMBANGAN BUKU PETUNJUK PRAKTIKUM KIMIA SMA BERBASIS INKUIRI TERBIMBING PADA MATERI LAJU REAKSI DAN KESETIMBANGAN KIMIA

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) BRAILLE SUBPOKOK BAHASAN PERSEGI PANJANG DAN PERSEGI KELAS VII SMPLB-A (TUNANETRA)

PENGEMBANGAN LKS IPA TERPADU MENGGUNAKAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA MATERI SISTEM PERNAFASAN KELAS VIII SMP N 6 TAMBUSAI

Oleh: Asri Setyaningrum dan Yusman Wiyatmo, Prodi Pendidikan Fisika FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta,

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BIOLOGI DILENGKAPI MIND MAP PADA MATERI POKOK SISTEM RESPIRASI UNTUK SMA

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPUTER DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN CLASSIC TUTORIAL DI SMK N 1 LINTAU BUO JURUSAN RPL

Transkripsi:

PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN BIOLOGI BERBASIS DISCOVERY INQUIRY PADA MATERI SISTEM REPRODUKSI UNTUK SISWA KELAS XI SMA Bima Dwi Pranata, Susriyati Mahanal, Umie Lestari FMIPA Universitas Negeri Malang, Jl. Semarang No. 5 Malang E-mail: bima.dwi.pranata.123@gmail.com, susriyati.mahanal.fmipa@um.ac.id, umie.lestari.fmipa@um.ac.id ABSTRAK: Pengembangan modul ini didasari oleh bahan ajar yang biasanya dipakai dalam kegiatan belajar mengajar masih berupa uraian deskriptif, sehingga siswa kurang mampu belajar secara mandiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan modul biologi berbasis discovery inquiry pada materi sistem reproduksi dengan harapan dapat mengetahui kelayakan, potensi peningkatan nilai pretest-posttest, dan kepraktisan produk yang telah dikembangkan. Penelitian pengembangan ini menggunakan model Thiagarajan (1974) yang hanya mengambil 3 tahap yaitu define, design, dan develop. Berdasarkan hasil analisis diperoleh hasil persentase kevalidan sebesar 98,91%;95,37%;92,71% dari validator ahli media pembelajaran, ahli materi, dan ahli praktisi lapangan dengan kriteria valid. Potensi peningkatan nilai pretest dan posttest diperoleh gainscore sebesar 0,77 yang berarti efektifitas tinggi. Tingkat kepraktisan diperoleh hasil sebesar 3,67 dengan kriteria praktis. Berdasarkan hasil validasi yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa modul biologi berbasis discovery inquiry pada materi sistem reproduksi layak untuk digunakan. Kata kunci: pengembangan modul, discovery inquiry, sistem reproduksi, Thiagarajan ABSTRACT: The development of this module is based on teaching materials are generally used for teaching and learning activities are still in the form of descriptive terms, so that disadvantaged students learn independently. The purpose of this study was to develop biology module based discovey inquiry on the material reproductive system in hopes determine the feasibility, potential increase in the value pretestposttest and practicality of the product that has been developed. Procedure of development adapts model of development Thiagarajan (1974) which only consist of 3 steps: define, design, and develop. Based on the results of the data analysis, it is concluded that the validity percentages are 98,91%; 95,37%; 92,71% of the validator instructional media experts, subject matter experts, and field practitioner with a valid criteria. Potential increase in the value pretest and posttest obtained a gainscore of 0,77 which means high effectiveness. The level of practicality results of 3,67 with practical criteria. Based on data of validation it can be conclude that biology module based discovery inquiry on the material reproductive system is feasible to use in the learning process. Keywords: developing module, discovery inquiry, reproductive system, Thiagarajan Bahan pembelajaran dalam konteks pembelajaran merupakan salah satu komponen yang harus ada, karena bahan pembelajaran merupakan suatu komponen yang harus dikaji, dicermati, dipelajari, dan dijadikan bahan materi yang akan dikuasai oleh siswa dan sekaligus dapat memberikan pedoman untuk mempelajarinya 1

2 (Hernawan, 2008). Berdasarkan karakteristik kurikulum 2013, jenis bahan ajar yang seharusnya disusun adalah bahan ajar yang kontruktivis. Bahan ajar yang dapat digunakan sebagai media belajar di kelas, sekaligus dapat melatih kemandirian siswa dalam membangun konsepnya sendiri. Hasil wawancara dengan salah satu guru Biologi kelas XI SMAN 2 Probolinggo yang dilakukan pada 16 Januari 2016 menunjukkan bahwa bahan ajar yang biasanya dipakai dalam kegiatan belajar mengajar masih berupa uraian deskriptif, sehingga siswa kurang mampu belajar secara mandiri. Materi sistem reproduksi merupakan salah satu materi yang bersifat kontekstual atau erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Hasil wawancara dengan salah satu guru Biologi kelas XI SMAN 2 Probolinggo menunjukkan siswa masih mengalami kesulitan pada materi sistem reproduksi terutama mengenai struktur organ reproduksi, macam-macam hormon yang bekerja pada sistem reproduksi, dan juga proses pembentukan gamet. Penyebab kesulitan yang dialami siswa dikarenakan pada struktur organ reproduksi sebenarnya dapat didukung dengan pengamatan secara langsung, akan tetapi hal ini belum pernah diterapkan di sekolah dimana siswa belum dapat melihat struktur organ reproduksi secara nyata dan siswa hanya sebatas menghafal berbagai konsep yang ada pada buku teks. Pemilihan modul sebagai bahan ajar yang dikembangkan disebabkan oleh modul memiliki karakteristik self instruction, self contained, stand alone, adaptive, dan user friendly yang menjadi keunggulan modul dibandingkan bahan ajar lain. Penerapan model pembelajaran discovery inquiry untuk menyusun bahan ajar dipilih karena sesuai dengan Kurikulum 2013 yang menjelaskan bahwa siswa secara aktif menemukan pengetahuannya sendiri, guru hanya sebagai fasilitator dan motivator. Menurut Amin (1987) discovery adalah suatu kegiatan atau pelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep dan prinsip melalui proses mentalnya sendiri. Menurut Llewellyn (2013) model pembelajaran inquiry adalah proses dari eksplorasi aktif menggunakan kemampuan berpikir kritis, logis, dan kreatif untuk meningkatkan dan melibatkan siswa dalam pertanyaan dari diri sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan modul biologi berbasis discovery inquiry materi sistem reproduksi pada Kompetensi Dasar (KD) 3.12 dan 4.13. Produk yang telah dikembangkan selanjutnya diuji cobakan untuk mengetahui tingkat kevalidan, tingkat kepraktisan, dan mengetahui potensi peningkatan nilai pretest-posttest. METODE Langkah-langkah penelitian ini mengacu pada model penelitian dan pengembangan 4D oleh Thiagarajan (1974), meliputi 4 tahapan yaitu define (pendefinisian), design (perancangan), develop (pengembangan), dan disseminate (penyebaran). Tetapi penelitian ini hanya akan dilakukan sampai pada tahap develop (pengembangan) dikarenakan peneliti mengembangkan produk saja, tidak menyebarluaskan, dan mematenkan produk dalam jumlah banyak. Prosedur pengembangan modul pembelajaran dalam penelitian akan diuraikan sebagai berikut.

3 1. Tahap Pendefinisian (Define) Kegiatan awal pengembangan dengan model 4D ialah dengan melakukan analisis kebutuhan produk pengembangan. Tahap ini merupakan tahap untuk menetapkan dan mendefiniskan syarat-syarat pembelajaran. Adapun tahap pendefinisian meliputi analisis tujuan awal, analisis siswa, analisis tugas, analisis konsep, dan perumusan tujuan pembelajaran. 2. Tahap Perancangan (Design) Tahap perancangan dilakukan untuk mendesain suatu produk yang akan dikembangkan. Langkah-langkah tahap perancangan adalah penyusunan tes, pemilihan media, pemilihan format, dan rancangan awal. 3. Tahap Pengembangan (Develop) Tujuan dari tahap ini adalah untuk mengubah rancangan dasar produk hingga mencapai versi akhir untuk digunakan. Langkah-langkah dalam tahap ini adalah sebagai berikut. a. Validasi Ahli (Expert Appraisal) Validasi ahli dilakukan untuk menilai kelayakan rancangan produk, dalam kegiatan ini dilakukan evaluasi oleh ahli dalam bidangnya. Validator dalam penelitian ini adalah Drs. Triastono Imam Prasetyo, M.Pd selaku ahli media pembelajaran, Dra. Susilowati, M.S selaku ahli materi, dan Yusia Agustini, S.Pd selaku ahli praktisi lapangan. b. Uji Coba (Developmental Testing) Uji coba dilakukan setelah produk direvisi sesuai saran validator. Uji coba produk dilakukan dengan menerapkan modul yang sudah divalidasi dan sudah direvisi sebelumnya pada pembelajaran sistem reproduksi. Uji coba pengembangan dilaksanakan pada siswa kelas XI MIA 3 SMAN 2 Probolinggo yang berjumlah 31 siswa. Tahap uji coba pengembangan dilakukan untuk mengetahui kepraktisan dan potensi peningkatan nilai pretest dan posttest suatu produk yang dibuat. HASIL 1. Hasil Validasi Ahli Hasil validasi ahli digunakan untuk memperoleh data dan saran dari validator sehingga diketahui valid atau tidaknya modul pembelajaran yang telah dihasilkan pada tahap perancangan. Validasi ahli dilakukan oleh 3 validator yaitu ahli media pembelajaran, ahli materi, dan praktisi lapangan. Hasil validasi ahli disajikan pada Tabel 1, Tabel 2 dan Tabel 3. Tabel 1 Ringkasan Data Hasil Validasi Modul oleh Ahli Media Pembelajaran No. Aspek yang dinilai Rata-rata (%) Kriteria 1. Desain Sampul Modul (Cover) 100 Sangat Valid 2. Desaian Isi Modul 100 Sangat Valid 3. Kelayakan Bahasa 97,22 Valid Rata-rata Nilai 98,91 Valid

4 Berdasarkan hasil perhitungan yang telah tercantum pada Tabel 1 diperoleh rata-rata hasil penilaian oleh ahli media pembelajaran yaitu 98,91%. Nilai tersebut menunjukkan bahwa produk hasil pengembangan termasuk dalam kriteria valid dan layak digunakan untuk pembelajaran. Tabel 2 Ringkasan Data Hasil Validasi Modul oleh Ahli Materi No. Aspek yang dinilai Rata-rata (%) Kriteria 1. Kesesuaian materi dengan KI dan KD 100 Sangat Valid 2. Keakuratan materi 91,67 Valid 3. Kemutakhiran materi 93,75 Valid 4. Mendorong Keingintahuan 87,5 Valid 5. Teknik Penyajian 100 Sangat Valid 6. Pendukung Penyajian 95,83 Valid 7. Penyajian Pembelajaran 100 Sangat Valid 8. Koherensi dan Keruntutan Alur Pikir 100 Sangat Valid Rata-rata Nilai 95,37 Valid Berdasarkan hasil perhitungan yang telah tercantum pada Tabel 2 diperoleh hasil rata-rata penilaian oleh ahli materi yaitu 95,37%. Nilai tersebut menunjukkan bahwa produk pengembangan modul materi sistem reproduksi termasuk dalam kriteria valid dan layak digunakan untuk pembelajaran. Tabel 3 Ringkasan Data Hasil Validasi Modul oleh Praktisi Lapangan No. Aspek yang dinilai Rata-rata (%) Kriteria 1. Kesesuaian Uraian Materi 100 Sangat Valid dengan KI dan KD 2. Kelayakan Bahasa 83,33 Valid 3. Teknik Penyajian 100 Sangat Valid 4. Pendukung Penyajian 100 Sangat Valid 5. Penyajian Pembelajaran 100 Sangat Valid 6. Koherensi dan Keruntutan Alur 87,5 Valid Pikir Rata-rata Nilai 92,71 Valid Berdasarkan hasil perhitungan yang telah tercantum pada Tabel 3 diperoleh hasil penilaian oleh praktisi lapangan yaitu 92,71%. Nilai tersebut menunjukkan bahwa produk pengembangan modul materi sistem reproduksi termasuk dalam kriteria valid dan layak digunakan untuk pembelajaran. 2. Hasil Uji Kepraktisan Produk Uji kepraktisan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui respon siswa setelah dilakukan pengajaran menggunakan modul. Uji kepraktisan dilakukan dengan cara memberikan angket yang berisi pernyataan kepada 31 siswa kelas XI MIA 3 SMAN 2 Probolinggo. Hasil uji kepraktisan disajikan pada Tabel 4 berikut.

5 Tabel 4 Ringkasan Data Hasil Uji Kepraktisan Modul No. Aspek yang dinilai Rata-rata Persentase (%) Kriteria 1. Kemudahan dalam penggunaan dan kemenarikan modul 3,67 91,63 Praktis Berdasarkan hasil perhitungan yang telah tercantum pada Tabel 4 diperoleh hasil penilaian oleh siswa yaitu sebesar 3,67. Nilai tersebut menunjukkan bahwa produk pengembangan modul materi sistem reproduksi memiliki kriteria praktis digunakan oleh siswa dan tidak memerlukan revisi. 3. Hasil Potensi Peningkatan Nilai Pretest dan Posttest Potensi peningkatan nilai pretest dan posttest siswa diketahui berdasarkan adanya kecenderungan peningkatan skor tes kognitif berdasarkan pretest dan posttest. Peningkatan kemajuan skor tes terutama hasil belajar kognitif dapat diketahui dengan cara dilakukan pretest dan posttest selama kegiatan pembelajaran. Hasil nilai pretest dan posttest siswa dapat dilihat pada tabel 5 berikut. Tabel 5 Hasil Pretest dan Posttest Siswa No. Tes Rata-rata Gain Score Keterangan 1. Pre-test 46,35 0,77 Efektifitas tinggi 2. Post-test 87,71 Berdasarkan Tabel 5 dapat terlihat bahwa potensi peningkatan nilai pretest dan posttest dari siswa setelah dilakukan perhitungan menggunakan rumus gainscore diperoleh hasil 0,77 dan masuk dalam efektifitas tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa modul sudah baik untuk digunakan dalam pembelajaran. PEMBAHASAN Produk hasil pengembangan berupa modul materi sistem reproduksi dengan pembelajaran discovery inquiry yang telah dirancang sesuai dengan model pengembangan dari Thiagarajan (1974). Tahap pertama define yaitu tahap yang dilakukan untuk mengetahui pentingnya pengembangan modul berbasis discovery inquiry materi sistem reproduksi berdasarkan analisa permasalahan pada pembelajaran, karakteristik peserta didik, kompetensi yang harus dicapai, dan konsep-konsep pada materi yang dipelajari. Pada tahap design yaitu tahap untuk mendesign produk yang akan dirancang berdasarkan kriteria pembelajaran, sehingga dilakukan perancangan awal modul. Tahap ketiga yaitu develop, pada tahap ini dilakukan pengembangan berdasarkan kriteria dan rancangan yang telah dibuat. Setelah pembuatan modul, maka dilakukan proses validasi kepada tiga validator yaitu validator ahli media pembelajaran, validator ahli materi, dan validator ahli praktisi lapangan. Setelah dilakukan validasi pada ketiga validator maka dilakukan uji kepraktisan dan uji potensi peningkatan nilai pretest-posttest pada siswa kelas XI MIA 3 SMAN 2 Probolinggo Hasil analisis data kuantitatif dari lembar angket ahli media pembelajaran, ahli materi, dan ahli praktisi lapangan menunjukkan produk modul yang dikembangkan termasuk dalam kategori valid dan layak digunakan untuk pembelajaran berdasarkan

6 kriteria tingkat kevalidan modul oleh Arikunto (2013). Ahli media pembelajaran menilai dari aspek kegrafikan dan kebahasaan dari modul yang dikembangkan. Ahli materi menilai dari aspek kelayakan isi dan penyajian. Aspek yang dinilai oleh ahli praktisi lapangan adalah aspek kelayakan isi, kelayakan bahasa, dan penyajian. Seluruh aspek yang telah dinilai oleh validator menunjukkan modul yang dikembangkan sesuai dengan kriteria modul yang baik menurut BSNP (2014). Hasil uji kepraktisan menunjukkan bahwa produk modul yang dikembangkan termasuk dalam kategori praktis dengan nilai 3,67. Hasil tersebut menurut Hobri (2010) menunjukkan modul yang telah dikembangkan rata-rata mendapatkan respon positif dari siswa sehingga tidak perlu melakukan uji coba lagi. Modul juga dikatakan praktis jika terdapat kekonsistenan hasil penilaian persepsi pakar dengan hasil penerapan, yaitu sama-sama memberikan hasil penilaian yang tinggi. Hasil pretest dan posttest jika dihitung dengan rumus gain score menghasilkan nilai 0,77; sehingga dapat dikatakan produk modul yang dikembangkan memiliki potensi peningkatan nilai pretest dan posttest yang tinggi. Menurut Hake (1999) gain score menunjukkan peningkatan pemahaman atau penguasaan konsep siswa setelah pembelajaran yang dilakukan guru, sehingga dapat dikatakan siswa mengalami peningkatan pemahaman konsep yang tinggi setelah dilakukan pembelajaran dengan modul. Produk modul yang dikembangkan memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari modul yang dikembangkan adalah materi yang ada pada modul dapat mengkomparasikan pikiran siswa karena terdapat bahasan mengenai sistem reproduksi mencit yang diarahkan menuju sistem reproduksi manusia; modul dapat mengoptimalkan seluruh fungsi panca indra siswa karena siswa melakukan pengamatan sistem reproduksi mencit yang dibandingkan dengan sistem reproduksi manusia; modul yang dikembangkan berbasis discovery inquiry sehingga dapat meningkatkan keaktifan dan kemandirian siswa; dan modul yang dikembangkan membuat persentase ketuntasan belajar klasikal menjadi 100% atau dapat dikatakan seluruh siswa dalam satu kelas mendapatkan nilai diatas KKM pada materi sistem reproduksi. Kekurangan dari modul yang dikembangkan adalah pendalaman materi dibuat singkat, sehingga siswa harus memperdalam materi dengan sumber belajar lain dan modul belum menyajikan rangkuman atau ringkasan materi pada bagian akhir. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian dan pengembangan ini menghasilkan produk berupa modul pembelajaran biologi berbasis discovery inquiry pada materi sistem reproduksi. Proses pengembangan menggunakan model 4D yang dikembangkan oleh Thiagarajan (1974) yang dibatasi sampai tahap develop. Berdasarkan hasil penelitian, modul telah memenuhi kriteria kelayakan untuk digunakan dalam pembelajaran setelah dilakukan penilaian oleh validator. Ditinjau dari aspek potensi peningkatan nilai pretest dan posttest, modul efektif dalam meningkatkan hasil belajar kognitif siswa, hal tersebut dibuktikan dengan nilai gainscore sebesar 0,77. Modul pembelajaran juga praktis digunakan dalam pembelajaran, hal ini dilihat dari hasil respon siswa terhadap modul, yakni mendapatkan nilai sebesar 3,67, artinya siswa memberikan respon yang sangat positif terhadap modul.

7 Saran yang diberikan berkaitan dengan hasil penelitian adalah modul materi sistem reproduksi dengan pembelajaran discovery inquiry dapat digunakan sebagai bahan ajar selain buku paket siswa; perlu dilakukan uji coba dalam skala luas terlebih dahulu ke beberapa sekolah, setelah diperoleh hasil yang akurat modul ini dapat disebarluaskan sesuai dengan kebutuhan pengguna; dan perlu untuk menemukan materi yang sesuai melalui analisis kebutuhan. DAFTAR RUJUKAN Amin, M. 1987. Mengajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan Menggunakan Metode Discovery dan Inquiry. Jakarta: Depdikbud. Arikunto, S. 2013. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. BSNP. 2014. Instrumen Penilaian Buku Teks Pelajaran Biologi SMA/MA. (Online), (http://bsnp-indonesia.org), diakses tanggal 17 April 2016. Hake, R. R. 1999. Analyzing Change/Gain Scores. (Online), (http://physics.indiana.edu/~sdi/analyzingchange-gain.pdf), diakses tanggal 17 Januari 2016. Hernawan, A H., Permasih & Dewi, L. 2008. Pengembangan Bahan Ajar. (Online),dalam (http://.file.upi.edu), diakses tanggal 25 November 2015. Hobri. 2010. Metodologi Penelitian Pengembangan. Jember: Pena Salsabila. Llewellyn, D. 2013. Teaching High School Science Through Inquiry and Argumentation. California : Corwin Press, Inc. Thiagarajan, S., Semmel, D.S., Semmel, M.I. 1974. Instructional Development for Training Teachers of Exceptional Children. Minnesota: A Sourcebook.