METODOLOGI PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung. Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian ini :

III. METODOLOGI PENELITIAN. Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung. Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian ini :

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Inti Jalan Raya Fakultas Teknik. Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung.

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Inti Jalan Raya Fakultas Teknik

METODOLOGI PENELITIAN. Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain :

METODOLOGI PENELITIAN. untuk campuran lapis aspal beton Asphalt Concrete Binder Course (AC-

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

(Data Hasil Pengujian Agregat Dan Aspal)

METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Operasi Teknik Kimia Fakultas

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III METODE PENELITIAN. aspal dan bahan tambah sebagai filler berupa abu vulkanik.

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Inti Jalan

BAB 3 METODOLOGI 3.1 Pendekatan Penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Gambar 4.1 Bagan alir penentuan Kadar Aspal Optimum (KAO)

BAB IV METODE PENELITIAN. A. Bagan Alir Penelitian. Mulai. Studi Pustaka. Persiapan Alat dan Bahan. Pengujian Bahan

III. METODOLOGI PENELITIAN. mendapatkan data. Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan, penelitian ini

Gambar 4.1. Bagan Alir Penelitian

BAB IV HASIL DAN ANALISA DATA. aspal keras produksi Pertamina. Hasil Pengujian aspal dapat dilihat pada Tabel 4.1

BAB III METODELOGI PENELITIAN. (AASHTO,1998) dan Spesifikasi Umum Bidang Jalan dan Jembatan tahun 2010.

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III LANDASAN TEORI

BAB IV Metode Penelitian METODE PENELITIAN. A. Bagan Alir Penelitian

PENGGUNAAN SPEN KATALIS PADA CAMPURAN ASPHALT CONCRTE-WEARING COURSE ABSTRAK

BAB III METODOLOGI. Gambar 3.1.a. Bagan Alir Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

Sumber: Spesifikasi Umum Bina Marga 2010 (Revisi 3)

STUDI PARAMETER MARSHALL CAMPURAN LASTON BERGRADASI AC-WC MENGGUNAKAN PASIR SUNGAI CIKAPUNDUNG Disusun oleh: Th. Jimmy Christian NRP:

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV HASIL ANALISA DAN DATA Uji Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Kasar

BAB IV. HASIL dan ANALISA Pemeriksaan Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Kasar

dahulu dilakukan pengujian/pemeriksaan terhadap sifat bahan. Hal ini dilakukan agar

Jurnal Sipil Statik Vol.3 No.4 April 2015 ( ) ISSN:

BAB IV HASIL DAN ANALISA DATA. penetrasi, uji titik nyala, berat jenis, daktilitas dan titik lembek. Tabel 4.1 Hasil uji berat jenis Aspal pen 60/70

3. pasir pantai (Pantai Teluk Penyu Cilacap Jawa Tengah), di Laboratorium Jalan Raya Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam

STUDI PENGGUNAAN PASIR SERUYAN KABUPATEN SERUYAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH SEBAGAI CAMPURAN ASPAL BETON AC WC

PENGARUH UKURAN BUTIRAN MAKSIMUM 12,5 MM DAN 19 MM TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL CAMPURAN AC-WC

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metodologi penelitian pada penulisan ini merupakan serangkaian penelitian

BAB III LANDASAN TEORI

VARIASI AGREGAT LONJONG PADA AGREGAT KASAR TERHADAP KARAKTERISTIK LAPISAN ASPAL BETON (LASTON) I Made Agus Ariawan 1 1

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. dipresentasikan pada gambar bagan alir, sedangkan kegiatan dari masing - masing

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV PENGUJIAN JOB MIX FORMULA

BAB III DESAIN DAN METODE PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 4.1. Hasil Pemeriksaan Agregat dari AMP Sinar Karya Cahaya (Laboratorium Transportasi FT-UNG, 2013)

optimum pada KAO, tahap III dibuat model campuran beton aspal dengan limbah

PENGARUH JUMLAH TUMBUKAN PEMADATAN BENDA UJI TERHADAP BESARAN MARSHALL CAMPURAN BERASPAL PANAS BERGRADASI MENERUS JENIS ASPHALT CONCRETE (AC)

3.1 Lataston atau Hot Rolled Sheet

Variasi Jumlah Tumbukan Terhadap Uji Karakteristik Marshall Untuk Campuran Laston (AC-BC) Antonius Situmorang 1) Priyo Pratomo 2) Dwi Herianto 3)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PERBANDINGAN KARAKTERISTIK AGREGAT KASAR PULAU JAWA DENGAN AGREGAT LUAR PULAU JAWA DITINJAU DARI KEKUATAN CAMPURAN PERKERASAN LENTUR

KAJIAN PROPERTIES DARI AGREGAT BATU GUNUNG YANG DIGUNAKAN SEBAGAI MATERIAL CAMPURAN BERASPAL

STUDI PENGARUH WAKTU CURING TERHADAP PARAMETER MARSHALL CAMPURAN AC - WC FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA BANDUNG

VARIASI AGREGAT LONJONG SEBAGAI AGREGAT KASAR TERHADAP KARAKTERISTIK LAPISAN ASPAL BETON (LASTON) ABSTRAK

BAB III LANDASAN TEORI

M. M. ADITYA SESUNAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMPUNG 2010

BAB 1. PENDAHULUAN. Perkerasan jalan merupakan lapisan perkerasan yang terletak diantara

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III METODE PENELITIAN. Berikut adalah diagram alir dari penelitian ini : MULAI. Studi Pustaka. Persiapan Alat dan Bahan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. perihal pengaruh panjang serabut kelapa sebagai bahan modifier pada campuran

NILAI KEHANCURAN AGREGAT (AGGREGATE CRUSHING VALUE) PADA CAMPURAN ASPAL

VARIASI AGREGAT PIPIH TERHADAP KARAKTERISTIK ASPAL BETON (AC-BC) Sumiati Arfan Hasan ABSTRAK

BAB III LANDASAN TEORI

PENGARUH GRADASI AGREGAT TERHADAP NILAI KARAKTERISTIK ASPAL BETON (AC-BC) Sumiati 1 ), Sukarman 2 )

PENGGUNAAN SPEN KATALIS PADA CAMPURAN LAPISAN TIPIS ASPAL BETON (HOT ROLLED SHEET-WEARING COURSE)

ANALISIS STABILITAS CAMPURAN BERASPAL PANAS MENGGUNAKAN SPESIFIKASI AC-WC

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V METODE PENELITIAN. Pada penelitian ini dilakukan serangkaian pengujian yang meliputi :

Agus Fanani Setya Budi 1, Ferdinan Nikson Liem 2, Koilal Alokabel 3, Fanny Toelle 4

KAJIAN LABORATORIUM SIFAT FISIK AGREGAT YANG MEMPENGARUHI NILAI VMA PADA CAMPURAN BERASPAL PANAS HRS-WC

PENGARUH BATU KAPUR SEBAGAI FILLER PADA CAMPURAN LASTON LAPIS AUS (AC-WC) ABSTRAK

DAFTAR ISI UNIVERSITAS MEDAN AREA

BATU KAPUR BATURAJA SEBAGAI FILLER PADA LAPIS ASPHALT CONCRETE-BINDER COURSE (AC-BC) CAMPURAN PANAS. Hamdi Arfan Hasan Sudarmadji

PENGARUH GRADASI AGREGAT TERHADAP KEDALAMAN ALUR RODA PADA CAMPURAN BETON ASPAL PANAS

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. PERENCANAAN PERSENTASE AGREGAT CAMPURAN. Dalam memperoleh gradasi argegat campuran yang sesuai dengan spesifikasi

I Made Agus Ariawan 1 ABSTRAK 1. PENDAHULUAN. 2. METODE Asphalt Concrete - Binder Course (AC BC)

Penelitian ini dilakukan sesuai dengan diagram alur seperti pada gambar 5.1.

Metodologi Penelitian

ANALISA PERBANDINGAN PENGGUNAAN SEMEN PORTLAND DAN FLY ASH SEBAGAI FILLER PADA ASPHALT CONCRETE WEARING COURSE (AC-WC)

INVESTIGASI KARAKTERISTIK AC (ASPHALT CONCRETE) CAMPURAN ASPAL PANAS DENGAN MENGGUNAKAN BAHAN RAP ARTIFISIAL

FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA BANDUNG ABSTRAK

BAB III LANDASAN TEORI. bergradasi baik yang dicampur dengan penetration grade aspal. Kekuatan yang

BAB IV HASIL DAN ANALISA DATA. Pada pembuatan aspal campuran panas asbuton dengan metode hot mix (AC

Zeon PDF Driver Trial

NASKAH SEMINAR INTISARI

Bab IV Penyajian Data dan Analisis

KARAKTERISTIK CAMPURAN ASPHALT CONCRETE BINDER COURSE

PENGARUH PENGGUNAAN STEEL SLAG

BAB 1 PENDAHULUAN. merupakan kebutuhan pokok dalam kegiatan masyarakat sehari-hari. Kegiatan

Transkripsi:

26 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Inti Jalan Raya Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung. B. Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Bahan ikat : Bahan ikat yang digunakan pada penelitian ini adalah jenis aspal produksi Pertamina pen 60/70. 2. Agregat: a) Agregat kasar yang digunakan untuk membuat benda uji dalam penelitian iniberasal dari PT. Sumber Batu Berkah (SBB) Tanjungan, Lampung Selatan. b) Agregat halus yang digunakan untuk membuat benda uji dalam penelitian iniberasal dari PT. Sumber Batu Berkah (SBB) Tanjungan, Lampung Selatan. c) Filler atau material lolos saringan No. 200 yang digunakan dalam penelitian ini adalah Portland Cement.

27 C. Peralatan Peralatan yang digunakan pada penelitian ini adalah : 1. Alat uji pemeriksaan agregat Alat uji pemeriksaan agregat yang digunakan pada penelitian ini yaitu: a) Satu set saringan (Sieve Analyisis) b) Alat UJi keausan agregat (Los Angeles Tests Machine) c) Alat uji berat jenis (piknometer, timbangan, pemanas) d) Aggregate Impact Machine e) Aggregate Crushing Machine f) Alat pengukur kepipihan (Thickness Gauge). 2. Alat uji pemeriksaan aspal Alat uji pemeriksaan aspal yang digunakan pada penelitian ini yaitu: a) Alat uji penetrasi b) Alat uji titik lembek c) Alat uji daktilitas d) Alat uji berat jenis (piknometer), dan e) Alat uji kehilangan berat (pemanas). 3. Alat uji karakteristik campuran beraspal Alat uji karakteristik campuran beraspal yaitu menggunakan seperangkat alat dalam pengujian untuk metode Marshall, meliputi : a) Mold atau alat cetak benda uji berbentuk silinder dengan diameter 4 inchi (10,16 cm) dan tinggi 2,5 inchi (6,35 cm) lengkap dengan pelat dasar dan leher sambung.

28 b) Alat penumbuk Marshall otomatis yang mempunyai permukaan rata berbentuk silinder dengan berat 4,536 kg dan tinggi jatuh 45,7 cm digunakan untuk pemadatan campuran. c) Ejektor untuk mengeluarkan benda uji dari cetakan setelah proses pemadatan. d) Bak perendam (water bath) yang dilengkapi pengatur suhu. e) Alat Marshall yang terdiri dari kepala penekan berbentuk lengkung, cincin penguji berkapasitas 22,2 KN (5000 lbs) yang dilengkapi dengan arloji flowmeter. f) Alat-alat penunjang yang meliputikompor, thermometer, oven, sendok pengaduk, sarung tangan anti panas, kain lap, panci pencampur, timbangan,dan jangka sorong. D. Prosedur Penelitian Prosedur penelitian yang akan dilakukan pada penelitian ini mulai dari awal sampai akhir dijelaskan sebagai berikut: 1. Studi pendahuluan Studi pendahuluan adalah mengumpulkan referensi referensi yang relevan yang akan digunakan sebagai dasar dalam penelitian serta menentukan lokasi bahan dan tempat pengujian. 2. Persiapan Persiapan alat dan bahan adalah penyiapan/ pengadaan bahan, dan peralatan pelengkap untuk pengujian, adapun bahan dan peralatan tersebut :

29 Bahan material yang digunakan: a. Agregat, berasal dari dari PT. Sumber Batu Berkah (SBB)Tanjungan, Lampung Selatan. b. Aspal,yang digunakan aspal keras produksi Pertamina pen 60/70. 3. Peralatan pengujian: Alat uji yang digunakan dalam penelitian adalah peralatan pengujian aspal dan pengujian agregat yang di miliki Laboratorium jalan raya Universitas Lampung. 4. Pengujian Bahan a. Pengujian agregat Pengujian agregat yang dilakukan pada penelitian ini yaitu sebagai berikut : 1) Berat jenis dan penyerapan agregat kasar dan agregat halus Tujuan dari pengujian ini adalah untuk menentukan berat jenis agregat untuk kondisi SSD(Surface Saturated Dry), untuk kondisi kering(bulk Spesific Graviti) dan untuk kondisi semu(apperant Spesific Grafiti) serta penyerapan pada agregat. Alat dan prosedur pengujian disesuaikan dengansni 03-1970- 1990. 2) Aggregate Impact Value (AIV) Tujuan dari pengujian ini adalah untuk menentukan nilai kekuatan relative agregat terhadap tumbukan dengan menyatakan nilai keausan pada tekanan 40 kg sebanyak 15 kali menggunakan alat AIV.

30 3) Aggregate Crushing Value (ACV) Tujuan dari pengujian ini adalah untuk menentukan nilai kekuatan relative agregat terhadap tekanan dengan menyatakan nilai keausan agregat pada tekanan 40 kg selama 10 menit. 4) Pengujian keausan agregat dengan mesin Los Angeles Tujuan dari pengujian adalah untuk mengetahui ketahanan aus agregat dengan menggunakan mesin Los Angeles. Keausan tersebut dinyatakan dengan perbandingan antara berat bahan aus lolos saringan no.12 terhadap berat semula dalam persen. Alat dan prosedur pengujian disesuaikan dengan SNI 03-2417-1991. 5) Analisis saringan agregat halus dan kasar Tujuan utama dari pekerjaan analisa ukuran butiran agregat adalah untuk mengetahui butiran (gradasi) agregat halus dan kasar dengan menggunakan saringan dan sebagai kontrol gradasi agar diperoleh konstruksi campuran yang bermutu tinggi. Alat dan prosedur pengujian disesuaikan dengan SNI 03-1968-1990. 6) Pengujian kelekatan agregat terhadap aspal. Tujuan dari pengujian ini adalah untuk mendapatkan angka persen kelekatan agregat terhadap aspal. Kelekatan agregat terhadap aspal dinyatakan dengan perkiraan persen luas permukaan yang masih terselimuti aspal. Alat dan prosedur penelitian disesuaikan dengan SNI03-2439-1991.

31 7) Indeks Kepipihan (Flakyness) Tujuan dari pengujian ini adalah untuk menentukan indeks kepipihan agregat Standar pemeriksaan agregat yang di gunakan dalam penelitian ini bedasarkan spesifikasi umum 2010 yang dapat dilihat pada( tabel 6 ) berikut ini : Tabel 6. Standar Pemeriksaan Agregat No Jenis Pengujian Standar Uji Syarat 1 Analisa saringan SNI 03-1968-1990 - Bj Bulk min 2.5 2 Berat jenis dan penyerapan agregat kasar SNI 03-1969-1990 Penyerapan maks 3% 3 Berat jenis dan penyerapan agregat halus SNI 03-1970-1990 Bj Bulk min 2.5 Penyerapan maks 5% 4 Tes Abrasi SNI 03-2417-1990 Maks. 40% 5 Aggregate Impact Value (AIV) BS 812:part 3:1975 Maks. 30% 6 Aggregate Crushing Value (ACV) BS 812:part 3:1975 Maks. 30% 7 Kelekatan agregat terhadap aspal SNI 03-2439-1991 Min. 95% 8 Partikel Pipih dan Lonjong ASTM D4791 Maks. 10% Sumber: Dokumen Pelelangan Nasional Pekerjaan jasa pelaksanaan konstruksi BAB VII,Spesifikasi Umum 2010 Divisi 6 Tabel6.3.2.(1a) b. Pengujian aspal Pengujian aspal yang dilakukan pada penelitian ini dilakukan di laboratorium inti jalan raya Universitas lampung yana pelaksanaannya mengacu pada Standard pegujian aspal sesuai dengan Standar Nasional Indonesi. Dalam penelitian ini pengujian aspal yang dilakukan antara lain yaitu uji penetrasi, uji berat jenis, uji titik lembek, uji kehilangan berat dan pengujian daktilitas nilai

32 standar persyaratan berdasarkan Standar Nasional Indonesia yang digunakan pada penelitan ini dapat dilihat pada tabel 6. Dibawah ini: Tabel 7. Standar Pengujian Aspal No. Jenis Pengujian Standar Pengujian Syarat 1 Penetrasi, 25 o C, 100 gr, 5 SNI 06-2456-1991 60 70 2 Berat Jenis SNI 06-2441-1991 1,0 3 Titik Lembek; o C SNI 06-2434-1991 48 4 Berat yang Hilang SNI 06-2441-1991 maks 0,4% 5 Daktilitas SNI 06-2432-1991 100 Sumber: Dokumen Pelelangan Nasional Pekerjaan jasa pelaksanaan konstruksi BAB VII,Spesifikasi Umum 2010 Divisi 6 Tabel6.3.2.5 5. Menentukan Fraksi Agregat Penentuan Persentase fraksi agregat yang akan di gunakan pada penelitian ini sesuai dengan spesifikasi yang digunakan yaitu AC-WC (Asphalt Concrete -Wearing Course) pada spesifikasi umum 2010 yang dapat dilihat pada tabel 5. Penentuan fraksi agregat adalah penentuan persentase agregat untuk tiap-tiap ukuran agregat yang ukuran agregatnya berdasrkan ukuran diameter saringan. Penentuan fraksi agregat dihitung dengan menggunakan tabel spesifikasi yang digunakan yaitu AC-WC (Asphalt Concrete -Wearing Course) pada spesifikasi umum 2010 yang dikalikan dengan Berat total benda uji. Berat total sendiri didapat dari volume benda uji yang dikalikan dengan berat jenis material penyusun benda uji yaitu berat jenis aspal, berat jenis agregat halus, berat jenis agregat kasar dan berat jenis filler.

33 6. Pembuatan Benda Uji Campuran Beraspal Pembuatan benda uji dilakukan dalam dua tahap,tahap pertama yaitu pembuatan benda uji masing-masing 3 buah(-1;-0.5; Pb,+0.5,+1) dan tahap kedua yaitu pembuatan benda uji setelah diperoleh nilai Kadar aspal optimum (KAO) yang masing-masing 3 buah untuk tiap variasi jumlah tumbukan, baik batas tengah atau batas atas. Pembuatan benda uji dilakukan dengan tahapan berikut ini: a. Menghitung perkiraan awal kadar aspal (Pb) sebagai berikut : Pb = 0,035 (%CA) + 0,045 (%FA) + 0,18 (% FF) + Konstanta Keterangan: Nilai konstanta kira-kira 0,5 sampai 1,0 untuk Laston dan 2,0 sampai 3,0 untuk Lataston. Untuk jenis campuran lain gunakan nilai 1,0 sampai 2,5. Pb CA FA : Kadar aspal tengah/ideal, persen terhadap berat campuran : Persen agregat tertahan saringan No.8 : Persen agregat lolos saringan No.8 dan tertahan saringan No.200 Filler K : Persen agregat minimal 75% lolos No.200 : Konstanta 0,5 1,0 untuk laston. b. Jika semua data telah didapatkan, yang dilakukan berikutnya adalah menghitung volumetrik campuran yaitu: 1) Menghitung berat sampel 2) Menghitungberat aspal 3) Menghitung berat agregat

34 4) Menghitung kebutuhan agregat tiap sampel berdasarkan persentase tertahan. c. Mencampur agregat dengan aspal pada suhu yang di sarankan berdasarkan spesifikasi umum Bina marga 2010. d. Melakukan pemadatan dengan Aoutomatic Marshall Compactor terhadap sampel sebanyak: 1) Kelompok benda uji :6 buah (batas tengah dan batas atas) Dengan 2x55 kali tumbukan 2) Kelompok benda uji :6 buah (batas tengah dan batas atas) Dengan 2x 65 kali tumbukan 3) Kelompok benda uji :6 buah (batas tengah dan batas atas) Dengan 2x 75 kali tumbukan 4) Kelompok benda uji :6 buah (batas tengah dan batas atas) Dengan 2x 85 kali tumbukan 5) Kelompok benda uji :6 buah (batas tengah dan batas atas) Dengan 2x 95 kali tumbukan e. Mendiamkan benda uji terlebih dulu agar mulai mengeras sebelum mengeluarkannya dari cetakan, dan kemudian mendiamkannya selama kurang lebih 24 jam. f. Mengukur ketebalan menggunakan jangka sorong dan menimbang benda uji,kemudian merendam benda uji dalam air pada suhu normal selama 24 jam. g. Menimbang kembali benda uji dan mengeringkan benda uji sampai kondisi benda uji kering permukaan untuk mendapatkan berat jenuh.

35 h. Sebelum menguji benda uji dengan alat Marshall, merendam benda uji terlebih dahulu dalam waterbath pada suhu 60 0 C selama 30 menit. Benda uji dibuat sebanyak 3 buah pada masing-masing variasi kadar aspal sehingga jumlah benda uji yang dibuat sebanyak 15 buah untuk satu kelompok benda uji. Jadi total keseluruhan benda uji pada penelitian ini sebanyak 60 buah seperti yang tertera pada tabel rencana pembuatan benda uji berikut ini : Tabel 8.Rencana Pembuatan Benda Uji Campuran LASTON AC-WCTiap Variasi Tumbukan Benda uji Benda uji Kadar Aspal batas Keterangan batas Atas tenggah Campuran agregat dengan spesifikasi AC Pb 1,0 (%) 3 buah 3 buah WC + kadar aspal minyak Pb 1,0 (%) Pb 0,5 (%) 3 buah 3 buah Pb (%) 3 buah 3 buah Pb + 0,5 (%) 3 buah 3 buah Pb + 1,0 (%) 3 buah 3 buah Campuran agregat dengan spesifikasi AC WC + kadar aspal minyak Pb 0,5 (%) Campuran agregat dengan spesifikasi AC WC + kadar aspal minyak Pb (%) Campuran agregat dengan spesifikasi AC WC + kadar aspal minyak Pb + 0,5 (%) Campuran agregat dengan spesifikasi AC WC + kadar aspal minyak Pb +1,0 (%) 7. Uji Marshall Metode pengujian Marshall merupakan metode yang paling umum dipergunakan dan di standarisasikan dalam American Society for Testing and Material 1993 (ASTM D 1553). Dalam metode tersebut terdapat 3 parameter penting dalam pengujian tersebut, yaitu beban maksimum yang dapat dipikul benda uji sebelum hancur atau sering disebut dengan Marshall Stability dan defomasi permanen dari benda uji sebelum hancur yang disebut dengan Marshall Flow serta turunan yang merupakan perbandingan antara keduannya

36 (MarshallStability dengan Marshall Flow) yang disebut dengan Marshall Quotient (MQ). Marshall Question merupakan nilai kekakuan berkembang (Speedo Stiffness), yang menunjukkan ketahanan campuran beton aspal terhadap deformasi tetap (permanent). Prinsip dasar dari metode Marshall adalah pemeriksaan stabilitas dan kelelehan (flow), serta analisis kepadatan dan pori dari campuran padat yang terbentuk. Pengujian dengan alat Marshall sesuai dengan prosedur SNI 06-2489-1991 atau AASHTO T245-90 yaitu dengan meletakkan benda uji kedalam segmen bawah, waktu yang diperlukan dari saat diangkatnya benda uji dari bak perendaman maksimum tidak boleh melebihi 30 detik. Kemudian benda uji dibebani dengan kecepatan sekitar 50 mm per menit sampai pembebanan maksimum tercapai atau pembebanan menurun seperti yang ditunjukkan oleh alat pencatat. Kemudian mencatat nilai stabilitas dan flow yang tertera pada alat pencatat. 8. Analisa Data Hasil Penelitian Setelah pengujian Marshall dilakukan terhadap seluruh benda uji, kemudian langkah berikutnya adalah melakukan analisis terhadap data yang diperoleh. Dari hasil pengujian didapatkan nilai-nilai parameter marshall (Stability, Flow, Void in Mineral Agregat (VMA), Void in The Mix (VIM), Void Filled with Asphalt (VFA) dan (Marshall Quotient.) dari campuran perkerasan Laston (AC-WC) bergradasi halus dengan perbedaan jumlah tumbukan saat pemadatan campuran. Kemudian untuk masing-masing parameter yang tercantum dalam persyaratan campuran, digambarkan batas-batas spesifikasi ke

37 dalam grafik dan ditentukan rentang kadar aspal yang memenuhi persyaratan. Biasanya kadar aspal rencana berada dekat dengan titik tengah dari rentang kadar aspal yang memenuhi seluruh persyaratan. Kemudian kita bandingkan karakteristik Marshall dari masing-masing variasi jumlah tumbukan.

38 E. Diagram Alir Penelitian MULAI Persiapan Alat dan Bahan Pengujian Aspal 1. Uji penetrasi 2. Uji Titik lembek 3. Uji Berat jenis 4. Uji daktilitas 5. Uji Kehilangan berat (Didapat dari data sekunder) Pengujian Agregat 1. Uji analisa saringan 2. Uji Berat Jenis 3. Uji Keausan (Los Angeles) 4. Aggregate impact value 5. aggregate crushing value 6. Indeks Kepipihan (Flakyness) tidak Memenuhi Spesifikasi Pembuatan benda ujidi lab dengan kadar aspal - 1, -0,5, pb, +0,5, +1 pada batas tengah masingmasing kadar aspal 3 buah (3 x 5 = 15 buah) Pembuatan benda uji di lab dengan kadar aspal -1, - 0,5, pb, +0,5, +1 pada batas atas masing-masing kadar aspal 3 buah (3 x 5 = 15 buah) Uji Marshall (VMA, VIM, VFA, MQ, Stabilitas, Flow) Penentuan KAO Sampel variasi Tumbukan (2x55) 3batas atas & 3batas tengah (jumlah 6buah) Sampel variasi Tumbukan (2x65) 3batas atas & 3batas tengah (jumlah 6buah) Sampel variasi Tumbukan (2x75) 3batas atas & 3batas tengah (jumlah 6buah) Sampel variasi Tumbukan (2x85) 3batas atas & 3batas tengah (jumlah 6buah) Sampel variasi Tumbukan (2x95) 3batas atas & 3batas tengah (jumlah 6buah) Campuran Campuran Campuran Campuran Uji Marshall (VMA, VIM, VFA, MQ, Stabilitas, Flow) Hasil Analisa Data Kesimpulan dan Saran SELESAI Gambar 2. Diagram Alir Penelitian