BAB I PENDAHULUAN A. UMUM

dokumen-dokumen yang mirip
Kata Pengantar. Tim Teknis PROPER Kementerian Negara Lingkungan Hidup

PELAKSANAAN PROPER Sekretariat PROPER Kementerian Lingkungan Hidup

Kata Pengantar. Tim Teknis PROPER Kementerian Negara Lingkungan Hidup

Bagi Peserta yang akan hadir, mohon mengisi Formulir dan persyaratan terlampir.

LAPORAN HASIL PENILAIAN Program Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup Pollution PROPER. environmental.

Definisi (1) Definisi (2) 3/20/2014

BAB II HASIL PENILAIAN PROPER

SOSIALISASI MEKANISME PENILAIAN MANDIRI PROPER SEKRETARIAT PROPER KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

EVALUASI KINERJA SEKTOR PEMBANGKIT

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PROPER : PROGRAM PENILAIAN PERINGKAT KINERJA PERUSAHAAN DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN

NERACA BAHAN BAKAR BATUBARA SAMPAI DENGAN TAHUN 2040

PENDAHULUAN EKONOMI LINGKUNGAN. EKONOMI LINGKUNGAN (ESL ) Pertemuan 1 Dept. Ekonomi Sumberdaya & Lingkungan

BAB I PENDAHULUAN. serta alasan penulis memilih obyek penelitian di PT. X. Setelah itu, sub bab

LAMPIRAN I PERINGKAT EMAS 1 PERUSAHAAN

PERINGKAT PERUSAHAAN EMAS

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Plt Menteri ESDM menekankan pentingnya pengembangan inovasi dalam berbagai aspek dan

55*147UIK MENTERI ENERGI DAN SOMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA

Energy Conservation in the Industry by Utilizing Renewable Energy or Energy Efficiency and Technology Development. Jakarta, 19 Agustus 2015

I. PENDAHULUAN. Industri plywood awalnya menggunakan phenol formaldehid sebagai perekat.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Permasalahan lingkungan merupakan salah satu faktor penting yang harus kita

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,

I. PENDAHULUAN. Industri plywood awalnya menggunakan phenol formaldehid sebagai perekat.

PENGEMBANGAN INDUSTRI HIJAU NASIONAL

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. 4.1 Gambaran Umum Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perijinan

TATA CARA PENILAIAN KETAATAN DAN PENILAIAN KINERJA LEBIH DARI KETAATAN

BAB I PENDAHULUAN. anggotanya. Keberhasilan dalam mencapai tujuan perusahaan merupakan prestasi

Kontribusi Ekonomi Nasional Industri Ekstraktif *) Sekretariat EITI

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

KEBIJAKAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN Disampaikan pada acara: Rapat Kerja Kementerian Perindustrian Di Hotel Bidakara

Tempat : Ruang Serba Guna Lt. 1 PT.Indonesia Power Kantor Pusat Jl. Gatot Subroto Kav. 18, Jakarta, 12950

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. periode tahun pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa

AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian

No Nama Perusahaan SEKTOR SUB SEKTOR PROVINSI KAB./KOTA

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 07 TAHUN 2007 TENTANG BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK BAGI KETEL UAP

-5- PERINGKAT HIJAU. Kabupaten / Kota. NO. Nama Perusahaan Jenis Industri Provinsi. Sawit Aceh Kab. Aceh Barat

LAMPIRAN PT. PERTAMINA (PERSERO) A. Sejarah Singkat PT. Pertamina (Persero) 35

Tabel III-2 Perusahaan-perusahaan sektor hulu perminyakan di Indonesia

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan nilai investasi. Investasi pada umumnya dilakukan untuk mendapatkan

Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL- UPL) Pengertian UKL-UPL

Daftar Industri Peserta Evaluasi Penilaian Mandiri Proper Sektor Manufaktur, Prasarana, dan Jasa

PERATURAN KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL,

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 16 TAHUN 2016 TENTANG BAKU MUTU LINGKUNGAN HIDUP DAN KRITERIA BAKU KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

N, 2015 PENGARUH PENGUNGKAPAN AKUNTANSI LINGKUNGAN TERHADAP KINERJA KEUANGAN

BAB I PENDAHULUAN. saham dan menjaga kelangsungan hidup perusahaan tersebut. Tujuan perusahaan untuk memperoleh profit tentunya harus didukung

PR PER PROGRAM PENILAIAN PERINGKAT KINERJA PERUSAHAAN DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP PROPER

... Hubungi Kami : Studi Potensi Bisnis dan Pelaku Utama Industri PULP & KERTAS di Indonesia, Mohon Kirimkan. eksemplar.

Manajemen Limbah Industri. Nur Istianah,ST,MT,M.Eng

LAPORAN HASIL PENILAIAN PERINGKAT KINERJA PERUSAHAAN DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP PROPER

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL,

Direktur Operasional PT Arwana Citramulia Tbk Edy Suyanto INDONESIAN INDUSTRY I 05 I AGUSTUS 2012

1. PENDAHULUAN. Indocement. Bosowa Maros Semen Tonasa. Semen Kupang

DIREKTORAT JENDERAL PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN

DAFTAR CALON KANDIDAT HIJAU PROPER

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tim Batubara Nasional

Pengalaman. Client : PT DEN, Surabaya. Tahun : 2005

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. Wisma 46 Kota BNI lantai 20, Jalan Jend. Sudirman, Kav. 1, Jakarta.

Kriteria PROPER Pengendalian Pencemaran Udara 2014

sumber logo Sek. Proper MenLH 2009

sumber logo Sek. Proper MenLH 2009

Pengaruh Kinerja Lingkungan terhadap Profitabilitas (Studi pada Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di BEI Periode Tahun )

KRITERIA PROPER DOKUMEN LINGKUNGAN PROPER

MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN INDUSTRI INDUSTRI BATUBARA DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. melainkan juga menunjukkan prospek pada masa yang akan datang.

RD - Saham. REKSA DANA AAA Blue Chip Value. Fund. RD - Mixed

BAB 1 PENDAHULUAN. sebagai salah satu cara untuk memantau kinerja produksinya. Pengukuran

REGULASI PANAS BUMI DAN KEBIJAKAN INVESTASI DI JAWA BARAT

PROGRAM PEMERINTAH PENINGKATAN KEBUTUHAN DAMPAK LINGKUNGAN

1. PENDAHULUAN PROSPEK PEMBANGKIT LISTRIK DAUR KOMBINASI GAS UNTUK MENDUKUNG DIVERSIFIKASI ENERGI

BAB I PENDAHULUAN. Kemudahan ini melahirkan sisi negatif pada perkembangan komoditas pangan

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16/PMK.010/2016 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 107/PMK.010/2015 TENTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,

INDONESIA GREEN AWARDS 2015

KEBIJAKAN DALAM PENGUSAHAAN PANAS BUMI PASCA UU NOMOR 27 TAHUN 2003 DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

BAB III PENUTUP. 1. Implementasi Corporate Social Responsibility dalam kaitannya dengan. Bukit Ajong Crude Palm Oil Mill kedalam bentuk charity dan

Daftar Sampel Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode

TABEL - VII.1 PERKEMBANGAN NILAI INVESTASI MENURUT SKALA USAHA ATAS DASAR HARGA KONSTAN 1993 TAHUN

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN

Transkripsi:

DAFTAR ISI DAFTAR ISI i DAFTAR TABEL ii DAFTAR GAMBAR iii BAB I PENDAHULUAN 1 A. UMUM 1 B. RINGKASAN PELAKSANAAN PROPER PERIODE 2002-2007 3 B.1. Jumlah Perusahaan Peserta PROPER 3 B.2. Hasil Evaluasi PROPER 2002-2007 4 BAB II HASIL PENILAIAN PROPER 2006-2007 5 A. PERINGKAT UMUM 5 B. PERINGKAT KINERJA BERDASARKAN JENIS PERMODALAN 6 C. PERINGKAT KINERJA BERDASARKAN SEKTOR INDUSTRI 9 C.1. Sektor Manufaktur 10 C.2. Sektor Agroindustri 10 C.3. Sektor Pertambangan, Energi dan Migas 11 C.4. Sektor Kawasan dan Jasa 11 BAB III KONSISTENSI KINERJA PERUSAHAAN PROPER PERIODE 2002-12 2007 A. KONSISTENSI KINERJA 12 A.1. PERUSAHAAN EMAS 12 A.2. PERUSAHAAN HIJAU 12 A.3. PERUSAHAAN HITAM 15 BAB IV PENUTUP 17 LAMPIRAN i

DAFTAR TABEL Tabel 1 Kriteria Peringkat PROPER Periode 2006 2007 2 Tabel 2 Distribusi Peserta PROPER 2006 2007 Berdasar Jenis Industri 5 Tabel 3 Distribusi Peserta PROPER Berdasarkan Status Permodalan 6 Tabel 4 Distribusi Peringkat PROPER 2006 2007 Berdasarkan 7 Kepemilikan Permodalan Tabel 5 Distribusi Per Sektor Industri PROPER 2006 2007 9 Tabel 6 Daftar Perusahaan Yang Mendapatkan Peringkat Emas 12 Tabel 7 Daftar Perusahaan Yang Mendapatkan Peringkat Hijau 13 Tabel 8 Daftar Perusahaan Yang Mendapatkan Peringkat Hitam 15 ii

DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Peningkatan Jumlah Perusahaan Peserta PROPER 3 Gambar 2 Perkembangan Peringkat Kinerja Perusahaan PROPER 4 Gambar 3 Distribusi Peringkat Kinerja Perusahaan PROPER 2006-2007 6 Gambar 4 Distribusi Persentase Peringkat Perusahaan PMA dalam 7 PROPER 2006-2007 Gambar 5 Distribusi Persentase Peringkat Perusahaan PMDN dalam 8 PROPER 2006 2007 Gambar 6 Distribusi Persentase Peringkat Perusahaan BUMN dalam 8 PROPER 2006 2007 Gambar 7 PROPER 2006 2007 Sektor Manufaktur 10 Gambar 8 PROPER 2006 2007 Sektor Agroindustri 10 Gambar 9 PROPER 2006 2007 Sektor Pertambangan, Energi dan Migas 11 Gambar 10 PROPER 2006 2007 Sektor Kawasan dan Jasa 11 iii

BAB I PENDAHULUAN A. UMUM Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) adalah salah satu instrumen kebijakan yang dikembangkan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup untuk mendorong penaatan dan kepedulian perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Mekanisme kerja instrumen PROPER adalah dengan penyebaran informasi tingkat kinerja penaatan perusahaan kepada masyarakat dan stakeholder (public information disclosure), maka diharapkan masyarakat dan stakeholder dapat menyikapi kinerja pengelolaan lingkungan perusahaan peserta PROPER sesuai dengan kapasitasnya. Para stakeholder diharapkan memberikan apresiasi kepada perusahaan yang berkinerja baik, dan mendorong perusahaan yang belum berkinerja baik untuk lebih meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungannya. Pelaksanaan PROPER merupakan upaya terpadu untuk melaksanakan kebijakan yang diamanatkan oleh Undang-undang No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. PROPER merupakan pengawasan pemerintah 1 terhadap upaya perusahaan dalam melaksanakan ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam peraturan perundang-undangan bidang lingkungan hidup yang berlaku. Sekaligus PROPER merupakan perwujudan transparansi dan pelibatan masyarakat 2 dalam pengelolaan lingkungan. Dimana hasil pengawasan melalui PROPER ini disampaikan secara terbuka kepada masyarakat. Perlu diketahui bahwa PROPER bukanlah pengganti instrumen penaatan lingkungan lainnya, akan tetapi komplementer dari instrumen penaatan yang ada. Pelaksanaan PROPER akan mendukung penerapan instrumen penegakan hukum lingkungan dan instrumen ekonomi lainnya. Untuk memudahkan masyarakat dan para stakeholder memahami tingkat kinerja penaatan masing-masing perusahaan dan guna membuka lebih besar lagi ruang apresiasi bagi perusahaan yang telah meningkatkan kinerja penaatannya, maka saat ini kinerja perusahaan tersebut dikategorikan lima peringkat warna dengan tujuh kategori. 1 Pasal 22 (1) UU No. 23 Tahun 1997 Menteri melakukan pengawasan terhadap penaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atas ketentuan yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup 2 Pasal 5 (2) & (3) UU No. 23 tahun 1997: Ayat 2, setiap orang mempunyai hak atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan hidup Ayat 3, setiap orang mempunyai hak untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku 1

Perluasan kategori peringkat PROPER merupakan masukan dari Dewan Pertimbangan PROPER 3 untuk lebih memacu perusahaan meningkatkan kinerjanya. Peringkat warna ini menggambarkan kinerja penaatan dan tingkat kepedulian perusahaan dalam pelestarian lingkungan. Tabel 1. Kriteria Peringkat PROPER Periode 2006 2007 Peringkat Emas Hijau Biru Biru Minus Merah Merah Minus Hitam Keterangan Telah melakukan pengelolaan lingkungan lebih dari yang dipersyaratkan dan telah melakukan upaya 3R (Reuse, Recycle dan Recovery), menerapkan sistem pengelolaan lingkungan yang berkesinambungan, serta melakukan upaya-upaya yang berguna bagi kepentingan masyarakat pada jangka panjang; Telah melakukan pengelolaan lingkungan lebih dari yang dipersyaratkan, telah mempunyai sistem pengelolaan lingkungan, mempunyai hubungan yang baik dengan masyarakat, termasuk melakukan upaya 3R (Reuse, Recycle dan Recovery); Telah melakukan upaya pengelolaan lingkungan yang dipersyaratkan sesuai dengan ketentuan atau peraturan yang berlaku; Melakukan upaya pengelolaan lingkungan, akan tetapi beberapa upaya belum mencapai hasil yang sesuai dengan persyaratan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan; Melakukan upaya pengelolaan lingkungan, akan tetapi baru sebagian mencapai hasil yang sesuai dengan persyaratan sebagaimana diatur dengan peraturan perundang-undangan; Melakukan upaya pengelolaan lingkungan, akan tetapi baru sebagian kecil mencapai hasil yang sesuai dengan persyaratan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan; Belum melakukan upaya lingkungan berarti, secara sengaja tidak melakukan upaya pengelolaan lingkungan sebagaimana yang dipersyaratkan, serta berpotensi mencemari lingkungan. 3 Berdasarkan Surat Keputusan Menteri LH No 278 tahun 2008 tentang Dewan Pertimbangan PROPER, susunan Dewan Pertimbangan PROPER adalah sebagai berikut: Ketua: Prof.Dr. Surna Tjahja Djajadiningrat, Sekretaris: Drs. Yanuardi Rasudin, Anggota: Prof. Dr. Muladi SH, Ir. Usman Hasan, Djismun Kasri, Prof.Dr. J.B. Kristiadi, Agnes Aristiarini, Tini Hadad, Goenarni Soeworo SE. 2

B. RINGKASAN PELAKSANAAN PROPER PERIODE 2002-2007 B.1. Jumlah Perusahaan Peserta PROPER Jumlah perusahaan PROPER sangat menentukan tingkat keberhasilan PROPER sebagai instrumen penaatan. Semakin besar jumlah perusahaan maka efektifitas instrumen ini semakin meningkat. Untuk mencapai jumlah yang tepat (critical mass) dari perusahaan peserta PROPER, secara bertahap jumlah perusahaan yang diikutsertakan dalam PROPER dari tahun ke tahun semakin bertambah. Namun, besarnya jumlah perusahaan yang dapat diikutsertakan dalam PROPER sangat tergantung kepada sumber daya yang ada, baik sumber daya manusia maupun pendanaan yang tersedia di tingkat pusat maupun daerah. Pada saat ini jumlah perusahaan peserta PROPER masih sangat kecil dibandingkan target perusahaan yang efektif untuk dapat ditingkatkan kinerja penaatannya melalui PROPER 4 yaitu baru mencapai sekitar 6 % dari 8.000-10.000 perusahaan. Peningkatan jumlah perusahaan yang diikutsertakan dalam PROPER selama tahun 2002 2007 dapat dilihat pada Gambar 1 berikut: Gambar 1. Peningkatan Jumlah Perusahaan Peserta PROPER 4 Perusahaan yang berdampak besar dan penting bagi lingkungan, terdaftar dipasar modal, dan berorientasi ekspor 3

B.2. Hasil Evaluasi PROPER 2002-2007 Dari pelaksanaan PROPER selama periode 2002 2007 terlihat bahwa telah terjadi peningkatan kinerja penaatan perusahaan. Sebagaimana yang terlihat pada Gambar di bawah, jumlah perusahaan yang taat yaitu Hijau dan Biru meningkat selama periode 2002 2007. Peningkatan jumlah perusahaan yang taat selama periode ini terjadi karena adanya peningkatan jumlah perusahaan dan perbaikan kinerja penaatan perusahaan peserta PROPER. Gambar 2. Perkembangan Peringkat Kinerja Perusahan PROPER Penilaian PROPER periode 2005-2006 sempat tertunda oleh karena adanya kegiatan Revitalisasi PROPER. Langkah Revitalisasi ini dilakukan agar instrumen PROPER dapat lebih efektif lagi untuk meningkatkan kinerja penaatan perusahaan. Walaupun tidak diumumkan kepada masyarakat hasil pengawasan yang dilakukan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup telah disampaikan kepada perusahaan. 4

BAB II HASIL PENILAIAN PROPER 2006-2007 A. PERINGKAT UMUM Jumlah perusahaan yang telah dinilai peringkatnya melalui PROPER selama periode 2006 2007 mencapai 516 perusahaan dari 521 perusahaan yang dilakukan pengawasan oleh Tim PROPER Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota. 5 (lima) perusahaan dikeluarkan dari daftar penilaian karena tutup dan tidak memenuhi kriteria peserta PROPER. Dari 516 perusahaan peserta PROPER, perusahaan yang paling banyak berasal dari sektor industri manufaktur (48.64%), kemudian diikuti PEM (28.68%), Agro Industri (19.77%), dan Sektor Kawasan industri dan Jasa Pengelolaan Limbah (2.91%). Distribusi jumlah peserta PROPER periode 2006-2007 berdasarkan jenis sektor industri adalah sebagai berikut: Tabel 2. Distribusi Peserta PROPER 2006-2007 Berdasar Jenis Industri No Sektor Industri Jumlah Perusahaan Angka Persentase 1 Pertambangan, Energi, & Migas (PEM) 148 28.68 2 Manufaktur 251 48.64 3 Agro 102 19.77 4 Kawasan Industri dan Jasa Pengelola Limbah 15 2.91 TOTAL 516 100 Hasil penilaian PROPER 2006 2007 menunjukkan bahwa secara umum terjadi perbaikan tingkat penaatan perusahaan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebagian besar perusahaan telah memenuhi persyaratan dalam pengelolaan lingkungan. Sebagaimana yang terlihat dari Gambar di bawah ini, dalam tahun 2006-2007 jumlah perusahaan yang taat atau yang berperingkat Emas, Hijau, Biru, dan Biru Minus mencapai 75,78% dari total 516 perusahaan. Jumlah ini meningkat dari periode penilaian sebelumnya. Jumlah perusahaan Hijau pada periode 2006-2007 meningkat dua kali dibandingkan periode sebelumnya yaitu mencapai 46 perusahaan atau 8.91%. Pada periode penilaian PROPER 2006-2007, peringkat Emas untuk pertama kalinya diberikan kepada perusahaan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi. 5

Gambar 3: Distribusi Peringkat Kinerja Perusahaan PROPER 2006-2007 Peringkat masing-masing perusahaan PROPER dapat dilihat pada Lampiran. B. PERINGKAT KINERJA BERDASARKAN JENIS PERMODALAN Berdasarkan kepemilikan atau Permodalan peserta PROPER periode 2006-2007 dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu: Penanaman Modal Asing (PMA), Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Distribusi peserta PROPER 2006-2007 berdasarkan jenis permodalan dapat dilihat pada Tabel 3 dibawah ini. Dari Tabel 3 terlihat peserta PROPER terbanyak berasal dari perusahaan PMDN 40,8% (211 perusahaan), lalu diikuti PMA 32,8% (169 perusahaan) dan terakhir BUMN 26,4% (136 perusahaan). Tabel 3 : Distribusi peserta PROPER berdasarkan status permodalan. No Sektor Industri Jumlah Perusahaan Angka Persentase 1 Penanaman Modal Asing 169 32.75 % 2 Penanaman Modal Dalam Negeri 211 40.89 % 3 Badan Usaha Milik Negara 136 26.36 % Total 516 100 % Untuk melihat sejauhmana kinerja perusahaan PROPER berdasarkan jenis permodalan dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah ini. Dari tabel 4 dapat terlihat 6

bahwa perusahaan PMA mempunyai kinerja penaatan yang lebih baik dibandingkan PMDN dan BUMN. Tingkat penaatan perusahaan PMA mencapai 87 %. Sementara itu tingkat penaatan perusahaan PMDN 64,5 % dan BUMN 79,4 %. Tabel 4: Distribusi Peringkat PROPER 2006 2007 berdasarkan kepemilikan permodalan Status Peringkat PROPER Permodalan EMAS HIJAU BIRU BIRU MERAH MERAH HITAM Jumlah PMA 30 72 45 11 7 4 169 PMDN 1 7 67 61 24 17 34 211 BUMN 9 49 50 10 14 4 136 TOTAL 1 46 188 156 45 38 42 516 Jumlah PMA yang berperingkat Hijau mencapai 30 perusahaan dari total 46 perusahaan yang berperingkat Hijau dalam periode penilaian PROPER 2006-2007. Jumlah ini mencapai 65,2% dari total perusahaan yang berperingkat Hijau. Sedangkan dari keseluruhan perusahaan PMA yang dinilai, persentase peringkat kinerjanya seperti terlihat pada Gambar 4 di bawah ini. Gambar 4. Distribusi Persentase Peringkat Perusahaan PMA dalam PROPER 2006-2007 Walaupun jumlah perusahaan PMDN dan BUMN lebih sedikit yang mempunyai peringkat Hijau namun jumlah perusahaan PMDN dan BUMN yang mendapatkan peringkat Hijau pada periode ini meningkat dibandingkan PROPER periode sebelumnya. Perusahaan PMDN yang mendapatkan peringkat Hijau 7 perusahaan dan perusahaan BUMN yang mendapatkan peringkat Hijau 9 perusahaan. Bahkan satu perusahaan PMDN yaitu PLTP Wayang Windu, Magma Nusantara, Ltd. mendapatkan peringkat Emas. Distribusi persentase untuk peringkat bagi perusahaan PMDN dan BUMN seperti terlihat di Gambar 5 dan Gambar 6. 7

Gambar 5. Distribusi Persentase Peringkat Perusahaan PMDN dalam PROPER 2006-2007 Gambar 6. Distribusi Persentase Peringkat Perusahaan BUMN dalam PROPER 2006-2007 8

C. PERINGKAT KINERJA BERDASARKAN SEKTOR INDUSTRI Dalam penilaian PROPER, perusahaan dikelompokkan dalam 4 sektor industri utama yaitu : Sektor Manufaktur yang terdiri dari bermacam macam jenis industri mulai dari kertas termasuk pulp & paper, petrokimia, pelapisan logam, tekstil, pewarna tekstil, elektronik, otomotif, farmasi, industri kimia. Sektor Agroindustri terdiri dari karet, sawit, tapioka, gula, plywood, minyak goreng. Sektor Pertambangan, Energi dan Migas yang terdiri dari pertambangan mineral, pertambangan batubara, PLTD, PLTG, PLTGU, PLTU berbahan bakar batubara, PLTP Geothermal, eksplorasi dan produksi migas, unit pengolahan migas, LNG/LPG, distribusi migas. Kawasan dan Jasa terdiri dari kawasan industri dan jasa pengelola limbah B3. Untuk pelaksanaan PROPER 2006-2007, dari sektor Manufaktur terdapat 251 perusahaan (48,6%), dari sektor Agroindustri terdapat 102 perusahaan (19,8%), sektor Pertambangan Energi dan Migas 148 perusahaan (28,7%), dan Kawasan dan Jasa 15 perusahaan (2,9%). Tabel 5. Distribusi Per sektor Industri PROPER 2006-2007 Peringkat Manufaktur Agroindustri PEM Kawasan & jasa Total % Peringkat Emas - - 1-1 0.19% Hijau 22 3 20 1 46 8.91% Biru 76 34 71 7 188 36.43% Biru Minus 85 34 33 4 156 30.23% Merah 21 12 10 2 45 8.72% Merah Minus 18 8 11 1 38 7.36% Hitam 29 11 2-42 8.14% TOTAL 251 102 148 15 516 9

C.1. Sektor Manufaktur Perusahaan Manufaktur adalah peserta terbanyak untuk PROPER periode 2006-2007 yaitu sebanyak 251 perusahaan. Perusahaan Manufaktur yang taat mencapai 183 perusahaan atau sekitar 72,9% dari jumlah keseluruhan perusahaan Manufaktur yang ada. Dari 183 perusahaan tersebut, yang mendapat peringkat Hijau adalah 22 perusahaan. Sedangkan perusahaan Manufaktur yang belum taat berjumlah 68 (27,1%) perusahaan, 29 perusahaan diantaranya mendapat peringkat Hitam. C.2. Sektor Agroindustri Gambar 7. PROPER 2006-2007 Sektor Manufaktur. Perusahaan Agroindustri untuk PROPER periode 2006-2007 sebanyak 102 perusahaan. Perusahaan Agroindustri yang taat mencapai 71 perusahaan atau sekitar 66% dari jumlah keseluruhan perusahaan Agroindustri peserta PROPER. Dari 71 perusahaan tersebut, yang mendapat peringkat Hijau adalah 3 perusahaan. Sedangkan perusahaan Agroindustri yang belum taat berjumlah 31 (34%) perusahaan, 11 perusahaan diantaranya mendapat peringkat Hitam. Gambar 8. PROPER 2006-2007 Sektor Agroindustri 10

C.3. Sektor Pertambangan, Energi dan Migas Perusahaan peserta PROPER dari sektor Pertambangan, Energi dan Migas (PEM) untuk periode 2006-2007 sebanyak 148 perusahaan. Tingkat penaatan perusahaan PEM lebih baik dibandingkan sektor lainnya, yaitu dari 148 perusahaan PEM, 125 perusahaan (84,5%) taat. Total perusahaan PEM yang berhasil mendapatkan peringkat Hijau adalah 20 perusahaan. Salah satu perusahaan PEM yaitu PLTP Wayang Windu, Magma Nusantara mendapatkan Peringkat Emas. Namun masih terdapat banyak perusahaan PEM yang belum taat yaitu 23 (15,5%) perusahaan, 2 perusahaan diantaranya mendapat peringkat Hitam. Gambar 9. PROPER 2006-2007 Sektor Pertambangan Energi dan Migas C.4. Sektor Kawasan dan Jasa Jumlah perusahaan kawasan industri dan jasa pengelola limbah masih relatif kecil dibandingkan dengan jumlah peserta PROPER dari sektor lainnya yaitu sebanyak 15 perusahaan. Tingkat penaatan perusahaan kawasan industri dan jasa pengelola limbah adalah 80%. Dari total jumlah perusahaan sektor ini, 1 perusahaan mendapatkan peringkat Hijau. Walaupun masih terdapat 3 perusahaan yang masih belum taat, namun tidak ada perusahaan yang mendapatkan peringkat Hitam di sektor ini. Gambar 10. PROPER 2006-2007 Sektor Kawasan dan Jasa 11

BAB III KONSISTENSI KINERJA PERUSAHAAN PROPER PERIODE 2002 2007 A. KONSISTENSI KINERJA A.1. PERUSAHAAN EMAS Sejak pelaksanan PROPER periode 2002-2003, pencapaian peringkat Emas oleh perusahaan peserta PROPER baru berhasil diraih pada PROPER 2006-2007. Hanya satu perusahaan yang mendapatkan peringkat Emas yaitu PLTP Wayang Windu, Magma Nusantara. Tabel 6. Daftar perusahaan yang mendapatkan Peringkat Emas NO. NAMA PERUSAHAAN PERIODE 2002-2003 2003-2004 2004-2005 2005-2006 2006-2007 1 Magma Nusantara - - HIJAU Tidak Diumumkan EMAS A.2. PERUSAHAAN HIJAU Selama periode penilaian PROPER sejak tahun 2002 sampai tahun 2007, terdapat 4 perusahaan secara konsisten mempertahankan kinerja pengelolaan lingkungannya sebagai perusahaan berperingkat Hijau. Keempat perusahaan tersebut adalah: PT. Unilever Indonesia, Tbk-Pabrik Cikarang PT. Holcim Indonesia, Tbk-Cilacap Plant; PT. Indocement Tunggal Prakasa, Tbk-Cilacap; PT. Tanjungenim Lestari Pulp&Paper. Dari 46 perusahaan yang mendapat peringkat Hijau pada periode penilaian saat ini, 28 perusahaan untuk pertama kalinya mendapatkan peringkat Hijau. Beberapa perusahaan pada periode penilaian sebelumnya masih mendapatkan peringkat Merah (4 perusahaan). Bahkan ada perusahaan yang pernah mendapatkan peringkat Hitam. Salah satu perusahaan yang telah menunjukkan komitmen untuk melakukan perbaikan terus-menerus (continual improvement) adalah PT. Pertamina (Persero) UP IV Cilacap. Dimana perusahaan ini pada penilaian PROPER periode tahun 2002-2003 mendapatkan peringkat Hitam, kemudian secara kontinyu meningkat menjadi peringkat Merah (2003-2004), Biru (2004-2005) dan akhirnya Hijau (2006-2007). 12

Keberhasilan perusahaan untuk dapat meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungannya, diperlukan dedikasi dan komitmen yang tinggi serta upaya perbaikan dalam bidang teknis dan manajemen. Perusahaan-perusahaan peringkat Hijau seperti terlihat di tabel di bawah ini. Tabel 7. Daftar perusahaan yang mendapatkan Peringkat Hijau NO. NAMA PERUSAHAAN PERIODE 2002-2003 2003-2004 2004-2005 2005-2006 2006-2007 1 PT. Holcim Indonesia, Tbk - Cilacap Plant HIJAU HIJAU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 2 PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. - Citeureup HIJAU HIJAU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 3 PT. Tanjungenim Lestari Pulp & Paper HIJAU HIJAU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 4 PT. Unilever Indonesia, Tbk - Pabrik Cikarang HIJAU HIJAU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 5 PT. Newmont Nusa Tenggara HIJAU BIRU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 6 PT. Jawa Power BIRU HIJAU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 7 PT. Aneka Tambang, Tbk. - Pongkor BIRU BIRU BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 8 PT. Total EP Indonesie - Handil (CPA) BIRU BIRU BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 9 PT. Total EP Indonesie - Tatun (CPU) BIRU BIRU BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 10 PT. Total EP Indonesie - Tunu (NPU) BIRU BIRU BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 11 Vico Indonesia - Nilam Asset BIRU BIRU BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 12 PT. Semen Gresik (Persero), Tbk. - Pabrik Tuban BIRU BIRU BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 13 PT. Adaro Indonesia BIRU BIRU MERAH Tidak Diumumkan HIJAU 14 PT. Indah Kiat Pulp & Paper - Pabrik Tangerang MERAH BIRU BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 15 PT. Riau Andalan Pulp and Paper Mill MERAH BIRU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 16 PT. Pertamina (Persero) UP IV - Cilacap HITAM MERAH BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 17 PT. Nippon Shokubai Indonesia --------- HIJAU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 18 PT. Smelting --------- HIJAU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 19 PT. Chevron Geothermal Darajat ------- BIRU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 20 PT. Chevron Geothermal Salak ------- BIRU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 21 PT. Pertamina (Persero) Area Geothermal Kamojang ------- BIRU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 22 PT. Astra Daihatsu Motor - Assy Plant --------- BIRU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 23 PT. Chandra Asri --------- BIRU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 24 PT. Tri Polyta Indonesia, Tbk. --------- BIRU HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 25 PT. Indonesia Power UBP Kamojang ------- BIRU BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 13

26 PT. Indonesia Power UBP Priok ------- BIRU BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 27 PT. Badak Natural Gas Liquefaction --------- BIRU BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 28 PT. Holcim Indonesia, Tbk - Narogong Plant --------- BIRU BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 29 PT. Pindo Deli Pulp And Paper Mills - 2 --------- BIRU BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 30 PT. Rea Kaltim Plantation --------- MERAH MERAH Tidak Diumumkan HIJAU 31 PT. Pertamina (Persero) Area Geothermal Lahendong --------- ------- HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 32 PT. Amoco Mitsui Indonesia --------- --------- HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 33 PT. Panasonic Gobel Battery Indonesia --------- --------- HIJAU Tidak Diumumkan HIJAU 34 PT. Energy Sengkang --------- ------- BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 35 Premier Oil Natuna Sea BV --------- --------- BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 36 Star Energy (Kakap) Ltd --------- --------- BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 37 PT. Megalopolis Manunggal (MM2100) --------- --------- BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 38 PT. Asahimas Chemical --------- --------- BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 39 PT. Erna Djuliawati --------- --------- BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 40 PT. Letawa --------- --------- BIRU Tidak Diumumkan HIJAU 41 PT. Bio Farma (Persero) --------- --------- MERAH Tidak Diumumkan HIJAU 42 PT. BlueScope Steel Indonesia --------- --------- MERAH Tidak Diumumkan HIJAU 43 PT. YKK Zipper Indonesia --------- --------- MERAH Tidak Diumumkan HIJAU 44 BP West Java --------- --------- --------- Tidak Diumumkan HIJAU 45 PT. Toba Pulp Lestari, Tbk. --------- --------- --------- Tidak Diumumkan HIJAU 46 PT. Teijin Indonesia Fiber Corporation, Tbk. (TIFICO) --------- --------- --------- Tidak Diumumkan HIJAU 14

A.3. PERUSAHAAN HITAM Hasil penilaian PROPER periode sekarang menunjukkan bahwa terdapat 13 perusahaan yang mendapatkan peringkat hitam 2 kali berturut-turut. Adapun perusahaan-perusahaan tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 8. Daftar perusahaan yang mendapatkan Peringkat Hitam NO. NAMA PERUSAHAAN PERIODE 2002-2003 2003-2004 2004-2005 2005-2006 2006-2007 1 PT. Adetex I BIRU BIRU BIRU Tidak Diumumkan HITAM 2 PT. Vinytex - MERAH BIRU Tidak Diumumkan HITAM 3 PT. Panasonic Battery Batam - - BIRU Tidak Diumumkan HITAM 4 PT. Pacific Coating - - BIRU Tidak Diumumkan HITAM 5 PT. Jaya Kertas MERAH MERAH MERAH Tidak Diumumkan HITAM 6 PT. Wiska - MERAH MERAH Tidak Diumumkan HITAM 7 PT. Panca Mega Adi Mulia - MERAH MERAH Tidak Diumumkan HITAM 8 PTPN IX PG Jatibarang - MERAH MERAH Tidak Diumumkan HITAM 9 PT. Southern Cross Textile Industry (SCTI) - MERAH MERAH Tidak Diumumkan HITAM 10 PT. Cakra Compact Alumunium Ind. - HITAM MERAH Tidak Diumumkan HITAM 11 PT. Wijaya Tri Utama Plywood Industry - HITAM MERAH Tidak Diumumkan HITAM Banjarmasin 12 PT. Galvindo Ampuh - - MERAH Tidak Diumumkan HITAM 13 PT. Putra Bangun Citra Mandiri - - MERAH Tidak Diumumkan HITAM 14 PT. Ezritex - - MERAH Tidak Diumumkan HITAM 15 PT. Ksatria Manunggal Textile Industry (Kesmatex) - - MERAH Tidak Diumumkan HITAM 16 PT. Safarijunie Textindo Industry - - MERAH Tidak Diumumkan HITAM 17 PT. Albasi Parahyangan - - MERAH Tidak Diumumkan HITAM 18 PT. Siak Raya Timber - - MERAH Tidak Diumumkan HITAM 19 PT. Riau Sakti United Plantation - - MERAH Tidak Diumumkan HITAM 20 PT. Tidar Kerinci Agung - - MERAH Tidak Diumumkan HITAM 21 PT. Fajar Bumi Sakti - - MERAH Tidak Diumumkan HITAM 22 PT. Eureka Aba Paper Factory MERAH MERAH HITAM Tidak Diumumkan HITAM 23 PT. Adiprima Suraprinta - MERAH HITAM Tidak Diumumkan HITAM 24 PTPN IX PG Tasikmadu - MERAH HITAM Tidak Diumumkan HITAM 15

25 CV. Wira Mustika Indah - - HITAM Tidak Diumumkan HITAM 26 PT. Bintang Tri Putratex - - HITAM Tidak Diumumkan HITAM 27 PT. Samitex Sewon - - HITAM Tidak Diumumkan HITAM 28 PT. Sampangan Duta Panca Sakti (Dupantex) - - HITAM Tidak Diumumkan HITAM 29 PT. Pabrik Baja Wuhan - - HITAM Tidak Diumumkan HITAM 30 PT. Budidharma Jakarta - - HITAM Tidak Diumumkan HITAM 31 PT. Panca Eka Bina Plywood Industri - - HITAM Tidak Diumumkan HITAM 32 PTPN IX PG Modjo - - HITAM Tidak Diumumkan HITAM 33 PTPN XIV PG Takalar - - HITAM Tidak Diumumkan HITAM 34 PT. Sari Tani Sumatera - - HITAM Tidak Diumumkan HITAM 35 PT. Raja Besi - - - Tidak Diumumkan HITAM 36 PT. Jakarta Cakratunggal Steel Mills - - - Tidak Diumumkan HITAM 37 PT. Jakarta Steel Megah Utama - - - Tidak Diumumkan HITAM 38 PT. Pulogadung Steel MFG. Co., Ltd. - - - Tidak Diumumkan HITAM 39 PT. The Master Steel MFG. - - - Tidak Diumumkan HITAM 40 PT. Cipta Paperia - - - Tidak Diumumkan HITAM 41 PT. Kedawung Subur - - - Tidak Diumumkan HITAM 42 Kalrez Petroleum - - - Tidak Diumumkan HITAM 16

BAB IV P E N U T U P Keberhasilan PROPER sebagai instrumen penaatan sangat tergantung kepada kredibilitas lembaga pelaksana PROPER. Untuk itu dalam pelaksanaan PROPER, Kementerian Negara Lingkungan Hidup berupaya agar selalu transparan dan melibatkan masyarakat khususnya melalui berbagai unsur masyarakat yang tergabung dalam Dewan Pertimbangan PROPER. Agar prinsip keadilan (fairness) dalam pelaksanaan PROPER dapat tercapai, maka secara bertahap jumlah perusahaan peserta PROPER akan ditingkatkan. Perbaikan dan penyempurnaan PROPER terus dilakukan. Penilaian PROPER periode 2005-2006 sempat tertunda karena adanya kegiatan Revitalisasi PROPER. Langkah Revitalisasi ini dilakukan agar instrumen PROPER dapat lebih efektif dalam peningkatan kinerja penaatan perusahaan. Walaupun PROPER periode 2005-2006 tidak diumumkan kepada masyarakat, hasil pengawasannya tetap disampaikan kepada perusahaan. Pelaksanaan PROPER perlu dilaksanakan secara terus-menerus agar kemajuan penaatan perusahaan dapat dipantau sampai pada tingkat penaatan yang optimal. Bagi perusahaan yang sudah taat akan lebih didorong untuk menerapkan teknologi bersih dan penghematan penggunaan sumber daya, sehingga pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh perusahaan mempunyai arti bagi pelestarian lingkungan, pembangunan ekonomi dan sosial masyarakat Indonesia. Pengumuman PROPER akan dilakukan secara berkala, sehingga masyarakat terusmenerus dapat terlibat dan berperan aktif dalam menyikapi hasil kinerja perusahaan. Dukungan dari masyarakat dan stakeholders sangatlah menentukan keberhasilan PROPER. 17